BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
William
Fielding Ogburn lahir di Butler, Georgia pada tanggal 29 Juni 1886.
Setelah beliau lulus dari Universitas Penyalur Tekstil, Georgia pada
tahun 1905, beliau menginginkan untuk memasuki pekerjaan professional.
Ogburn kemudian memulai studinya pada bidang sosiologi. Beliau adalah
seorang profesor sosiologi di sebuah Perguruan Tinggi di Portland,
Oregon. Selama 4 tahun beliau berda di sana. Kemudian beliau kembali ke
Universitas Columbia. Pada tahun 1927, Ogburn dipanggil ke Chicago untuk
mengajar pada sebuah Perguruan Tinggi. Beliau menerima gelar akademis
kehormatan LL.D dari almamaternya dan juga dari Universitas Carolina
Utara.
W.F.
Ogburn merupakan ilmuwan pertama yang melakukan penelitian terinci
mengenai proses perubahan yang sebenarnya terjadi. Beliau telah
mengemukakan beberapa teori, suatu yang terkenal mengenai perubahan
dalam masyarakat yaitu Cultural Lag (artinya ketinggalan
kebudayaan) adalah perbedaan antara tarif kemajuan dari berbagai bagian
dalam kebudayaan dari suatu masyarakat. Ogburn berusaha untuk
menunjukkan perbedaan-perbedaan antara teori biologis dengan berbagai
teori evolusi tanpa mengesampingkan konsep evolusi secara menyeluruh.
W.F. Ogburn akhirnya meninggal di Tallahassee, Florida pada tanggal 27
April 1959, (Yuliyantho, 2010).
B. Rumusan Masalah
1. Apa teori perubahan sosial yang disampaikan oleh William F. Ogburn?
2. Apa ajaran pokok teori materialis menurut William F. Ogburn?
C. Tujuan
1. 1. Mengetahui teori perubahan sosial yang disampaikan oleh William F. Ogburn.
2. Mengetahui ajaran pokok teori materialis yang William F. Ogburn.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Menurut
William F. Ogburn, perubahan sosial mencakup unsur-unsur kebudayaan
baik yang bersifat materiil maupun yang immaterial dengan menekankan
pengaruh yang besar dari unsur-unsur kebudayaan yang materiil terhadap
unsur-unsur materiil, (Malihah, 101).
Kebudayaan
materiil adalah sumber utama kemajuan. Aspek kebudayaan non-materiil
harus menyesuaikan diri dengan perkembangan kebudayaan materiil, dan
jurang pemisah antara keduanya akan menjadi masalah sosial. Menurut
Ogburn, teknologi adalah mekanisme yang mendorong perubahan, manusia
selamnaya berupaya memelihara dan meyesuaikan diri dengan alam yang
senantiasa diperbaharui oleh teknologi, (Lauer, 1993: 224).
B. Teori Materialis (Materialist Theory)
Ogburn
memusatkan perhatian pada perkembangan teknologi dan ia menjadi
terkenal karena mengembangkan ide mengenai ketertinggalan budaya dan
penyesuaian tak terelakkan dari faktor-faktor kebudayaan terhadap
teknologi.
“Teori
ketertingalan kebudayaan” ini melibatkan dua variable yang telah
menunjukkan penyeswuaian pada waktu tertentu. Tetapi karena penciptaan
atau penemuan baru, salah satu variabel berubah lebih cepat daripada
varuiabel lain. Dengan kata lain, bila laju perubahan bagian-bagian yang
saling tergantung dari satu kebudayaan tidak sama, maka kita berhadapan
dengan kondisi ketertinggalan kebudayaan, dan penyesuaian selanjutnya
“kurang memuaskan” dengan tujuan yang dicapai mula-mula, (Lauer, 1993:
209).
Ketidakmampuan
menyesuaikan diri yang dikemukakan Ogburn ini berakibat bagi kualitas
hidup manusia. Ia menyatakan ada dua jenis penyesuaian sosial. Pertama,
penyesuaian antara berbagai bagian kebudayaan. Kedua, enyesuaian antara
kebudayaan dan manusia. Masalah penyesuaian manusia terlihat dalam
berbagai jenis ketegangan dan perampasan hak, kejahata, pelacuran, dan
berbagai masalah sosial lain yang merupakan tanda-tanda ketidakmampuan
menyesuaikan diri dalam kehidupan sosial, (Lauer, 1993: 210).
Teori Materialis yang disampaikan oleh William F. Ogburn pada intinya mengemukakan bahwa:
1. Penyebab
dari perubahan adalah adanya ketidakpuasan masyarakat karena kondisi
sosial yang berlaku pada masa yang mempengaruhi pribadi mereka.
2. Meskipun
unsur-unsur sosial satu sama lain terdapat hubungan yang
berkesinambungan, namun dalam perubahan ternyata masih ada sebagian yang
mengalami perubahan tetapi sebagian yang lain masih dalam keadaan
tetap (statis). Hal ini juga disebut dengan istilah cultural lag,
ketertinggalan menjadikan kesenjangan antar unsur-unsur yang berubah
sangat cepat dan yang berubah lambat. Kesenjangan ini akan menyebabkan
kejutan sosial pada masyarakat. Ketertinggalan budaya menggambarkan
bagaimana beberapa unsur kebudayaan tertinggal di belakang perubahan
yang bersumber pada penciptaan, penemuan dan difusi. Teknologi, menurut
Ogburn, berubah terlebih dahulu, sedangkan kebudayaan berubah paling
akhir. Dengan kata lain kita berusaha mengjar teknologi yang terus
menerus berubah dengan mengadaptasi adat dan cara hidup kita untuk
memenuhi kebutuhan teknologi. Teknologi menyebabkan terjadinya perubahan
sosial cepat yang sekarang melanda dunia.
3. Perubahan
teknologi akan lebih cepat dibanding dengan perubahan pada perubahan
budaya, pemikiran, kepercayaan, nilai-nilai, norma-norma yang menjadi
alat untuk mengatur kehidupan manusia. Oleh karena itu, perubahan
seringkali menghasilkan kejutan sosial yang yang apada gilirannya akan
memunculkan pola-pola perilaku baru, meskipun terjadi konflik dengan
nilai-nilai tradisional.
C. Cara Teknologi Mengubah Kebudayaan
William
F. Ogburn mengusulkan suatu pandangan mengenai perubahan sosial yang
didasarkan pada teknologi. Menurutnya teknologi mengubah masyarakat
melalui 5 proses, yaitu:
1. Penciptaan (Invensi)
Ogbun
mendefinisikan penciptaan sebagai suatu kombinasi unsure dan bahan yang
ada untuk membentuk unsure dan bahan yang baru. Kita biasanya hanya
memikirkan penciptaan sebagai suatu yang bersifat meteriil seperti
computer, namun ada juga yang disebut dengan penciptaan sosial, contoh
kapitalisme, birokrasi, korporasi, dll. Sebagaimana telah kita lihat,
penciptaan sosial dapat memberikan konsekuensi besar terhadap hubungan
dengan orang lain, (Henslin, 2006: 223).
2. Penemuan (Discovery)
Obgurn
mengidentifikasikan penemuan sebagai suatu cara baru melihat kenyataan,
sebagai suatu proses perubahan kedua. Kenyataannya sendiri sudah ada,
tetapi orang baru melihatnya tetapi orang baru melihatnya untuk pertama
kali. Salah satu contohnya adalah penemuan Amerika Utara oleh Columbus,
yang membawa konsekuensi besar sehingga mengubah perjalanan sejarah
manusia. Contoh ini mengilustrasikan pula suatu prinsip lain, yaitu
penemuan hanya akan menciptakan perubahan yang besar apabila muncul pada
waktu yang tepat. Kelompok lain, seperti orang Viking, sebelumnya telah
menemukan Amerika dalam arti bahwa mereka mengetahui adanya suatu
daratan lain, namun pemukiman Viking di Amerika Utara lenyap dalam
sejarah dan kebudayaan Norse idak tersentuh oleh penemuan tersebut,
(Henslin, 2006: 223).
3. Difusi (Diffusion)
Ogburn
menekankan bahwa difusi penyebaran suatu penciptaan dan penemuan dari
suatu wilayah ke wilayah lain, dapat berakibat besar pada kehidupan
orang. Contoh: ketika para misionaris memperkenalkan kapak baja kepada
orang Aborigin di Australia, hal tersebut mengguncanmgkan seluruh
masyarakat Aborigin. Sebelumnya, para lelaki memiliki kendali atas
pembuatan kapak, dan mewariskanyya turun temurun dari bapak ke anak.
Perempuan harus meminta izin kepada laki-laki untuk dapat menggunakan
kapak. Ketika kapak baja menjadi lazim, perempuan pun juga memiliknya,
dan para lelaki kehilangan status dan kekuasaan, (dikutip dari Sharp
1995, dalam Henslin, 2006: 223).
Difusi
juga mencakup pula penyebaran ide. Sebagaimana ide kewarganegaraan
mengubah struktur politik di seluruh dunia. Ide tersebut menggusur raja
sebagai sumber otoritas yang tidak dapat digugat. Konsep kesetaraan
gender sekarang sedang dikumandangkan di seluruh dunia. Meskipun konsep
kesetaraan gender dianggap lazim di beberapa bagian dunia, ide bahwa
penolakan hak seseorang atas dasar jenis kelamin adalah suatu tindakan
keliru masih merupakan suatu ide yang revolusioner di beberapa
kebudayaan.
4. Akumulasi
Akumulasi
dihasilkan dari lebih banyaknya unsur baru yang ditambahkan kepada satu
kebudayaan dibanding dengan unsur-unsur lama yang lenyap dari
kebudayaan bersangkutan, (Lauer, 1993: 210).
5. Penyesuaian
Penyesuaian
mengacu pada masalah yang timbul dari saling ketergantungan seluruh
aspek kebudayaan. Sebagai contoh, penemuan di bidang ekonomi tanpa
terelakkan akan mempengaruhi pemerintah menurut cara tertentu,
pemerintah terpaksa menyesuaikan diri terhadap situasi yang dihadapkan
oleh perubahan ekonomi. Atau teknologi baru akan mempunyai dampak
terhadap keluarga, memaksa keluarga menyesuaikan diri dengan perubahan
lingkungan, meskipun penemuan teknologi berkaitan langsung dengan
keluarga, (Lauer, 1993: 210).
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
William
F. Ogburn mengidentifikasikan teknologi sebagai penyebab dasar
perubahan soisal, yang melalui 5 proses yaitu penciptaan, penemuan,
difusi, akumulasi dan penyesuaian.
Istilah
ketertinggalan budaya merujuk pada kebudayaan simbolis yang tertinggal
di belakang perubahan teknologi. Ketertinggalan budaya menggambarkan
bagaimana beberapa unsur kebudayaan tertinggal di belakang perubahan
yang bersumber pada penciptaan, penemuan dan difusi. Kesenjangan ini
akan menyebabkan kejutan sosial pada masyarakat.
Kebudayaan
materiil adalah sumber utama kemajuan. Aspek kebudayaan non-materiil
harus menyesuaikan diri dengan perkembangan kebudayaan materiil, dan
jurang pemisah antara keduanya akan menjadi masalah sosial. Menurut
Ogburn, teknologi adalah mekanisme yang mendorong perubahan.
DAFTAR PUSTAKA
Henslin, James. M. 2006. Sosiologi dengan Pendekatan Mebumi, Edisi 6. Jakarta: Erlangga.
Malihah, Elly. Dinamika Sosial, Pokok Materi Sosiologi FPIPS UNILA, (diakses dari http://file.upi.edu/Direktori/B%20-20FPIPS/M%20K%20D%20U/196604251992032%20-%20ELLY%20MALIHAH/POKOK%20MATERI%20SOSIOLOGI%2C%20ELLY%20M/12.%20DIUNAMIKA%20SOSIAL.pdf, pada 22 September 2010).
Lauer, Robert. H. 1993. Perspektif tentang Perubahan Sosial. Jakarta: PT. Rhineka Cipta.
Yuliyantho. 2010. William Fielding Ogburn, (diakses dari http://blog.unila.ac.id/young/tokoh-sosiologi/william-fielding-ogburn, pada 22 September 2010).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar