BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG MASALAH
Dalam
sejarah dunia, kita mengenal manusia-manusia besar. Setiap masa dan
bangsa mempunyai manusia-manusia besarnya sendiri, dalam aneka bidang
bermacam pula kalibernya. Manusia besar itu adalah putera abad zamannya.
Sejarah nasional kita sendiri membuktikan bahwa memang setiap masa dan
zaman melahirkan manusia-manusia besar Indonesia. Salah satu dari mereka
itu ialah Soekarno, yang oleh bangsa Indonesia lebih dikenal sebagai
Bung Karno.
Meskipun
Bung Karno tidak lebih daripada sekedar penambung lidah rakyat
Indonesia, namun secara jujur harus diakui, beliau dengan segala
kelebihan dan kekurangannya, kekuatan dan kelemahannya, Bung Karno tidak
hanya kepunyaan Indonesia akan tetapi sudah menjadi milik dunia.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana latar belakang keluarga dan Pendidikan Soekarno?
2. Bagaimana kepemimpinan Soekarno dalam masa pergerakan dan perjuangan bangsa Indonesia?
3. Bagaimana kepemimpinan Soekarno dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia?
C. TUJUAN
1. Untuk mengetahui latar belakang keluarga dan Pendidikan Soekarno.
2. Untuk mengetahui kepemimpinan Soekarno dalam masa pergerakan dan perjuangan bangsa Indonesia.
3. Untuk mengetahui kepemimpinan Soekarno dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
BAB II
PEMBAHASAN
A. LATAR BELAKANG KELUARGA DAN PENDIDIKAN SOEKARNO
Presiden
pertama Republik Indonesia, Soekarno yang biasa dipanggil Bung Karno,
lahir di Blitar, Jawa Timur, 6 Juni 1901 dan meninggal di Jakarta, 21
Juni 1970. Ayahnya bernama Raden Soekemi Sosrodihardjo dan ibunya Ida
Ayu Nyoman Rai. Semasa hidupnya, beliau mempunyai tiga istri dan
dikaruniai delapan anak. Dari istri Fatmawati mempunyai anak Guntur, Megawati,
Rachmawati, Sukmawati dan Guruh. Dari istri Hartini mempunyai Taufan
dan Bayu, sedangkan dari istri Ratna Sari Dewi, wanita turunan Jepang
bernama asli Naoko Nemoto mempunyai anak Kartika.
Masa
kecil Soekarno hanya beberapa tahun hidup bersama orang tuanya di
Blitar. Semasa SD hingga tamat, beliau tinggal di Surabaya, di kos di
rumah Haji Oemar Said Tokroaminoto, politisi kawakan pendiri Syarikat
Islam. Kemudian melanjutkan sekolah di HBS (Hoogere Burger School). Saat
belajar di HBS itu, Soekarno telah menggembleng jiwa nasionalismenya.
Selepas lulus HBS tahun 1920, pindah ke Bandung dan melanjut ke THS
(Technische Hoogeschool atau sekolah Tekhnik Tinggi yang sekarang
menjadi ITB). Ia berhasil meraih gelar "Ir" pada 25 Mei 1926.
B. KEPEMIMPINAN SOEKARNO PADA MASA PERGERAKAN DAN PERJUANGAN
Pergerakan nasional
Imperialisme
Belanda di Indonesia makin lama makin mengembangkan sayapnya serta
memperteguh kedudukannya di sini. Sehingga Indonesia tetap menjadi
negeri pengambilan bekal hidup yaitu menjadi negeri pengambilan
bahan-bahan untuk pabrik-pabrik di Eropa. Di samping itu Indonesia juga
menjadi negeri pasar penjualan barang-barang hasil dari macam-macam
industry asing, dan menjadi pula lapangan usaha bagi modal besar. Tetapi
bagaimana pun sejarah membuktikan bahwa sejak imperialisme ada di
Indonesia, maka semenjak itu pula perlawanan rakyat Indonesia terjadi.
Bung
karno merupakan aktivis, yang semasa mudanya sudah mulai berjuang dalam
gerakan politik, dan pernah didik oleh H.O.S. Tjokroaminoto. Darah
pemimpin dan pejuang yang telah dimilikinya sejak usia mudanya semakin
menonjol setelah menamatkan pendidikannya di perguruan tinggi, ilmunya
semakin bertambah, dan jiwanya semakin matang. Pada tahun 4
Juli 1927 di kota Bandung Soekarno bersama-sama dengan Mr. Iskaq
Tjokrohadisurja, Dr. Samsi Sastrowidagdo, Mr. Budiarto, Mr. Sartono, Mr.
Sunarjo dan Anwari mendirikan PNI yang bertujuan mencapai: Kemerdkaan
Indonesia, berhaluan non cooperation dengan pemerintah kolonial Belanda.
Ir.
Soekarno yang terpilih sebagai ketua PNI yang pertama kali. Di bawah
pimpinannya PNI makin pesat kemajuannya. Perjuangan yang tegas membela
nasib kaum marhaen dan berjuang untuk mencapai kemerdekaan Indonesia,
serta sikapnya yang tidak mau bekerja sama dengan kaum imperalis itu
telah banyak menarik perhatian dan simpati rakyat Indonesia. Sehingga
PNI pada waktu itu benar-benar telah menjadi partai politik yang
mendapat tempat di hati rakyat.
Program perjuangan PNI meliputi bidang:
1. Mengenai
politik, ialah dengan jala meneguhkan kesadaran kebagsaan, memperkokoh
persatuan dan menghindarkan segala bendugan-bendungan yang menghambat
kemajuan politik dan kemerdekaan diri.
2. Melakukan pembangunan ekonomi, di dalam arti kata seluas-luasnya.
3. Membentuk susunan pengajaran kebangsaan
Tak
selang begitu lama sesudah Bung Karno bergerak dan berjuang dalam PNI,
kemudian ditangkap serta dijebloskan ke dalam penjara Banceuy di
Bandung. Selain pernah dijebloskan di dalam penjara Banceuy, Bung Karno juga pernah ke dalam penjara Sukamiskin.
Di
hadapan pengadilan colonial, Bung Karno menelanjangi kejahatan dan
kebusukan imperialism Belanda di Indonesia. Pleidooinya yang diucapkan
dengan gagah berani, yang kemudian dibukukan dengan judul Indonesia
Menggugat telah menggemparkan seluruh dunia. Meskipun demikian pleidooi
tersebut tidak dapat membebaskan Bung Krno dari segala tuduhan, bahkan
Bung Karno oleh hakim colonial dijatuhi hukuman 4 tahun. Gatot
Mangkupradja dihukum 2 tahun, Maskun 1 tahun 8 bulan, dan Supriadinata 1
tahun 3 bulan. Pemeriksaan Bung Karno s. yang merupakan suatu proses
politik ini mendapat perhatian yang cukup besar dari segenap lapisan
masyarakat.
Berduyun-duyun
rakyat dari daerah-daerah luar kota Bandung dating untuk menyaksikan
pemeriksaan terhadap Bung Karno, sehingga di dalam gedung serta halaman
depan edung landraan Bandung melimpah ruah dengan manusia. bertindak
sebagai pembela dalam perkara ini masing-masing ialah: Mr. sartono, Mr.
Sastromuljono, Mr. Sujudi dan R. Ipih Prawiradiputra.
Pemeriksaan
terhadap perkara Bung Karno cs. Ini baru selesai sesudah 19 kali
persidangan yang memakan waktu 4 bulan lamanya. Sedangkan yang bertindak
sebagai presiden landraad pada waktu itu ialah Mr. Sigenbeek van
Heukelom. Keputusan landraad Bandung ini kemudian diperkuat oleh Raad an
Justitie di Jakarta dalam sidangnya pada tanggal 17 April April 1931.
Berdasarkan
keputusan pemerintah colonial, maka Bung Karno dibuang ke pulau Flores.
Pada tanggal 17 Februari 1934 Bung Karno dengan didampingi oleh Inggit
Ganarsih, ibu mertua Bung Karno dan puteri angkatnya Ratna Djuami,
berangkat dengan kapal Van Riebeeck menuju tempat pembuangannya di pulau
Flores. Selama berada di tanah pembuanannya di Endeh, Flores, Bung
Karno tidak tinggal diam. Meskipun dilarang dalam kegiatan-kegiatan
politik namun berhubungan dengan bergaul rapat dengan rakyat, keluar
masuk kampung.
Pada
tanggal 14 Februari 1938, Bung Karno tidak hanya melanjutkan studinya
tentang Islam, melainkan secara resmi masuk menjadi angota Perserikatan
Muhammadiyah sejak tahun 1938. Bahkan Bung Karno menjadi ketua bagian
pengajaran Muhammadiyah daerah Bengkulu.
Di
dalam Muhammadiyah ini, Bung Karno bekerja giat untuk kemajuan
organisasi dan kejayaan Islam, sebagai pengabdian Bung Karno kepada
Tuhan, Bangsa dan Tanah Air Indonesia. Selama Bung Karno memegang
pimpinan bagian pengajaran Muhammadiyah di Bengkulu ini, banyak sekali
kemajuan dan perbaikan yang dicapai, berkat usaha dan prakarsa Bung
Karno.
Masa Pendudukan Jepang
Di
dalam masa pendudukan Jepang yang demikian sulit ini bukan main berat
perjuangan dan tanggung jawab yang terpikul di atas bahu para pemimpin
kita. Di masa itu tampaknya saja Bung Karno mengadakan kerja sama dengan
Jepang. Akan tetapi pada hakekatnya Bung Karno brsama-sama Bung Hatta,
Ki Hadjar Dewantara dan K.H. Mas Mansoer yang merupakan Empat Serangkai
berjuang dan menyusun tenaga dan kekuatan dari dalam. Tujuan perjuangan
Bung Karno untuk mencapai Kemerdekaan Indonesia tidak pernah berubah,
hanya taktik dan cara perjuangan itu berbeda.
Di
masa pendudukan Jepang ini Bung Karno tiaa henti-hentinya menganjurkan
akan persatuan, percaya kepada kekuatan sendiri dan melanjutkan sampai
cita-cita kemerdekaan Indonesia tercapai. Di dalam pidato-pidatonya Bung
Karno selalu menggembleng semangat rakyat untuk berjuang menuju
tercapainya kemerdekaan. Jiwa rakyat senantiasa dibakar oleh Bung Karno,
agar rakyat memiliki kesadaran nasional. Semangan nasionalisme dan
patriotisme selalu ditanamkan di dalam dada serta kalbu seluruh rakyat
Indonesia.
Pada
awalnya Bung Karno bergerak dalam AAA, kemudian memimpin PUTERA. Dan
menjelang tekuk lututnya tentara Jepang, Bung Karno duduk dalam BPUPKI.
Di dalam badan ini Bung Karno dimintai sumbangan pemikirannya mengenai
dasar Negara bagi Indonesia Merdeka, yang telah melahirkan hasil galian
mutiara dari bumi Pertiwi Indonesia sendiri yang berupa Pancasila yang
dikemukakannya pada tanggal 1 Juni 1945 di gedung Pejambon di Jakarta.
Walaupun
pada waktu Bung Karno mengemukakan gagasannya tentang Pancasila untuk
dipakai sebagai dasar filsafat negara Indonesia Merdeka, adalah masih
dalam masa pendudukan tentang fasisme Jepang, tetapi Bung Karno berusaha
meyakinkan kepada rakyat Indonesia. Gemblengan ini diterima oleh
tokoh-tokoh nasional lainnya serta rakyat Indonesia umunya. Beberapa
hari kemudian ide dan konsep dituangkan dalam Piagam Jakarta yang telah
mengantarkan kelahiran Indonesia ke pintu gerbang kemerdekaannnya, yang
ditandatangani oleh Bung karno serta tokoh-tokoh nasional lainnya pada
tanggal 22 Juni 1945.
C. KEPEMIMPINAN SOEKARNO DALAM MEMPERJUANGKAN KEMERDEKAAN
Pejuang Kemerdekaan
Bung Karno mulai terjun dalam arena perjuangan politik sejak usia mudanya 18 tahun masuk menjadi anggota Partai
Sarekat Islam di bawah pimpinan H.O.S. Tjokroaminoto. Waktu itu masih
sekolah di HBS Surabaya. Akan tetapi karena Bung Karno berbeda dasar
keyakinan politiknya, maka keanggotaannya dalam SI ini tidak lama.
Menurut keyakinannya, pergerakan poltik harus didasarkan kepada
kebangsaan, dimana yang menjadi urat nadinya harus dicari di kalangan
rakyat jelata, di kalangan kaum marhaen. Pada tahun1927, bersama Mr.
Iskaq Tjokrohadisurjo, Mr. Budiarto, Mr. Sunario, Mr. Sartono dan
lain-lain, Bung Karno mendirikan PNI (Perserikatan Nasional Indonesia),
yang mempunyai tujuan kemerdekaan Indonesia.
Semenjak
lahirnya PNI ini, Bung Karno telah menggembleng dan menanamkan
kesadaran politik di kalangan rakyat, bahwa kemerdekaan Indonesia akan
diperjuangkan dengan percaya kepada tenaga sendiri. Oleh sebab itu, PNI
berhaluan politik non-cooperation dengan pemerintah Belanda. Untuk
mencapai maksud dan tujuan ini Bung Karno membangunkan semangat dan
kesadaran rakyat, yang terkenal dengan ajaran triloginya: semangat
kebangsaan, kemauan nasional, meningkat kepada amal-perbuatan nasional.
Sejak dahulu Bung Karno berkeyakinan, bahwa tercapainya kemerdekaan
Indonesia itu sepenuhnya tergantung pada kesadaran rakyat sendiri.
Kelahiran PNI yang dipelopori oleh Bung Karno inilah merupakan titik
tolak daripada perjuangan kemerdekaan dan peran utama Bung Karno sebagai
pejuang kemerdekaan yang gigih dan ulet.
Di
tahun 1927 itu pula, lahirnya ajaran “Marhaenisme Bung Karno” yang
merupakan pedoman politik dan perjuangan. Marhaenisme merupakan marxisme
yang diterapkan atau disesuaikan dengan kondisi-kondisi di Indonesia.
Bung Karno mulai tampil ke tengah-tengah perjuangan politik dengan
konsepsi-konsepsi serta doktrin-doktrin ajarannya yang revolusioner
sejak Bung Karno mendirikan dan langsung memimpin PNI. Sebagai seorang
terpelajar yang berpendidikan tinggi, Bung Karno lebih senang berjuang
di tengah-tengah dan bersama-sama rakyat, daripada hidup mewah tetapi
menjadi alat kolonial. Sebagai seorang pejuang kemerdekaan, tidak jarang
Bung Karno ditangkap dan diseret ke depan pengadilan kolonial untuk
diadili. Bahkan sering pula Bung Karno harus menebus cita-cita
perjuangannya dengan bersedia untuk dijebloskan ke dalam penjara.
Meskipun demikian, semangat perjuangan Bung Karno serta cita-cita yang
terkandung dalam dadanya tidak padam, melainkan tetap menyala dan
berkobar-kobar terus memecahkan tembok-tembok dan dinding-dinding
penjara.
Sebagai
penyambung lidah rakyat, Bung Karno tanpa ragu-ragu membela hak-hak dan
kepentingan rakyat. Karena memang perjuangan Bung Karno bukanlah
perjuangan seorang diri pribadi, bukan untuk golongan tertentu, bukan
mewakili PNI partai yang dipimpinnya saja, akan tetapi mewakili
kepentingan rakyat dan suara rakyat sepenuhnya. Sebab Bung Karno
dilahirkan oleh rakyat, dibesarkan di tengah-tengah rakyat, dan berjuang
untuk kepentingan rakyat. Meskipun berbeda tempat, keadaan, cara dan
taktik perjuangan, namun tujuannya tetaplah satu, yaitu menuju ke
kemerdekaan Indonesia yang bulat. Tempat dan keadaan boleh
berganti-ganti, cara serta taktik boleh berubah-ubah, akan tetapi tujuan
tetap satu jua, yaitu: Indonesia merdeka.
Di
masa Jepang karena keadaan memaksa, Bung Karno memimpin PUTERA dan
lain-lain. Meskipun terjadi pasang naik dan pasang surutnya perjuangan,
namun Bung Karno tidak pernah kandas dan berkat bantuan rakyat seluruh
Indonesia, selalu muncul kembali dari setiap pukulan gelombang ujian
sejarah. Begitu pula di masa kemerdekaan. Pada tanggal 17 Agustus 1945
Bung Karno bersama Bung hatta memproklamirkan kemerdekaan Indonesia atas
nama bangsa Indonesia, kemudian keesokan harinya terpilih sebagai
Presiden pertama Republik Indonesia. Sejak itu ujian dan cobaan juga
datang bertubi-tubi, dari luar berupa agresi militer Belanda I dan II.
Pada waktu Yogyakarta sebagai Ibu Kota RI diduduki Belanda, Bung Karno
bersama-sama dengan para pemimpin lainnya ditangkap serta diasingkan
mula-mula ke Brastagi, Prapat, kemudian ke Bangka.
Berkat
perjuangan gerilya rakyat dan perjuangan diplomasi kita di front
internasional maka tercapailah persetujuan Indonesia-Belanda, dan Bung
Karno bersama-sama dengan pemimpin kita lainnya dikembalikan ke
Yogyakarta. Sejak itu Bung Karno aktif kembali memegang pimpinan
pemerintahan. Walaupun diasingkan, selama dalam pengasingan Bung Karno
tetap memimpin perjuangan Bangsa Indonesia. Belum lagi rongrongan dan
penyelewengan dari dalam negeri berupa pemberontakan-pemberontakan RMS,
Andi Aziz, Ibnu Hadjar, Daud Beureuh, DI-TIInya Kartosuwiryo dan Kahar
Muzakar, PRRI dan PERMESTA akan tetapi satu demi satu segala
penyelewengan itu dapat disapu bersih dan RI di bawah pimpinan Bung
Karno tetap tegak. Dari sejak Proklamasi melalui RIS kemudian kembali ke
Negara Kesatuan, dan akhirnya sampai pada lahirnya Dekrit Presiden 5
Juli 1959 yang mendekritkan kita kembali ke UUD 1945, Bung Karno tampil
ke muka dan memegang pimpinan bersama-sama dengan tokoh lainnya.
Setelah
perjanjian KMB, Belanda menolak untuk menyerahkan Irian Barat ke dalam
wilayah kekuasaan Republik Indonesia. Berulang kali dari kabinet ke
kabinet, dilakukan perjuangan diplomasi untuk mengembalikan Irian Barat
ini, tetapi gagal. Akhirnya Bung Karno mengomandokan TRIKORA pada
tanggal 19 Desember 1961 di Yogyakarta, sehingga kemudian Belanda
terpaksa menyerahkan Irian Barat melalui UNTEA kepada pemerintah
Republik Indonesia pada tanggal 1 Mei 1963. Bung Karno tidak saja
berjuang untuk kemerdekaan di masa penjajahan, akan tetapi mengantarkan
rakyat dan bangsa Indonesia sampai ke pintu gerbang kemerdekaan,
kemudian menyempurnakan kemerdekaan itu sebulat-bulatnya dari sabang
sampai merauke.
Penggali Pancasila
Berkat
kebijaksanaan dan pandangan yang jauh ke depan mendahului generasi
zamannya, Bung Karno pada tanggal 1 Juni 1945 telah mengemukakan hasil
galiannya yang didapat dari bumi Indonesia sendiri berupa “Pancasila”.
Seperti diketahui kelima sila dari pancasila itu adalah Ketuhanan Yang
Maha Esa, Kebangsaan, Peri Kemanusiaan, Kedaulatan Rakyat, Keadilan
Sosial. Lima sila yang diberi nama pancasila inilah yang diusulkan oleh
Bung Karno kepada seluruh rakyat untuk diterima serta dijadikan dasar
falsafah negara. Di dalam taraf perjuangan nasional di masa itu, ide
pancasila tersebut telah dituangkan ke dalam piagam Jakarta yang
ditandatangani oleh sembilan wakil rakyat indonesia pada tanggal 22 Juni
1945.
Setelah
kemerdekaan diproklamirkan oleh Bung Karno dan Bung Hatta atas nama
Bangsa Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, di dalam Konstitusi
Proklamasi yang berupa Undang-Undang Dasar 1945 itupun tercemin pula
didalamnya Falsafah Pancasila yang telah menjiwai isi dan kelahiran
Konstitusi Proklamasi tersebut. Demikian pula dengan bentuk Konstitusi
RIS maupun Konstitusi RI tahun 1950, tidak luput dari jiwa Pancasila
yang secara gamblang tercemin di dalamnya. Bahkan lahirnya Dekrit
Presiden pada tanggal 5 Juni 1959, yang merupakan penyetopan terhadap
kemungkinan adanya penyelewengan untuk mendirikan negara di atas dasar
yang lain, adalah dimaksudkan untuk menyelamatkan serta mempertahankan
Pancasila sebagai Dasar Filsafat Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Dengan demikian berarti bahwa Dekrit Presiden itu adalah penyelamat
Negara Pancasila dan untuk mengamankan jalannya revolusi kita.
Proklamator Kemerdekaan
Telah
berabad-abad Bangsa Indonesia kehilangan kemerdekaan politiknya,
semenjak datangnya imperialisme dan kolonialisme di tanah air kita.
Dengan demikian, maka telah sejak lama bangsa kita tiada bernegara,
karena kita hidup dalam penjajahan asing. Dari Belanda pindah kepada
Jepang, hingga pertengahan Agustus 1945. Pada tanggal 17 Agustus 1945,
tepat pada saat dan waktu serta tempat yang telah ditentukan Bung Karno
atas nama Bangsa Indonesia membacakan Proklamasi Kemerdekaan. Dengan
proklamasi itu, lahirlah secara resmi Negara Republik Indonesia yang
merdeka dan berdaulat, meliputi wilayah kekuasaannya dari sabang sampai
merauke.
Betapa
pentingnya arti tanggal 17 Agustus 1945 itu bagi kita, oleh karena pada
tanggal itu sesungguhnya tidak hanya merupakan saat dibacakannya
Proklamasi Kemerdekaan saja, akan tetapi sekaligus juga merupakan
lonceng kelahiran Bangsa Indonesia dan Negara Republik Indonesia yang
berbentuk kesatuan serta berdasarkan kebangsaan, dimana Pancasila
menjadi dasar falsafahnya. Sejarah mencatat, bahwa Bung Karno tidak saja
sebagai pejuang kemerdekaan, akan tetapi ia bersama-sama dengan Bung
Hatta juga bertindak sebagai penanda tangan dan Proklamator Kemerdekaan.
Presiden Pertama Republik Indonesia
Pada
tanggal 18 Agustus 1945 diadakanlah rapat Komite Nasional, dimana
selain menetapkan UUD 1945 juga mengangkat Bung Karno sebagai Presiden
Republik Indonesia yang pertama dan Bung Hatta sebagai wakil
presidennya. Sementara itu proklamasi disambut hangat oleh seluruh
rakyat indonesia. Berkobarlah peperangan dan perlawanan rakyat
menghadapi tentara Jepang. Dalam waktu itu datanglah tentara Sekutu
dimana membonceng di belakangnya NICA. Kedatangan Belanda kembali ini
lebih menimbulkan amarah rakyat, apalagi ternyata tentara Inggris
membantu NICA, sehingga timbul pertempuran antara rakyat indonesia
melawan tentara Inggris, NICA, dan Jepang.
Selain
rongrongan dari luar yang dilakukan oleh kolonialis Belanda, dari dalam
pun RI mendapat ujian dan cobaan. Akan tetapi semua petualangan dan
penyelewengan itu satu demi satu dapat digulung habis, berkat
kewaspadaan dan kesadaran rakyat yang tinggi di bawah kepemimpinan Bung
Karno sebagai presiden. Betapapun kadang-kadang kegentingan suasana
meruncing di dalam negeri, apalagi menghadapi situasi politik
internasional, Bung Karno sebagai Presiden Republik Indonesia dengan
tenang dan tabah mengemudikan bahtera negara. Baik sebagai pemimpin
rakyat, maupun sebagai Presiden Bung Karno dicintai oleh rakyat banyak.
Pemimpin Besar Revolusi
Menurut
Bung Karno Revolusi Indonesia itu mengenal Romantika-Dinamika-dan
Dialektika. Itulah garis-garis besar daripada revolusi. Di samping itu
hukum-hukum revolusi secara terperinci, ialah hukum-hukum yang
dikemukakan oleh Bung Karno di dalam TAVIP sebagai berikut:
1. Revolusi
pasti punya kawan dan punya lawan, dan kekuatan-kekuatan revolusi harus
tahu siapa kawan dan siapa lawan, maka harus ditarik garis pemisah yang
terang dan harus diambil sikap yang tepat terhadap kawan dan terhadap
lawan.
2. Revolusi
yang benar-benar revolusi bukanlah revolusi istana atau revolusi
pemimpin, melainkan revolusi rakyat. Oleh sebab itu, maka revolusi tidak
boleh main atas saja, tetapi harus dijalankan dari atas dan dari bawah.
3. Revolusi adalah simfoninya destruksi dan konstruksi, simfoninya penjebolan dan pembangunan.
4. Revolusi punya tahap-tahapnya
5. Revolusi harus punya program yang jelas dan tepat
6. Revolusi
harus punya soko guru yang tepat dan punya pimpinan yang tepat, yang
berpandangan jauh ke muka, yang konsekuen, yang sanggup melaksanakan
tugas-tugas revolusi sampai pada akhirnya dan revolusi juga harus punya
kader-kadernya yang tepat pengertiannya dan tinggi semangatnya.
Tiga kerangka tujuan Revolusi Indonesia adalah:
1. Membentuk
satu Negara Republik Indonesia yang berbentuk negara Kesatuan dan
Negara Kebangsaan yang demokratis, dengan wilayah kekuasaan dari sabang
sampai merauke.
2. Membentuk satu masyarakat yang adil dan makmur materiil dan spirituil dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
3. Pembentukan
satu persahabatan yang baik antara Republik Indonesia dan semua negara
di dunia, terutama dengan negara-negara Asia-Afrika.
Panglima Tertinggi ABRI
Seperti
diketahui berdasarkan UUD 1945 Pasal 10, Presiden Republik Indonesia,
juga menjabat sebagai panglima tertinggi Angkatan Bersenjata RI. Sebagai
seorang panglima tertinggi, Bung Karno dihormati oleh segenap anggota
Angkatan Bersenjata kita. Sejak revolusi fisik dahulu hingga 1965,
perintah dan komando Bung Karno selaku Panglima Tertinggi, senantiasa
dilaksanakan. Baik dalam menghadapi musuh-musuh dari dalam maupun
musuh-musuh dari luar seperti agresi militer Belanda pertama dan kedua,
Trikora dan Dwikora, Angkatan Bersenjata kita selalu taat dan patuh
menjalankan komandonya. Sejak Proklamasi hingga 1965, antara Bung Karno
sebagai Panglima Tertinggi dengan ABRI selalu terdapat kerjasama yang
baik.
Kepada
Angkatan Perang kita, Bung Karno selalu menanamkan suatu kepercayaan
yang dapat memberikan dorongan angkatan perang kita dan daya tahan dalam
berjuang. Bung Karno menggembleng angkatan perang kita baik fisik
maupun mental, moral serta morilnya agar menjadi satu angkatan perang
yang kuat di dunia, yang ditakuti serta disegani oleh lawan dan kawan.
Angkatan
bersenjata kita di bawah pimpinan Bung Karno sebagai panglima
tertingginya, makin lama makin sempurna, sehingga kini menjadi kebanggan
nasional, yang ditakuti dan disegani oleh lawan dan kawan. Bung Karno
dengan kegigihan dan keuletan selalu berusaha menyempurnakan anggakatan
bersenjata kita. Dari angkatan perang yang hanya bersenjata golok dan
bambu runcing, hingga menjadi angkatan bersenjata yang memiliki
persenjataan modern.
Pemimpin dan Politikus
Bung
Karno adalah seorang pemimpin yang cinta kepada rakyat dan dicintai
oleh rakyat. Umumnya apa yang dirasakan oleh rakyat dimengerti oleh Bung
Karno, dan apa yang dimaksudkan oleh Bung Karno dimengerti oleh rakyat.
Dan sebaliknya apa yang menjadi angan-angan dan cita-cita rakyat
diwaktu itu Bung Karno perjuangkan. Bung Karno tahu betul jiwa dan
kemauan rakyat. Antara Bung Karno dan rakyat terjalin rasa cinta
mencintai dan percaya mempercayai. Ini merupakan modal Bung Karno yang
terbesar dalam perjuangan dan memimpin rakyat berpuluh-puluh tahun, yang
jarang dimiliki oleh pemimpin-pemimpin lain.
Itulah
sebabnya kita berkesimpulan, bahwa Bung Karno adalah merupakan faktor
dalam pergulatan kekuatan dan konstelasi politik di tanah air. Dan
memang Bung Karno adalah seorang politikus yang ulung, berkaliber berat,
dan tidak dapat diabaikan begitu saja. Dalam pendirian politiknya,
termasuk konsekuen. Sebagai seorang pemimpin negara, pengaruh,
kewibawaan, dan kepemimpinan Bung Karno diakui baik oleh kawan maupun
lawan.
Rakyat
tidak takut kepada Bung Karno, tetapi cinta dan setia. Sebaliknya
karena keramah-tamahannya, kepribadiannya, dan kepemimpinannya itu, Bung
Karno dapat memikat dan menarik hati serta simpati rakyat yang
sebesar-besarnya. Jika rakyat bertemu dengan Bung Karno tidak ada yang
takut, tetapi senang dan cinta. Sebaliknya Bung Karno pun mencintai
rakyat dan kasih sayangnya sebagai seorang bapak terhadap anak-anaknya.
Di mata rakyat Bung Karno tidak saja dianggap sebagai pemimpin, akan
tetapi sebagai bapak rakyat dan kawan rakyat yang cinta dan dicintai.
Sebagai pemimpin rakyat, Bung Karno selalu mendidik rakyat dalam segala
hal.
Patriot Paripurna
Kecintaan
Bung Karno kepada ibu pertiwi bukan main besarnya, Bung Karno adalah
seorang patriot sejati, patriot paripurna. Setiap kali berhadapan dengan
pemuda sebagai seorang patriot besar, Bung Karno menanamkan dalam hati
dan jiwa para pemuda itu rasa cinta kepada tanah air. Sebagai seorang
patriot paripurna, maka cinta Bung Karno kepada tanah air indonesia,
adalah bagaikan cintanya seorang putera yang setia terhadap ibunya.
Untuk kepentingan tanah air, Bung Karno telah sedia dan rela berkorban
disamping tenaga dan pikiran juga dihukum, dibuang oleh pemerintah
kolonial Belanda dahulu. Kepada tanah air Bung Karno telah mengabdikan
dirinya berjuang berpuluh-puluh tahun untuk kebesaran dan keagungan ibu
pertiwi. Kepada tanah air indonesia Bung Karno menyerahkan seluruh jiwa
dan raga.
Pembina Bangsa
Sejak
datangnya imperialisme dan kolonialisme, maka kita mengalami masa suram
dan gelap, yang menyebabkan kita menjadi bangsa yang sengsara. Oleh
karena itu, disadarkannya rakyat Indonesia oleh Bung Karno, bahwa
apabila kita mau berjuang untuk melepaskan diri dari cengkraman dan
penjajahan Belanda, kita akan mempunyai masa depan yang gemilang. Setiap
waktu digemblengnya rakyat sejak di masa penjajahan dahulu hingga
sekarang. Untuk menjadi satu bangsa yang terhormat, bangsa yang ototnya
terbuat dari kawat, dan tulang terbuat dari besi, itulah bangsa yang
gemblengan.
Bangsa
atau rakyat kita yang semula terpecah belah menjadi rakyat yang
berkeping-keping yang dipisahkan oleh perbedaan suku bangsa, adat
istiadat, kepercayaan hidup dan agama, dengan dipelopori oleh pemuda
sejak tahun 1928 telah bertekad dan bersumpah mengaku: berbangsa satu,
Bangsa Indonesia, berbahasa satu Bahasa Indonesia, bertumpah darah satu,
Tanah air Indonesia. Sejak adanya sumpah pemuda, mulai timbul kesadaran
nasional di kalangan pemuda, yang tidak mengenal lagi istilah
kedaerahan. Rasa kebanggaan mulai tumbuh dan hidup dalam setiap dada
pemuda pemudi, putra dan putri indonesia. Kemudian pada pertengahan
tahun 1945, Bung Karno tampil dengan hasil galiannya yang berupa
pancasila untuk mempersatukan seluruh bangsa indonesia, menjadi nation
baru, yaitu nation pancasila, menjadi manusia baru, yaitu manusia
pancasilais.
Pembaharu Sosial
Bung
Karno adalah seorang pembaharu sosial tata hidup masyarakat indonesia.
Sebagai seorang pembaharu sosial, Bung Karno tidak hanya memberikan
doktrin-doktrin melalui karya-karya tulisannya sejak usia mudanya, akan
tetapi juga langsung memberikan bimbingan dan pimpinan dalam
merealisasikan doktrin-doktrin ajarannya yang progresif revolusioner.
Kepada
umat islam indonesia yang merupakan mayoritas dari bangsa indonesia.
Bung Karno memanggil dan menyeru agar umat islam bangkit dari
kelengahannya. Dianjurkannya supaya umat islam kembali kepada kemurnian
cita ajaran islam yang progresif revolusioner. Islam
menurut Bung Karno bukan agama yang kolot dan statis, islam bukanlah
agama yang membiarkan umatnya diinjak-injak dan diperas oleh bangsa
lain. Akan tetapi islam justru mewajibkan umatnya untuk bangkit dan
melawan kezaliman. Islam adalah agama yang progresif revolusioner. Oleh
karena itu, sebagai umat islam harus memiliki jiwa besar, jiwa kesatria
yang pantang menyerah, tetapi harus tegak, sesuai dengan perintah agama.
Dan
untuk mempersatukan segenap bangsa indonesia yang beraneka suku,
adat-istiadat, agama, dan kepercayaan hidup. Bung Karno memberikan dasar
pancasila, sebagai alat pemersatu bangsa, yang kini telah terbukti
keampuhannya. Bahkan pancasila kini tidak saja sekedar menjadi alat
pemersatu, melainkan juga menjadi way of life seluruh Bangsa
Indonesia. Pengaruh dari karya-karya Bung Karno ini dalam tata hidupnya
kemasyarakatan kita bukan main besarnya. Karenanya telah lahir manusia
indonesia baru, insan politik baru, dan nasionalis indonesia baru, yaitu
manusia-manusia pancasilais.
Orator dan Agitator
Sebagai
ahli pidato Bung Karno tisda ada duanya di indonesia. Setiap orang yang
mendengarkan pidatonya merasa tertarik perhatiannya. Pidato Bung Karno
sangat berapi-api dan dapat membakar hati dan semangat orang yang
mendengarnya. Berapa lamapun Bung Karno berpidato, orang tetap suka dan
senang untuk mendengarkannya, tidak bosan. Karena memang Bung Karno
pandai menarik perhatian pendengarnya.
Suara
Bung Karno yang kadang-kadang lemah-lembut, tetapi tidak jarang pula
kemudian menggeledek bagaikan guntur yang membelah angkasa, dapat
membakar jiwa dan semangat yang mendengarkannya. Kata-katanya sederhana,
mudah dimengerti, fasih lidah waktu mengucapkannya, dan penuh dengan
daya semangat juang yang berapi-api dan menyala-nyala. Kalau Bung Karno
sedang berpidato menggembleng rakyat, tidak seorang pun yang tidak
terkena nyala api semangatnya. Gerak tangan maupun badannya serta sorot
matanya yang tajam dan bersinar dapat menembus setiap hati dan jiwa
rakyat di sekitarnya.
Bahasa
pidato yang digunakan Bung Karno umumnya adalah bahasa indonesia yang
kadang-kadang diselingi dengan bahasa-bahasa daerah seperti Jawa, Sunda,
atau bahasa-bahasa asing lainnya seperti bahasa-bahasa Belanda,
Inggris, Perancis, Arab dan sebagainya. Pidato Bung Karno penuh dengan
gaya romatik dan dinamik sesuai dengan irama revolusi kita. Disinilah
keunggulan dan keistimewaan Bung Karno sebagai seorang orator dan
agitator yang ulung, yang belum ada duanya.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Presiden
pertama Republik Indonesia, Soekarno yang biasa dipanggil Bung Karno,
lahir di Blitar, Jawa Timur, 6 Juni 1901 dan meninggal di Jakarta, 21
Juni 1970. Ayahnya bernama Raden Soekemi Sosrodihardjo dan ibunya Ida
Ayu Nyoman Rai. Semasa hidupnya, beliau mempunyai tiga istri dan
dikaruniai delapan anak. Dari istri Fatmawati mempunyai anak Guntur, Megawati,
Rachmawati, Sukmawati dan Guruh. Dari istri Hartini mempunyai Taufan
dan Bayu, sedangkan dari istri Ratna Sari Dewi, wanita turunan Jepang
bernama asli Naoko Nemoto mempunyai anak Kartika.
Bung
karno merupakan aktivis, yang semasa mudanya sudah mulai berjuang dalam
gerakan politik, dan pernah didik oleh H.O.S. Tjokroaminoto. Darah
pemimpin dan pejuang yang telah dimilikinya sejak usia mudanya semakin
menonjol setelah menamatkan pendidikannya di perguruan tinggi, ilmunya
semakin bertambah, dan jiwanya semakin matang. Pada tahun 4
Juli 1927 di kota Bandung Soekarno bersama-sama dengan Mr. Iskaq
Tjokrohadisurja, Dr. Samsi Sastrowidagdo, Mr. Budiarto, Mr. Sartono, Mr.
Sunarjo dan Anwari mendirikan PNI yang bertujuan mencapai: Kemerdekaan
Indonesia, berhaluan non cooperation dengan pemerintah kolonial Belanda.
Sebagai
penyambung lidah rakyat, Bung Karno tanpa ragu-ragu membela hak-hak dan
kepentingan rakyat. Karena memang perjuangan Bung Karno bukanlah
perjuangan seorang diri pribadi, bukan untuk golongan tertentu, bukan
mewakili PNI partai yang dipimpinnya saja, akan tetapi mewakili
kepentingan rakyat dan suara rakyat sepenuhnya. Sebab Bung Karno
dilahirkan oleh rakyat, dibesarkan di tengah-tengah rakyat, dan berjuang
untuk kepentingan rakyat. Meskipun berbeda tempat, keadaan, cara dan
taktik perjuangan, namun tujuannya tetaplah satu, yaitu menuju ke
kemerdekaan Indonesia yang bulat. Tempat dan keadaan boleh
berganti-ganti, cara serta taktik boleh berubah-ubah, akan tetapi tujuan
tetap satu jua, yaitu: Indonesia merdeka.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2009. Biografi Presiden Soekarno. Diakses dari http://kolom-biografi.blogspot .com/2009/01/biografi-presiden-soekarno.html pada tanggal 29 September 2011.
Andjar, Any. 1978. Menyingkap Tabir Bung Karno. Semarang: Aneka Ilmu.
Giebels, Lambert. 2001. Soekarno (Biografi 1901-1950). Jakarta: PT Grasindo.
Salam. Solichin. 1984. Bung Karno Putra Fajar. Jakarta: PT Gunung Agung.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar