WELCOME TO MY BLOG, DON'T FORGET TO LEAVE A COMMENT _ Selamat datang di blog saya, jangan lupa tinggalkan komentar... THANK YOU :)

Senin, 25 November 2013

Nadran, Tradisi Nelayan Pantura Cirebon

Di Cirebon, tiap tahun diselenggarakan acara nadran (pesta laut). Wujud dari rasa syukur warganya atas berkah/hasil laut yang didapat selama setahun. Nah, menjelang tradisi nadran diselenggarakan karnaval yang menampilkan Ratusan replika berbagai bentuk memeriahkan kegiatan tersebut. Replika-replika yang akan diarak tersebut merupakan hasil karya masyarakat dari sejumlah kecamatan seperti Kecamatan Gunung jati, Kapetakan, Mundu, Gegesik, Tengah Tani, Suranenggala dan lainnya.
Setiap tahun sejumlah desa mempersiapkan untuk disertakan dalam karnaval. Arak-arakan ini sebagai pembuka tradisi nadran yang telah berlangsung bertahun-tahun, bahkan sejak zaman leluhur. Pada malam harinya diadakan pertunjukkan kesenian rakyat seperti wayang kulit, wayang golek dan lainnya. Diadakannya acara nadran dan sedekah bumi, acara tersebut sebagai ungkapan rasa syukur masyarakat nelayan dan petani kepada Tuhan yang telah memberikan rejeki lewat hasil tangkapan ikan dan hasil bumi.
Nadran atau pesta laut seperti umumnya dilaksanakan oleh nelayan dengan tujuan untuk keselamatan dan upacara terima kasih kepada Sang Pencipta yang telah memberikan rezeki. Dilaksanakan dihampir sepanjang pantai (tempat berlabuh nelayan) dengan waktu kegiatan bervariasi. Di tengah gencarnya kemajuan teknologi informasi dan pengaruh budaya Barat, nadran sebuah tradisi nelayan di Pantai Utara (Pantura) Cirebon, sampai kini ternyata masih menggeliat. Tradisi Nadran biasa dikenal sebagai pesta atau sedekah laut, sedekah bumi, upacara buang sesaji atau labuh saji.
Dalam prosesi pelaksanaannya, Nadran biasanya diawali dengan pemotongan kepala kerbau dan pemotongan nasi tumpeng. Kepala kerbau selanjutnya dibalut dengan kain putih dan bersama dengan perangkat sesaji lainnya dilarung ke laut lepas. Kepala kerbau pun ditenggelamkan di laut. Namun, nasi tumpeng dan lauk lainnya dibagi-bagikan kepada masyarakat sekitar. Ini biasa disebut dengan bancaan atau berkah.
Penggunaan daging kerbau sebagai persembahan dan bukanya daging sapi, dikarenakan daging kerbau lebih banyak, juga ada kemungkinan sapi merupakan hewan yang dianggap suci dalam agama Hindu, sehingga harus dipelihara dan tidak boleh dibunuh. Selain itu juga sapi dianggap jelmaan dari dewa.
Selain melarung ritual lainnya adalah pembacaan mantra-mantra sambil membakar dupa atau kemenyan yang bertujuan memohon keselamatan kepada para Dewa Laut. Mantra juga berfungsi untuk memanggil arwah para leluhur yang telah ikut menjaga keselamatan mereka dalam mencari rejeki di laut. Kesan magis pada asap dupa dan kemenyan bertujuan untuk ketenangan sekaligus permohonan kehadirat Yang Maha Kuasa, agar permohonan mereka lebih cepat sampai ke hadapan Tuhan serta cepat dikabulkan segala permohonan atau permintaannya.
Dalam rangkaian tradisi Nadran juga di tampilkan hiburan Wayang yang merupakan kesenian dari Hinduisme dan animisme, yang dapat diperankan seperti tokoh Mahabarata dan Ramayana. Pertunjukan lain dari wayang yang sangat kental dengan Hinduisme dan animismenya adalah wayang dengan lakon Wudug Basuh, yang menceritkan tentang pencarian Tirta Amerta (air kehidupan) oleh para Dewa, dengan cara mengaduk air laut menggunakan ekor naga Basuki. Tirta Amerta diperlukan untuk mengurapi para Dewa agar mereka terhindar dari kematian, tapi mereka tidak dapat terhindar dari sakit. Oleh karena itu, masing-masing-masing dewa diberi tempat dikayangan Suralaya. Namun demikian ada kelanjutannya, air laut yang diaduk oleh para dewa tersebut mengakibatkan mahluk laut terganggu, lalu bermuculan ke daratan sambil membawah wabah penyakit wudug, budug (bisul), penyakit-penyakit lainnya. untuk mengatasi wabah ini para Dewa meminta bantuan pada Sanghiyang Baruna untuk menentramkan mahluk laut supaya tidak mengganggu penghuni daratan. Sangyang Baruna melantunkan jampa mantra di baskom air kembang, lalu air kembang yang telah diberi mantra disiramkan pada layar perahu nelayan.
Tradisi-tradisi Nadran setelah kedatangan Islam tidak lagi dimaknai sebagai sebuah persembahan kepada Sanghyang Jagat Batara (Penguasa Alam Semesta), akan tetapi lebih dimaknai sebagai wujud syukur kepada Allah SWT atas karunia yang diberikan-Nya kepada para nelayan, baik itu karunia kesehatan, kekuatan maupun hasil tangkapan ikan yang berlimpah. Mantra-mantra yang dibacakan dalam prosesi Nadran diganti dengan pembacaan do’a-do’a yang dipimpin oleh seorang ulama. Lauk pauk hasil bumi yang diikutsertakan dalam upacara ini dibagi-bagikan kepada penduduk desa dangan simbolisasi pembagian berkah
Pelarungan kepala kerbau ke laut tetap dilakukan, tapi tidak lagi dimaknai sebagai persembahan kepada Dewa Baruna pelarungan ini lebih bersimbol pada membuang kesialan, sekaligus untuk mengingat bahwa laut merupakan sumber kehidupan bagi para nelayan, sehingga perlu dijaga dan dilestarikan. Nuansa keislaman juga nampak dalam pementasan seni wayang dan tari. Wayang yang dipertunjukan adalah wayang Golek Cepak dan wayang kulit Dakwah (sebelumnya wayang dibuat dari gulungan kain yang bergambar lalu diubah menjadi wayang kulit yang berasal dari kulit kerbau atau lembu ) yang merupakan asli Cirebon yang alur ceritanya diambil dari Babad Cirebon, Babad Walisanga dan Babad Ambiya, yang menggambarkan sejarah Islamisasi di tanah Jawa yang dilakukan para Wali, beserta cerita perjuangan Rasullah SAW dan sahabat-sahabatnya dalam menegakkan syariat Islam.
Pagelaran wayang semalam suntuk dalam tradisi Nadran bukan hanya untuk bergadang, akan tetapi masyarakat mendapatkan penyuluhan dan pembekalan rohani. Pagelaran ini diistilahkan dengan tabarukan, yaitu mencari keberkahan atas syukur yang mendalam, dengan membuang kebiasaan-kebiasaan buruk dan menggantinya dengan nilai-nilai positif

Kaitan Tradisi Nadran dengan kajian wilayah Cirebon:
Tradisi Nadran sampai saat ini masih dipertahankan dan dijalani oleh pewarisnya di wilayah Cirebon, acara tersebut setiap tahun selalu diadakan tanpa kecuali, masyarakat Cirebon percaya bahwa dengan diadakannya acara tersebut dapat membawa keselamatan bagi masyarakatnya khususnya masyarakat daerah pesisir pantai. Pernah suatu ketika masyarakat tidak mengadakan acara Nadran tersebut, akibatnya masyarakat banyak yang terkena penyakit dan jatuh korban jiwa serta masyarakat yang bekerja sebagai nelayan tidak pernah mendapatkan hasil tangkapan ikannya, oleh karenanya masyarakat Cirebon sangat percaya bahwa dengan mengadakan upacara Nadran ini dapat membuat masyarakat Cirebon hidup dengan nyaman tanpa adanya gangguan dari mahluk halus.
Sebetulnya tradisi Nadran bukanlah tradisi asli daerah Cirebon karena tradisi ini banyak juga ditemukan dibeberapa daerah lain dengan nama yang berbeda, seperti di Jawa Tengah dikenal dengan tradisi Labuhan, karena ada beberapa kepercayaan bahwa apabila mereka tidak melakukan sedekah ini, mereka berkeyakinan bahwa Dewa Baruna akan murka dan segera mengirim bencana melalui dewa petir, Dewa Halilintar dan Dewa Angin yang mengakibatkan nelayan tidak dapat melaut. Akhirnya tidak dapat mencari ikan sebagai sumber kehidupan utama.
Proses pelaksanaan tradisi Nadran berdasarkan cerita masyarakat setempat dari dulu hingga sekarang adalah sama dan hampir tidak ada perubahan berarti kalaupun ada hanya proses kelengkapan hiburan yang kadang disesuaikan dengan tingkat kemampuan para nelayan atau tengkulak, dan berdasarkan fakta dilapangan disetiap tahunnya hampir hampir seluruh warga masyarakat khusunya yang berdekatan dengan kali Bondet turut memeriahkan tradisi ini dengan mengelar berbagai hiburan tambahan selain hiburan utama, bahkan para pedagang pun tak ketinggalan dari pintu masuk jalan raya sampai ke pusat kegiatan disesaki berbagai macam para pedagang dan hiburan tambahan lainnya seperti permainan modern.
Kalau dicermati secara rinci dari sisi ekonomi, bahwa tradisi Nadran yang dilaksanakan oleh masyarakat Nalayan, sebenarnya sangat menguntungkan bagi masyarakat maupun daerah, hal ini karenakan kegiatan nadran ini sangat menarik para wisatawan baik domestik maupun mancanegara. Bahkan lewat tradisi ini kadang masyarakat  juga diuntungkan dari para wisatawan yang kadang juga turut bertransaksi ekonomi lainnya disamping menikmati hiburan-hiburan yang sedang ditampilkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar