BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Film Sang Pencerah
adalah sebuah titik penting dalam sejarah perfilman Indonesia, karena
ia menceritakan episode kehidupan seorang tokoh termasyhur dalam sejarah
Indonesia, yaitu K.H. Ahmad Dahlan. Beliau adalah pendiri
dari salah satu ormas Islam terbesar di Indonesia, pejuang, tokoh
pergerakan, pendidikan, ulama kharismatik yang dianggap sebagai mujaddid dan berbagai predikat mulia lainnya.
Berbagai
kritik telah dialamatkan kepada film ini, antara lain mengenai
keakuratannya dengan sejarah hidup K.H. Ahmad Dahlan yang sebenarnya. Pada
kenyataannya, referensi sejarah yang bisa digunakan untuk melakukan
riset tentang tokoh pendiri Muhammadiyah ini memang sangat terbatas. Beliau
bukan seorang penulis – lebih dikenal sebagai tipe ‘praktisi’ –
sehingga orang yang hidup pada abad ke-21 akan merasa cukup kesulitan
untuk menggali gagasan-gagasannya.
Makalah singkat ini takkan mengulang kembali kritik-kritik membangun yang telah disampaikan perihal kandungan film Sang Pencerah. Pembahasan
ini akan mencoba mengulas latar belakang keluarga dan pendidikan,
pemikiran Ahmad Dahlan tentang agama, dan peran Ahmad Dahlan dalam
Muhammadiyah dan Budi Utomo.
Dari latar belakang diatas maka penyusun dapat mengambil beberapa rumusan masalah, yaitu:
1. Bagaimana latar belakang keluarga dan pendidikan Ahmad Dahlan?
2. Bagaimana pemikiran Ahmad Dahlan tentang agama?
3. Bagaimana hubungan Ahmad Dahlan dengan Muhammadiyah?
4. Bagaimana hubungan Ahmad Dahlan dengan Budi Utomo?
B. Tujuan Penulisan
1. Mengetahui latar belakang keluarga dan pendidikan Ahmad Dahlan.
2. Mengetahui pemikiran Ahmad Dahlan tentang agama.
3. Mengetahui hubungan Ahmad Dahlan dengan Muhammadiyah.
4. Mengetahui hubungan Ahmad Dahlan dengan Budi Utomo.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Latar belakang keluarga dan pendidikan
Nama kecil KH. Ahmad Dahlan adalah Muhammad Darwis.
Ia merupakan anak keempat dari tujuh orang bersaudara yang keseluruhan
saudaranya perempuan, kecuali adik bungsunya. Ia termasuk keturunan yang
kedua belas dari Maulana Malik Ibrahim, salah seorang yang terkemuka di antara Walisongo, yaitu pelopor penyebaran agama Islam di Jawa. Silsilahnya tersebut ialah Maulana Malik Ibrahim, Maulana Ishaq, Maulana 'Ainul Yaqin,
Maulana Muhammad Fadlullah (Sunan Prapen), Maulana Sulaiman Ki Ageng
Gribig (Djatinom), Demang Djurung Djuru Sapisan, Demang Djurung Djuru
Kapindo, Kyai Ilyas, Kyai Murtadla, KH. Muhammad Sulaiman, KH. Abu
Bakar, dan Muhammad Darwisy (Ahmad Dahlan).
Pada umur 15 tahun, Ahmad Dahlan pergi haji dan tinggal di Mekah selama lima tahun. Pada periode ini, Ahmad Dahlan mulai berinteraksi dengan pemikiran-pemikiran pembaharu dalam Islam, seperti Muhammad Abduh, Al-Afghani, Rasyid Ridha dan Ibnu Taimiyah. Ketika pulang kembali ke kampungnya tahun 1888, ia berganti nama menjadi Ahmad Dahlan. Pada tahun 1903, ia bertolak kembali ke Mekah dan menetap selama dua tahun. Pada masa ini, ia sempat berguru kepada Syeh Ahmad Khatib yang juga guru dari pendiri NU, KH. Hasyim Asyari. Pada tahun 1912, ia mendirikan Muhammadiyah di kampung Kauman, Yogyakarta.
Sepulang dari Mekkah, ia menikah dengan Siti Walidah,
sepupunya sendiri, anak Kyai Penghulu Haji Fadhil, yang kelak dikenal
dengan Nyai Ahmad Dahlan, seorang Pahlawanan Nasional dan pendiri Aisyiyah.
Dari perkawinannya dengan Siti Walidah, KH. Ahmad Dahlan mendapat enam
orang anak yaitu Djohanah, Siradj Dahlan, Siti Busyro, Irfan Dahlan,
Siti Aisyah, Siti Zaharah. Disamping itu KH. Ahmad Dahlan pernah pula
menikahi Nyai Abdullah, janda H. Abdullah. la juga pernah menikahi Nyai
Rum, adik Kyai Munawwir Krapyak. KH. Ahmad Dahlan juga mempunyai putera
dari perkawinannya dengan Nyai Aisyah (adik Adjengan Penghulu) Cianjur
yang bernama Dandanah. Ia pernah pula menikah dengan Nyai Yasin
Pakualaman Yogyakarta.
B. Pemikiran K.H Ahmad Dahlan tentang Agama
Secara
formal K.H Ahmad Dahlan dapat dikatakan tidak pernah memperoleh
pendidikan. Sebagian besar pengetahuan yang dimiliki diperoleh sacara
otodidak. Sementara kemampuan dasar baca tulis diperoleh dari ayah,
sahabat, dan saudara iparnya. Namun menjelang dewasa K.H Ahmad Dahlan
mulai belajar ilmu fikih kepada Kyai Muhammad Saleh dan ilmu nahu yaitu
Kyai Muhsin. Pengetahuan K.H Ahmad Dahlan yang luas dan mencakup
berbagai macam disiplin ilmu, menjadikan K.H Ahmad Dahlan tumbuh sebagai
orang yang arifdan tajam pemikirannya serta memiliki pandangan yang
jauh ke depan.
Rasa
ingin tahu yang besar mendorong K.H Ahmad Dahlan memanfaatkan
kesempatan untuk belajar. Demikain pula ketika K.H Ahmad Dahlan naik
haji setelah dewasa pada usia 22 tahun yaitu pada tahun 1890, waktu yang
ada dipergunakan untuk belajar kepada Imam Syafi’I Sayyid Bakir Syantha
selama sekitar 2 tahun. Demikaian pula ketika beliau naik haji 13 tahun
kemudian ( 1903 ) bersama putranya Siraj Dahlan yang berusia 13 tahun
Sesuai dengan bahan dan sumber yang ada, pokok-pokok pikiran dan pandangan K.H Ahmad Dahlan sebagaimana diuraikan dibawah ini:
1. Dalam bidang aqidah K.H Ahmad Dahlan sejalan dengan pandangan dan pemikiran ulama SALAF
2. Menurut
pandangan K.H Ahmad Dahlan, beragama itu beramal artinya berkarya dan
membuat sesuatu, melakukan tindakan sesuai dengan isi pedoman isi
Al-Qur’an dan sunnah. Orang yang beragama adalah orang yang menghadapkan jiwanya
dan hidupnya hanya kepada Allah SWT yang dibuktikan dengan tindakan dan
perbuatan seperti rela berkorban harta benda miliknya maupun dirinya
sendiri, serta bekerja dalam kehidupannya untuk Allah.
3. Dasar
pokok hukum islam adalah Al-Qur’an dan Sunnah. Jika dari keduanya tidak
diketemukan kaidah hokum yang eksplisit maka ditentukan berdasarkan
kepada penalaran dengan menggunakan kemampuan berfikir logis ( akal
pikiran )
4. Terdapat
lima jalan untuk memahanmi Al-Qur’an yaitu mengerti artinya, memahami
maksudnya ( tafsir ), selalu bertanya kepada diri sendiri, apakah
larangan agama yang telah diketahui ditinggalkan dan menjalankan
perintah agamanya, tidak mencari ayat lain sebelum isi ayat dikerjakan.
5. K.H
Ahmad Dahlan menyatakan bahwa tindakan nyata adalah wujud konkrit dari
penerjemahan Al- Qur’an dan organisasi adalah wadah dari tindakkan nyata
tersebut. Untuk memperoleh pemahaman yang demikian orang islam harus
terus memperluas dan mempertajam kemampuan akal pikiran
6. Sebagai landasan orang suka dan bergembira maka orang tersebut harus yakin bahwa Mati adalah Bahaya, tetapi lupa kepada kematian merupakan bahaya yang jauh lebih besar dari kematian itu sendiri.
Disamping itu, K.H Ahmad Dahlan menyatakan bahwa harus ditanamkan dalam
hati seseorang gerak hati unutk maju dengan landasan moral dan
keikhlasan dalam beramal
7. Kunci
persoalan peningkatan kualitas hidup dan kemajuan umat islam ialah
pemahaman terhadap berbagai ilmu pengetahuan yang sedang berkembang
dalam tata kehidupan masyarakat.
8. Pembinaan
generasi muda dilakuakan K.H Ahmad Dahlan dengan jalan interaksi
langsung. Untuk melaksanakan teorinya tersebut K.H Ahmad Dahlan
mendirikan kepanduan yang kemudian diberi nama hizbul wathan
9. Strategi
menghadapi perubahan social akibat modernisasi adalah merujuk kembali
kepada Al-Qur’an, menghilangkan sikap fanatisme. Strategi tersebut
dilaksanakan denagn menghidupkan jiwa dan semangat Ijtihad melalui peningkatan kemampuan berfikir logis – rasional dan mengkaji realitas social.
10. Objek gerakan dakwah Muhammadiyah meliputi rakyat kecil, kaum fakir-miskin, para hartawandan para intelektual
Sehubungan dengan pokok-pokok pikiran K.H Ahmad Dahlan, Kyai Haji AR Fachrudin ( ketua PP Muhammadiyah sejak 1968 ) dalam buku Menuju Muhammadiyah Muhammadiyah adalah:
1. Meluruskan
tauhid, peng-Esaankepada Allah SWT. Hanya Allah yang wajib disembah dan
wajib menjauhi segala larangannya sekaligus menjalalankan perintahnya
2. Hanya Allah yang Khaliq dan selain Allah semuanya adalah mahluk. Karena semua akan hancur kecuali Allah SWT
3. Meluruskan cara-cara beribadah menurut contoh ataupun yang diperintahkan oleh Rasulullah SAW
4. Mengembangkan akhlakul karimah dan etika social
5. Mengembangkan tata hubungan social sesuai dengan tuntunan islam.
Sebagai
seorang pemimpin menurut R.H Hadjid, K.H Ahmad Dahlan memiliki beberapa
keutamaan dibandingkan denngan pemimpin lainnyakelebihan dan keutamaan
tersebut adalah : cerdas, tinggi rasa cintanya kepada Allah SWT memiliki
strategi metodologi memahami islam seperti strategi militer. K.H Ahmad
Dahlan mampu mempergunakan senjata dengan baik daripada yang
memilikinya.
Pokok pemikiran K.H Ahmad Dahlan yang terdapat dalam buku “ falsafah ajaran K.H Ahmad Dahlan dan 17 kelompok ayat-ayat Al- Quran ajaran K.H Ahmad Dahlan” merupakan 7 kerangka pemikiran yaitu :
1. Ulama
adalah orang yang berilmu dan hidupnya kreatif,serta mengembangkan
ilmunya dengan iklas. Jiwa iklas dilukiskan sebagai orang yang mengerti
hakikat hidup dan dunia, sehingga ia tidak takut untuk menghadapi mati,
akan tetapi justru akan selalu mengingat datingnya kematian.
2. Untuk
mencari kebenaran orang tidak boleh merasa benar sendiri. Oleh karena
itu, orang tersebut harus berani berdialog dan diskusi dengan semua
pihak walaupun dengan orang atau golongan yang bertentangan dan berbeda
pendapat
3. Bersedia
merubah pikiran dengan sikap terbuka. Sikap demikian menjadikan
seseorang selalu berusaha untuk memperbaharui, memikirkan dan
menyelidiki tindakan dan pikiran yang sudah biasa dilakukan. Orang yang
bersikap terbuka tidak akan mengikatkan diri kepada tradisi dan
rutinitas.
4. Dalam mencapai tujuan hidup manusia harus menggunakan bekerjasama dan dengan menggunakan akal.
5. Cara
mengambil keputusan yang benar harus dilakukan dengan kesediaan
mendengarkan segala pendapat, berdiskusi dan membandingkan serta
menimbang baru kemudian memutuskan sesuai akal fikiran. Keputusan akal
fikiran haus didasarkan kepada pertimbangan akhlak ( etika ) yaitu
ketentuan baik dan buruk berdasarkan hati yang jernih
6. Berani mengorbankan harta benda untuk menegakkan dan membela kebenaran
7. Mempelajari teori-teori pengetahuan dan keterampilan melalui proses bertingkat.
Melihat
berbagai prinsip dan pemikiran K.H Ahmad Dahlan diatas , K.H Ahmad
Dahlan menempatkan akal dan logika sebagai basis pengetahuan. Sikap
demikian lebih tegas dari pemimpin muhammadiyah generasi berikutnya
dalam menempatkan akal dan logika.
C. Ahmad Dahlan dan Muhammadiyah
Muhammadiyah
adalah salah satu gerakan sosial Islam yang terpenting di Indonesia
sejak sebelum Perang Dunia II. Organisasi ini didirikan oleh KH Ahmad
Dahlan di Yogyakarta pada tanggal 18 November 1912, yang merupakan
perkumpulan Islam modern. Ahmad Dahlan merupakan seorang pemikir yang
menekankan pada permasalahan praktis. Kesemuanya itu memiliki
perspektif, diantaranya adalah pemikiran Ahmad Dahlan mengenai keagamaan
dan pemurniannya, kemasyarakatan dan kenegaraan. Keberadaan
Muhammadiyah saat itu telah diakui oleh Belanda lewat Surat Keputusan
Pemerintah Hindia Belanda (Gouvernement besluitt) No. 81 tanggal
22 Agustus 1914, yang diubah dan disempurnakan dengan Surat Keputusan
No. 40 tanggal 16 Agustus 1920, diubah dan disempurnakan lagi dengan
Surat Keputusan No. 36 tanggal 2 September 1921
Muhammadiyah
telah mengadakan pembaharuan pendidikan agama dengan jalan modernisasi
sistem pendidikan. Muhammadiyah mendirikan sekolah-sekolah yang khas
agama dan bersifat umum mulai dari tingkat Taman Kanak-kanak (TK) sampai
perguruan tinggi. Di masa awal kemerdekaan, cukup banyak para kaum
terpelajar yang menjalankan kekuasaan pemerintahan Indonesia, berkat
pendidikan yang mereka tempuh pada sekolah-sekolah Muhammdiyah pada
zaman Belanda dan Jepang. Walau ketika pemerintah Indonesia telah
membangun sekolah-sekolah Inpres, Muhammadiyah tetap memberikan
dukungannya dalam pengabdian mencerdaskan bangsa, sekolah-sekolah
Muhammadiyah tetap diperlukan dalam proses pendidikan.
Pelaksanaan
pendidikan dibedakan atas pendidikan formal, informal dan nonformal.
Pendidikan formal adalah sebutan bagi sistem pendidikan yang
dilembagakan, bertahap, kronologis dan bertingkat-tingkat, mulai dari
tingkat dasar sampai perguruan tinggi. Pendidikan informal adalah
sebutan untuk proses seumur hidup bagi setiap orang dalam mencari dan
menghimpun pengetahuan, keterampilan, sikap dan pengertian yang
diperoleh dari pengalaman sehari-hari dan dari pengaruh lingkungan.
Pendidikan nonformal adalah sebutan untuk pendidikan berorganisasi dan
sistematis yang berlangsung di luar kerangka sistem pendidikan formal,
untuk menyediakan beraneka ragam pelajaran tertentu kepada kelompok
penduduk tertentu. Didasarkan atas pengertian tersebut, maka dalam
penelitian ini yang dimaksud dengan ‘pendidikan’ adalah pendidikan
formal.
Proses
belajar-mengajar merupakan sesuatu hal yang dirasakan amat penting
dalam kehidupan manusia. Saat dilahirkan, kita masih berada dalam
keadaan lemah dan bodoh. Tetapi dengan usaha belajar yang dilakukan
secara terus-menerus selama masa pertumbuhannya, seseorang akan
berkembang menjadi kuat dan mengetahui banyak hal. Pada saat balita,
orang tua dan keluarga adalah yang mendidik dan mengajari untuk
berbicara, dan membimbingnya untuk dapat membedakan antara yang baik dan
buruk. Pada saat seseorang berada dalam masa sekolah, guru yang memberi
pengajaran menulis, membaca dan berhitung dan memberi ilmu pengetahuan
yang lainnya. Hal tersebut nantinya menyebabkan seseorang menjadi pandai
pada tingkatan tertentu.
Para ahli pendidikan mendefinisikan belajar sebagai “a process of progressive behavior adaptation”
(Skinner, 1958). Belajar merupakan sebuah proses adaptasi perilaku yang
bersifat progresif. Belajar seharusnya akan memberi akibat adanya sifat
progresivitas, yaitu adanya tendensi ke arah yang lebih baik dari
keadaan sebelumnya. Belajar membutuhkan waktu sampai mencapai sesuatu
hasil perilaku yang lebih sempurna daripada perilaku sebelum belajar.
Dengan demikian tinggi rendahnya pengetahuan seseorang ditentukan oleh
tinggi rendahnya intensitas dalam belajar dan menyerap pengetahuan dan
pengalaman dalam kehidupannya. Guru mempunyai peran yang penting dalam
dunia pendidikan. Karl Manheim menyebutkan bahwa guru sebagai kelompok
perubahan (agent of change) selain ulama, yang memiliki kesadaran sosial yang tinggi atas apa yang terjadi dalam masyarakat
D. Ahmad Dahlan dan Budi Utomo
Perjuangan
bangsa Indonesia mulai awal abad ke-20 memasuki babak baru. Kita
katakan sebagai babak baru, karena mulai awal abad itu perjuangan bangsa
Indonesia mulai menggunakan cara-cara organisasi modern. Babak baru itu
antara lain ditandai dengan lahir dan berdirinya Budi Utomo.
Budi
Utomo didirikan pada tanggal 20 Mei 1908 di Jakarta oleh dr. Wahidin
Sudirohusodo, dr. Sutomo, dll. Tanggal itu kemudian kita kenal sebagai
awal dari kebangkitan nasional. Tiap tahun Hari Kebangkitan Nasional
kita peringati tentu mempunyai arti tersendiri. Peringatan Hari
Kebangkitan Nasional ke-98 tahun ini diselengarakan pasti mempunyai
makna khusus pula.
KH
Ahmad Dahlan, selagi hayatnya banyak mengadakan kontak komunikasi
dengan Budi Utomo. Bahkan tahun 1909, beliau masuk Budi Utomo.
Ceriteranya begini. Dr. Wahidin Sudirohusodo mempunyai pembantu di
bidang kedokteran, Joyosumarto namanya. Beliau bertemu dengan pengurus
Budi Utomo pertama kali atas jasa baiknya. Ia mempunyai banyak famili di
Kauman. Suatu hari ketika ia bersilaturrahim di Kauman, beliau mengajak
singgah ke rumah. Dari pertemuan itu beliau mulai mengetahui Budi
Utomo. Kemudian keinginan beliau hendak bertemu dengan pengurus Budi
Utomo disampaikan kepadanya. Pertemuan pertama KH Ahmad Dahlan dengan
pengurus Budi Utomo terjadi pada rapat pengurus di rumah dr. Wahidin
Sudirohusodo, di Ketandan Yogyakarta. Setelah beberapa kali menghadiri
rapat pengurus, beliau menyatakan ingin menjadi anggota Budi Utomo.
Keinginan beliau menjadi anggota Budi Utomo itu dapat diibaratkan gayung
bersambut kata
berjawab, tidak bertepuk sebelah tangan. Artinya, keinginan itu diterima dengan tangan terbuka dan disambut dengan senang hati. Bahkan beliau diminta menjadi pengurus. Beliau mengajak para santri dan sahabatnya yang tinggal di Kauman dan mereka pun menyambut baik mau menjadi anggota Budi Utomo, yaitu RH Syarkawi, H. Abdulgani, HM
Syuja', HM Hisyam, HM Fakhruddin, dan HM Tamim. Mereka kemudian kita kenal sebagai pemimpin Muhammadiyah.
berjawab, tidak bertepuk sebelah tangan. Artinya, keinginan itu diterima dengan tangan terbuka dan disambut dengan senang hati. Bahkan beliau diminta menjadi pengurus. Beliau mengajak para santri dan sahabatnya yang tinggal di Kauman dan mereka pun menyambut baik mau menjadi anggota Budi Utomo, yaitu RH Syarkawi, H. Abdulgani, HM
Syuja', HM Hisyam, HM Fakhruddin, dan HM Tamim. Mereka kemudian kita kenal sebagai pemimpin Muhammadiyah.
KH
Ahmad Dahlan masuk Budi Otomo dan Budi Utomo dimasuki KH Ahmad Dahlan
saling memperoleh manfaat. Bagi Budi Utomo, kehadiran beliau menjadi
anggota tentu dirasakan menambah gizi dan vitamin. Sebab beliau beriman,
bertakwa, berakhlak, berilmu, suka beramal, dan berpikiran maju.
Sedangkan beliau dalam Budi Utomo banyak belajar
tentang organisasi dan mendapat kesempatan untuk berda'wah kepada para pengurus Budi Utomo, setelah selesai rapat.
tentang organisasi dan mendapat kesempatan untuk berda'wah kepada para pengurus Budi Utomo, setelah selesai rapat.
Ada
manfaat lain yang diperoleh dan dirasakan oleh KH Ahmad Dahlan setelah
berkenalan dan menjadi anggota Budi Utomo. Beliau dapat memberi
pendidikan agama Islam kepada para siswa Kweekschool (Sekolah Guru) di
Jetis, Yogyakarta. Maksud baik itu terpenuhi setelah disampaikan kepada
Kepala Kweekschool, R. Boedihardjo, yang juga menjadi anggota pengurus
Budi Utomo. Meskipun pelaksanaannya di luar jam sekolah, pada setiap
hari Sabtu sore, dengan metode induktif, ilmiah, naqliah, dan tanya
jawab. Pendidikan agama Islam yang beliau berikan itu ternyata menarik
perhatian dan memuaskan bagi para siswa. Karena itu, di antara mereka
ada yang usul kepada beliau supaya pemberian pendidikan agama Islam
ditambah. Mereka tidak keberatan datang ke rumah beliau. Sebab,
pendidikan agama Islam seminggu hanya satu kali dirasakan masih kurang.
Atas usul itu disepakati tambahan pendidikan agama Islam diberikan tiap
Ahad di rumah beliau.
Pada
sekitar tahun 1912, KH Ahmad Dahlan mendirikan Madrasah Ibtidaiyyah
Diniyyah Islamiyyah. Madrasah itu menempati ruangan kamar tamu beliau
yang di dalamnya berisi meja, kursi panjang, dan papan tulis. Bulan
pertama muridnya baru 9 (sembilan) anak dan enam bulan kemudian muridnya
berjumlah 20 anak. Pada bulan ke tujuh dapat bantuan guru umum dari
Budi Utomo. Pelajaran yang diberikan di Madrasah itu pengetahuan umum
dan pelajaran agama di kelas. Pada waktu itu anak-anak masih merasa
asing pada pelajaran dengan sistem sekolah.
Di
antara para siswa Kweekschool yang belajar agama Islam di rumah beliau
tiap hari Ahad ternyata ada yang memperhatikan ruangan kamar tamu beliau
ada meja, bangku, dan papan tulis. Siswa tersebut menanyakan hal itu
kepada KH Ahmad Dahlan. Beliau menjawab ruangan itu untuk Madrasah
Ibtidaiyyah Diniyyah Islamiyyah yang memberikan pelajaran agama dan
pengetahuan umum kepada anak-anak. Beliau sendiri yang memegang sekolah
dan menjadi guru pelajaran agama. Ia member saran kepada beliau agar
lebih baik sekolah itu tidak hanya dipegang dan diurus oleh beliau
sendiri, karena terkesan seperti milik beliau sendiri. Apabila beliau
meninggal dan ahli waris tidak mampu meneruskan, berhentilah sekolah
itu. Karena itu, hendaklah sekolah itu dipegang oleh sebuah organisasi
supaya berlangsung lama.
Kehendak
kuat untuk merealisasi secara kongkrit riil perintah Allah dalam QS Ali
Imran : 104, diikuti dengan pembukaan sekolah atau madrasah,
selanjutnya mempertimbangkan dorongan positif dari siswa Kweekschool,
dan tidak melupakan bantuan dari Budi Utomo, membuahkan hasil
Muhammadiyah berdiri pada tanggal 8 Dzulhijjah 1330 H bertepatan dengan
tanggal 18 November 1912 M.
Betapa
dekat hubungan antara KH Ahmad Dahlan dan Budi Utomo, setelah
Muhammadiyah berdiri, dapat dibuktikan antara lain bahwa rumah beliau di
Kauman Yogyakarta, pada tahun 1917 M, menjadi tempat kongres Budi
Utomo. Dalam kongres itu beliau bertabligh yang mempesona para peserta
kongres. Selesai kongres banyak surat dikirim dari berbagai tempat ke
Pengurus Besar Muhammadiyah yang meminta untuk didirikan cabang-cabang
Muhammadiyah di berbagai tempat itu.
BAB III
PENUTUP
Simpulan
Nama kecil KH. Ahmad Dahlan adalah Muhammad Darwis.
Ia merupakan anak keempat dari tujuh orang bersaudara yang keseluruhan
saudaranya perempuan, kecuali adik bungsunya. Pada umur 15 tahun, Ahmad
Dahlan pergi haji dan tinggal di Mekah
selama lima tahun. Pada periode ini, Ahmad Dahlan mulai berinteraksi
dengan pemikiran-pemikiran pembaharu dalam Islam, Sepulang dari Mekkah,
ia menikah dengan Siti Walidah,
sepupunya sendiri, anak Kyai Penghulu Haji Fadhil, yang kelak dikenal
dengan Nyai Ahmad Dahlan, seorang Pahlawanan Nasional dan pendiri Aisyiyah.
Sebagai
seorang pemimpin menurut R.H Hadjid, K.H Ahmad Dahlan memiliki beberapa
keutamaan dibandingkan denngan pemimpin lainnyakelebihan dan keutamaan
tersebut adalah : cerdas, tinggi rasa cintanya kepada Allah SWT memiliki
strategi metodologi memahami islam seperti strategi militer. K.H Ahmad
Dahlan mampu mempergunakan senjata dengan baik daripada yang
memilikinya. Pokok pemikiran K.H Ahmad Dahlan yang terdapat dalam buku “
falsafah ajaran K.H Ahmad Dahlan dan 17 kelompok ayat-ayat Al- Quran ajaran K.H Ahmad Dahlan” merupakan 7 kerangka pemikiran
Muhammadiyah
adalah salah satu gerakan sosial Islam yang terpenting di Indonesia
sejak sebelum Perang Dunia II. Organisasi ini didirikan oleh KH Ahmad
Dahlan di Yogyakarta pada tanggal 18 November 1912, yang merupakan
perkumpulan Islam modern. Ahmad Dahlan merupakan seorang pemikir yang
menekankan pada permasalahan praktis. Kesemuanya itu memiliki
perspektif, diantaranya adalah pemikiran Ahmad Dahlan mengenai keagamaan
dan pemurniannya, kemasyarakatan dan kenegaraan. Keberadaan
Muhammadiyah saat itu telah diakui oleh Belanda lewat Surat Keputusan
Pemerintah Hindia Belanda (Gouvernement besluitt) No. 81 tanggal
22 Agustus 1914, yang diubah dan disempurnakan dengan Surat Keputusan
No. 40 tanggal 16 Agustus 1920, diubah dan disempurnakan lagi dengan
Surat Keputusan No. 36 tanggal 2 September 1921
Pertemuan
pertama KH Ahmad Dahlan dengan pengurus Budi Utomo terjadi pada rapat
pengurus di rumah dr. Wahidin Sudirohusodo, di Ketandan Yogyakarta.
Setelah beberapa kali menghadiri rapat pengurus, beliau menyatakan ingin
menjadi anggota Budi Utomo. Keinginan beliau menjadi anggota Budi Utomo
itu dapat diibaratkan gayung bersambut kata berjawab, tidak bertepuk
sebelah tangan. Artinya, keinginan itu diterima dengan tangan terbuka
dan disambut dengan senang hati. Bahkan beliau diminta menjadi pengurus.
Beliau mengajak para santri dan sahabatnya yang tinggal di Kauman dan
mereka pun menyambut baik mau menjadi anggota Budi Utomo, yaitu RH
Syarkawi, H. Abdulgani, HM Syuja', HM Hisyam, HM Fakhruddin, dan HM
Tamim. Mereka kemudian kita kenal sebagai pemimpin Muhammadiyah.
DAFTAR PUSTAKA
Mulkhan,
Abdul Munir. 1990. Pemikiran K.H Ahmad Dahlan dan Muhammadiyah: Dalam
Perspektif Perubahan Social. Jakarta: Bumi Aksara.
K.H. Ahmad Dahlan dan Budi Utomo. http://www.hi-nan.com/web/node/18 diakses pada tanggal 12 November 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar