BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Bung
Hatta yang dikenal jujur, sabar, cerdas, dan penuh ide ini memegang
teguh prinsip yang diyakininya tersebut. Sebagai contoh adalah prinsip
demokrasi yang diyakini beliau dapat membantu perbaikan kehidupan
bangsa. Untuk itu beliau ikut memperjuangkan status Indonesia sebagai
negara kesatuan yang dapat mengakomodasi aspirasi semua golongan tanpa
kecuali. Beliau ikut mendukung dicabutnya pengusulan pembentukan negara
yang memihak pada golongan tertentu saja.
Keteguhan
Bung Hatta dalam memegang prinsip bukan semata-mata untuk kepentingan
pribadi, melainkan untuk kepentingan bangsa. Ketika beliau berseberangan
prinsip dengan pemerintah yang sedang berkuasa saat itu, beliau rela
mengundurkan diri guna mempertahankan kesatuan bangsa. Bung Hatta yang
lembut hati, selalu mencari strategi untuk berjuang tanpa kekerasan.
Senjata ampuh yang digunakan tokoh proklamator kita ini adalah otak dan
pena. Dari pada melawan dengan kekerasan beliau lebih memilih untuk
menyusun strategi, melakukan negosiasi, lobbying, dan menulis berbagai
artikel dan buku untuk memperjuangkan nasib bangsa. Prinsip tanpa
kekerasan ini muncul karena rasa hormat Bung Hatta pada sesama manusia,
baik kawan atau pun lawan. Walaupun Bung Hatta tidak setuju dengan
pendapat atau pun seseorang, beliau tidak lalu membenci orang tersebut,
tetapi tindakan dan pendapatnyalah yang tidak beliau setujui. Perannya
dalam pembangunan menuju pendidikan pun tak kalah hebatnya. Sehingga
banyak orang yang mengenal Bung Hatta sebagai pemimpin bangsa yang
bijak.
B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas maka penyusun dapat mengambil beberapa rumusan masalah, yaitu:
1. Bagaimana latar belakang kehidupan Bung Hatta ?
2. Bagaimana kiprah perjuangan Bung Hatta ?
3. Apa saja hasil karya dan penghargaan bung Hatta ?
C. Tujuan Penulisan
Makalah ini bertujuan untuk:
1. Mengetahui latar belakang kehidupan Bung Hatta,
2. Mengetahui kiprah perjuangan Bung Hatta,
3. Mengetahui hasil karya dan penghargaan Bung Hatta.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Latar Belakang Kehidupan Bung Hatta
Mohammad
Hatta lahir pada tanggal 12 Agustus 1902 di Bukittinggi Sumatra Barat.
Di kota kecil yang indah inilah Bung Hatta dibesarkan di lingkungan
keluarga ibunya (Saleha). Ayahnya, Haji Mohammad Djamil, meninggal
ketika Hatta berusia delapan bulan. Bung Hatta adalah anak
bungsu dalam keluarga yaitu: Halimah (kakak, satu ayah lain ibu), Rabiah
(kakak, satu ayah lain ibu), Rafiah (satu ayah, satu ibu) dan Bung
Hatta (anak bungsu). Beliau mempunyai seorang istri yang bernama Rahmi
Rachim dengan 3 orang anak yaitu: Meutia Farida Hatta (21 Maret 1947),
Gemala Rabi’ah Hatta (1953), dan Halidah Nuriah Hatta (25 Januari 1956).
Berawal dari sekolah Europese
Largere School (ELS) di Bukittinggi (1916) kemudian melanjutkan di Meer
Uirgebreid Lagere School (MULO) di Padang (1919) dan melanjutkan
Sekolah Menengah Dagang Handel Middlebare School Jakarta (1921) hingga
melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi di Nederland Handelshogeschool,
Rotterdam, Belanda (1932) Bung Hatta mendapatkan gelar Drs. Sejak duduk
di MULO di kota Padang, ia telah tertarik pada pergerakan. Sejak tahun
1916, timbul perkumpulan-perkumpulan pemuda seperti Jong Java, Jong
Sumatranen Bond, Jong Minahasa. dan Jong Ambon. Hatta masuk ke
perkumpulan Jong Sumatranen Bond.
|
Nama Lengkap:
|
H. Mohammad Hatta
|
|
Nama akrab:
|
Bung Hatta
|
|
Tanggal lahir:
|
12 Agustus 1902
|
|
Tempat lahir:
|
Sumatera Barat
|
|
Wafat :
|
Jakarta, 14 Maret 1980
|
|
Istri:
|
Rahmi Rachim
|
|
Pendidikan:
|
Pendidikan dasar Sekolah Melayu
|
|
Europeesche Lagere School
| |
|
MULO
| |
|
Sekolah Tinggi Dagang "Prins Hendrik School
| |
|
Nederland Handelshogeschool (universitas Erasmus)
| |
|
Jabatan Tertinggi:
|
Wakil Presiden pertama
|
|
Penghargaan:
|
Pahlawan Nasional
|
|
Bapak Koperasi Indonesia
| |
|
Doktor Honoriscausa Fak Hukum Universitas Gadjah Mada
| |
|
Proklamator Indonesia
| |
|
The Founding Father’s of Indonesia
| |
|
Aktivitas Organisasi:
|
Jong Sumatranen Bond
|
|
Perhimpunan Hindia
| |
|
Liga Menentang Imperialisme
| |
|
Club Pendidikan Nasional Indonesia
| |
|
Partai Nasional Indonesia
|
Hatta
merintis karier sebagai aktivis organisasi sejak berusia 15 tahun
sebagai bendahara Jong Sumatranen Bond Cabang Padang. Kesadaran
politiknya berkembang karena sering menghadiri ceramah dan pertemuan
politik. Salah seorang tokoh politik yang menjadi idola Hatta ketika itu
ialah Abdul Moeis. pengarang roman Salah Asuhan; aktivis partai Sarekat
Islam; anggota Volksraad; dan perintis majalah Hindia Sarekat, koran
Kaoem Moeda, Neratja, Hindia Baroe, serta Utusan Melayu dan Peroebahan.
Hatta
mulai menetap di Belanda sejak September 1921. Ia bergabung dalam
Perhimpunan Hindia (Indische Vereeniging). Saat itu, Indische
Vereeniging telah berubah menjadi organisasi pergerakan kemerdekaan.
Sebelumnya, Indische Vereeniging yang berdiri pada 1908 tak lebih dari
ajang pertemuan pelajar asal tanah air. Atmosfer pergerakan mulai
mewarnai Indische Vereeniging semenjak tibanya tiga tokoh Indische
Partij (Suwardi Suryaningrat, Douwes Dekker, dan Tjipto Mangunkusumo).
Di Indische Vereeniging, pergerakan putra Minangkabau ini tak lagi
tersekat oleh ikatan kedaerahan. Sebab Indische Vereeniging berisi
aktivis dari beragam latar belakang asal daerah. Lagipula, nama Indische
sudah mencerminkan kesatuan wilayah, yakni gugusan kepulauan di
Nusantara yang secara politis diikat oleh sistem kolonialisme belanda.
Dari sanalah mereka semua berasal.
Hatta
mengawali karier pergerakannya di Indische Vereeniging pada 1922,
menjadi Bendahara. Penunjukkan itu berlangsung pada 19 Februari 1922,
ketika terjadi pergantian pengurus Indische Vereeniging dari Ketua lama
dr. Soetomo diganti oleh Hermen Kartawisastra. Momentum suksesi kala itu
punya arti penting bagi mereka di masa mendatang, sebab ketika itulah
mereka memutuskan untuk mengganti nama Indische Vereeniging menjadi
Indonesische Vereeniging dan kelanjutannya mengganti nama Nederland
Indie menjadi Indonesia. Sebuah pilihan nama bangsa yang sarat bermuatan
politik. Dalam forum itu pula, salah seorang anggota Indonesische
Vereeniging mengatakan bahwa dari sekarang kita mulai membangun
Indonesia dan meniadakan Hindia atau Nederland Indie. Perkumpulan
yang menolak bekerja sama dengan Belanda itu kemudian berganti nama
lagi menjadi Perhimpunan Indonesia (PI). Hatta juga mengusahakan agar
majalah perkumpulan, Hindia Poetra, terbit secara teratur sebagai dasar
pengikat antar anggota. Pada tahun 1924 majalah ini berganti nama
menjadi Indonesia Merdeka. Hatta lulus dalam ujian handels economie
(ekonomi perdagangan) pada tahun 1923. Semula dia bermaksud menempuh
ujian doctoral di bidang ilmu ekonomi pada akhir tahun 1925. Karena itu
pada tahun 1924 dia non-aktif dalam PI. Tetapi waktu itu dibuka jurusan
baru, yaitu hukum negara dan hukum administratif. Hatta pun memasuki
jurusan itu terdorong oleh minatnya yang besar di bidang politik.
Perpanjangan rencana studinya itu memungkinkan Hatta terpilih menjadi
Ketua PI pada tanggal 17 Januari 1926. Pada kesempatan itu, ia
mengucapkan pidato inaugurasi yang berjudul "Economische Wereldbouw en
Machtstegenstellingen"--Struktur Ekonomi Dunia dan Pertentangan
kekuasaan. Dia mencoba menganalisis struktur ekonomi dunia dan
berdasarkan itu, menunjuk landasan kebijaksanaan non-kooperatif.
Pada
tahun 1927, Hatta bergabung dengan Liga Menentang Imperialisme dan
Kolonialisme di Belanda, dan di sinilah ia bersahabat dengan nasionalis
India, Jawaharlal Nehru. Aktivitasnya dalam organisasi ini menyebabkan
Hatta ditangkap pemerintah Belanda. Hatta akhirnya dibebaskan, setelah
melakukan pidato pembelaannya yang terkenal: Indonesia Free. Pada tahun
1932 Hatta kembali ke Indonesia dan bergabung dengan organisasi Club
Pendidikan Nasional Indonesia yang bertujuan meningkatkan kesadaran
politik rakyat Indonesia melalui proses pelatihan-pelatihan. Belanda
kembali menangkap Hatta, bersama Soetan Sjahrir, ketua Club Pendidikan
Nasional Indonesia pada bulan Februari 1934. Hatta diasingkan ke Digul
dan kemudian ke Banda selama 6 tahun.
Sejak
tahun 1926 sampai 1930, berturut-turut Hatta dipilih menjadi Ketua PI.
Di bawah kepemimpinannya, PI berkembang dari perkumpulan mahasiswa biasa
menjadi organisasi politik yang mempengaruhi jalannya politik rakyat di
Indonesia. Sehingga akhirnya diakui oleh Pemufakatan Perhimpunan
Politik Kebangsaan Indonesia (PPPI) PI sebagai pos depan dari pergerakan
nasional yang berada di Eropa.
Antara
tahun 1930-1931, Hatta memusatkan diri kepada studinya serta penulisan
karangan untuk majalah Daulat Ra‘jat dan kadang-kadang De Socialist. Ia
merencanakan untuk mengakhiri studinya pada pertengahan tahun 1932.
Kembali ke Tanah Air pada bulan Juli 1932, Hatta berhasil menyelesaikan
studinya di Negeri Belanda dan sebulan kemudian ia tiba di Jakarta.
Antara akhir tahun 1932 dan 1933, kesibukan utama Hatta adalah menulis
berbagai artikel politik dan ekonomi untuk Daulat Ra’jat dan melakukan
berbagai kegiatan politik, terutama pendidikan kader-kader politik pada
Partai Pendidikan Nasional Indonesia.
Organisasi
Indonesische Vereeniging berkembang menjadi organisasi politik pada
bulan Januari 1925 dengan nama Perhimpunan Indonesia (PI). Dan dalam
organisasi ini Bung Hatta bertindak sebagai Pemimpinnya. Keterlibatan
Bung Hatta dalam organisasi dan partai poltik bukan hanya di luar negeri
tapi sekembalinya dari Belanda beliau juga aktif di PNI (Partai
Nasional Indonesia) yang didirikan Soekarno tahun 1927. Dalam organisasi
PNI, Bung Hatta menitik beratkan kegiatannya dibidang pendidikan.
Beliau melihat bahwa melalui pendidikanlah rakyat akan mampu mencapai
kemerdekaan. Karena PNI dinilai sebagai partai yang radikal dan
membahayakan bagi kedudukan Belanda, maka banyak tekanan dan upaya untuk
mengurangi pengaruhnya pada rakyat. Hal ini dilihat dari propaganda dan
profokasi PNI tehadap penduduk untuk mengusakan kemerdekaan. Hingga
akhirnya Bunga Karno di tangkap dan demi keamanan organisasi ini
membubarkan diri.
Tak
lama setetah PNI (Partai Nasional Indonesia) bubar, berdirilah
organisasi pengganti yang dinamanakan Partindo (Partai Indonesia).
Mereka memiliki sifat organisasi yang radikal dan nyata-nyata menentang
Belanda. Hal ini tak di senangi oleh Bung Hatta. Karena tak sependapat
dengan Partindo beliau mendirikan PNI Pendidikan (Partai Nasional
Indonesia Pendidikan) atau disebut juga PNI Baru. Organisasi ini
didirikan di Yogyakarta bulan Agustus 1932, dan Bung Hatta diangkat
sebagai pemimpinnya. Organisasi ini memperhatikan “ kemajuan pendidikan
bagi rakyat Indonesia, menyiapkan dan menganjurkan rakyat dalam bidang
kebathinan dan mengorganisasikannya sehingga bisa dijadakan suatu aksi
rakyat dengan landasan demokrasi untuk kemerdekaan “.
Organisasi
ini berkembang dengan pesat, sehingga pada kongres I di Bandung 1932
anggotanya baru 2000 orang dan setahun kemudian telah memiliki 65 cabang
di Indonesia. Organisasi ini mendapat pengikut dari penduduk desa yang
ingin mendapat dan mengenyam pendidikan. Di PNI Bung Hatta bekerjasama
dengan Syahrir yang merupakan teman akrabnya sejak di Belanda. Hal ini
makin memajukan organisasi ini di dunia pendidikan Indonesia waktu itu.
Kemajuan, kegiatan dan aksi dari PNI Pendidikan dilihat Belanda sebagai
ancaman baru tehadap kedudukan mereka sebagai penjajah di Indonesia dan
mereka pun mengeluarkan beberapa ketetapan ditahun 1933 diantaranya (1)
Polisi diperintahkan bertindak keras terhadap rapat-rapat PNI
Pendidikan; (2) pegawai negeri dilarang menjadi anggota PNI Pendidikan;
(3) diadakan pelarangan rapat-rapat PNI Pendidikan di seluruh Indonesia.
Akhirnya
ditahun 1934 Partai Nasional Indonesia Pendidikan dinyatakan
Pemerintahan Kolonial Belanda di bubarkan dan dilarang keras bersama
beberapa organisasi lain yang dianggap membahayakan seperti : Partindo
dan PSII. Ide-ide PNI Pendidikan yang dituangkan dalam surat kabar ikut
di hancurkan dan surat kabar yang menerbitkan ikut di bredel. Namun
secara keorganisasian, Hatta sebagai pemimpin tak mau menyatakan
organisasinya telah bubar. Ia tetap aktif dan berjuang untuk kemajuan
pendidikan Indonesia. Soekarno yang aktif di Partindo dibuang ke Flores
diikuti dengan pengasingan Hatta dan Syahrir. Walau para pemimpin di
asingkan namun para pengikut mereka tetap konsisten melanjutkan
perjuangan partai. PNI Pendidikan tetap memberikan kursus-kursus,
pelatihan-pelatuhan baik melalui tulisan maupun dengan kunjungan
kerumah-rumah penduduk.
Dalam
sidang masalah PNI Pendidikan M.Hatta, Syahrir, Maskun, Burhanuddin
,Bondan dan Murwoto dinyatakan bersalah dan dibuang ke Boven Digul
(Papua). Demi harapan terciptanya ketenangan di daerah jajahan. Walau
telah mendapat hambatan yang begitu besar namun perjuangan Hatta tak
hanya sampai disitu, beliau terus berjuang dan salah satu hasil
perjuangan Hatta dan para pahlawan lain tersebut adalah kemerdekaan yang
telah kita raih dan kita rasakan sekarang.
Kerja Sama dengan Soekarno
Seokarno
tiba di Jawa dari pembuangannya pada tanggal 9 Juli 1942. Ia dan
keluarganya menginap di rumah Hatta. Hal itu menujukkan bahwa isu yang
telah memisahkan pada masa lampau dapat dikesampingkan. Syahrir
bergabung dengan kedua orang itu dalam pembicaraan-pembicaraan awal
mereka. Dukungan Hatta dan Syahrir mempertebal kepercayaan diri
Soekarno. Pertemuan itu merupakan awal dari periode kemitraan politik
yang membuat mereka di gelari Dwitunggal. Masa pendudukan Jepang tidak
membuat hidup Hatta lebih mudah. Hal itu terbukti dari adanya usaha
pembunuhan atas dirinya yang diurungkan dan berbagai tekanan politik
yang harus dipikulnya.
Bersama
Soekarno dan para tokoh lainnya, ia memimpin Kantor Pusat Tenaga
Rakyat. Meskipun ia menunjukkan sikap yang kooperatif terhadap tentara
pendudukan, ia tetap menjalin hubungan dengan gerakan “bawah tanah”
sperti Syahrir. Setelah Jepang menyerah pada sekutu maka pada tanggal 17
Agustus 1945 Bung Hatta bersama Bung Karno atas Nama rakyat Indonesia
memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.
Salah
satu jasanya yang terpenting adalah rumusan dalam pasal 33 UUD 1945. Ia
mengajukan pandangan mengenai pentingnya koperasi, baik sebagai konsep
ekonomi maupun untuk membangun kekuatan golongan ekonomi lemah. Hatta
mengetahui bahwa pedgang dan petani Indonesia rentan terhadap konsorsium
internasional dan sistem pasar dunia. Meskipun menentang
individualisme, ia tak pernah menyarankan individu tidak boleh memiliki
hak untuk berdagang atau memiliki kekayaan pribadi. Penekanan dalam
kebijakan ekonomi yang dirumuskannya itu merupakan perlindungan bagi
anggota masyarakat yang lemah di dalam proses ekonomi.
Sang Proklamator
Pada
awal Agustus 1945, Panitia Penyidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan
Indonesia diganti dengan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia, dengan
Soekamo sebagai Ketua dan Mohammad Hatta sebagai Wakil Ketua.
Anggotanya terdiri dari wakil-wakil daerah di seluruh Indonesia,
sembilan dari Pulau Jawa dan dua belas orang dari luar Pulau Jawa.
Pada tanggal 16 Agustus 1945 malam, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia mempersiapkan proklamasi dalam rapat di rumah Admiral Maeda (JI Imam Bonjol, sekarang), yang berakhir pada pukul 03.00 pagi keesokan harinya. Panitia kecil yang terdiri dari 5 orang, yaitu Soekamo, Hatta, Soebardjo, Soekarni, dan Sayuti Malik memisahkan diri ke suatu ruangan untuk menyusun teks proklamasi kemerdekaan. Soekarno meminta Hatta menyusun teks proklamasi yang ringkas. Hatta menyarankan agar Soekarno yang menuliskan kata-kata yang didiktekannya. Setelah pekerjaan itu selesai. mereka membawanya ke ruang tengah, tempat para anggota lainnya menanti.
Soekarni mengusulkan agar naskah proklamasi tersebut ditandatangi oleh dua orang saja, Soekarno dan Mohammad Hatta. Semua yang hadir menyambut dengan bertepuk tangan riuh.
Pada tanggal 16 Agustus 1945 malam, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia mempersiapkan proklamasi dalam rapat di rumah Admiral Maeda (JI Imam Bonjol, sekarang), yang berakhir pada pukul 03.00 pagi keesokan harinya. Panitia kecil yang terdiri dari 5 orang, yaitu Soekamo, Hatta, Soebardjo, Soekarni, dan Sayuti Malik memisahkan diri ke suatu ruangan untuk menyusun teks proklamasi kemerdekaan. Soekarno meminta Hatta menyusun teks proklamasi yang ringkas. Hatta menyarankan agar Soekarno yang menuliskan kata-kata yang didiktekannya. Setelah pekerjaan itu selesai. mereka membawanya ke ruang tengah, tempat para anggota lainnya menanti.
Soekarni mengusulkan agar naskah proklamasi tersebut ditandatangi oleh dua orang saja, Soekarno dan Mohammad Hatta. Semua yang hadir menyambut dengan bertepuk tangan riuh.
Tangal
17 Agustus 1945, kemerdekaan Indonesia diproklamasikan oleh Soekarno
dan Mohammad Hatta atas nama bangsa Indonesia, tepat pada jam 10.00 pagi
di Jalan Pengangsaan Timur 56 Jakarta. Tanggal 18 Agustus 1945, Ir
Soekarno diangkat sebagai Presiden Republik Indonesia dan Drs. Mohammad
Hatta diangkat menjadi Wakil Presiden Republik Indonesia. Soekardjo
Wijopranoto mengemukakan bahwa Presiden dan Wakil Presiden harus
merupakan satu dwitunggal.
Indonesia
harus mempertahankan kemerdekaannya dari usaha Pemerintah Belanda yang
ingin menjajah kembali. Pemerintah Republik Indonesia pindah dari
Jakarta ke Yogyakarta. Dua kali perundingan dengan Belanda menghasilkan
Perjanjian Linggarjati dan Perjanjian Reville, tetapi selalu berakhir
dengan kegagalan akibat kecurangan pihak Belanda. Untuk mencari dukungan
luar negeri, pada Juli I947, Bung Hatta pergi ke India menemui
Jawaharlal Nehru dan Mahatma Gandhi. dengan menyamar sebagai kopilot
bernama Abdullah (Pilot pesawat adalah Biju Patnaik yang kemudian
menjadi Menteri Baja India di masa Pemerintah Perdana Menteri Morarji
Desai). Nehru berjanji, India dapat membantu Indonesia dengan protes dan
resolusi kepada PBB agar Belanda dihukum.
Kesukaran
dan ancaman yang dihadapi silih berganti. September 1948 PKI melakukan
pemberontakan. 19 Desember 1948, Belanda kembali melancarkan agresi
kedua. Presiden dan Wapres ditawan dan diasingkan ke Bangka. Namun
perjuangan Rakyat Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan terus
berkobar di mana-mana. Panglima Besar Soediman melanjutkan memimpin
perjuangan bersenjata.
Pada
tanggal 27 Desember 1949 di Den Haag, Bung Hatta yang mengetuai
Delegasi Indonesia dalam Konverensi Meja Bundar untuk menerima pengakuan
kedaulatan Indonesia dari Ratu Juliana.
Bung Hatta juga menjadi Perdana Menteri waktu Negara Republik Indonesia Serikat berdiri. Selanjutnya setelah RIS menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia, Bung Hatta kembali menjadi Wakil Presiden.
Bung Hatta juga menjadi Perdana Menteri waktu Negara Republik Indonesia Serikat berdiri. Selanjutnya setelah RIS menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia, Bung Hatta kembali menjadi Wakil Presiden.
Kemitraan
dengan Soekarno menyatu dalam periode perjuangan melawan kekuatan
asing. Ketika tujuan kemerdekaan telah tercapai, konflik tentang
bagaimana Indonesia akan diatur muncul diantara keduanya. Perpecahan di
antara mereka diperbesar oleh eksploitasi partai-partai pilitik yang
terus mengadakan koalisi untuk membentuk kabinet. Perbedaan dalam
menentukan kabinet dan masuknya PKI dalam kabinet serta visi tentang
berbagai masalah pembangunan yang berbeda dengan Soekarno menyebabkan
Hatta mengundurkan diri dari jabatannya sebagai wakil Presiden RI pada
tanggal 1 September 1956. Namun, pengunduran diri itu tidak menjauhkan
hubungan dekatnya dengan Soekarno.
C. Hasil Karya Dan Penghargaan Bung Hatta
Bung
Hatta merupakan tokoh yang selalu berkarya nyata. Salah satu karya
monumental beliau adalah bentuk koperasi. Pemikiran ini dituangkan pada
pembentukkan koperasi pengusaha batik, yang akhirnya sukses sampai saat
ini. Koperasi tersebut berhasil mendorong kemajuan bagi pengusaha batik
dan memberi mereka kesempatan untuk memperluas usaha dengan ekspor.
Karya-karya
lainnya adalah berbentuk tulisan. Pada saat bangsa Indonesia masih
berkutat untuk menumbuhkan minat baca, beliau sudah jauh lebih maju,
yaitu dengan memberikan teladan bagi bangsa Indonesia untuk menumbuhkan
budaya menulis. Kegiatan tulis-menulis ini telah beliau lakukan sejak
masih belajar di negeri Belanda sampai akhir hayatnya. Tak terhitung
lagi jumlah artikel dan buku yang telah beliau tulis. Sebuah monumen
intelektual berupa perpustakaan di Bukittinggi pun telah didirikan untuk
mengenang Pak Hatta.
PERJALANAN KARIER
· Bendahara Jong Sumatranen Bond di Padang (1916-1919)
· Bendahara Jong Sumatranen Bond di Jakarta dan mengurus majalah Jong Sumatra (1920-1921)
· Menjadi
anggota Indonesische Vereniging (ketika belajar di Belanda) yang
kemudian berubah menjadi Perhimpoenan Indonesia, dan menjadi Dewan
Redaksi majalah Indonesia Merdeka (1922-1925)
· Ketua Pemuda Indonesia di Belanda (1925-1930)
· Sebagai wakil Indonesia dalam gerakan Liga Melawan Imperialisme dan Penjajahan, berkedudukan di Berlin (1927-1931)
· Ikut Konggres Demokratique International IV di Beirvile, Paris (1936)
· Ditangkap
dan dipenjara di Den Haag, Belanda (23 September 1927-22 Maret 1928)
karena tulisan-tulisannya di Majalah Indonesia Merdeka
· Kembali ke Indonesia (1932)
· Ketua Partai Pendidikan Nasional Indonesia (lazim disebut PNI baru) dan menangani majalah Daulat Rakyat (1934-1935)
· Dipenjarakan pemerintah Hindia Belanda di Glodok, Jakarta (1934)
· Dibuang ke Boven Digul, Papua (1934-1935)
· Dibuang ke Banda Naira (1935-1942)
· Dipindahkan ke Penjara di Sukabumi (Februari 1942)
· Dibebaskan dari penjara (9 Maret 1942)
· Kepala Kantor Penasihat pada pemerintah Bala Tentara Dai Nippon (April 1942)
· Diangkat menjadi salah satu pimpinan Pusat Tenaga Rakyat (Putera-1943)
· Anggota Dokuritzu Zyunbi Tyoosakai (Badan Penyelidik Usaha-usaha Kemerdekaan-Mei 1945)
· Wakil Ketua Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI-7 Agustus 1945)
· Memproklamasikan Kemerdekaan RI bersama Soekarno (17 Agustus 1945)
· Wakil Presiden Indonesia I (18 Agustus 1945-1 Desember 1956)
· Mengeluarkan
Maklumat Nomor X (16 Oktober 1945) yang memberikan kekuasaan untuk
menentukan Garis-garis Besar Haluan Negara kepada Komite Nasional
Indonesia Pusat (KNIP)
· Mengeluarkan
Maklumat Politik (1 November 1945) yang antara lain menyatakan bahwa
Indonesia bersedia menyelesaikan sengketa dengan Belanda dengan cara
diplomasi
· Mengeluarkan Maklumat (3 November 1945) yang membuka peluang berdirinya partai-partai politik
· Wakil Presiden merangkap sebagai Perdana Menteri dan Menteri Pertahanan (29 Januari 1948-Desember 1949)
· Ketua Delegasi Indonesia ke Konferensi Meja Bundar di Den Haag dan menerima penyerahan kedaulatan dari Ratu Juliana (1949)
· Wakil Presiden merangkap sebagai Perdana Menteri dan Menlu dalam Kabinet RIS (Desember 1949-Agustus 1950).
PENGHARGAAN
ü Gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Gadjah Mada (1956)
ü Gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Hasanuddin (1973)
ü Gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Indonesia (1975)
ü Menerima tanda jasa Bintang Republik dari Presiden Soeharto (15 Agustus 1972)
KARYA
o Economische wereldbouw en machtstegenstellingen (1926)
o L’Indonesie et son problema de I’Independence (1927)
o Indonesia Vrij (1928)
o Tujuan dan Politik Pergerakan Nasional Indonesia (1931)
o Krisis Ekonomi dan Kapitalisme (1934)
o Perjanjian Volkenbond (1937)
o Mencari Volkenbond dari Abad ke Abad (1939)
o Rasionalisasi (1939)
o Penunjuk bagi Rakyat dalam Ekonomi, Teori, dan Praktek (1940)
o Alam Pikiran Yunani (1941)
o Perhubungan Bank dan Masyarakat di Indonesia (1942)
o Beberapa Pasal Ekonomi (1943)
o Portrait of a Patriot, Selected Writings (1972)
o Pikiran-pikiran dalam bidang Ekonomi untuk Mencapai Kemakmuran yang Merata (1974)
o Mohammad Hatta Memoir (1979).
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Mohammad
Hatta lahir pada tanggal 12 Agustus 1902 di Bukittinggi Sumatra Barat.
Di kota kecil yang indah inilah Bung Hatta dibesarkan di lingkungan
keluarga ibunya (Saleha). Ayahnya, Haji Mohammad Djamil, meninggal
ketika Hatta berusia delapan bulan. Bung Hatta adalah anak
bungsu dalam keluarga yaitu: Halimah (kakak, satu ayah lain ibu), Rabiah
(kakak, satu ayah lain ibu), Rafiah (satu ayah, satu ibu) dan Bung
Hatta (anak bungsu). Beliau mempunyai seorang istri yang bernama Rahmi
Rachim dengan 3 orang anak yaitu: Meutia Farida Hatta (21 Maret 1947),
Gemala Rabi’ah Hatta (1953), dan Halidah Nuriah Hatta (25 Januari 1956).
Studi
di perguruan tinggi bagi Hatta tidak cukup hanya menimba ilmu dari buku
yang terlepas dari konteks sosial masyarakat. Ia mengaitkan antara ilmu
ekonomi yang dipelajarinya dengan keprihatinan masarakat dan bangsanya
ang msikin dan terjajah. Untuk itu, ia berjernih lalah membagikan waktu
dan tenaganya untuk kuliah dan organisasi Perhimpunan Indonesia yang
baginya merupan sumebr pengetahuan juga.
Hatta
menghabiskan sebelas tahun untuk meneyelesaikan studinya di Rotterdam.
Masa itu merupakan saat menempa dirinya seingga menjadikan Beliau sebagi
pejuang yang tangguh. Bersama Soekarno dan para pejuang lainnya, ia
mengantarkan Bangsa Indonesia ke pintu gerbang kemerdekaan.
Walaupun
Bung Hatta sudah tiada, beliau tetap hidup melalui pemikiran, prinsip,
dan kualitas pribadi beliau yang positif. Menjelang peringatan hari
kemerdekaan Indonesia, bersamaan dengan 100 tahun kelahiran tokoh
proklamator kita ini, sudah selayaknyalah kita teladani sisi positif
kualitas kepemimpinan beliau yang berpegang teguh pada prinsip, berjuang
tanpa kekerasan, berusaha melakukan yang terbaik, dan senantiasa
berkarya untuk kepentingan bangsa.
DAFTAR PUSTAKA
Anwar, Rosihan. 2002. In Memoriam Mengenang yang wafat. Jakarta: Kompas.
Sudarmanto, YB. 1996. Jejak-jejak Pahlawan dari Sultan Agung hingga Syekh Yusuf. Jakarta: Gramdia Widiasarana Indonesia.
http://kolom-biografi.blogspot.com/2009/08/biografi-mohammad-hatta.html, diakses pada Sabtu 29 Oktober 2011.
http://www.ghabo.com/gpedia/index.php/Mohammad_Hatta, diakses pada Sabtu 29 Oktober 2011.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar