BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sejak
zaman perjuangan kemerdekaan dahulu, para pejuang serta perintis
kemerdekaan telah menyadari bahwa pendidikan merupakan faktor yang
sangat vital dalam usaha untuk mencerdaskan kehidupan bangsa serta
membebaskannya dari belenggu penjajahan. Oleh karena itu, mereka
berpendapat bahwa disamping melalui organisasi politik, perjuangan ke
arah kemerdekaan perlu dilakukan melalui jalur pendidikan. Sistem
pendidikan rakyat yang sudah ada perlu dibina dan dikembangkan untuk
menjangkau kepentingan rakyat secara lebih luas. Disamping mengembangkan
lembaga-lembaga pendidikan rakyat tradisional yang pada umumnya
berorientasi keagamaan, maka pada masa itu muncul seorang tokoh muda
Raden Mas Soewardi Soeryaningrat atau yang dikenal dengan nama Ki Hajar
Dewantara. Ia bersama rekan-rekannya mencurahkan perhatian di bidang
pendidikan sebagai bagian dari alat perjuangan meraih kemerdekaan.
Setelah
itu ia pun mendirikan sebuah perguruan yang bercorak nasional,
Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa (Perguruan Nasional Tamansiswa)
pada 3 Juli 1922. Perguruan ini sangat menekankan pendidikan rasa
kebangsaan kepada peserta didik agar mereka mencintai bangsa dan tanah
air dan berjuang untuk memperoleh kemerdekaan.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana biografi Ki Hajar Dewantara?
2. Bagaimana perjuangan Ki Hajar Dewantara?
3. Bagaimana sejarah berdirinya taman siswa dan pekembangannya dari masa colonial hingga saat ini?
4. Nilai-nilai apa saja yang dapat di contoh dalam pribadi Ki Hajar Dewantara?
C. Tujuan
1. Mengetahui biografi singkat Ki Hajar Dewantara
2. Mengetahui Perjuangan Ki Hajar Dewantara
3. Mengetahui sejarah berdirinya taman siswa dan perkembangannya hingga saat ini
4. Mengetahui dan mampu mengeplikasikan nilai-nilai kepemimpinan yang dapat di contoh dalam pribadi Ki Hajar Dewantara
BAB II
PEMBAHASAN
A. Biografi Ki Hajar Dewantara
1. Latar Belakang Keluarga
Ki Hajar Dewantara Lahir di Yogyakarta pada tanggal 2 Mei 1889, sebagai putra dari Pangeran Sasraningrat dan cucu Pakualam ke-2. Waktu lahir beliau nama Raden Mas Suwardi Suryaningrat. Ia berasal dari lingkungan keluarga kraton Yogyakarta. Raden Mas Soewardi Soeryaningrat, saat genap berusia 40 tahun, beliau berganti
nama menjadi Ki Hadjar Dewantara. Semenjak saat itu, ia tidak lagi
menggunakan gelar kebangsawanan di depan namanya. Hal ini dimaksudkan
supaya ia dapat bebas dekat dengan rakyat, baik secara fisik maupun
hatinya.
2. Latar Belakang Pendidikan
Perjalanan
hidupnya benar-benar diwarnai perjuangan dan pengabdian demi
kepentingan bangsanya. Ia menamatkan Sekolah Dasar di ELS (Sekolah Dasar
Belanda) Kemudian sempat melanjut ke STOVIA (Sekolah Dokter Bumi
putera), tapi tidak sampai tamat karena sakit. Kemudian ia bekerja
sebagai wartawan di beberapa surat kabar antara lain Sedyotomo, Midden
Java, De Express, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer dan
Poesara. Pada masanya, ia tergolong penulis handal. Tulisan-tulisannya
sangat komunikatif, tajam dan patriotik sehingga mampu membangkitkan
semangat antikolonial bagi pembacanya.
3. Organisasi
Ki Hajar Dewantatra juga merupakan seseorang yang aktif
dalam organisasi sosial dan politik. Pada tahun 1908, ia aktif di seksi
propaganda Boedi Oetomo untuk mensosialisasikan dan menggugah kesadaran
masyarakat Indonesia pada waktu itu mengenai pentingnya persatuan dan
kesatuan dalam berbangsa dan bernegara. Kemudian, bersama Douwes Dekker
(Dr. Danudirdja Setyabudhi) dan dr. Cipto Mangoenkoesoemo, ia mendirikan
Indische Partij (partai politik pertama yang beraliran nasionalisme
Indonesia) pada tanggal 25 Desember 1912 yang bertujuan mencapai
Indonesia merdeka.
Ia
melancarkan kritik terhadap Pemerintah Belanda yang bermaksud merayakan
seratus tahun bebasnya negeri Belanda dari penjajahan Prancis dengan
menarik uang dari rakyat jajahannya untuk membiayai pesta perayaan
tersebut.
Sehubungan dengan rencana perayaan itu, ia pun mengkritik lewat tulisan berjudul Als Ik Eens Nederlander Was (Seandainya Aku Seorang Belanda) dan Een voor Allen maar Ook Allen voor Een (Satu untuk Semua, tetapi Semua untuk Satu Juga). Tulisan Seandainya Aku Seorang Belanda yang dimuat dalam surat kabar de Expres milik dr. Douwes Dekker.
Cuplikan tulisan Ki Hajar Dewantara:
"Sekiranya
aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta
kemerdekaan di negeri yang kita sendiri telah merampas kemerdekaannya.
Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga
tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana
perayaan itu.”
Akibat
karangannya yang menghina itu, pemerintah kolonial Belanda melalui
Gubernur Jendral Idenburg menjatuhkan hukuman tanpa proses pengadilan,
berupa hukuman internering (hukum buang) yaitu sebuah hukuman
dengan menunjuk sebuah tempat tinggal yang boleh bagi seseorang untuk
bertempat tinggal. Ia pun dihukum buang ke Pulau Bangka.
Namun beliau menghendaki dibuang ke Negeri Belanda karena di sana mereka bisa memperlajari banyak hal dari pada di daerah terpencil. Akhirnya
mereka diijinkan ke Negeri Belanda sejak Agustus 1913 sebagai bagian
dari pelaksanaan hukuman. Kesempatan itu dipergunakan untuk mendalami
masalah pendidikan dan pengajaran, sehingga Raden Mas Soewardi
Soeryaningrat berhasil memperoleh Europeesche Akte. Kemudian ia
kembali ke tanah air di tahun 1918. Di tanah air ia mencurahkan
perhatian di bidang pendidikan sebagai bagian dari alat perjuangan
meraih kemerdekaan.
Ia mendirikan sebuah perguruan yang bercorak nasional, Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa
(Perguruan Nasional Tamansiswa) pada 3 Juli 1922. Perguruan ini sangat
menekankan pendidikan rasa kebangsaan kepada peserta didik agar mereka
mencintai bangsa dan tanah air dan berjuang untuk memperoleh kemerdekaan.
Setelah
zaman kemedekaan, Ki hajar Dewantara pernah menjabat sebagai Menteri
Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan yang pertama. Nama Ki Hadjar
Dewantara bukan saja diabadikan sebagai seorang tokoh dan pahlawan
pendidikan (bapak Pendidikan Nasional) yang tanggal kelahirannya 2 Mei
dijadikan hari Pendidikan Nasional. Ki Hajar Dewantara meninggal dunia
pada tanggal 28 April 1959 di Yogyakarta. Kemudian oleh pihak penerus
perguruan Taman Siswa, didirikan Museum Dewantara Kirti Griya,
Yogyakarta, untuk melestarikan nilai-nilai semangat perjuangan Ki Hadjar
Dewantara.
B. Perjuangan Ki Hajar Dewantara
1. Pemikiran tentang Pendidikan
Dalam
berbagai sumber tulisan tentang pendidikan Ki Hadjar Dewantara,
Pendidikan harus dimulai dari persamaan persepsi pemangku pendidikan
tentang mendidik itu sendiri. Menurut Kihajar Dewantara mendidik dalam arti yang sesungguhnya adalah proses memanusiakan manusia (humanisasi),
yakni pengangkatan manusia ke taraf insani. Di dalam mendidik ada
pembelajaran yang merupakan komunikasi eksistensi manusiawi yang otentik
kepada manusia, untuk dimiliki, dilanjutkan dan disempurnakan. Jadi
sesungguhnya pendidikan adalah usaha bangsa ini membawa manusia
Indonesia keluar dari kebodohan, dengan membuka tabir aktual-transenden
dari sifat alami manusia (humanis).
Menurut
Ki Hajar Dewantara tujuan pendidikan adalah “penguasaan diri” sebab di
sinilah pendidikan memanusiawikan manusia (humanisasi). Penguasaan diri
merupakan langkah yang harus dituju untuk tercapainya pendidikan yang
mamanusiawikan manusia. Ketika setiap peserta didik mampu menguasai
dirinya, mereka akan mampu juga menentukan sikapnya. Dengan demikian
akan tumbuh sikap yang mandiri dan dewasa.
Dalam
konsep pendidikan Ki Hadjar Dewantara ada 2 hal yang harus dibedakan
yaitu sistem “Pengajaran” dan “Pendidikan” yang harus bersinergis satu
sama lain. Pengajaran bersifat memerdekakan manusia dari aspek hidup
lahiriah (kemiskinan dan kebodohan). Sedangkan pendidikan lebih
memerdekakan manusia dari aspek hidup batin (otonomi berpikir dan
mengambil keputusan, martabat, mentalitas demokratik).
Keinginan
yang kuat dari Ki Hajar Dewantara untuk generasi bangsa ini dan
mengingat pentingnya guru yang memiliki kelimpahan mentalitas, moralitas
dan spiritualitas. Beliau sendiri untuk kepentingan mendidik,
meneladani dan pendidikan generasi bangsa ini telah mengubah namanya
dari ningratnya sebagai Raden Mas soewardi Suryaningrat menjadi Ki hajar
dewantara.
Perubahan nama tersebut dapat dimakna bahwa beliau ingin menunjukkan
perubahan sikap ningratnya menjadi pendidik, yaitu dari satria pinandita
ke pinandita satria yaitu dari pahlawan yang berwatak guru spiritual ke
guru spiritual yang berjiwa ksatria, yang mempersiapkan diri dan
peserta didik untuk melindungi bangsa dan Negara ini. Bagi Ki Hajar
Dewantara, para guru hendaknya menjadi pribadi yang bermutu dalam
kepribadian dan spiritualitas, baru kemudian menyediakan diri untuk
menjadi pahlawan dan juga menyiapkan para peserta didik untuk menjadi
pembela nusa dan bangsa. Yang utama sebagai pendidik adalah fungsinya sebagai model keteladanan dan sebagai fasilitator kelas.
Nama
Hajar Dewantara sendiri memiliki makna sebagai guru yang mengajarkan
kebaikan, keluhuran, keutamaan. Pendidik atau Sang Hajar adalah
seseorang yang memiliki kelebihan di bidang keagamaan dan keimanan,
sekaligus masalah-masalah sosial kemasyarakatan.
Menerjemahkan
dari konsep pendidikan Ki Hajar Dewantara tersebut, maka banyak pakar
menyepakati bahwa pendidikan di Indonesia haruslah memiliki 3 Landasan
filosofis, yaitu:
a. Nasionalistik maksudnya adalah budaya nasional, bangsa yang merdeka dan
independen baik secara politis, ekonomis, maupun spiritual.
b. Universal artinya berdasarkan pada hukum alam (natural law), segala
sesuatu merupakan perwujudan dari kehendak Tuhan.
Prinsip
dasarnya adalah kemerdekaan, merdeka dari segala hambatan cinta,
kebahagiaan, keadilan, dan kedamaian tumbuh dalam diri (hati) manusia.
Suasana yang dibutuhkan dalam dunia pendidikan adalah suasana yang
berprinsip pada kekeluargaan, kebaikan hati, empati, cintakasih dan
penghargaan terhadap masing-masing anggotanya. Maka hak setiap individu
hendaknya dihormati; pendidikan hendaknya membantu peserta didik untuk
menjadi merdeka dan independen secara fisik dan mental.
c.
Spiritual yaitu pendidikan hendaknya tidak hanya mengembangkan aspek
intelektual sebab akan memisahkan dari orang kebanyakan; pendidikan
hendaknya memperkaya setiap individu tetapi perbedaan antara
masing-masing pribadi harus tetap dipertimbangkan; pendidikan hendaknya
memperkuat rasa percaya diri, mengembangkan harga diri; setiap orang
harus hidup sederhana dan guru hendaknya rela mengorbankan
kepentingan-kepentingan pribadinya demi kebahagiaan para peserta
didiknya.
Output
pendidikan yang dihasilkan adalah peserta didik yang berkepribadian
merdeka, sehat fisik, sehat mental, cerdas, menjadi anggota masyarakat
yang berguna, dan bertanggungjawab atas kebahagiaan dirinya dan
kesejahteraan orang lain. Dalam pemikiran Ki Hajar Dewantara, metode
yang yang sesuai dengan sistem pendidikan ini adalah sistem among yaitu
metode pengajaran dan pendidikan yang berdasarkan pada asih, asah dan
asuh. Metode ini secara teknik pengajaran meliputi kepala, hati dan
panca indera’ (educate the head, the heart, and the hand).
2. Pengaruh Pemikiran Pendidikan
Mendekati proses pendidikan dalam sebuah pemikiran cerdas untuk mendirikan sekolah Taman Siswa-nya,
jauh sebelum Indonesia mengenal arti kemerdekaan. Konsepsi Taman Siswa
pun coba dituangkan Ki Hajar Dewantara dalam solusi menyikapi
kegelisahan-kegelisahan rakyat terhadap kondisi pendidikan yang terjadi
saat itu, sebagaimana digambarkan dalam asas dan dasar yang diterapkan
Taman Siswa. Orientasi
Asas Dan Dasar Pendidikan Dari Ki Hajar Dewantara diupayakan sebagai
asas perjuangan yang diperlukan pada waktu itu menjelaskan sifat
pendidikan pada umumnya.
Pengaruh
pemikiran pertama dalam pendidikan adalah dasar kemerdekaan bagi
tiap-tiap orang untuk mengatur dirinya sendiri. Bila diterapkan kepada
pelaksanaan pengajaran maka hal itu merupakan upaya di dalam mendidik
murid-murid supaya dapat berperasaan, berpikiran dan bekerja merdeka
demi pencapaian tujuannya dan perlunya kemajuan sejati untuk diperoleh
dalam perkembangan kodrati.
Hak mengatur diri sendiri berdiri (Zelfbeschikkingsrecht) bersama dengan tertib dan damai (orde en vrede) dan bertumbuh menurut kodrat (natuurlijke groei). Ketiga hal ini merupakan dasar alat pendidikan bagi anak-anak yang disebut “among metode”
(sistem-among) yang salah satu seginya ialah mewajibkan guru-guru
sebagai pemimpin yang berdiri di belakang tetapi mempengaruhi dengan
memberi kesempatan anak didik untuk berjalan sendiri. Inilah yang
disebut dengan semboyan “Tut Wuri Handayani”.
Dalam
dunia pendidikan mengharuskan adanya keikhlasan lahir-batin bagi
guru-guru untuk mendekati anak didiknya. Sesungguhnya semua hal tersebut
merupakan pengalaman dan pengetahuan Ki Hajar Dewantara tentang
pendidikan barat yang mengusahakan kebahagian diri, bangsa dan
kemanusiaan.
3. Hasil Karya:
a) Warisan Pertama Ki Hajar Dewantara adalah Taman Siswa yang menjadi representasi institusi pendidikan pribumi pada masa kolonial dan tetap eksis sampai hari ini.
b) Tulisan-tulisan
Ki Hajar Dewantara dalam bidang pendidikan dan kebudayaan.
Tulisan-tulisan itu dikumpulkan dan diterbitkan oleh Majelis Luhur
Persatuan Taman Siswa dalam buku Karya Ki Hadjar Dewantara Bagian I
Pendidikan (1962), terbagi dalam 8 bab: pendidikan nasional, politik
pendidikan, pendidikan kanak-kanak, pendidikan kesenian, pendidikan
keluarga, ilmu jiwa, ilmu adab, dan bahasa. Tulisan tertua dalam buku
ini yakni ’’Pendidikan dan Pengajaran Nasional’’ yang disampaikan
sebagai prasaran dalam Kongres Permufakatan Pergerakan Kebangsaan
Indonesia (PPPKI) pada 31 Agustus 1928. Ki Hadjar Dewantara dalam
tulisan itu mengatakan bahwa kemerdekaan dalam dunia pendidikan memiliki
tiga sifat: berdiri sendiri, tidak tergantung pada orang lain, dapat
mengatur diri sendiri.
c) Tulisan-tulisan
Ki Hadjar Dewantara Bagian II: Kebudayaan (1967), terbagai dalam 5
bab: kebudayaan umum, kebudayaan dan pendidikan/kesenian, kebudayaan
dan kewanitaan, kebudayaan dan masyarakat, hubungan dan penghargaan
kita. Dua
buku itu adalah representasi pemikiran dan pembuktian dalam praktik
pendidikan dan pengajaran dari Ki Hadjar Dewantara. Pendidikan dan
kebudayaan adalah basis kehidupan yang menentukan kualitas manusia dan
bangsa.
4. Karir yang di Capai antara lain
a) Wartawan Sedyotomo, Midden Java, De Express, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer dan Poesara
b) Pendiri Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa (Perguruan Nasional Tamansiswa), 3 Juli 1922
c) Pendiri Indische Partij (partai politik pertama beraliran nasionalisme Indonesia), 25 Desember 1912.
d) Menteri Pengajaran Kabinet Presidensial, 19 Agustus 1945 – 14 November 1945.
e) Organisasi
antara lain: Boedi Oetomo, 1908, Serikat Islam, PNI, Partindo, Taman
Siswa, PKI, Parindra, Muhammadiyah dan Indische Partij (partai politik
pertama beraliran nasionalisme Indonesia).
5. Penghargaan antara lain:
a) Bapak Pendidikan Nasional, hari kelahirannya 2 Mei dijadikan hari Pendidikan Nasional
b) Namanya diabadikan sebagai salah satu nama kapal perang Indonesia (KRI Ki Hajar Dewantara).
c) Potret dirinya diabadikan pada uang kertas pecahan 20 ribu rupiah.
d) Doctor Honoris Causa dari Universitas Gajah Mada pada tahun 1957
e) Pahlawan Pergerakan Nasional (Surat Keputusan Presiden No. 305 Tahun 1959, tanggal 28 November 1959.
C. Taman Siswa
1. Berdirinya Taman Siswa
Tamansiswa berdiri pada 3 juli 1922. Awal pendirian tama siswa di awali dengan ketidak puasan dengan pola pendidikan yang di lakukan oleh pemerintah kolonial, karena jarang sekali Negara kolonial
yang memberikan fasilitas pendidikan yang baik kepada Negara
jajahannya. Karena seperti yang di katakan oleh ahli sosiolog Amerika
“pengajaran akan merupakan dinamit bagi system kasta yang di pertahankan
dengan keras di dalam daerah jajahan”.
Berdirinya
Taman Siswa merupakan tantangan terhadap politik pengajaran kolonial.
Taman Siswa adalah badan perjuangan kebudayaan dan pembangunan
masyarakat yang menggunakan pendidikan dalam arti luas untuk mencapai
cita-citanya. Bagi Taman Siswa, pendidikan bukanlah tujuan tetapi media
untuk mencapai tujuan perjuangan, yaitu mewujudkan manusia Indonesia
yang merdeka lahir dan batinnya. Merdeka lahiriah artinya tidak dijajah
secara fisik, ekonomi, politik, dsb, sedangkan merdeka secara batiniah
adalah mampu mengendalikan keadaan.
Dengan proses berdirinya Taman Siswa Ki Hajar Dewantara telah mengesampingkan pendapat revolusioner pada masa itu, tapi dengan seperti itu secara langsung usaha Ki Hajar merupakan lawan dari politik pengajaran kolonial. Lain dari pada itu kebangkitan bangsa-bangsa yang di jajah dan perlawanan terhadap kekuasaan kolonial umumnya disebut dengan istilah nasionalisme atau paham kebangsaan menuju kemerdekaan. Taman Siswa mencita-citakan terciptanya pendidikan nasional, yaitu pendidikan yang beralas kebudayaan sendiri. Dalam pelaksanaanya pendidikan Taman Siswa akan mengikuti garis kebudayaan nasional dan berusaha mendidik angkatan muda di dalam jiwa kebangsaan.
Dengan proses berdirinya Taman Siswa Ki Hajar Dewantara telah mengesampingkan pendapat revolusioner pada masa itu, tapi dengan seperti itu secara langsung usaha Ki Hajar merupakan lawan dari politik pengajaran kolonial. Lain dari pada itu kebangkitan bangsa-bangsa yang di jajah dan perlawanan terhadap kekuasaan kolonial umumnya disebut dengan istilah nasionalisme atau paham kebangsaan menuju kemerdekaan. Taman Siswa mencita-citakan terciptanya pendidikan nasional, yaitu pendidikan yang beralas kebudayaan sendiri. Dalam pelaksanaanya pendidikan Taman Siswa akan mengikuti garis kebudayaan nasional dan berusaha mendidik angkatan muda di dalam jiwa kebangsaan.
Pendidikan
Taman Siswa dilaksanakan berdasar Sistem Among, yaitu suatu sistem
pendidikan yang berjiwa kekeluargaan dan bersendikan kodrat alam dan
kemerdekaan. Dalam sistem ini setiap pendidik harus meluangkan waktu
sebanyak 24 jam setiap harinya untuk memberikan pelayanan kepada anak
didik sebagaimana orang tua yang memberikan pelayanan kepada anaknya.
Sistem
Among tersebut berdasarkan cara berlakunya disebut Sistem Tutwuri
Handayani. Dalam sistem ini orientasi pendidikan adalah pada anak didik,
yang dalam terminologi baru disebut student centered. Di dalam
sistem ini pelaksanaan pendidikan lebih didasarkan pada minat dan
potensi apa yang perlu dikembangkan pada anak didik, bukan pada minat
dan kemampuan apa yang dimiliki oleh pendidik. Apabila minat anak didik
ternyata akan ke luar “rel” atau pengembangan potensi anak didik di
jalan yang salah maka pendidik berhak untuk meluruskannya.
Untuk
mencapai tujuan pendidikannya, Taman Siswa menyelanggarakan kerja sama
yang selaras antar tiga pusat pendidikan yaitu lingkungan keluarga,
lingkungan perguruan, dan lingkungan masyarakat. Pusat pendidikan yang
satu dengan yang lain hendaknya saling berkoordinasi dan saling mengisi
kekurangan yang ada. Penerapan sistem pendidikan seperti ini yang
dinamakan Sistem Trisentra Pendidikan atau Sistem Tripusat Pendidikan.
Pendidikan
Tamansiswa berciri khas Pancadarma, yaitu Kodrat Alam (memperhatikan
sunatullah), Kebudayaan (menerapkan teori Trikon), Kemerdekaan
(memperhatikan potensi dan minat maing-masing indi-vidu dan kelompok),
Kebangsaan (berorientasi pada keutuhan bangsa dengan berbagai ragam
suku), dan Kemanusiaan (menjunjung harkat dan martabat setiap orang).
Berikut ini tujuh asas Tamansiswa yaitu:
a. Mengatur
Diri Sendiri. Hak mengatur upakan diri sendiri berdiri bersama dengan
tertib dan damai dan bertumbuh menurut kodrat. Ketiga hal ini merupakan
dasar alat pendidikan bagi anak-anak yang disebut Metode Among.
b. Kemerdekaan Batin, Pikiran dan Tenaga bagi anak-anak
Pengajaran
berarti mendidik anak untuk mencari sendiri ilmu pengetahuan yang perlu
dan baik untuk lahir,batin, dan umum. Oleh karena itu, guru tidak
dibenarkan untuk selalu memberi ilmu pengetahuan, tetapi juga harus
diusahakan bahwa guru mampu mendidik anak-anak untuk mandiri dan
merdeka.
c. Kebudayaan
Sendiri. Kebudayaan sendiri dimkasudkan sebagai penunjuk jalan untuk
mencari penghidupan baru yaang selaras dengan kodrat bangsa dan yang
akan dapat memberi kedamaian dalam hidup bangsa. Asas ini juga
mengandung makna pendidikan yang tidak boleh memisahkan orang-orang
terpelajar dari rakyatnya.
d. Pendidikan yang Merakyat. Pendidikan dan pengajaran hrus mengenai rakyat secara luas. Hanya dengan cara itulah ketertinggalan masyarakat pribumi dapat dihilangkan.
e. Percaya
pada Kekuatan Sendiri. Ini adalah asas yang penting bagi semua orang
yang ingin mengejar ketertinggalannya dan meraih kemerdekaan hidup. Dan
itu dapat mewujudkan melalui kerja yang berasal dari kekuatan sendiri.
f. Membelanjai
Diri Sendiri. Asas ini sangat dekat dengan asas kelima. Pada asas ini
segala usaha untuk perubahan harus menggunakan biaya sendiri.
g. Keikhlasan dari
para pendidik dan pengajar dalam mendidik anak-anak. Hanya dengan
kesucian hati dan keterkaitan lahir dan batinlah usaha pendidikan dan
pengajaran dapat berhasil.
2. Reaksi Pemerintah Kolonial terhadap Taman Siswa
Taman
Siswa bisa dianggap sebagai tempat pemupukan kader masyarakat Indonesia
di masa mendatang dan yang sudah pasti akan berusaha pula untuk
menumbangkan kekuasaan kolonial. Oleh karena itu pemerintah jajahan
berusaha untuk menghalang-halangi perkembangan Taman Siswa khususnya,
sekolah-sekolah partikelir umumnya. Sejak itu Taman Siswa akan
menghadapi perjuangan asasi, melawan politik pemerintah Hindia Belanda.
Pada
tahun 1924, beliau dikenakan pajak rumah tangga. Beliau sebenarnya
tidak suka membeyar pajak tersebut karena barang-barang lebih banyak
yang menjadi milik perguruan tingginya. Menurut hitung-hitungan kasar,
ia tidak semestinya dikenakan pajak rumah tangga. Akhirnya,
barang-barangnya disita dan dileleang di public. Namun setelah Ki Hajar
melayangkan protes terhadap pemerintahan saat itu, maka pajak itu pun
tidak ada lagi. Yang menarik adalah, barang-barang yang dilelang
tersebut kemudian dikembalikan oleh para pembeli atas kedermawanannya.
Oleh karenanya, apabila dijelaskan lebih jauh, pemerintah saat itu
memiliki kepentingan politis untuk menutup lembaga pendidikan karena hal
demikian sangat berbahaya bagi keberlangsungan penjajahan.
Pemerintah
konservatif Gubernur Jendra de jonge menyambut kegelisahan orang
Belanda dengan mengeluarkan “ordonansi pengawasan” yang dimuat dalam
Staatsblad no. 494 tanggal 17 September 1932. Isi dan tujuan dari
ordonansi itu ialah memberi kuasa kepada alat-alat pemerintah untuk
mengurus ujud dan isi sekolah-sekolah partikelir yang tidak dibiayai
oleh negeri. Sekolah partikelir harus meminta izin lebih dahulu sebelum
dibuka dan guru-gurunya harus mempunyai izin mengajar. Rencana
pengajaran harus pula sesuai dengan sekolah-sekolah negeri, demikian
juga peraturan-peraturannya. Ordonansi itu menimbulkan perlawanan umum
di kalangan masyarakat Indonesia dan dimulai oleh prakarsa Ki Hadjar
Dewantara yang mengirimkan protes dengan telegram kepada Gurbernur
Jenderal di Bogor pada tanggal 1 Oktober 1932.
Pada
tanggal 3 Oktober 1932 Ki Hadjar Dewantara mengirimkan maklumat kepada
segenap pimpinan pergerakan rakyat, yang menjelaskan lebih lanjut sikap
yang diambil Taman Siswa. Aksi melawan ordonansi ini disokong sepenuhnya
oleh 27 organisasi antara lain Istri sedar, PSII, Dewan Guru Perguruan
Kebangsaan di Jakarta, Budi Utomo, Paguyuban Pasundan, Persatuan
Mahasiswa, PPPI, Partindo, Muhammadiyan, dan lain-lainnya. Juga golongan
peranakan Arab dan Tionghoa menyokong aksi ini. Pers nasional tidak
kurang menghantam ordonansi itu melalui tajuk rencananya. Moh Hatta
sebagai pemimpin Pendidikan Nasional Indonesia, menganjurkan supaya
mengorganisasi aksi yang kuat. Pada bulan Desember 1932 Wiranatakusumah,
anggota Volksraad mengajukan pertanyaan pada pemerintah dan disusul
pada bulan Januari 1933 dengan sebuah usul inisiatif.
Usul
inisiatif yang disokong oleh kawan-kawannya di dalam Volksraad, berisi:
menarik kembali ordonansi yang lama serta mengangkat komisi untuk
merencanakan perubahan yang tetap. Budi Utomo dan Paguyuban Pasundan
mengancam akan menarik wakil-wakilnya dari dewan-dewan, apabila
ordonansi ini tidak dicabut pada tanggal 31 Maret 1933. Juga di kalnag
para ulama aksi melawan ordonansi sekolah liar ini mendapat sambutan,
terbukti dengan adanya rapat-rapat Persyarikatan Ulama di Majalengka dan
Ulama-ulama Besar di Minangkabau. Pemerintah terkejut akan tekad
perlawanan akan masyarakat Indonesia dan setelah mengeluarkan beberapa
penjelasan dan mengadakan pertemuan dengan Ki Hadjar Dewantara, akhirnya
dengan keputusan Gubernur Jenderal tanggal 13 Februari 1933 ordonansi
Sekolah liar diganti dengan ordonansi baru.
Perlawan
Taman Siswa terhadap ordonansni sekolah liar merupakan masa gumilang
bagi sejarahnya, yang juga berarti mempertahankan hak menentukan diri
sendiri bagi bangsa Indonesia. Sesudah itu Taman Siswa akan mengadakan
lagi perlawanan terhadap peraturan pemerintah kolonial yang dapat
dianggap merugikan rakyat. Pada tahun 1935 Taman Siswa mempunyai 175
cabang yang tersebar di sekolahnnya ada 200 buah, dari mulai sekolah
rendah hingga sekolah menengah.
3. Sikap Taman Siswa pada Revolusi dan Indonesia Merdeka
Pada
saat setelah Indonesia merdeka Taman Siswa mengadakan Rapat Besar
(Konprensi) yang ke-9 di Yogyakarta. Tapi dengan masa kemerdekaan ini
tidak semua guru Tamansiswa menyadari akan datang
juga masa baru untuk Perguruan nasional mereka. Dalam Rapat besar itu
terdapat tiga pendapat di kalangan Tamansiswa dalam menghadapi
kemerdekaan.
Pertama,
pendapat bahwa tugas Taman Siswa telah selesai dengan tercapainya
Indonesia merdeka. Karena menurut pendukung pendapat ini, peran taman
siswa sebagai penggugah keinsafan nasional sidah habis, dan faktor
melawan pemerintah jajahan tidak ada lagi.
Kedua,
Taman Siswa masih perlu ada, sebelum pemerinta Republik dapat
mengadakan sekolah-sekolah yang mencukupi keperluan rakyat. Lagi pula
isi sekolah-sekolah negri pun belum dapat di ubah sekaligus sebagai
warisan sistempengajaran yang lampau.
Ketiga,
sekolah-sekolah partikelir yang memang mempunyai dasar sendiri tetap di
perlukan, walaupun nantinya jumlah sekolah sudah cukup dan isinya juga
sudahnasional.
Perbedaan pendapat di kalang Taman Siswa membawa dampak yang tidak bisa di elakan, para pendukung pendapat pertama banyak yang meninggalkan Tamansiswa. Tamansiswa banyak ditinggalkan oleh pendukung aktif yang tahan uji. Namun hal ini tidak mengherankan karena sebenarnya orang-orang Taman Siswa hanya berpindah tempat mengisi kemerdekaan. Misal saja bapak Taman Siswa sendiri, Ki Hajar Dewantara, pada awal kemerdekaan menjadi menteri pendidikan , Pengajaran dan Kebudayaan yang pertama di dalam pemerintahan. Bagi Taman Siswa sendiri yang terpenting ialah pembentikan panitia yang berkewajiban meninjau kembalinya peraturan tamansiswa dengan segala isinya. Panitia ini di ketuai oleh S. Manggoensarkoro dan kesimpiulan panitia ini diterima oleh Rapat Besar Umum (Kongres) V di Yogyakarta pada bulan Desember 1947.
Pada masa itu belanda telah mulai aksi militernya yang pertama pada 21 Juli 1947, sehingga Rapat Besar Umum, membahas tentang kedudukan cabang-cabang di daerah pendudukan. Kembali di daerah pendudukan Belanda muncul sebutan “sekolah liar” tapi tidak hanya sekolah partikelir saja tapi sekolah Republik pun dinyatakan “sekolah liar” ketika sekolah di Jakarta di tutup, maka gedung Taman Siswa di jalan Garuda 25 di banjiri oleh murid-murid. Semangat yang luar biasa di tunjukan oleh sekolah Tamansiswa yang berada di daerah pendudukan mereka berusaha mempertahankan sekolah mereka meski Majelis Luhur di Yogyakartatidak menyetujui di teruskanya sekolah di daerah pendudukan. Tapi akhirnya majelis Luhur mengizinkan untuk membuka terus cabang-cabang Taman Siswa di daerah pendudukan.
Perbedaan pendapat di kalang Taman Siswa membawa dampak yang tidak bisa di elakan, para pendukung pendapat pertama banyak yang meninggalkan Tamansiswa. Tamansiswa banyak ditinggalkan oleh pendukung aktif yang tahan uji. Namun hal ini tidak mengherankan karena sebenarnya orang-orang Taman Siswa hanya berpindah tempat mengisi kemerdekaan. Misal saja bapak Taman Siswa sendiri, Ki Hajar Dewantara, pada awal kemerdekaan menjadi menteri pendidikan , Pengajaran dan Kebudayaan yang pertama di dalam pemerintahan. Bagi Taman Siswa sendiri yang terpenting ialah pembentikan panitia yang berkewajiban meninjau kembalinya peraturan tamansiswa dengan segala isinya. Panitia ini di ketuai oleh S. Manggoensarkoro dan kesimpiulan panitia ini diterima oleh Rapat Besar Umum (Kongres) V di Yogyakarta pada bulan Desember 1947.
Pada masa itu belanda telah mulai aksi militernya yang pertama pada 21 Juli 1947, sehingga Rapat Besar Umum, membahas tentang kedudukan cabang-cabang di daerah pendudukan. Kembali di daerah pendudukan Belanda muncul sebutan “sekolah liar” tapi tidak hanya sekolah partikelir saja tapi sekolah Republik pun dinyatakan “sekolah liar” ketika sekolah di Jakarta di tutup, maka gedung Taman Siswa di jalan Garuda 25 di banjiri oleh murid-murid. Semangat yang luar biasa di tunjukan oleh sekolah Tamansiswa yang berada di daerah pendudukan mereka berusaha mempertahankan sekolah mereka meski Majelis Luhur di Yogyakartatidak menyetujui di teruskanya sekolah di daerah pendudukan. Tapi akhirnya majelis Luhur mengizinkan untuk membuka terus cabang-cabang Taman Siswa di daerah pendudukan.
4. Taman Siswa Setelah Kemerdekaan
Salah
satu masalah yang di hadapi Taman Siswa setelah kemerdekaan ialah
meninjau kembalai hubungan dengan pemerintah kita sendiri, terutama dalam hal penerimaan subsidi. Di kalangan
perguruan tinggi banyak perbedaan dalam menghadapi masalah ini, yaitu
mereka yang dapat menerima subsidi itu dan di gunakan untu pengelolaan
sekolah tapi tetap melihat berapa besar pengaruhnya agar tidak menggangu
terhadap prinsip “ merdeka mengurus diri sendiri” dan mereka yang
beranggapan agar melepas sikap oposisi seperti pada masa colonial karena
tidak cocok dengan di Indonesia merdeka. Walaupun sempat di tahun 1946
adanya keterbukaan untuk mengenai menghadapi masa kemerdekaanuntuk
merumuskan kembali sas dan dasar namun dalam pelaksanaanya mengenai
subdidi ini masih banyak yang ingin memelijara keadaan seperti yang
lalu.
Di
kalangan para pemimpin sedikitnya tedapat dua pendapat atau aliran.
Yang pertama aliran yang memnginginkan Taman Siswa terlepas dari system
pendidikan pemerintah, merupakan lembaga pendidikan yang independen,
hidup dalam cita-citanya sendiri dan terus berusaha agar sebagian
masyarakat menerima konsep pendidikan nasional. Caranya ialah
dengantetap mempertahankan system pondok yang relative terasing dari
masyarakat sekitarnya. Aliran pemikiran yang kedua ialah mereka ber
pendapat bahwa perkembangan masyarakat Indonesia baru sangat berbeda
dengan keadaan zaman kolonial, oleh karena perubahan perlu di hadapi
dengan pemikiran baru. Taman Siswa dapat menyumbangkan pengalaman dan
keahlian untuk Menteri Pendidikan dalam usahanya mengembangkan
kebijaksanaan politik pendidikan nasional.
D. Nilai-nilai Kepemimpinan
1. Humanis dan Manusiawi
Ki
Hajar Dewantara, pendidik asli Indonesia, melihat manusia lebih pada
sisi kehidupan psikologiknya. Menurutnya manusia memiliki daya jiwa
yaitu cipta, karsa dan karya. Pengembangan manusia seutuhnya menuntut
pengembangan semua daya secara seimbang. Pengembangan yang terlalu
menitikberatkan pada satu daya saja akan menghasilkan ketidakutuhan
perkembangan sebagai manusia. Beliau mengatakan bahwa pendidikan yang
menekankan pada aspek intelektual belaka hanya akan menjauhkan peserta
didik dari masyarakatnya. Dan ternyata pendidikan sampai sekarang ini
hanya menekankan pada pengembangan daya cipta, dan kurang memperhatikan
pengembangan olah rasa dan karsa. Jika berlanjut terus akan menjadikan
manusia kurang humanis atau manusiawi.
2. Visioner
Ki
Hajar Dewantara memiliki pandangan jauh ke depan. Hal itu ditunjukkan
dengan sikap memperjuangkan pendidikan di Indonesia. Beliau ingin
menciptakan pendidikan Indonesia yang humanis, lewat perguruan tinggi
Taman Siswa. Bahkan ketika Indonesia merdeka, beliau diamanahi menjadi
Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan. Sehingga beliau bisa
memperbaiki pendidikan di Indonesia.
3. Pantang Menyerah
Sikap
pantang menyerah ditunjukkan dengan berbagai upaya yang telah dilakukan
selama mempertahankan Taman Siswa. Walaupun selalu dijegal oleh
pemerintahan Belanda.
4. Merakyat
Ki Hajar Dewantara merupakan seseorang yang berasal
dari lingkungan keluarga kraton Yogyakarta. Tetapi kemudian beliau
tidak lagi menggunakan gelar kebangsawanan di depan namanya. Hal ini
dimaksudkan supaya ia dapat bebas dekat dengan rakyat, baik secara fisik
maupun hatinya.
BAB III
PENUTUP
A. Simpulan
Ki Hajar Dewantara adalah putra Pangeran Sasraningrat dan cucu Pakualam ke-2. Ia
mendirikan sebuah perguruan yang bercorak nasional, Nationaal Onderwijs
Instituut Tamansiswa (Perguruan Nasional Tamansiswa) pada 3 Juli 1922.
Perguruan ini sangat menekankan pendidikan rasa kebangsaan kepada
peserta didik agar mereka mencintai bangsa dan tanah air dan berjuang
untuk memperoleh kemerdekaan.
Pemikiran
Ki Hadjar Dewantara tentang pendidikan memberikan harapan baru untuk
kemajuan bangsa Indonesia, bukan hanya pada masa awal kemerdekaan, masa
kemerdekaan, dan masa pasca kemerdekaan; tetapi juga ketika bangsa ini
mengalami carut-marut pendidikan pada masa reformasi dan globalisasi.
Ketiga,
Ki Hadjar Dewantara juga memandang penting pendidikan budi pekerti.
Menurut dia, pendidikan ala Barat yang hanya berorientasi pada segi
intelektualisme, individualisme, dan materialisme tidak sepenuhnya
sesuai dengan corak budaya dan kebutuhan bangsa Indonesia. Warisan
nilai-nilai luhur budaya dan religiusitas bangsa Indonesia yang masih
dihidupi dan dijadikan pedoman hidup keluarga-keluarga di masyarakat
Indonesia harus dikembangkan dalam dunia pendidikan. Nilai-nilai luhur
tersebut memperlihatkan kearifan budi pekerti yang memperlihatkan harkat
dan martabat bangsa.
Tamansiswa
adalah wadah dan wujud ajaran hidup Ki hajar Dewantara, berupa asas,
sendi organisasi, sistem pendidikan dan perwujudan cita-cita kehidupan
Tamansiswa.
Ki
Hajar juga mengajarkan pentingnya sistem Tri Pusat Pendidikan yang satu
sama lain saling berkaitan yaitu pendidikan dalam keluarga, sekolah dan
masyarakat. Ketiga hal ini akan sangat berpengaruh pada watak dan
kepribadian anak. Dalam mendidik anak diberi tuntunan dan dorongan agar
dapat tumbuh dan berkembang dengan metode ing Ngarsa Sung Tuladha ( bila
berkata berada di depan harus bisa menjadi contoh), Ing madya Mangun
Karsa( bila berada di tengah-tengah diharapkan mampu menuangkan gagasan
atau ide-ide baru yang mendorong kemajuan) dan Tut Wuri Handayani (
bila berada di belakang diharapkan ikut memberi dukungan). Jadi siswa
diberi kebebasan untuk bertindak, tetapi apabila kebebasan itu
disalahgunakan, maka pamong wajib memberikan peringatan atau hukuman.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar