Satu
dekade sebelum melakukan kudeta, Hugo Chavez membentuk sebuah gerakan
bersama kelompok perwira militer bernama Simon Bolivar (Bapak
Kemerdekaan Amerika Latin). Kebijakan Presiden Carlos Andres Perez
menaikkan harga bensin dan pengekangan yang mengakibatkan
protes dari massa rakyat sepertinya tepat kalau “alat” itu segera
digunakan. Terlebih, setelah memperhatikan kerusuhan selama tiga hari
(27 Pebruari 1989). Ratusan orang tewas, banyak jenazah tetap tak
teridentifikasi dalam sebuah makam. Seperti
tak bisa ditunda lagi, Letkol Hugo Chavez memimpin sekitar 5.000
tentara untuk melakukan kudeta berdarah pada 4 Februari 1992 meskipun
menuai kegagalan. Revolusi bulan Februari oleh Gerakan Revolusioner
Bolivarian menelan korban jiwa 18 tewas serta 60 orang lainnya cedera.
Chavez kemudian menyerahkan diri. Ia kemudian mendekam di penjara
militer saat para koleganya berupaya kembali merebut kekuasaan sembilan
bulan kemudian Percobaan
kudeta kedua pada bulan September 1992 juga gagal. Hugo Chavez dikurung
dua bulan penjara. Sewaktu di dalam penjara, ia membentuk partai
bernama Gerakan Republik Ke-5 (Movement of the Fifth Republic) dan
melakukan transisi dari militer ke politikus. Setelah para pembangkang
sempat menguasai sebuah stasiun televisi serta sempat menyiarkan rekaman
Chavez yang mengumumkan kejatuhan pemerintah berkuasa, ia dijatuhi
hukuman penjara selama dua tahun. Chavez kemudian mendapatkan
pengampunan. Di luar penjara, ia melansir partainya sebagai Gerakan
Republik Kelima dan menjalani transisi dari dunia tentara ke dunia
politikus.
Chavez
yang memimpin koalisi Patriotic Pole berhaluan kiri secara jelas
menegaskan, mengikuti jejak tokoh legendaris Argentina (Jenderal Juan
Peron) yang dipandang sangat peduli pada kesejahteraan rakyat, keadilan
sosial, dan persamaan hak.
C. Masa Kepemimpinan Hugo Chaves.
Setelah terpilih sebagai presiden tahun 1998, ia berkali-kali mengalami guncangan pemerintahan. Ia diancam dibunuh (2000). Tetapi, ia mendapatkan mandat enam tahun masa jabatan pada tahun tersebut guna melakukan reformasi politik. Keberhasilan Chavez
dalam pemilihan presiden tahun 1998 didasarkan pada kampanye bahwa ia
merupakan salah satu dari rakyat biasa Venezuela dengan melakukan
kontak-kontak langsung dengan rakyatnya. Dalam menegakkan demokrasi partisipatoris di Venezuela ia secara rutin muncul dalam program radio khusus yang disebut Alo Presidente (Hello President) untuk menjawab pertanyaan dari rakyatnya secara langsung lewat telepon interaktif. Ia juga aktif
dalam memberikan pidato dan penerangan atas kebijakan politiknya lewat
Channel, Program TV negara di Venezuela. Bahkan rakyat Venezuela kini
boleh datang ke istana presiden dan walau mereka tidak selalu bertemu
presiden tapi paling tidak ada salah seorang wakil dari presiden yang
menerima mereka. Pokok pemikiran Chavez dipenuhi konsep sebuah negara dengan kedaulatan rakyat sepenuhnya. Rakyatlah
yang memegang hak untuk mengeser para pejabat yang korup dan yang
melanggar hak asasi manusia sehingga otoritas tidak lagi dimiliki penuh
oleh anggota parlemen.
Kekuasaan bukan lagi terpusat di ibukota tapi pada tingkat kecamatan. Hal
ini sejalan dengan dasar dari demokrasi adalah sebuah sistem politik
yang diperintah oleh rakyat bukan otokrasi dan monarki. Chavez juga
membuat infrastruktur-infrastruktur penegak hukum seperti Mahkamah Agung dan Lembaga Ombudsman.
Ia menjamin hak-hak warga negaranya, bahkan untuk mereka yang pernah
melakukan kudeta terhadapnya.Walau begitu ia sangat terbuka terhadap
kritik dan memberikan kebebasan seluas-luasnya terhadap pers. Kudeta yang pernah diterimanya juga tidak terlepas dari peran pers dan media Venezuela yang sebagian besar modalnya dimiliki oleh asing. Kudeta tersebut gagal karena rakyat masih sangat menginginkan Chavez menjadi Presiden mereka.
Di bawah pemerintahan Chavez pendidikan politik terhadap masyarakat kecil sangat intens sehingga masyarakat sadar politik dan mengetahui isi undang-undang Venezuela lewat buku kecil Undang-undang yang dibagikan pemerintah sehingga rakyat tidak mudah dibodohi dan diprovokasi. Kekuatiran dan perdebatan akhir-akhir ini terjadi di beberapa kalangan akademisi dan praktisi mengenai penyebutan demokrasi. Terlepas dari fakta bahwa rakyat Venezuela
merasa bahwa pemerintahan Chavez sangat demokratis dan beberapa ahli
Amerika Latin bahkan menganggap bahwa ini adalah satu bentuk demokrasi partisipatoris
akan tetapi Chavez sendiri cenderung bergerak ke kiri dan
mencita-citakan bentuk pemerintahan sosialis. Ia mulai sering berpidato
tentang Trotsky dan revolusi
Pada 14 November 2001,
Presiden Hugo Chavez mengumumkan serangkaian tindakan yang bertujuan
merangsang pertumbuhan ekonomi termasuk di antaranya mengundangkan
Undang-undang Reformasi kepemilikan tanah yang menetapkan bagaimana
pemerintah bisa mengambil alih lahan-lahan tidur, tanah milik swasta,
serta mengundangkan Undang-undang Hidrokarbon yang menjanjikan royalti
fleksibel bagi perusahaan-perusahaan yang mengiperasikan tambang minyak
milik pemerintah.
Kebijakan
ekonomi yang dinilai kontroversial terutama menyangkut Undang-undang
Reformasi kepemilikan tanah, di antaranya memberi kekuasaan pada
pemerintah untuk mengambil alih perusahaan-perusahaan real estate yang
luas dan tanah-tanah pertanian yang dianggap kurang produktif mengundang
protes jutaan orang di ibukota, Caracas (11 Desember 2001). Selain,
mata uang Bolivar
jatuh terpuruk 25% terhadap dolar AS setelah pemerintah menghapuskan
kontrol terhadap nilai tukar uang yang sudah dipertahankan lima tahun.
Bulan April 2002, sekitar 150.000 orang berunjuk rasa, yang dipelopori oleh Carlos Ortega dan Pedro Carmona,
yang bertujuan untuk mendukung pemogokan dan protes minyak. Sementara
pada waktu yang hampir bersamaan, ribuan pendukung Chavez berada di
sekitar istana, menunjukkan kesetiaan mereka pada presiden yang terpilih
dengan demokratis tersebut.
Secara
sepihak, pihak oposisi yang melancarkan demo pemogokan tersebut
tiba-tiba mengubah rute yang sudah ditentukan, berputar ke arah istana
sehingga kekhawatiran akan terjadinya bentrokan memacu protes dari
walikota Caracas pada Carlos Ortega sebagai orang yang dianggap bertanggung-jawab pada demonstran yang dibawanya.
Bentrokan
pun terjadi di antara dua massa besar tersebut, yang dicoba lerai oleh
pihak keamanan. Namun di tengah bentrokan, suara-suara tembakan
terdengar. Jelas sekali di kemudian hari, dari hasil dokumentasi dan
pengumpulan informasi, diketahui ada penembak gelap yang bersembunyi.
Pada
saat tersebut, nyaris dari 25% penduduk Venezuela memiliki pistol.
Tidak terkecuali dengan mereka yang berada dalam demonstrasi besar
tersebut. Tembakan-tembakan pun diarahkan, baik oleh pendukung Chavez
maupun pihak
oposisi yang tidak tahu apa-apa, ke arah tembakan dari penembak gelap.
Namun dalam tayangan yang ditampilkan oleh televisi swasta yang sebagian
besar dimiliki oleh pihak yang beroposisi pada Chavez, dikesankan
seakan penembakan dilakukan oleh pendukung Chavez dengan brutal pada
pihak demonstran oposisi.
Kejadian
itu menelan korban 10 orang tewas dan 110 lainnya cedera. Presiden
Chavez bukannya melarang aksi-aksi kekerasan tersebut diliput televisi,
bahkan aksi-aksi tersebut dibesar-besarkan oleh pihak media yang anti
dengan Chavez sebagai kesalahan dan tanggung-jawab Chavez. Meskipun pada
kenyataannya mereka menyembunyikan fakta bahwa baik pendukung Chavez
maupun oposisi, pada saat tersebut sama-sama menjadi sasaran penembak
gelap. Pada saat itu, para perwira militer pembangkang mengharapkan
Chavez mengundurkan diri.
Presiden
Hugo Chavez mengundurkan diri di bawah tekanan pemimpin-pemimpin
militer Venezuela pada pagi-pagi di hari Jumat waktu setempat tanggal 12 April 2002. Kudeta dramatis yang dilakukan militer terhadap presiden mengembangkan situasi dilematis. Beberapa jam setelah Chavez mundur, Pedro Carmona diangkat sebagai presiden sementara (interim). Tetapi, Jaksa Agung Venezuela (Isaias Rodriguez)
menyatakan bahwa penunjukan presiden interim Pedro Carmona adalah
inskontitusional dan menandaskan bahwa Presiden Venezuela tetap Hugo
Chavez.
Menurut
Jaksa Agung, pengunduran diri presiden baru resmi setelah diterima
Kongres. Chavez mengundurkan diri di bawah tekanan pemimpin-pemimpin
militer. “Tuan Presiden, dulu saya loyal habis-habisan. Akan tetapi,
kematian banyak orang yang terjadi, tak bisa ditoleransi,” kata Jenderal
Efraim Vazguez Velasco (Panglima Angkatan Bersenjata) dalam pidatonya
di televisi nasional yang dikutip pers Indonesia.
Di
tengah mengalirnya kritik internasional terhadap tindakan kudeta,
militer menunjuk seorang ekonom bernama Pedro Carmona yang merupakan
salah satu pimpinan kamar dagang. Saat pelantikan sebagai presiden
interim, Carmona mengumumkan segera melakukan pemilihan presiden dalam
setahun. Kongres juga dibubarkan karena sebagai pendukung Chavez. Dalam
salah satu dekrit yang diumumkan pemerintahan sementara juga diungkapkan
dibentuknya sebuah Dewan Konsultatif yang terdiri 35 anggota. Mereka
mengemban tugas sebagai badan penasehat presiden republik.
Dekrit
juga menetapkan, presiden interim akan mengkoordinasikan kebijakan
pemerintahan transisi dan keputusan lain yang diperlukan guna menjamin
kebijakan, dengan otoritas pemerintah pusat maupun daerah. Dekrit
tersebut mengundang banyak kritikan. Presiden Meksiko Vicente Fox
secara tegas menyatakan tidak mengakui pemerintahan baru Venezuela
sampai dilaksanakan pemilu baru. Demikian juga dengan pemimpin-pemimpin
Argentina dan Paraguay menyatakan, pemerintahan baru Venezuela tidak
sah.
Sehari
setelah Hugo Chavez digulingkan melalui kudeta militer dan digantikan
Pedro Carmona atas inisiatif sebagian perwira militer, Chavez kembali
dikukuhkan menjadi Presiden Venezuela (14 April 2002). Pedro Carmona
yang hanya menduduki sebagai presiden interim selama sehari dipaksa
mengumumkan pengunduran dirinya setelah Jaksa Agung menyatakan bahwa
kudeta tidak sah.
Berhasilnya
Chavez kembali ke pemerintahan antara lain disebabkan militer terpecah.
Sebagian jenderal memang mendukung Carmona, tetapi sebagian besar
prajurit dan perwira menengah loyal terhadap Chavez. Selain itu, di
kalangan kelompok masyarakat miskin pun Chavez sangat populer sehingga
ketika ia digulingkan ribuan orang melakukan unjuk rasa agar Chavez
dikukuhkan kembali menjadi presiden. Dalam aksi yang diwarnai penjarahan
tersebut, belasan orang tewas.
Hugo
Chavez sempat ditahan di Pulau La Orchila oleh para pejabat senior
militer dan terbang kembali ke Caracas dengan menggunakan helikopter
serta diiringi ribuan pendukungnya. Dengan mengepalkan tangan ke atas, Chavez memasuki Istana Kepresidenan Miraflores
yang berhasil direbut kembali oleh pendukungnya. Sementara, Jaksa Agung
menegaskan bahwa para menteri di bawah pemerintahan interim ditahan dan
sejumlah petinggi militer juga diadili dengan tuduhan pembangkangan
militer, termasuk pimpinan interim mereka yang seorang ekonom bernama
Pedro Carmona.
Referendum 8 Agustus 2004
sebagai upaya menggulingkan Presiden Hugo Chaves oleh oposisi kembali
dilakukan, tetapi masih dimenangkan oleh Hugo Chavez dengan 58 persen
suara. Kemenangan tersebut membuat dirinya berhasil mengatasi salah satu
tantangan terbesar dalam masa pemerintahannya dan menjadikannya sebagai
sebuah mandat yang lebih besar untuk melanjutkan revolusi bagi kaum
miskin.
Pada pemilu legislatif pada Desember 2005, partai pimpinan Chavez berhasil menyapu bersih seluruh kursi parlemen setelah pihak oposisi memboikot pemilu tersebut.
Meski
sedang menjalani proses kemoterapi akibat kanker, Presiden Venezuela
Hugo Chavez berharap masih bisa memimpin negara sosialis tersebut hingga
2025. Keinginan itu menyusul kesehatannya yang mulai membaik dengan
memenangkan pemilu pada tahun depan.
Ia mengharapkan terus memerintah setidaknya hingga 2025 Saat
ini, Chavez masih melakukan upaya penyembuhan dari kanker yang
menyerang tubuhnya. Dia dijadwalkan menjalani babak keempat kemoterapi
setelah operasi kanker pada bulan Juni lalu. Pihak oposisi tidak
merisaukan keinginan Chavez melanjutkan kepemimpinan. Sebab, pengobatan
panjang membuat kalangan oposisi mampu merancang kampanye yang lebih
meyakinkan.
D. Peran Dan Nilai-Nilai Kepemimpinan Hugo Chaves.
Ø Pemimpin Karismatik, Budaya Politik, dan Transisi Demokrasi
Tidak dapat dipungkiri bahwa dalam masa transisi demokrasi dan pembangunan politik diperlukan suatu pemicu untuk membangkitkan kesadaran dan membentuk budaya politik masyarakat. Salah satu pemicu yang paling signifikan adalah penokohan pemimpin nasional atau pengangkatan tokoh-tokoh politik. Sebagaimana diungkapkan oleh Lester G. Seligman dalam artikelnya Pengangkatan Tokoh-tokoh Politik dan Pembangunan Politik bahwa proses pengangkatan tokoh-tokoh politik adalah indicator pembangunan
dan perubahan yang sangat besar artinya sebab ia akan memaparkan
beberapa komponen perubahan dalam segala bentuk dan manifestasinya. Pola
dan sistem pengangkatan tokoh-tokoh politik akan menentukan kesempatan
bagi partisipasi politik dan kesempatan
untuk mendapatkan status. Ia juga akan mempengaruhi segala bentuk
kebijaksanaan umum yang akan dikeluarkan, mempercepat atau memperlambat
pertumbuhan dan perubahan sosial, mempengaruhi distribusi kekuasaan, dan
prestisesosial, serta stabilitas sistem itu sendiri. Di negara-negara berkembang pemimpin karismatik mempunyai peranan yangsangat dominan seperti
di Indonesia (Sukarno), Afrika Selatan (Nelson Mandela), Kuba(Fidel
Castro), dan Venezuela (Hugo Chavez) yang dengan sikap dan perilaku
politiknya mampu
menggalang nasionalisme dan kesadaran politik masyarakatnya. Iklim
demokrasi sangat terkait dengan budaya politik yang diciptakan oleh
pemimpin dan masyarakatnya. Sebagai
manifestasi sikap politik, perilaku politik tidak dapat dipisahkan dari
budaya politik yang oleh Almond dan Verba diartikan sebagai suatu sikap
orientasi yang khas warga negara terhadap sistem politik dari aneka
ragam bagiannya, serta sikap terhadap peranan warga negara dalam sistem
itu. Perilaku para aktor politik inilah yang pada akhirnya akan
mempengaruhi kesadaran politik dan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah .
Ø Berani menentang korupsi
Chavez
saat menjadi tentara merasa terganggu oleh korupsi, dia melihat
kalangan perwira tinggi militer. Sebenarnya, rezim yang berkuasa pada
waktu itu, dipimpin oleh Carlos Andrés Peérez (1922 ), juga terkenal
karena suap. Chavez terorganisir kelompok yang berpikiran seperti
tentara dan diam-diam membentuk sebuah organisasi yang disebut Gerakan
antikorupsi Revolusi Bolivarian.
Ø Melindungi kalangan bawah
Chavez
yang memimpin koalisi Patriotic Pole berhaluan kiri secara jelas
menegaskan, mengikuti jejak tokoh legendaris Argentina (Jenderal Juan
Peron) yang dipandang sangat peduli pada kesejahteraan rakyat, keadilan
sosial, dan persamaan hak 48 Jam yang Dramatis.
Ø Patrioisme
Meski
sedang menjalani proses kemoterapi akibat kanker, Presiden Venezuela
Hugo Chavez berharap masih bisa memimpin negara sosialis tersebut hingga
2025.
Ø Berani membela kebenaran
Pada
tahun 1992, Hugo Chavez telah mengumpulkan berikut signifikan dalam
militer. Pada bulan Februari tahun itu, ia terorganisir dan memimpin
kudeta militer terhadap pemerintah, yang dipimpin oleh Presiden Carlos
Andrés Pérez.
Ø Memiliki pemikiran-pemikiran
Pada 14 November 2001,
Presiden Hugo Chavez mengumumkan serangkaian tindakan yang bertujuan
merangsang pertumbuhan ekonomi termasuk di antaranya mengundangkan
Undang-undang Reformasi kepemilikan tanah.
Ø Dekat dengan rakyat
Presiden
Hugo Chaves menegakkan demokrasi partisipatoris di Venezuela ia secara
rutin muncul dalam program radio khusus yang disebut Alo Presidente (Hello President) untuk menjawab pertanyaan dari rakyatnya secara langsung lewat telepon interaktif. Ia juga aktif
dalam memberikan pidato dan penerangan atas kebijakan politiknya lewat
Channel, Program TV negara di Venezuela. Bahkan rakyat Venezuela kini
boleh datang ke istana presiden dan walau mereka tidak selalu bertemu
presiden tapi paling tidak ada salah seorang wakil dari presiden yang
menerima mereka.
Ø Pandai dan Kritis
Ia juga mulai terlibat dalam kegiatan lokal di luar sekolah militer, bermain baik bisbol dan softball dengan tim de Criollitos Venezuela,
maju bersama mereka ke Kejuaraan Bisbol Nasional Venezuela. Hobi lain
yang dia lakukan saat itu termasuk menulis banyak puisi, cerita dan
potongan teater, lukisan dan meneliti kehidupan dan pemikiran politik abad ke-19 Amerika Selatan revolusioner Simon Bolivar.
Ø Berani mengambil Resiko
Hugo Chavez bergabung dengan militer dan selama
17 tahun Karirnya dengan tentara termasuk menjalankan tugas sebagai
penerjun payung dan sebagai guru di akademi. Di sanalah dia
mengembangkan gaya perkuliahan yang kuat yang ia kenal. Selama kuliah,
Chavez mulai membangun kritik keras terhadap pemerintah Venezuela dan
struktur sosial.
Ø Bertanggung Jawab
Referendum 8 Agustus 2004
sebagai upaya menggulingkan Presiden Hugo Chaves oleh oposisi kembali
dilakukan, tetapi masih dimenangkan oleh Hugo Chavez dengan 58 persen
suara. Kemenangan tersebut membuat dirinya berhasil mengatasi salah satu
tantangan terbesar dalam masa pemerintahannya dan menjadikannya sebagai
sebuah mandat yang lebih besar untuk melanjutkan revolusi bagi kaum
miskin.
Ø Mau belajar
Presiden Hugo Chaves juga menjadi tertarik pada revolusioner Marxis Che Guevara (1928-1967) setelah membaca memoar The Diary Che Guevara, meskipun juga membaca buku-buku oleh berbagai tokoh lain, dari Karl Marx untuk Hannibal dan Napoleon Bonaparte. Pada tahun 1975, Chavez lulus dengan gelar teknik dari Akademi Militer Venezuela dan merupakan salah satu lulusan terbaik.
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Hugo
Chavez Presiden Venezuela ke-53. Chavez, anak dari guru sekolah, lahir
di Sabaneta, Venezuela pada tanggal 28 Juli 1954. Hugo Chavez juga
mendirikan Gerakan Republik Kelima, sebuah organisasi kiri yang
mempromosikan bentuk sendiri sosialisme demokratis, yang ia sebut
"Sosialisme Abad 21."
Chavez ketika muda mempunyai keahlian sebagai pemain baseball. Baseball
adalah olahraga terkemuka di Venezuela. Negara ini memiliki liga utama
dan turnamen nasional seperti di Amerika Serikat. Ada juga beberapa
kompetisi di mana pemain dari Amerika Tengah dan Selatan negara
berpartisipasi. Setelah sekolah tinggi pemain berbakat diberikan
beasiswa untuk Academy of Sciences Militer Venezuela, sebuah perguruan
tinggi bergengsi, di mana ia memperoleh gelar dalam ilmu militer dan
rekayasa. Dari sana Chavez bergabung dengan tentara dan cepat naik
melalui pangkat untuk menjadi kepala unit pasukan payung elit.
Pada pemilu legislatif pada Desember 2005, partai pimpinan Chavez berhasil menyapu bersih seluruh kursi parlemen setelah pihak oposisi memboikot pemilu tersebut.
Ia mengharapkan terus memerintah setidaknya hingga 2025 Saat
ini, Chavez masih melakukan upaya penyembuhan dari kanker yang
menyerang tubuhnya. Dia dijadwalkan menjalani babak keempat kemoterapi
setelah operasi kanker pada bulan Juni lalu. Pihak oposisi tidak
merisaukan keinginan Chavez melanjutkan kepemimpinan. Sebab, pengobatan
panjang membuat kalangan oposisi mampu merancang kampanye yang lebih
meyakinkan.
Nilai-Nilai Kepemimpinan Hugo Chaves, meliputi:
Nilai-Nilai Kepemimpinan Hugo Chaves, meliputi:
Ø Pemimpin Karismatik, Budaya Politik, dan Transisi Demokrasi
Ø Berani menentang korupsi
Ø Melindungi kalangan bawah
Ø Patrioisme
Ø Berani membela kebenaran
Ø Memiliki pemikiran-pemikiran
Ø Dan lain-lain.
DAFTAR PUSTAKA
2011. Biografi Hugo Chavez - Pemimpin Revolusi Bolivar http://www.answers.com/topic/hugo-ch-vez
(http://www.detiknews.com/read/2011/09/14/040129/1721881/1148/cavez-berharap-bisa-pimpin-venezuela-hingga-2025)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar