1. Sebutkan masalah2 kependudukan dan penyelesaiannya
Pertumbuhan
penduduk yang pesat dan tidak merata serta tanpa diimbangi dengan pencapaian
kualitas SDM yang tinggi mengakibatkan muculnya berbagai
permasalahan-permasalahan kependudukan.
a. Kemiskinan
Kemiskinan
merupakan ketidakmampuan seseorang untuk memenuhi kebutuhan materiil dasar
berdasarkan standar tertentu. Adapun standar ini lebih dikenal dengan garis
kemiskinan, yaitu tingkat pengeluaran atas kebutuhan pokok yang meliputi
sandang, pangan, papan secara layak.
Cara
penanggulangan:
1)
Meningkatkan sumber daya ekonomi
yang dimiliki penduduk miskin Misalnya dengan mengoptimalkan pemanfaatan lahan
pertanian yang sempit dengan intensifikasi pertanian, memberikan bekal
keterampilan untuk mengolah barang-barang bekas di sekitarnya, misalnya kaleng
bekas, besi bekas, plastik bekas, membimbing penduduk untuk jeli memerhatikan
dan memanfaatkan peluang usaha di sekitarnya, seperti penduduk yang tinggal di
daerah rawa memanfaatkan enceng gondok untuk bahan kerajinan, penduduk di
daerah gunung memanfaatkan bunga pinus sebagai kerajinan, dan lain-lain.
2)
Memberikan program penyuluhan dan
pembekalanketerampilan Pemerintah hendaknya intensif terjun ke masyarakat untuk
memberikan pengajaran dan pelatihan keterampilan bagi penduduk miskin agar
dapat menghasilkan sesuatu guna menunjang pendapatannya. Pemerintah mencarikan
bapak asuh terutama para pengusaha-pengusaha untuk menggandeng masyarakat dalam
mengembangkan usaha.
3)
Menyediakan pasar-pasar bagi
penjualan produksi penduduk Pasar merupakan fasilitas penting dalam menunjang
pendapatan penduduk. Selain sebagai tempat memasarkan hasil produksi
masyarakat, keberadaan pasar juga bisa memotivasi masyarakat untuk lebih
produktif lagi. Karena masyarakat tidak perlu kawatir lagi akan mengalami
kesulitan memasarkan hasil produksinya.
b. Kesehatan
Kualitas
penduduk yang diuraikan sebelumnya yang berpengaruh terhadap kemiskinan,
ternyata juga berpengaruh pada kesehatan penduduk. Kemiskinan akan berdampak
pada kesehatan. Penduduk miskin cenderung memiliki pola hidup kurang bersih dan
tidak sehat. Kondisi kehidupan yang memprihatinkan mengharuskan penduduk miskin
bekerja keras melebihi standar kerja penduduk yang lebih mampu, sehingga
mengesampingkan aspek kesehatannya. Ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan
dasar secara layak berdampak pada kesehatan mereka. Ketidakmampuan dalam
memenuhi kebutuhan pangan secara sehat dan bergizi berdampak pada rendahnya
gizi. Ketidakmampuan dalam emenuhi kebutuhan perumahan mengharuskan mereka
tinggal di kolong jembatan, bantaran sungai, atau rumah seadanya, sehingga
kebutuhan akan sanitasi air bersih juga tidak terpenuhi. Ketidakmampuan dalam
memenuhi kebutuhan pakaian secara layak berdampak pada kesehatan kulit dan
organ-organ tubuh lainnya.
Cara
penanggulangan:
1)
Mengadakan perbaikan gizi
masyarakat.
2)
Pencegahan dan pemberantasan
penyakit menular.
3)
Penyediaan air bersih dan sanitasi
lingkungan.
4)
Membangun sarana-sarana kesehatan,
seperti puskesmas, rumah sakit, dan lain-lain.
5)
Mengadakan program pengadaan dan
pengawasan obat dan makanan.
6)
Mengadakan penyuluhan tentang
kesehatan gizi dan kebersihan lingkungan.
c. Pengangguran
Rendahnya
tingkat kesehatan penduduk dan tingginya angka kekurangan gizi masyarakat,
secara umum dapat berdampak pada rendahnya daya pikir dan kemampuan kerja
penduduk. Oleh sebab itulah pada sebagian besar negara-negara berkembang dan
negaranegara miskin, kualitas SDM-nya masih rendah, baik dalam pengetahuan
maupun keterampilan. Hal itulah yang menjadi salah satu penyebab tingginya
angka pengangguran. Karena pada umumnya penduduk-penduduk tersebut sulit
tertampung di dunia kerja. Di samping itu, penyebab tingginya angka
pengangguran adalah rendahnya kualitas pendidikan penduduk dan tingginya
kuantitas penduduk. Pertumbuhan penduduk yang tinggi tidak diimbangi dengan
pertumbuhan lapangan kerja, menyebabkan tingkat persaingan tinggi dan tingkat
kesempatan kerja cenderung menurun.
Cara
penanggulangan:
1)
Peningkatan keterampilan kerja
masyarakat. Program ini dapat dilakukan melalui pendidikan keterampilan singkat
maupun berjangka di Balai Latihan Kerja (BLK).
2)
Pembentukan Tenaga Kerja Muda
Mandiri Profesional (TKMMP). Program ini bertujuan mencari anak-anak muda
berpotensi di masing-masing daerah untuk kemudian dibimbing, dibina, dan
dibentuk menjadi seorang yang mandiri dan profesional. Dari program ini
diharapkan akan muncul tenaga-tenaga kerja muda yang mampu membuka usaha-usaha
sendiri sehingga dapat menyerap tenaga kerja.
3)
Pelaksanaan padat karya. Padat karya
adalah usaha yang lebih mengedepankan penggunaan dan penyerapan tenaga kerja
dalam jumlah banyak dibandingkan dengan modalnya.
4)
Penciptaan iklim usaha dan investasi
yang kondusif. Hal ini terkait dengan stabilitas sosial, ekonomi, dan politik.
Jika stabilitas di masing-masing aspek tersebut kondusif, maka akan banyak
orang termotivasi untuk membuka usaha. Bahkan akan memancing investor asing
untuk berinvestasi dan membuka usaha di Indonesia. Dengan demikian akan dapat
menambah lapangan pekerjaan baru.
d. Masalah
tingkat pendidikan
Keadaan
penduduk di negara-negara yang sedang berkembang tingkat pendidikannya relatif
lebih rendah dibandingkan penduduk di negara-negara maju, demikian juga dengan
tingkat pendidikan penduduk Indonesia.Rendahnya tingkat pendidikan penduduk
Indonesia disebabkan oleh:
1)
Tingkat kesadaran masyarakat untuk
bersekolah rendah.
2)
Besarnya anak usia sekolah yang
tidak seimbang dengan penyediaan sarana pendidikan.
3)
Pendapatan perkapita penduduk di
Indonesia rendah.
Cara
penanggulangan:
·
Pencanangan wajib belajar 9 tahun.
·
Mengadakan proyek belajar jarak jauh
seperti SMP Terbuka dan Universitas Terbuka.
·
Meningkatkan sarana dan prasarana
pendidikan (gedung sekolah, perpustakaan, laboratorium, dan lain-lain).
·
Meningkatkan mutu guru melalui
penataran-penataran.
·
Menyempurnakan kurikulum sesuai
perkembangan zaman.
·
Mencanangkan gerakan orang tua asuh.
·
Memberikan beasiswa bagi siswa yang
berprestasi.
e. Masalah
tingkat penghasilan/pendapatan
Tingkat
penghasilan/pendapatan suatu negara biasanya diukur dari pendapatan per kapita,
yaitu jumlah pendapatan rata-rata penduduk dalam suatu negara. Negara-negara
berkembang umumnya mempunyai pendapatan per kapita rendah, hal ini disebabkan
oleh:
1)
Pendidikan masyarakat rendah, tidak
banyak tenaga ahli, dan lain-lain.
2)
Jumlah penduduk banyak.
3)
Besarnya angka ketergantungan.
Cara
penanggulangan:
1)
Menekan laju pertumbuhan penduduk.
2)
Merangsang kemauan berwiraswasta.
3)
Menggiatkan usaha kerajinan rumah
tangga/industrialisasi.
4)
Memperluas kesempatan kerja.
5)
Meningkatkan GNP dengan cara
meningkatkan barang dan jasa.
f. Masalah
kuantitas penduduk
Ketidakseimbangan
kepadatan penduduk ini mengakibatkan ketidakmerataan pembangunan baik phisik
maupun non phisik yang selanjutnya mengakibatkan keinginan untuk pindah semakin
tinggi. Arus perpindahan penduduk biasanya bergerak dari daerah yang agak terkebelakang
pembangunannya ke daerah yang lebih maju, sehingga daerah yang sudah padat
menjadi semakin padat.
Upaya-upaya
Pemecahan Permasalahan Kuantitas Penduduk Indonesia :
Upaya pemerintah mengatasi permasalahan kuantitas
penduduk antara lain, dengan pengendalian
jumlah dan pertumbuhan penduduk serta pemerataan persebaran penduduk.
a. Pengendalian jumlah
danpertumbuhan penduduk : Dilakukan dengan cara menekan angka kelahiran melalui
pembatasan jumlah kelahiran, menunda usia perkawinan muda, dan meningkatkan
pendidikan.
b. Pemerataan Persebaran
Penduduk : Dilakukan dengan cara transmigrasi dan pembangunan industri di
wilayah yang jarang penduduknya. Untuk mencegah migrasi penduduk dari desa
kekota, pemerintah mengupayakan berbagai program berupa pemerataan pembangunan
hingga ke pelosok, perbaikan sarana dan prasarana pedesaan, dan pemberdayaan
ekonomi di pedesaan.
2.
Mengapa
persebaran penduduk Indonesia tidak merata? Sebutkan faktor penyebabny!
Persebaran
atau distribusi penduduk adalah bentuk penyebaran penduduk di suatu wilayah
atau negara, apakah penduduk tersebut tersebar merata atau tidak.
Kepadatan
ppenduduk adalah angka yang menunjukkan jumlah rata-rata ppenduduk pada setiap
Km2 pada suatu wilayah negara.
Kepadatan
penduduk Indonesia antara pulau yang satu dan pulau yang lain tidak seimbang.
Selain itu, kepadatan penduduk antara provinsi yang satu dengan provinsi yang
lain juga tidak seimbang. Hal ini disebabkan karena persebaran penduduk tidak
merata. Sebagian besar penduduk Indonesia terkonsentrasi di pulau Jawa dan
Madura. Padahal, luas wilayah pulau Jawa dan Madura hanya sebagian kecil dari
luas wilayah negara Indonesia. Akibatnya, pulau Jawa dan Madura memiliki
tingkat kepadatan penduduk yang tinggi, sedangkan di daerah-daerah lain tingkat
penduduknya rendah. Provinsi yang paling padat penduduknya adalah Daerah Khusus
Ibu Kota Jakarta. Kepadatan penduduk erat kaitannya dengan kemampuan wilayah
dalam mendukung kehidupan penduduknya. Daya dukung lingkungan dari berbagai
daerah di Indonesia tidak sama. Daya dukung lingkungan pulau Jawa lebih tinggi
dibandingkan dengan pulau-pulau lain, sehingga setiap satuan luas di Pulau Jawa
dapat mendukung kehidupan yang lebih tinggi dibandingkan dengan, misalnya di
Kalimantan, Papua, Sulawesi, dan Sumatra. Kemampuan suatu wilayah dalam
mendukung kehidupan itu ada batasnya. Apabila kemampuan wilayah dalam mendukung
lingkungan terlampau, dapat berakibat pada terjadinya tekanan=tekanan penduduk.
Jadi, meskipun di Jawa daya dukung lingkungannya tinggi, namun juga perlu diingat
batas kemampuan wilayah ter sebut dalam mendukung kehidupan.
Faktor-faktor
yang memppengaruhi penyebaran dan kepadatan penduduk tiap-tiap daerah atau
negara sebagai berikut:
1.
Faktor Fisiografis
2.
Faktor Biologis
3.
Faktor Kebudayaan dan Teknologi
Faktor-faktor yang menyebabkan
tingginya tingkat migrasi ke pulau Jawa, antara lain karena pulau Jawa:
- Sebagai pusat pemerintahan.
- Sebagai pusat pemerintahan.
- Sebagian besar tanahnya merupakan
tanah vulkanis yang subur.
- Merupakan pusat kegiatan ekonomi
dan industri sehingga banyak tersedia lapangan kerja.
- Tersedia berbagai jenjang dan
jenis pendidikan.
- Memiliki sarana komunikasi yang
baik dan lancar.
3.
Alasan mengapa
kualitas penduduk di Indonesia relatif rendah:
a.
Tingkat
pendapatan rendah
Dengan pendapatan perkapita yang masih rendah berakibat
penduduk tidak mampu memenuhi berbagai kebutuhan hidupnya, sehingga sulit
mencapai manusia yang sejahtera. Pendapatan per kapita rendah juga berakibat
kemampuan membeli (daya beli) masyarakat rendah, sehingga hasil-hasil industri
harus disesuaikan jenis dan harganya. Bila industri terlalu mahal tidak akan
terbeli oleh masyarakat. Hal ini akan mengakibatkan industri sulit berkembang
dan mutu hasil industri sulit ditingkatkan. Penduduk yang mempunyai pendapatan
perkapita rendah juga mengakibatkan kemampuan menabung menjadi rendah. Bila
kemampuan menabung rendah, pembentukan modal menjadi lambat, sehingga jalannya
pembangunan menjadi tidak lancar.
b.
Tingkat
Pendidikan Rendah
Pendidikan
merupakan salah satu indikator kualitas penduduk. Semakin tinggi tingkat
pendidikan yang dicapai, maka semakin tinggi pula kualitas sumber daya manusia
yang dimiliki. Secara umum, tingkat pendidikan penduduk Indonesia masih
tergolong relatif rendah. Akan tetapi, tingkat pendidikan masyarakat tersebut
senantiasa diupayakan untuk selalu ditingkatkan dari tahun ke tahun.
Hal-hal yang
memengaruhi rendahnya tingkat pendidikan di negara Indonesia, antara lain
meliputi hal-hal berikut ini.
1) Kurangnya
kesadaran penduduk akan pentingnya pendidikan, sehingga mereka tidak perlu
sekolah terlalu tinggi (khususnya untuk anak perempuan).
2) Rendahnya
penerimaan pendapatan perkapita, sehingga orang tua tidak mampu menyekolahkan
anaknya lebih lanjut atau bahkan tidak disekolahkan sama sekali.
3) Kurang
memadainya sarana dan prasarana pendidikan, khususnya di pedesaan dan
daerah-daerah terpencil.
4) Keterbatasan
anggaran dan kemampuan pemerintah dalam mengusahakan program pendidikan yang
terjangkau masyarakat.
5) Ketidakseimbangan antara jumlah murid dengan sarana
pendidikan yang ada seperti jumlah kelas, guru dan buku-buku pelajaran. Ini
berakibat tidak semua anak usia sekolah tertampung belajar di sekolah.
6) Masih rendahnya kesadaran penduduk terhadap pentingnya
pendidikan, sehingga banyak orang tua yang tidak menyekolahkan anaknya.
c. Tingkat Kesehatan Rendah
Tingkat
kesehatan merupakan salah satu indikator kualitas penduduk suatu negara.
Dalam
hal ini, tingkat kesehatan dapat diindikasikan dari angka kematian bayi, angka
kematian ibu melahirkan, ketercukupan gizi makanan, dan usia harapan hidup.
1)
Angka kematian bayi di Indonesia masih relatif tinggi, meskipun terus menurun
dari tahun ke tahun. Pada tahun 1971, angka kematian bayi mencapai 218 tiap
1.000 kelahiran, akan tetapi pada tahun 1990, angka kematian bayi telah menurun
menjadi 8 tiap 1.000 kelahiran. Menurunnya angka kematian bayi ini didukung
oleh meningkatnya derajat kesehatan dan gizi ibu. Kondisi ini juga berpengaruh
terhadap angka kematian ibu melahirkan yang cenderung menurun dari tahun ke
tahun.
2)
Tingkat ketercukupan gizi masyarakat juga mulai meningkat. Saat ini, pemerintah
melalui Departemen Kesehatan menetapkan standar ketercukupan gizi, yaitu 2.400
kalori/hari/kepala keluarga. Artinya, suatu keluarga dikatakan sejahtera jika
mampu memenuhi angka ketercukupan kalori tersebut.
3)
Angka harapan hidup adalah perkiraan rata-rata umur yang dapat dicapai penduduk
suatu negara. Angka ini di Indonesia cenderung mengalami peningkatan, dari
45,73 tahun pada tahun 1971 menjadi 65,43 tahun pada tahun 2000. Akan tetapi,
angka tersebut masih tergolong relatif rendah, karena negaranegara lain dapat
mencapai 70 bahkan lebih dari 80 tahun.
Faktor-faktor yang dapat
menggambarkan masih rendahnya tingkat kesehatan di Indonesia adalah:
1)
Banyaknya lingkungan yang kurang
sehat.
2)
Penyakit menular sering berjangkit.
3)
Gejala kekurangan gizi sering
dialami penduduk.
4)
Angka kematian bayi tahun 1980
sebesar 108 per 1000 bayi dan tahun 1990 sebesar 71 per 1000 kelahiran bayi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar