Oleh Muhammad Abdul Aziz
Jurusan Pendidikan IPS Universitas Negeri Yogyakarta
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Saat
ini di zaman ketika uang dipuja-puja sebagai Tuhan, banyak pemimpin
yang terlahir dari proses instan. Masyarakat seakan terhipnotis dengan
janji-janji dan ada pula yang menggunakan money politik pada saat
pemilihan umum. Kesejahteraan masyarakat yang menjadi cita-cita utama perubahan hanya menjadi simbol jualan pasar menuju kekuasaan.
Bangsa Indonesia tengah mengalami krisis kepemimpinan nasional, yakni pemimpin memiliki ketegasan, berani dan diinginkan rakyat. Pemimpin
nasional saat ini sering absen dalam peristiwa-peristiwa yang
sebenarnya penting untuk bersama rakyatnya, seperti halnya kasus
kekerasan yang terjadi belakangan ini. Pemimpin negeri ini tidak pernah hadir dalam persoalan-persoalan yang dialami rakyat. Ini bisa dikatakan krisis kepemimpinan.
Indonesia
butuh seorang pemimpin yang dapat mengelola diri, kelompok &
lingkungan dengan baik. Khususnya dalam penanggulangan masalah yang
relatif pelik dan sulit, serta dituntut kearifan seorang pemimpin dalam
mengambil keputusan agar masalah dapat terselesaikan dengan baik. Oleh
karena itu dalam makalah ini akan dibahas mengenai kriteria pemimpin
Indonesia di masa depan.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana makna Kepemimpinan?
2. Bagaimana kondisi kepemimpinan di Indonesia?
3. Bagaimana Kriteria Pemimpin masa depan?
C. Tujuan
1. Mengetahui makna kepemimpinan.
2. Mengetahui kondisi kepemimpinan di Indonesia
3. Mengetahui kriteria pemimpin masa depan.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Makna Kepemimpinan
Istilah
kepemimpinan berasal dari kata “pimpin’ yang artinya bimbing atau
tuntun. Kemudian berkembang menjadi kata “memimpin” yang artinya
memimpin atau menuntun, serta kata “pemimpin” yang artinya orang yang
berfungsi memimpin, atau orang yang membimbing atau menuntun.
Adapun
istilah “pemimpin” berasal dari kata asing leader dan “kepemimpinan
dari kata leadership. Menurut Pamudji (1986:6), kepemimpinan berbeda
dengan manajemen, perbedaan tersebut antara lain:
1. Kepemimpinan
itu nuansanya mengarah kepada kemampuan individu, yaotu kemampuan dari
seseorang pemimpin, sedangkan manajemen mengarah kepada sistem dan
mekanisme kerja.
2. Kepemimpinan
merupakan kualitas hubungan atau interaksi antara si pemimpin dan
pengikut dalam situasi tertentu, sedangkan manajemen merupakan fungsi
status atau wewenang; jadi kepemimpinan menekankan kepada pengaruh
terhadap pengikut sedangkan manajemen menekankan pada wewenang yang ada.
3. Kepemimpinan
menggantungakn diri pada sumber-sumber yang ada dalam dirinya
(kemampuan dan kesanggupan) untuk mencapai tujuan, sedangkan manajemen
mempunyai kesempatan untuk mengerahkan dana dan daya yang ada di dalam
organisasi untuk mencapai tujuan secara efisien dan efektif.
4. Kepemimpinan
lebih bersifat hubungan personal yang berpusat pada diri si pemimpin,
pengikut dan situasi, sedangkan manajemen bersifat interpersonal dengan
masukan (input) logika, rasio, dana, analistis, dan kuantitatif.
Beberapa ahli berpandapat tentang Pemimpin, beberapa diantaranya :
1. Menurut Drs. H. Malayu S.P. Hasibuan, Pemimpin
adalah seseorang dengan wewenang kepemimpinannya mengarahkan bawahannya
untuk mengerjakan sebagian dari pekerjaannya dalam mencapai tujuan.
2. Menurut Robert Tanembaum,
Pemimpin adalah mereka yang menggunakan wewenang formal untuk
mengorganisasikan, mengarahkan, mengontrol para bawahan yang bertanggung
jawab, supaya semua bagian pekerjaan dikoordinasi demi mencapai tujuan
perusahaan.
3. Menurut Prof. Maccoby,
Pemimpin pertama-tama harus seorang yang mampu menumbuhkan dan
mengembangkan segala yang terbaik dalam diri para bawahannya. Pemimpin
yang baik untuk masa kini adalah orang yang religius, dalam artian
menerima kepercayaan etnis dan moral dari berbagai agama secara
kumulatif, kendatipun ia sendiri mungkin menolak ketentuan gaib dan ide
ketuhanan yang berlainan.
4. Menurut Lao Tzu,
Pemimpin yang baik adalah seorang yang membantu mengembangkan orang
lain, sehingga akhirnya mereka tidak lagi memerlukan pemimpinnya itu.
5. Menurut Davis and Filley, Pemimpin adalah seseorang yang menduduki suatu posisi manajemen atau seseorang yang melakukan suatu pekerjaan memimpin.
6. Sedangakn menurut Pancasila,
Pemimpin harus bersikap sebagai pengasuh yang mendorong, menuntun, dan
membimbing asuhannya. Dengan kata lain, beberapa asas utama dari
kepemimpinan Pancasila adalah :
a. Ing
Ngarsa Sung Tuladha : Pemimpin harus mampu dengan sifat dan
perbuatannya menjadikan dirinya pola anutan dan ikutan bagi orang –
orang yang dipimpinnya.
b. Ing
Madya Mangun Karsa : Pemimpin harus mampu membangkitkan semangat
berswakarsa dan berkreasi pada orang – orang yang dibimbingnya.
c. Tut
Wuri Handayani : Pemimpin harus mampu mendorong orang – orang yang
diasuhnya berani berjalan di depan dan sanggup bertanggung jawab.
Kepemimpinan
adalah kemampuan seseorang mempengaruhi dan memotivasi orang lain untuk
melakukan sesuatu sesuai tujuan bersama. Kepemimpinan meliputi proses
mempengaruhi dalam menentukan tujuan organisasi, memotivasi perilaku
pengikut untuk mencapai tujuan, mempengaruhi untuk memperbaiki kelompok
dan budayanya.
Ada beberapa pendapat tentang kepemimpinan, seperti:
1. Kepemimpinan sebagai titik pusat perubahan, kegiatan, dan proses dari kelompok (Cooley)
2. Kepemimpinan adalah suatu kepribadian yang mempunyai pengaruh (Bingham).
3. Kepemimpinan adalah seni untuk menciptakan kesesuaian faham atau keseiaan, kesepakatan (Munson).
4. Kepemimpinan adalah pelaksanaan pengaruh (Nash).
5. Kepemimpinan adalah tindakan atau perilaku (Hemphill).
6. Kepemimpinan adalah suatu bentuk persuasi (Schenk).
7. Kepemimpinan adalah suatu hubungan kekuatan/kekuasaan (Janda).
8. Kepemimpinan adalah sarana pencapaian tujuan (Cowley)
9. Kepemimpinan adalah suatu hasil dari interaksi (Bogardus)
10. Kepemimpinan adalah peranan yang dipilahkan (Gibb)
11. Kepemimpinan sebagai inisiasi (permulaan) dari struktur (Smith)
Variabel-variabel Kepemimpinan:
1. Situasi dan kondisi
Situasi
dan kondisi yang melingkupi kepemimpinan akan mempengaruhi keberhasilan
seorang pemimpin. Bahkan situasi dan kondisi ini dapat membentuk
seseorang untuk menjadi pemimpin.
2. Pengikut
Prmgikut
perlu diperhatikan oleh seorang pemimpin, karena mereka dapat
mempengaruhi keberhasilan kepemimpinannya. Seorang pemimpin harus
mengetahui dan memahami perihal keadaan yang dipimpin. Para pengikut
mengikuti pemimpin karena beberapa hal:
a. Adanya rasa patuh dan taat karena naluri dan nafsu
b. Adanya rasa patuh dan taat karena tradisi dan adat
c. Adanya rasa patuh dan taat karena agama dan budi nurani
d. Adanya rasa patuh dan taat karena akal dan rasio
e. Adanya rasa patuh dan taat karena peraturan hukum
3. Pribadi pemimpin
Pribadi
pemimpin dipandang mempunyai posisi yang strategis dalam suatu kelompok
dan bahkan suatu bangsa. Kesuksesan yang dicapai oleh suatu kelompok
atau suatu bangsa merupakan buah karya si pemimpin dan sekaligus
petunjuk keberhasilan kepemimpinannya.
Ordway Tead mengemukakan sifat-sifat seorang pemimpin:
a. Energi jasmani dan rohani
b. Kepastian akan maksud dan arah tujuan
c. Entusiasme atau perhatian yang besar
d. Ramah tamah, penuh rasa persahabatan dan ketulusan hati
e. Integritas atau pribadi yang bulat
f. Kecakapan teknis
g. Mudah menetapkan keputusan
h. Cerdas
i. Kecakapan mengajar
j. Keyakinan
Sementara itu Prof. Arifin Abdulrachman menggolongkan sifat-sifat kepemmimpinan ke dalam tiga golongan:
a. Sifat-sifat
pokok, ialah sifat-sifat dasar yang dimiliki oleh setiap pemimpin.
Sifat-sifat pokok ini meliputi: adil, suka melindungi (pengayom), penuh
inisiatif, penuh daya tarik dan penuh kepercayaan kepada diri sendiri
b. Sifat-sifat khusus karena pengaruh tempat, yaitu sifat-sifat yang pada pokoknya sesuai dengan kepribadian bangsa.
c. Sifat-sifat
khusus karena pengaruh dari macam atau golongan pemimpin, seperti
misalnya pemimpin partai politik, pemimpin keagamaan, pemimpin sarikat
buruh, dll.
John D. Millett juga mengemukakan tentang empat hal penting dalam kepemimpinan, yaitu:
a. Kemampuan
melihat organisasi secara keseluruhan menghendaki seorang pemimpin
pemerintahan sebagai seseorang generalist, yaitu mengetahui serba
sedikit mengenai segala sesuatu
b. Kemampuan mengambil keputusan sangat diharapkan dari setiap pemimpin pemerintahan untuk mengatasi berbagai masalah yang dihadapi
c. Kemampuan melimpahkan atau mendelegasikan wewenang. Kepemimpinan baru dikatakan efektif apabila ada kemampuan daripadanya untuk melimpahkan wewenang yang diikuti oleh pihak yang menerima pelimpahan.
d. Loyalitas
dapat diartikan selalu menanggapi secara baik atas segala bimbingan dan
pengarahan yang diberikan oleh pemimpin dan stafnya.
Pemimpin
jika dialihbahasakan ke bahasa Inggris menjadi Leader, yang mempunyai
tugas untuk me-lead anggota disekitarnya. Sedangkan makna Lead adalah :
a. Loyality, seorang pemimpin harus mampu membagnkitkan loyalitas rekan kerjanya dan memberikan loyalitasnya dalam kebaikan.
b. Educate, seorang pemimpin mampu untuk mengedukasi rekan-rekannya dan mewariskan tacit knowledge pada rekan-rekannya.
c. Advice, memberikan saran dan nasehat dari permasalahan yang ada
d. Discipline, memberikan keteladanan dalam berdisiplin dan menegakkan kedisiplinan dalam setiap aktivitasnya.
Tugas Pemimpin, Menurut James A.F Stonen adalah:
a. Pemimpin bekerja dengan orang lain : Seorang pemimpin bertanggung jawab untuk bekerja
dengan orang lain, salah satu dengan atasannya, staf, teman sekerja
atau atasan lain dalam organjsasi sebaik orang diluar organisasi.
b. Pemimpin adalah tanggung jawab dan mempertanggungjawabkan (akontabilitas):
Seorang pemimpin bertanggungjawab untuk menyusun tugas menjalankan tugas,
mengadakan evaluasi, untuk mencapai outcome yang terbaik. Pemimpin bertanggung jawab untuk kesuksesan stafhya tanpa kegagalan.
Seorang pemimpin bertanggungjawab untuk menyusun tugas menjalankan tugas,
mengadakan evaluasi, untuk mencapai outcome yang terbaik. Pemimpin bertanggung jawab untuk kesuksesan stafhya tanpa kegagalan.
c. Pemimpin menyeimbangkan pencapaian tujuan dan prioritas : Proses kepemimpinan dibatasi sumber, jadi pemimpin hanya dapat menyusun tugas dengan mendahulukan prioritas.
Dalam upaya pencapaian tujuan pemimpin harus dapat mendelegasikan
tugas-tugasnya kepada staf. Kemudian pemimpin harus dapat mengatur waktu
secara efektif, dan menyelesaikan masalah secara efektif.
d. Pemimpin
harus berpikir secara analitis dan konseptual : Seorang pemimpin harus
menjadi seorang pemikir yang analitis dan konseptual. Selanjutnya dapat
mengidentifikasi masalah dengan akurat. Pemimpin harus dapat menguraikan
seluruh pekerjaan menjadf lebih jelas dan kaitannya dengan pekerjaan
lai
e. Manajer
adalah forcing mediator : Konflik selalu terjadi pada setiap tim dan
organisasi. Oleh karena itu, pemimpin harus dapat menjadi seorang
mediator (penengah).
f. Pemimpin
adalah politisi dan diplomat: Seorang pemimpin harus mampu mengajak dan
melakukan kompromi. Sebagai seorang diplomat, seorang pemimpin harus
dapat mewakili tim atau organisasinya.
g. Pemimpin membuat keputusan yang sulit : Seorang pemimpin harus dapat memecahkan masalah.
Menurut Henry Mintzberg, Peran Pemimpin adalah :
a. Peran
huhungan antar perorangan, dalam kasus ini fungsinya sebagai pemimpin
yang dicontoh, pembangun tim, pelatih, direktur, mentor konsultasi.
b. Fungsi Peran informal sebagai monitor, penyebar informasi dan juru bicara.
c. Peran Pembuat keputusan, berfungsi sebagai pengusaha, penanganan gangguan, sumber alokasi, dan negosiator.
Fungsi
pemimpin dalam suatu organisasi tidak dapat dibantah merupakan sesuatu
fungsi yang sangat penting bagi keberadaan dan kemajuan organisasi yang
bersangkutan. Pada dasarnya fungsi kepemimpinan memiliki 2 aspek yaitu :
a. Fungsi administrasi, yakni mengadakan formulasi kebijaksanakan administrasi dan menyediakan fasilitasnya.
b. Fungsi sebagai Top Mnajemen, yakni mengadakan planning, organizing, staffing, directing, commanding, controling, dsb.
Seorang
pemimpin boleh berprestasi tinggi untuk dirinya sendiri, tetapi itu
tidak memadai apabila ia tidak berhasil menumbuhkan dan mengembangkan
segala yang terbaik dalam diri para bawahannya. Dari begitu banyak
definisi mengenai pemimpin, dapat penulis simpulkan bahwa : Pemimpin
adalah orang yang mendapat amanah serta memiliki sifat, sikap, dan gaya
yang baik untuk mengurus atau mengatur orang lain.
B. Kondisi Kepemimpinan di Indonesia
Ada
penurunan keteladanan kepemimpinan yang terjadi sekarang. Hal ini cukup
beralasan mengingat permasalahan yang terjadi di bangsa ini seperti
korupsi, penggunaan kekuasaan untuk kepentingan tertentu, kasus
kekerasan dan tindak terororisme dan sampai pada etika anggota dewan
yang sangat tidak beralasan menonton video porno saat sidang
berlangsung, hal ini sungguh menampar wajah bangsa. Kejadian seperti ini
seperti tidak kunjung usai untuk segera dituntaskan. Ditambah lagi
mulai semakin maraknya aksi-aksi demo menolak kepemimpinan yang terjadi
akhir-akhir ini semakin memperkuat indikasi bahwa ada sesuatu yang tidak
diinginkan masyarakat dari sosok seorang pemimpin. Statement-statment
mengenai “krisis kepercayaan” yang mulai berkembang di masyarakat mulai
diangkat dalam diskusi-diskusi yang dilakukan stasiun televisi.
Lagi-lagi ini memperkuat bahwa krisis kepemimpinan mulai menjadi eforia
gunung es yang sewaktu-waktu akan meledak dan akan menimbulkan
terulangnya kembali reformasi yang terjadi beberapa tahun yang lalu.
Peristiwa ini masih merupakan sekelumit masalah yang sebenarnya masih
banyak terjadi di dalam masyarakat dan tentu dibutuhkan sosok seorang
pemimpin yang berani, tegas dan bijaksana untuk menyelesaikannya.
masalah yang terjadi dalam dinamika kepemimpinan kita saat ini. Dimana
orang-orang merasa bahwa mereka adalah seorang pemimpin dan mampu
memimpin. Pemimpin-pemimpin “karbit” kerap bermunculan ke panggung
politik. Partai tidak lagi menjadi proses pendidikan untuk menjadi
pemimpin, partai hanya dijadikan kendaraan politik semata dengan uang
sebagai motor penggeraknya. Tidak jarang juga kepopuleran menjadi
indikator penting sebagai salah satu yang dipaksakan. Permasalahan lain
dari kepemimpinan kita adalah kurang tegas dalam memimpin sehingga
masyarakat menjadi bingung dengan pola kepemimpinan yang berkembang.
Ditambah lagi dengan bumbu-bumbu politik pencitraan yang menjadi
landasan dalam bertindak. Sehingga jika permasalahan muncul membutuhkan
waktu yang sangat lama untuk segera diantisipasi dan ditanggulangi.
Hal-hal lain yang juga mulai berkembang yaitu paradigma berpikir tentang
seorang pemimpin. Kecenderungan yang terjadi dalam pola kepemimpinan
kita adalah menganggap dirinya sebagai “raja” yang harus disembah dan
dipuja-puja. Ketika para pemimpin datang berkunjung maka blokade-blokade
jalan dilakukan dengan dalih pengamanan yang bisa dianggap terlalu
berlebihan.
Selain
itu, tantangan terberat bagi seorang pemimpin, menurut Locke adalah
menanamkan visi yang sudah dikembangkan kepada anggota organisasi. Ini
merupakan hal esensial yang harus dilakukan oleh seorang pemimpin kepada
anggota-anggotanya sehingga segenap anggota dapat mengerti dan memahami
visi yang menjadi tujuan organisasi atau perusahaan yang mereka ikuti.
Dengan mengetahui visi maka segenap tindakan para anggota menuju ke arah
tercapainya visi tersebut. Tidak hanya itu, pemimpin mempunyai
kewajiban lain yaitu menghidupkan dan memberi energi pada visi agar
dapat menjadi roh seluruh anggota organisasi (http://politik.kompasiana.com/2011/05/25/kondisi-kepemimpinan-indonesia-dan-tantangan-ke-depan/).
C. Kriteria Pemimpin Masa Depan
Menurut Peter. F. Drucker seorang pemimpin efektif mempunyai paling tidak ciri-ciri utama seperti berikut, yaitu:
1. seorang pemimpin harus mempunyai pengikut, kemudian dia bisa muncul sebagai pemikir besar atau seorang nabi;
2. seorang
pemimpin yang efektif bukanlah orang yang dicintai atau dikagumi,
tetapi adalah orang yang mampu menggugah pengikutnya melakukan hal-hal
besar, karena tujuan seorang pemimpin adalah bukan mencapai
popularitas melainkan mencapai atau menghasilkan sesuatu;
3. seorang pemimpin harus melakukan tindakan yang nyata dalam artian memberi keteladanan;
4. seorang
pemimpin tidak akan menjadikan kepemimpinannya menjadi sesuatu yang
berorientasi pada jabatan, hak istimewa, gelar, atau pun uang, karena
pemimpin dan kepemimpinan adalah tanggung jawab.
Maka
dari itu, masih kata Peter F. Drucker, seorang pemimpin yang
efektif, tanpa memperhatikan kepribadian, gaya, kemampuan, maupun
minatnya, seorang pemimpin yang efektif mempunyai cara kerja yang
kurang lebih sama, yang jika dikristalisasikan dapat dituliskan
seperti berikut:
1. seorang
pemimpin tidak memulai dengan pertanyaan "Apa yang saya inginkan?"
tetapi selalu akan mulai dengan pertanyaan "Apa yang perlu
dikerjakan?";
2. berikutnya
seorang pemimpin akan bertanya "Apa yang dapat dan harus saya
lakukan untuk membuat adanya perbedaan?" untuk menunjukkan bahwa pada
titik inilah dia mempunyai kemampuan dan kekuatan yang dapat
diandalkan;
3. seorang
pemimpin akan senantiasa bertanya "Apa misi dan sasaran
organisasi?" dalam bingkai pemikiran apa saja yang menentukan kinerja
dan hasil suatu organisasi;
4. seorang
pemimpin mempunyai tenggang rasa yang tinggi terhadap perbedaan
pada setiap orang dan dia tidak mencari orang yang mirip dengan dirinya
semata untuk diajak bekerja sama, atau dengan kata lain mereka jarang
bertanya "Apakah saya suka atau tidak suka kepada seseorang?",
tetapi ketika menyangkut masalah prestasi, standar, dan nilai
seseorang, pemimpin yang efektif biasanya sangat tidak toleran;
5. seorang
pemimpin yang efektif tidak takut pada kelebihan yang dimiliki
rekan-rekan sekerja mereka, bahkan mereka menyukai kelebihan
tersebut;
6. seorang
pemimpin yang efektif selalu berhasil bertahan terhadap godaan dan
rayuan untuk mengerjakan hal-hal yang populer dan bukannya hal-hal yang
tepat, serta biasanya lebih suka memilih menyelesaikan pekerjaan yang
kecil, sedang-sedang, atau sederhana, daripada berusaha menyelesaikan
pekerjaan besar yang seringkali hanya merupakan angan-angan kosong
berbingkai popularitas.
Seorang
pemimpin yang arif dan efektif, yang sangat kita harapkan di masa
depan nanti, adalah pemimpin yang mempunyai tiga ciri penting,
yaitu:
1. percaya kepada orang lain;
Percaya
kepada orang lain menjadi sangat penting bagi seorang pemimpin
masa depan karena sikap dan sifat inilah yang dapat memberi rasa
percaya diri seseorang dalam memasuki ketidaktahuan dan mendorong orang
lain menuju ke arah yang belum pernah dikenali. Namun sifat ini
hendaknya selalu dipadukan dengan sifat ragu-ragu yang logis, sikap
rendah hati untuk menerima kenyataan bahwa orang kadang-kadang
melakukan kesalahan, bahwa orang lain juga mempunyai gagasan, dan
bahwa mendengar adalah sama pentingnya dengan berbicara.
2. bersemangat dalam melaksanakan tugas;
Bersemangat
dalam melaksanakan tugas menjadi penting karena sifat dan sikap ini
memberi energi dan fokus pada hal-hal yang dapat menggerakkan
organisasi, serta memberi contoh dan teladan kepada yang lain. Namun,
sifat ini pun haruslah dipadukan dengan kesadaran akan adanya dunia dan
wawasan lain, yang dapat diperoleh lewat waktu yang digunakan untuk
membaca, menemui dan berbincang-bincang dengan orang di luar
lingkungan mereka sendiri, serta jika perlu menjelajah kawasan dan
lingkungan lain yang belum pernah didatangi selama ini.
3. dapat mencintai orang lain.
sikap
dapat mencintai orang lain juga menjadi sangat penting dan bahkan
maha penting karena dalam suatu komunitas masyarakat, kecenderungan
yang kuat saja yang dihormati dan ditakuti tetap merupakan
fenomena dan gejala alami yang sulit dipatahkan. Adalah tugas seorang
pemimpin yang efektif mematahkan fenomena ini dengan menunjukkan sikap
bahwa meskipun dirinya kuat dan berkuasa tidaklah perlu ditakuti karena
dia dapat mencintai orang lain seperti dia mencintai dirinya sendiri.
Namun, sikap ini tetap saja harus dipadukan dengan kemampuan untuk
berusaha dalam kesendirian, karena seorang pemimpin harus berada di
garis depan dan tidak mengharapkan selalu berbagi kecemasan dengan
orang lain setiap saat.
Kriteria Seorang Pemimpin
Pimpinan yang dapat dikatakan sebagai pemimpin setidaknya memenuhi beberapa kriteria,yaitu:
1. Pengaruh
: Seorang pemimpin adalah seorang yang memiliki orang-orang yang
mendukungnya yang turut membesarkan nama sang pimpinan. Pengaruh ini
menjadikan sang pemimpin diikuti dan membuat orang lain tunduk pada apa yang dikatakan sang pemimpin. John C. Maxwell, penulis buku-buku kepemimpinan pernah berkata: Leadership is Influence (Kepemimpinan adalah soal pengaruh). Mother Teresa dan Lady Diana adalah contoh kriteria seorang pemimpin yang punya pengaruh.
2. Kekuasaan/power : Seorang pemimpin umumnya diikuti oleh orang lain karena dia
memiliki kekuasaan/power yang membuat orang lain menghargai keberadaannya. Tanpa kekuasaan atau kekuatan yang dimiliki sang pemimpin, tentunya tidak ada orang yang mau menjadi pendukungnya. Kekuasaan/kekuatan yang dimiliki sang pemimpin ini menjadikan orang lain akan tergantung pada apa yang dimiliki sang pemimpin, tanpa itu mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Hubungan ini menjadikan hubungan yang bersifat simbiosis mutualisme, dimana kedua belah pihak sama-sama saling diuntungkan.
memiliki kekuasaan/power yang membuat orang lain menghargai keberadaannya. Tanpa kekuasaan atau kekuatan yang dimiliki sang pemimpin, tentunya tidak ada orang yang mau menjadi pendukungnya. Kekuasaan/kekuatan yang dimiliki sang pemimpin ini menjadikan orang lain akan tergantung pada apa yang dimiliki sang pemimpin, tanpa itu mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Hubungan ini menjadikan hubungan yang bersifat simbiosis mutualisme, dimana kedua belah pihak sama-sama saling diuntungkan.
3. Wewenang : Wewenang di sini dapat diartikan sebagai hak yang diberikan kepada
pemimpin untuk fnenetapkan sebuah keputusan dalam melaksanakan suatu hal/kebijakan. Wewenang di sini juga dapat dialihkan kepada bawahan oleh pimpinan apabila sang pemimpin percaya bahwa bawahan tersebut mampu melaksanakan tugas dan tanggung jawab dengan baik, sehingga bawahan diberi kepercayaan untuk melaksanakan tanpa perlu campur tangan dari sang pemimpin.
pemimpin untuk fnenetapkan sebuah keputusan dalam melaksanakan suatu hal/kebijakan. Wewenang di sini juga dapat dialihkan kepada bawahan oleh pimpinan apabila sang pemimpin percaya bahwa bawahan tersebut mampu melaksanakan tugas dan tanggung jawab dengan baik, sehingga bawahan diberi kepercayaan untuk melaksanakan tanpa perlu campur tangan dari sang pemimpin.
4. Pengikut
: Seorang pemimpin yang memiliki pengaruh, kekuasaaan/power, dan
wewenang tidak dapat dikatakan sebagai pemimpin apabila dia tidak
memiliki pengikut yang berada di belakangnya yang memberi dukungan dan
mengikuti apa yang dikatakan sang pemimpin. Tanpa adanya pengikut maka
pemimpin tidak akan ada. Pemimpin dan pengikut adalah dua hal yang tidak
dapat dipisahkan dan tidak dapat berdiri sendiri.
Pemimpin Sejati
Empat Kriteria Pemimpin Sejati yaitu:
1. Visioner:
Punyai tujuan pasti dan jelas serta tahu kemana akan membawa para
pengikutnya. Tujuan Hidup Anda adalah Poros Hidup Anda. Andy Stanley
dalam bukunya Visioneering, melihat pemimpin yang punya visi dan arah
yang jelas, kemungkinan berhasil/sukses lebih besar daripada mereka yang
hanya menjalankan sebuah kepemimpinan.
2. Sukses Bersama: Membawa sebanyak mungkin pengikutnya untuk sukses bersamanya.
Pemimpin sejati bukanlah mencari sukses atau keuntungan hanya bag) dirinya sendiri,
namun ia tidak kuatir dan takut serta malah terbuka untuk mendorong orang-orang yang dipimpin bersama-sama dirinya meraih kesuksesan bersama.
Pemimpin sejati bukanlah mencari sukses atau keuntungan hanya bag) dirinya sendiri,
namun ia tidak kuatir dan takut serta malah terbuka untuk mendorong orang-orang yang dipimpin bersama-sama dirinya meraih kesuksesan bersama.
3. Mau Terus Menerus Belajar dan Diajar (Teachable and Learn continuous):
Banyak hal yang harus dipela ari oleh seorang pemimpin jika ia mau
terus survive sebagai pemimpin dan dihargai oleh para pengikutnya. Punya
hati yang mau diajar baik oleh pemimpin lain ataupun bawahan dan
belajar dari pengalaman-diri dan orang-orang lain adalah penting bagi
seorang Pemimpin. Memperlengkapi diri dengan buku-buku bermutu dan
bacaan/bahan yang positif juga bergaul akrab dengan para Pemimpin akan
mendorong Skill kepemimpinan akan meningkat.
4. Mempersiapkan
Calon-calon Pemimpin Masa depan: Pemimpin Sejati bukanlah orang yang
hanya menikmati dan melaksanakan kepemimpinannya seorang diri bagi
generasi atau saat dia memimpin saja. Namun, lebih dari itu, dia adalah
seorang yang visioner yang mempersiapkan pemimpin berikutnya untuk
regenerasi di masa depan. Pemimpin yang mempersiapkan pemimpin
berikutnya barulah dapat disebut seorang Pemimpin Sejati. Di bidang
apapun dalam berbagai aspek kehidupan ini, seorang Pemimpin sejati pasti
dikatakan Sukses jika ia mampu menelorkan para pemimpin muda lainnya.
Kriteria Pemimpin Indonesia Masa Depan:
1. Pertama,
seorang pemimpin yang hendak dipilih adalah seorang elite politik yang
memiliki tanggung jawab besar, haruslah memiliki pengetahuan yang luas.
Unsur ini sangat penting di masa kini. Mengapa demikian? Agar dapat
berubah lebih cepat dalam persaingan yang ketat dan cepat dimana
lingkungan yang sangat tidak pasti untuk ke depan, pemimpin harus mampu
berfungsi sebagai katalis dalam problem solving, toleran terhadap
resiko, berfikir dalam gambaran keseluruhan dengan keahlian teknis yang
menonjol, fokus dalam mengembangkan hal-hal yang tidak terukur, memiliki
keterampilan non teknis dan pengetahuan lintas fungsi/antar disiplin
seperti matematika, logika, sejarah, filsafat, sastra dan bahasa asing
serta disiplin ilmu lainnya.
2. Kedua,
pemimpin harus memiliki keterampilan dalam mengorganisasikan informasi
dengan baik dan mengkomunikasikannya dengan jelas, singkat, dan
persuasif, keterampilan untuk menganalisis informasi yang kompleks
sampai membuat keputusan yang tepat berdasarkan pendekatan secara logis.
Biasanya seorang pemimpin akan mencari solusi atau jawaban yang
terbaik, bukan jawaban yang ingin kebanyakan didengar oleh bawahan.
3. Ketiga, seorang pemimpin yang hebat biasanya juga “knowledge worker”
yang seringkali memiliki pengetahuan antardisiplin dan memiliki
pengalaman, serta secara bersamaan menerapkan pengetahuan yang berasal
dari beberapa bidang untuk memecahkan masalah. Mereka seringkali dapat
mengkombinasikan pengetahuan yang berbeda-beda, seperti bisnis dan
teknologi. Keempat, adalah seorang pemimpin masa depan juga harus
mengerti visi organisasi yang spesifik dan berperan untuk bisa melihat
dan merespon kebutuhan masyarakat.
Ciri-ciri pemimpin luar biasa:
1. Integritas
Integritas adalah melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang Anda katakan akan Anda lakukan. Integritas membuat Anda dapat dipercaya. Integritas membuat orang lain mengandalkan Anda. Integritas adalah penepatan janji-janji Anda. Satu hal yang membuat sebagian besar orang enggan mengikuti Anda adalah bila mereka tak sepenuhnya merasa yakin bahwa Anda akan membawa mereka kepada tujuan yang Anda janjikan.
Integritas adalah melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang Anda katakan akan Anda lakukan. Integritas membuat Anda dapat dipercaya. Integritas membuat orang lain mengandalkan Anda. Integritas adalah penepatan janji-janji Anda. Satu hal yang membuat sebagian besar orang enggan mengikuti Anda adalah bila mereka tak sepenuhnya merasa yakin bahwa Anda akan membawa mereka kepada tujuan yang Anda janjikan.
2. Optimisme
Tak ada orang yang mau menjadi pengikut Anda bila Anda memandang suram masa depan. Mereka hanya mau mengikuti seseorang yang bisa melihat masa depan dan memberitahukan pada mereka bahwa di depan sana terbentang tempat yang lebih baik dan mereka dapat mencapai tempat itu.
Tak ada orang yang mau menjadi pengikut Anda bila Anda memandang suram masa depan. Mereka hanya mau mengikuti seseorang yang bisa melihat masa depan dan memberitahukan pada mereka bahwa di depan sana terbentang tempat yang lebih baik dan mereka dapat mencapai tempat itu.
3. Menyukai perubahan
Pemimpin
adalah mereka yang melihat adanya kebutuhan akan perubahan, bahkan
mereka bersedia untuk memicu perubahan itu. Sedangkan pengikut lebih
suka untuk tinggal di tempat mereka sendiri. Pemimpin melihat adanya
kebaikan di balik perubahan dan mengkomunikasikannya dengan para
pengikut mereka. Jika Anda tidak berubah, Anda takkan berkembang.
4. Berani menghadapi resiko
Kebanyakan
orang menghindari resiko. Padahal, kapan pun kita mencoba sesuatu yang
baru, kita harus siap menghadapi resiko. Keberanian untuk mengambil
resiko adalah bagian dari pertumbuhan yang teramat penting. Para
pemimpin menghitung resiko dan keuntungan yang ada di balik resiko.
Mereka mengkomunikasikannya pada pengikut mereka dan melangkah pada hari
esok yang lebih baik.
5. Ulet
Kecenderungan dari pengikut adalah mereka menyerah saat sesuatunya menjadi sulit. Ketika mereka mencoba untuk yang ke dua atau ke tiga kalinya dan gagal, mereka lalu mencanangkan motto, “Jika Anda gagal di langkah pertama, menyerahlah dan lakukan sesuatu yang lain.” Jelas saja mereka melakukan itu, karena mereka bukan pemimpin. Para pemimpin itu tahu apa yang ada di balik tembok batu, dan mereka akan selalu berusaha menggapainya. Lalu mereka mengajak orang lain untuk terus berusaha.
Kecenderungan dari pengikut adalah mereka menyerah saat sesuatunya menjadi sulit. Ketika mereka mencoba untuk yang ke dua atau ke tiga kalinya dan gagal, mereka lalu mencanangkan motto, “Jika Anda gagal di langkah pertama, menyerahlah dan lakukan sesuatu yang lain.” Jelas saja mereka melakukan itu, karena mereka bukan pemimpin. Para pemimpin itu tahu apa yang ada di balik tembok batu, dan mereka akan selalu berusaha menggapainya. Lalu mereka mengajak orang lain untuk terus berusaha.
6. Katalistis
Pemimpin
adalah seseorang yang secara luar biasa mampu menggerakkan orang lain
untuk melangkah. Mereka bisa mengajak orang lain keluar dari zona
kenyamanan dan bergerak menuju tujuan mereka. Mereka mampu membangkitkan
gairah, antusiasme, dan tindakan para pengikut.
7. Berdedikasi dan komit
Para
pengikut menginginkan seseorang yang lebih mencurahkan perhatian dan
komit ketimbang diri mereka sendiri. Pengikut akan mengikuti pemimpin
yang senantiasa bekerja dan berdedikasi karena mereka melihat betapa
pentingnya pencapaian tugas-tugas dan tujuan.
Ada tiga karakter pemimpin yang diharapkan masyarakat:
1. Pertama,
perencana. Masyarakat membutuhkan sosok pemimpin yang memiliki
kapasitas intelektual memadai dan menguasai kondisi makro nasional dari
berbagai aspek, sehingga dapat menjaga visi perubahan yang dicitakan
bersama.
2. Kedua,
Pelayanan. Masyarakat rindu figur pemimpin yang seorang pekerja tekun
dan taat pada proses perencanaan yang sudah disepakati sebagai konsensus
nasional, menguasai detil masalah kunci kebangsaan dan mampu melibatkan
semua elemen yang kompeten dalam tim kerja yang solid.
3. Ketiga,
Pembina. Masyarakat berharap pemimpin menjadi tonggak pemikiran yang
kokoh dan menjadi rujukan semua pihak dalam pemecahan masalah bangsa,
yang setia dengan nilai-nilai dasar bangsa dan menjadi teladan bagi
kehidupan masyarakat secara konprehensif.
Menumbuhkan tipe kepemimpinan baru, dibutuhkan proses belajar yang berkelanjutan dalam berbagai dimensi:
1. Pertama,
dimensi belajar untuk menginternalisasi dan mempraktikan nilai-nilai
baru yang sangat dibutuhkan bagi perubahan kondisi bangsa sehingga
membentuk karakter dan pola perilaku yang positif sebagai penggerak
perubahan.
2. Kedua,
belajar untuk menyaring dan menolak nilai-nilai buruk yang diwarisi
dari sejarah lama maupun yang datang dari dunia kontemporer agar tetap
terjaga karakter yang otentik dan perilaku yang genuine.
3. Ketiga,
belajar untuk menggali dan menemukan serta merevitalisasi nilai-nilai
lama yang masih tetap relevan dengan tantangan masa kini, bahkan menjadi
nilai dasar bagi pengembangan masa depan.
Pemimpin
di masa mendatang bukan hanya pemimpin yang berkarateristik seperti
diinginkan oleh para pengikutnya. Tapi, terdapat harapan-harapan bahwa
Pemimpin di masa depan mampu memenuhi dan memiliki kondisi-kondisi
seperti berikut ini:
- The meaning of direction (memberikan visi, arah, dan tujuan)
Seorang pemimpin yang efektif membawa kedalaman (passion), perspektif, dan arti dalam proses menentukan maksud dan tujuan dari kepemimpinannya. Setiap pemimpin yang efektif adalah menghayati apa yang dilakukannya. Waktu dan upaya yang dicurahkan untuk bekerja menuntut komitmen dan penghayatan. - Trust in and from the Leader (menimbulkan kepercayaan)
Keterbukaan (candor) merupakan komponen penting dari kepercayaan. Saat kita jujur mengenai keterbatasan pengetahuan yang tidak ada seluruh jawabannya, kita memperoleh pemahaman dan penghargaan dari orang lain. Seorang pemimpin yang menciptakan iklim keterbukaan dalam kepemimpinannya adalah pemimpin yang mampu menghilangkan penghalang berupa kecemasan yang menyebabkan masyarakat yang dipimpinnya menyimpan sesuatu yang buruk atas kepemimpinnya. Bila pemimpin membagi informasi mengenai apa yang menjadi kebijakannya, pemimpin tersebut memberlakukan keterbukaan sebagai salah satu tolok ukur dari “performance” kepemimpinannya. - A sense of hope (memberikan harapan dan optimisme)
Harapan merupakan kombinasi dari penentuan pencapaian tujuan dan kemampuan mengartikan apa yang harus dilakukan. Seorang pemimpin yang penuh harapan menggambarkan dirinya dengan pernyataan-pernyataan seperti ini: saya dapat memikirkan cara untuk keluar dari kemacetan, saya dapat mencapai tujuan saya secara energik, pengalaman saya telah menyiapkan saya di masa depan, selalu ada jalan dalam setiap masalah. Pemimpin yang mengharapkan kesuksesan, selalu mengantisipasi hasil yang positif. - Result (memberikan hasil melalui tindakan, risiko, keingintahuan, dan keberanian)
Pemimpin masa depan adalah pemimpin yang berorientasi pada hasil, melihat dirinya sebagai katalis –yang berharap mendapatkan hasil besar, tapi menyadari dapat melakukan sedikit saja jika tanpa usaha dari orang lain. Pemimpin yang seperti ini membawa antusiasme, sumber daya, tolerasi terhadap risiko, disiplin dari seorang “entrepreneur”.
Selain
empat kondisi di atas, terdapat pula beberapa falsafah pemimpin yang
harus dipegang teguh pemimpin masa depan Indonesia. Pertama, pemimpin
harus punya integritas. Bukanya kita selalu selalu mengatakan, paling
enak berhubungan dengan orang yang memiliki integritas. Kedua, pemimpin
harus mengakui akan adanya perbedaan dan keanekaragaman bangsa kita.
Dengan demikian, pemimpin masa depan negeri ini mampu mengelola segala
perbedaan budaya, latar belakang suku dan agama, serta kepentingan
seluruh elemen bangsa ini lalu mengubahnya menjadi peluang dan
kelebihan. Jadi pemimpin masa depan adalah pemimpin ang berpikiran
terbuka (open minded).
Selain
itu, pemimpin masa depan adalah pemimpin yang sadar betul bahwa segala
tindakan dan keputusannya akan berpengaruh terhadap orang lain atau
sekelompok masyarakat. Dan ini juga yang melandasi kepemimpinannya
menjadi begitu empati dengan nasib dan derita rakyatnya. Dalam sejarah
mungkin kepedulian Umar bin Khaththab seperti dongeng yang mustahil bagi
pemimpin masa sekarang. Umar memanggul sendiri sekarung gandum saat ia
mendapati seorang ibu memasak baru untuk mendiamkan anaknya yang lapar.
Jika ada perasaan empati seperti ini sedikit saja saat ini, tentu rakyat
korban Lumpur Lapindo tidak akan mengalami penderitaan yang menahun.
Pemimpin
Indonesia masa depan adalah orang yang membuka kesempatan untuk bagi
siapa pun untuk muncul ke pentas nasional. Ia menghapus kendala budaya
yang ada seperti paternalistik, feodalisme, dan mental abdi dalam dari
setiap individu anak bangsa. Sebagai pemimpin, pemimpin baru Indonesia
masa depan harus menjadi sosok yang berani memberi tantangan dan resiko
kepada kader-kadernya. Sebab, pemimpin yang berhasil adalah pemimpin
yang menjadi sekolah bagi pemimpin generasi selanjutnya.
BAB II
PENUTUP
A. Simpulan
Kepemimpinan
adalah kemampuan seseorang mempengaruhi dan memotivasi orang lain untuk
melakukan sesuatu sesuai tujuan bersama. Kepemimpinan meliputi proses
mempengaruhi dalam menentukan tujuan organisasi, memotivasi perilaku
pengikut untuk mencapai tujuan, mempengaruhi untuk memperbaiki kelompok
dan budayanya.
Ada
penurunan keteladanan kepemimpinan yang terjadi sekarang. Hal ini cukup
beralasan mengingat permasalahan yang terjadi di bangsa ini seperti
korupsi, penggunaan kekuasaan untuk kepentingan tertentu, kasus
kekerasan dan tindak terororisme dan sampai pada etika anggota dewan
yang sangat tidak beralasan menonton video porno saat sidang
berlangsung, hal ini sangguh menampar wajah bangsa.
Pemimpin
Indonesia masa depan adalah harus: Pertama, pemimpin harus punya
integritas. Bukanya kita selalu selalu mengatakan, paling enak
berhubungan dengan orang yang memiliki integritas. Kedua, pemimpin harus
mengakui akan adanya perbedaan dan keanekaragaman bangsa kita. Dengan
demikian, pemimpin masa depan negeri ini mampu mengelola segala
perbedaan budaya, latar belakang suku dan agama, serta kepentingan
seluruh elemen bangsa ini lalu mengubahnya menjadi peluang dan
kelebihan. Jadi pemimpin masa depan adalah pemimpin ang berpikiran
terbuka (open minded).
B. Saran
Sangat
diperlukan sekali jiwa kepemimpinan pada setiap pribadi manusia. Jiwa
kepemimpinan itu perlu selalu dipupuk dan dikembangkan. Paling tidak
untuk memimpin diri sendiri. Jika
saja Indonesia memiliki pemimpin yang sangat tangguh tentu akan menjadi
luar biasa. Karena jatuh bangun kita tergantung pada pemimpin. Pemimpin
memimpin, pengikut mengikuti. Jika pemimpin sudah tidak bisa memimpin
dengan baik, cirinya adalah pengikut tidak mau lagi mengikuti. Oleh
karena itu kualitas kita tergantung kualitas pemimpin kita. Makin kuat
yang memimpin maka makin kuat pula yang dipimpin.
DAFTAR PUSTAKA
Clark, Evelyn. 2007. Bagaimana Para Pemimpin Besar Menggunakan Cerita Untuk Meningkatkan Kesuksesan. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Pamudji, S. 1986. Kepemimpinan Pemerintahan Indonesia. Jakarta: PT. Bina Aksara.
Purwanto, M. Ngalim. 1991. Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Robbins, Stephen P. 2002. Prinsip-prinsip Perilaku Organisasi. Jakarta: Erlangga.
Soekanto, Soerjono. 1982. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Suyanto, M. 2005. Smart In Leadership Belajar dari Kesuksesan Pemimpin Top Dunia. Yogyakarta: Penerbit ANDI Yogyakarta.
--------------. 2006. Revolusi Organisasi dengan memberdayakan Kecerdasan Spiritual. Yogyakarta: Penerbit ANDi Yogyakarta.
Thoha, Miftah. 1983. Kepemimpinan dalam Manajemen. Jakarta: Rajawali Pers.
http://www.kemalstamboel.com/blog-manajemen/masalah-pemimpin-dan-kepemimpinan-baru-indonesia.html diakses pada tanggal 3 Desember 2011.
http://politik.kompasiana.com/2011/05/25/kondisi-kepemimpinan-indonesia-dan-tantangan-ke-depan/ diakses pada tanggal 9 desember 2011.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar