BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Modernisasi
telah banyak membawa perubahan cara hidup warga desa dan warga kota
khususnya, dan warga negara Indonesia umunya. Kemajuan di bidang
pendidikan, teknologi, sosial-ekonomi, budaya dalam beberapa Pelita
telah meningkatkan tingkat hidup warga desa dan warga kota.
Pengaruh
kota di tengah-tengah atau sekitar pedesaan semakin bayak terasa dan
Nampak semakin jelas. Rakyat Indonesia telah ikut mengubah wajah
pedesaan. Panjang jalan, kelas jalan, kepadatan jalan di daerah pedesaan
telah mengalami peningkatan, juga jenis dan jumlah kendaraan bermotor
telah menjangkau desa-desa. Ini berate bahwa frekuensi lalu-lintas,
perdagangan dan frekuensi kontak sosial uikut meningkat.
Interaksi
yang timbul antara desa dan kota itu telah menimbulkan beberapa gejala
sosial, eknomi, budaya, dan politik di desa, di kota dan disepanjang
jalur hubungan antara desa-kota. Beberapa aspek mengenai kehidupan
keluarga, pendidikan keluarga, pemukiman desa dan kota, lingkungan
pedesaan dan kota, mata pencaharian warga desa dan kota menunuukkan
corak yang berbeda. Berbagai keserasian dan juga berbagai kesenjangan
timbul. Oleh karena itu desa dankota kita masih mencari jalan ke arah
keserasian.
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan desa?
2. Apa yang dimaksud dengan kota?
3. Bagaimana interaksi desa-kota?
4. Bagaimana yang dimaksud dengan teori interaksi?
5. Bagaimana dampak interaksi?
C. Tujuan
1. Mengetahui yang dimaksud dengan desa.
2. Mengetahui yang dimaksud dengan kota.
3. Mengetahui interaksi desa-kota.
4. Mengetahui yang dimaksud dengan teori interaksi.
5. Mengetahui dampak interaksi.
BAB II
PEMBAHASAN
PEMBAHASAN
A. Desa
1. Pengertian Desa
Desa adalah suatu
hasil perpaduan antara kegiatan sekelompok manusia dengan
lingkungannya. Hasil dari perpaduan itu ialah suatu ujud atau kenampakan
di muka bumi yang di timbulkan oleh unsure-unsur fisiografi, social,
ekonomi, politik, dan cultural yang saling berinteraksi antar unsure
tersebut dan juga dalam hubungannya dengan daerah-daerah lain.
2. Fungsi dan Potensi Desa
a. Fungsi desa:
1) Dalam hubungannya dengan kota, maka desa yang merupakan hinterland atau daerah dukung berfungsi sebagai suatu daerah pemberi bahan makanan pokok.
2) Desa
ditinjau dari sudut potensi ekonomi berfungsi sebagai lubung bahan
mentah (raw material) dan tenaga kerja (man power) yang tidak kecil
artinya.
3) Dari
segi kegiatan kerja (occupation) desa dapat merupakan desa agraris,
desa manufaktur, desa industri, desa nelayan dan sebagainya.
b. Potensi Desa
Desa mempunyai potensi fisis dan potensis nonfisis
1) Potensi fisis meliputi antara lain:
· Tanah, dalam arti sumer tambang dan mineral, sumber tanaman yang merupakan sumber mata pencaharian dan penghidupan.
· Air,
dalam arti sumber air, keadaan atau kualitas air dan tata airnya untuk
kepentingan iringasi pertanian dan keperluan sehari-hari.
· Iklim, yang merupakan peranan penting bagi desa agraris
· Ternak, dalam artian fungsi ternak di desa sebagai sumber tenaga sumber bahan makan dan sumber keuangan.
· Manusia, dalam arti tenaga kerjasebagai pengoah tanah dan sebagai produsen.
2) Potensi non fisis meliputi antara lain:
· Masyarakat
desa yang hidup berdasarkan gotong royong dan dapat merupakan suatu
kekuatan berproduksi dan kekuatan membangun atau dasar kerja sama dan
saling pengertian.
· Lembaga-lembaga
social, pendidikandan organisasi-organisasi social desa yang dapat
memberikan bantuan social serta bimbingan dalam arti positif.
· Aparatur atau pamong desa yang kreatif dan berdisiplin sumber kelancaran dan tertibnya pemerintah desa. (Bintarto, 1977:1920)
Potensi
desa tidak sama, karena geografis dan keadaan pendudukannya berbeda,
luas tanah macam tanah dan tingkat kesuburan tanah yang tidak sama.
Sumber air dan tata air yang berlainan menyebabkan cara penyesuaian atau
corak kehidupannya berbeda. Maju mundurnya desa dapat tergantung pada
beberapa factor antara lain dapat di sebutkan di sini:
· Potensi desa yang mencakup potensi sumber daya alam dan potensi penduduk warga desa beserta pamongnya.
· Interaksi antar desa dengan kota, antara desa dengan kota tercakup di dalamnya perkembangan komunikasi dan transportasi.
· Lokasi desa terhadap daerah-daerah di sekitarnya yang lebih maju.
3. Faktor-faktor pembinaan masyarakat desa
Dalam
perencanaan pembangunan, biasanya masalah pembinaan masyarakat ini di
letakkan pada bagian akhir dari suatu penelitian. Masalah pembinaan ini
ikut juga menentukan keberhasilan ataupun kegagalan suatu program
pembangunan masyarakat desa, sehingga kedudukannya tidak kalah penting
dengan penelitiannya. Keberhasilan pembinaan masyarakat di pedesan
tergantungpada beberapa factor, yaitu:
a. Para pembinaan
b. Masyarakat yang di bina
c. Daerah pemukuman penduduk
d. Materi dan obyek pembinaan
e. Cara pembinaan
f. Pembiayaan yang disediakan
Pembianaan
masyarakat desa dapat di anggap sesuatu yang kadang-kadang mudah,
kadang-kadang juga sulit, tergantung ketrampilan para Pembina dan strata
atau tingkat pendidikan masyarakat yang di bina. Hasil dari pembinaan
dapat dilihat pada kehidupan dan penghidupan masyarakat sebelum dan
sesudah mendapat pembinaan dan penyuluhan. Jadi, ada kemungkinan dapat
terjadi, bahwa pembinaan telah berjalan lancar dan sukses, tetapi
setelah melihat kehidupan masyarakat kehidupan masyarakat di kemudian
hari tidak menunjukkan kemajuan, maka keadaan inilah yang menjawab bahwa
pembinaan kurang atau tidak berhasil. Ini jelas bahwa pembinaan
masyarakat tidak hanya member penerangan, tetapi harus dapat memberikan
contoh konkrit secara aktif dan bersinambungan sampai mereka dapat
berdiri sendiri.
B. Kota
1. Pengertian Kota
Menurut
Bintarto: Dari segi geografi, kota data diartikan sebagai suatu system
jaringan kehidupan manusia yang di tandai dengan kepadatan penduduk yang
tinggi dan di warnai dengan strata social-ekonomi yang hiterogen dan
coraknya materialistis, atau dapat pula diartikan sebagai bentang budaya
yang di timbulkan oleh unsure-unsur alami dan nonalami dengan
gejala-gejala pemusatan penduduk yang cukup besar dan corak kehidupan
yang bersifat heterogen dan materialistic di bandingkan dengan daerah
belakannya.
Istilah
kota dan daerah perkotaan di bedakan di sini karena ada dua pengertian
yaitu: kota untuk city dan daerah perkotaan untuk urban. Istilah city di
identikkan dengan kota, sedangkan urban berupa suatu daerah yang
memiliki suasana kehidupan dan peghidupan modern, dapat di sebut daerah
perkotaan. Penggolongan kota dapat didasarkan pada fungsi, struktur mata
pencaharian, tipe masyarakat, jumlah penduduknya, besar kecilnya,
daerah pemukiman dan sebagainya. Jadi penggolongan kota ini dapat
dilihat dari segi ekonomi, segi sosiologi, segi demografi, dan segi
geografis yang abstrak. Seperti halnya tentang pendefinisian kota, dalam
penggolongan kota, dalam penggolongan ini juga terdapat berbagai
kriteria, lebih-lebih mengenai penggolongan yang kuantitatif atau
numeric. Penggolongan atas angka-angka ini di sebut penggolongan numeric
dan penggolongan lainnya di sebut penggolongan nonnumeric. Perbedaan
penggolongan ini di sebabkan antara lain: perbedaan kepadatan, perbedaan
tingkat teknologi dan budayaan. Di Indonesia penggolongan yang sudah di
tentukan oleh Undang-undang No.18 kesemuanya pada umumnya di dasarkan
pada jumlah penduduk.
2. Struktur Kota
Dari
segi geografi studi tentang desa dan kota adalah penting dan menarik,
karena dalam disipin ini di perhatikan mengenai hal lokasi kota,
kedudukan kota, hubungan kota dengan daerah sekitarnya (location, site,
and situation). Sistem zoning dan perubahan-perubahan yang timbul,
perkembangan kota beserta masalah-masalah yang di hadapi. Menurut
Freeman (1958), di katakan bahwa ‘Planing has an inescapable basic’.
Dengan pernyataan ini maka geografi akan banyak membantu di bidang
perencanaan kota. Struktur penduduk kota dapat di lihat dari jenis
kelamin, umur, jenis mata pencaharian, segregasi (pemisahan yang dapat
menimbulkan kompleks atau kelompok). Unsur-unsur geografi tidak hanya
dapat membatasi luas daerah semacam ini tetapi dapat pula menimbulkan
‘natural areas’. Masalah struktur penduduk kots dari segi segregasi
perlu mendapat perhatian demi keserasian dan ketenangan hidup di kota.
3. Ciri-ciri kota
Tanda
pengenal kota dapat di lihat dari ciri fisis dan ciri sosial. Menurut
Bintarto dalam bukunya Pengantar Geografi Kota, maka beberapa ciri fisis
dapat di tunjukkan sebagai berikut:
a. Tempat-tempat untuk pasar dan pertokoan.
b. Tempat-tempat parkir.
c. Tempat-tempat rekreasi dan olah raga.
Sebagai ciri social dapat di kemukakan sebagai berikut:
a. Pelapisan social ekonomi.
b. Individualisme.
c. Toleransi social.
d. Jarak social.
e. Penilaian social.
C. Interaksi Desa-Kota
1. Pengertian Interaksi
Menurut
Roucek dalam Bintarto, interaksi merupakan suatu proses yang sifatnya
timbal-balik dan mempunyai pengaruh terhadap perilaku dari pihak-pihak
yang bersangkutan melalui kontak langsung, melalui berita yang didengar
atau melalui surat kabar.
Interaksi
adalah kontak atau hubungan yang terjadi antara dua wilayah atau lebih
(perkotaan dengan pedesaan) beserta hasil hubungannya. Interaksi antara
desa dan kota terjadi karena berbagai faktor atau unsur yang ada dalam
desa, kota dan diantara desa dan kota. Kemajuan masyarakat desa,
perluasan jaringan jalan desa-kota, integrasi atau pengaruh kota
terhadap desa, kebutuhan timbal balik desa-kota telah memacu interaksi
desa-kota.
Dengan
adanya kemajuan di bidang perhubungan dan lalu lintas antar-daerah,
maka sifat isolasi desa berangsur-angsur berkurang. Desa-desa yang dekat
dengan kota telah banyak mendapat pengaruh kota sehingga persentase
penduduk desa yang bertani berkurang dan beralih dengan pekerjaan
nonagraris. Daerah-daerah pedesaan di perbatasan kota yang dipengaruhi
oleh tata kehidupan kota disebut “rur-ban areas” singkatan dari
“rural-urban areas”.
Dengan
perkembangan di bidang prasarana dan sarana transportasi ada
kemungkinan gejala urbanisasi. Dalam hal ini, perpindahan penduduk desa
ke kota dapat berkurang dan mereka cukup dapat melakukan tugasnya di
kota dengan memanfaatkan angkutan umum dan selanjutnya menjadi penglaju.
Perkembangan ini juga mempengaruhi bidang-bidang lain, seperti
pendidikan dan perdagangan.
Gedung-gedung
sekolah dapat didirikan juga di desa-desa yang letaknya jauh dari kota
dan para pengajarnya dapat datang bertugas dari kota kecamatan dan kota
kabupaten.
Perdagangan
antardesa-kota yang berupa barang-barang hasil kerajinan tangan dan
terutama hasil pertanian dapat terlaksana dengan lancar sehingga para
konsumen di kota masih bisa membeli sayur-mayur dan buah-buahan yang
masih segar. Pasar-pasar kecil juga bermunculan di tempat-tempat
tertentu di tepian kota.
Daerah-daerah
rurban ini makin lama berkembang sebagai desa dagang. Hasil-hasil bumi
dari desa dan hasil industri dari kota diperdagangkan di daerah rurban
ini. Bertambahnya penduduk dan jaringan lalu lintas di daerah ini akan
mempercepat terjadinya suatu kota kecil yang baru.
2. Zone Interaksi
Zone- zone kota- desa yang dapat menimbulkan berbagai wujud interaksi desa- kota:
a. City diidentikkan dengan kota
b. Suburban adalah suatu area yang lokasinya dekat pada pusat kota dengan luas yang mencakup daerah penglaju (subdaerah perkotaan).
c. Suburban
fringe adalah suatu area yang melingkari suburban dan merupakan daerah
peralihan antara kota dan desa (jalur tepi subdaerah perkotaan).
d. Urban
fringe adalah semua daerah batas luar kota yang mempunyai sifat-sifat
mirip kota kecuali inti kota (jalur tepi daerah perkotaan aling luar).
e. Rural-urban
fringe adalah jalur daerah yang terletak antara kota dan desa yang
ditandai dengan penggunaan tanah campuran (jalur batas desa-kota).
Zone
suburban, suburban fringe, urban fringe dan rural urban fringe yaitu
daerah-daerah yang memiliki suasana kehidupan modern yang dapat disebut
daerah perkotaan.
3. Wujud interaksi desa-kota :
a. Pegerakan barang dari desa ke kota atau sebaliknya seperti pemindahan hasi pertanian, produk industri dan barang tambang.
b. Pergerakan gagasan dan informasi terutama dari kota ke desa
c. Pergerakan manusia dalam bentuk rekreasi, urbanisasi, mobilitas penduduk baik yang sifatnya sirkulasi maupun komutasi.
Interaksi
antara desa - kota melahirkan suatu perkembangan baru bagi desa maupun
bagi kota. Hal ini disebabkan oleh adanya perbedaan potensi yang
dimiliki desa maupun kota, dan adanya persamaan kepentingan.
4. Faktor yang memepengaruhi interaksi
Menurut Edward Ulman ada 3 faktor penyebab interaksi antarwilayah, yaitu :
a. Region Complementary (wilayah yang saling melengkapi)
Wilayah
yang memiliki potensi sumber daya yang berbeda-beda baik secara
kualitas maupun kuantitasnya. Perbedaan sumber daya kota dan desa
menyebabkan timbulnya interaksi. Jadi ada kebutuhan saling melengkapi
atau komplementaritas. Ini didorong oleh permintaan dan penawaran.
Perancis berdagang anggur dengan Belanda karena Belanda merupakan
konsumennya. Relasi komplementaritas hanya terjadi jika tawaran
bermanfaat bagi pihak yang minta. Manfaatnya ditentukan oleh banyak hal
seperti : budaya, pengetahuan, teknik, kondisi kehidupan dan sebagainya.
Semakin besar komplementaritas, semakin besar arus komoditas.
Manfaat Interaksi Desa-Kota bagi Perkotaan :
1) Terpenuhinya sumber daya alam sebagai bahan mentah/bahan baku industri.
2) Terpenuhinya kebutuhan pokok yang dihasilkan pedesaan.
3) Terpenuhinya kebutuhan tenaga kerja yang dibutuhkan bagi perkotaan.
4) Tersedianya tempat pemasaran hasil industri.
Manfaat Interaksi Desa-Kota bagi Pedesaan :
1) Terpenuhinya barang-barang yang tidak ada di desa
2) Masuknya pengaruh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dari kota ke pedesaan.
3) Membuka lapangan kerja baru di sektor pertanian.
b. Intervening Opportunity (kesempatan untuk berintervensi)
Adalah
adanya kesempatan untuk timbulnya interaksi antarwilayah dan dapat
memenuhi kebutuhan sumber daya wilayah tersebut. Jadi, semakin besar
intervening opportunity, semakin kecil arus komoditas.
c. Spatial Transfer Ability (kemudahan pemindahan dalam ruang)
Kemudahan
pemindahan dalam ruang baik berupa barang, jasa, manusia maupun
informasi. Proses pemindahan dari kota ke desa atau sebaliknya
dipengaruhi antara lain :
1) Jarak mutlak maupun jarak relatif antarwilayah
2) Biaya transportasi dari satu tempat ke tempat yang lain
3) Kelancaran transportasi antarwilayah
Jadi, semakin mudah transfer abilitas, semakin besar arus komoditas.
D. Teori-teori Interaksi Wilayah
1. Teori interaksi wilayah
Teori ini diperkenalkan oleh W. J. ReilLy menjadi teori interaksi wilayah dengan rumus:
Ket: kekuatan interaksi wilayah di ukur dengan memfokuskan pada perbandingan jumlah penduduk dan jarak antar wilayah.
Namun teori ini dapat berlaku bila memenuhi syarat-syarat seperti:
a. Kondisi sosial, budaya, ekonomi masyarakat sama.
b. Topografinya sama.
c. Kondisi sarana dan prasarana transportasi sama.
2. Teori titik henti (breaking point theory)
Pokok-pokok teorinya adalah:
![]() |
Keterangan:
D=jarak
P=populasi
n=1
|
Fungsinya:
Memperkirakan lokasi garis batas yang memisahkan wilayah-wilayah perdagangan dari dua buah kota yang berbeda ukurannya.
Penempatan lokasi industry atau pelayanan sosial antara dua wilayah.
3. Teori konektivitas
Teori ini menilai kekuatan wilayah berdasarkan nilai Indeks Konektivitas yang dihitung dengan rumus:
Β=Indeks konektivitas
E=jumlah jaringan jalan
V=jumlah kota yang dihubungkan
|
Pokok teorinya:
a. Hubungan untuk wilayah memiliki spatial network system seperti jaringan transportasi
b. Kompleksitas jaringan menjadi indicator kekuatan interaksi.
E. Dampak Interaksi Desa- Kota
Interaksi
antara desa dan kota memiliki unsur timbal balik. Walaupun demikian,
arah atau arus pengaruh itu masih juga tergantung pada kekuatan dominasi
dari salah satu pihak.
Urbanisai, ruralisasi, sirkulasi, ulang-alik adalah berbagai wujud dari hubungan atau interaksi antar-desa kota.
Pengaruh positif dari penetrasi kota ke desa adalah:
1. Pemerintah;
dalam hal ini melewati petugas-petugas pemerintah, lembaga atau
instansi pemerintah, mass media seperti harian, radio, televisi.
2. Mahasiswa; dalam hal ini mahasiswa yang melaksanakan tugas akademis KKN di desa-desa, pelaksanaan survei kecil.
3. Tenaga Badan Usaha Tenaga Sukarela Indonesia (BUTSI) yang telah sejak lama membantu pemerintah desa di bidang pembangunan desa.
4. ABRI
yang dalam progam manunggalnya dengan rakyat pedesaan telah banyak
membantu dan mengajak masyarakat pedesaan bersama-sama membina wilayah
desanya.
5. Migrasi
atau mobilitas yang terjadi antar kota–desa seperti urbanisasi,
sirkulasi, dan nglaju yang membawa juga arus teknologi, kebudayaan, dan
gaya hidup dari kedua belah pihak.
6. Lembaga swasta yang juga nampak ikut aktif dalam membina masyarakat pedesaan.
7. Cakrawala pengetahuan penduduk desa menjadi lebih meningkat.
8. Kemajuan di bidang pendidika desa.
9. Meningkatkan frekuensi hubungan sosial-ekonomi karena perkembangan tramsportasi.
10. Teknologi membantu pengembangan sector pertanian.
11. Kemajuan dalam pelestarian lingkungan karena banyaknya interaksi dengan ahli dari berbagi ilmu.
12. Meningkatnya wiraswasta.
13. Pengetahuan dan kesadaran pentingnya keluarga kecil.
14. Berkembangnya koperasi dan organisasi sosial.
Pengaruh negatif yang dialami daerah pedesaan:
1. Pengaruh fashion trend dari kota menyebabkan orientasi ke pertanian berubah.
2. Pengaruuh televisi memberikan gambaran tentang kejahatan yang meningkatkan kriminalitas.
3. Banyaknya pemuda yang bekerja ke kota menyebabkan desa kekurangan tenaga produktif.
4. Masuknya investor mengubah tata guna lahan desa menjadi pemukiman maupun bangunan lain.
5. Penetrasi kebudayaan kota yang tidak sesuai cenderung mengganggu tata pergaulan atau seni budaya desa.
6. Problem pangan, problem pengangguran, problem lingkungan, dll.
F. Dampak Interaksi terhadap Pembangunan dan Disiplin
1. Geografi Pembangunan
Menurut
Bintarto dalam bukunya berjudul Pengantar Geografi Pembangunan, (1975),
dijelaskan sebagai berikut: Geografi pembangunan adalah suatu studi
yang memperhatikan aspek- aspek geografi yang menunjang sesuatu
pembangunan wiayah. Wiayah yang dimaksudkan disini adalah wilayah
pedesaan dan atau wilayah perkotaan, dapat pula diartikan sebagai daerah
yang dibatasi oleh batas- batas politis atau administratif. Aspek-
aspek geografi meliputi: aspek fisis, aspek manusia atau aspek sosial,
aspek biotis, dan aspek topologis.
Pembangunan
merupakan realisasi dari suatu perencanaan. Perencanaan dapat
diterapkan terhadap daerah- daerah yang kosong dan tehadap daerah-
daerah yang sudah didiami. Sifat pembangunan dapat diartikan dengan
merombak secara bertahap, dengan dengan menjalankan tambal sulam, denan
mencipta sesuatu yang baru. Usaha dalam bidang pembangunan dapat
dijalankan dengan cara membimbing atau guiding, cara persuasi melalui
telinga dan mata(audio visual), dengan cara memberi stimulasi.
Dalam
suatu usaha pembangunan, daerah atau kawasan yang akan dibangun harus
dipandang sebagai suatu sistem. System merupakan satu keseluruhan yang
kompleks atau dapat dianggap sebagai satu himpunan dari bagian- bagian
yang terikat satu sama lain atau sering juga dikatakan sebagai satu
kelompok objek berkaitan, yang membentuk satu ikatan kesatuan.
Dalam
hal ini, desa yang dianggap sebagai suatu sistem terdiri dari beberapa
komponen, yaitu penduduk, lahan dan organisasinya. Bila ada rencana
pembangunan desa, maka kita tidak boleh mengabaikan komponen- komponen
itu. Satu saja diabaikan rencana dapat tidak berhasil baik. Jadi, desa
dapat merupakan suatu ekosistem. Ekosistem merupakan satu kesatuan
dinamis yang mencerminkan keseluruhan factor kompleks yang beroperasi
dalam sistem itu.
Geografi
pembangunan mempunyai dasar kuat apabila ada analisis kualitatif dan
kuantitatif. Dan analisis ini diperlukan untuk dapat mengetahui
problematiknya, proses atau perubahannya, dan sebab musababnya, untuk
kemudian dapat dicari jalan penyelesaian masalahnya.
2. Disiplin Masyarakat
Disiplin
dalam arti sempit dapat diartikan dengan pematuhan secara ketat pada
peraturan, baik tertulis maupun tidak tertulis yang sudah disetujui
bersama. Dalam arti luas dapat dikatakan di sini sebagai kumpulan
berbagai jenis disiplin yang ada, yang secara idiil mendasarkan diri
pada Pancasila dan secara konstitusional pada Undang- Undang Dasar
1945yang ditaati oleh rakyat Indonesia.
Dalam hal disiplin masyarakat dapat ditarik simpulan sebagai berikut:
a. Disiplin merupakan salahsatu sumber daya manusiawi pokok dalam pelaksanaan pembangunan nasional
b. Disiplin
dapat merupakan modal utama untuk keberhasilan sesuatu program
pembangunan, apabila dilaksanakn secara merata oleh segenap lapisan
masyarakat dengan keteraturan yang berkesinambungan
c. Disiplin sangat perlu dibina dan dimasyarakatkan demi kelestarian lingkungan hidup
d. Disiplin dapat meningkatkan wibawa dan kepribadian individu dan bangsa Indonesia
e. Kerukunan,
ketertiban kehidupan dalam masyarakat dapat terwujud, apabila
pelanggaran pelbagai norma kehidupan dapat dihilangkan sama sekali dan
ini berarti bahwa disiplin mempunyai peran yang sangat menentukan
f. Kehidupan
yang serasi dan tertib banyak dipengaruhi oleh disiplin perorangan,
kelompok, keluarga, masyarakat, dan bangsa Indonesia
g. Situasi dan kondisi tertentu pada suatu saat dapat melenyapkan disiplin apabila seseorang tidak kuat iman dan moralnya
h. Disiplin mengandung sifat yang terpuji, karena di dalamnya terkandung unsur- unsur jujur dan terpercaya
i. Kemampuan
dan ketangguhan bangsa untuk mempertahankan kelangsungan hidup menuju
kejayaan bangsa dan negara dijiwai oleh disiplin bangsa
j. Sukses diperoleh kalau kita berkawan dengan disiplin, dan tidak diperoleh apabila dilawan
3. Teknologi dan Lingkungan
Dengan
kemajuan akal dan teknologi serta kebudayaan manusia, diharapkan segala
kesulitan dapat diatasi. Dalam menghadapi masalah kelebihan atau
kekurangan penduduk yang menjadi perhatian ialah unsur manusia, sumber
bahan pangan, teknologi dan keadaan Negara pada waktu itu.
Bahan
makanan, perumahan, matahari dan sumer daya lainnya sangat perlu
dipelihara dan dikembangkan. Manusia memerlukan lingkungan yang dapat
mendukung hidupnya. Oleh karena itu, untuk memperolehnya ada konsep
mengenai ikatan atau hubungan antar penduduk, teknologi dan penggunaan
lahan.
Kerusakan
lingkungan ternyata tidak hanya disebabkan oleh pertambahan penduduk
yang menyolok, melainkan juga karena kurangnya control terhadap kemajuan
dan hasil kemajuan teknologi, kurangnya kesadaran masyarakat dari
pelbagai lapisan social terhadap pemeliharaan langkungan hidupnya baik
di desanya maupun di kotanya.
Seharusnya
mereka yang terbuka untuk inovasi dengan pandangan yang luas ke depan
dan memiliki ilmu pengetahuan yang baru serta dapat bergaul baik dengan
masyarakat sekitar pasti dapat memajukan bangsa dan negaranya. Manusia-
manusia modern seperti itulah kiranya tidak sukar menciptakan lingkungan
yang dikehendaki, yaitu lingkungan bersih dan bermanfaat, baik di desa
maupun di kota.
BAB III
PENUTUP
PENUTUP
A. Kesimpulan
Desa adalah suatu
hasil perpaduan antara kegiatan sekelompok manusia dengan
lingkungannya. Hasil dari perpaduan itu ialah suatu ujud atau kenampakan
di muka bumi yang di timbulkan oleh unsure-unsur fisiografi, social,
ekonomi, politik, dan cultural yang saling berinteraksi antar unsure
tersebut dan juga dalam hubungannya dengan daerah-daerah lain.
Kota dapat diartikan sebagai suatu system jaringan kehidupan manusia
yang di tandai dengan kepadatan penduduk yang tinggi dan di warnai
dengan strata social-ekonomi yang hiterogen dan coraknya materialistis,
atau dapat pula diartikan sebagai bentang budaya yang di timbulkan oleh
unsure-unsur alami dan nonalami dengan gejala-gejala pemusatan penduduk
yang cukup besar dan corak kehidupan yang bersifat heterogen dan
materialistic di bandingkan dengan daerah belakannya.
Interaksi merupakan suatu proses yang sifatnya timbal-balik dan
mempunyai pengaruh terhadap perilaku dari pihak-pihak yang bersangkutan
melalui kontak langsung, melalui berita yang didengar atau melalui surat
kabar.
Faktor yang mempengaruhi interaksi adalah adanya Region Complementary
(wilayah yang saling melengkapi), Intervening Opportunity (kesempatan
untuk berintervensi), dan Spatial Transfer Ability (kemudahan pemindahan
dalam ruang).
Teori interaksi wilayah antara lain: teori interaksi wilayah, teori titik henti (breaking point theory), dan teori konektivitas.
Dampak penetrasi kota terhadap desa sangat beragam, mencakup aspek yang ositif dan negatif bagi perkembangan desa.
DAFTAR PUSTAKA
Bintarto. 1929. Interaksi Desa-Kota dan Permasalahannya. Jakarta: Ghalia Indonesia.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar