Oleh Muhammad Abdul Aziz
Jurusan Pendidikan IPS Universitas Negeri Yogyakarta
BAB I
Jurusan Pendidikan IPS Universitas Negeri Yogyakarta
BAB I
PENDAHULUAN
- Latar Belakang
Organisasi dari waktu ke waktu selalu berkembang pesat, tapi sampai detik ini belum ada satu teori bersifat umum ataupun berupa kumpulan-kumpulan hukum bagi organisasi yang dapat diterapkan dalam berbagai situasi dan kondisi. Para pelaku organisasi hanya mengetahui teori organisasinya saja, tetapi belum banyak yang menerapkan teori tersebut. Setiap teori yang diterapkan oleh setiap organisasi belum tentu bisa menyelesaikan masalah yang ada dalam organisasinnya tersebut, oleh karena itu perlu adanya pemahaman tentang perilaku serta teori yang harus diterapkan dalam suatu organisasi.
- Rumusan Masalah
1. Apa pengertian teori?
2. Apa pengertian teori organisasi?
3. Bagaimana perkembangan teori organisasi?
- Tujuan
1. Memahami pengertian teori.
2. Memahami pengertian teori organisasi.
3. Mengetahui perkembangan teori organisasi.
- Manfaat
1) Bagi pembaca
Pembaca dapat memahami apa itu teori, teori organisasi, serta dapat mengetahui perkembangan teori organisasi dari yang awal sampai pada masa modern sekarang ini.
2) Bagi penyusun
Penyusun dapat belajar memahami dan bagaimana menerapkan teori organisasi yang dipelajari dalam organisasi yang diikuti serta menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Teori
Nursanto (2002 : 257), Dalam Kamus Umum bahasa Indonesia, istilah teori diberikan penjelasan sebagai berikut:
1) Teori merupakan pendapat yang dikemukakan sebagai suatu keterangan mengenai suatu peristiwa.
2) Teori merupakan asas-asas dan hukum-hukum umum yang menjadi dasar suatu kesenian atau ilmu pengetahuan.
3) Teori merupakan pendapat cara-cara dan aturan-aturan untuk melakukan sesuatu.
Nursanto (2002 : 257-258) memberikan pengertian bahwa yang dimaksud dengan teori adalah :
1) Teori merupakan suatu rumusan yang disusun secara sistematis, logis, dan teratur mengenai suatu fenomena.
2) Teori merupakan suatu pandangan mengenai sesuatu hal yang dalam batas-batas tertentu bersifat normatif, sehingga dapat dipergunakan sebagai pegangan, atau pedoman dalam melakukan sesuatu kegiatan atau dalam menyusun suatu pola atau standar atau dalam melakukan suatu penilaian atau pengukuran mengenai sesuatu.
3) Teori merupakan suatu pendapat daripada seorang (ahli) tentang sesuatu masalah atau sesuatu hal yang diperoleh melalui penelitian atau kajian secara ilmiah, un tuk kemudian disusun secara sistematis dan logis.
4) Teori juga merupakan suatu rangkaian penjelasan yang disusun secara sistematis mengenai suatu fenomena yang telah dipelajari secara ilmiah dan logis.
Dari pengertian teori diatas dapat diketahui bahwa teori mempunyai fungsi sebagai pandangan, pedoman atau pangkal tolak dalam menghadapi dan dalam menjalankan tugas pekerjaan praktek. Teori juga mempunyai fungsi sebagai ukuran, standar atau norma dalam melakukan suatu penelitian.
B. Teori Organisasi
Teori organisasi ialah suatu konsepsi, pandangan, tinjauan, ajaran, pendapat atau pendekatan tentang pemecahan masalah organisasi sehingga dapat lebih berhasil sehingga organisasi dapat mencapai sasaran yang ditetapkan. Yang dimaksud dengan masalah organisasi ialah segala sesuatu yang ada hubungannya dengan kepentingan organisasi yang memerlukan pemecahan dan pengambilan keputusan (Nursanto, 2002 : 259).
C. Perkembangan Teori Organisasi
1. Teori Organisasi Klasik
Sukanto,dkk (2001 : 14) teori klasik berkembang dalam tiga aliran: birokrasi, teori administrasi, dan manajemen ilmiah. Teori klasik mendefinisikan organisasi sebagai struktur hubungan, kekuasaan-kekuasaan, tujuan-tujuan, peranan-peranan, kegiatan-kegiatan, komunikasi dan faktor-faktor lain yang terjadi bila orang-orang bekerja bersama.
a. Teori Birokrasi
Karakteristik-karakteristik birokrasi sebagai berikut:
1) Pembagian kerja yang jelas. Pembagian kerja atau spesialisasi hendaknya sesuai dengan kemampuan teknisnya.
2) Hirarki kewenangan yang dirumuskan secara baik.
3) Program rasional dalam pencapaian tujuan organisasi.
4) Sistem prosedur bagi penanganan situasi kerja.
5) Sistem aturan yang mencakup hak-hak dan kewajiban-kewajiban posisi para pemegang jabatan.
6) Hubungan-hubungan antarpribadi yang bersifat “impersonal”. Ada pemisahan antara masala-masalah pribadi dengan persoalan-persoalan resmi (formal) organisasi.
Birokrasi adalah sebuah model organisasi normatif, yang menekankan struktur dalam organisasi. Unsur-unsur birokrasi masih banya diketemukan di organisasi-organisasi modern yang lebih kompleks daripada hubungan “face to face” yang sederhana; Organisasi perusahaan, sekolah-sekolah, pemerintah dan organisasi-organisasi besar lainnya banyak mempergunakan konsep-konsep teori birokrasi. Birokrasi berarti suatu pemerintahan yang dijalankan melalui biro-biro. Keterlambatan pelayanan atau tidak baiknya pelayanan kepada masyarakat sebenarnya bukan disebabkan oleh birokrasi tetapi disebabkan kurang baiknya birokrasi.
b. Teori Administrasi
Fayol mengemukakan dan membahas 14 kaidah yang menjadi dasar perkembangan teori administrasi. Prinsip-prinsip tersebut antara lain:
1) Pembagian kerja. Dengan adanya pembagian kerja atau spesialisasi akan meningkatkan produktivitas, karena seorang dapat memusatkan diri pada pekerjaan yang sesuai dengan keahiannya.
2) Wewenang dan tanggung jawab. Wewenang adalah hak untuk memberi perintah. Seorang anggota suatu organisasi mempunyai tanggung jawab dalam pencapaian tujuan organisasi sesuai dengan kedudukannya.
3) Disiplin. Harus ada respek dan ketaatan pada peranan-peranan dan tujuan organisasi.
4) Kesatan perintah. Untuk mengurangi kekacauan, kebingungan dan konflik, setiap organisasi harus menerima perintah-perintah dari dan bertanggung jawab kepada hanya satu atasan
5) Kesatuan pengarahan. Suatu organisasi akan efektif bila anggota-anggota bekerja bersama berdasarkan tujuan-tujuan yang sama.
6) Mendahulukan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi. Kepentingan seorang karyawan (anggota organisasi) atau kelompok karyawan tidak diperlakukan lebih tinggi daripada kepentingan organisasi.
7) Balas jasa. Pembayaran upah/gaji harus bijaksana, adil, tidak eksploatif, dan sedapat mungkin memuaskan kedua belah pihak (perusahaan dan personalia), dan harus ada penghargaan atas pelaksanaan tugas yang baik.
8) Sentralisasi. Organisasi perlu mengatur tingkat keseimbangan optimum antara sentralisasi dan desentralisasi. Tingkat sentralisasi harus disesuaikan atas dasar perbedaan kasus-kasus yang dihadapi organisasi.
9) Rantai skalar. Hubungan antara tugas-tugas disusun atas dasar suatu hirarki dari atas ke bawah.
10) Aturan. Harus ada suatu tempat untuk setiap orang dan setiap orang harus menduduki tempat yang memang seharusnya menjadi tempatnya.
11) Keadilan. Adanya kesamaan perlakuan dalam organisasi.
12) Kelanggengan personalia. Waktu dibutuhkan bagi seorang karyawan untuk menyesuaikan diri dengan pekerjaan baru dan meraih sukses dalam pekerjaan baru tersebut, dengan anggapan bahwa dia mempunyai kemampuan yang disyaratkan.
13) Inisiatif. Dalam setiap tugas harus ada kemungkinan untuk menunjukan inisiatif sendiri dalam menyelesaikan dan mengerjakan rencana di setiap tingkat.
14) Semangat korps. Pelaksanaan operasi organisasi yang baik perlu adanya kebanggaan, kesetiaan, dan rasa memiliki dari para anggotanya.
c. Manajemen Ilmiah
Frederick Winslow Taylor mengemukakan empat kaidah dasar manajemen yang harus dilaksanakan dalam organisasi perusahaan, yaitu:
1) Menggantikan metode-metode kerja dalam praktik dengan berbagai metode yang dikembangkan atas dasar ilmu pengetahuan tentang kerja yang ilmiah dan benar.
2) Mengadakan seleksi, latihan-latihan dan pengembangan para karyawan secara ilmiah, agar memungkinkan para karyawan bekerja sebaik-baiknya sesuai dengan spesialisasinya.
3) Pengembangan ilmu tentang kerja serta seleksi, latihan dan pengembangan secara ilmiah harus diintegrasikan, sehingga para karyawan memperoleh kesempatan untuk mencapai tingkat uph yang tinggi, sementara manajemen dapat menekan biaya produksi menjadi rendah.
4) Untuk mencapai manfaat manajemen ilmiah, perlu dikembangkan semangat dan mental para karyawan melalui pendekatan antara karyawan dan manajer sebagai upaya untuk menimbulkan suasana kerjasama yang baik.
2. Teori Neoklasik
Pendekatan Neoklasik menemukan bahwa iklim organisasi juga perlu dijaga agar selain ditugasi beban kerja yang merata dan sesuai kapasitasnya, anggota organisasi juga bisa bekerja dengan nyaman karena dalam organisasi terdapat suasana kerja yang baik (http://massofa.wordpress.com/2009/12/04/perkembangan-teori-organisasi).
a. Organisasi Human Relationship (Neoklasik)
Teori organisasi hubungan kemanusiaan beragkat dari suatu anggapan bahwa dalam kenyataan sehari-hari organisasi merupakan hasil dari hubungan kemanusiaan (human relations). Teori ini beranggapan bahwa organisasi dapat diurus dengan baik dan dapat mencapai sasaran yang ditetapkan apabila di dalam organisasi itu terdapat hubungan antar-pribadi yang serasi. Hubungan itu dapat berlangsung antara pimpinan dengan bawahan, antara bawahan dengan pimpinan, antara bawahan dengan bawahan. Tujuan dilaksanakannya human relations ialah untuk mendapatkan:
a) Kepuasan psikologis karyawan
b) Moral yang tinggi
c) Disiplin yang tinggi
d) Loyalitas yang tinggi
e) Motivasi yang tinggi
Teori organisasi human relations mengakui pentingnya hubungan antar pribadi yang harmonis ialah hubungan yang didasarkan atas kerukunan, kekeluargaan, hormat-menghormati, saling harga-menghargai.
3. Teori Organisasi Modern
Teori modern mengemukakan bahwa organisasi bukanlah suatu sistem yang tertutup yang berkaitan dengan lingkungan yang stabil, tetapi organisasi adalah suatu sistem terbuka yang harus – bila ingin mempertahankan kelangsungan hidupnya – menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan lingkungannya.
a. Teori sistem umum
Teori sistem umum merupakan suatu aspek analisis organisasi yang berusaha untuk menemukan kaidah-kaidah umum organisasi yang erlaku universal. Tujuan teori sistem umum adalah penciptaan suatu ilmu pengetahuan organisasional universal dengan menggunakan elemen-elemen dan proses-proses umum seluruh sistem sebagai titik awal. Ada beberapa tingkatan sistem menurut Kenneth Boulding, yaitu:
1) Struktur statik – yang merupakan tingkat rangka dasar, natomi suatu sistem.
2) Sistem dinamika sederhana - tingkat mesin jam, dengan gerak-gerak tertentu.
3) Sistem sibernetik – tingkat tesmostat, sistem bekerja untuk menjaga keseimbangan melalui proses pengendalian diri.
4) Sistem terbuka – tingkat pemeliharaan diri yang berkembang dan meliputi organisme yang hidup.
5) Sistem genetika sosial – tingkat masyarakat sel, yang ditandai dengan pembagian kerja.
6) Sistem hewani – tingkat mobilitas yang ditunjukan dengan adanya perilaku yang diarahkan pada tujuan.
7) Sistem manusiawi – tingkat dengan simbol komunikasi dan innterpretasi
8) Sistem sosial - tingkat organisasi manusia
9) Sistem transedental – tingkat terakhir dan absolut, merupakan struktur yang sistematik tetapi tidak dapat diketahui hakikatnya.
b. Teori organisasi perilaku
Teori ini berpendapat bahwa baik atau tidaknya, berhasil atau tidaknya organisasi mencapai sasaran yang telah ditetapkan adalah tergantung dari perilaku atau sikap kelakuan dari para anggotanya. Masalah utama yang dihadapi organisasi adalah bagaimana mengarahkan anggota untuk berpikir, bersikap, bertingkah laku atau berperilaku sebagai manusia organisasi yang baik.
c. Teori organisasi fungsi
Fungsi adalah sekelompok tugas atau kegiatan yang harus dijalankan oleh seseorang yang mempunyai kedudukan sebagai pemimpin atau sebagai manajer guna mencapai tujuan organisasi.
Teori ini dilandaskan suatu pemikiran bahwa segala aktivitas dalam organisasi akan dapat berjalan lancar dan berhasil mencapai tujuan seperti yang telah ditetapkan apabila pimpinan organisasi mampu menjalankan sekelompok kegiatan yang telah menjadi fungsi dari seorang manajer yang terdiri dari:
1) Kegiatan menyusun perencanaan (planning)
Planning merupakan proses pemikiran dan penentuan secara jelas dari segala sesuatu yang akan dijalankan dalam rangka pencapaian tujuan organisasi.
2) Pengorganisasian (organizing)
Pengorganisasian adalah keseluruhan proses pengelompokan kegiatan-kegitan, tugas-tugas, tanggung jawab dan wewenang sedemikian rupa sehingga tercipta suatu kesatuan gerak dalam rangka pencapaian tujuan, atau dalam rangka melaksanakan rencana.
3) Pemberian motivasi (motivating)
Motivating adalah keseluruhan proses pemberian motivasi kepada para pegawai agar mereka mau dan suka bekerja sehingga tujuan organisasi dapat tercapai secara efektif dan efisien.
4) Pengawasan (controlling)
Pengawasan bertujuan untuk mengetahui apakah pelaksanaan tugas sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan.
5) Pengambilan keputusan (decision Making)
Pengambilan keputusan merupakan proses kegiatan yang dilakukan seorang dalam usaha memecahkan suatu masalah yang sedang dihadapi kemudian menetapkan berbagai macam alternatif yang dianggap paling tepat untuk dilaksanakan.
d. Teori Kontingensi
Teori ini disebut juga teori kemungkinan, teori lingkungan, atau teori situasi. Setiap organisasi apapun selalu menghadapi situasi tertentu. Situasi yang dihadapi setiap organisasi berbeda-beda, baik organisasi pemerintah, organisasi niaga, maupun organisasi sosial. Teori kontingensi berlandaskan pada suatu pemikiran bahwa pengelolaan organisasi dapat berjalan dengan baik dan lancar apabila pemimpin organisasi mampu memperhatikan dan memecahkan situasi tertentu yang sedang dihadapi.
BAB III
PENUTUP
A. SIMPULAN
Bahwa teori mempunyai fungsi sebagai pandangan, pedoman atau pangkal tolak dalam menghadapi dan dalam menjalankan tugas pekerjaan praktek. Teori juga mempunyai fungsi sebagai ukuran, standar atau norma dalam melakukan suatu penelitian.
Teori organisasi ialah suatu konsepsi, pandangan, tinjauan, ajaran, pendapat atau pendekatan tentang pemecahan masalah organisasi sehingga dapat lebih berhasil sehingga organisasi dapat mencapai sasaran yang ditetapkan.
v Teori organisasi klasik dibagi menjadi 3 yaitu:
· teori birokrasi;
· teori administrasi;
· dan manajemen ilmiah
v Teori organisasi Neoklasik
Pendekatan Neoklasik menemukan bahwa iklim organisasi juga perlu dijaga agar selain ditugasi beban kerja yang merata dan sesuai kapasitasnya, anggota organisasi juga bisa bekerja dengan nyaman karena dalam organisasi terdapat suasana kerja yang baik.
v Teori organisasi Modern
· teori sistem umum
· teori organisasi perilaku
· teori organisasi fungsi
· teori kontingensi
B. SARAN
Sebaiknya para pelaku organisasi dalam menjalankan kegiatannya harus mampu menerapkan teori organisasi yang ada. Para pelaku organisasi harus mempunyai komitmen, bertanggung jawab, disiplin dalam melaksanakan tugasnya.
DAFTAR PUSTAKA
Nursanto.2002.dasar-dasar Ilmu Organisasi.Yogyakarta: Andi Offset.
Sukanto, dkk.2001.Organisasi Perusahaan (Teori, Struktur dan Perilaku).Yogyakarta: BPFE-Yogyakarta.
Sofa, Pakde.2009.Perkembangan Teori Organisasi.Diakses darihttp://massofa.wordpress.com/2009/12/04/perkembangan-teori-organisasi pada 7 Oktober 2010.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar