BAB I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sejak
manusia terlahir, manusia telah terbiasa untuk berkomunikasi dan
mengemukakan keinginannya. Komunikasi verbal & non verbal saling
terkait dan mendukung satu dengan lainnya. Seseorang yang tumbuh dengan
kebebasan berkomunikasi akan berbeda dengan seseorang yang tidak
terbiasa berkomunikasi di dalam keluarganya. Seseorang yang bisa
meng-ekspresikan dan mengkomunikasikan siapa dirinya & keahlian yang
dimilikinya merupakan contoh seseorang yang dapat memenangkan
persaingan untuk meraih kesempatan kerja. Dan seseorang yang memiliki
keahlian berkomunikasi yang effektif & sopan akan mampu
mendelegasikan pekerjaannya & wewenangnya dengan baik. Dalam
kehidupan sehari–hari, keahlian berkomunikasi merupakan keahlian yang
tidak dimilki secara mutlak, yang artinya kemampuan berkomunikasi dapat
dirubah dan diperbaiki ke arah yang lebih baik melalui keberanian &
latihan (practical practice). Kita tidak dapat mengetahui keahlian
seseorang sampai dengan kita berkomunikasi dan melihat hasil yang
dikerjakannya. Sehingga, dalam banyak hal, komunikasi memegang peranan
sangat penting di kehidupan sehari–hari maupun dalam dunia bisnis. Semua
penjualan dan relasi bisnis didasarkan pada komunikasi interpersonal.
Karena itu meningkatkan kemampuan berkomunikasi merupakan salah satu
faktor terpenting yang mempengaruhi sukses berbisnis & bekerja.
Selanjutnya dalam makalah ini akan dibahas tentang komunikasi
interpersonal, dan interpersonal skill serta pentingnya interpersonal
skill terhadap komunikasi interpersonal.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana konsep komunikasi interpersonal?
2. Bagaimana konsep interpersonal skill?
3. Bagaimana pentingnya interpersonal skill terhdap komunikasi interpersonal?
4. Bagaimana cara meningkatkan interpersonal skill?
C. Tujuan
1. Mengetahui konsep komunikasi interpersonal.
2. Mengetahui konsep interpersonal skill.
3. Mengetahui pentingnya interpersonal skill terhdap komunikasi interpersonal.
4. Mengetahui cara meningkatkan interpersonal skill.
BAB II
PEMBAHASAN
PEMBAHASAN
A. Konsep Komunikasi Antar Pribadi
Menurut
Joseph A. Devito (Devito, 1989: 4) dalam Effendy (2000: 61) adalah
proses pengiriman dan penerimaan pesan-pesan antara dua orang, atau di
antara sekelompok kecil orang-orang, dengan beberapa efek dan beberapa
umpan balik seketika. Situasi komunikasi antarpribadi adalah prosesnya
berlangsung secara dialogis, tentunya lebih baik daripada secara
monologis. Dialog dalam komunikasi antarpribadi menunjukkan terjadinya
interaksi, masing-masing bergantian peran menajdi pembicara dan
pendengar. Ada upaya dari para pelaku untuk terjadinya pengertian
bersama dan empati, dan terjadi rasa saling menghormati.
Dalam
Muhammad (1995: 159), komunikasi interpersonal adalah proses pertukaran
informasi di antara seseorang dengan paling kurang seorang lainnya atau
biasanya di antara dua orang yang dapat langsung diketahui responnya.
Dengan bertambahnya orang dalam kegiatan komunikasi, menjadi
bertambahlah persepsi orang dalam kejadian komunikasi sehingga bertambah
komplekslah komuniaksi tersebut.
Jadi
komunikasi interpersonal adalah komunikasi yang dilakukan oleh dua
orang atau lebih yang bersifat dialogis yang dapat langsung diketahui
responnya dan dapat menjalin hubungan interaksi dengan adanya pengertian
bersama, empati dan rasa saling menghormati.
Komunikasi interpersonal membentuk hubungan dengan orang lain, jika diklasifikasikan menjadi berbagai bentuk sebagai berikut:
1. Menurut
sifatnya dalam Effendy (2000: 62-63), komunikai interpersonal dibagi
menjadi komunikasi diadik dan komunikasi triadic. Komunikasi diadik
adalah komunikasi antarpribadi yang berlangsung antara dua orang yakni
komunikator dan seorang lagi komunikan, dialog yang dilakukan secara
intens, komunikator memusatkan perhatiannya hanya kepada diri komunikan
seorang itu. Komunikasi triadic adalah komunikasi antarpribadi yang
pelakunya terdiri dari tiga orang, yakni seorang komunikator dan seorang
komunikan.
2. Menurut
Redding dalam Muhammad (1995: 159), mengembangkan klasifikasi
komunikasi interpersonal menjadi interaksi intim, percakapan sosial,
interogasi atau pemeriksaan dan wawancara. (a) interaksi intim, termasuk
komunikasi di antara teman baik, pasangan yang sudah menikah, anggota
family, dan orang-orang yang mempunyai ikatan emosional yang kuat.
Kekuatan hubungan menentukan iklim interaksi yang terjadi. Hubungan ini
dikembangkan dalam system komunikasi informal. (b) percakapan social
adalah interaksi untuk menyenangkan seseorang secara sederhana dengan
sedikit berbicara, percakapan biasanya tidak begitu terlibat secara
mendalam. (c) interogasi dan pemeriksaan adalah interaksi antara
seseorang yang ada dalam control, yang meminta bahkan menuntut informasi
daripada yang lain. (d) wawancara, adalah salah satu bentuk komunikasi
interpersonal di mana dua orang terlibat dalam percakapan yang berupa
tanya jawab. Salah seorang menanyakan untuk mendapatkan informasi dan
yang leinnya mendengarkan dengan baik dan kemudian memberikan jawaban.
Sistem Komunikasi Interpersonal, dalam Rakhmat (2007: 79-129), terdiri dari:
1. Persepsi interpersonal
Persepsi adalah pengalaman tentang objek, peristiwa, atau
hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan
menafsirkan pesan. Persepsi memberikan makna pada stimulus inderawi.
Hubungan sensasi dengan persepsi sudah jelas, senasi bagian dari
persepsi. Walaupun begitu menafsirkan makna informasi inderawi tidak
hanya melibatkan sensasi, tetapi juga atensi, ekspektasi, motivasi dan
memori. Seberapapun sulitnya kita mempersepsi orang lain, kita akn
berhasil juga memahami orang lain. Buktinya kita masih dapat bergaul
dengan mereka, masih dapat nerkomunikasi dengan mereka, dan masih dapat
menduga perilaku mereka. Pengaruh factor situasional pada persepsi
interpersonal:
a. Deskripsi
verbal, kata yang disebut pertama akan mengarahkan penilaian
selanjutnya. Pengaruh kata pertama disebut dengan primacy effect.
b. Petunjuk
proksemik, jarak yang dibuat individu ketika berhubungan dnegan orang
lain menunjukkan tingkat keakraban di antara mereka.
c. Petunjuk kinesik, petunjuk kinesik didapat dari gerakan tubuh orang lain yang dapat menimbulkan persepsi.
d. Petunjuk wajah, petunjuk awajah juga menimbulkan persepsi yang dapat diandalkan. Wajah merupakan cerminan jiwa.
e. Petunjuk
paralinguistic, kita dapat mempersepse sesuatu dari cara bagaimana
orang mengucapkan lambing-lambang verbal, meliputi tinggi-rendahnya
suara, tempo bicara, dialek, dan interaksi.
f. Petunjuk
artifaktual, meliputi segala macam penampilan seperti potongan tubuh,
kosmetik, baju, tas, baju, tas, pangkat, dan atribut lainnya.
Pengaruh factor personal pada persepsi interpersonal:
a. Pengalaman, pengalamn mempengaruhi kecermatan persepsi.
b. Motivasi, motiv personal mempengaruhi persepsi interpersonal.
c. Kepribadian
Pengaruh
perspsi interpersonal terhadap komunikasi interpersonal sangat
berpengaruh, komunikasi interpersonal amat bergantung pada persepsi
interpersonal.
2. Konsep Diri
Konsep diri adalah pandangan dan perasaan kita tentang diri kita.
Persepsi tentang diri ini boleh bersifat psikologi, social, dan fisis.
Factor yang mempengaruhi konsep diri antara lain adalah:
a. Orang
lain, kita mengenal diri kita dengan mengenal orang lain terlebih
dahulu. Bagaimana kita menilai diri orang lain akan membentuk konsep
diri kita.
b. Kelompok
rujukan, kita pasti menjadi bagian dari kelompok-kelompok yang ada di
masyarakat, setiap kelompok pasti mempunyai norma yang akan membentuk
konsep diri kita.
Pengaruh konsep diri terhadap komunikasi interpersonal
a. Nubuat
yang dipenuhi sendiri, kecenderungan untuk bertingkah laku sesuai
dengan konsep diri disebut sebagai nubuat yang dipenuhi sendiri.
b. Membuka
diri, pengetahuan tentang diri akan meningkatkan komunikasi, pada saat
yang sama, berkomunikasi dengan orang lain meningkatkan pengetahuan
tentang diri kita.
c. Percaya
diri, orang yang merasa dirinya negative cenderung akan kurang percaya
diri, sedangkan orang yang konsep dirinya positif akan mempunyai tingkat
percaya diri yang tinggi.
d. Selektivitas,
konsep diri mempengaruhi komunikasi kita karena konsep diri
mempengaruhi kepada pesan apa kita bersedia membuka diri, bagaimana kita
mempersepsi pesan itu, dan apa yang kita ingat. Konsep diri menyebabkan
terpaan selektif, persepsi selektif, dan ingatan selektif.
3. Atraksi
interpersonal, adalah kesukaan pada orang lain, sikap positif dan daya
tarik seseorang. Factor-faktor personal yang mempengaruhiatraksi
interpersonal antara lain:
a. Kesamaan
karakteristik ineterpersonal, orang-orang yang mempunyai kesamaan dalam
nilai-nilai, sikap, keyakinan, tingkat sosioekonomis, agama, ideologys,
cenderung saling menyukai.
b. Tekanan emosional, bila orang berada dalam keadaan yang mencemaskan, ia akan cenderung membutuhkan kehadiran orang lain.
c. Harga
diri yang rendah, bila harga diri direndahakan, hasrat afiliasi
bergabung dengan orang lain akan lebih tinggi, dan ia makin responsive
untuk menerima kasih saying orang lain.
d. Isolasi social, tingkat isolasi social amat besar pengaruhnya terhadap kesukaan kita terhadap orang lain.
Factor-faktor situasional yang mempengaruhi atraksi interpersonal:
a. Dayatarik fisik, daya tarik fisik sering menjadi penyebab utama atraksi interpersonal.
b. Ganjaran,
kita menyenangi orang lain yang memberikan ganjaran pada kita, kita
akan meneruskan interaksi jika kita mendapatkan keuntungan psikologis
maupun ekonomis./
c. Familiarity,
yang artinya kenal dengan baik. Jika kita sering berjumpa dengan orang
lain asal tidak ada hal-hal lain, kita akan menyukainya.
d. Kedekatan, familiarity erat kaitannya dengan kedekatan. Orang cenderung menyenangi mereka yang lokasinya berdekatan mereka.
e. Kemampuan,
kita cenderung menyenangi orang-orang yang memiliki kemampuan lebih
tinggi daripada kita, atau lebih berhasil dalam kehidupannya.
Pengaruh atraksi interpersonal pada komunikasi interpersonal
a. Penafsiran
pesan dan penilaian, sudah diketahui pendapat dan penilaian kita
tentnag orang lain tidak semata-mata berdasarkan pertimbangan rasional,
tapi juga pertimbangan emosional. Ketika kita menyenangi seseorang, kita
juga cenderung melihat segala hal yang berkaitand negan dia secara
positif.
b. Efektivitas
komunikasi, komunikasi interpersonal dinyatakan efektif bila pertemuan
komunikasi merupakan hal yang menyenangkan bagi komunikan
4. Hubungan
interpersonal, komunikais yang efektif ditandai dengan hubungan
interpersonal yang baik. Factor-faktor yang menumbuhkan hubungan
interpersonal dalam komunikasi interpersonal antara lain trust, empati,
kejujuran, sikap suportif, dan sikap terbuka.
Tujuan komunikasi interpersonal, dalam Muhammad (1995: 165-167):
1. Menemukan diri sendiri.
2. Menemukan dunia luar.
3. Membentuk dan menjaga hubungan yang penuh arti.
4. Berubah sikap dan tingkah laku.
5. Untuk bermain dan kesenangan.
6. Untuk membantu.
B. Konsep Interpersonal Skill
Keterampilan
interpersonal adalah ketrampilan untuk mengenali dan merespon secara
layak perasaan, sikap dan perilaku, motivasi serta keinginan orang lain.
Ketrampilan interpersonal mencakup bagaimana diri kita mampu membangun
hubungan yang harmonis dengan memahami dan merespon masnusia atau orang
lain.
Untuk
membangun hubungan dengan orang lain, terlebih dahulu kita harus
menguasai kemampuan dan ketrampilan dalam mengenal diri sendiri secara
jelas, bagaimana merespon, menyampaikan pesan dan maksud, bernegosiasi
dan menyelesaikan konflik, berperan dalam tim, dan banyak lagi.
Hal yang penting diingat bahwa interpersonal skill bukan merupakan bagian dari karakter kepribadian yang bersifat bawaan, melainkan merupakan ketrampilan yang bisa dipelajari. Interpersonal Skill yang baik dapat dibangun antara lain dari kemampuan mengembangkan perilaku dan komunikasi yang asertif.
Asertif secara sederhana
berarti mampu secara aktif menyatakan gagasan, harapan atau perasaan
(baik yang positif atau negatif) secara langsung dan apa adanya, tanpa
menyerang atau merugikan orang lain. Berlaku asertif yang tampaknya
mudah ini seringkali menjadi sangat sulit dalam situasi konflik atau
situasi di mana terjadi perbedaan kepentingan antar individu dalam suatu
kelompok/organisasi.
Prinsip-prinsip dasar perilaku atau komunikasi yang asertif antara
lain adalah menghargai hak orang lain untuk menyampaikan gagasan atau
pendapat, untuk didengarkan dan diperlakukan dengan penuh respek serta
untuk berbeda pendapat.
Perilaku atau komunikasi asertif membantu kita untuk mendapatkan citra positif tentang
diri sendiri dan orang lain, mengembangkan saling respek dengan orang
lain, membantu kita mencapai tujuan, melindungi diri kita agar tidak
dimanfaatkan oleh orang lain sekaligus tidak melukai orang lain. Perilaku atau komunikasi asertif bertujuan untuk mencapai win-win solution,
di mana masing-masing pihak yang berinteraksi dapat merasakan
kepentingannya terakomodir tanpa merasa dikalahkan atau berkurang harga
dirinya. Orang-orang yang asertif biasanya ekspresif dan jujur,
bila berbicara langsung ke inti permasalahan, tidak mudah terpancing
emosinya, berorientasi pada solusi serta dihargai dan menghargai orang
lain. Bersikap asertif sangat berguna dalam membangun Interpersonal Skill secara umum, tetapi penerapannya tetap harus selektif karena mungkin tidak bisa berhasil untuk semua kasus.
C. Pentingnya Interpersonal Skill dalam Komunikasi Antar Pribadi
Manusia
setiap hari pasti berhubungan dengan orang lain karena secara kodrat
manusia merupakan makhluk sosial. Maka munculah kebutuhan untuk memahami
kebutuhan manusia lain. Ketika berkomunikasi ada banyak hal yang harus
kita kuasai dan mengerti antara lain bagaimana kita mengenal diri
sendiri, mengenal dan memahami orang lain, mengekspresikan diri kita,
menegaskan kebutuhan kita, memberikan dan menerima masukan, mendengarkan
pembicaraan dengan orang lain, mempengaruhi orang lain, menyesuaikan
diri terhadap lingkungan dam orang lain, menjadi anggota sebuah tim,
melakukan negosiasi, dan banyak hal lain.
Kemampuan
interpersonal sangat mempengaruhi bagaimana kita mempersepsikan diri
kita terhadap orang lain, dan bagaimana kita mempersepsikan diri kita.
Ketika kita memiliki ketrampilan interpersonal yang tinggi kita akan
memiliki rasa percaya diri yang tinggi, sehingga kita akan dihargai
orang lain, dan pada akhirnya kita kan membangun hubungan yang harmonis
dengan orang lain. Dalam dunia kerja, ketrampilan interpersonal yang
tinggi akan membawa kesuksesam dalam pekerjaan dan tentunya membawa
keuntungan material dan spiritual.
![]() |
D. Menilai Kemampuan Interpersonal
Untuk
melakukan penilaian tentang kemampuan interpersonal, kita dapat
melakukannya sendiri (self assessment) atau dapat meminta ornag lain
untuk menilai kita berdasarkan persepsi mereka tentang kemampuan
interpersonal kita. Penilaian ini sangat subjektif karena sangat
beragntujng pad apersepsi orang terhadap kita, atau juga persepsi kita
sendiri terhadap kita. Dapat terjadi, pendapat teman kita akan berbeda
dengan kita. Namun demikian, apapun penilaian orang atau diri kita
terhadap diri kita, kita dapat menggunakan bahan ini untuk memperbaiki
dan meningkatkan keterampilan interpersonal kita.
E. Cara Meningkatkan Interpersonal Skill
1. Mengatasi
persepsi negative. Sebelum bertindak kita harus melihat sesuatu dari
sudut pandang kita, melihat dari sudut pandang orang lain, melihat dari
sudut pandang netral/tidak memihak, dan tidak mencampuradukan emosi
pribadi. Hal ini untuk membantu kita berpikir terlebih dahulu sebelum
menilai dan menyertakan emosi. Kita melihat masalah dari tiga sudut
pandang berbeda. Hal ini membuat kita menjadi lebih empati sehingga
mengatasi persepsi negative. Untuk mempunyai kemampuan ini kita harus
memiliki kemampuan mendengar. Untuk memahami kita perlu mendengarkan,
mendengarkan dnegan penuh perhatian.
2. Menerima
pesan dengan baik dengan cara mendengarkan. Mendengarkan bukan hanya
secara harfiah menggunakan telinga, namun lebih luas, yaitu memberikan
perhatian terhadap sesuatu, bukan hanya terhadap suara semata.
Pentingnya mendengar dinyatakan dalam berbagai penelitian, salah satunya
menyatakan bahwa kemampuan mendengarkan jauh lebih penting daripada
kemampuan berbicara, kemampuan mendengarkan harus dimiliki oleh semua
orang, dalam diri pekerja, manajer, eksekutif, atau hubungan personal.
Alasan untuk mendengarkan adalah:
a. Untuk memahami dan memperoleh informasi. Orang yang menguasai informasi akan memiliki kesempatan lebih besar untuk sukses.
b. Analisis
terhadap kualitas informasi. Kemampuan ini dibutuhkan agar dapat
bertindak lebih tepat. Mendengarkan dan mendapatkan informasi lebih
banyak akan meningkatkan kualitas pesan yang diterima, kelengkapan data,
dan kemampuan mengolah informasi, sehingga simpulan atau analisis
terhadap suatu kondisi atau keadaan dapat diambil.
c. Membangun
dan memelihara hubungan. Orang yang memiliki kemampuan mendengarkan
dengan baik akan memiliki hubungan lebih baik dengan sesamanya, dan juga
sebaliknya.
d. Menolong
orang lain, kemampuan mendengarkan dimiliki agar dapat memahami orang
lain dan pada akhirnya dapat menolong orang lain. Beberapa profesi
mewajibkan kompetensi mendengarkan untuk dimiliki dengan baik, contohnya
dokter, pengacara, psikolog, guru, atau lainnya.
Untuk
meningkatkan kemampuan mendengarkan adalah dengan cara: membuat kontak
mata dengan pembicara, hindari gerakan atau komunikasi nonverbal yang
justru mengganggu atau tidak sesuai dengan maksud kita untuk
mendengarkan, mengajukan pertanyaan, mengungkapkan kembali/konfirmasi,
hindari interupsi, jangan berbicara terlalu banyak, membuat transisi
yang baik antara menjadi pendengar yang baik dengan pembicara yang baik,
empatik.
3. Menekan
ego pribadi kita. Perbedaan antara individu akan selalu ada, entah itu
perbedaan pkitangan, perbedaan kepentingan, dan lainnya. Dengan menekan
ego pribadi, maka kita dapat belajar untuk mencoba memahami orang lain.
Setiap orang punya keunikan masing-masing, dan kita harus menerima fakta
tersebut.
4. Pengetahuan
juga punya peranan penting dalam berinteraksi. Ketika kita berusaha
untuk mendekati orang lain, kita dapat memanfaatkan knowledge yang kita
miliki terkait dengan keunikan yang dimiliki orang tersebut. Contohnya
kita berkenalan dengan seorang musisi, supaya interaksi berjalan dengan
baik maka kita dapat memulai pembicaraan seputar musik. Intinya adalah
membangun komunikasi yang dapat menciptakan jalinan hubungan baik dengan
orang lain.
5. Memperhatikan
juga bahasa non-verbal kita. Bahasa non-verbal dapat menyampaikan lebih
banyak dibandingkan dengan bahasa verbal. Ketika berkomunikasi dengan
menggunakan bahasa ujaran (verbal communication) orang acap menggunakan
bantuan gerak-gerik anggota tubuh seperti mata, tangan, kepala, dll.
Kemampuan memanfaatkan anggota tubuh merupakan aset komunikasi dan bukan
sekedar tampilan fisik. Jika digunakan secara tepat dan benar akan
menimbulkan rasa tenteram (bagi diri sendiri atau pendengar),
memperjelas bahasa ujaran dan sekaligus akan menghasilkan dampak positif
yang mungkin tidak diduga. Sebagai contoh, cara berdiri, bergerak,
menatap, dan tersenyum yang dimanipulasikan sedemikian rupa akan memberi
nuansa komunikatif terhadap penampilan kata-kata.
Beberapa teknik sederhana yang dapat digunakan adalah:
a. Lakukan
tatapan mata setiap saat, pada individu atau kelompok tertentu untuk
memperoleh keyakinan bahwa mereka memperhatikan isi yang sedang
dibicarakan untuk menumbuhkan rasa percaya diri sebagai pembicara. Jika
keberanian untuk melakukan hal ini belum ada, tujukanlah tatapan mata
kebagian pendengar di barisan belakang. Kekhawatiran itu akan terkikis
sedikit demi sedikit selama berbicara sehingga akhirnya
timbul keberanian menatap pada satu arah pendengar tertentu. Jangan lupa
memberi keseimbangan tatapan, berganti arah. Jangan sekali-kali menatap
ke bahan tertulis konten pembicaraan/menunduk selama berbicara.
b. Gunakan
bahasa tangan untuk mengilustrasikan poin-poin ujaran yang
disampaikan. Jika tidak terbiasa menggunakan gerakan tangan sebagai
aksentuasi, silangkan saja dibagian punggung (jika bicara sambil
berdiri) atau di balik podium (jika berdiri di mimbar). Jangan
sekali-kali menggunakan gerakan tangan yang menunjukkan kegelisahan atau
sebaliknya membuat gerakan yang membuat pendengar menjadi tidak
tenteram misal, memutar-mutar pulpen dengan tangan atau
mengetuk-ngetukkannya di meja selama berbicara.
c. Bergerak
santai jika bicara sambil berdiri. Tapi jangan mondar mandir dari satu
sisi ke sisi yang lain terlalu cepat (seperti orang sedang adu lari)
atau terlalu diatur (sehingga terkesan seperti pragawati).
d. Rileks
dan santai, jangan tegang. Dalam berkomunikasi dihindari ada rasa
beban. Kalau tidak akan terjadi ketegangan dan ketidakteraturan
berbicara. Dengan demikian interaksi komunikasi yang positif tidak
terjadi.
e. Senyum
dan senyum. Ini akan menimbulkan keyakinan pada diri sendiri dan rasa
akrab bagi pendengar. Selalu tersenyum sambil menceritakan suatu anekdot
atau humor yang terkait dengan bahan pembicaraan akan membuat
pendengar benar-benar menikmati humor dan anekdot tersebut (paling
tidak untuk sopan santun, mereka akan turut tertawa juga). Dan ini
penting buat pembicara. Sebab, jika humor tidak bersambut akan
mengakibatkan hilang kontrol dan percaya diri pembicara juga akan
hilang.
Akhirnya,
apa pun konten pembicaraan yang akan disampaikan maka keberhasilannya
akan bergantung pada kemampuan menggabungkan unsur isi pembicaraan,
pengungkapannya dalam bahasa ujaran, dan aksentuasinya dalam bentuk
non-ujaran atau bahasa tubuh. Semua ini harus bersifat sinergis.
6. Memperbanyak
bertemu dengan orang-orang baru. Hal ini karena interpersonal skill
yang terasah membutuhkan suatu proses dan waktu yang panjang. sehingga
harus selalu dilatih. Semakin banyak kita menjalin hubungan dengan orang
lain, maka interpersonal skill Kita akan semakin terasah.
7. Menghindari
judgement. Salah satu hambatan dalam menjalin komunikasi di awal adalah
judgement. Ketika judgement sudah ada, maka kita punya persepsi dan
kesan mengenai orang lain, yang mungkin negatif. Oleh karena itu, jangan
biarkan judgement menahan kita untuk memulai komunikasi. Berikan
kesempatan pada orang lain untuk berinteraksi dengan kita.
8. Open
minded. Belajarlah untuk menerima dan menghargai pendapat orang lain.
Jangan langsung menolak dengan keras `knowledge` baru yang berbeda
dengan pengetahuan yang kita miliki. Berkomunikasilah dengan serius,
namun santai. Jika harus berdebat, lakukan dengan saling menghargai dan
sopan.
9. Empati.
Empati adalah sikap dimana kita dapat menempatkan diri seolah-olah kita
berada di posisi lawan bicara. Bayangkan seolah-olah kita berada di
situasinya., dan berikan respon yang tepat. Empati kita terhadapnya akan
menciptakan suatu hubungan yang positif. Empati ini harus terus menerus
dilatih. Biasanya, orang yang punya Emotional Quotient (EQ) tinggi,
lebih pkitai dalam berempati.
10. Menghadapi
konflik. Interpersonal skill kita sangat diuji ketika terjadi konflik.
Kita dapat menjadi mediator dari pihak-pihak yang berkonflik. Kumpulkan
mereka, dan bantu untuk mengatasi konflik yang mengemuka. Lakukan dengan
kepala dingin, supaya komunikasi berjalan lancar, dan masalah bisa
diselesaikan dengan baik. Kita harus bersikap netral sekaligus bijak
untuk dapat mengambil peran ini.
BAB III
PENUTUP
PENUTUP
A. Kesimpulan
Komunikasi
interpersonal membentuk hubungan dengan orang lain, dapat berbentuk
diadik dan triadic, juga interaksi intim, percakapan social, interogasi
dan pemeriksaan, serta wawancara. Komunikasi interpersonal menyangkut
bagaimana kita berpersepsi, mempunyai konsep diri, atraksi
interpersonal, dan membentuk hubungan interpersonal. Tujuan komunikasi
interpersonal adalah menemukan diri sendiri, menemukan dunia luar,
membentuk dan menjaga hubungan yang penuh arti, berubah sikap dan
tingkah laku, untuk bermain dan kesenangan, dan untuk membantu.
Keterampilan
interpersonal adalah ketrampilan untuk mengenali dan merespon secara
layak perasaan, sikap dan perilaku, motivasi serta keinginan orang lain.
Ketrampilan interpersonal mencakup bagaimana diri kita mampu membangun
hubungan yang harmonis dengan memahami dan merespon masnusia atau orang
lain. Kemampuan interpersonal sangat mempengaruhi bagaimana kita
mempersepsikan diri kita terhadap orang lain, dan bagaimana kita
mempersepsikan diri kita. Ketika kita memiliki ketrmapilan interpersonal
yang tinggi kita akan memiliki rasa percaya diri yang tinggi, sehingga
kita akan dihargai orang lain, dan pada akhirnya kita kan membangun
hubungan yang harmonis dengan orang lain. Dalam dunia kerja, ketrampilan
interpersonal yang tinggi akan membawa kesuksesam dalam pekerjaan dan
tentunya membawa keuntungan material dan spiritual. Cara meningkatkan
interpersonal skill kita dengan mengatasi persepsi negative, menerima
pesan dengan baik dengan cara mendengarkan, menekan ego pribadi,
meningkatkan knowledge, memperhatikan juga bahasa non-verbal,
memperbanyak bertemu dengan orang-orang baru, menghindari judgement,
open minded, empati, dan mengadapi konflik.
B. Saran
Karena
interpersonal skill merupakan kemampuan yang dapat dilatih, maka
sebaiknya kemampuan ini dilatih dalam diri setiap orang, bukan hanya
terbatas pada bidang keahlian tertentu seperti dokter, konselor, guru,
pengacara, dsb. Agar setiap komunikasi interpersonal yang terjadi dapat
berjalan efektif, dengan penuh empati, saling menghargai dan beresiko
kecil menimbulkan konflik.
DAFTAR PUSTAKA
Muhammad, Arni. 1995. Komunikasi Organisasi. Jakarta: Bumi Aksara.
Effendy, Onong Uchyana. 2000. Ilmu, Toeri dan Filsafat Komunikasi. Citra Aditya Bakti.
Rakhmat, Jalaludin. 2007. Psikologi Komunikasi.Bandung: Rosda Karya.
Bramantyo, R, dan Agus Tri Prasetyo. 2007. Interpersonal Skill.
Diklat Penjenjangan Auditor Pengendali Teknis. Pusat Pendidikan dan
Pelatihan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan, (Online), (diakses dari http://pusdiklatwas.bpkp.go.id/filenya/namafile/301/IS_Dalnis.pdf, pada 5 April 2011).
Admin. 2007. Interpersonal Skill, (Online), (diakses dari http://www.karir-up.com/2007/08/interpersonal-skill, pada 5 April 2011).
Trimahanani, Emy. 2010. Mengasah Interpersonal Skill Anda, (Online), (diakses dari http://www.visijobs.com/Mengasah-Interpersonal-Skill-Anda.htm, pada 5 April 2011).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar