This research entitle Correlation Between Attributive Experience of Storey; Level Education Of Year Of Service of attitude Learn Ability of Scholastic ably Learn to teach and Attainment Learn Student. This Research aim to know result of process learn to teach in its relation empirically atributif, education ladder, teachership year of service, ability of base, attitude, and teachership enthusiasm and also to pull back making ability of base, enthusiasm, effective teacher attitude and less efesien. This Research Sampel consist of 148 candidate people learn and learn from various ladder education of teachership, each with its student. Result of research indicate that ability of teachership base, especially ability execute prosudur teach, seen uppermost and also have high correlation with all variable.
Kata-Kata Kunci : Kemampuan Dasar Keguruan, Kepribadian,Pengalaman Atributif.
Penelitian ini berjudul Korelasi Antara Pengalaman Atributif, Tingkat Pendidikan, Masa Kerja, Kepribadian Guru, Kemampuan Skolastik dengan Kemampuan Guru Mengajar dan Pencapaian Belajar Siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hasil proses belajar mengajar dalam hubungannya dengan pengalaman atributif, jenjang pendidikan, masa kerja keguruan, kemampuan dasar, sikap, dan minat keguruan serta untuk menyingkap ciri-ciri kemampuan dasar, minat, sikap guru yang efektif dan kurang efesien. Sampel penelitian ini terdiri dari 148 orang calon guru dan guru dari berbagai jenjang pendidikan keguruan, masing-masing bersama siswanya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan dasar keguruan, terutama kemampuan melaksanakan prosedur mengajar, terlihat menonjol serta mempunyai korelasi tinggi dengan semua variabel.
Guru merupakan unsur yang sangat penting dalam sistem pendidikan. Pemgadaan dan pengembangannya diupayakan untuk penyelengaraan pengajaran, bimbingan dan penelitian bagi para perserta didik. Di antara tenaga kependidikan, guru merupakan unsur yang amat dominan dalam sistem pendidikan nasional (PPTKPT. 1992 ; Abdulhak I, 1998).
Hasil pendidikan dan pengajaran di sekolah banyak bergantung pada guru disamping pada faktor-faktor penunjangan lainnya. Harapan akan efisiensi dan efektivitas pendidikan ditujukan pada seberapa jauh keberhasilan guru mengajar. Tidak hanya memfungsikan pendidikan sebagai mekanisme sosialisasi saja, tetapi juga pemupukan kemampuan dan kemauan mengubah serta memperbaiki mutu kehidupan yang mengarah pada penjemputan hari esok yang lebih baik, pembentukan nilai-nilai baru, akibat kemajuan teknologi, industri, informasi dan globalisasi. (Cruickshank, 1984 ; Dermott, 1985; Hamacheck, 1979 ; Joni 1989) .
Lembaga Pendidikan Guru dituntut mampu melakukan pembaharuan. Pembahruan itu perlu dilakukan bukan saja karena tuntutan pembahruan atau pembangunan dalam rangka menghadapi era globalisasai semata, tetapi juga pendidikan guru merupakan upaya yang sangat strategis bagi warga negara yang demokratis yang sangat mendambakan anak bangsa yang berpendidikan, cerdas, dan bertarap hidup tinggi (Depdikbud, 1989 ; Depdiknas 2002) .
Upaya pembahruan guru akan lebih berhasil jika dibarengi dengan temuan tentang faktor-faktor psikologis dasar, yaitu kemampuan profesioanal yang mesti dikembangkan dalam diri guru untuk menyelesaikan tugas-tugas dalam proses pembelajaran. Temuan-temuan itu dapat dipergunakan, untuk menjaring calon mahsiswa tenaga kependidikan agar betul-betul memiliki kemampuan profesional dan karakteristik kemampuan keperibadian yang dapat diandalkan yang pada gilirannya dapat dihasilkan tenaga guru yang profesional, memiliki kemampuan, minat dan sikap profesi kependidikan (Freiberg dan Waxman,1990; Thomas, 1979). Banyak faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan guru mangajar tetapi faktor yang utama adalah faktor yang terjadi di dalam kelas antara guru dengan siswa, yang dapat mereka perhatikan dalam unjuk karya nyata dalam proses belajar mengajar (Peck,1973; Joni,1980; Snow,1984).
Bertitik tolak dari postulat di atas masalahnya adalah ; (1) bagaimanakah pengaruh pengalaman atributif guru terhadap kemampuan keguruan serta hasil proses belajar mengajar? (2) Jika pengalaman atau jenjang pendidikan dan masa kerja keguruan diakui mempunyai peranan dalam menentukan kemampuan keguruan serta hasil proses belajar mengajar, maka bagaimanakah hubungan antara faktor-faktor tersebut? (3) Karakteristik keperibadian dalam arti minat, sikap keguruan dan kemampuan dasar guru marupakan faktor potensial yang sewaktu-waktu dapat diwujudkan dalam perilaku pengajaran. Kalau anggapan itu benar maka bagaimanakah hubungan antara faktor-faktor potensial pengajaran berlangsung, dan bagai mana hubungan dengan faktor-faktor yang lain serta pengalaman belajar yang diperoleh siswa? Semua faktor yang disebutkan di atas merupakan unsur-unsur penyangga yang tidak langsung menampakkan diri dalam perilaku mengajar. Perwujudannya sebagai perilaku mengajar yang nampak harus berpedoman pada kondisi situasional. Jika anggapan itu benar, maka pertanyaan berikutnya adalah (4) Bagaimanakah gambaran profil guru efektif dan kurang efektif?
Berdasarkan masalah-masalah tersebut di atas, maka penelitian ini memusatkan perhatian pada dua tujuan utama yaitu ; Pertama, untuk mengetahui hasil proses belajar mengajar dalam hubungannya dengan pengalaman atributif, jenjang pendidikan dan masa kerja keguruan, kemampuan dasar, sikap, dan minat keguruan. Kedua, untuk menyingkap ciri-ciri kemampuan dasar, minat, sikap guru yang efektif dan kurang efesien. Sebagai kriteria keefektifan dan keefesiensian guru mengajar adalah hasil belajar mengajar baik secara kognitif maupun efektif. Secara operasional ditetapkan bahwa kriteria guru efektif yaitu guru yang dalam satu kurun waktu pertemuan pengajaran, 60% dari jumlah siswa dalam proses belajar mengajar itu mencapai prestasi dengan skor sama dengan skor rata-rata ditambah setengah deviasi standar skor hasil belajar. Sebagai krieteria efisien yaitu dalam satu kurun waktu pertemuan pengajaran 75% dari sarana dan prasarana yang dipergunakannya dapat menjangkau dan dimengerti oleh semua yang hadir belajar.
METODE PENELITIAN
Sampel penelitian ini terdiri dari 148 orang calon guru dan guru dari berbagai jenjang pendidikan keguruan, masing-masing bersama siswa siswanya. Mereka terdiri dari 96 mahasiswa STKIP-Pontianak yang sedang melakukan PPL (Praktek Pengalaman Lapangan), 51 orang pria dan 45 orang wanita. Selebihnya, 52 orang terdiri dari guru dengan jenjang pendidikan SPG, D1,D2,D3, dan sarjana dari berbagai bidang studi : 38 orang pria dan 14 orang wanita .
Dalam penelitian ini terdapat sejumlah variabel dan kriteria. Variabel pertama adalah pengalaman atributif subjek penelitian, yaitu pengalaman yang berhubungan dengan jenis kelamin, usia dan status sosial ekonomi. Variabel kedua adalah pengalaman, jenjang pendidikan dan masa kerja keguruan. Variabel ketiga adalah kemampuan dasar guru yang terdiri dari kemampuan skolastik dan kemampuan mengajar guru. Kemampuan skolastik terdiri dari kemampuan berpikir verbal dan kemampuan berpikir numerikal. Kemampuan guru mengajar terdiri dari kemampuan menyusun rencana pengajaran, kemampuan melaksanakan prosedur mengajar dan kemampuan menciptakan hubungan antar pribadi. Kemampuan guru mengajar juga berperan sebagai variabel kriteria. Variabel kriteria lainnya adalah hasil proses pengajaran yang terdiri dari prestasi belajar kognitif dan afektif. Posisi variabel tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:


KEMAMPUAN GURU MENGAJAR


KERJA



Teknik pengumpulan data dengan mengunakan berbagai instrumen pengukuran setelah melalui tahap uji coba. Variabel pengalaman altributif, jenjang pendidikan dan masa kerja keguruan diukur dengan mengunakan kuesioner yang diisi oleh subjek penelitian. Minat dan sikap keguruan diukur dengan skala penelitian, sedangkan kemampuan skolistik diukur dengan tes skolistik. Variabel kemampuan guru mengajar diukur dengan APKG (Alat Penilaian Kemampuan Guru) yang di kembangkan dan dipergunakan oleh P3G. Variabel kriteria terakhir yaitu hasil proses pengajaran, yang terdiri dari prestasi belajar kognitif diukur dengan tes buatan guru dan calon guru, prestasi belajar afektif atau kesan siswa diukur dengan skala penelitian.
Dalam analisis data untuk mengungkap hubungan antara variabel dipergunakan sejumlah pendekatan statistik. Pendekatan statistik dasar di pergunakan untuk menemukan penyebaran skor dari variabel-variabel penelitian. Teknik analisa korelasi dari regresi multipel (Furqon,1999) dipergunakan untuk mengungkapkan hubungan antara variabel-variabel kriteria. Teknik analisis profil dipergunakan untuk menemukan gambaran visual profil kemampuan dan kepribadian guru yang efektif dan yang kurang efektif.
HASIL PENELITIAN
Beberapa temuan yang dapat di utarakan dari hasil analisis data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut (1) hasil pengembangan instrumen penelitian pada umumnya mempunyai reabilitas yang cukup tinggi, yaitu dengan rentangan antara 0,59 sampai dengan 0,98 dari sedang sampai dengan sangat tinggi (Guilford 1986). Indeks Validitas terentang antara 0,203 sampai dengan 0.711, dari rendah sampai dengan tinggi; (2) hubungan antara variabel yang berpasangan dengan hasil pengajaran kognitif menunjukkan indeks koerelasi yang rendah, yaitu antara 0,203 sampai dengan 0,486, dari rendah sampai dengan sedang ; (3) Hubungan antara minat dan sikap keguruan yang berpasangan dengan semua variabel menunjukkan indek korelasi yang lebih tinggi dibandingkan dengan hubungan antara variabel yang berpasangan dengan hasil pengajaran. Indek korelasi itu terentang dari 0,345 sampai dengan 0,657; indek korelasi tersebut termasuk sedang. Disamping itu variabel minat dan sikap keguruan mempunyai daya ramal yang lebih tinggi terhadap prestasi belajar afektif, terentang dari 0,413 sampai dengan 0,486, dibandingkan dengan daya ramal terhadap hasil belajar kognitif, yang indek korelasinya terentang antara 0,203 sampai dengan 0,438 (4) Kemampuan guru mengajar memiliki hubungan yang tinggi dengan variabel-variavel lain, ter-rentang dari 0,532 sampai dengan 0,735, dari sedang sampai dengan tinggi, kecuali hubungannya dengan hasil proses pengajaran seperti diutarakan di atas ; (5) Pengalamanam yang berhubungan dengan usia dan status sosial – ekonomi mempunyai korelasi tinggi. Indek korelasinya terentang dari 0,606 sampai dengan 0,712. dalam hubungan ini, status sosial-ekonomi mampunayi korelasi lebih tinggi; (6) hubungan yang tinggi terdapat juga antara jenjang pendidikan dan masa kerja dengan kemampuan keguruan, minat dan sikap terhadap profesi guru. Indek korelasinya terentang antara 0,603 sampai dengan 0,743. Jenjang pendidikan rata-rata mempunyai indeks korelasi yang tinggi dengan variabel-variabel tersebut dibandingkan dengan masa kerja keguruan; (7) hasil analisis profil menunjukkan profil kelompok guru kurang efektif mempunyai skor di bawah skor rata-rata untuk semua variabel, sebaliknya profil guru efektif, semua skor ada di atas skor rata-rata. Pada kedua kelompok guru itu, skor tinggi ada pada kemampuan guru mengajar.
BAHASAN
Sebagian besar dari instrumen penelitian ini merupakan instrumen penelitian yang sudah sering dipergunakan sehingga sebelum dipergunakan sudah di ketahui kualitas dalam arti validitas, reabilitas serta tingkat kesukaran, dan kemampuan diskriminasi soal-soalnya. Namun, hasil pengembangan instrumen penelitian untuk pengukuran matra afektif kurang mantap dibandingkan dengan yang untuk pengukuran matra kognitif. Hal itu dapat di pahami karena instrumen yang di sebutkan terlebih dahulu mengukur karakteristik pelaku, typical performance, sedangkan yang kedua mengukur karakteristik perilaku maksimal,maximum performance.
Rendahnya korelasi antara pengajaran kognitif dengan variabel lain disebabkan oleh sistem pengajaran yang pelaksanaannya menerapkan pretestdan postest. Pendekatan ini mengutamakan pencapaian tujuan pendidikan yang sangat pendek, terutama yang bersifat behavioral. Disamping itu terkesan pelaksanaan proses belajar-mengajar dipusatkan pada materi pengajaran yang bakal diungkapkan oleh posttest, sementara diperkirakan kemampuan dan keterampilan subjek penelitian yang terdiri dari guru dan calon guru dari berbagai jenjang pendidikan dan program studi kurang memadai sehingga membawa dampak kurang bermutu bagi instrumen penilaian yang disusun.
Variabel minat, sikap keguruan dan prestasi belajar afektif, ketiganya merupakan domain afektif. Daya ramal yang tinggi variabel minat dan sikap keguruan terhadap keperibadian guru dan prestasi belajar afektif mungkin di sebabkan oleh kesamaan kandungan matra afektif yang ada dalam variabel tersebut. Di samping itu kedua instrumen penelitian, yaitu skala minat keguruan dan skala sikap keguruan keduannya merupakan instrumen yang telah mengalami uji coba dengan penggunaan berkali-kali dengan kualitas cukup baik.
Kemampuan guru mangajar merupakan pusat perhatian bagi pendidikan guru berdasarkan kompentensi. Untuk mengetahui apakah guru dan/atau calon guru telah memiliki kompetensi yang disyaratkan oleh APKG, yang kontruk dan sfesifikasi indikator-inmdikator dan diskriptor atau intem-intemnya sudah diselaraskan dengan kompetensi-kompetensi yang harus dimiliki oleh guru/calon guru. Di samping itu alat penilaian seperti ini menurut Darmodjo (1994) sudah mengalami try-out berkali-kali dan pernah digunakan di IKIP seluruh Indonesia dengan hasil reliabilitas yang sangat tinggi (0,990). Semua yang di paparkan di atas itulah yang diperkirakan kemampuan guru mengajar mempunyai daya prediksi yang tinggi terhadap variabel-variabel yang diutarakan sebelumnya.
Variabel usia dan status sosial ekonomi guru mempunyai korelasi yang tinggi dengan minat dan sikap keguruan. Temuan ini mengisyaratkan bahwa makin bertambah tinggi usia dan status sosial-ekonomi seseorang guru, akan semakin memperkuat pemantapan minat dan sikap guru terhadap profesi keguruan yang ditekuninya.
Tingginya korelasi jenjang pendidikan dengan masa kerja keguruan dengan kemampuan keguruan, hasil proses belajar, minat dan sikap keguruan merupakan indikasi bahwa makin tinggi jenjang pendidikan dan masa kerja keguruan dapat memantapkan minat dan sikap keguruan. Disamping itu, jenjang pendidikan yang semakin tinggi mengandung makna makin bertambah banyak khasanah dan mutu kompetensi keguruan yang dicapai, makin bertambah pula hasil belajar yang diperoleh serta makin bertambah pula pengalaman belajar-mengajar. Demikian pula dengan masa kerja keguruan. Namun perlu diwaspadai bahwa makin banyak hasil belajar dan pengalaman yang dimiliki oleh seseorang guru tidak otomatis meningkatkan kemampuan keguruan dan hasil belajar siswa.
Dalam profil guru kurang efektif, guru efektif dan kemampuan keguruan menunjukkan skor tertinggi. Temuan ini mengisyaratkan bahwa tinggi rendahnya kemampuan guru mengajar dapat dipergunakan sebagai indikasi kemampuan guru efektif dan kurang efektif. Artinya jika kemampuan guru mangajar tinggi, dapat di ramalkan kemungkinan besar keefektifan mengajar juga akan lebih tinggi pula.
SIMPULAN DAN SARAN
Kemampuan dasar keguruan, terutama kemampuan melaksanakan pengajaran terlihat menonjol serta mempunyai korelasi tinggi dengan semua variabel. Temuan ini mengisyaratkan bahwa betapa pentingnya pengembangan dan pembinaan guru dan calon guru melalui penataran, lokakarya, dan kegiatan sejenisnya. Kemampuan dasar keguruan merupakan kemampuan yang sangat penting dalam profesi keguruan. Disarankan kemampuan keguruan ini layak dipergunakan sebagai salah satu tolok ukur atau kriteria dalam pemilihan guru teladan.
Perlu diwaspadai bahwa APKG yang dipergunakan sebagai instrumen pengukuran kemampuan dasar keguruan dalam penelitian ini sudah menunjukkan reabilitas dan validitas yang tinggi. Disamping itu APKG merupakan alat peneliti yang bertafsir tinggi, high inference, yang penggunaannya menuntut persyaratan-persyaratan tertentu bagi penilai atau pengobservasi. Jika persyaratan-persyaratan yang dituntutkan tidak terpenuhi maka data atau informasi hasil penggunaan instrumen akan berkurang kesahihannya. Oleh karena itu disarankan penelitian atau pengobervasiannya mengunakan instrumen ini harus mendapat latihan yang memadai sehingga memiliki keterampilan yang handal, disamping memiliki latar belakang yang memadai pula.
Jenjang pendidikan dan masa kerja keguruan merupakan variabel peramal yang merupakan variabel prediksi yang tinggi terhadap perilaku keguruan dan hasil pengajaran. Oleh kerena itu usaha-usaha pengembangan dan peningkatan sumber daya manusia dalam bidang pendidikan, baik in-sevice maupun pre-service-education, seperti peningkatan PGSD perlu mendapat perhatian dan penanganan serius baik oleh Pemerintah lembaga produsen tenaga kependidikan, maupun oleh masyarakat sebagai pemakai jasa (stake holder).Tidak kurang pentingnya adalah masa kerja keguruan, waluapun lebih rendah kadar peranannya dari pada jenjang pendidikan tetapi masih merupakan variabel yang memiliki daya ramal yang tinggi.
DAFTAR PUSTAKA
Abdulhak, I (1998) Pemberdayaan Pendidikan Orang Dewasa Dalam Bingkai Reformasi Pendidikan. Jurnal Pendidikan 2 (XVII), 8-13.
Cruickshank, (1984) Models for the preparation of America’s teachersBloomington: The Phi Delta Kappa Educational Foundation.
Cronbach, J. (1974) Coure Improvement Through Evaluation. Dalam D.A Payne.Curriculum Evaluation Commentaries on Purpose, Process, Product.London; D.C. heath dan Company.
Depdiknas (2001)Guru Pada Era Reformasi. Kajian Dalam Meningkatakan Progesi Guru Pusat Penelitian dan Pengembangan : Jakarta
Depdiknas (2003) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional : Jakarta . Biro Hukum dan Organisasi Sekjen Depdiknas
Dermott, J.J. (1975) Spontaneous Activity in Education, the Advanced Montessori Method. New Yok : Cochochen Books
Furqon (1999) Statistika Terapan Untuk Penelitian. Bandung Alfabeta
Freiberg, H.J dan H.C. Waxman (1990) Chaning teacher education. Dalam W.R Houston M. Hoberman dan J. Sikula ed. Handbook of Research on Teacher Education. A.Project of Association Of Teacher Education. New York: MacMilan
Guilford,J.P. (1976) Fundamental Statiscs in Psychology and Education. Tokyo: Koga kusha.
Hamackeck,D.E. (1979) Psychology in Teaching, leading and Growth.2nd. ed Boston: Allyn and Bacon.
Joni, T. Raka, (1989) Kompetensi Keguruan : suatu konsep yang Mekanistik?Pendidikan , 10 (VIII). 13-16.
Joni.T. Raka, (1989) Mereka Masa Depan, Sekarang: Tantangan Bagi Pendidikan dalam Manyongsong Abad Informasi. Malang : IKIP MALNG.
Peck,R,P. (1973) Research on Teacher Education. Dalam R.M.W. Travers. Ed.Handbooks of Research on teaching. 2nd. Ed. Chicago:Rand McNally, 940-978.
PPTKP (1992). Kurikulum Tenaga Kependidikan dan Tenaga Kependidikan Sekolah Menengah Program S1. Buku 1 Ketentuan-Ketentuan Pokok. Jakarta : Drijen Dikti Depdikbud.
Snow, R.E. (1984) Representasive and Quasi Representatif Designs for Research on Tteaching. Review of Educationnal Research, 44 (3) 265-291.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar