WELCOME TO MY BLOG, DON'T FORGET TO LEAVE A COMMENT _ Selamat datang di blog saya, jangan lupa tinggalkan komentar... THANK YOU :)

Jumat, 29 November 2013

Instrumen Penilaian Tes dan Non tes

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Menurut PP No. 19 Tahun 2005 Tentang standar Nasional Pendidikan, penilaian hasil belajar oleh pendidik dilakukan secara berkesinambungan untuk memantau proses, kemajuan, dan perbaikan hasil dalam bentuk ulangan harian, ulangan tengah semester, ulangan akhir semester, dan ulangan kenaikan kelas. Penilaian ini digunakan untuk: menilai pencapaian kompetensi peserta didik; bahan penyusunan laporan kemajuan hasil belajar; dan memperbaiki proses pembelajaran.
Hasil belajar dan proses belajar tidak hanya dinilai oleh tes, baik melalui bentuk tes uraian maupun tes objektif, tetapi juga dapat dinalia dengan alat non tes atau bukan tes. Alat –alat bukan tes yang sering digunakan antara lain ialah kuesioner dan wawancara, unjuk kerja, skala (penilaian, sikap, minat), observasi atau pengamatan, study kasus, dan sosiometri.  Penggunaan nontes untuk menilai hasil dan proses belajar masih sangat terbatas jika dibandingkan dengan menggunakan alat melalui tes dalam meniali hasil dan proses belajar. Para guru pada umumnya lebih banyak menggunakan tes daripada non tes, mengingat alatnya mudah dibuat, penggunaannya lebih praktis, dan yang dinalai terbatas pada aspek kognitif berdasarkan hasil yang diperoleh siswa setelah menyelesaikan pengalaman belajarnya.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan instrument penilaian?
2.      Apa saja bentuk-bentuk instrument penilaian?

C.    Tujuan
1.      Mengetahui pengertian instrument penilaian.
2.      Mengetahui bentuk-bentuk instrument penilaian.

BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Penilaian
Dari beberapa sumber yang ada, suatu penilaian memilki pengertian sebagai berikut:
1.      Penilaian adalah Kegiatan yang dilakukan secara sistematis dan berkesinambunganuntuk: Memperoleh, menganalisis dan menafsirkan hasil belajar peserta didik sehingga menjadi informasi yang bermakna untuk pengambilan keputusan dalam menentukan tingkat pencapaian kompetensi.
2.      Penilaian adalah semua cara yang digunakan untuk menilai unjuk kerja individu atau kelompok.
3.      Penilaian adalah Proses pengumpulan penggunaan informasi oleh guru melalui sejumlah bukti untuk membuat keputusan ttg pencapaian hasil belajar/kompetensi siswa.

B.     Bentuk-Bentuk Instrumen Penilaian
Instrumen penilaian terdiri dari instrument penilaian tes dan instrument penilaian non tes.
1.      Tes
Tes merupakan alat untuk menaksir kemampuan seseorang secara tidak langsung, yaitu melalui respons seseorang terhadap stimulus.  Bentuk-bentuk tes :
a.      Tes Objektif
Tes objektif adalah salah satu jenis tes hasil belajar yang terdiri dari butir-butir soal (items) yang dapat dijawab oleh testee dengan jalan memilih salah satu atau lebih jawaban di antara beberapa kemungkinan jawaban yang telah dipasangkan pada masing-masing items, atau dengan jalan menuliskan (mengisikan) jawaban berupa kata-kata atau simbol-simbol tertentu pada tempat yang telah disediakan untuk masing-masing butir item yang bersangkutan. Tes objektif dapat dibedakan menjadi lima golongan yaitu :
1)      Tes objektif bentuk benar salah
Tes benar salah adalah bentuk tes yang mengajukan beberapa pernyataan yang bernilai benar atau salah. Biasanya ada dua pilihan jawaban yaitu huruf B yang berarti pernyataan tersebut benar dan S yang berarti pernyataan tersebut salah. Tugas peserta tes adalah menentukan apakah pernyataan tersebut benar atau salah.
Contoh salah satu tes bentuk uraian adalah :
B S : Ibukota Peru berjumlah lima buah.
B S : Manado adalah Ibukota propinsi Sulawesi Utara
2)      Tes objektif bentuk menjodohkan
Menjodohkan terdiri atas satu sisi pertanyaan dan satu sisi jawaban, setiap pertanyaan mempunyai jawaban pada sisi sebelahnya. Siswa ditugaskan untuk memasangkan atau mencocokkan, sehingga setiap pertanyaan mempunyai jawaban yang benar.
3)      Tes objektif bentuk isian
Tes isian terdiri dari kalimat yang dihilangkan (diberi titik-titik). Bagian yang dihilangkan ini yang diisi oleh peserta tes merupakan pengertian yang diminta agar pernyataan yang dibuat menjadi pernyataan yang benar.  Contoh:
1.      Yang merupakan nama asli dari Sultan Hamengkubuwono X adalah …..
2.      Para filsuf zaman modern menegaskan bahwa pengetahuan tidak berasal dari kitab suci atau ajaran agama, tidak juga dari para penguasa, tetapi dari diri manusia sendiri. Namun tentang aspek mana yang berperan ada beda pendapat. Aliran ……………….. beranggapan bahwa sumber pengetahuan adalah rasio: kebenaran pasti berasal dari rasio (akal). Aliran ……………, sebaliknya, meyakini pengalamanlah sumber pengetahuan itu, baik yang batin, maupun yang inderawi.
4)      Tes objektif bentuk pilihan ganda
Tes pilihan ganda merupakan tes yang menggunakan pengertian/ pernyataan yang belum lengkap dan untuk melengkapinya maka kita harus memilih satu dari beberapa kemungkinan jawaban benar yang telah disiapkan.  Contoh :
Di pulau Sumatra terdapat beberapa buah danau. Salah satu danau tersebut mempunyai ciri fisik yang berbeda dari danau lain, karena ditengahnya terdapat daratan luas berupa pulau. Danau manakah yang dimaksud?
a. Danau Ranau
b. Danau Maninjau
c. Danau Singkarak
d. Danau Toba
Kelebihan dan kelemahan Tes Objektif
1)      Kelebihan
a)      Penilaiannya yang sangat objektif: Sebuah jawaban hanya mempunyai dua kemungkinan, benar atau salah.
b)      Toleransi di antara salah dan benar tidak diberikan karena tingkat kebenarannya bersifat mutlak.
c)      Soal objektif memiliki reliabilitas yang tinggi, siapapun yang menilai dan kapanpun dinilai, hasilnya akan tetap sama.
d)     Butir soal yang banyak memungkinkan untuk mencakup semua daerah prestasi yang hendak diukur (representatif).
e)      Lebih mudah dan cepat karena pemeriksaannya menggunakan kunci.
f)       Dapat digunakan untuk menilai kelompok yang besar
g)      Menghindari kemungkinan siswa berspekulasi dalam mempelajari bahan pelajaran.
h)      Tidak ada unsur subjektif yang mempengaruhi.
i)        Dalam satu kali ujian dapat menanyakan banyak materi yang telah diajarkan dalam proses pembelajaran.
j)        Validitas isi tes dapat dipertanggungjawabkan.
k)      Jika dikonstruksi dengan baik tes objektif dapat mengukur semua jenjang proses berpikir dari yang sederhana (ingatan) sampai dengan yang kompleks (evaluasi).
2)      Kelemahan
a)      Tes objektif diragukan kemampuannya untuk mengukur hasil belajar yang kompleks dan tinggi.
b)      Peluang melakukan tebakan (guessing) sangat tinggi.
c)      Penyusunan tes sukar dan memerlukan waktu yang cukup banyak
d)     Kurang memberi kesempatan kepada siswa untuk menyatakan kemampuan ilmiahnya
e)      Sukar untuk mengukur proses mental yang tinggi
f)       Kerjasama antar siswa dalam mengerjakan soal lebih terbuka
g)      Menggunakan bahan (kertas) yang lebih banyak.

b.      Tes Subjektif (Tes Esay)
Tes Subjektif adalah Suatu bentuk tes yang terdiri dari pertanyaan atau suruhan yang menghendaki jawaban yang berupa uraian-uraian yang relatif panjang. Tes dirancang untuk mengukur hasil belajar di mana unsur-unsur yang diperlukan untuk menjawab soal dicari, diciptakan dan disusun sendiri oleh pengambil tes. Peserta tes harus menyusun sendiri kata-kata dan kalimat-kalimat dalam merumuskan jawabannya. Butir soal mengandung pertanyaan atau tugas yang jawaban atau pengerjaan soal tersebut harus dilakukan dengan cara mengekspresikan pikiran peserta tes (Zainul dan Nasoetion, 1996 : 33).
Tes Uraian dapat dibedakan menjadi :
1)      Tes uraian terbuka
Tes uraian terbuka tepat digunakan untuk mengukur kemampuan siswa dalam: menghasilkan, mengorganisasi, mengekspresikan ide, mengintegrasikan pelajaran dalam berbagai bidang, membuat desain eksperimen; mengevaluasi manfaat suatu ide. Pada test uraian bentuk terbuka, jawaban yang dikehendaki muncul dari teste sepenuhnya diserahkan kepada teste itu sendiri. Artinya teste mempunyai kebebasan yang seluas-luasnya dalam merumuskan, mengorganisasikan dan menyajikan jawabannya dalam bentuk uraian.
2)      Tes uraian terbatas (Restricted respons question).
Tes uraian terbatas tepat digunakan untuk mengukur kemampuan siswa dalam: menjelaskan hubungan sebab akibat, menerapkan suatu prinsip atau teori, memberikan alasan yang relevan, merumuskan hipotesis, membuat kesimpulan yang tepat, menjelaskan suatu prosedur, dan sebagainya.  Contoh:
Coba jelaskan tentang peringat Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI yang diadakan di Kantor Kabupaten tanggal 17 Agustus 1998 yang lalu, ceritakan mengenai :
a) Pengaturan tempat
b) Pejabat dan undangan yang hadir
c) Acara peringatan
d) Atraksi yang disuguhkan
e) Hidangan yang diberikan
Kelebihan dan kelemahan Tes Uraian
1)      Kelebihan
a)      Kekuatan soal untuk mengukur hasil belajar yang kompleks dan melibatkan level kognitif yang tinggi.
b)      Memberi kesempatan pada anak untuk menyusun jawaban sesuai dengan jalan pikirannya sendiri.
c)      Tepat digunakan untuk melatih siswa dalam mengemukakan dan mengorganisasi gagasan atau ide, serta lebih cepat dan mudah membuatnya.
2)      Kelemahan
a)      Terdapat subjektivitas dalam penilaiannya karena penilai yang berbeda atau situasi yang berbeda.
b)     Tes esai menghendaki jawaban yang panjang, sehingga tidak memungkinkan ditulis butir tes dalam jumlah banyak (soal menjadi tidak representatif).
c)      Penggunaan soal esai membutuhkan waktu koreksi yang lama dalam menentukan nilai.
d)     Sering terjadi hallo effect, carry over effect, dan order effect.
2.      Non Test
a.      Observasi
Obsevasi adalah pengamatan terhadap perilaku siswa dapat mengungkapkan berbagai hal yang menarik. Masing-masing individu siswa dapat diamati secara individual atau berkelompok sebelum, saat berlangsung, dan sesudah usai pembelajaran. Perubahan pada setiap individu juga dapat diamati, dalam kurun waktu tertentu, mulai dari sebelum dilakukan tindakan, saat tindakan diimplementasikan, dan seusai tindakan.
b.      Wawancara
Wawancara adalah percakapan antara dua orang atau lebih dan berlangsung antara narasumber dan pewawancara. Tujuan dari wawancara adalah untuk mendapatkan informasi di mana sang pewawancara melontarkan pertanyaan-pertanyaan untuk dijawab oleh orang yang diwawancarai.
c.       Skala sikap
Skala sikap berguna untuk menilai sikap seseorang terhadap objek tertentu.
d.      Daftar cek
Daftar cek berguna untuk menyatakan ada atau tidak adanya suatu unsur, komponen, karakteristik, atau kejadian dalam suatu peristiwa, tugas, atau satu kesatuan yang kompleks. Selain itu daftar cek berguna untuk mengukur hasil belajar, baik yang berupa produk maupun proses yang dapat diperinci ke dalam komponen-komponen yang lebih kecil, terdefinisikan secara operasional dan sangat spesifik.
e.       Catatan anekdotal
Catatan anekdotal memfokuskan pada hal-hal spesifik yang terjadi di dalam kelas atau catatan tentang aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran. Catatan anekdotal mencatat kejadian di dalam kelas secara informal dalam bentuk naratif. Sejauh mungkin, catatan itu memuat deskripsi rinci dan lugas peristiwa yang terjadi di kelas. Catatan anekdotal kelas meliputi deskripsi tentang lingkungan fisik kelas, tata letaknya, dan manajemen kelas.

BAB III
PENUTUP
Penilaian adalah kegiatan yang dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan untuk: Memperoleh, menganalisis dan menafsirkan hasil belajar peserta didik sehingga menjadi informasi yang bermakna untuk pengambilan keputusan dalam menentukan tingkat pencapaian kompetensi.
Bentuk-bentuk instrument penilaian terdiri dari:
1.      Tes
a.       Tes Objektif
1)      Tes objektif benar salah
2)      Tes objektif bentuk menjodohkan
3)      Tes objektif bentuk Isian
4)      Tes objektif bentuk pilihan ganda
b.      Tes Subjektif
1)      Tes uraian terbuka
2)      Tes uraian terbatas
2.      Non Tes
a.       Observasi
b.      Wawancara
c.       Skala sikap
d.      Daftar cek
e.       Catatan anekdotal

DAFTAR PUSTAKA
PP No. 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan, diakses darihttp://www.ziddu.com/download/6548103/pp_19_2005SNPENDKN.pdf.html, pada 11 Oktober 2011.
Standar Nasional Pendidikan, diakses melaluiluk.staff.ugm.ac.id/atur/KTSP-SMK/02.ppt, pada tanggal 11 Oktober 2011.
Sudjana, Nana.1989.Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung:PT Remaja Rosdakarya

Nilai-nilai Kepemimpinan Ki Hajar Dewantara

Tut Wuri Handayani. Apakah yang terlintas di benak kita ketika mendengar semboyan tersebut? Seringkali kita jumpai rangkaian kata itu identik dengan dunia pendidikan, utamanya ketika menginjak bangku sekolah dasar. Ketika itu, Tut Wuri Handayani diperkenalkan dalam pelajaran sejarah, sebagai nilai-nilai bangsa Indonesia yang dicetuskan oleh Ki Hajar Dewantara. Filosofi “Ing ngarsa sung tuladha, Ing madya mangun karsa, Tut wuri handayani” nyatanya begitu melekat di benak hingga saat ini. Perkembangan ilmu pengetahuan pada akhirnya menemukan bahwa terdapat kesesuaian antara filosofi tersebut dengan kepemimpinan yang ideal untuk bangsa Indonesia.
Ing ngarsa sung tuladha. Filosofi ini memiliki arti bahwa seseorang yang berada di garis depan atau seorang pemimpin, harus bisa memberi contoh kepada para anggotanya. Seorang leader akan dilihat oleh followernya sebagai panutan. Follower tidak hanya memperhatikan perilaku dari seorang leader secara pribadi, namun juga meliputi sejauh mana nilai-nilai budaya organisasi telah tertanam dalam diri leadernya, bagaimana cara leadernya dalam mengatasi masalah, sejauh mana leader berkomitmen terhadap organisasi, sampai kerelaan seorang leader untuk mengutamakan kepentingan bersama daripada kepentingan pribadinya. Oleh karena itu, sepatutnya seorang leader memiliki karakteristik-karakteristik yang dapat menjadi teladan untuk para followernya. Leader yang memiliki charisma atau seorang pemimpin yang kharismatik akan lebih mudah menjalankan peran ini. Hal ini disebabkan oleh charisma mereka yang dapat menginspirasi para followernya.
Ing madya mangun karsa. Filosofi ini berarti bahwa seorang leader harus mampu menempatkan diri di tengah-tengah followernya sebagai pemberi semangat, motivasi, dan stimulus agar follower dapat mencapai kinerja yang lebih baik. Melalui filosofi ini, jelas bahwa seorang leader harus mampu mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan followernya. Terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan tersebut, akan memotivasi follower untuk memberikan yang terbaik bagi organisasi. Teori-teori motivasi memiliki peranan penting bagi seorang leader untuk mengaplikasikan peranan sesuai filosofi ke dua ini.
Tut wuri handayani. Filosofi yang terakhir ini memiliki makna bahwa seorang leader tidak hanya harus memberikan dorongan, namun juga memberikan arahan untuk kemajuan organisasi. Arahan di sini berarti leader harus mampu mengerahkan usaha-usaha followernya agar sejalan dengan visi, misi, dan strategi organisasi yang telah ditetapkan. Sebagai dasarnya, leader nilai-nilai organisasi harus tertanam kuat dalam diri masing-masing anggota.
Ketiga filosofi di atas saling berkaitan dan tidak dapat ditinggalkan salah satunya. Sebagai contoh, usaha seorang leader untuk menanamkan nilai-nilai organisasi kepada followernya. Dalam hal ini, seorang leader tidak bisa begitu saja mendorong dan mengarahkan perilaku followernya agar sesuai dengan nilai-nilai organisasi (tut wuri handayani). Namun, leader tersebut juga harus mampu memberikan contoh nyata bagaimana nilai-nilai organisasi telah tertanam dalam dirinya (ing ngarsa sung tuladha). Sembari member contoh, leader juga harus mengkomunikasikan nilai-nilai tersebut ke tengah-tengah followernya, dan memotivasi mereka untuk bertindak sejalan dengan nilai-nilai itu (ing madya mangun karsa).
Bila dilihat dari budaya bangsa menurut dimensi-dimensi Hofstede, akan ditemukan kesesuaian antara budaya kita, filosofi dari Ki Hajar Dewantara, dan gaya kepemimpinan yang diterapkan di Indonesia. Salah satu dimensi Hofstede, yaitu Power Distance Index (PDI) menunjukkan nilai yang tinggi pada budaya di Indonesia. Jarak kekuasaan yang tinggi mengindikasikan bahwa anggota-anggota dalam organisasi menerima adanya kekuasaan atau wewenang yang tidak didistribusikan secara merata. Nilai yang tinggi dalam dimensi ini berarti bahwa arahan dari leader merupakan sesuatu yang diinginkan dari para follower. Leader dituntut untuk bisa memberikan arahan dan pengawasan bagi para followernya. Hal ini kita jumpai pada salah satu filosofi di atas, yaitu tut wuri handayani.
Penerapan lain dari filosofi-filosofi tersebut dapat dilihat pada AXA Indonesia, suatu perusahaan yang bergerak di bidang asuransi. Perusahaan ini sukses meraih penghargaan sebagai “Perusahaan Ternyaman Pilihan Karyawan Nomor Satu di Indonesia” dalam ajang Employer of Choice di tahun 2010. AXA Indonesia unggul berkat komunikasi dua arah yang intensif dan terbuka. Komunikasi merupakan elemen penting bagi leader dalam memotivasi, memberikan semangat, dan ide untuk para follower. Hal ini sesuai dengan konsep filosofi “ing madya mangunkarsa”.
Beberapa uraian di atas menjelaskan kepemimpinan yang ideal bagi bangsa Indonesia, dilihat dari segi nilai-nilai asli budaya bangsa Indonesia. Belajar dari sejarah bangsa dapat membawa kita pada kesimpulan menarik mengenai berbagai hal. Salah satunya adalah dalam hal kepemimpinan. Sangat menarik mengetahui bahwa kepemimpinan yang ideal bagi bagsa ini bahkan telah ditemukan dan disusun sejak lama oleh Ki Hajar Dewantara melalui 3 filosofi singkatnya. Ing ngarsa sung tuladha. Ing madya mangun karsa. Tut wuri handayani.