Senin, 25 November 2013
Globalisasi dan Indonesia 2030
Abad ke-21 adalah abad milik Asia. Pada tahun 2050 separuh lebih
produk nasional bruto dunia bakal dikuasai Asia. China,
menggusur Amerika Serikat, akan menjadi pemain terkuat dunia,
diikuti India di posisi ketiga. Lalu, apa peran dan di mana
posisi Indonesia waktu itu?
China dan India dengan segala ekspansinya, berdasarkan sejumlah
parameter saat ini dan prediksi ke depan, sudah jelas adalah
pemenang dalam medan pertarungan terbuka dunia di era
globalisasi, di mana tidak ada lagi sekat-sekat bukan saja bagi
pergerakan informasi, modal, barang, jasa, manusia, tetapi juga
ideologi dan nasionalisme negara.
Globalisasi ekonomi dan globalisasi korporasi juga memunculkan
barisan korporasi dan individu pemain global baru. Lima tahun
lalu, 51 dari 100 kekuatan ekonomi terbesar sudah bukan lagi ada
di tangan negara atau teritori, tetapi di tangan korporasi.
Pendapatan WalMart, jaringan perusahaan ritel AS, pada tahun
2001 sudah melampaui produk domestik bruto (PDB) Indonesia
sebagai negara. Penerimaan perusahaan minyak Royal Dutch Shell
melampaui PDB Venezuela, salah satu anggota Organisasi
Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) yang berpengaruh.
Pendapatan perusahaan mobil nomor satu dunia dari AS, General
Motor, kira-kira sama dengan kombinasi PDB tiga negara: Selandia
Baru, Irlandia, dan Hongaria. Perusahaan transnasional (TNCs)
terbesar dunia, General Electric, menguasai aset 647,483 miliar
dollar AS atau hampir tiga kali lipat PDB Indonesia.
Begitu besar kekuatan uang dan pengaruh yang dimiliki
korporasi-korporasi ini sehingga mampu mengendalikan pengambilan
keputusan di tingkat pemerintahan dan menentukan arah pergerakan
perdagangan dan perekonomian global.
Pada awal dekade 1990-an terdapat 37.000 TNCs dengan sekitar
170.000 perusahaan afiliasi yang tersebar di seluruh dunia. Tahun
2004 jumlah TNCs meningkat menjadi sekitar 70.000 dengan total
afiliasi 690.000. Sekitar 75 persen TNCs ini berbasis di Amerika
Utara, Eropa Barat, serta Jepang, dan 99 dari 100 TNCs terbesar
juga dari negara maju.
Namun, belakangan pemain kelas dunia dari negara berkembang,
terutama Asia, mulai menyembul di sana-sini. Dalam daftar 100
TNCs nonfinansial terbesar dunia (dari sisi aset) versi World
Investment Report 2005, ada nama seperti Hutchison Whampoa
Limited (urutan 16) dari Hongkong, Singtel Ltd (66) dari
Singapura, Petronas (72) dari Malaysia, dan Samsung (99) dari
Korea Selatan.
Sementara dalam daftar 50 TNCs finansial terbesar dunia, ada
tiga wakil dari China, yakni Industrial & Commercial Bank of
China (urutan 23), Bank of China (34), dan China Construction
Bank (39).
Lompatan besar
Menurut data United Nations Conference on Trade and Development,
pada tahun 2004 China adalah eksportir terbesar ketiga di dunia
untuk barang (merchandise goods) dan kesembilan terbesar untuk
jasa komersial, dengan pangsa 9 dan 2,8 persen dari total ekspor
dunia.
Volume ekspor China mencapai 325 miliar dollar AS tahun 2002 dan
tahun lalu 764 miliar dollar AS. Manufaktur menyumbang 39 persen
PDB China. Output manufaktur China tahun 2003 adalah ketiga
terbesar setelah AS dan Jepang. Di sektor jasa, China yang
terbesar kesembilan setelah AS, Jepang, Jerman, Inggris,
Perancis, Italia, Kanada, dan Spanyol.
Sementara India peringkat ke-20 eksportir merchandise goods (1,1
persen) dan peringkat ke-22 untuk jasa komersial (1,5 persen).
Produk nasional bruto (GNP) China tahun 2050 diperkirakan 175
persen dari GNP AS, sementara GNP India sudah akan menyamai AS
dan menjadikannya perekonomian terbesar ketiga dunia,
mengalahkan Uni Eropa dan Jepang.
Ketika China membuka diri pada dunia dua dekade lalu, orang
hanya membayangkan potensi China sebagai pasar raksasa dengan
lebih dari semiliar konsumen sehingga sangat menarik bagi
perusahaan ritel dan manufaktur dunia. Belakangan, China bukan
hanya menarik dan berkembang sebagai pasar, tetapi juga sebagai
basis produksi berbagai produk manufaktur untuk memasok pasar
global. China awal abad ke-21 ini seperti Inggris abad ke-19
lalu.
China tidak berhenti hanya sampai di sini. Jika pada awal
1990-an hanya dipandang sebagai lokasi menarik untuk basis
produksi produk padat karya sederhana, dewasa ini China
membuktikan juga kompetitif dalam berbagai industri berteknologi
maju. Masuknya China dalam keanggotaan Organisasi Perdagangan
Dunia (WTO) semakin melapangkan jalan bagi negeri Tirai Bambu ini
untuk menjadi kekuatan yang semakin sulit ditandingi di
pasar global.
Di
sektor padat karya, seperti tekstil dan pakaian jadi,
diakhirinya rezim kuota di negara-negara maju membuat ekspor
China membanjiri pasar dunia dan membuat banyak industri tekstil
dan pakaian jadi di sejumlah negara berkembang pesaing harus
tutup. Pangsa ekspor pakaian dari China diperkirakan akan
melonjak dari sekitar 17 persen dari total ekspor dunia saat ini
menjadi 45 persen pada paruh kedua dekade ini.
Hal serupa terjadi pada produk-produk berteknologi tinggi.
Bagaimana China menginvasi dan membanjiri pasar global dengan
produk-produknya, dengan menggusur negara-negara pesaing, bisa
dilihat dari data WTO berikut.
Pangsa China di pasar elektronik AS meningkat dari 9,5 persen
(tahun 1992) menjadi 21,8 persen (1999). Sementara pada saat yang
sama, pangsa Singapura turun dari 21,8 persen menjadi 13,4
persen. Kontribusi China terhadap produksi personal computer
dunia naik dari 4 persen (1996) menjadi 21 persen (2000),
sementara kontribusi ASEAN secara keseluruhan pada kurun waktu
yang sama menciut dari 17 persen menjadi 6 persen.
Pangsa China terhadap total produksi hard disk dunia juga naik
dari 1 persen (1996) menjadi 6 persen (2000), sementara pangsa
ASEAN turun dari 83 persen menjadi 77 persen. Pangsa China untuk
produksi keyboard naik dari 18 persen (1996) menjadi 38 persen
(2000), sementara pangsa ASEAN tergerus dari 57 persen menjadi 42
persen.
Semua gambaran itu jelas memperlihatkan China terus naik kelas,
membuat lompatan besar dari waktu ke waktu, dan pada saat yang
sama terus memperluas diversifikasi produk dan pasarnya. Gerakan
sapu bersih China di berbagai macam industri—mulai dari yang
berintensitas teknologi sangat sederhana hingga intensitas
teknologi dan nilai tambah sangat tinggi—ini semakin mempertegas
posisi China sebagai the world’s factory memasuki abad
ke-21.
Sementara pada saat yang sama, negara-negara tetangganya justru
mengalami hollowing out di industri manufaktur berteknologi
tinggi dengan cepat. Di industri berintensitas teknologi rendah
yang cenderung padat karya, China menekan negara-negara seperti
Vietnam dan Indonesia yang basis industrinya masih sempit, yakni
teknologi yang tidak terlalu complicated dan bernilai
tambah rendah.
Sementara di industri yang berintensitas teknologi tinggi, China
semakin menjadi ancaman tidak saja bagi negara seperti Taiwan
dan Korsel, tetapi juga AS dan Jepang. China tidak hanya
membanjiri dunia dengan garmen, sepatu, dan mainan, tetapi juga
produk-produk komputer, kamera, televisi, dan sebagainya.
China memasok 50 persen lebih produksi kamera dunia, 30 persen
penyejuk udara (air conditioners/AC), 30 persen televisi, 25
persen mesin cuci, 20 persen lemari pendingin, dan masih banyak
lagi.
Inovasi
Bagaimana China bisa melakukan itu semua? Ada beberapa faktor.
Pertama, perusahaan-perusahaan teknologi asing, menurut Deloitte
Research, sekarang ini berebut masuk untuk investasi di China,
antara lain agar bisa memanfaatkan akses ke pasar China yang
sangat besar dan bertumbuh dengan cepat. Kedua,
perusahaan-perusahaan lokal yang menarik modal dari investor
China di luar negeri (terutama Taiwan) juga semakin terampil
memproduksi barang-barang berteknologi tinggi.
Tidak statis di industri padat karya yang mengandalkan upah
buruh murah, China kini mulai lebih selektif menggiring investasi
ke industri yang menghasilkan high end products dan padat modal.
Ini antara lain untuk mengurangi ketergantungan pada tenaga
kerja murah yang mulai berkurang ketersediaannya.
Ketiga, perguruan-perguruan tinggi di China mampu mencetak
barisan insinyur baru dalam jumlah besar setiap tahunnya, dengan
upah yang tentu relatif murah dibandingkan jika menyewa insinyur
asing. Setiap tahun, negara ini menghasilkan 2 juta-2,5 juta
sarjana, dengan 60 persennya dari jurusan teknologi (insinyur).
Sebagai perbandingan, di Indonesia lulusan jurusan teknologi
hanya 18 persen, AS 25 persen, dan India 50 persen.
Untuk mendukung pertumbuhan industri teknologi tinggi padat
modal yang menghasilkan high end products, pemerintahan China
juga sangat agresif mendorong berbagai kegiatan penelitian dan
pengembangan (R&D), sejalan dengan ambisinya menjadi The
Fastest Growing Innovation Centre of the World, dengan tahapan,
strategi, dan implementasi yang sangat jelas untuk sampai ke
sana.
Hampir di setiap ibu kota provinsi ada R&D centre-nya.
Positioning strategy ini mengindikasikan China mulai masuk babak
kedua dalam pembangunan ekonominya.
Ketiga, negara ini relatif memiliki infrastruktur yang sangat
bagus untuk mengangkut komponen dan barang dari luar dan juga di
seluruh penjuru negeri. China, dengan 1,3 miliar penduduk,
memiliki 88.775 kilometer jalan arteri dan 100.000 kilometer
jalan tol, atau rasio panjang jalan per sejuta penduduk 1.384
kilometer.
Sebagai perbandingan, Indonesia dengan 220 juta penduduk baru
memiliki jalan arteri 26.000 kilometer dan jalan tol 620
kilometer (121 kilometer per sejuta penduduk). Itu pun sebagian
besar dalam kondisi rusak. Pelabuhan-pelabuhan di China sudah
mampu melayani seperlima volume kontainer dunia dan negara ini
terus membangun jalan-jalan tol dan pelabuhan-pelabuhan baru.
Keempat, kebijakan pemerintah yang sangat mendukung, termasuk
perizinan investasi, perpajakan, dan kepabeanan. Kelima,
pembangunan zona-zona ekonomi khusus (20 zona) sebagai mesin
pertumbuhan ekonomi sehingga perkembangan ekonomi bisa lebih
terfokus dan pembangunan infrastruktur juga lebih efisien.
Hasilnya, tahun 2004 China berhasil menarik investasi langsung
asing 60,6 miliar dollar AS dan 500 perusahaan terbesar dunia
hampir seluruhnya melakukan investasi di sana. Bagaimana
kompetitifnya China bisa dilihat di tabel. Di sini kelihatan
China sudah memperhitungkan segala aspek untuk bisa bersaing dan
merebut abad ke-21 dalam genggamannya.
Hal serupa terjadi pada India yang mengalami pertumbuhan pesat
sejak program liberalisasi dengan membongkar ”License raj” pada
era Menteri Keuangan Manmohan Singh tahun 1991. India kini sudah
masuk tahap kedua strategi pembangunan ekonomi dengan menggunakan
teknologi informasi (IT) sebagai basis pembangunan ekonominya.
Hampir seluruh pemain bisnis IT dunia sudah membuka usahanya di
India, terutama di Bangalore. Tahun 2006, pendapatan dari IT
India mencapai 36 miliar dollar AS. Malaysia, Thailand, dan
Filipina juga beranjak ke produk-produk yang memiliki tingkat
teknologi lebih kompleks dan bernilai tambah tinggi. Singapura
dan Korsel mengarah ke teknologi informasi dan perancangan
produk.
Pragmatisme
Bagaimana dengan Indonesia? Prinsip globalisasi adalah adanya
pembagian kerja untuk mencapai efisiensi. Sinyalemen bahwa
Indonesia dengan tenaga kerja melimpah dan upah buruh murah hanya
kebagian industri ”peluh” (sweatshop) seperti pakaian jadi dan
alas kaki dalam rantai kegiatan produksi global, terbukti
sebagian besar benar.
China, India, dan Malaysia juga memulai dengan sweatshop, tetapi
kemudian mampu meng-upgrade industrinya dengan cepat. Hal ini
yang tidak terjadi di Indonesia. Kebijakan Indonesia menghadapi
globalisasi sendiri selama ini lebih didasarkan pada sikap
pragmatisme.
Direktur Eksekutif Centre for Strategic and International
Studies (CSIS) Hadi Soesastro (Globalization: Challenge for
Indonesia) mengatakan, kebijakan pemerintah menghadapi
globalisasi tidak didasarkan pada pertimbangan ideologis, tetapi
lebih pada penilaian obyektif apa yang bisa dicapai
negara-negara Asia Timur lain.
Apalagi, saat itu di antara negara-negara di kawasan Asia
sendiri ada persaingan, berlomba untuk meliberalisasikan
perekonomiannya agar lebih menarik bagi investasi global.
Momentum ini didorong lagi oleh munculnya berbagai kesepakatan
kerja sama ekonomi regional seperti AFTA dan APEC.
Pemerintah meyakini melalui liberalisasi pasar, industri dan
perusahaan-perusahaan di Indonesia akan bisa menjadi kompetitif
secara internasional. Sejak pertengahan tahun 1980-an, Indonesia
sudah mulai meliberalisasikan dan menderegulasikan rezim
perdagangan dan investasinya.
Selama periode 1986-1990, tidak kurang dari 20 paket kebijakan
liberalisasi perdagangan dan investasi diluncurkan. Indonesia
adalah satu-satunya negara di Asia Timur yang memulai program
liberalisasi ekonomi dengan liberalisasi rezim devisa.
Namun, dalam banyak kasus, paket kebijakan yang ditempuh
pemerintah untuk mendorong sektor swasta waktu itu cenderung
reaktif dan tak koheren serta diskriminatif karena sering kali
tidak menyertakan kelompok atau sektor tertentu dari program
deregulasi. Jadi, tidak mendorong terjadinya persaingan yang
sehat.
Pengusaha tumbuh dan menggurita bukan karena ia efisien dan
kompetitif, tetapi karena ia berhasil menguasai aset dan sumber
daya ekonomi, akibat adanya privelese atau KKN dengan penguasa.
Kini Indonesia terkesan semakin gamang menghadapi globalisasi,
terutama di tengah tekanan sentimen nasionalisme di dalam negeri.
Di pihak pemerintah sendiri, karena menganggap sudah sukses
melaksanakan tahap pertama liberalisasi (first-order adjustment)
ekonomi, pemerintah cenderung menganggap sepele tantangan
yang menunggu di depan mata.
Ini tercermin dari sikap taken for granted dan cenderung
berpikir pendek. Padahal, tantangan akan semakin berat dan
kompleks sejalan dengan semakin dalamnya integrasi internasional.
Belum jelas bagaimana perekonomian dan bangsa ini menghadapi
kompetisi lebih besar yang tidak bisa lagi dibendung.
Jika China yang the world’s factory dan India yang kini menjadi
surga outsourcing IT dunia berebut menjadi pusat inovasi dunia,
manufacture hub, atau mimpi-mimpi lain, Indonesia sampai saat ini
belum berani mencanangkan menjadi apa pun atau mengambil peran
apa pun di masa depan. Jika Indonesia sendiri tak mampu
memberdayakan dan menolong dirinya serta membiarkan diri tergilas
arus globalisasi, selamanya bangsa ini hanya akan menjadi
tukang jahit dan buruh.
Menurut seorang panelis, yang dibutuhkan Indonesia sekarang ini
adalah visioning, repositioning strategy, dan leadership. Tanpa
itu semua, kita tidak akan pernah beranjak dari transformasi yang
terus berputar-putar. Dengan visi jelas, tahapan-tahapan yang
juga jelas, dan komitmen semua pihak serta kepemimpinan yang kuat
untuk mencapai itu, tahun 2030 bukan tidak mungkin Indonesia
juga bisa bangkit kembali menjadi
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar