Oleh Muhammad Abdul Aziz
Jurusan Pendidikan IPS Universitas Negeri Yogyakarta
BAB I
Jurusan Pendidikan IPS Universitas Negeri Yogyakarta
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Setiap Negara di dunia itu pasti memiliki sejarah masing-masing tentang kemerdekaannya, entah itu atas perjuangan dari rakyatnya sendiri atau atas pemberian dari Negara lain yang pernah menjajah. Nasionalisme merupakan suatu proses pembentukan, atau pertumbuhan bangsa-bangsa, suatu sentimen atau kesadaran memiliki bangsa bersangkutan, suatu bahasa dan simbolisme bangsa, suatu gerakan sosial dan politik demi bangsa bersangkutan. Nasionalisme sebenarnya boleh didefinisikan sentimen kecintaan terhadap sebuah negara. Sentimen itu hanya ditumpukan kepada satu negara bangsa saja yang dapat mendorong kepada keinginan untuk berjuang mebebaskan tanah air dari cengkaman kuasa asing. Semangatnasionalisme ini wujud hasil daripada keinginan untuk menebus perubahan bangsa serta membentuk nasib dan masa depan sebuah bangsa dan Negara. Nasionalisme padaumumnya bertujuan mewujudkan kebebasan individu dan negara dari cengkaman dan kongkongan pemerintah dan kuasa asing. Oleh karena itu perlu dibahas masalah Nasionalisme suatu Negara, agar para rakyatnya dapat mengerti akan perjuangan para pahlawan yang telah memperjuangkan kemerdekaan negaranya.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana Nasionalisme di Indonesia?
2. Bagaimana Nasionalisme di Asia dan Afrika?
3. Bagaimana nasionalisme di Eropa?
C. Tujuan
1. Mengetahui Nasionalisme di Indonesia.
2. Mengetahui Nasionalisme di Asia dan Afrika.
3. Mengetahui Nasionalisme di Eropa.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Nasionalisme di Indonesia
Gagasan nasionalisme yang berkembang di Indonesia seharusnya tidak dipahami hanya dari sudut perkembangan obyektif semata, tetapi juga dalam ruang politik pembentukan negara republik dan kebutuhan survival sebuah negara baru dalam pergaulan internasional. Tidak dapat dimungkiri, saat terbentuk republik bernama Indonesia, konteks sejarah saat itu menunjukkan beragamnya pikiran dan ideologi manusia Indonesia yang mengambil inspirasi dari gagasan-gagasan religius atau sekuler. Selain itu, kekuatan-kekuatan politik yang ada juga mengusung beragam faham seperti sosialisme, Islam, marhaenisme, dan komunisme, termasuk kelompok-kelompok etnis dan keturunan Tionghoa dan Arab. Situasinya bisa dibayangkan seperti keramaian pasar malam yang menawarkan beragam faham, kepentingan, dan gagasan.
Untuk mempermudah, kita bisa menyebutkan, keragaman itu tidak menghalangi lahirnya kesepakatan bersama membangun suatu negara baru berbentuk republik. Tidak mengherankan bila struktur birokrasi negara yang terbentuk mengambil alih begitu saja struktur negara kolonial. Tetapi, yang jelas, ia bukan replikasi birokrasi kerajaan atau tradisi kesukuan di Indonesia.
Republik Indonesia dibentuk dari institusi yang dilahirkan masyarakat modern. Dengan demikian, bisa disimpulkan, sejarah pembentukan republik tidak menunjukkan keberadaan suatu gagasan nasionalisme Indonesia dalam arti bulat dan utuh. Bukan berarti Sumpah Pemuda tahun 1928 tidak berarti, tetapi makna Indonesia memiliki arti berbeda ketika negara republik dibentuk, dibanding saat pertama kali gagasan itu diikrarkan.
Dalam perkembangannya, nasionalisme Indonesia bisa dimengerti dalam konteks internasional saat awal perang dingin. Doktrin Truman mulai diterapkan untuk menghadapi laju komunisme di Eropa, garis komintern dan doktrin Zdanov dalam kaitan dengan gerakan-gerakan radikal di dunia ketiga dan lahirnya negara-negara baru di Asia dan Afrika memasuki dekade tahun 1950-an dan tahun 1960-an.
Perlu disebutkan juga teori tiga dunia yang dipelopori Mao Tse Tung dan Chou En Lai yang membagi kondisi politik internasional dalam blok Barat di bawah Amerika Serikat, blok Timur di bawah Uni Soviet saat itu, dan negara-negara dunia ketiga yang baru merdeka. Cetusannya dalam konteks historis adalah Konferensi Asia-Afrika dan lahirnya gagasan Non-Blok yang menjadi kekuatan baru di dunia.
Kesimpulannya, Indonesia sebagai imagined community terbentuk dari kesadaran politik orang-orang Indonesia saat itu dalam membangun republik baru dan pertarungan dalam politik internasional. Presiden pertama RI Soekarno tidak pernah terlalu pusing membahas apa itu nasionalisme Indonesia. Ia adalah seorang romantik yang mencintai rakyatnya dan mengagumi keragaman budaya Nusantara. Ia tidak merasa tidak Indonesia meski lebih akrab berbahasa Belanda atau Jawa dengan kolega, sahabat, atau saat berpidato di depan massa.
Artinya, para elite politik saat itu tidak mempersoalkan makna nasionalisme dalam konteks identitas seperti yang kini dibayangkan. Seorang antropolog Amerika, James Siegel, menggambarkan ilustrasi menarik tentang tokoh Tan Malaka yang dengan mudah berganti-ganti identitas menjadi orang Tionghoa, Filipina, Melayu, atau petani Jawa. Mungkin orang yang paling romantis saat itu, dalam kaitan dengan nasionalisme Indonesia, adalah Mohammad Yamin yang mencari jejak sejarah seribu tahun Indonesia yang sudah barang tentu hanya sekadar imajinasi. Nasionalisme lebih merupakan gagasan yang menjadi medium komunikasi politik antara penguasa dan rakyat (http://els.bappenas.go.id/upload/other/Tentang%20Nasionalisme%20Indonesia.htm)
Semenjak ide-ide perubahan dan nasionalisme mulai masuk ke Indonesia, ada perubahan di dalam menghadapi kolonialisme dan imperialisme Barat. Perubahan itu antara lain mencakup strategi, pemimpin pergerakan, dan cakupan wilayah gerakan. Perlawanan terhadap kolonialisme tidak lagi ditempuh melalui perjuangan bersenjata tetapi menggunakan organisasi atau perkumpulan yang dipimpin oleh kelompok bangsawan terpelajar dengan cakupan wilayah yang lintas etnis dan budaya. Salah satu faktor yang mampu mempersatukannya adalah adanya kesadaran nasional.
Kesadaran itu mulai bangkit setelah periode politik etis diterapkan di Indonesia. Periode ini ditandai oleh munculnya priayi baru yang menempatkan pendidikan sebagai kunci perubahan masyarakat. Oleh karena itu, tidak aneh apabila banyak organisasi pergerakan yang menempatkan pendidikan sebagai tujuan gerakan. Gerakan yang muncul di Indonesia seperti Budi Utomo, Sarekat Islam, Indische Partij, Muhammadiyah, Perhimpunan Indonesia, Partai Nasional Indonesia.
B. Nasionalisme di Asia dan Afrika
1. Nasionalisme di Jepang
a. Masa Keshogunan
Sejak pemerintahan Shogun Tokugawa (pada abad ke-17), Jepang melakukan politik isolasi (artinya menarik diri dari pengaruh asing–Barat). Politik isolasi ini mulai dijalankan oleh Iyeyashu Tokugawa (1639) dan diteruskan oleh para penggantinya. Tujuan politik isolasi untuk menjamin tetap tegaknya pemerintahan Shogun dan mencegah masuknya pengaruh asing (Barat). Selama Jepang menutup diri, dunia Barat terus melaju pesat dengan
industri dan teknologinya. Untuk itu bangsa-bangsa Barat membutuhkandaerah pasaran hasil industri. Amerika Serikat, merupakan salah satu bangsa Barat yang ingin masuk ke Jepang untuk membuka hubungan dagang.
industri dan teknologinya. Untuk itu bangsa-bangsa Barat membutuhkandaerah pasaran hasil industri. Amerika Serikat, merupakan salah satu bangsa Barat yang ingin masuk ke Jepang untuk membuka hubungan dagang.
Pada tahun 1846, Amerika Serikat mengirimkan utusannya ke Jepang di bawah pimpinan Laksamana Biddle, tetapi ditolak oleh Shogun. Pada tahun 1853, mengirimkan lagi utusannya lengkap dengan kapalperangnya di bawah pimpinan Matthew Commodore Perry. Perry menghadap Shogun dan meminta agar Jepang mau membuka kota-kota pelabuhannya untuk perdagangan internasional. Pemerintah Jepang mintawaktu untuk memikirkan permintaan Amerika Serikat. Perry beserta rombongan kembali ke Amerika.
Pada tahun 1854, rombongan Perry lengkap dengan tujuh kapal perangnya mendarat lagi di Yedo, dan berhasil memaksa Shogun Iyesada (1853–1858) untuk menandatangani Perjanjian Kanagawa (31 Maret 1854) yang isinya kota pelabuhan Shimoda dan Hokodate dibuka untuk perdagangan asing. Dengan demikian, runtuhlah politik isolasi Jepang sehingga negara tersebut terbuka untuk bangsa asing. Sejak saat itu, Jepang menyadari akan ketinggalannya dengan bangsabangsa Barat. Yang menjadi sasaran kemarahan rakyat Jepang ialah pemerintahan Shogun. Yoshinobu dipaksa turun takhta dan menyerahkan kekuasaannya kepada Kaisar Mutsuhito (Kaisar Meiji) pada tanggal 8 September 1867. Secara resmi Kaisar Meiji memerintah Jepang dari tanggal 25 Januari 1868 sampai dengan 30 Juli 1912.
b. Nasionalisme Jepang
Terbukanya Jepang bagi bangsa asing yang disusul dengan runtuhnya kekuasan Shogun dan tampilnya Kaisar Meiji (Meiji Tenno), menandai bangkitnya nasionalisme Jepang. Pada tanggal 6 April 1868, Meiji Tenno memproklamasikan Charter Outh (Sumpah Setia) menuju Jepang baru yang terdiri atas lima pasal, seperti berikut:
1) Akan dibentuk parlemen.
2). Seluruh bangsa harus bersatu untuk mencapai kesejahateraan.
3) Adat istiadat yang kolot dan yang menghalangi kemajuan Jepang harusdihapuskan.
4) Semua jabatan terbuka untuk siapa saja.
5) Mendapatkan ilmu pengetahuan sebanyak mungkin untuk pembangunanbangsa dan negara.
Untuk mencapai cita-cita tersebut maka Meiji Tenno melaksanakan pembaharuan (restorasi). Itulah sebabnya Kaisar Meiji kemudian dikenal dengan Meiji Restorasi. Restorasi yang dilakukan meliputi segala bidang, yakni politik, ekonomi, pendidikan dan militer.
1) Bidang Politik
Langkah pertama yang diambil oleh Meiji Tenno ialah memindahkan ibu kota dari Kyoto ke Yedo yang kemudian diganti menjadi Tokyo (yang berarti ibu kota timur). Selanjutnya, diciptakan bendera kebangsaan Jepang Hinomoru dan dan lagu kebangsaan Jepang, Kimigayo. Shintoisme dikukuhkan sebagai agama nasional.Jabatan shogun dan daimyo dihapuskan (1868) dan samuraidibubarkan. Para daimyo kemudian diangkat menjadi pegawai negeri,sedangkan para samurai dijadikan tentara nasional. Di bawah pimpinanIto Hirobumi (kemudian dikenal Bapak Konstitusi Jepang) pada tahun1889 berhasil disusun konstitusi Jepang.
2) Bidang Ekonomi
Pembangunan di bidang ekonomi, meliputi bidang
pertanian, perindustrian, dan perdagangan, namun yang paling berhasildi bidang perindustrian dan perdagangan. Perdagangan Jepang maju pesat berkat dumping policy. Di bidang industri muncul golongan baru yang disebut Zaibatsu yang terdiri atas keluarga Mitsui, Mitsubishi, Sumitomo, dan Jassuda.
pertanian, perindustrian, dan perdagangan, namun yang paling berhasildi bidang perindustrian dan perdagangan. Perdagangan Jepang maju pesat berkat dumping policy. Di bidang industri muncul golongan baru yang disebut Zaibatsu yang terdiri atas keluarga Mitsui, Mitsubishi, Sumitomo, dan Jassuda.
3) Bidang pendidikan
Sistem pendidikan di Jepang meniru sistem pendidikan Barat.
Dasar moral yang diajarkan di semua sekolah ialah Shintoisme dan
Budhisme. Pada tahun 1871, dibentuklah Departemen Pendidikan.
Selanjutnya pada tahun 1872 dikeluarkan Undang-Undang Pendidikanyang mewajibkan belajar untuk anak-anak umur 6–14 dan bebas uangsekolah. Sistem pendidikannya semimiliter.
Dasar moral yang diajarkan di semua sekolah ialah Shintoisme dan
Budhisme. Pada tahun 1871, dibentuklah Departemen Pendidikan.
Selanjutnya pada tahun 1872 dikeluarkan Undang-Undang Pendidikanyang mewajibkan belajar untuk anak-anak umur 6–14 dan bebas uangsekolah. Sistem pendidikannya semimiliter.
4) Bidang Militer
Dalam pembaharuan angkatan perang yang mempunyai peranan besar ialah keluarga Choshu dan Satsuma. Keluarga Choshu menangani pembaharuan Angkatan Darat dengan mencontoh Prusia (Jerman), sedangan keluarga Satsuma menangani pembaharaun Angkatan Laut dengan mencontoh Inggris. Bersamaan dengan modernisasi angkatan perang ini dihidupkan kembali ajaran bushido sebagai jiwa kemiliteran.
c. Jepang Muncul sebagai Negara Imperialis
Restorasi telah berhasil mengangkat harkat dan martabat bangsa dan negara Jepang. Jepang menjadi negara maju, modern, dan sejajar dengan negara-negara Barat. Hal ini kemudian menimbulkan ambisi untuk melakukan imperialisme seperti negara-negara Barat. Faktor-faktor yang mendorongnya:
1) Adanya pertambahan penduduk yang cepat.
2) Adanya perkembangan industri yang begitu pesat, butuh daerah pasaran dan bahan mentah.
3) Adanya pembatasan migran Jepang yang dilakukan oleh negara-negara Barat.
4) Pengaruh ajaran Shinto tentang Hakko I Chi-u (dunia sebagai keluarga), di mana Jepang terpanggil untuk memimpin bangsa-bangsa di dunia (Asia-Pasifik).
Ambisi imperialisme Jepang menyebabkan Jepang terlibat dalampeperangan. Untungnya, dalam setiap peperangan Jepang selalu mendapatkan kemenenangan. Perang Cina–Jepang I (1894–1895)dimenangkan oleh Jepang dan diakhiri dengan Perjanjian Shimonoseki(1895). Hasilnya, Jepang memperoleh Kepulauan Pescadores dan Taiwan.Perang Rusia–Jepang (1904–1905) dimenangkan oleh pihak Jepang dandiakhiri dengan Perjanjian Portsmouth (1905). Hasilnya Jepang mendapatkan Shakalin Selatan dan menggantikan posisi Rusia di Manchuria. Kemenangan Jepang ini memberikan pengaruh yang besar bagi tumbuhnya nasionalisme di negara-negara Asia dan Afrika. Dalam Perang Dunia I, Jepang juga ikut terlibat perang dan memihak kepada Sekutu. Jepang berhasil menyapu pasukan-pasukan Jerman di Cina ataupun di Pasifik. Itulah sebabnya setelah perang berakhir dengan kekalahan di pihak Jerman, Jepang memperoleh daerah bekas jajahan Jerman, sepertiShantung (di Cina), Kepulauan Marshal, Mariana, dan Caroline (di Pasifik). Dengan demikian, sampai dengan berakhirnya Perang Dunia I, Jepang telah berhasil menguasai banyak daerah. Jepang telah muncul menjadi negara besar (the great powers) (http://id.shvoong.com/humanities/history/2070244-nasionalisme-jepang/).
2. Nasionalisme China
a. Runtuhnya Dinasti Manchu
Mulai pertengahan abad ke-17 ( 1644), Cina berada di bawah kekuasaan dinasti asing yakni Dinasti Machu. Di bawah pemerintahan Kaisar K'ang Hsi (1662–1722) dan Ch'ien Lung (1736–1796), Cina mengalami masa kejayaan. Akan tetapi, setelah meninggalnya kedua kaisar tersebut. Dinasti Manchu berangsur-angsur mengalami kemunduran dan akhirnya runtuh.
1) Perang Candu (1839–1842).
Berawal dari aktivitas Inggris yang memasukkan candu secara besar-besaran ke Cina tanpa membayar bea cukai menyebabkan Cina (Lin Tse Hsu) membuang 20.000 peti candu seharga 9 juta dollar ke laut. Hal ini menimbulkan ketegangan antara Cina dan Inggris sehingga meletuslah Perang Candu. Perang berakhir dengan kemenangan Inggris dan diakhiri dengan Perjanjian Nanking, 29 Agustus1842.
Perjanjian Nanking isinya, antara lain sebagai berikut:
a) Cina menyerahkan Hongkong kepada Inggris.
b) Cina mengganti kerugian perang sebesar 6 juta dollar.
c) Lima kota pelabuhan (Canton, Amoy, Foochow, Ningpo, dan Shanghai) dibuka untuk perdagangan asing.
Kekalahan Cina dalam Perang Candu ini mengakibatkan martabat bangsa Cina menurun dan suramnya Dinasti Manchu di dunia internasional.
2) Pemberontakan T'ai Ping.
Pemberontakan ini dilakukan oleh rakyat Cina yang bertujuan untuk menggulingkan kekuasaan Dinasti Manchu. Adapun sebab-sebab timbulnya pemberontakan T'ai Ping, antara lain sebagai berikut:
a) Lenyapnya kepercayaan rakyat Cina terhadap Dinasti Manchuakibat kekalahannya dalam Perang Candu.
b) Rakyat yang sudah menderita masih dibebani pajak yang tinggi untuk ganti kerugian perang.
c) Timbulnya semangat nasionalisme.
d) Berkembangnya agama Kristen Pemberontakan meletus pada tahun 1851 di Kwangsi di bawah pimpinan Hung Hsiu Chuan. Dengan paham Kristennya, Hung ingin membebaskan rakyat Cina dari kekuasaan Dinasti Mancu yang korup dan bobrok. Di Nanking, Hung Hsiu Chuan berhasil mengangkat dirinya menjadi raja dengan gelar T'ien Wang (Kaisar Langit) dan kerajaannya dinamakan T'ai Ping Tien Kuo (Kerajaan Surga yang Abadi). Namun, pemberontakan ini akhirnya berhasil dipadamkan oleh Dinasti Manchu pada tahun 1864.
3) Perang Cina Jepang I (1894–1895)
Lama sebelum perang berlangsung, Korea adalah negeri jajahan Cina. Namun, mulai 1894 Jepang menaruh perhatian yang sangat besar kepada Korea sehingga berusaha merebutnya dengan melawan Cina. Perang berakhir dengan kemenangan Jepang dan diakhiri dengan Perjanjian Shimonoseki, 17 April 1895. Perjanjian Shimonseki isinya, antara lain sebagai berikut:
a) Cina mengakui kemerdekaan Korea.
b) Cina harus menyerahkan Kepulauan Pescadores dan Taiwan kepada Jepang.
c) Cina harus membayar ganti kerugian besar sebesar 200 juta tael.
4) Pemberontakan Boxers
Gerakan Boxers semula anti terhadap Dinasti Manchu, namun oleh Kaisar Janda Tua, yakni Ibu Tzu Hsi, kemudian dibujuk supaya anti terhadap Barat. Boxes mengepung perwakilan Barat yang ada di Peking. Karena merasa terancam, negara-negara Barat yang mempunyai perwakilan di Peking kemudian membentuk pasukan internasional. Berkat pasukan internasional gerakan Boxers berhasil dipadamkan dan diakhiri dengan Protokol Peking 1901.
b. Timbulnya Nasionalisme Cina
Sebab-sebab timbulnya nasionalisme Cina adalah sebagai berikut:
1) Lenyapnya kepercayaan rakyat Cina terhadap Dinasti Manchu. Dinasti Manchu yang pernah membawa kejayaan Cina, kemudian menjadi pudar setelah kedua kaisar besar (K'ang Hsi dan Ch'ien Lung) meninggal. Akibatnya, lenyap pula kemakmuran Cina.
2) Pemerintahan Manchu dianggap kolot dan telah bobrok.
3) Adanya korupsi dan pemborosan yang merajalela, terutama di kalangan Istana Manchu.
4) Kekalahan Cina dalam Perang Cina–Jepang I.
5) Munculnya kaum intelektual Cina. Mereka telah mengenal pahampaham Barat, seperti liberalisme, nasionalisme, dan demokrasi. Dari kaum intelektual inilah kemudian muncul cita-cita untuk menggulingkan pemerintahan Manchu.
c. Ajaran Dr. Sun Yat Sen
Kekalahan demi kekalahan diderita oleh Cina akibat pemerintahan Manchu yang makin lemah. Hal ini menyadarkan rakyat Cina, terutama kaum muda untuk bangkit menyelamatkan bangsa dan negaranya. Dari kelompok inilah, kemudian tampil salah seorang tokoh nasional Sun Yat Sen dengan ajarannya San Min Chu I (Tiga Asas Kerakyatan), yakni min t'sen (kebangsaan atau nasionalisme), min tsu (kerakyatan atau demokrasi ), dan min sheng (kesejahteraan atau sosialisme). Dengan asas San Min Chu I, Sun Yat Sen bercita-cita setelah Manchu runtuh akan dibentuk satu pemerintahan pusat yang demokratis. Di samping itu, akan mengangkat harkat dan martabat bangsa Cina sejajar dengan negara-negara Barat. Ia berhasil mengadakan pendekatan kepada rakyat dan menghimpun kekuatan rakyat di Cina Selatan untuk menggulingkan Manchu. Pada tanggal 10 Oktober 1911 meletuslah revolusi di Wuchang (Wuchang Day) di bawah pimpinan Li Yuan Hung dan berhasil menggulingkan kekuasaan Manchu. Itulah sebabnya, tanggal 10 Oktober 1911 kemudian dijadikan hari Kemerdekaan Cina. Dengan Revolusi Cina 1911, berarti runtuhlah kekuasaan Manchu. Selanjutnya, pada tanggal 1 Januari 1912 Sun Yat Sen dipilih sebagai Presiden Cina yang baru. Saat itu, wilayah Cina baru meliputi wilayah Cina Selatan dengan Nanking sebagai ibu kotanya. Cina Utara diperintah oleh Kaisar Hsuan Tsung (yang masih kanak-kanak) dengan didampingi oleh Yuan Shih Kai menyerahkan kekuasaan kepada rakyat Cina (12 Februari 1912). demikian berakhirlah kekuasaan Manchu di Cina. Wuilayah Cina Selatan dan Cina Utara berhasil dipersatukan. Yuan Shih Kai yang turut menandatangani penyerahan kekuasaan dan diberi kekuasaan untuk mengaturnya. Ia pun berambisi besar untuk menjadi presiden. Demi tetap tegaknya Republik Cina dan untuk terhindar dari perang saudara maka Sun Yat Sen mengundurkan diri dari jabatan presiden (15 Februari 1912) dan menyerahkannya kepada Yuan Shih Kai. Sun Yat Sen mengundurkan diri ke Canton pada bulan Agustus 1912 dan mendirikan Partai Kuo Min Tang (nasional) dengan asas San Min Chu I. Pada perkembangannya, setelah Yuan Shih Kai menjadi presiden, ia bertindak diktator seperti kaisar. Pada tahun 1916, Yuan Shih Kai meninggal sehingga memberi kesempatan Sun Yat Sen kembali memimpin Cina Selatan. Di Cina Utara kemudian berdiri Partai Kung Chang Tang (komunis) di bawah pimpinan Li Li-san sebagai tandingan Partai Kuo Min Tang. Sun yat Sen bercita-cita untuk menyatukan seluruh Cina, namun sayang citacitanya belum terwujud telah meninggal dunia ( 1925) dan digantikan oleh Chiang Kai Shek.
3. Nasionalisme India
a. Pemberontakan Sepoy
Sampai awal abad ke-19, sebagian besar wilayah India telah jatuh ke
tangan Inggris. Eksploitasi Inggris telah menimbulkan kesengsaraan dankebencian rakyat India terhadap Inggris. Dengan diprakarasi oleh paraprajurit India yang masuk dinas militer Inggris (tentara Sepoy) meletuslah suatu pemberontakan yang dikenal sebagai Pemberontakan Sepoy. Pemberontakan Sepoy membawa akibat sebagai berikut:
tangan Inggris. Eksploitasi Inggris telah menimbulkan kesengsaraan dankebencian rakyat India terhadap Inggris. Dengan diprakarasi oleh paraprajurit India yang masuk dinas militer Inggris (tentara Sepoy) meletuslah suatu pemberontakan yang dikenal sebagai Pemberontakan Sepoy. Pemberontakan Sepoy membawa akibat sebagai berikut:
1) Lenyapnya Dinasti Moghul sebab Sultan Bahadur Syah, Raja Moghul
terakhir ditangkap dan dibuang ke Rangoon hingga meninggal di sana.
terakhir ditangkap dan dibuang ke Rangoon hingga meninggal di sana.
2) East India Company (EIC) dibubarkan. Selanjutnya sejak tanggal 1
November 1858 secara resmi India diambil alih oleh pemerintah Inggris.
November 1858 secara resmi India diambil alih oleh pemerintah Inggris.
3) Rakyat India sadar bahwa gerakan militer tersebut dilaksanakan secara
tergesa-gesa. Di samping itu, mereka juga sadar bahwa Inggris tidak
mungkin dapat diusir dengan kekerasan senjata. Oleh karena itu, jalan yang ditempuh adalah dengan membentuk organisasi politik dan perkumpulan agama. Pada tahun 1885 berdirilah All Indian National Congres sebagai organisasi politik yang pertama di India.
tergesa-gesa. Di samping itu, mereka juga sadar bahwa Inggris tidak
mungkin dapat diusir dengan kekerasan senjata. Oleh karena itu, jalan yang ditempuh adalah dengan membentuk organisasi politik dan perkumpulan agama. Pada tahun 1885 berdirilah All Indian National Congres sebagai organisasi politik yang pertama di India.
b. Timbulnya Nasionalisme India
Meskipun gerakan militer Inggris tidak diikuti oleh masyarakat umum, namun menjadi pendorong lahirnya pergerakan nasional India. Sebab-sebab timbulnya nasionalisme India adalah sebagai berikut:
1) Perbaikan nasib rakyat oleh pemerintah Inggris setelah pemberontakan Sepoy tidak kunjung datang sehingga rakyat India-lah yang harus
bergerak sendiri.
bergerak sendiri.
2) Hanya orang-orang Inggris-lah yang duduk di pemerintahan, sedangkan
orang-orang India tidak diperkenankan ikut serta.
orang-orang India tidak diperkenankan ikut serta.
3) Kebudayaan Barat yang dipaksakan oleh Inggris, menimbulkan reaksi keras
dari rakyat India yang ingin tetap mempertahankan kebudayaan India
asli. Kebudayaan Barat dianggap terlampau materialistis pada hal kebudayaan India lebih mementingkan kejiwaan dan kerohanian.
dari rakyat India yang ingin tetap mempertahankan kebudayaan India
asli. Kebudayaan Barat dianggap terlampau materialistis pada hal kebudayaan India lebih mementingkan kejiwaan dan kerohanian.
4) Munculnya kaum terpelajar yang telah mengenyam pendidikan Barat
Mereka telah mengetahui apa itu liberalisme, demokrasi, dan nasionalisme.
Mereka telah mengetahui apa itu liberalisme, demokrasi, dan nasionalisme.
5) Pemberian status dominian Kanada tahun 1867 menimbulkan keinginan
bangsa India untuk memperoleh status yang sama.
bangsa India untuk memperoleh status yang sama.
c. Macam-macam Gerakan Nasional India
Gerakan nasionalisme di India tidak hanya di bidang politik, tetapi
juga di dalam bidang keagamaan (kerohanian). Nasionalisme India bukan
hanya gerakan kebangsaanuntuk mencapai kemerdekaan, tetapi juga untuk
pembaharuan manusianya.
juga di dalam bidang keagamaan (kerohanian). Nasionalisme India bukan
hanya gerakan kebangsaanuntuk mencapai kemerdekaan, tetapi juga untuk
pembaharuan manusianya.
1) Brahma Samad
Gerakan ini bertujuan untuk membersihkan kepercayaan umat Hindu
dari hal-hal yang mengotori agama dan memberantas keburukan yang
ada dalam masyarakat Hindu. Misalnya upacara Sati harus dihapus
sebabdianggap sebagai pembunuhan. Di samping itu, Brahma Samad
melarang adanya perkawinan di bawah umur dan poligami. Tokoh
gerakan ini ialah Ram Mohan Roy.
dari hal-hal yang mengotori agama dan memberantas keburukan yang
ada dalam masyarakat Hindu. Misalnya upacara Sati harus dihapus
sebabdianggap sebagai pembunuhan. Di samping itu, Brahma Samad
melarang adanya perkawinan di bawah umur dan poligami. Tokoh
gerakan ini ialah Ram Mohan Roy.
2) Rama Krisna
Rama Krisna adalah aliran yang menghendaki kembali kepada ajaran agama Hindu yang murni. Tokohnya adalah Swami Vivekananda.
3) Santineketan
Gerakan ini bertujuan untuk menanamkan rasa cinta tanah air, cinta
bangsa, dan cinta kebudayaan India. Tokohnya adalah Rabindranath
Tagore.
Gerakan ini bertujuan untuk menanamkan rasa cinta tanah air, cinta
bangsa, dan cinta kebudayaan India. Tokohnya adalah Rabindranath
Tagore.
4) Kongres (All Indian National Congres) 1885.
Kongres pada dasarnya merupakan majelis rakyat di mana duduk
para wakil rakyat India dari berbagai golongan yang berjuang untuk
mendapatkan kemerdekaan India lepas dari belenggu penjajahan Inggris.
Berdirinya Kongres tahun 1885 ini atas inisiatif Allan Octavian Home
(seorang Inggris kelahiran Skotlandia) yang simpati terhadap perjuangan
rakyat India. Partai Kongres di bawah pimpinan W.C. Bannerji dalam perkembangannya banyak program dan kegiatannya yang didominasi oleh
golongan Hindu. Bahkan, dari pihak Hindu yang ekstrim menyatakan
semboyan "India untuk Hindu" (India adalah Hindu). Itulah sebabnya
para tokoh Islam yang aspirasi kelompoknya tidak mendapat tempat
yang wajar dalam Kongres memisahkan diri.Pada tahun 1907 dalam
Kongres sendiri terdapat dua aliran, yakni:
para wakil rakyat India dari berbagai golongan yang berjuang untuk
mendapatkan kemerdekaan India lepas dari belenggu penjajahan Inggris.
Berdirinya Kongres tahun 1885 ini atas inisiatif Allan Octavian Home
(seorang Inggris kelahiran Skotlandia) yang simpati terhadap perjuangan
rakyat India. Partai Kongres di bawah pimpinan W.C. Bannerji dalam perkembangannya banyak program dan kegiatannya yang didominasi oleh
golongan Hindu. Bahkan, dari pihak Hindu yang ekstrim menyatakan
semboyan "India untuk Hindu" (India adalah Hindu). Itulah sebabnya
para tokoh Islam yang aspirasi kelompoknya tidak mendapat tempat
yang wajar dalam Kongres memisahkan diri.Pada tahun 1907 dalam
Kongres sendiri terdapat dua aliran, yakni:
a) Aliran Moderat, yang puas dengan tuntutan swaraj atau home rule. Artinya menuntut pemerintahan sendiri dalam lingkungan kerajaan
Inggris. Tokohnya W.C. Bannerji dan Motilal Nehru.
Inggris. Tokohnya W.C. Bannerji dan Motilal Nehru.
b) Aliran Ekstrim (radikal) yang menuntut kemerdekaan penuh (purna
swaraj) dengan tokohnya Tilak dan Jawaharlal Nehru.
swaraj) dengan tokohnya Tilak dan Jawaharlal Nehru.
5) Liga Muslim (Muslim League) 1906.
Pada 1906 kelompok muslim keluar dari Kongres dan mendirikan partai
tersendiri, yakni Liga Muslim (Muslim League) dengan tokoh-tokohnya Moh. Ali Jinnah, Liquat Ali Khan, dan Aga Khan.
tersendiri, yakni Liga Muslim (Muslim League) dengan tokoh-tokohnya Moh. Ali Jinnah, Liquat Ali Khan, dan Aga Khan.
d. Ajaran Mahadma Gandhi
Mahadma Gandhi yang ditetapkan sebagai Bapak Kemerdekaan India dilahirkan pada tahun 1869 di Gujarat dengan nama
kecilnyanya Mohandas Karamchand Gandhi. Sebagai tokoh Kongres beliau menjiwai perjuangan Kongres dengan ajaran-ajarannya
sebagai berikut:
kecilnyanya Mohandas Karamchand Gandhi. Sebagai tokoh Kongres beliau menjiwai perjuangan Kongres dengan ajaran-ajarannya
sebagai berikut:
1) Ahisma, artinya melawan musuh tanpa
kekerasan fisik.
kekerasan fisik.
2) Hartal, artinya pemogokan, tidak melakukan pekerjaan sebagai protes
terhadap peraturan yang tidak adil atau tanda berkabung untuk
memperingati kejadian yang menyedihkan.
terhadap peraturan yang tidak adil atau tanda berkabung untuk
memperingati kejadian yang menyedihkan.
3) Satyagraha, tetap setia kepada kebenaran dan menolak bekerja sama
dengan Inggris; karena Inggris salah sedangkan India berdiri di atas
kebenaran. Jadi, satyagraha berarti noncooperation.
dengan Inggris; karena Inggris salah sedangkan India berdiri di atas
kebenaran. Jadi, satyagraha berarti noncooperation.
4) Swadesi, artinya hidup dengan usaha sendiri. Gerakan ini menganjurkan
agar bangsa India dapat memenuhi kebutuhan hidupnya dari
hasil usahanya sendiri. Akibat senjata ini tampak adanya pemboikotan
terhadap barang-barang buatan Inggris, dan ditekankan pada penggunaan
barang-barang buatan sendiri.
agar bangsa India dapat memenuhi kebutuhan hidupnya dari
hasil usahanya sendiri. Akibat senjata ini tampak adanya pemboikotan
terhadap barang-barang buatan Inggris, dan ditekankan pada penggunaan
barang-barang buatan sendiri.
Dengan gerakan ini ternyata mampu meningkatkan perekonomian bangsa India. Sebaliknya, merupakan pukulan bagi ekspor Inggris ke India. Sebagai tanda penghormatan pada swadesi maka gambar “roda pemintal” tertera pada bendera kebangsaan India yang mulai berkibar pada tanggal 15 Agustus 1947 (http://id.shvoong.com/humanities/history/2070253-nasionalisme-india/).
4. Nasionalisme Turki
a. Kemunduran Turki Usmani
Kerajaan Turki Usmani yang pernah mencapai puncak kejayaannya
pada abad ke-19 terus mengalami kemunduran sampai akhirnya mendapat
julukan The Sick Man. Hal ini disebabkan oleh berikut ini:
pada abad ke-19 terus mengalami kemunduran sampai akhirnya mendapat
julukan The Sick Man. Hal ini disebabkan oleh berikut ini:
1) Tidak ada lagi sultan-sultan yang kuat dan besar.
2) Intrik-intrik dalam istana semakin merajalela.
3) Tentara Janisari yang terkenal telah merosot martabatnya menjadi pengacau kerajaan daripada pembela kerajaan.
4) Pemerintahan yang lemah dan kacau mengakibatkan adanya Krisis Gezag sehingga negara-negara bagian berani mengadakan pemberontakan
untuk melepaskan diri dari Turki.
untuk melepaskan diri dari Turki.
5) Revolusi Prancis mengilhami negara-negara bagian untuk merdeka
(seperti, Yunani, Bulgaria, Serbia, Rumania, dan Mesir).
(seperti, Yunani, Bulgaria, Serbia, Rumania, dan Mesir).
b. Masalah Timur
Kelemahan Turki kemudian dimanfaatkan oleh negara-negara imperialisme
Barat untuk menguasai jajahan Turki atau menghancurkan Turki
sekaligus. Adanya perbenturan kepentingan antara negar -negara Barat
mengenai status Turki dan daerah jajahan inilah yang menimbulkan
“Masalah Timur” (The Eastren Question).
Barat untuk menguasai jajahan Turki atau menghancurkan Turki
sekaligus. Adanya perbenturan kepentingan antara negar -negara Barat
mengenai status Turki dan daerah jajahan inilah yang menimbulkan
“Masalah Timur” (The Eastren Question).
c. Timbulnya Nasionalisme Turki
Sebab-sebab timbulnya nasionalisme Turki adalah sebagai berikut:
1) Kekuasaan Turki Usmani yang semakin merosot.
2) Adanya pengaruh dari Revolusi Prancis dengan semboyannya liberte,
egalite, dan fraternite.
egalite, dan fraternite.
3) Timbulnya kaum terpelajar yang berpaham modern sehingga mereka
mengetahui apa itu liberalisme, nasionalisme, dan demokrasi.
mengetahui apa itu liberalisme, nasionalisme, dan demokrasi.
4) Kegiatan bangsa Barat yang semakin gencar untuk merebut daerahdaerah
jajahan Turki dan siap menghancurkan Turki.
jajahan Turki dan siap menghancurkan Turki.
Dalam situasi demikian itulah, akhirnya mendorong timbulnya semangat nasionalisme terutama di kalangan tokohtokoh muda untuk mengadakan pembaharuan di segala bidang. Tokohnya, antara lain Kemal Pasha, Midhat Pasha, Rasjid Pasha, dan Ali Pasha. Pada tahun 1906, dibawah pimpinan Kemal Pasha berdirilah perkumpulan Tanah Air dan Kemerdekaan
dan pada tahun l908 tumbuh menjadi Gerakan Turki Muda. Tujuan
Gerakan Turki Muda:
dan pada tahun l908 tumbuh menjadi Gerakan Turki Muda. Tujuan
Gerakan Turki Muda:
a) menyelamatkan Turki dari keruntuhan total;
b) menanamkan semangat nasionalisme di kalangan rakyat;
c) mengadakan perbaikan sosial, ekonomi dan budaya;
d) mengadakan pembaharuan organisasi pemerintahan.
d. Turki dalam Perang Dunia I
Selama Perang Dunia I, pemerintah Turki didominasi oleh Gerakan
Turki Muda. Dalam Perang Dunia I, Turki memihak kepada Jerman (Sentral)
dan ikut serta membendung serangan Rusia, Inggris, dan Prancis ke Laut
Tengah. Sekutu menyerang Dardanella, tetapi dapat digagalkan oleh Mustafa
Kemal Pasha dalam pe-tempuran di Gallipoli. Itulah sebabnya, Mustafa
Kemal Pasha disebut Pahlawan Gallipoli. Sejak itulah Sekutu tidak berani menerobos Dardanella.
Turki Muda. Dalam Perang Dunia I, Turki memihak kepada Jerman (Sentral)
dan ikut serta membendung serangan Rusia, Inggris, dan Prancis ke Laut
Tengah. Sekutu menyerang Dardanella, tetapi dapat digagalkan oleh Mustafa
Kemal Pasha dalam pe-tempuran di Gallipoli. Itulah sebabnya, Mustafa
Kemal Pasha disebut Pahlawan Gallipoli. Sejak itulah Sekutu tidak berani menerobos Dardanella.
Perang Dunia I berakhir dengan kekalahan di pihak blok Sentral, sehingga
terjadilah Perjanjian Sevres (20 Agustus 1920) antara Sekutu dan
Turki. Akan tetapi, pemimpin Turki Muda tidak mau menyerah begitu saja.
Tampillah The Strong Man Turki, yakni Mustafa Kemal Pasha yang
menentang Sekutu dan tidak mau mengakui Perjanjian Sevres yang dibuat
dengan Sultan. Ia memimpin gerakan revolusi dan berhasil menurunkan
Sultan Muhammad V dari takhtanya (1 November 1923). Selanjutnya, ia
memperbarui Perjanjian Sevres dengan Perjanjian Lausanne yang isinya
tidak begitu merugikan Turki. Tepat pada tanggal 29 Oktober 1923 secara resmi diumumkan proklamasi kemerdekaan Turki. Sejak itu Kerajaan Turki Usmani yang ortodok dihapuskan dan digantikan dengan Republik Turki yang modern. Ankara
dijadikan sebagai ibu kotanya. Sebagai presiden pertama ialah Mustafa Kemal
Pasha atau disebut juga Kemal Pasha Attaturk (Bapak Bangsa Turki). Ismet
Pasha atau Ismet Inonu sebagai perdana menterinya (http://id.shvoong.com/humanities/history/2070251-nasionalisme-turki/).
terjadilah Perjanjian Sevres (20 Agustus 1920) antara Sekutu dan
Turki. Akan tetapi, pemimpin Turki Muda tidak mau menyerah begitu saja.
Tampillah The Strong Man Turki, yakni Mustafa Kemal Pasha yang
menentang Sekutu dan tidak mau mengakui Perjanjian Sevres yang dibuat
dengan Sultan. Ia memimpin gerakan revolusi dan berhasil menurunkan
Sultan Muhammad V dari takhtanya (1 November 1923). Selanjutnya, ia
memperbarui Perjanjian Sevres dengan Perjanjian Lausanne yang isinya
tidak begitu merugikan Turki. Tepat pada tanggal 29 Oktober 1923 secara resmi diumumkan proklamasi kemerdekaan Turki. Sejak itu Kerajaan Turki Usmani yang ortodok dihapuskan dan digantikan dengan Republik Turki yang modern. Ankara
dijadikan sebagai ibu kotanya. Sebagai presiden pertama ialah Mustafa Kemal
Pasha atau disebut juga Kemal Pasha Attaturk (Bapak Bangsa Turki). Ismet
Pasha atau Ismet Inonu sebagai perdana menterinya (http://id.shvoong.com/humanities/history/2070251-nasionalisme-turki/).
5. Nasionalisme Mesir
a. Krisis Keuangan Mesir
Sejak dibukanya Terusan Suez pada tahun 1869, negara-negara Barat
terutama Inggris dan Prancis saling berlomba memperebutkan pengaruhnya
di Mesir. Pengaruh kekuasaan Inggris makin kuat mulai tahun 1875, yakni
saat Khedive Ismail (1863–1879) membutuhkan uang sehubungan dengan
krisisnya keuangan Mesir. Khedive Ismail kemudian menjual sebagian besar
saham Mersir pada Terusan Suez kepada Inggris. Di samping itu, Mesir juga meminjam uang dari Inggris dan Prancis. Mesir karena tidak dapat membayar hutang-hutangnya maka Inggris dan Prancis masuk ke Mesir dan memberesi hutang-hutangnya. Dengan demikian, sejak tahun 1876, Inggris dan Prancis telah ikut campur dalam pemerintahan di Mesir. Adanya campur tangan Inggris dan Prancis dalam pemerintahan, khususnya pada saham-saham Terusan Suez menimbulkan kekecewaan yang kemudian muncul perlawanan rakyat. Kebangkitan nasional Mesir ditandai dengan adanya pemberontakan Arabi Pasha (1881–1882). Mula-mula gerakan ini antiorang asing (Inggris, Prancis dan Turki), tetapi akhirnya menjadi gerakan untuk menuntut perubahan sistem pemerintahan. Gerakan Arabi ini timbul karena pengaruh Jamaluddin al Afghani yang ketika itu mengajar di Mesir. Perlawanan rakyat yang dipimpin oleh Arabi Pasha ini sangat membahayakan kedudukan Inggris dan Prancis di Mesir. Inggris
akhirnya bertindak dan berhasil menumpas pemberontakan Arabi Pasha.
terutama Inggris dan Prancis saling berlomba memperebutkan pengaruhnya
di Mesir. Pengaruh kekuasaan Inggris makin kuat mulai tahun 1875, yakni
saat Khedive Ismail (1863–1879) membutuhkan uang sehubungan dengan
krisisnya keuangan Mesir. Khedive Ismail kemudian menjual sebagian besar
saham Mersir pada Terusan Suez kepada Inggris. Di samping itu, Mesir juga meminjam uang dari Inggris dan Prancis. Mesir karena tidak dapat membayar hutang-hutangnya maka Inggris dan Prancis masuk ke Mesir dan memberesi hutang-hutangnya. Dengan demikian, sejak tahun 1876, Inggris dan Prancis telah ikut campur dalam pemerintahan di Mesir. Adanya campur tangan Inggris dan Prancis dalam pemerintahan, khususnya pada saham-saham Terusan Suez menimbulkan kekecewaan yang kemudian muncul perlawanan rakyat. Kebangkitan nasional Mesir ditandai dengan adanya pemberontakan Arabi Pasha (1881–1882). Mula-mula gerakan ini antiorang asing (Inggris, Prancis dan Turki), tetapi akhirnya menjadi gerakan untuk menuntut perubahan sistem pemerintahan. Gerakan Arabi ini timbul karena pengaruh Jamaluddin al Afghani yang ketika itu mengajar di Mesir. Perlawanan rakyat yang dipimpin oleh Arabi Pasha ini sangat membahayakan kedudukan Inggris dan Prancis di Mesir. Inggris
akhirnya bertindak dan berhasil menumpas pemberontakan Arabi Pasha.
b. Timbulnya Nasionalime Mesir
Ada beberapa sebab munculnya nasionalisme Mesir. Munculnya gerakan Wahabi yang menentang penjajahan Turki mampu mempersatukan rakyat Mesir. Apalagi rakyat Mesir memperoleh pengaruh dari Revolusi Prancis yang dibawa Napoleon saat menduduki Mesir tahun 1798. Paham liberal yang melanda Mesir menyebabkan munculnya kelompok terpelajar yang berorientasi modern. Mereka pernah menempuh pendidikan di Eropa dan berbagai universitas ternama di Beirut dan Damsyik. Nasionalisme Mesir juga terpengaruh Gerakan Turki Muda. Nilainilai persatuan yang diperjuangkan nasionalis Turki mampu menggugah semangat bangsa Mesir untuk bersatu. Apalagi muncul gerakan Pan-Arab yang dipelopori oleh Amir Chetib Arslan yang menganjurkan agar bangsa-bangsa Arab bersatu dan memperjuangkan kemerdekaan bangsanya.
Nasionalisme Mesir ditandai oleh munculnya pemberontakan Arabi Pasha (1881–1882) terhadap Inggris. Setelah PD-I, Mesir menuntut kemerdekaan kepada Inggris. Akhirnya tahun 1922, Mesir menjadi kerajaan di bawah persemakmuran Inggris. Tahun 1936 Mesir menjadi negara yang merdeka penuh. Selanjutnya, Terusan Suez dikuasai Mesir kembali pada tahun 1956 setelah dinasionalisasi oleh Gamal Abdul Nasser (Ernawati dan Ismawati, 2009 : 83-84).
Mesir termasuk negara Arab sehingga bangkitnya nasionalisme Mesir
merupakan hal yang sama dengan bangkitnya nasionalisme Arab. Adapun
sebab-sebab timbulnya nasionalisme Mesir adalah sebagai berikut:
merupakan hal yang sama dengan bangkitnya nasionalisme Arab. Adapun
sebab-sebab timbulnya nasionalisme Mesir adalah sebagai berikut:
1) Adanya gerakan Wahabi, semula merupakan gerakan agama yang
kemudian memberontak pemerintahan Turki. Dengan demikian, secara
politik membangkitkan tumbuhnya nasionalisme Mesir.
kemudian memberontak pemerintahan Turki. Dengan demikian, secara
politik membangkitkan tumbuhnya nasionalisme Mesir.
2) Adanya pengaruh Revolusi Prancis. Ketika Napoleon Bonaparte mendarat
di Mesir, ia juga membawa suara Revolusi Prancis yang kemudian
menimbulkan paham liberal dan nasionalisme Mesir.
di Mesir, ia juga membawa suara Revolusi Prancis yang kemudian
menimbulkan paham liberal dan nasionalisme Mesir.
3) Munculnya kaum intelektual yang berpaham modern.
4) Adanya Gerakan Pan Arab, yang dirintis oleh Amir Chetib Arslan
dengan yang menganjurkan persatuan semua bangsa Arab dengan tujuan untuk mencapai kemerdekaan bangsanya. Sekalipun pemberontakan Arabi Pasha berhasil dipadamkan, namun cita-cita perjuangan Arabi Pasha merupakan sumber aspirasi semangat nasionalisme bangsa Mesir. Hal ini terbukti pada tanggal 7 Desember 1907 telah diadakan kongres nasional yang pertama di bawah pimpinan Mustafa Kamil. Tujuannya adalah pembangunan Mesir secara liberal untuk mencapai kemerdekaan penuh. Pemerintah Mesir yang dipengaruhi oleh Inggris berusaha untuk menindas gerakan ini, akan tetapi gerakan nasional ini tetap hidup dan makin kuat bahkan kemudian menjelma menjadi Partai Wafd (Utusan) di bawah pimpinan Saad Zaghlul Pasha.
Ketika Perang Dunia I selesai, Partai Wafd menuntut Mesir sebagai negara
merdeka dan ikut serta dalam konferensi perdamaian di Prancis. Inggris
menolak, bahkan mengasingkan Zaghlul Pasha ke Malta. Pada tahun 1919
di Mesir timbul pemberontakan dan Zaghlul Pasha dibebaskan kembali.
Kaum nasionalise Mesir menuntut kemerdekaan penuh. Pemberontakan
berkobar lagi, Zaghlul Pasha ditangkap lagi dan diasigkan ke Gibraltar. Inggris
yang tidak dapat menekan nasionalisme Mesir, terpaksa mengeluarkan
Pernyataan Unilateral (Unilateral Declaration) pada tanggal 28 Februari
1922. Isi Uniteral Declaration:
dengan yang menganjurkan persatuan semua bangsa Arab dengan tujuan untuk mencapai kemerdekaan bangsanya. Sekalipun pemberontakan Arabi Pasha berhasil dipadamkan, namun cita-cita perjuangan Arabi Pasha merupakan sumber aspirasi semangat nasionalisme bangsa Mesir. Hal ini terbukti pada tanggal 7 Desember 1907 telah diadakan kongres nasional yang pertama di bawah pimpinan Mustafa Kamil. Tujuannya adalah pembangunan Mesir secara liberal untuk mencapai kemerdekaan penuh. Pemerintah Mesir yang dipengaruhi oleh Inggris berusaha untuk menindas gerakan ini, akan tetapi gerakan nasional ini tetap hidup dan makin kuat bahkan kemudian menjelma menjadi Partai Wafd (Utusan) di bawah pimpinan Saad Zaghlul Pasha.
Ketika Perang Dunia I selesai, Partai Wafd menuntut Mesir sebagai negara
merdeka dan ikut serta dalam konferensi perdamaian di Prancis. Inggris
menolak, bahkan mengasingkan Zaghlul Pasha ke Malta. Pada tahun 1919
di Mesir timbul pemberontakan dan Zaghlul Pasha dibebaskan kembali.
Kaum nasionalise Mesir menuntut kemerdekaan penuh. Pemberontakan
berkobar lagi, Zaghlul Pasha ditangkap lagi dan diasigkan ke Gibraltar. Inggris
yang tidak dapat menekan nasionalisme Mesir, terpaksa mengeluarkan
Pernyataan Unilateral (Unilateral Declaration) pada tanggal 28 Februari
1922. Isi Uniteral Declaration:
a) Inggris mengakui kemerdekaan dan kedaulatan Mesir.
b) Inggris berhak atas empat masalah pokok,seperti berikut:
c) mempertahakan Terusan Suez;
d) mempergunakan daerah militer untuk operasi militer;
e) mempertahankan Mesir terhadap agresi bangsa lain;
f) melindungi bangsa asing di Mesir dan kepentingannya.
Uniteral Declaration 1922 merupakan saat yang bersejarah bagi Mesir sebab sejak itu dunia internasional menganggap Mesir telah merdeka, meskipun belum penuh. Sebaliknya, di pihak kaum nasionalis Mesir tetap tetap menentangnya sebab Inggris tetap berhak atas empat masalah pokok tersebut di atas. Itulah sebabnya, kaum nasionalisme Mesir terus berjuang melawan Inggris untuk mencapai kemerdekaan penuh. Hal ini baru terwujud setelah Perang Dunia II berakhir (Oktober 1954)(http://id.shvoong.com/humanities/history/2070252-nasionalisme-mesir/).
6. Nasionalisme Filipina
a. Sebab-Sebabnya
Kebangkitan nasionalisme Flipina termasuk yang tumbuh lebih awal di bandingkan dengan kebangkitan nasionalis negara-negara asia tenggara lainnya. Hai itu dilatar belakangi oleh system pemerintahan kolonial yang melaksanakan dua model kekuasaan, sebagai berikut :
1) Pemerintah sipil dipimpin oleh Gubernur Jenderal dan bertanggung jawab langsung kepada Raja Spanyol.
2) Pemerintahan agama dipimpin oleh Uskup dan bertanggung jawab langsung kepada Paus di Roma. Peran pemerintahan agama sangat membantu rakyat Filipina dalam menumbuhkan kesadaran sebagai bangsa karena system pemerintahan itu berfungsi untuk mendidik rakyat sebagai missionaries dalam penyebaran agama Katolik di Filipina.
Sebab-sebab timbulnya nasionalisme di Filipina antara lain :
1) Imperialisme Spanyol yang bertindak kejam dan kolot. Tidak ada kebebasan untuk mengeluarkan pendapat. Setiap tuntunan mengenai-mengenai perbaikan pemerintahan, dianggap sebagai pengkhianatan terhadap Spanyol dan dihukum secara kejam.
2) Lahir kaum inteletual atau golongan terpelajar. Datangnya bangsa Spanyol yang menyebarkan agama katolik Roma, akan membawa Bangsa Filipina ke cara-carahidup Eropa, sehingga menggantikan cara hidup asli. Pendidikan Filipina termasuk maju, dibandingkan dengan negara-negara Asia, karena mendapat pendidikan dengan system negara Barat. Pendidikan tersebut menimbulkan golongan pelajar yang tau bahwa mereka dijajah. Mereka ingin merbeka.
3) Penguasa gereja yang mengekang kehidupan bangsa Filipina. Sebagian besar tanah Filipina milik biara, sehingga para petani Filipina hanya sebagai penyewa tanah belaka. Hidup para petani sangat menderita.
4) Pengruh paham-paham baru seperti demokrasi dan liberalisme. Pembukaan Terusan Suez mempermudah hubungan Eropa dan Asia. Oleh karena itu buku yang memuat paham demokrasi dan liberalisme dengan mudah masuk ke Asia, termasuk ke Filipina. Sebaliknya banyak orang Asia pergi ke Eropa, sehingga mengenal Nasionalisme Barat, yang dibawa ke Filipina.
5) Pengaruh revolusi kemerdekaan di Amerika Latin yang menentang imperialisme Spanyol. Diantaranya adalah Perang Kemerdekaan Meksiko, Amerika Tengah, dan Amerika Selatan terhadap bangsa Spanyol (1810-1828), membuka mata bangsa Filipina bahwa Spanyol dapat dikalahkan.
b. Gerakan Nasionalisme Filipina
1) Companerismo
Companerismo artinya persahabatan, merupakan gerakan nasional yang pertama di Filipina yang lahir pada tahun 1880, tujuannya adalah mengusahakan pendidikan yang patriotis.
2) Liga Flipina
Liga Filipina didirikan oleh Jose Rizal pada tahun 1982. tujuannya mempersatukan Filipina untuk menentang penjajah Spanyol. Ia merupakan pelopor kemerdekaan dan perlawanan nasional Filipina. Ia seorang dokter, ahli sastra, dan telah mengunjungi Spanyol, Prancis, Jerman, dan Inggris. Ia menulis buku yang terkenal dan menggemparkan pemerintah kolonial Spanyol di Filipina.
Pada tahun 1893 Andres Banifacio mendirikan katipunan, yaitu gerakan nasionalis untu kelawan penjajah Spanyol. Pergerakan kebangsaan di Filipina meletus dalam bentuk pemberontakankatipunan terhadap kekuasaan Spanyol sejak tahun 1896 yang dipinpin oleh Jose Rizal, namun pemberontakan itu gagal. Andres Banifacio kemudian memimpin gerakan rahasia, yaitu Liga Filipina. Mengakibatkan Jose Rizal ditangkap dan dijatuhi hukuman mati pada tanggal 30 Desember 1896. Kematian Jose Rizal menimbulkan kemarahan rakyat Filipina untuk mengusir Spanyol. Ini terbukti sejak tahun 1896 pemberontakan rakyat Katipunan melawan penjajah Spanyol, dilanjutkan oleh Euriho Aqwnaldo yang terus berkobar. Pemerintah Spanyol tidak berhasil menindasnya. Pemberontakan semakin besar, akhirnya Spanyol mengadakan perjanjian Filipina, yaitu Perjanjian Biacna Bato (1897), dengan Aqwnaldo, yang berisi: Spanyol berjanji akan mengadakan perbaikan pemerintahan dalam 3 tahun. Tetapi Aqwnaldo dan kawan-kawan harus meninggalakn Filipina (yaitu ke Hongkong) ternyata setelah ia meningalkan Filipina maka perjuangan melawan penjajah berhenti.
Pada saat perebutan daerah koloni di sekitar Laut Karibia antara Amerika dan Spanyol tahun 1898. Spanyol memusatkan perhatin terhadap perang itu. Melihat keadaan ini Euriho Aqwnaldo kembali ke Filipina. Euriho Aqwnaldo kembali untuk memproklamasikan Filipina sebagai negara yang yang merdeka pada tanggal 12 Juni 1898. Bersama Amerika ia melawan Spanyol. kemudian ia menggempur tentara kolonial Spanyol. Spanyol mundur maka Filipina jatuh. Tinggal manila yang belum jatuh. Pada tanggal 13 Agustus 1898 Manila jatuh. Kemudian sementara itu, Amerika yang memperoleh kemenangan atas Spanyol dalam perang di Laut Karibia. Dalam perjanjian perdamaian Paris tanggal 10 Desember 1898 Spanyol menyerahkan Filipina kepada Amerika, dengan menerima uang sebanyak $20.000.000,00.
Penjajah Spanyol pergi dari Filipina. Filipina lepas dari penjajah Spanyol, tetapi jatuh lagi ke tangan Amerika, yang lebih kuat dan besar. Untuk itu, Amerika tidak mengakui kemerdekaan Filipina yang telah diproklamasikan pada tanggal 12 juni 1898, bahkan sebaiknya, daerah itu dijadikan sebagai daerah jajahan Amerika sejak tahun 1898. Tetapi Euriho Aqwnaldo, dan tetap memegang teguh kemerdekaan Filipina.
Pada tahun 1898 itu juga UUD terbentuk, dan Euriho Aqwnaldo menjadi presiden. Perjuangan melawan Amerika dimulai. Dua tahun lamanya ia melawan Amerika, namun belum berhasil. Pada tahun 1901 Amerika dengan tipu muslihatnya berhasil menangkap Euriho Aqwnaldo. Tetapi gerilyawan- gerilyawan lainya meneruskan perjuangan sampai tahun 1902.
c. Masa Kekuasaan Amerika di Philipina
Penguasaa Filipina oleh Anerika mendapat kecaman dari bangsa Eropa karena ditangkap telah melanggar Doktrin Monroe, yang isinya mengatakan bahwa Amerika anti Kolonialisme dan Imperalisme. Amerika dianggap sebagai ancaman baru bagi bangsa Eropa atas kekuasaannya di Asia. Untuk meredakan kecaman tersebut, Amerika menyatakan Filipina semata-mata untuk menjalankan eksperimen imperialisme. Artinya Filipina akan dijadikan model negara dengan sistem kekuasaan liberal seperti Amerika di wilayah Asia.
Pada tahun 1919 delegasi Filipina di bawah Manuel Quezon pergi ke Amerika untuk menuntut kemerdekaan penuh atas Filipina. Amerika menjawab dengan mengirimkan The Wood Forbes Mission tahun 1922, yang isinya menyatakan bahwa Filipina belum mampu untuk merdeka. Bangsa Filipina menolak ucapan Wood Forbes. Senat Filipina meletakan jabatannya, dan menuntut kemerdekaan penuh.
Masa kekuasaan Amerika di Filipina berlangsung dari tahun 1898 sampai tahun 1946. masa kekuasaan itu terbagi atas 3 periode seperti di bawah ini:
1) Periode Tahun 1898-1942.
Amerika melakukan pembinaan terhadap system kekuasaan yang akan diterapkan di Filipina melalui perjanjian damai dengan para tokoh nasionalis pada tahun 1907. Isinya, antara lain menjamin kemerdekaan Philipina untuk 50 tahun yang akan datang.
2) Periode Tahun 1942-1945.
Amerika mengalami kekalahan di Pasifik yang mengakibatkan Filipina dikuasai oleh Jepang. Pada tanggal 2 Januari 1942 Manila, ibu kota Filipina, jatuh ke tangan Jepang. Jendral Deuglas Mac Arthur meninggalkan Filipina untuk menyusun pasukan sekutu di Australia. Pada tanggal 6 Mei 1942 seluruh Filipina jatuh ke tangan Jepang.
Kekalahan Jepang untuk pertama kalinya adalah dalam pertempuran di laut Karang, yang merupakan titik balik bagi kemenangan Jepang. Sejak itu Jepang menggunakan bangsa Filipina sebagai teman di bawah Presiden Laureluntuk menghadapi sekutu. Tetapi dengan mendaratnya Sekutu di Filipina, dan kemudian kalahnya Jepang terhadap Sekutu maka Republik Filipina bikin Jepang lenyap kembali (22 Oktober 1945).
Setelah Perang Dunia II selesai, Amerika Serikat menepati janjinya untuk memberi kemerdekaan kepadaan Filipina. Pesawat terbang jepang berhasil menenggelamkan kapal perang Price of wales dan Repulse di Laut Natuna tahun 1942, menyebabkan tentara Sekutu merosot. Tak lama kemudian Amerika Serikat membuat pesawat terbang B29 untuk menggempur Jepang dengan menjatuhkan bon atom diHiroshima dan Nagasaki. Maka berakhirlah Perang Dunia II, lebih cepat dari yang diperkirakan.
3) Periode tahun 1945-1946.
Jepang mengalami kekalahan dari sekutu, berarti kekuasaan Amerika masuk kembali di Filipina.
d. Kemerdekaan Filipina
Baru pada tanggal 4 Juli 1946 Amerika menepati janjinya memberi kemerdekaan Filipina dengan Manuel Quezon sebagai presiden yang pertama. Tetapi di awal kemerdekaan tersebut, bangsa Filipina hanya diberikan kemerdekaan dalam bidang sosial politik saja sebagai wujud pengruh Amerika, sedangkan bidang ekonomi masih dikuasai oleh Amerika. Begitu juga dengan masalah militer, Amerika masih menempatkan pasukannya di Pangkalan Militer (Clark dan Subic) yang dianggap sebagai jaminan keamanan di lautan Pasifik setelah usainya perang dunia II. Tokoh-tokoh pergerakan nasional Filipina yang popular menjelang kemerdekaan Filipina adalah: Manuel Quezson, Manuel Roxas, dan Romula.
C. Nasinalisme di Eropa
1. Perkembangan Nasionalisme di Eropa Sebelum Abad ke 19
Di Eropa, sebelum munculnya nasionalisme telah tumbuh rasa setia terhadap raja atau kerajaan. Selain itu, pada abad pertengahan yaitu tahun 500-1500, telah pula dikenal rasa kesetiaan terhadap gereja katolik. Sumpah setia terhadap gereja katolik ini diwajibkan kepada para “ksatria” atau knight, disamping kesetiaan terhadap rajanya. Kesetiaan terhadap gereja atau agama katolik juga dibuktikan ketika berlangsung perang salib, yang bertujuan untuk merebut kembali kota-kota sucimereka di Palestina dari kekuatan islam. Hal ini terjadi pada abad ke 11 dan ke 12. Dalam perang salib itu ikut serta rakyat eropa dari segala lapisan masyarakat, bukan hanya para ksatria, dari berbagai kerajaan. Beberapa raja, antara lain raja Richard dari Inggris, juga ikut serta dan langsung memimpin pertempuran.
Pada abad pertengahan kesetiaan tunggal terhadap raja belum dapat berkembang, oleh karena dalam peperangan raja umumnya masih mengandalkan bantuan pasukan dari para raja vazal atau kepala daerah. Para raja vazal ini tergolong bangsawan tinggi, yang menguasai atau memerintah daerah secara turun temurun atas nama raja. Keadaan demikian yang membuat kedudukan raja menjadi lemah. Baru sejak abad ke 16 mulailah kerajaan-kerajaan itu membentuk tentara kerajaan dengan organisasi tunggal, yang langsung ada dibawah perintah raja. Tentara ketika itu mulai di gaji oleh kerajaan. Sejak itu kesetiaan terhadap raja atau kerajaan dan kebanggaan rakyat terhadap kerajaan yang sedang mengalami kejayaan sudah mulai menjurus pada rasa kebanggaan sebagai bangsa.
Di beberapa kerajaan perjuangan kemerdekaan bangsa-bangsa yang terjajah juga sudah terjadi. Salah satu contoh perjuangan rakyat Belanda menentang penjajahan kerajaan Spanyol. Sebagian besar rakyat Belanda beragama kristen protestan, sedangkan raja Spanyol beragama kristen Katolik Roma. Ketika itu raja-raja di Eropa Barat dan Utara sedang terlibat dalam peperangan agama, yang berlangsung selama 30 tahun (1618-1648). Pada akhir peperangn itu negeri Belanda diakui sebagai negara Republik Belanda. Baru kemudian negara ini berganti menjadi kerajaan pada awal abad ke 19.
2. Nasionalisme Eropa pada Abad ke 19
Nasionalisme sebagai perjuangan nyata dari bangsa atau rakyat Eropa tampak jelas ketika mereka berusaha bersama untuk menggagalkan usaha Napoleon I, kaisar Perancis untuk menguasai sluruh Eropa. Peristiwa ini terjadi antara tahun 1800-1815.
Napoleon Bonaparte berhasil merebut kekuasaan di Perancis pada tahun 1799. Pada tahun 1804 Napoleon menjadi kaisar Perancis. Cita-cita selanjutnya ialah mempersatukan Eropa dibawah kekuasaannya. Pada ahun 1812 yang belum ditaklukan adalah Inggris, yang letaknya terpisah dari daratan Eropa, dan Rusia, yang letaknya paling timur serta wilayahnya paling luas dengan iklim yang keras.
Pada tahun 1812, Napoleon gagal menguasai Rusia. Ketika itu, rakyat negeri Eropa yang dikuasai Napleon mulai bergerak dan membentuk pasukan-pasukan sukarela untuk meghadpi Napileon. Tentara Napoleon yang terdiri dari sebagian pasukan sumbangan dari berbagai kerajaan yang takluk, menjadi bercerai berai dan tidak tuh lagi. Mereka tidak mau menjadi pasukan negara Perancis. Perjuangan rakyat Eropa itu berlanjut menjadi kekerasan senjata. Akhirnya kemerekaan mereka sebagai bangsa diakui juga, yaitu antara lain, Belgia pada tahun 1839 dan Hongaria pada tahun 1848.
Nasionalisme bangsa-bangsa di semenanjung Balkan untuk membebaskan diri dari penjajahan Turki yang rakyat aslinya beragama nasrani diulai pada tahun 1821. Dalam perjuangannya rakyat Balkan mendapat bantuan dari kerajaan Eropa seperti Austria, Perancis, Inggris dan Rusia. Yunani mencapai kemedekaan paling awal yaitu pada tahun 1829. Bulgaria dan Rumania pada tahun 1878, dan Albania pada tahun 1912. Yugoslavia menjelma pada tahun 1929. Itulah hasil perjuangan bangsa-bangsa di Balkan.
Perkembangan nasionalisme di kawasan Jerman muncul ketika adanya hasrat untu mempersatukan negara-negara Jerman oleh Prusia. Pelaksananya adalah perdana menteri Otto Van Bismarckyang beranggapan bahwa Jerman hanya dapat dipersatukan dengan menggunakan kekerasan bersenjata. Karena itu ia segera memperkuat dan melatih tentara Prusia. Saingan prusia yang menjadi musuh utama adalah kerajaan Austria yang berhasil dikalahkan dalam suatu peperangan hanya dalam waktu 7 minggu (1866). Perancis yang merupakan musuh Jerman sejak lama juga berhasil dikalahkan pada tahun 1871. Pada tahun itu juga raja Prusia dnobatkan menjadi kaisar Jerman. Dengan demikian tercapailah cit-cita untuk mendirikan negara ksatuan Jerman.
Terbentuknya negara kesatuan Italia pada tahun 1871 menempuh jalan yang sama dengan Jerman. Pelaksananya adalah Camillo di Cavour, perdana menteri kerajaan Sardinia. Pasukan Cavour bergabung dengan negara-negara yang kuat untuk menguasai daerah-daerah yang dikuasai Austria. Dengan bantuan Perancis diperolehnya daerah Lombardia di bagian utara (1859). Kerajaan Sisilia dapat ditaklukan sendiri. Venesia diperolehnya dengan menggabung pada Prusia, ketika menghadapi Austria pada tahun 1866. Daerah gereja dapat diduduki pada tahun 1871. Raja Victor Emanuel dan Sardinia telah dinbatkan sebagai raja Italia pada tahun 1861.
BAB III
SIMPULAN
Nasionalisme adalah suatu gejala psikologis berupa rasa persamaan dari sekelompok manusia yang menimbulkan kesadaran sebagai bangsa. Nasionalisme muncul dibelahan negara-negara dunia. Nasionalisme pada umumnya bertujuan mewujudkan kebebasan individu dan negara dari cengkaman dan kongkongan pemerintah dan kuasa asing.
Faktor penyebab timbulnya nasionalisme di setiap Negara berbeda. Munculnya nasionalisme pada masyarakat Indonesia dipengaruhi oleh faktor dari dalam (intern) dan faktor dari luar (ekstern). Faktor intern yang mempengaruhi munculnya nasionalisme Indonesia seperti timbulnya kembali golongan pertengahan, kaum terpelajar; Adanya penderitaan dan kesengsaraan yang dialami oleh seluruh rakyat dalam berbagai bidang kehidupan; Pengaruh golongan peranakan; Adanya keinginan untuk melepaskan diri dari imperialism. Faktor ekstern yang mempengaruhi munculnya nasionalisme Indonesia adalah seperti Faham-faham modern dari Eropa (liberalisme, humanisme, nasionalisme, dan komunisme); Gerakan pan-islamisme; Pergerakan bangsa terjajah di Asia; Kemenangan Rusia atas Jepang
Nasionalisme Eropa muncul disebabkan oleh faktor-faktor seperti Munculnya paham rasionalisme dan romantisme; Munculnya paham aufklarung dan kosmopolitanisme; Terjadinya revolusi Prancis; Reaksi atau agresi yang dilakukan oleh Napoleon Bonaparte.Nasionalisme Asia muncul disebabkan oleh faktor-faktor seperti Adanya kenangan akan kejayaan masa lampau; Imperalisme; Pengaruh paham revolusi Prancis; Adanya kemenangan Jepang atas Rusia; Piagam Atlantic charter; Timbulnya golongan terpelajar.
DAFTAR PUSTAKA
Ernawati, Rus Imtam dan Ismawati, Nursiwi. 2009. Sejarah Kelas XI Program Bahasa, Jakarta : Pusat perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.
Hamid, Abdul. 1981. Sejarah Umum 2. Jakarta: PT. Grafitas.
Kutojo, Sutrisno dkk. 1981. Sejarah Umum. Bandung: CV. Kutamas.
Latuconsina Hudaya, Rafidi Dedi. 1997. Sejarah Untuk Kelas 2 Jilid 2. Jakarta: Erlangga.
Waridah Q Siti, DKK. 2000. Sejarah Nasional Dan Umum 2 SMU. Yogyakarta: Bumi Aksara.
Wayan Badardika. 2004, Sejarah Nasional dan Umum SMA. Jakarta: Erlangga. Sejarah Nasional dan Umum. Jakarta: Balai Pustaka.
Yudi. 1999. Sejarah SMU Semester 3. Surakarta : CV. Haka MJ.
http://els.bappenas.go.id/upload/other/Tentang%20Nasionalisme%20Indonesia.htm diakses pada 4 Maret 2011.
http://id.shvoong.com/humanities/history/2070244-nasionalisme-jepang/ diakses pada 4 maret 2011.
http://gurumuda.com/bse/gerakan-nasionalisme-cina diakses pada 4 maret 2011.
http://sejarah-history.blogspot.com/2010/01/nasionalisme-china.html diakses pada 4 maret 2011.
http://id.shvoong.com/humanities/history/2070253-nasionalisme-india/ diakses pada 4 maret 2011.
http://id.shvoong.com/humanities/history/2070251-nasionalisme-turki/ diakses pada 4 maret 2011.
http://id.shvoong.com/humanities/history/2070252-nasionalisme-mesir/ diakses pada 4 maret 2011.
http://gurumuda.com/bse/gerakan-nasionalisme-mesir diakses pada 4 maret 2011.
http://yandra08.blogspot.com/2008/12/nasionalisme-filipina.html diakses pada 4 Maret 2011.
http://www.anakciremai.com/2009/01/makalah-sejarah-tentang-sejarah.html pada tanggal 8 Maret 2011.
http://id.shvoong.com/humanities/history/2070249-nasionalisme-cina/ diskded pada tanggal 8 Maret 2011.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar