BAB I
PENDAHULUAN
A. Intensitas dan Kompleksitas Masalah
Kehidupan
manusia selalu terikat dengan alam lingkungannya. Studi studi tentang
masyarakat dan kebudayaan telah banyak menunjukkan adanya pertautan yang
kuat sekali antara kebudayaan dan lingkungan alam (environtment).
Lingkungan Hidup mencangkup segala makhluk hidup dan tak hidup yang ada
di bumi atau bagian bumi atau bagian dari Bumi, yang berfungsi secara
alami tanpa campur tangan manusia yang berlebihan. Lawan dari lingkungan
hidup adalah lingkungan buatan yang mencakup wilayah dan
komponen-komponennya yang banyak dipengaruhi oleh manusia
Penyalahgunaan
sumber daya alam menjadi momok yang begitu mengerikan dengan segala
akibatnya di berbagai bidang, baik sosial, pendidikan, dan keamanan
berupa meningkatnya bencana-bencana yang membuat negara rugi besar. Ilmu
tentang hubungan timbal balik makhluk hidup dengan lingkungan hidupnya
di sebut ekologi. Lingkungan hidup adalah sistem yang merupakan kesatuan
ruang dengan semua benda, daya, keadaan dan makhluk hidup, termasuk di
dalamnya manusia dengan perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan peri
kehidupannya dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya.
Makhluk hidup khususnya merupakan pihak yang selalu memanfaatkan
lingkungan hidupnya, baik dalam hal respirasi, pemenuhan kebutuhan
pangan, papan dan lain-lain. Dan, manusia sebagai makhluk yang paling
unggul di dalam ekosistemnya, memiliki daya dalam mengkreasi dan
mengkonsumsi berbagai sumber-sumber daya alam bagi kebutuhan hidupnya
Unsur-unsur lingkungan hidup dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu:
1. Unsur Hayati (Biotik)Unsur hayati (biotik)
yaitu unsur lingkungan hidup yang terdiri dari makhluk
hidup, seperti manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, dan jasad renik. Jika
berada
di kebun sekolah, maka lingkungan hayatinya didominasi oleh tumbuhan.
Tetapi jika berada di dalam kelas, maka lingkungan hayati yang dominan
adalah teman-teman atau sesama manusia.
2. Unsur Sosial BudayaUnsur sosial budaya,
yaitu lingkungan sosial dan budaya yang dibuat manusia yang merupakan sistem nilai,
gagasan,
dan keyakinan dalam perilaku sebagai makhluk sosial. Kehidupan
masyarakat dapat mencapai keteraturan berkat adanya sistem nilai dan
norma yang diakui dan ditaati oleh segenap anggota masyarakat.
- Unsur Fisik (Abiotik)Unsur fisik (abiotik),
yaitu unsur lingkungan hidup yang terdiri dari benda-benda tidak hidup, seperti tanah, air, udara, iklim, dan lain-lain. Keberadaan lingkungan fisik sangat besar peranannya bagi kelangsungan hidup segenap kehidupan di bumi.
Permasalahan gejala pertumbuhan penduduk yang cepat,
baik di kota maupun desa, muncul karena berkaitan dengan pemenuhan
kebutuhan. Kebutuhan
penduduk tidak hanya sekedar makan, minum, pakaian, dan tempat tinggal
saja, tetapi berkembang sesuai perkembangan kebudayaannya.
Hubungan
antara peningkatan jumlah penduduk yang cepat berpengaruh terhadap
pertumbuhan ekonomi. Dalam usaha untuk memenuhi kebutuhan penduduk, maka
sumber daya alam dan lingkungan alam semakin dimanfaatkan. Kegiatan
produksi barang non jasa yang dibutuhkan tidak hanya menyebabkan
menipisnya sumber daya alam, tetapi juga menyebabkan pencemaran
lingkungan. Perkembangan jumlah penduduk yang cepat serta perkembangan
teknologi yang makin maju, telah mengubah pola hidup manusia. Bila
sebelumnya kebutuhan manusia hanya terbatas pada kebutuhan primer dan
sekunder, kini kebutuhan manusia telah meningkat kepada kebutuhan
tersier yang tidak terbatas. Kebutuhan manusia tidak hanya sekedar
kebutuhan primer untuk dapat melangsungkan kehidupan seperti makan dan
minum, pakaian, rumah, dan kebutuhan sekunder seperti kebutuhan terhadap
pendidikan, kesehatan, akan tetapi telah meningkat menjadi kebutuhan
tersier yang memungkinkan seseorang untuk memilih kebutuhan yang
tersedia. Kebutuhan tersier telah menyebabkan perubahan yang besar
terhadap pola hidup manusia menjadi konsumtif.
B. Latar Belakang Masalah
Segala
aktivitas yang dilakukan masyarakat modern sangat ketergantungan kepada
ketersediaan energi. Hampir di semua sektor kegiatan, energi menjadi
kebutuhan pokok yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Oleh karena itu,
kemajuan suatu negara akan sangat terkait dengan kecukupan ketersediaan
energi di negara tersebut. Sebut saja negara-negara maju seperti
Amerika, Jepang, dan negara-negara Eropa lainnya, bahkan Korea .
Ketersediaan energi di negara-negara tersebut sangat
memadai
untuk melakukan kegiatan di berbagai bidang yang bisa diandalkan untuk
pembangunan bangsa dan negaranya. Namun dalam pengadaan energi tentu
saja harus memperhatikan factor
kelestarian
lingkungan hidup. Karena lingkungan tempat mahluk hidup ini bernaung
tidak kalah pentingnya dari kebutuhan-kebutuhan hidup lainnya. Merusak
lingkungan hidup, sama saja dengan mencelakakan diri sendiri. Lingkungan
hidup suatu negara akan sangat berkaitan dengan negara lain, karena
kita tinggal di bumi yang sama. Sebab itu pula setiap negara sangat
berkewajiban untuk sungguh-sungguh memperhatikan dan mencegah hal-hal
yang bisa menjadi penyebab kerusakan lingkungan hidup. Dampak kerusakan
lingkungan hidup seperti pemanasan global, sudah mulai dirasakan di
berbagai belahan bumi ini. Seperti terjadinya peningkatan suhu udara,
permukaan air laut naik, yang bisa menenggelamkan pulau-pulau kecil, dan
daratan di sekitar pantai, terjadinya perubahan iklim, yang kini sudah
terjadi di beberapa tempat termasuk di negeri ini. Kesemua itu karena
lingkungan tempat manusia dan mahluk hidup lainnya sudah tercemar.
Bahkan menurut sumber-sumber yang bisa dipercaya, keganasan topan yang
akhir-akhir ini suka melanda salah satu bagian di daratan Amerika,
diprediksi oleh para ahli sebagai efek dari pemanasan global. Ancaman
lain yang tidak kalah bahayanya bagi kehidupan manusia, adalah
terjadinya hujan asam.
Di
Indonesia sendiri, memasuki tahun 2006 telah terjadi angin badai di
beberapa perairan yang mengakibatkan banjir di daerah sekitar pantai
hingga berhari-hari. Akibatnya para nelayan tidak bisa turun ke laut
untuk mencari ikan, sehingga mereka mengalami masa-masa paceklik. Belum
lagi lebatnya curah hujan mengakibatkan banjir dan tanah longsor di
beberapa daerah. Kejadian-kejadian ini tentu masih punya kaitan dengan
pemanasan global akibat kerusakan lingkungan. Kalau penyebab-penyebab
kerusakan global ini tidak ditanggulangi untuk ditekan sekecil mungkin,
tentu kerusakan lingkungan yang sudah terjadi ini akan semakin parah
yang akibatnya juga akan merugikan semua mahluk hidup termasuk kita.
Polusi adalah salah satu penyebab kerusakan lingkungan yang
ditimbulkan oleh pembakaran bahan bakar fosil, seperti batubara, bahan
bakar minyak, dan gas alam secara besar-besaran. Dari pembakaran itu
berakibat terjadinya emisi rumah kaca sebagai penyebab pemanasan global
Berdasarkan faktor penyebabnya, bentuk kerusakan lingkungan hidup dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu:
- Bentuk Kerusakan Lingkungan Hidup Akibat Peristiwa Alam
Berbagai bentuk bencana alam yang akhir-akhir ini banyak melanda
Indonesia telah menimbulkan dampak rusaknya lingkungan hidup. Dahsyatnya
gelombang tsunami yang memporak-porandakan Aceh merupakan contoh
fenomena alam yang dalam sekejap mampu merubah bentuk muka bumi.
Peristiwa alam lainnya yang berdampak pada kerusakan lingkungan hidup antara lain:
1. Letusan gunung berapi
Letusan
gunung berapi terjadi karena aktivitas magma di perut bumi yang
menimbulkan tekanan kuat keluar melalui puncak gunung berapi.
Bahaya yang ditimbulkan oleh letusan gunung berapi antara lain berupa:
Hujan abu vulkanik, menyebabkan gangguan pernafasan.
Lava panas, merusak, dan mematikan apa pun yang dilalui.
Awan panas, dapat mematikan makhluk hidup yang dilalui.
Gas yang mengandung racun.
Material padat (batuan, kerikil, pasir), dapat menimpa perumahan, dan lain-lain.
2. Gempa bumi
Gempa
bumi adalah getaran kulit bumi yang bisa disebabkan karena beberapa
hal, di antaranya kegiatan magma (aktivitas gunung berapi), terjadinya
tanah turun, maupun karena gerakan lempeng di dasar samudra. Manusia
dapat mengukur berapa intensitas gempa, namun manusia sama sekali tidak
dapat memprediksikan kapan terjadinya gempa.
Oleh
karena itu, bahaya yang ditimbulkan oleh gempa lebih dahsyat
dibandingkan dengan letusan gunung berapi. Pada saat gempa berlangsung
terjadi beberapa peristiwa sebagai akibat langsung maupun tidak
langsung, di antaranya:
Berbagai bangunan roboh.
Tanah di permukaan bumi merekah, jalan menjadi putus.
Tanah longsor akibat guncangan.
Terjadi banjir, akibat rusaknya tanggul.
Gempa yang terjadi di dasar laut dapat menyebabkan tsunami (gelombang pasang)
- Kerusakan Lingkungan Hidup karena Faktor Manusia
Manusia
sebagai penguasa lingkungan hidup di bumi berperan besar dalam
menentukan kelestarian lingkungan hidup. Manusia sebagai makhluk ciptaan
Tuhan yang berakal budi mampu merubah wajah dunia dari pola kehidupan
sederhana sampai ke bentuk kehidupan modern seperti sekarang ini. Namun
sayang, seringkali apa yang dilakukan manusia tidak diimbangi dengan
pemikiran akan masa depan kehidupan generasi berikutnya. Banyak kemajuan
yang diraih oleh manusia membawa dampak buruk terhadap kelangsungan
lingkungan hidup.
Beberapa bentuk kerusakan lingkungan hidup karena faktor
manusia, antara lain: Terjadinya pencemaran (pencemaran udara,
air, tanah, dan suara) sebagai dampak adanya kawasan industri.
Terjadinya
banjir, sebagai dampak buruknya drainase atau sistem pembuangan air dan
kesalahan dalam menjaga daerah aliran sungai dan dampak pengrusakan
hutan.
Terjadinya
tanah longsor, sebagai dampak langsung dari rusaknya hutan. Beberapa
ulah manusia yang baik secara langsung maupun tidak langsung membawa
dampak pada kerusakan lingkungan hidup contohnya : Perburuan liar,
Penebangan hutan
BAB II
PEMBAHASAN
C. Penanganan Masalah berbasis Masyarakat
1. Mengembangkan Sistem Sosial yg Responsif
Dampak dari pemanasan global dapat merugikan seluruh umat manusia , membuat
seluruh elemen berlomba-lomba mengurangi pemanasan global. Program
ICBRR-CC adalah program upaya pengurangan resiko bencana dan peningkatan
kapasitas masyarakat dengan menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama
dalam penanggulangan bencana serta dampaknya, dalam masalah kesehatan,
kebutuhan pokok, sosial, ekonomi dan lingkungannya.
Tujuan
dari Program ICBRR-CC adalah meningkatnya kapasitas masyarakat dalam
merespon dampak / risiko bencana serta meningkatnya taraf kehidupan dan
ekonomi masyarakat. Dengan konsep, bahwa risiko bencana selalu ada dan
tinggi dengan adanya bahaya dan kerentananan di masyarakat, maka risiko
dapat dikurangi dengan peningkatan kapasitas yang ada di masyarakat
pula. Maka upaya pengurangan risiko bencana adalah dengan peningkatan
kapasitas masyarakat dan mengurangi kerentanan yang ada di masyarakat.
2. Pemanfaatan Modal Sosial
Menurut
Garbarino, pemanfaatan yang harmonis dari kekuatan manusia dan potensi
sumber alam akan menciptakan masyarakat yang berkelanjutan. Dikatakan,
bahwa gerakan masyarakat yang berkelanjutan ini akan memperkuat landasan
kesejahteraan sosial. Bertolak dari masalah-masalah pencemaran dan
kelestarian lingkungan, dia mnetengahkan empat faktor yang dapat
menentukan terwujudnya masyarakat yang berkelanjutan.
keempat faktor tersebut adalah :
1. Koreksi terhadap pola kependudukan yang kurang mendukung.
2. Inovasi
teknologi diarahkan untuk mengurangi faktor pembatasan sumber daya alam
dengan cara menciptakan subtitusi yang melimpah dari sumber daya alam
yang langka
3. Gaya hidup masyarakat kota yang industriil disesuaikan guna pengembangan manusia jangkapanjang,
4. Situasi yang menawarkan prospek jangka panjang bagi tirciptanya keadilan.
3. Pemanfaatan Institusi Sosial
a. Organisasi Masyarakat
Organisasi
masyarakat pada lingkungan hidup salah satunya adalaha WALHI (Wahana
Lingkungan Hidup Indonesia). WALHI merupakan forum kelompok masyarakat
sipil yang terdiri dari organisasi non-pemerintah (Ornop/NGO), Kelompok
Pecinta Alam (KPA) dan Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) yang didirikan
pada tanggal 15 Oktober 1980 sebagai reaksi dan keprihatinan atas
ketidakadilan dalam pengelolaan sumberdaya alam dan sumber-sumber
kehidupan, sebagai akibat dari paradigma dan proses pembangunan yang
tidak memihak keberlanjutan dan keadilan. WALHI menganut sistem
pemerintahan yang demokratis dengan prinsip tanggung gugat dan
transparan. Di tingkat nasional, Eksekutif Nasional menjalankan
program-program nasional organisasi, sementara kelembagaan yang
merupakan representasi seluruh anggota untuk menjalankan fungsi
legislatif disebut Dewan Nasional. Eksekutif Nasional dan daerah dipilih
melalui pemilihan langsung. Struktur organisasi dibangun berdasarkan
prinsip Trias Politika untuk menjamin pelaksanaan pembagian kekuasaan
dan kontrol dan untuk menghindari penyelewengan kekuasaan. Forum
pengambilan keputusan tertinggi WALHI adalah dalam pertemuan anggota
setiap tiga tahun yang disebut Pertemuan Nasional Lingkungan Hidup
(PNLH). Forum ini menerima dan mensahkan pertanggungjawaban Eksekutif
Nasional, Dewan Nasional serta Majelis Etik Nasional; merumuskan
strategi dan kebijakan dasar WALHI; menetapkan dan mensahkan Statuta;
serta menetapkan Eksekutif Nasional, Dewan Nasional, dan Majelis Etik
Nasional.
b. Organisasi Swasta
Peranan
pemerintah, swasta dan masyarakat dalam hal ini menjadi bagian
terpenting yang tidak terpisahkan dalam upaya mengelola lingkungan
pesisir dan laut. Dewasa ini, pengelolaan lingkungan secara terpadu
disinyallir terbukti memberikan peluang pengelolaan yang cukup efektif
dalam rangka menyeimbangkan antara pelestarian lingkungan dan
pemanfaatan ekonomi. Namun demikian, hal ini tidak menutup kemungkinan
akan adanya bentuk-bentuk pengelolaan lain yang lebih aplikatif
(applicable) dan adaptif (acceptable). Salah satu bentuk pengelolaan
yang cukup berpeluang memberikan jaminan efektifitas dalam
pengimplementasiannya adalah pengelolaan berbasis masyarakat (community
based management).
Komunitas/masyarakat
memiliki adat istiadat, nilai-nilai sosial maupun kebiasaan yang
berbeda dari satu tempat ke tempat lainnya. Perbedaan dalam hal-hal
tersebut menyebabkan terdapatnya perbedaan pula dalam praktek-praktek
pengelolaan lingkungan. Oleh karena itu, dalam proses pengelolaan
lingkungan perlu memperhatikan masyarakat dan kebudayaannya, baik
sebagai bagian dari subjek maupun objek
c.Optimalisasi Kontribusi Dalam pelayanan Sosial
Kesiapsiagaan
Bencana berbasis masyarakat ( KBBM/CBDP = Community Base Disaster
Preparedness). KBBM adalah program berbasis masyarakat yang mendorong
pemberdayaan kapasitas masyarakat untuk menyiagakan diri dalam mencegah
serta mengurangi dampak dan resiko bencana yang terjadi lingkungannya.
KBBM diterapkan karena masyarakat sebagai pihak yang terkena dampak
bencana, harus diberdayakan dengan pengetahuan dan ketrampilan yang
memadai, sehingga mampu melakukan upaya upaya penanganan dampak bencana
dan pengurangan resiko.
KBBM
diterapkan di daerah rawan bencana seperti banjir, longsor, gempa bumi,
gunung meletus, gelombang pasang/tsunami dan dimana masyarakatnya mudah
bekerjasama (bergotong royong) untuk melaksanakan upaya mitigasi atau
pengurangan resiko. KBBM bermanfaat bagi masyarakat yang paling rentan
yang secara langsung terancam kondisi kesehatan, kehidupan ekonomi dan
lingkungan hidupnya.
d. Kerjasama dan Jaringan
Peran
pemerintah dan masyarakat dalam pengelolaan sumberdaya dan lingkungan
seoptimal mungkin harus seimbang, terkoordinasi dan tersinkronisasi. Hal
ini penting dilakukan mengingat pemerintah mempunyai kewajiban untuk
memberikan pelayanan terhadap masyarakat, termasuk mendukung pengelolaan
sumberdaya dan lingkungan demi sebesar-besarnya kepentingan dan
kesejahteraan masyarakat. Di sisi lain, masyarakat juga mempunyai
tanggung jawab dan turut berperanserta untuk menjaga kelestarian dan
keberlanjutan sumberdaya alam dan lingkungan.
Pemerintah juga bekerjasama dengan organisasi :
1 Konferensi PBB tentang Lingkungan Hidup Manusia tahun 1972 di Stockholm (Swedia), mengangkat masalah lingkungan hidup tidak hanya menyangkut masalah suatu negara akan tetapi merupakan masalah dunia.
2.“Konvensi Perubahan Iklim” (United Nations Frame Work Convention on Climate Change) di Kota Kyoto (Jepang) pada tahun 1997 yang dihadiri oleh 170 negara untuk membahas pembatasan-pembatasan gas-gas penyebab efek rumah kaca.
D. Upaya Penanganan Masalah
1. Memproduksi minyak secara alami
Ada proses bernama
themo-depolymerization, suatu proses yang sama dengan bagaimana alam
memproduksi minyak. Misalnya libah berbasis
karbon jika dipanaskan dan diberi tekanan tepat, mampu menghasilkan
bahan minyak. Secara alami proses ini membutuhkan waktu jutaan tahun.
Dari eksperimen yang sudah-sudah, kotoran ayam kalkun mampu memproduksi
sekitar 600 pon petroleum.
2. Menghilangkan garam dari air laut
PBB mencatat, suplai air bersih akan sangat terbatas bagi milyaran manusia pada pertengahan abad ini. Ada teknologi bernama Desalinasi, yakni menhilangkan kadar garam dan mineral dari air laut sehingga layak diminum. Ini
merupakan solusi yang bias dilakukan untuk mencegah krisis air.
Masalahnya, teknologi ini masih terlalu mahal dan membutuhkan energi
cukup besar. Kini para ilmuan tengah mencari jalan agar desalinasi dapat
berlangsung dengan energi lebih sedikit. Salah satu caranya adalah
dengan melakukan evaporasi pada air sebelum masuk ke membrane dengan
pori-pori mikroskopis.
3. Tenaga Hidrogen
Bahan
bakar hydrogen dianggap sebagai bahan bakar alternative bebas polusi.
Energi dihasilkan dari perpaduan antara hydrogen dan oksigen. Problemnya
adalah bagaimana hydrogen itu dihasilkan. Molekul seperti air dan
alkohol harus diproses dulu untuk mengekstaksi hydrogen sehingga menjadi
sel bahan bakar. Proses ini juga membutuhkan energi besar. Namun
setidaknya ilmuwan sudah mencoba membuat laptop serta peranti lain
dengan tenaga fuel cell
4. Tenaga Surya
Energi
surya yang sampai di bumi terbentuk dari photon, dapat dikonversikan
menjadi listrik atau panas. Beberapa perusahaan sudah berhasil
menggunakan aplikasi ini. Mereka memakai sel surya dan termal surya
sebagai media pengumpul energi.
5. Menanami Atap Rumah
Tanaman
yang tanam di atap rumah ini mampu menyerap panas dan mengurangi karbon
dioksida. Bayangkan jika burung-burung dan kupu-kupu berterbangan di
sekitar rumah hijau kita.
6. Kubur barang-barang Perusak
Karbon
dioksida adalah factor utaa penyebab pemanasan global. Energy
Information Administration (EIA) mencatat, tahun 2030 emisi karbon
dioksida mencapai 8000 juta metric ton. Metode paling sederhana untuk
menekan kandungan zat berbahaya itu adalah dengan menguburkan berbagai
sumber penghasilan CO2 seperti aneka limbah elektronik berbahaya. Namun
ilmuan masih belum yakin bahwa gas berbahaya akan tersimpan aman
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Upaya
pelestarian lingkungan hidup yang telah dilakukan oleh banyak pihak
baik pemerintah, masyarakat contohnya pemerintah bekerja sama dengan PBB
tentang lingkungan hidup tetapi sampai sekarang masih banyak kerusakan
lingkungan yang ada di Indonesia seperti pembakaran hutan, enebang pohon
sembarangan dan pulusi udara semakin tercemar oleh asap kendaraan yang
semakin lama jumlah kendaraan semakin meningkat dan masih banyak juga
masyarakat yang belum menyadari pentingnya lingkungan hidup misalnya : masyarakat
masih ada yang membuang sampah sembarangan atau embuang sampah di kali.
Padahal lingkungan yang sehat sangat di butuhkan masyarakat. Jika
lingkungan sudah tercemar maka masyarakat juga yang kena dampaknya
misalnya jika air tercemar oleh limbah dan di konsumsi masyarakat maka
akan menimbulkan suatu penyakit dan itu merugikan masyarakat sendiri.
DAFTAR PUSTAKA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar