Membangun Kultur
Pada
dasarnya kualitas sebuah lembaga pendidikan bisa dilihat dari sejauh
mana keberhasilannya dalam meningkatkan kualitas mulai dari kultur
organisasi atau institusi. Khusus dalam lembaga pendidikan formal
seperti sekolah kultur yang dibangun adalah nilai-nilai atau norma-norma
yang dianut dari generasi ke generasi.
Peran
kultur di sekolah akan sangat mempengaruhi perubahan sikap maupun
perilaku dari warga sekolah. Kultur sekolah yang positif akan
menciptakan suasana kondusif bagi tercapainya visi dan misi sekolah,
demikian sebaliknya kultur yang negatif akan membuat pencapaian visi dan
misi sekolah mengalami banyak kendala. Kultur sekolah yang baik
misalnya kemauan menghargai hasil karya orang lain, kesungguhan dalam
melaksanakan tugas dan kewajiban, motivasi untuk terus berprestasi,
komitmen serta dedikasi kepada tanggungjawab. Sedangkan kultur yang
negatif misalnya kurang menghargai hasil karya orang lain, kurang
menghargai perbedaan, minimnya komitmen, dan tiadanya motivasi
berprestasi pada warga sekolah.
Berkaitan
dengan peningkatan sumber daya manusia, juga perlu diciptakan kultur
yang baik. Pada semua tenaga pendidik dan tenaga kependidikan harus ada
komunikasi dan kolaborasi yang apik sehingga mendukung sebuah lembaga
untuk terus berinovasi, untuk terus melakukan perubahan yang positif,
atau Tajdid dalam bahasa persyarikatan kita. Tenaga pendidik dan
kependidikan yang memiliki kultur yang baik akan meciptakan suasana
pembelajaran kepada peserta didik yang juga menyenangkan, dilakukan
dengan kesungguhan dan sepenuh hati.
Untuk
siswa perlu ditingkatkan motivasi belajar dan pentingnya kedisiplinan,
kejujuran dan motivasi berprestasi sehingga kompetisi antar siswa akan
tercipta. Contoh kultur negatif yang masih sering dilakukan siswa antara
lain masih kurang diperhatikannya persoalan kedisiplinan, ini terbukti
dari angka keterlambatan yang cukup tinggi.
Budaya
inovasi juga perlu ditingkatkan dalam semua elemen dan warga sekolah.
Misalnya saja guru harus membudayakan untuk terus berinovasi dalam
pembuatan media pembelajaran. Metode pembelajaran yang konvensional
harus diganti dengan metode baru yang kontemporer dan profesional tanpa
meninggalkan penekanan kepada makna dan kearifan lokal.
Setiap
perubahan budaya menuju perbaikan jelas akan menemui tantangan,
terutama oleh mereka yang merasa sudah mapan, status quo yang yang sudah
terlanjur nyaman dengan kemapanan. Kelompok pembaharu umumnya akan
ditentang, memang karena perubahan itu akan terkesan menakutkan bagi
sebagian orang. Dalam manajemen organisasi ini sesuatu yang wajar namun
tetap perlu dikendalikan.
Solusinya,
harus ada kemauan untuk membangun budaya yang kondusif bagi
pembelajaran itu dari semua pihak. Lembaga sekolah harus melakukan
berbagai pendekatan agar terjadi komunikasi yang baik antara sekolah
dengan warga sekolah. Pendekatan yang dilakukan bisa massal maupun
personal. Namun agaknya kecenderungan yang lebih efektif adalah
pendekatan personal. Dalam pendekatan itu sekolah wajib menyadarkan
warga sekolah akan kebutuhan terhadap perubahan itu sendiri, dilakukan
sosialisasi, pelatihan dan sebagainya. Disamping juga peraturan yang
sudah dibuat melalui konsensus itu mesti ditegakkan.
Bagi
guru, agar mudah menerima perubahan maka mesti memperluas wawasan,
sharing perkembangan yang sudah terjadi di luar sana sehingga bisa
berpikir lebih akomodatif terhadap perubahan positif kebudayaan. Dan
yang tidak kalah penting, kepada siswa perlu dilakukan sosialisasi
mengenai tantangan dunia ke depan sehingga mereka termotivasi untuk
menyiapkan diri menghadapi tantangan zaman.
Terhadap
kultur yang dibawa oleh kecanggihan teknologi memang tidak semuanya
baik. Kita perlu menyaring, memilih dan memilah mana yang baik dan mana
yang tidak baik. Tidak semuanya konsekuensi teknologi itu kita biarkan,
diperlukan adaptasi, bukan adopsi. Namun adanya sisi negatif itu bukan
berarti kita harus menutup diri dari teknologi, kalau kita antipati maka
kita pasti semakin tertinggal.
MEMBANGUN MASYARAKAT SEKOLAH
Lembaga
pendidikan yang akan kita bangun, amat tergantung pada banyak faktor,
mulai kondisi SDM-nya seperti kepala sekolah sampai dengan tenaga
pendidik dan tenaga administrasinya sampai dengan peserta didiknya.
Masyarakat sekolah juga amat dipengaruhi oleh sistem manajemen dan
organisasinya, serta fasilitas sekolah yang mendudungnya. Suatu lembaga
pendidikan berasrama milik militer atau kepolisian akan terlihat mulai
dari adanya sistem penjagaan yang ketat. Begitu masuk pintu gerbang
lembaga itu suasana itu sudah mulai terasa. Dua penjaga bersenjata
lengkap berdiri di depan pos jaga yang siap akan menanyakan kepada semua
tamu yang datang. Penjaga itu bisa saja siswa piket atau petugas outsourcing yang ditugasi untuk itu. Itulah budaya kasat mata yang dapat segera kita lihat.
Sekolah
dapat berpengaruh terhadap semua aspek kehidupan di dalam sekolah,
termasuk kepada pendidik dan peserta dididk. Budaya sekolah berpengaruh
terhadap bagaimana pendidik berhubungan dan bekerja sama dengan semua
warga sekolah, dengan sesama pendidik, peserta didik, orangtua peserta
didik, pegawai tata usaha sekolah, dan juga kepada masyarakat.
Nilai-nilai sosial budaya sangat berpengaruh terhadap bagaimana sekolah
menghadapi masalah sekolah, dan sekaligus memecahkan masalahnya,
termasuk masalah hasil belajar peserta didik.
Nilai-nilai
sosial budaya sekolah tentu saja dapat dibangun, diubah sesuai dengan
budaya baru yang tumbuh dalam masyarakat. Ketika masyarakat masih
memiliki paradigma lama dengan menyerahkan sepenuhnya urusan pendidikan
anaknya kepada sekolah, maka lahirlah satu bentuk hubungan sekolah
dengan orangtua siswa dan masyarakat yang sangat birokratis. Orangtua
dan masyarakat berada di bawah perintah kepala sekolah.
- Cara Membangun Masyarakat Sekolah
Banyak
sekali nilai-nilai sosial budaya yang harus dibangun di sekolah.
Sekolah adalah ibarat taman yang subur tempat menanam benih-benih
nilai-nilai sosial budaya tersebut. Ingin menanam benih-benih kejujuran
dalam masyarakat? Tanamlah di sekolah. Demikian seterusnya dengan
benih-benih nilai-nilai sosial budaya lainnya. Contoh nilai-nilai sosial
budaya yang harus ditanam pada masyarakat sekolah sekolah:
Pertama, kebiasaan menggosok gigi. Kebiasaan ini sangat Islami. Nabi Muhammad SAW selalu melakukan “siwak” dalam kehidupan sehari-harinya. Ada nilai religius dan medis yang dapat dipetik dari kebiasaan ini. Ucapan yang baik akan berasal dari mulut yang bersih. Secara medis, gigi dan mulut yang bersih akan berdampak terhadap kesehatan otak kita. Hasilnya sama dengan tinjauan dari sudut pandang religius.
Kedua, etika. Etika atau akhlakul karimah adalah tata aturan untuk bisa hidup bersama dengan orang lain. Kita hidup tidak sendirian, dilahirkan oleh dan dari orang lain yang bernama ibu dan ayah kita, dan kemudian hidup bersama dengan orang lain. Oleh karena itu, kita harus hidup beretika, menghormati diri sendiri dan orang lain.
Ketiga, kejujuran. Semua warga sekolah harus dilatih berbuat jujur, mulai jujur kepada dirinya sendiri, jujur kepada Tuhan, jujur kepada orang lain. Kejujuran itu harus dibangun di sekolah. Bukan sebaliknya. Dari tinjauan inilah barangkali KPK telah membuat program kantin kejujuran di ribuan sekolah di negeri ini. Konon, materi materi matapelajaran matematika modern seharusnya menghasilkan manusia yang jujur di negeri ini. Apalagi dengan materi pelajaran Pendidikan Agama. Tetapi nyatanya tidak demikian. Malah telah menghasilkan banyak koruptor. Materi tentang penjumlahan, pengurangan, dan perkalian ternyata jauh lebih sulit dibandingkan dengan materi tentang pembagian. Hasilnya, membagi kasih sayang, membagi pemerataan, dan membagi kebahagiaan ternyata jarang dilakukan ketimbang mengumpulkan hasil korupsi, mengalikan bunga bank untuk kekayaan pribadi. Oleh karena itu, maka budaya kejujuran harus dapat dibangun di sekolah.
Keempat, kasih sayang. Penulis pernah mengutip pandangan guru besar IKIP Surabaya, yang menyatakan bahwa ada tiga landasan pendidikan yang harus dibangun, yaitu (1) kasih sayang, (2) kepercayaan, dan (3) kewibawaan. Menurut beliau, kasing sayang telah melahirkan kepercayaan. Kepercayaan menghasilkan kepercayaan, dan kepercayaan akan menghasilkan kewibawaan.
Kelima, mencintai belajar. Mana yang lebih penting? Apakah menguasai pelajaran atau mencintai belajar? Learning how to learn, ternyata akan jauh lebih penting ketimbang bersusah payah menghafalkan bahan ajar yang selalu akan terus bertambah itu. Dari sini lahirlah pendapat bahwa belajar konsep jauh lebih penting daripada menghafalkan fakta dan data.
Keenam, bertanggung jawab. Sering kali kita menuntut hak ketimbang tanggung jawab. Mahatma Gandhi mengingatkan bahwa semua hak itu berasal dari kewajiban yang telah dilaksanakan dengan baik. Itulah sebabnya maka kita harus memupuk rasa tanggung jawab ini sejak dini ini di lembaga pendidikan sekolah, bahkan dari keluarga.
Ketujuh, menghormati hukum dan peraturan. Sering kita menghormati hukum dan peraturan karena takut kepada para penegak hukum. Kita mematuhi hukum dan perundang-undangan karena takut terhadap ancaman hukuman. Seharusnya, kita mengormati hukum dan peraturan atas dasar kesadaran bahwa hukup dan peraturan itu adalah kita buat untuk kebaikan hidup kita.
Kedepalapan, menghormati hak orang lain. Kita masih sering membeda-bedakan orang lain karena berbagai kepentingan. Kita tidak menghargai bahwa sebagian dari apa yang kita peroleh adalah hak orang lain. Kita masih lebih sering mementingkan diri sendiri ketimbang memberikan penghargaan kepada orang lain. Penghargaan kepada orang lain tidak boleh melihat perbedaan status sosial, ekonomi, agama, dan budaya.
Kesembilan, mencintai pekerjaan. Ingin berbahagia selamanya, maka bekerjalah dengan senang hati. Ini adalah kata-kata mutiara yang selalu melekat di hati. Pekerjaan adalah bagian penting dari kehidupan ini. Siapa yang tidak bekerja adalah tidak hidup. Oleh karena itu, peserta didik harus diberikan kesadaran tentang pentingnya menghargai pekerjaan.
Kesepuluh, suka menabung. Memang kita sering memperoleh hasil pas-pasan dari hasil pekerjaan kita. Tetapi, yang lebih sering, kita mengikuti pola hidup ”lebih besar tiang daripada pasak”. Tidak mempunyai penghasilan cukup tetapi tetap melakukan pola hidup konsumtif. Penghasilan pas-pasan, tetapi tetap menghabiskan uangnya untuk tujuan yang mubazir, seperti merokok. Kita masih jarang memiliki semangat menabung untuk masa depan.
Kesebelas, suka bekerja keras. Ngobrol dan duduk-duduk santai adalah kebiasaan lama di pedesaan kita. Pagi-pagi masih berkerudung sarung. Padahal, setelah shalat Subuh, kita diharuskan bertebaran di muka bumi untuk bekerja. Untuk ini, suka bekerja harus menjadi bagian dari pendidikan anak-anak kita di sekolah dan di rumah.
Kesepuluh, tepat waktu. Waktu adalah pedang, adalah warisan petuah para sahabat Nabi. Time is money adalah warisan para penjelajah ”rules of the waves” bangsa pemberani orang Inggris. Sebaliknya, jam karet adalah istilah sehari-hari bangsa sendiri yang sampai saat ini kita warisi. Mengapa warisan ini tidak dapat segera kita ganti? Maka tanamlah benih-benih menghargai waktu di ladang sekolah kita. Sudah barang tentu masih banyak lagi nilai-nilai sosial budaya yang harus kita tanam melalui ladang lembaga pendidikan sekolah. Nilai-nilai sosial budaya tersebut harus dapat kita tanam dan terus kita pupuk melalui proses pendidikan dan pembudayaan di rumah, sekolah, dan dalam kehidupan masyarakat kita. Amin.
Kultur
yang ada disekolah sangat berpengaruh terhadap keberhasilan siswa.
Sekolah yang memiliki kulttur sekolah yang baik tentunya lebih ungul
dibanding sekolah- sekolah yang lain. Sekolah yang unggul diantaranya
memilki visi dan misi yang jelas. Akhirnya , kultur sekolah yang baik
dimana hal ini akan menciptakan susasana belajar yang kondusif akan
terwujud jika semua komponen di ligkungan sekolah dan elemen- elemen
lain diluar sekolah yang amsih terkait menyadari, bahwa menjaga dan
ikut memelihara serta menciptakan susasana baik dilingkungan sekolah dan
lingkungan- lingkungan yang terkait merupakan tanggung jawab semua
pihak
DAFTAR PUSTAKA
Koentjaraningrat, 2005. Pengantar Antropologi. 2005. Jakarta: PT Rineka Putra.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar