Pasti kita sudah mengetahui Indonesia secara geografis terletak di Asia
Tenggara bersama dengan sembilan negara lainnya. Atas dasar kesamaan
letak geografis maka dibentuklah suatu organisasi bernama ASEAN
(Asosiation South East Asia Nation).Dalam organisasi tersebut
terjalinlah suatu kerjasama dagang dalam wadah AFTA.
ASEAN Free
Trade Area (AFTA) merupakan wujud dari kesepakatan dari negara-negara
ASEAN untuk membentuk suatu kawasan bebas perdagangan dalam rangka
meningkatkan daya saing ekonomi kawasan regional ASEAN dengan menjadikan
ASEAN sebagai basis produksi dunia serta serta menciptakan pasar
regional bagi 500 juta penduduknya. ASEAN Free Trade Area (AFTA) adalah
kawasan perdagangan bebas ASEAN dimana tidak ada hambatan tarif (bea
masuk 0-5%) maupun hambatan non tarif bagi negara-negara anggota ASEAN.
.
.
Perkembangan terakhir AFTA adalah adanya kesepakatan untuk menghapuskan
semua bea masuk impor barang bagi Brunai Darussalam pada tahun 2010,
Indonesia, Malaysia, Philippines, Singapura,Thailand,Cambodia, Laos,
Myanmar dan Vietnam pada tahun 2015. Sebagai Con toh : Vietnam menjual
sepatu ke Thailand, Thailand menjual radio ke Indonesia, dan Indonesia
melengkapi lingkaran tersebut dengan menjual kulit ke Vietnam. Melalui
spesialisasi bidang usaha, tiap bangsa akan mengkonsumsi lebih banyak
dibandingyang dapat diproduksinya sendiri. Namun dalam konsep perdagang
tersebut tidak ada hambatan tarif (bea masuk 0-5%) maupun hambatan
non-tarif bagi negara – negara ASEAN melalui skema CEPT-AFTA.
AFTA
Sendiri dibentuk pada waktu Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN ke IV
di Singapura tahun 1992. Pada pelaksanaan perdagangan bebas khususnya
di Asia Tenggara yang tergabung dalam AFTA proses perdagangan tersebut
tersistem pada skema CEPT-AFTA. Common Effective Preferential Tarif
Scheme (CEPT) adalah program tahapan penurunan tarif dan penghapusan
hambatan non-tarif yang disepakati bersama oleh negara-negara ASEAN
sehingga dalam melakukan perdagangan sesama anggota, biaya operasional
mampu di tekan sehinnga akan menguntungkan.
Dalam skema CEPT-AFTA
barang – barang yang termasuk dalam tarif scheme adalah semua produk
manufaktur, termasuk barang modal dan produk pertanian olahan, serta
produk-produk yang tidak termasuk dalam definisi produk pertanian.
(Produk-produk pertanian sensitive dan highly sensitive dikecualikan
dari skemaCEPT).
Dalam skema CEPT, pembatasan kwantitatif
dihapuskan segera setelah suatu produk menikmati konsesi CEPT, sedangkan
hambatan non-tarif dihapuskan dalam jangka waktu 5 tahun setelah suatu
produk menikmati konsensi CEPT.
Tujuan AFTA adalah meningkatkan
daya saing ekonomi negara-negara ASEAN dengan menjadikan ASEAN sebagai
basis produksi pasar dunia, untuk menarik investasi dan meningkatkan
perdagangan antar anggota ASEAN
Mulai awal tahun ini
Indonesia 1 Januari 2010 terjadi pelaksanaan kesepakatan Kawasan
Perdagangan Bebas ASEAN-China. Idonesia bersama negara-negara ASEAN dan
CINA dalam perekonomiannya melakukan kegiatan perekonomian kawasan
perdagangan pasar bebas. Akibat nya terjadi pro dan kontra dampak yang
akan di timbulkan dari kegiatan ini .
Di Indonesia, para
pendukung Kawasan Perdagangan Bebas ASEAN-China (ACFTA) melihat
pelaksanaan kesepakatan perdagangan itu akan bermakna besar bagi
kepentingan geostrategis dan ekonomis Indonesia dan Asia Tenggara secara
keseluruhan. Pertumbuhan perekonomian China yang relatif pesat waktu
itu menjadikan Negara Tirai Bambu itu salah satu aktor politik dan
ekonomi yang patut diperhitungkan Indonesia dan ASEAN. Mereka yang
berpendapat kritis terhadap kesepakatan perdagangan ini melihat potensi
ambruknya industri domestik di Indonesia yang akan kesulitan menghadapi
tantangan dari membanjirnya impor produk murah dari China.
Kita
juga mengetahui perdagangan bebas (liberalization of trade) tidak bisa
di hindari dari suatu perekonomian suatu negara yang terbuka.
Perdagangan bebas telah menciptakan sebuah akselerasi dalam pertumbuhan
ekonomi dunia. Dahulu, merkantilisme yang berkarakteristik
proteksionisme mendorong terjadinya penjajahan Barat atas Asia dan
Afrika. Negara Barat pertama kali memperkenalkan perdagangan bebas ke
negara-negara Asia, banyak yang merespon dengan skeptisisme serta
melihat hal ini tak lain adalah bentuk imperialisme gaya baru.
Perdagangan bebas telah bertransformasi menjadi macan-macan Asia yang
sekarang malah sebaliknya membuat takut negara-negara Barat yang
memperkenalkan pasar Bebas.
World Bank merilis sebuah laporan
yang menyatakan ”bahwa eliminasi total terhadap hambatan dalam
perdagangan akan mengangkat puluhan juta orang dari kemiskinan. Bagi
negara-negara berkembang, liberalisasi perdagangan dapat menjadi
powerful tool bagi penghilangan kemiskinan dalam masyarakat” karena
dengan dihilangkannya hambatan perdagangan, tentu akan membuat harga
barang semakin murah sehingga purchasing power masyarakat semakin
meningkat. perdagangan bebas merupakan salah satu instrumen dalam
menciptakan kemakmuran.
Banyak Permintaan sejumlah pengusaha
lokal Indonesia untuk menunda pelaksanaan penuh ACFTA tapi sebenarnya
kurang beralasan., Karena Indonesia, seperti negara Asia Tenggara lain,
telah diberikan tenggang lima tahun untuk mempersiapkan diri.dan
pemerintah malah semakin aktif mendorong terbentuknya kesepakatan
perdagangan bebas bilateral dengan negara-negara mitra dagang utama
lain, seperti Jepang, Korea Selatan, Amerika Serikat, dan Uni Eropa.
Akan
tetapi terjadi permasalahan utama bagi pengusaha local adalah
ketidakimbangnya antara produk impor dengan harga produk yang di
hasilkan oleh para pengusaha local Indonesia sehingga harga produk yang
di hasilkan oleh pengusaha local relative lebih mahal.
Masyarakat
di berbagai negara berkembang dan di negara miskin yang sudah terlibat
dalam perdagangan bebas bilateral sudah dapat melihat bahwa kesepakatan
ini dapat berdampak cukup serius terhadap kelangsungan kehidupan
ekonomi, sosial, dan politik di negara-negara tersebut. Apindo
menengarai Indonesia belum siap menghadapi perdagangan bebas dengan
Cina, sang raksasa manufaktur. Menurut Apindo, FTA akan membuat 7,5 juta
pekerja industri manufaktur kehilangan pekerjaannya. Beberapa pengamat
melihat CAFTA hanya akan merugikan Indonesia karena hanya akan membuat
defisit perdagangan dengan Cina semakin membesar. Selain itu, CAFTA akan
menghancurkan industri manufaktur lokal. Namun apakah penundaan FTA
merupakan sebuah solusi permanen atau hanya penyelesaian jangka pendek
dari permasalahan mendasar dari industri manufaktur kita.
Sebelum
era perdagangan bebas ASEAN-China diberlakukan pun, kita sudah tak
berdaya menghadapi gempuran barang impor ilegal dari China. Neraca
perdagangan Indonesia dengan China juga berapor merah dalam lima tahun
terakhir. Impor dari China lebih besar daripada ekspor kita ke `Negeri
Tirai Bambu’
Banyak Permintaan sejumlah pengusaha lokal Indonesia
untuk menunda pelaksanaan penuh ACFTA tapi sebenarnya kurang
beralasan., Karena Indonesia, seperti negara Asia Tenggara lain, telah
diberikan tenggang lima tahun untuk mempersiapkan diri.dan pemerintah
malah semakin aktif mendorong terbentuknya kesepakatan perdagangan bebas
bilateral dengan negara-negara mitra dagang utama lain, seperti Jepang,
Korea Selatan, Amerika Serikat, dan Uni Eropa.
Strategy Menghadapi Perdagangan Bebas Menurut Mentri Perdagangan dan Pengamat Ekonomi
Sekretaris Jenderal Kementerian Perdagangan Ardiansyah Parman memaparkan jurus menghadapi ACFTA. Antara lain:
-
Meningkatkan daya saing, pengamanan perdagangan dalam negeri serta
penguatan ekspor."Untuk penguatan daya saing pihak Kementerian akan
melaksanakan pembenahan infrastruktur dan energi, pemberian insentif,
membangun KEK (Kawasan Ekonomi Khusus), memperluas akses pembiayaan dan
pengu-rangan biaya bunga, pembenahan sistem logistik, pelayanan publik,
serta penyederhanaan peraturan dan meningkatkan kapasitas kerja,"
-
Strategi pengamanan pasar domestik akan difokuskan kepada pengawasan
tingkat border (pengamanan) serta peredaran barang di pasar lokal. Namun
pihaknya juga akan melakukan promosi penggunaan produksi dalam negeri.
Sedangkan untuk penguatan industri, pihak Kementerian Perdagangan
berupaya mengoptimalkan peluang pasar China dan ASEAN sekaligus
penguatan peran perwakilan luar negeri. Kementerian berusaha
mengembangkan kebijakan dan diplomasi perdagangan di forum
internasional, menjaga pertumbuhan (Ekonomi, menekan kesenjangan
kesejahteraan masyarakat dan lainnya," Kementerian Perdagangan telah
menetapkan beberapa program dan kegiatan yang bertujuan meningkatkan
daya saing komoditi ekspor serta mengamankan perdagangan dalam negeri.
Anggota
DPR Komisi VI F-Ge-rindra Edhy Prabowo mengharapkan kalangan industri
bisa merubah stigma ancaman dari ACFTA jadi sebuah peluang untuk
bersaing dan meningkatkan hasil produksi.
Menurut Pengamat
Ekonomi Untan, Evi Asmayadi mengefektifkan Peraturan Menteri Perdagangan
Nomor 56/2008 yang mengharuskan setiap barang impor yang masuk ke
Indonesia harus lolos verifikasi Sucofindo.Hasil verifikasi itu bisa
dicantumkan dalam bentuk sertifikat yang ditempel di setiap barang
produk impor yang masuk ke pasar Indonesia. Kemudian segera diberlakukan
penggunaan Standar Nasional Indonesia (SNI) terhadap produk impor,
termasuk produk buatan Cina yang akan masuk. Selanjutnya, SNI harus
diberlakukan terhadap produk-produk buatan pabrik milik perusahaan Cina
yang ada di Indonesia. “Penerapan SNI ini penting untuk menciptakan
standarisasi produk-produk impor yang masuk ke Indonesia, yang tak
kalah penting adalah membenahi faktor-faktor yang menyangkut peraturan
dan perijinan, meminimalisir ekonomi biaya tinggi, menurunkan suku bunga
kredit, mempercepat pembangunan dan perbaikan infrastruktur, khususnya
listrik, jalan, air bersih, dan pelabuhan, kemudian meningkatkan
kualitas entrepreneur dan tenaga kerja, teknologi produksi, pemasaran,
keuangan, iklim usaha dan investasi.
Pemberlakuan kawasan
perdagangan bebas ASEAN-China atau ASEAN-China Free Trade Area (ACFTA)
mulai Januari 2010 sudah terlanjur kita hadapi. Suka atau tidak suka dan
siap atau tidak siap, kita harus siap, ini tak bisa lagi dihindari,
ini harus kita hadapi dan dijalani. jadikanlah pemberlakuan ACFTA ini
sebagai kesempatan, bukan semata-mata ancaman yang dipandang sebagai
momok menakutkan. , ancaman harus dipandang sebagai pelecut agar dapat
berlari mengejar ketertinggalan melalui berbagai upaya yang inovatif,
kreatif, dan sinergis.
Kesimpulan
Produk
cina tentunya sudah lama masuk di Indonesia tetapi sekarang produk cina
mengancam pembisnis Indonesia, Hal ini di karenakan produk Cina yang
terkenal murah sudah membuat pebisnis lokal ketar-ketir. Namun karena
ACFTA, Januari ini, 83% dari 8.738 produk impor Cina bebas masuk ke
pasar Indonesia tanpa dikenai bea masuk. Wajarlah terjadi kecemasan,
dulu pun telah membawa dampak, apalagi sekarang yang tanpa di kenakan
bea masuk.
Produk cina sangat murah pasti ada penyebabnya yaitu :
Cina
unggul di 12 faktor kompetisi bisnis (GCI Cina di 29, Indonesia di 54).
Kecuali faktor efisiensi pasar barang dan jasa, Cina menang telak di
faktor sistem birokrasi yang cepat-tepat, infrastruktur, stabilitas
ekonomi, inovasi bisnis, efisiensi tenaga kerja dan ukuran pasar
(sehingga mampu mencapai economies of scale).
Cina menerapkan
strategi Reverse Engineering atau imitasi, sehingga mengurangi biaya
riset & pengembangan, serta dapat memproduksi barang yang bervariasi
dalam waktu singkat.
adanya tax free policy selama tiga tahun
pertama untuk perusahaan joint venture, subsidi 13,5% dari pemerintahan
lokal dalam bentuk tax refund, pinjaman bank yang hanya 3% per tahun,
serta banyaknya industri pendukung sehingga industri Cina tidak perlu
mengimpor barang. Mata uang yuan yang dipatok terhadap US$ membuat harga
ekspor barang Cina menjadi sangat murah.
sistem politik di Cina
lebih terbuka dan tidak memberangus kritik lagi sehingga mendorong
perbaikan bersinambung. Contohnya, ada pertemuan tahunan yang disebut
Chinese Economists Society.
Adanya jejaring keluarga. Pebisnis Cina bisa menekan biaya pemasaran karena menggunakan jejaring ini untuk promosi.
Ada
trust antarpedagang, terutama kredit yang dilandasi guanxi (hubungan).
Guanxi ini tidak hanya pada keluarga, tetapi juga kesamaan asal daerah,
sekolah dan persahabatan.
investasi luar biasa di sektor pendidikan.
Pada 1998, 3,4 juta pelajar masuk ke universitas. Empat tahun kemudian,
pendaftaran universitas naik 165% dan siswa Cina yang ke luar negeri
naik 152%. Setelah lulus mereka kembali dan membangun negerinya. Walau
awalnya hanya menjadi pabrik alih daya, karena SDM-nya sudah menguasi
teknologi, tak mengherankan perusahaan Cina seperti Lenovo bisa membeli
IBM Thinkpad, Huawei mengancam Cisco dan Ericsson, serta Haier mengejar
GE, Whirlpool dan Maytag.
walau upah tenaga kerja hampir sama, buruh
Cina bekerja lebih efisien (Cina di peringkat 32, Indonesia di 75 dari
133 negara). Produktivitas pekerja Cina naik 6% per tahun (1978-2003).
Di Cina, satu produk butuh seorang pekerja. Di Indonesia, butuh tiga
pekerja.
Permasalahan Industri dan Perdagangan Indonesia
1.
Industri Indonesia sangat tergantung pada impor sumber-sumber teknologi
dari negara lain, terutama negara-negara yang telah maju dalam
berteknologi dan berindustri (industrially developed countries).
Ketergantungan yang tinggi terhadap impor teknologi ini merupakan salah
satu faktor tersembunyi yang menjadi penyebab kegagalan dari berbagai
sistem industri dan sistem ekonomi di Indonesia.
2. Tataran
nasional maupun internasional, sistem industri Indonesia tidak memiliki
kemampuan responsif dan adaptif yang mandiri. Karenanya sangat lemah
dalam mengantisipasi perubahan dan tak mampu melakukan tindakan-tindakan
preventif untuk menghadapi terjadinya perubahan tersebut. Tuntutan
perubahan pasar dan persaingan antar industri secara global tidak hanya
mencakup perubahan di dalam corak, sifat, kualitas, dan harga dari
komoditas yang diperdagangkan, tetapi juga tuntutan lain yang muncul
karena berkembangnya idealisme masyarakat dunia terhadap hak azasi
manusia, pelestarian lingkungan, liberalisasi perdagangan, dan
sebagainya.
3. Gerak ekonomi Indonesia sangat tergantung pada
arus modal asing yang masuk ke Indonesia serta besarnya cadangan devisa
yang terhimpun melalui perdagangan dan hutang luar negeri.
4.
Komposisi komoditi ekspor Indonesia pada umumnya bukan merupakan
komoditi yang berdaya saing, melainkan karena adanya keunggulan
komparatif yang berkaitan dengan (i) tersedianya sumber daya alam -
seperti hasil perikanan, kopi, karet, dan kayu; dan (ii) tersedianya
tenaga kerja yang murah – seperti pada industri tekstil, alas kaki, dan
barang elektronik. Keunggulan komparatif, bukan keunggulan kompetitif,
inilah yang dijadikan acuan untuk menarik investor.
5. Komoditi
primer yang merupakan andalan ekspor Indonesia pada umumnya dalam bentuk
bahan mentah (raw material), sehingga nilai tambah yang diperoleh
sangat kecil. Misalnya Indonesia mengekspor kayu dalam bentuk
gelondongan, yang kemudian diimpor lagi dalam bentuk mebel (furniture)
karena terbatasnya penguasaan desain dan teknologi finishing.
6.
Masih relatif rendahnya kualitas sumber daya manusia. Hal ini sangat
dipengaruhi oleh sistem pendidikan formal dan pola pelaksanaan pelatihan
yang cebderung masih bersifat umum dan kurang berorientasi pada
perkembangan kebutuhan dunia usaha. Selain itu, rendahnya kualitas
sumber daya manusia akibat dari pola penyerapan tenaga kerja di masa
lalu yang masih mementingkan pada jumlah tenaga manusia yang terserap
(labor intensive) ketimbang kualitas tenaga manusianya (labor
efficiency).
Kebanyakan Masyarakat Indonesia pada umumnya lebih
berminat produk cina karena ia menawarkan tarif yagng lebih murah dari
pada produk dalam negri indonesia sendiri hal ini di pengaruhi oleh daya
beli masyarakat dan pendapatan yang di hasilkan tiap bulannya . Karena
sebagian besar masyarakat indonesia adalah para petani yang rentan
dengan kemiskinan dan tingkat daya beli nya rendah sudah pasti memilih
menggunakan produk cina yang murah dari pada produk Indonesia
Menurut saya cara mengatasi perdagangan bebas di indonesia yang paling sederhananya
adalah dengan mencintai produk indonesia sendiri . Sebaiknya
masyarakat tidak berfikir singkat untuk membeli produk cina tersebut
umpamanya : kita membeli hp cina yang sangat murah 3x lipat dari pada hp
nokia, dengan fitur dan fasilitas lengkap seperti hp nokia yangagak
mahal jika di bandingkan harga sepintas masyrakat tentunya memilih hp
cina karena harganya murah dan fasilitasnya lengkap akan tetapi jika
kita berfikir jauh ke depan apakah kualitas hp cina tu sama dengan hp
nokia, apakah jika di jual kembali harga tidak jatuh, akan kan mudah
mencari sperpat hp cina , apakah awet dalam penggunaan nya, apakah mudah
rusak dsb. Sudah tentunya hal-hal demikian harus lebih di fikirkan
sebelum kita memutuskan untuk membeli hp tersebut .
Kita harus
mencontoh negara jepang yang maju. Negara tersebut lebih kecil
wilayahnya dan tidak banyak mempunyai sumber daya alam dari pada negara
Indonesia tetapi Masyarakat negara Jepang lebih mencintai produk negri
nya sendiri dari pada produk impor. Mereka tidak mau membeli produk
impor karena mereka menyadari bahwa jika industri lokalnya mati maka
perekonomian negaranya juga akan terpukul . Jauh berbeda dengan
masayarakat indonesia yang lebih menyukai produk impor mungkin karena
gengsi atau sebagai kebanggan mereka dapat membeli produk impor .
Contohnya masyarakat kalangan atas lebih suka berbelanja di luar negri
dan mengenakan pakaian yang berasal dari luar negri .
Yang
saya ingin ingatkan kualitas produk indonesia tak kalah baiknya dengan
produk luar negri mungkin lebih baik .Sebagai masyarakat Indonesia sudah
sepatutnya mencintai produk negaranya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar