BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kepemimpinan
dari seorang tokoh yang disegani dan dihormati secara luas oleh
masyarakat dapat pula menjadi faktor yang menyatukan suatu
bangsa-negara. Pemimpin
ini menjadi panutan sebab warga masyarakat mengidentifikasikan diri
kepada sang pemimpin, dan ia dianggap sebagi “penyambung lidah”
masyarakat.
Akan tetapi, pemimpin
saja mungkin tidak menjamin bagi terbentuknya suatu bangsa-negara sebab
pengaruh pemimpin bersifat sementara. Dalam hal ini ada dua penyebab.
Pertama, umur manusia (pemimpin) terbatas, dan khususnya pemimpin
kharismatik tidak dapat diwariskan. Pemimpin tidak hanya yang masih
hidup dapat berfungsi sebagai simbol persatuan bangsa, tetapi juga yang
sudah menjadi pahlawan. Kedua, tipe kepemimpinan berkaitan erat dengan
perkembangan masyarakat. Masyarakat yang berubah menghendaki tipe
pemimpin yang berubah pula. Pada pihak lain tidak hanya pemimpin
kharismatik dipandang sebagai simbol persatuan bangsa, tetapi juga di
negara-negara yang maju seorang pemimpin diharapkan tampil sebagai
“wakil” atau personifikasi bangsa di dalam maupun di luar negeri.
Drama
terbesar dan paling tragis dalam sejarah Indonesia tentulah drama
kehidupan Soeharto. Setelah tiga decade berkuasa, ditakuti, disembah
bagai dewa, kini Soeharto paling terhujat di Indonesia. Sebagai pemimpin
bangsa dan negara Republik Indonesia, Pak Harto menjadi pusat perhatian
dan sorotan, tidak saja dari semua warga Republik ini, tetapi oleh para
pakar dan pemerhati politik dari manca negara.
Rezim
Orde Baru yang ia bangun selama berkuasa, banyak memunculkan
kontroversi. Ada yang memuji kepemimpinan beliau sebagai “Bapak
Pembangunan” dan lainnya namun banyak juga yang mengutuk dengan “Gantung
Soeharto”. Bahkan ketika beliau sakit sampai akhirnya meninggal pada
tanggal 28 Januari 2008 pada usia 86 tahun, ia masih menjadi bahan
perbincangan yang menimbulkan banyak kotroversi. Hal itu menyangkut
kelanjutan kasus korupsi yang di dakwakan kepada almarhum, dan kasus lai
selama menjabat sebagai presiden.
Kehidupan
Pak Harto sebagai seorang pemimpin bangsa memang menarik untuk dikaji.
Meskipun banyak sisi negatif yang telah melekat pada beliau, namun
banyak pula pelajaran berharga yang dapat kita jadikan bekal untuk
memimpin. Untuk itulah, melalui makalah ini penulis mencoba menyampaikan
secuil kepemimpinan Pak Harto, dengan harapan bisa mengambil pelajaran
tentang kepemimpinan beliau.
B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah makalah ini antara lain adalah:
1. Siapakah Soeharto?
2. Bagaimana kepribadian Soeharto?
3. Bagaimana latar belakang keluarga dan pendidikannya?
4. Bagaimana karir militer dan politik Soeharto?
5. Bagaimana jasa-jasa Soeharto?
6. Bagaimana nilai-nilai kepemimpinan Soeharto?
C. Tujuan
Tujuan dari pembahasan makalah ini antara lain adalah:
1. Mengetahui siapakah Soeharto.
2. Mengetahui kepribadian Soeharto.
3. Mengetahui latar belakang keluarga dan pendidikannya.
4. Mengetahui karir militer dan politik Soeharto.
5. Mengetahui jasa-jasa Soeharto.
6. Mengetahui nilai-nilai kepemimpinan Soeharto.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Soeharto
1. Sebagai Presiden Indonesia ke-2
Wakil Presiden:
Sri Sultan Hamengkubuwono IX (1973–1978)
Adam Malik (1978–1983)
Umar Wirahadikusumah (1983–1988)
Sudharmono (1988–1993)
Try Sutrisno (1993–1998)
B.J. Habibie (1998)
Pendahulu: Soekarno
Pengganti: B.J. Habibie
2. Sebagai Menteri Pertahanan ke-14
Masa jabatan
28 Maret 1966–17 Oktober 1967
28 Maret 1966–17 Oktober 1967
3. Lahir: 8 Juni 1921 Kemusuk, Bantul, Yogyakarta, Hindia Belanda
4. Meninggal: 27 Januari 2008 (umur 86) Jakarta, Indonesia
5. Kebangsaan: Indonesia
6. Partai politik: Golkar
7. Profesi: Tentara
8. Agama: Islam
B. Latar Belakang Keluarga[1]
Beberapa keluarga dari Soeharto adalah sebagai berikut, ayah Kertoredjo alias Wagiyo alias Panjang alias Kertosudiro, ibunya bernama Sukirah, istrinya adalah Tien Soeharto, dan anak-anaknya adalah Siti Hardijanti Rukmana (Tutut), Sigit Harjojudanto (Sigit), Bambang Trihatmodjo (Bambang), Siti Hediati Hariyadi (Titiek), Hutomo Mandala Putra (Tommy), dan Siti Hutami Endang Adiningsih (Mamiek).
Pada 8 Juni 1921, Ibu Sukirah melahirkan bayi laki-laki di rumahnya yang sederhana di Dusun Kemusuk, Desa Argomulyo, Kecamatan Sedayu, Bantul, Yogyakarta.
Kelahiran itu dibantu dukun bersalin bernama Mbah Kromodiryo yang juga
adik kakek Sukirah, Mbah Kertoirono. Oleh ayahnya, Kertoredjo alias
Wagiyo alias Panjang alias Kertosudiro bayi laki-laki itu diberi nama
Soeharto. Dia adalah anak ketiga Kertosudiro dengan Sukirah yang
dinikahinya setelah lama menduda. Dengan istri pertama, Kertosudiro yang
menjadi petugas pengatur air desa atau ulu-ulu, dikaruniai dua anak.
Perkawinan Kertosudiro dan Sukirah tidak bertahan lama. Keduanya
bercerai tidak lama setelah Soeharto lahir. Sukirah menikah lagi dengan
Pramono dan dikaruniai tujuh anak, termasuk putra kedua, Probosutedjo.
Belum
genap 40 hari, bayi Soeharto dibawa ke rumah Mbah Kromo karena ibunya
sakit dan tidak bisa menyusui. Mbah Kromo kemudian mengajari Soeharto
kecil untuk berdiri dan berjalan. Soeharto juga sering diajak ke sawah.
Sering, Mbah Kromo menggendong Soeharto kecil di punggung ketika sedang
membajak sawah. Kenangan itu tidak pernah dilupakan Soeharto. Terlebih
ketika kakeknya memberi komando pada kerbau saat membajak sawah. Karena
dari situlah, Soeharto belajar menjadi pemimpin. Soeharto juga suka
bermain air, mandi lumpur atau mencari belut.
Ketika
semakin besar, Soeharto tinggal bersama kakeknya, Mbah Atmosudiro, ayah
dari ibunya. Soeharto sekolah ketika berusia delapan tahun, tetapi
sering berpindah. Semula disekolahkan di Sekolah Dasar (SD) di Desa
Puluhan, Godean. Lalu, pindah ke SD Pedes (Yogyakarta) lantaran ibu dan
ayah tirinya, Pramono pindah rumah ke Kemusuk Kidul. Kertosudiro
kemudian memindahkan Soeharto ke Wuryantoro, Wonogiri, Jawa Tengah.
Soeharto dititipkan di rumah bibinya yang menikah dengan seorang mantri
tani bernama Prawirowihardjo. Soeharto diterima sebagai putra paling tua
dan diperlakukan sama dengan putra-putri Prawirowihardjo. Soeharto
kemudian disekolahkan dan menekuni semua pelajaran, terutama berhitung.
Dia juga mendapat pendidikan agama yang cukup kuat dari keluarga
bibinya.
Kegemaran
bertani tumbuh selama Soeharto menetap di Wuryantoro. Di bawah
bimbingan pamannya yang mantri tani, Soeharto menjadi paham dan menekuni
pertanian. Sepulang sekolah, Soeharto belajar mengaji di langgar
bersama teman-temannya. Belajar mengaji bahkan dilakukan sampai semalam
suntuk. Ia juga aktif di kepanduan Hizbul Wathan dan mulai mengenal para
pahlawan seperti Raden Ajeng Kartini dan Pangeran Diponegoro dari
sebuah koran yang sampai ke desa. Setamat Sekolah Rendah (SR) empat
tahun, Soeharto disekolahkan oleh orang tuanya ke sekolah lanjutan
rendah di Wonogiri. Setelah berusia 14 tahun, Soeharto tinggal di rumah
Hardjowijono. Pak Hardjowijono adalah teman ayahnya yang pensiunan
pegawai kereta api. Hardjowijono juga seorang pengikut setia Kiai
Darjatmo, tokoh agama terkemuka di Wonogiri waktu itu.
Karena
sering diajak, Soeharto sering membantu Kiai Darjatmo membuat resep
obat tradisional untuk mengobati orang sakit. Soeharto kembali ke
kampung asalnya, Kemusuk untuk melanjutkan sekolah di Sekolah Menengah
Pertama (SMP) Muhammadiyah di Yogyakarta. Itu dilakukannya karena di
sekolah itu siswanya boleh mengenakan sarung dan tanpa memakai alas kaki
(sepatu).
Setamat
SMP, Soeharto sebenarnya ingin melanjutkan ke sekolah yang lebih
tinggi. Apa daya, ayah dan keluarganya yang lain tidak mampu membiayai
karena kondisi ekonomi. Soeharto pun berusaha mencari pekerjaan ke sana
ke mari, namun gagal. Ia kembali ke rumah bibinya di Wuryantoro. Di
sana, ia diterima sebagai pembantu klerek pada sebuah Bank Desa
(Volk-bank). Tidak lama kemudian, dia minta berhenti.
Suatu
hari pada tahun 1942, Soeharto membaca pengumuman penerimaan anggota
Koninklijk Nederlands Indisce Leger (KNIL). KNIL adalah tentara kerajaan
Belanda. Ia mendaftarkan diri dan diterima menjadi tentara. Waktu itu,
ia hanya sempat bertugas tujuh hari dengan pangkat sersan, karena
Belanda menyerah kepada Jepang. Sersan Soeharto kemudian pulang ke Dusun
Kemusuk. Justru di sinilah, karier militernya dimulai.
C. Latar Belakang Pendidikan Dan Karir Militer[2]
Berbicara tentang Soeharto, karir pendidikannya lebih banyak di pendidikan kemiliteran. Ia menempuh Sekolah Dasar (SD) di Desa Puluhan, Godean dan SD Pedes (Yogyakarta), lalu sekolah lanjutan rendah di Wonogiri dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) Muhammadiyah di Yogyakarta.
Pada
1 Juni 1940, ia diterima sebagai siswa di sekolah militer di Gombong,
Jawa Tengah. Setelah enam bulan menjalani latihan dasar, ia tamat
sekolah militer sebagai lulusan terbaik dan menerima pangkat kopral. Ia
terpilih menjadi prajurit teladan di Sekolah Bintara, Gombong serta
resmi menjadi anggota TNI pada 5 Oktober 1945.
Dia
bergabung dengan pasukan kolonial Belanda, KNIL. Saat Perang Dunia II
berkecamuk pada 1942, ia dikirim ke Bandung untuk menjadi tentara
cadangan di Markas Besar Angkatan Darat selama seminggu. Setelah
berpangkat sersan tentara KNIL, dia kemudian menjadi komandan peleton,
komandan kompi di dalam militer yang disponsori Jepang yang dikenal
sebagai tentara PETA, komandan resimen dengan pangkat mayor, dan
komandan batalyon berpangkat letnan kolonel.
Setelah
Perang Kemerdekaan berakhir, ia tetap menjadi Komandan Brigade Garuda
Mataram dengan pangkat letnan kolonel. Ia memimpin Brigade Garuda
Mataram dalam operasi penumpasan pemberontakan Andi Azis di Sulawesi.
Kemudian, ia ditunjuk sebagai Komadan APRIS (Angkatan Perang Republik
Indonesia Serikat) Sektor Kota Makassar yang bertugas mengamankan kota
dari gangguan eks KNIL/KL.
Pada
1 Maret 1949, ia ikut serta dalam serangan umum yangberhasil menduduki
Kota Yogyakarta selama enam jam. Inisiatif itu muncul atas saran Sri
Sultan Hamengku Buwono IX kepada Panglima Besar Soedirman bahwa Brigade X
pimpinan Letkol Soeharto segera melakukan serangan umum di Yogyakarta
dan menduduki kota itu selama enam jam untuk membuktikan bahwa Republik
Indonesia (RI) masih ada.
Pada
usia sekitar 32 tahun, tugasnya dipindahkan ke Markas Divisi dan
diangkat menjadi Komandan Resimen Infenteri 15 dengan pangkat letnan
kolonel (1 Maret 1953). Pada 3 Juni 1956, ia diangkat menjadi Kepala
Staf Panglima Tentara dan Teritorium IV Diponegoro di Semarang. Dari
Kepala Staf, ia diangkat sebagai pejabat Panglima Tentara dan Teritorium
IV Diponegoro. Pada 1 Januari 1957, pangkatnya dinaikkan menjadi
kolonel.
Lembaran
hitam juga sempat mewarnai lembaran kemiliterannya. Ia dipecat oleh
Jenderal Nasution sebagai Pangdam Diponegoro. Peristiwa pemecatan pada
17 Oktober 1959 tersebut akibat ulahnya yang diketahui menggunakan
institusi militernya untuk meminta uang dari perusahaan-perusahan di
Jawa Tengah. Kasusnya hampir dibawa ke pengadilan militer oleh Kolonel
Ahmad Yani. Atas saran Jendral Gatot Subroto saat itu, dia dibebaskan
dan dipindahkan ke Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (SESKOAD) di
Bandung, Jawa Barat. Pada usia 38 tahun, ia mengikuti kursus C SSKAD
(Sekolah Staf dan Komando AD) di Bandung dan pangkatnya dinaikkan
menjadi brigadir jenderal pada 1 Januari 1960. Kemudian, dia diangkat
sebagai Deputi I Kepala Staf Angkatan Darat di usia 39 tahun.
Pada
1 Oktober 1961, jabatan rangkap sebagai Panglima Korps Tentara I Caduad
(Cadangan Umum AD) yang telah diembannya ketika berusia 40 tahun
bertambah dengan jabatan barunya sebagai Panglima Kohanudad (Komando
Pertahanan AD). Pada tahun 1961 tersebut, ia juga mendapatkan tugas
sebagai Atase Militer Republik Indonesia di Beograd, Paris (Perancis),
dan Bonn (Jerman). Di usia 41 tahun, pangkatnya dinaikkan menjadi mayor
jenderal (1 Januari 1962) dan menjadi Panglima Komando Mandala
Pembebasan Irian Barat dan merangkap sebagai Deputi Wilayah Indonesia
Timur di Makassar. Sekembalinya dari Indonesia Timur, Soeharto yang
telah naik pangkat menjadi mayor jenderal, ditarik ke markas besar ABRI
oleh Jenderal A.H. Nasution. Di pertengahan tahun 1962, Soeharto
diangkat sebagai Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat
(Kostrad) hingga 1965.
Sekitar
setahun kemudian, tepatnya, 2 Januari 1962, Brigadir Jenderal Soeharto
diangkat sebagai Panglima Komando Mandala Pembebasan Irian Barat. Mayor
Jenderal Soeharto dilantik sebagai Menteri Panglima Angkatan Darat dan
segera membubarkan Partai Komunis Indonesia (PKI) dan ormas-ormasnya.
Setelah diangkat sebagai Panglima Komando Strategis Angkatan Darat
(Kostrad) pada 1 Mei 1963, ia membentuk Komando Operasi Pemulihan
Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib) untuk mengimbangi G-30-S yang
berkecamuk pada 1 Oktober 1965. Dua hari kemudian, tepatnya 3 Oktober
1965, Mayjen Soeharto diangkat sebagai Panglima Kopkamtib. Jabatan ini
memberikan wewenang besar untuk melakukan pembersihan terhadap
orang-orang yang dituduh sebagai pelaku G-30-S/PKI.
D. Kepribadian Soeharto
Kepribadian
Soeharto dipengaruhi oleh banyak faktor. Hal itu dapat dilihat dari
latar belakang beliau, yakni sebagai seorang muslim, sebagai seorang
keturunan jawa, dan sebagai anggota militer. Ketiga latar belakang
Soeharto tersebut, secara langsung ataupun tidak telah membentuk pribadi
seorang Soeharto. Kepribadian tersebut yang kemudian juga berpengaruh
pada setiap kebijakannya.
Ketiga
faktor tersebut yang akan menjadi fokus dalam pembahasan kali ini.
Ketiganya akan terlihat dalam sifat, perilaku, dan kebiasaan-kebiasaan
Soeharto.
1. Soeharto Sebagai Keturunan Jawa[3]
Konsep
Jawa dapat terlihat penerapannya pada Kerajaan-kerajaan Jawa. Kerajaan
jawa merupakan tempat yang sangat kental unsur-unsur kejawen. Pola kehidupan raja, keluarganya, pejabat pemerintah diatur oleh tradisi-tradisi Jawa.
Salah
satu kerajaan Jawa yang terkenal adalah Kerajaan Mataram. Sudah
menjadi pengetahuan umum bahwa dinasti Mataram adalah dinasti yang
muncul dari keluarga petani. Karena itu untuk dapat diterima rakyat
banyak dinasti atau para raja dari dinasti ini terus berusaha
memperlihatkan keunggulannya sebagai trahing kusuma, rembesing madu, wijining atapa, tedhaking andana warih. Sopan santun, tutur katanya lemah lembut, sumeh
(murah senyum), tak pernah marah, ramah, dll, merupakan sifat-sifat
yang melekat pada diri soeharto. Kesemuanya itu tak lepas dari usaha
soeharto untuk menarik simpati rakyat demi menunjukkan keunggulan
moralnya.
Dalam
sejarahnya, dinasti Mataram selalu merasa dirinya terancam oleh
pusat-pusat kekuasaan lain. Oleh karena itu dinasti Mataram selalu
terlibat dalam usaha-usaha untuk terus mengukuhkan diri. Di samping itu
dinasti Mataram memandang kekuasaan itu sebagai suatu keunggulan, yang
utuh dan bulat. Artinya kekuasaan itu tidak boleh bersaing, tidak
terkotak-kotak atau terbagi-bagi, dan menyeluruh (tidak hanya mengenai
bidang-bidang tertentu). Kekuasaan raja seperti kekuasaan dewa, yang
agung dan binatara. Karena itu raja-raja mataram itu sering
menggambarkan diri sebagai raja yang agung dan binathara, baudhendha nyakrawati (agung
laksana dewa, pemelihara hukum, pemegang kekuasaan). Hal itu juga
dilakukan semasa kekuasaan soeharto. Dimana ia mampu memimpin selama 30
tahun tanpa ada yang mampu menurunkannya dari kursi presiden.
Dalam
kedudukan sebagai penguasa negara memang raja berhak mengambil tindakan
apa saja dengan cara bagaimana saja terhadapkerajaannya, segala isi
yang ada didalamnya, termasuk hidup manusia. Karena itu kalau raja
menginginkan sesuatu, dengan mudah ia akan memerintahkan untuk
mengambilnya. Kalau yang merasa berhak atas sesuatu itu
mempertahankannya, diperangilah dia. Sebaliknya kalau ada orang yang
dipandangn tidak pantas berada dalam kedudukannya, dengan mudah saja
raja mengambil kedudukannya, dengan membunuhnya bila perlu. Beberapa
kasus pembantaian masal (malari, tanjung priyok), menjadi bukti bahwa
soeharto juga mengikuti konsep tersebut. Selama berkuasa soeharto tidak
memberi kesempatan kepada lawan-lawannya untuk mengusik kursinya.
Sebagai
orang asli keturunan Jawa, maka Soeharto banyak menerapkan
konsep-konsep Jawa dalam kehidupannya sebagai seorang presiden.
Sehingga tak salah jika M.H. Ainun Najib (Cak Nun) mengatakan bahwa
sistem yang dibangun soeharto adalah sistem kerajaan bukan republik.
2. Soeharto Sebagai Seorang Muslim.
Presiden
Soeharto memulai hari kerjanya di waktu ia bangun pada kira-kira pukul
05.00. Sesudah mandi dan ke belakang sebagaimana yang dilakukannya
setiap pagi, iapun mengerjakan sholat susbuh. Selesai sholat subuh,
iapun minum secangkir kopi di kamar kerjanya yang kecil di rumah
keluarga Soeharto, jalan Cendana No 8, Menteng Jakarta.[4] Dari cerita tersebut, dapat dikatakan bahwa Soeharto termasuk muslim yang taat kepada Allah SWT.
Sebagai
seorang muslim AM Fatwa mempunyai analisis lain tentang diri Soeharto.
Fatwa menujuk salah satu momentum penting dalam perjalanan hidup
Soeharto, ibadah haji tahun 1991. Ibadah haji bukanlah peristiwa
biasa. Betapa pun, soeharto adalah seorang Kepala Negara Muslim. Fatwa
mengatakan bahwa, “Perubahan yang terjadi pada sosok Soeharto itu
sunnatullah. Usia dan pengalaman-pengalamannya kan membawa kepada
kearifan,” katanya.[5]
Selain
itu, Ketua Umum Majelis Dakwah Islamiyah (MDI), Chalid Mawardi,
mengusulkan agar Soeharto diakui sebagai Pemimpin Tertinggi Umat Islam
Indonesia (Amirul Muslimin al Indonesiy). Menurut politisi NU
ini, soeharto telah banyak melakukan terobosan-terobosan yang
menguntungkan umat Islam. Chalid yakin bahwa soeharto benar-benar
memperjuangkan Islam “dari posisinya sebagai Presiden Republik
Indonesia’. Apa yang telah dilakukan soeharto dengan Yayasan Amal
Bhakti Muslim Pancasila, yang telah membangun lebih dari 700 masjid, dan
Yayasan Dharmis, yang telah membiayai pengiriman ribuan da’I ke
daerah-daerah transmigran, serta berbagai kebijakan positif terhadap
umat Islam Indonesia, bukanlah hal yang kecil.[6]
3. Soeharto Sebagai Seorang Anggota Militer.
Kesempatan
yang dinanti-nanti Soeharto begitu lama, akhirnya datang juga ketika
pengantar surat menyerahkan sepucuk surat resmi yang isinya singkat
sekali. Soeharto harus segera melapor untuk dinas militer. Anak muda
itu, dengan badan yang tegap dan cerdas, dengan mudah diterima masuk
Sekolah Militer di Gombong, Jawa Tengah, pada tanggal 1 Juni 1940.[7] Perjalanan militer inilah yang kemudian membuat Soeharto menjadi orang yang terkenal.
Dari
Kepala Staf Divisi Diponegoro, Soeharto naik dalam beberapa bulan
menjadi Panglima Divisi. Pada tanggal 1 Januari 1957, dinaikkan
pangkatnya menjadi Kolonel (Infanteri). Di waktu itu catatan ringkas
mengenai dirinya adalah: umur 35 tahun; sudah lebih 16 tahun dinas
militer; berpengalaman sebagai Komandan di waktu perang dan damai.
Latar belakang militer ini, kemudian membentuk sifat-sifatnya yang
utama: pemberani, berdisiplin, berhati-hati dan dapat dipercaya.[8]
Sifat
lain yang muncul ketika ia di militer ialah Soeharto sangat sadar akan
masalah-masalah yang dihadapi oleh prajurit-prajuritnya, baik di waktu
dinas maupun di luar dinas. Ia menumpahkan perhatiaannya kepada
kesejahteraan anak buahnya.menurut doktrin militer Indonesia, mengingat
kehidupan rakyat banyak yang masih melarat, termasuk tentara, panglima
Divisi diponegoro menekankan perlunya dibangun kegiatan kooperasi
Angakatn Darat.[9]
Selain
itu Soeharto membangun dan memperluas konsep "Jalan Tengah"-nya
Jenderal Nasution menjadi konsep dwifungsi untuk memperoleh dukungan
basis teoritis bagi militer untuk memperluas pengaruhnya melalui
pejabat-pejabat pemerintahan, termasuk cadangan alokasi kursi di
parlemen dan pos-pos utama dalam birokrasi sipil. Peran dwifungsi ini
adalah peran militer di bidang politik yang permanen.
4. Soeharto sebagai seorang presiden
Konsep
diri atau peran Soeharto sebagai seorang presiden telah dibangun
puluhan tahun, dikonfirmasikan kabinet-kabinetnya, TNI (dulu ABRI), MPR
dan lembaga-lembaga negara lainnya, media massa (termasuk buku-buku yang
menyanjung dan menjilatnya, seperti Manajemen Presiden Soeharto), dan
seluruh rakyatnya. Untuk memperkukuh peran sosialnya, Soeharto
menggunakan mistifikasi. Berbagai upacara resmi, formalitas, dan gelar
yang impresif (misalnya “Bapak Pembangunan”) yang digunakan untuk
menciptakan kharismanya. Salah satu tehnik mistifikasi Soeharto adalah
menjaga nama baiknya
dengan khalayak. Selama puluhan tahun di dalam negeri ia hampir tidak
pernah bersedia diwawancarai oleh wartawan, baik media cetak ataupun
elektronik agar nama baiknya tetap terjaga.
Saat berlangsung dialog dengan rakyat kecil di daerah, yang biasanya
disiarkan TVRI dalam “Laporan Khusus” sesudah “Dunia Dalam Berita” pukul
21.00, dialog itu tampak kaku dan artifisial, karena berdasarkan
skenario yang telah disusun. Dengan pencitraan
itu, Soeharto berusaha menciptakan kekaguman atau keterpesonaan
khalayak kepada dirinya. Sikap Soeharto yang sedikit rendah hati boleh
jadi membuat khalayak terkesima untuk melihat presiden lebih dekat.
Konsep
diri itulah yang menjadi salah satu faktor Soeharto mampu berkuasa
selama tiga dekade. Selain itu mungkin banyak faktor lain yang sering
menimbulkan kontroversi dalam setiap pembahasannya.
E. Model Kepemimpinan Soeharto
Ada
beberapa model-model atau pola-pola kepemimpinan, yaitu pemimpin agama,
pemimpin politik, pemimpin organisasi sosial kemasyarakatan, dan
pemimpin perusahaan.
Salah
satu tipe aktor politik yang memiliki pengaruh dalam proses politik,
adalah pemimpin poitik dan pemerintahan. Dalam masyarakat terdapat
stratifikasi dari segi kekuasaan yang dimiliki: yang memiliki kekuasaaan
disebut elit (pemimpin), dan yang tidak memiliki kekuasaan, dan karena
itu mematuhi pemilik kekuasaan disebut massa rakyat. Dengan demikian
Pak Harto termasuk pemimpin politik yang sekaligus memiliki kekuasaan
atau elit. Hal itu didukung oleh nilai-nilai yang melekat pada diri Pak
Harto, seperti prestise, kekayaan ataupun kewenangan. Sebagai pemimpin
politik, maka Model kepemimpinan Pak Harto bisa dilihat sebagai
berikut,
1. Dilihat Dari Motif Pencarian Kekuasaan.
Model
kepemimpinan Soeharto dilihat dari motif mencari kekuasaan bisa
dikatakan bermotif kompensasi. Ada enam perilaku yang dianggap sebagai
indikator kepribadian dari pencari kekuasaan demi kompensasi. Keenam
perilaku tersebut adalah:
a. Ketidaksediaan mengizinkan orang lain mengambil bagian dalam bidang kekuasaannya.
b. Ketidaksediaan menerima nasihat mengenai fungsi yang seharusnya dalam bidang kekuasaannya.
c. Ketidaksediaan mendelegasikan kewajiban kepada pihak lain, kewajiban yang menjadi bagian utuh dari bidang kekuasaannya.
d. Ketidaksediaan
berkonsultasi dengan orang lain yang menyatakan diri memiliki
kekuasaan, mengenai peranan dalam bidang kekuasaannya.
e. Ketidaksediaan memberikan informasi kepada orang lain mengenai peranan dalam bidang kekuasaannya.
f. Keinginan untuk membentuk dan mengenakan sistem yang tertata kepada orang lain dalam arena politik.
Keenam
perilaku tersebut ada pada kepemimpinan Pak Harto. Perilaku pertama
misalnya dibuktikan dengan kepemimpinan Pak Harto yang bertahan 30 tahun
sebagai Presiden. Selain itu kebebasan press yang terkungkung selama
rezim Orde baru berkuasa, yang mengakibatkan proses penyebaran informasi
menjadi tidak sehat merupakan indikator perilaku ke-lima.
2. Dilihat Dari Distribusi Kekuasaan
Menurut Andrian distribusi kekuasaan terbagi dalam tiga model, yakni
a. Model elit yang memerintah, melukiskan kekuasaan sebagai dimiliki oleh kelompok kecil orang yang disebut elit
b. Model pluralis, menggambarkan kekuasaan sebagai dimiliki dengan berbagai kelompok sosial dalam masyarakat dan berbagai lembaga pemerintahan.
c. Model populis, melukiskan kekuasaan sebagai dipegang oleh setiap individu warga negara atau rakyat secara kolektif.
Model
pluralis mungkin bisa dikatakan cocok untuk menggambarkan distribusi
kekuasaan selama kepemimpinan Soeharto. Dimana kita meliahat di
Indonesia terdapat pembagian kekuasaan dalam 3 lembaga yakni, Eksekutif,
Legislatif, Yudikatif. Namun menurut penulis, kepemimpinan Soeharto
lebih cocok dikategorikan ke dalam model elit. Hal itu karena pada masa
Orde Baru kekuasaan hanya bisa dinikmati oleh segelintir orang. Tidak
ada kesempatan bagi mereka yang ingin berkuasa. Kalaupun ada itu tidak
bertahan lama. Kekuasaan Pak Harto selama 30 tahun yang tak
tergoyahkan, menjadi bukti hal itu.
3. Dilihat Dari Hubungan Antara Pemimpin Dan Yang Dipimpin.
Menurut Burns, ada dua tipe kepmimpinan berdasarkan hubungan antara yang memipin dan yang dipimpin, yaitu
a. Kepemimpinan Transaksional
Terjadi
manakala seorang pemimpin mengambil prakarsa dalam melakukan kontak
dengan pihak lain untuk tujuan pertukaran nilai-nilai yang dianggap
penting. Yang dipertukarkan itu mencakup bidang politik seperti suara (votes)
dan kekuasaan, ekonomi, seperti uang dan kekayaan lain, dan psikologi
seperti kesediaan mendengar keluhan orang lain. Kepemimpinan seperti
ini tidak menunjukkan kesamaan tujuan antara pemimpin dan yang dipimpin.
b. Kepemimpinan Transformatif
Terjadi
manakala seorang atau lebih terlibat dengan orang lain sedemikian rupa
sehingga mengangkat pemimpin dan yang dipimpin ke tingkat moral,
motivasi, dan kegiatan yang lebih tinggi. Tujuan mereka yang tadinya
berpisah menjadi satu.
Melihat
kedua tipe di atas, maka kepemimpinan Soeharto cenderung kepada tipe
kepemimpinan transaksional. Hal itu terlihat dari adanya sentralisisasi kekuasaan selama rezim Orde baru. Dimana Pak Harto berkuasa dalam setiap struktur pemerintahan. Lebih
jelas lagi kita lihat bagaimana semua pegawai negeri sipil harus
memilih Golkar sebagai partai. Sehingga hubungan yang terjadi antara
pemimpin dan rakyat seperti hubungan penjual yang memaksakan barang
daganannya. Bahkan lebih ngeri lagi, karena selama orde baru mereka yang menolak memilih Golkar maka akan mendapat murka penguasa.
F. Nilai-nilai Kepemimpinan Soeharto[10]
1. Kerja
keras. Soeharto adalah anak petani miskin yang mampu mengubah hidupnya
dari karir militer rendah hingga mampu menjadi presiden.
2. Mau
belajar. Diceritakan bahwa awal dari kepemimpinan Soeharto sebagai
presiden, ia tidak paham sama sekali tentang masalah ekonomi negara, ia
pun mendatangkan ahli-ahli ekonomi. Mereka disuruh menerangkan seluk
beluk ekonomi suatu negara, dengan ia berbekal catatan kecil. Selama
beberapa waktu ia meminta bantuan dan belajar kepad ahli-ahli ekonomi
tersebut. Namun tahun-tahun berikutnya bergantilah posisi, yaitu
Soeharto yang mendektekan hal-hal yang harus dilakukan untuk ekonomi
Indonesia.
3. Ahli
strategi. Soeharto dari pemikiran-pemikirannya mampu menciptakan
strategi-strategi yang mampu membawanya sampai ke jabatan presiden
selama 32 tahun.
4. Visioner. Di awal kepemimpinannya Soeharto menentukan arah kebijakan pembangunan ekonomi Indonesia secara jelas, harga pangan yang murah, tercukupinya kebutuhan pokok, serta pertumbuhan ekonomi.
5. Ambisius. Soeharto mengupayakan dengan sungguh-sungguh perencanaan yag sudah dibuat atau visinya agar benar-benar tercapai.
6. Peduli rakyat kecil. Keberpihakan
Soeharto pada petani sangat jelas, Soeharto lahir dari keluarga petani
sehingga mengenal betul bagaimana cara membangun pertanian.
Keberpihakannya pada petani itu berhasil menjadikan Indonesia maju di
bidang pertaniannya.
7. Tidak melupakan budaya. Kekuasaan Soeharto disebut sebagai representasi dari kepemimpinan Jawa, nuansa
jawasentris sangat kuat. Kepemimpinan Soeharto, berdasarkan perspektif
teleologi (tujuan), memang penuh dengan simbol-simbol kepemimpinan dalam
budaya Jawa (Tunjung W. Sutirto, 2008). Sistem politik Orde Baru
dibangun di atas falsafah dan nilai-nilai budaya Jawa yang kental. Dalam
memimpin Soeharto menguatkan ketokohannya sebagai pemimpin yang
berkuasa. Kekuasaan
Jawa memang hampir seluruh kekuasaan terpusat pada raja. Hal ini dapat
dilihat dari konsep kerajaan Mataram yang menggunakan konsep
keagunbinataraan. Kekuasaan besar yang wenang wisesa ing sanagari, dalam
konteks pewayangan sering dinamakan gung binathraha, bau dendha
nyakrawati (sebesar kekuasaan dewa, pemelihara hukum dan penguasa
dunia). Hal ini ditunjukkan Soeharto dengan membangun sistem kekuasaan
sentralistik, feodalis, dan otoriter. Kebijakan-kebijakan nasional
sepenuhnya di bawah pengaruh Presiden, bahkan DPR-MPR dipilih langsung
oleh Soeharto, hal ini membuat langkah Soeharto mulus menjadi Presiden
selama 32 Tahun.
8. Otoriter.
Soeharto yang memiliki latarbelakang etnik Jawa memanfaatkan
nilai-nilai luhur budaya Jawa sebagai simbol kekuasaannya. Dengan
nilai-nilai falsafah budaya Jawa, Soeharto melegitimasi setiap
sepak-terjangnya yang dianggap merepresentasikan kepemimpinan ala Jawa.
Manajemen kekuasaan Soeharto selama ini meniru pola kekuasaan Raja Jawa.
Pola inilah yang membuat pembantunya “yes-men”. Ketika Soeharto
berkehendak tidak ada satupun orang dekat yang berani membantah.
9. Pemimpin
yang merakyat. Pada awal masa kekuasaan Soeharto, karakter kepemimpinan
Soeharto yang kuat efektif mempersatukan Indonesia di tengah kekacauan
politik dan perpecahan, Soeharto juga awalnya merepresentasikan pemimpin
yang bersahaja dan merakyat. Bahkan menurut pengakuan Tri Sutrisno
beliau kerap datang ke daerah dengan cara menyamar untuk mendapatkan
gambaran langsung tentang kondisi masyarakat, karena jika diberitahukan
sebelumnya dengan menggunakan protokoler kondisi yang didapatkan tidak
apa adanya.
10. Cenderung
feodal dan patronase. Seseorang yang diberikan kekuasaan berlebih akan
menimbulkan penyelewengan terbukti benar. Soeharto menumpuk kekayaan,
Praktik KKN merajalela, pungli terjadi hampir disetiap lini. Muncul
budaya membangun suatu rekanan di era Soeharto, hal ini merupakan salah
satu contoh sistem patronase. Atasan dan bawahan seperti halnya hubungan
patron-client. Oleh karena itu, seorang bawahan harus pada suatu waktu
memberikan pisungun berupa asok glondhong miwah pengarem-arem
atau upeti. Padahal, sebenarnya budaya patronase merupakan salah satu
pemikiran luhur Jawa, dimana seorang bawahan sebagai bentuk pengabdian
memberikan sebagian rezekinya kepada atasan. Karena pada saat itu,
atasanlah yang memberi tanah garapan.
G. Kebijakan-Kebijakan Soeharto[11]
Dalam kepemimpinan Orde Baru cukup besar bagi nilai kebangsaan, kenegaraan bahkan kemanusiaan yang layak kita banggakan, terutama:
1. Kebijakan Budaya Politik Strategis Kebangsaan dan Kenegaraan
a. Melaksanakan
asas konstitusional dan institusional (kelembagaan) negara: MPR, DPR,
DPA, MA, BPK dan Kepresidenan dengan merintis N-Sistem Nasional.
b. Setiap
5 tahun, Presiden memimpin dan membentuk Kabinet dengan berbagai
Program Kabinet (yang ditetapkan) sebagai Kepala Pemerintahan Negara
(Presidensial).
c. Mengembangkan asas budaya kenegaraan secara konstitusional: melaksanakan GBHN.
d. Mengembangkan dan melaksanakan Pembangunan Nasional, melalui: REPELITA dan Asas Trilogi Pembangunan Nasional (stabilitas nasional, pertumbuhan dan pemerataan). Termasuk merumuskan Program PJP I (1970-1995) dan PJP II (1995-2020).
e. Membangun
dan mengembangkan berbagai Badan-Badan Kenegaraan: mulai BUMN dan
Bulog, sampai berbagai kelembagaan untuk rakyat: berbagai Yayasan, dan
Pusat-Pusat Pelayanan untuk Rakyat; seperti: SD Inpres, Puskesmas,
Posyandu, dsb.
2. Kebijakan Strategis dalam Visi-Misi Normatif Indonesia Raya
a. Melaksanakan amanat Supersemar dengan Membubarkan PKI yang kemudian dikukuhkan dengan Tap MPRS No. XXV/MPRS/1966
b. Cita dan Visi-Misi: Melaksanakan Pancasila dan UUD 45 secara murni dan konsekuen sebagai thema Kebangkitan Orde Baru.
c. Membudayakan Asas Tunggal Pancasila
d. Membudayakan asas: Konstitusional dengan Asas Demokrasi Pancasila
e. Membudayakan Pendidikan Moral Pancasila
f. Memutuskan hubungan diplomatik dengan RRC
g. Melaksanakan politik luar negeri Bebas-Aktif
h. Melaksanakan kepemimpinan Gerakan Non-Blok (GNB)
i. Merintis dan mengembangkan ASEAN
3. Kebijakan Strategis Nasional Kelembagaan
Presiden
sebagai Ketua Dewan Pertahanan Keamanan Nasional (Wanhankamnas),
melalui Sekretaris Jenderal (Sesjen), mendorong pengembangan berbagai
kebijakan strategis dan melembaga, terutama:
a. Membentuk Team P7 dan BP7
b. Wanhankamnas bekerja sama dengan berbagai PTN/PTS sejak 1973.
4. Berbagai Riset Strategis sebagai Karya Kerjasama dengan berbagai PTN/PTS dalam Bidang Riset Strategis.
5. Bidang politik
Sebagai
presiden Indonesia selama lebih dari 30 tahun, Soeharto telah banyak
memengaruhi sejarah Indonesia. Dengan pengambil alihan kekuasaan dari
Soekarno, Soeharto dengan dukungan dari Amerika Serikat memberantas paham komunisme dan melarang pembentukan partai komunis. Dijadikannya Timor Timur sebagai provinsi ke-27 (saat itu) juga dilakukannya karena kekhawatirannya bahwa partai Fretilin (Frente Revolucinaria De Timor Leste Independente/partai
yang berhaluan sosialis-komunis) akan berkuasa di sana bila dibiarkan
merdeka. Hal ini telah mengakibatkan menelan ratusan ribu korban jiwa
sipil. Sistem otoriter yang dijalankan Soeharto dalam masa pemerintahannya membuatnya populer dengan sebutan "Bapak", yang pada jangka panjangnya menyebabkan pengambilan keputusan-keputusan di DPR kala itu disebut secara konotatif oleh masyarakat Indonesia sebagai sistem "ABS" atau "Asal Bapak Senang".
6. Bidang kesehatan
Untuk mengendalikan jumlah penduduk Indonesia, Soeharto memulai kampanye Keluarga Berencana
yang menganjurkan setiap pasangan untuk memiliki secukupnya 2 anak. Hal
ini dilakukan untuk menghindari ledakan penduduk yang nantinya dapat
mengakibatkan berbagai masalah, mulai dari kelaparan, penyakit sampai
kerusakan lingkungan hidup.
7. Bidang pendidikan
Dalam bidang pendidikan Soeharto mempelopori proyek Wajib Belajar
yang bertujuan meningkatkan rata-rata taraf tamatan sekolah anak
Indonesia. Pada awalnya, proyek ini membebaskan murid pendidikan dasar
dari uang sekolah (Sumbangan Pembiayaan Pendidikan) sehingga anak-anak dari keluarga miskin juga dapat bersekolah. Hal ini kemudian dikembangkan menjadi Wajib Belajar 97 tahun.
Kesuksesan pemerintaan Soeharto
a. Sukses transmigrasi
b. Sukses KB
c. Sukses memerangi buta huruf
d. Sukses swasembada pangan
e. Pengangguran minimum
f. Sukses REPELITA (Rencana Pembangunan Lima Tahun)
g. Sukses Gerakan Wajib Belajar
h. Sukses Gerakan Nasional Orang-Tua Asuh
i. Sukses keamanan dalam negeri
j. Investor asing mau menanamkan modal di Indonesia
k. Sukses menumbuhkan rasa nasionalisme dan cinta produk dalam negeri
Kegagalan pemerintaan Soeharto
a. Semaraknya korupsi, kolusi, nepotisme
b. Pembangunan
Indonesia yang tidak merata dan timbulnya kesenjangan pembangunan
antara pusat dan daerah, sebagian disebabkan karena kekayaan daerah
sebagian besar disedot ke pusat
c. Munculnya rasa ketidakpuasan di sejumlah daerah karena kesenjangan pembangunan, terutama di Aceh dan Papua
d. Kecemburuan
antara penduduk setempat dengan para transmigran yang memperoleh
tunjangan pemerintah yang cukup besar pada tahun-tahun pertamanya
e. Bertambahnya kesenjangan sosial (perbedaan pendapatan yang tidak merata bagi si kaya dan si miskin)
f. Pelanggaran HAM kepada masyarakat non pribumi (terutama masyarakat Tionghoa)
g. Kritik dibungkam dan oposisi diharamkan
h. Kebebasan pers sangat terbatas, diwarnai oleh banyak koran dan majalah yang dibredel
i. Penggunaan kekerasan untuk menciptakan keamanan, antara lain dengan program "Penembakan Misterius"
j. Tidak ada rencana suksesi (penurunan kekuasaan ke pemerintah/presiden selanjutnya)
k. Menurunnya
kualitas birokrasi Indonesia yang terjangkit penyakit Asal Bapak
Senang, hal ini kesalahan paling fatal Orde Baru karena tanpa birokrasi
yang efektif negara pasti hancur.
l. Menurunnya kualitas tentara karena level elit terlalu sibuk berpolitik sehingga kurang memperhatikan kesejahteraan anak buah.
m. Pelaku ekonomi yang dominan adalah lebih dari 70% aset kekayaaan negara dipegang oleh swasta
H. Keburukan Soeharto
Presiden Soeharto dinilai memulai penekanan terhadap suku Tionghoa, melarang penggunaan tulisan Tionghoa tertulis
di berbagai material tertulis, dan menutup organisasi Tionghoa karena
tuduhan simpati mereka terhadap komunis. Walaupun begitu, Soeharto
terlibat persahabatan yang akrab dengan Lee Kuan Yew yang pernah manjadi Perdana Menteri Singapura yang beretnis Tionghoa.
Pada 1970 Soeharto melarang protes pelajar setelah demonstrasi yang meluas melawan korupsi.
Sebuah komisi menemukan bahwa korupsi sangat umum. Soeharto menyetujui
hanya dua kasus dan kemudian menutup komisi tersebut. Korupsi kemudian
menjadi sebuah endemik.
Dia memerintah melalui kontrol militer dan penyensoran media. Dia menguasai finansial dengan memberikan transaksi mudah dan monopoli
kepada saudara-saudaranya, termasuk enam anaknya. Dia juga terus
memainkan faksi berlainan di militer melawan satu sama lain, dimulai
dengan mendukung kelompok nasionalis dan kemudian mendukung unsur Islam.
Pada 1973 dia memenangkan jangka lima-tahun berikutnya melalui pemilihan "electoral college". dan juga terpilih kembali pada 1978, 1983, 1988, 1993, dan 1998. Soeharto mengubah UU Pemilu dengan mengizinkan hanya tiga partai yang boleh mengikuti pemilihan, termasuk partainya sendiri, Golkar. Oleh karena itu semua partai Islam yang ada diharuskan bergabung menjadi Partai Persatuan Pembangunan, sementara partai-partai non-Islam (Katolik dan Protestan) serta partai-partai nasionalis digabungkan menjadi Partai Demokrasi Indonesia.
Pada 1975, dengan persetujuan bahkan permintaan Amerika Serikat dan Australia, ia memerintahkan pasukan Indonesia untuk memasuki bekas koloni Portugal Timor Timur setelah Portugal mundur dan gerakan Fretilin
memegang kuasa yang menimbulkan kekacauan di masyarakat Timor Timur
Sendiri, serta kekhawatiran Amerika Serikat atas tidakan Fretilin yang
menurutnya mengundang campur tangan Uni Soviet. Kemudian pemerintahan
pro integrasi dipasang oleh Indonesia meminta wilayah tersebut
berintegrasi dengan Indonesia. Pada 15 Juli 1976 Timor Timur menjadi provinsi Timor Timur sampai wilayah tersebut dialihkan ke administrasi PBB pada 1999.
Korupsi menjadi beban berat pada 1980-an. Pada 5 Mei 1980 sebuah kelompok yang kemudian lebih dikenal dengan nama Petisi 50
menuntut kebebasan politik yang lebih besar. Kelompok ini terdiri dari
anggota militer, politisi, akademik, dan mahasiswa. Media Indonesia
menekan beritanya dan pemerintah mecekal penandatangannya. Setelah pada 1984 kelompok ini menuduh bahwa Soeharto menciptakan negara satu partai, beberapa pemimpinnya dipenjarakan.
Catatan hak asasi manusia Soeharto juga semakin memburuk dari tahun ke tahun. Pada 1993 Komisi HAM PBB
membuat resolusi yang mengungkapkan keprihatinan yang mendalam terhadap
pelanggaran hak-hak asasi manusia di Indonesia dan di Timor Timur.
Presiden AS Bill Clinton mendukungnya.
Untuk
menjaga stabilitas nasional atau lebih tepatnya memastikan semua di
bawah kendali Soeharto, Presiden ke 2 RI itu melakukan tindakan represif
terhadap musuh politiknya, Komnas HAM menyatakan paling tidak ada 5
pelanggaran berat HAM yang dilakukan oleh pemerintah Soeharto Lima
perkara yang diindikasikan sebagai pelanggaran HAM berat adalah kasus
Pulau Buru; Penembakan Misterius (Petrus); Peristiwa Tanjung Priok;
Kebijakan Daerah Operasi Militer di Aceh dan Papua; serta Kasus 27 Juli.
Selain itu Soeharto tidak memberikan kebebasan pers, berserikat,
berkumpul, berpendapat. Semua harus tunduk pada pemerintahan pusat.
Pada 1996 Soeharto berusaha menyingkirkan Megawati Soekarnoputri dari kepemimpinan Partai Demokrasi Indonesia
(PDI), salah satu dari tiga partai resmi. Di bulan Juni, pendukung
Megawati menduduki markas besar partai tersebut. Setelah pasukan
keamanan menahan mereka, kerusuhan pecah di Jakarta pada tanggal 27 Juli 1996 (peristiwa Sabtu Kelabu) yang dikenal sebagai "Peristiwa Kudatuli" (Kerusuhan Dua Tujuh Juli).
Setelah
Soeharto resmi mundur dari jabatannya sebagai presiden, berbagai elemen
masyarakat mulai menuntut agar digelar pengusutan dan pengadilan atas
mantan presiden yang bekuasa paling lama di Indonesia itu. Pada 1 September
1998, tim Kejaksaan Agung mengumumkan adanya indikasi penggunaan uang
yayasan di bawah pemerintahan mantan Presiden Soeharto. Melalui Televisi
Pendidikan Indonesia (TPI) pada 6 September 1998, Soeharto muncul dan menyatakan bahwa dia tidak mempunyai kekayaan di luar negeri.
Jaksa
Agung AM Ghalib dan Menko Wasbang/PAN Hartarto menemuinya di Jalan
Cendana (Jakarta) untuk mengklarifikasi penyataan tersebut (21 September 1998). Pada 21 November
1998, Fraksi Karya Pembangunan (FKP) mengusulkan kepada pemerintah agar
menetapkan mantan Presiden Soeharto sebagai tahanan kota. Ini merupakan
tindak awal pengusutan harta dan kekayaan Soeharto yang diduga berasal
dari Kolusi, Korupsi, dan Nepotisme (KKN).
Pada 3 Desember
1998, Presiden BJ Habibie menginstruksikan Jaksa Agung AM Ghalib segera
mengambil tindakan hukum memeriksa mantan Presiden Soeharto. Pada 9 Desember
1998, Soeharto diperiksa tim Kejaksaan Agung di Kejaksaan Tinggi
Jakarta sehubungan dengan dana yayasan, program mobil nasional, kekayaan
Soeharto di luar negeri, dan kasus Tapos. Majalah Time melansir berita
tentang kekayaan Soeharto di luar negeri yang mencapai US$15 miliar (22 Mei 1999). Pada 27 Mei
1999, Soeharto menyerahkan surat kuasa khusus kepada Jaksa Agung AM
Ghalib untuk menelisik kekayaannya di Swiss dan Austria, seperti
diberitakan Majalah Time. Pada 2 Juni
1999, Soeharto mengadukan Majalah Time ke Markas Besar Kepolisian
Republik Indonesia atas tuduhan memfitnah pada pemberitaannya. Soeharto
menuntut ganti rugi sekitar 27 miliar dollar AS.
Soeharto
memiliki dan mengetuai tujuh buah yayasan, yaitu Yayasan Dana Sejahtera
Mandiri, Yayasan Supersemar, Yayasan Dharma Bhakti Sosial (Dharmais),
Yayasan Dana Abadi Karya Bhakti (Dakab), Yayasan Amal Bhakti Muslim
Pancasila, Yayasan Dana Gotong Royong Kemanusiaan, Yayasan Trikora. Pada
1995, Soeharto mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor 90 Tahun 1995.
Keppres ini menghimbau para pengusaha untuk menyumbang 2 persen dari
keuntungannya untuk Yayasan Dana Mandiri.
Hasil
penyidikan kasus tujuh yayasan Soeharto menghasilkan berkas setebal
2.000-an halaman. Berkas ini berisi hasil pemeriksaan 134 saksi fakta
dan 9 saksi ahli, berikut ratusan dokumen otentik hasil penyitaan dua
tim yang pernah dibentuk Kejaksaan Agung, sejak tahun 1999.
Menurut Transparency International,
Soeharto menggelapkan uang dengan jumlah terbanyak dibandingkan
pemimpin dunia lain dalam sejarah dengan perkiraan 15–35 miliar dolar
A.S. selama 32 tahun masa pemerintahannya.
Pada 12 Mei 2006, bertepatan dengan peringatan sewindu Tragedi Trisakti, Jaksa Agung Abdul Rahman Saleh mengeluarkan pernyataan bahwa pihaknya telah mengeluarkan Surat Keputusan Penghentian Penuntutan (SKPP) perkara mantan Presiden Soeharto, yang isinya menghentikan penuntutan dugaan korupsi mantan Presiden Soeharto pada tujuh yayasan
yang dipimpinnya dengan alasan kondisi fisik dan mental terdakwa yang
tidak layak diajukan ke persidangan. SKPP itu dikeluarkan Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan pada 11 Mei 2006, namun SKPP ini lalu dinyatakan tidak sah oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada 12 Juni 2006.
BAB III
PENUTUP
PENUTUP
A. Kesimpulan
Soeharto adalah Presiden Indonesia ke-2, masa jabatan 12 Maret 1967–21 Mei 1998 (31 tahun). Ibunya Sukirah, dan ayahnya Kertosudiro. Sejak bayi. Hidupnya sudah berpindah-pindah, mulai dari diasuh Mbah Kromo, Mbah Atmosudiro, hingga bibinya di Wuryantoro, Wonogiri, Jawa Tengah.
Soeharto menempuh Sekolah Dasar (SD) di Desa Puluhan, Godean dan SD Pedes (Yogyakarta), lalu sekolah lanjutan rendah di Wonogiri dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) Muhammadiyah di Yogyakarta.
Pada
1 Juni 1940, ia diterima sebagai siswa di sekolah militer di Gombong,
tamat sebagai lulusan terbaik dan menerima pangkat kopral. Ia terpilih
menjadi prajurit teladan di Sekolah Bintara, Gombong serta resmi menjadi
anggota TNI pada 5 Oktober 1945.
Dia bergabung dengan pasukan kolonial Belanda, KNIL. Saat Perang Dunia II berkecamuk pada 1942. Setelah
berpangkat sersan tentara KNIL, dia kemudian menjadi komandan peleton,
komandan kompi di dalam militer yang disponsori Jepang yang dikenal
sebagai tentara PETA, komandan resimen dengan pangkat mayor, dan
komandan batalyon berpangkat letnan kolonel.
Pada 1 Maret 1949, ia ikut serta dalam serangan umum yangberhasil menduduki Kota Yogyakarta selama enam jam. Pada
usia sekitar 32 tahun, tugasnya dipindahkan ke Markas Divisi dan
diangkat menjadi Komandan Resimen Infenteri 15 dengan pangkat letnan
kolonel (1 Maret 1953). Pada 3 Juni 1956, ia diangkat menjadi Kepala
Staf Panglima Tentara dan Teritorium IV Diponegoro di Semarang. Dari
Kepala Staf, ia diangkat sebagai pejabat Panglima Tentara dan Teritorium
IV Diponegoro. Pada 1 Januari 1957, pangkatnya dinaikkan menjadi
kolonel. Pada
1 Oktober 1961, jabatan rangkap sebagai Panglima Korps Tentara I Caduad
(Cadangan Umum AD) yang telah diembannya ketika berusia 40 tahun
bertambah dengan jabatan barunya sebagai Panglima Kohanudad (Komando
Pertahanan AD). Sekitar
setahun kemudian, tepatnya, 2 Januari 1962, Brigadir Jenderal Soeharto
diangkat sebagai Panglima Komando Mandala Pembebasan Irian Barat.
Kepribadian Soeharto dapa dilihat dari sisi Soeharto sebagai keturunan Jawa, sebagai Seorang Muslim, sebagai seorang anggota militer, dan sebagai seorang presiden. Model kepemimpinan Soeharto dilihat dari motif pencarian kekuasaan adalah bermotif kompensasi, dilihat dari distribusi kekuasaan adalah model pluralis, dan ilihat dari hubungan antara pemimpin dan yang dipimpin, kepemimpinan Soeharto cenderung kepada tipe kepemimpinan transaksio,KB, memerangi buta huruf, swasembada pangan, pengangguran minimum, REPELITA (Rencana Pembangunan Lima Tahun), Gerakan Wajib Belajar, Gerakan Nasional Orang-Tua Asuh, keamanan dalam negeri, investor asing mau menanamkan modal di Indonesia, menumbuhkan rasa nasionalisme dan cinta produk dalam negeri.
Kegagalan pemerintaan Soeharto antara lain semaraknya
korupsi, kolusi, nepotisme; Pembangunan Indonesia yang tidak merata dan
timbulnya kesenjangan pembangunan antara pusat dan daerah, sebagian
disebabkan karena kekayaan daerah sebagian besar disedot ke pusat;
Munculnya rasa ketidakpuasan di sejumlah daerah karena kesenjangan
pembangunan, terutama di Aceh dan Papua; Kecemburuan antara penduduk
setempat dengan para transmigran yang memperoleh tunjangan pemerintah
yang cukup besar pada tahun-tahun pertamanya; Bertambahnya kesenjangan
sosial (perbedaan pendapatan yang tidak merata bagi si kaya dan si
miskin); Pelanggaran HAM kepada masyarakat non pribumi (terutama
masyarakat Tionghoa); Kritik dibungkam dan oposisi diharamkan; Kebebasan
pers sangat terbatas, diwarnai oleh banyak koran dan majalah yang
dibredel; Penggunaan kekerasan untuk menciptakan keamanan, antara lain
dengan program "Penembakan Misterius"; Tidak ada rencana suksesi
(penurunan kekuasaan ke pemerintah/presiden selanjutnya); Menurunnya
kualitas birokrasi Indonesia yang terjangkit penyakit Asal Bapak Senang,
hal ini kesalahan paling fatal Orde Baru karena tanpa birokrasi yang
efektif negara pasti hancur; Menurunnya kualitas tentara karena level
elit terlalu sibuk berpolitik sehingga kurang memperhatikan
kesejahteraan anak buah.; Pelaku ekonomi yang dominan adalah lebih dari
70% aset kekayaaan negara dipegang oleh swasta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar