Di Cirebon, tiap tahun diselenggarakan
acara nadran (pesta laut). Wujud dari rasa syukur warganya atas berkah/hasil
laut yang didapat selama setahun. Nah, menjelang tradisi nadran diselenggarakan
karnaval yang menampilkan Ratusan replika berbagai bentuk memeriahkan kegiatan
tersebut. Replika-replika yang akan diarak tersebut merupakan hasil karya
masyarakat dari sejumlah kecamatan seperti Kecamatan Gunung jati, Kapetakan,
Mundu, Gegesik, Tengah Tani, Suranenggala dan lainnya.
Setiap tahun sejumlah desa mempersiapkan
untuk disertakan dalam karnaval. Arak-arakan ini sebagai pembuka tradisi nadran
yang telah berlangsung bertahun-tahun, bahkan sejak zaman leluhur. Pada malam
harinya diadakan pertunjukkan kesenian rakyat seperti wayang kulit, wayang
golek dan lainnya. Diadakannya acara nadran dan sedekah bumi, acara tersebut
sebagai ungkapan rasa syukur masyarakat nelayan dan petani kepada Tuhan yang
telah memberikan rejeki lewat hasil tangkapan ikan dan hasil bumi.
Nadran atau pesta laut seperti umumnya
dilaksanakan oleh nelayan dengan tujuan untuk keselamatan dan upacara terima
kasih kepada Sang Pencipta yang telah memberikan rezeki. Dilaksanakan dihampir
sepanjang pantai (tempat berlabuh nelayan) dengan waktu kegiatan bervariasi. Di tengah gencarnya kemajuan
teknologi informasi dan pengaruh budaya Barat, nadran sebuah tradisi nelayan di
Pantai Utara (Pantura) Cirebon, sampai kini ternyata masih menggeliat. Tradisi Nadran biasa
dikenal sebagai pesta atau sedekah laut, sedekah bumi, upacara buang sesaji
atau labuh saji.
Dalam
prosesi pelaksanaannya, Nadran biasanya
diawali dengan pemotongan kepala kerbau dan pemotongan nasi tumpeng. Kepala
kerbau selanjutnya dibalut dengan kain putih dan bersama dengan perangkat sesaji
lainnya dilarung ke laut lepas. Kepala kerbau pun ditenggelamkan di laut.
Namun, nasi tumpeng dan lauk lainnya dibagi-bagikan kepada masyarakat sekitar.
Ini biasa disebut dengan bancaan atau berkah.
Penggunaan daging kerbau sebagai
persembahan dan bukanya daging sapi, dikarenakan daging kerbau lebih banyak,
juga ada kemungkinan sapi merupakan hewan yang dianggap suci dalam agama Hindu,
sehingga harus dipelihara dan tidak boleh dibunuh. Selain itu juga sapi
dianggap jelmaan dari dewa.
Selain melarung ritual lainnya adalah
pembacaan mantra-mantra sambil membakar dupa atau kemenyan yang bertujuan
memohon keselamatan kepada para Dewa Laut. Mantra juga berfungsi untuk
memanggil arwah para leluhur yang telah ikut menjaga keselamatan mereka dalam
mencari rejeki di laut. Kesan magis pada asap dupa dan kemenyan bertujuan untuk
ketenangan sekaligus permohonan kehadirat Yang Maha Kuasa, agar permohonan
mereka lebih cepat sampai ke hadapan Tuhan serta cepat dikabulkan segala
permohonan atau permintaannya.
Dalam rangkaian tradisi Nadran juga di
tampilkan hiburan Wayang yang merupakan kesenian dari Hinduisme dan animisme,
yang dapat diperankan seperti tokoh Mahabarata dan Ramayana. Pertunjukan lain
dari wayang yang sangat kental dengan Hinduisme dan animismenya adalah wayang
dengan lakon Wudug Basuh, yang menceritkan tentang pencarian Tirta Amerta (air
kehidupan) oleh para Dewa, dengan cara mengaduk air laut menggunakan ekor naga
Basuki. Tirta Amerta diperlukan untuk mengurapi para Dewa agar mereka terhindar
dari kematian, tapi mereka tidak dapat terhindar dari sakit. Oleh karena itu,
masing-masing-masing dewa diberi tempat dikayangan Suralaya. Namun demikian ada
kelanjutannya, air laut yang diaduk oleh para dewa tersebut mengakibatkan
mahluk laut terganggu, lalu bermuculan ke daratan sambil membawah wabah
penyakit wudug, budug (bisul), penyakit-penyakit lainnya. untuk mengatasi wabah
ini para Dewa meminta bantuan pada Sanghiyang Baruna untuk menentramkan mahluk
laut supaya tidak mengganggu penghuni daratan. Sangyang Baruna melantunkan
jampa mantra di baskom air kembang, lalu air kembang yang telah diberi mantra
disiramkan pada layar perahu nelayan.
Tradisi-tradisi Nadran setelah
kedatangan Islam tidak lagi dimaknai sebagai sebuah persembahan kepada
Sanghyang Jagat Batara (Penguasa Alam Semesta), akan tetapi lebih dimaknai
sebagai wujud syukur kepada Allah SWT atas karunia yang diberikan-Nya kepada
para nelayan, baik itu karunia kesehatan, kekuatan maupun hasil tangkapan ikan
yang berlimpah. Mantra-mantra yang dibacakan dalam prosesi Nadran diganti
dengan pembacaan do’a-do’a yang dipimpin oleh seorang ulama. Lauk pauk hasil
bumi yang diikutsertakan dalam upacara ini dibagi-bagikan kepada penduduk desa
dangan simbolisasi pembagian berkah
Pelarungan kepala kerbau ke laut tetap dilakukan,
tapi tidak lagi dimaknai sebagai persembahan kepada Dewa Baruna pelarungan ini
lebih bersimbol pada membuang kesialan, sekaligus untuk mengingat bahwa laut
merupakan sumber kehidupan bagi para nelayan, sehingga perlu dijaga dan
dilestarikan. Nuansa keislaman juga nampak dalam pementasan seni wayang dan
tari. Wayang yang dipertunjukan adalah wayang Golek Cepak dan wayang kulit
Dakwah (sebelumnya wayang dibuat dari gulungan kain yang bergambar lalu diubah
menjadi wayang kulit yang berasal dari kulit kerbau atau lembu ) yang merupakan
asli Cirebon yang alur ceritanya diambil dari Babad Cirebon, Babad Walisanga
dan Babad Ambiya, yang menggambarkan sejarah Islamisasi di tanah Jawa yang
dilakukan para Wali, beserta cerita perjuangan Rasullah SAW dan sahabat-sahabatnya
dalam menegakkan syariat Islam.
Pagelaran wayang semalam suntuk dalam
tradisi Nadran bukan hanya untuk bergadang, akan tetapi masyarakat mendapatkan
penyuluhan dan pembekalan rohani. Pagelaran ini diistilahkan dengan tabarukan,
yaitu mencari keberkahan atas syukur yang mendalam, dengan membuang
kebiasaan-kebiasaan buruk dan menggantinya dengan nilai-nilai positif
Kaitan Tradisi Nadran
dengan kajian wilayah Cirebon:
Tradisi Nadran sampai saat ini masih
dipertahankan dan dijalani oleh pewarisnya di wilayah Cirebon, acara tersebut
setiap tahun selalu diadakan tanpa kecuali, masyarakat Cirebon percaya bahwa
dengan diadakannya acara tersebut dapat membawa keselamatan bagi masyarakatnya
khususnya masyarakat daerah pesisir pantai. Pernah suatu ketika masyarakat
tidak mengadakan acara Nadran tersebut, akibatnya masyarakat banyak yang
terkena penyakit dan jatuh korban jiwa serta masyarakat yang bekerja sebagai
nelayan tidak pernah mendapatkan hasil tangkapan ikannya, oleh karenanya
masyarakat Cirebon sangat percaya bahwa dengan mengadakan upacara Nadran ini
dapat membuat masyarakat Cirebon hidup dengan nyaman tanpa adanya gangguan dari
mahluk halus.
Sebetulnya tradisi Nadran bukanlah
tradisi asli daerah Cirebon karena tradisi ini banyak juga ditemukan dibeberapa
daerah lain dengan nama yang berbeda, seperti di Jawa Tengah dikenal dengan
tradisi Labuhan, karena ada beberapa kepercayaan bahwa apabila mereka tidak
melakukan sedekah ini, mereka berkeyakinan bahwa Dewa Baruna akan murka dan
segera mengirim bencana melalui dewa petir, Dewa Halilintar dan Dewa Angin yang
mengakibatkan nelayan tidak dapat melaut. Akhirnya tidak dapat mencari ikan
sebagai sumber kehidupan utama.
Proses pelaksanaan tradisi Nadran
berdasarkan cerita masyarakat setempat dari dulu hingga sekarang adalah sama
dan hampir tidak ada perubahan berarti kalaupun ada hanya proses kelengkapan
hiburan yang kadang disesuaikan dengan tingkat kemampuan para nelayan atau
tengkulak, dan berdasarkan fakta dilapangan disetiap tahunnya hampir hampir seluruh
warga masyarakat khusunya yang berdekatan dengan kali Bondet turut memeriahkan
tradisi ini dengan mengelar berbagai hiburan tambahan selain hiburan utama,
bahkan para pedagang pun tak ketinggalan dari pintu masuk jalan raya sampai ke
pusat kegiatan disesaki berbagai macam para pedagang dan hiburan tambahan
lainnya seperti permainan modern.
Kalau dicermati secara rinci dari sisi
ekonomi, bahwa tradisi Nadran yang dilaksanakan oleh masyarakat Nalayan,
sebenarnya sangat menguntungkan bagi masyarakat maupun daerah, hal ini
karenakan kegiatan nadran ini sangat menarik para wisatawan baik domestik
maupun mancanegara. Bahkan lewat tradisi ini kadang masyarakat juga diuntungkan dari para wisatawan yang
kadang juga turut bertransaksi ekonomi lainnya disamping menikmati
hiburan-hiburan yang sedang ditampilkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar