Oleh Muhammad Abdul Aziz
Pendidikan IPS Universitas Negeri Yogyakarta
BAB 1
Pendidikan IPS Universitas Negeri Yogyakarta
BAB 1
PENDAHULUAN
Manusia itu memiliki kekhasan masing-masing. Tidak ada yang persis sama, termasuk bagi anak yang kembar identik. Mungkin dalam beberapa aspek anak kembar identik memiliki kesamaan, namun dalam hal tertentu terdapat perbedaan, misalnya dalam memenuhi jenis kebutuhan yang diperlukan oleh anak- anak tersebut. kebutuhan-kebutuhan tersebut diantaranya kebutuhan akan sesuatu, tetapi yang ingin ditekankan di sini adalah kebutuhan tentang belajar. Setiap anak mempunyai cara belajar masing-masing. Anak-anak menggunakan buku dan perlengkapan yang sama untuk belajar, tetapi kemampuan mereka dalam menyerap pelajaran itu pasti berbeda-beda. Guru memberikan informasi pelajaran yang sama pada setiap siswa di kelas dan sekolah juga menggunakan tes yang sama pula untuk mengukur kesuksesan belajar mereka. Padahal kenyataanya mereka bukan orang-orang sama, mereka memiliki perbedaan-perbedaan. Dengan demikian, guru harus memperhatikan perbedaan-perbedaan individual yang ada pada siswanya. Agar proses pembelajaran tersebut efektif maka pembelajaran tersebut harus dapat merespon kebutuhan khusus siswanya. Perbedaan individual pada dasarnya mengkaji bagaimana orang berbeda dalam berfikir, berperasaan, dan bertindak.
Perlu dilakukan proses perubahan pada pembelajaran yang ada saat ini, khusunya bagi siswa yang mempunyai perbedaan-perbedaan khusus, seperti pada siswa yang mempunyai keterbelakangan mental, itu perlu dibina secara khusus, biasanya mereka dibina di sekolah luar biasa yang tujuannyan tidak berbeda dengan tujuan sekolah untuk anak normal yaitu melatih belajar, membaca, berhitung, kemampuan berinteraksi antara siswa satu dengan siswa lainnya, ketrampilan tangan sesuai dengan bakat anak dan latihan tanggung jawab dalam masyarakat.
BAB II
PEMBAHASAN
Pada dasarnya sumber perbedaan individual itu meliputi faktor bawaan dan faktor lingkungan. Faktor bawaan ini biasanya yang membedakan kita itu bebrbeda dengan orang lain, baik secara fisik, psikologis, maupun perilaku kita. Faktor tersebut karena bawaan dari gen yang kita miliki. Faktor fisik menjadi pertimbangan guru dalam menempatkan tempat duduk siswa. Siswa yang berpostur tubuh kecil ditempatkan di depan dan yang berpostur tubuhy besar ditemoatkan di deretan belakang agar terjadi proses belajar mengajar yang efektif.
Faktor lingkungan menunjuk pada segala sesuatu yang berada di luar diri individu meliputi status sosial ekonomi orang tua (tingkat pendidikan orang tua, pekerjaan orang tua, dan penghasilan orang tua), pola asuh orang tua yang diterapkan tiap keluarga berbeda dengan keluarga lainnya, budaya tempat tinggal siswa, urutan kelahiran, biasanya anak pertama cenderung mendapatkan dan menyelesaikan pendidikan yang lebih tinggi dan mempunyai prestasi yang lebih baik.
Selama ini kita sering memandang jenis kelamin dan gender itu sama tetapi sebenarnya berbeda. Jenis kelamin menunjuk pada perbedaan biologis dari laki-laki dan perempuan sementara perbedaan gender termasuk dalam hal peran, tingkah laku, kecenderungan, sifat dan atribut lain yang menjelaskan arti menjadi seseorang laki-laki atau perempuan dalam kebudayaan yang ada. Perempuan memiliki prestasi yang lebih baik dibandingkan laki-laki di sekolah dasar, perempuan sering kehilangan prestasi di sekolah menengah khususnya dalam mata pelajaran matematika dan sains. Perbedaan gender juga nampak dalam interaksi guru-siswa. Siswa laki-laki menerima lebih banyak komentar, khususnya lebih banyak pujian, kritik dan remediasi. Guru bertanya lebih banyak kepada anak laki-laki dibandingkan pada anak perempuan, serta menunggu lebih lama menjawabnya. Mereka selalu member semangat kepada anak laki-laki untuk berusaha lebih keras, selalu mengingatkan bahwa mereka bisa.
Setiap orang pasti memiliki kemampuan (kecerdasan) yang berbeda-beda, perbedaan kecerdasan dapat dipahami dari perbedaan skor IQ yang dihasilkan dari hasil tes kecerdasan. Pengukuran kecerdasan manusia mengikuti suatudistribusi normal. Skor tes kecerdasan bergerak dari mendekati 0 sampai 200, dengan rata-rata 100.
Perbedaan kepribadian merupakan pola perilaku dan cara yang berfikir khas yang menentukan penyesuaian diri seseorang terhadap lingkungan. Orang cenderung untuk bertindak atau berfikir dengan cara tertentu dalam berbagai situasi. Kepribadian juga menyiratkan adanya karakteristik yang membedakan satu individu dengan individu yang lain.
Adanya perbedaan kognitif, afektif maupun psikomotor diantara para siswa mempengaruhi pilihan belajar mereka yang muncul dalam bentuk perbedaan gaya belajar. Gaya belajar berhubungan dengan cara anak belajar, serta cara belajar yang disukai. Siswa pada umumnya akan sulit memproses informasi dalam suatu cara yang dirasa tidak nyaman bagi mereka. Siswa memiliki kebutuhan belajar sendiri, belajar dengan cara berbeda, serta memproses informasi dengan cara yang berbeda.
Perbedaan individual membawa implikasi terhadap cara guru mengelola proses pembelajaran bagi siswa di sekolah. Banyak program pendidikan yang dapat dipilih oleh guru sebagai implikasi dari adanya perbedaan individual diantara siswa, khusunya perbedaan kemampuan. Terdapat tiga jenis bentuk program perndidikan, yaitu program remedial (pemberian layanan pendidikan kepada siswa yang mengalami kesulitan atau hambatan dengan memberikan pelajaran atau tugas tambahan secara individual sehingga mereka dapat mengikuti pembelajaran dan menyelesaikan program sesuai dengan waktu yang ditentukan serta mencapai hasil belajar yang optimal), pengayaan (pemberian layanan pendidikan sesuai potensi kecerdasan dan bakat istimewa yang dimiliki siswa dengan penyediaan kesempatan dan fasilitas belajar tambahan yang bersifat pendalaman matreri pelajaran), percepatan (pemberian pelayanan pendidikan sesuai potensi kecerdasan dan bakat yang dimiliki siswa dengan memberi kesempatan kepada mereka untuk dapat menyelesaikan program regular dalam jangka waktu yang lebih singkat dibanding teman-temannya).
Program pembelajaran terprogram merupakan program pembelajaran yang sudah tersusun sehingga diharapkan siswa dapat mencapai tujuan pembelajaran yakni memperoleh bentuk perilaku yang diinginkan. Dalam pengajaran dengan bantuan komputer siswa dapat mengulangi, memperluas, dan memperdalam pengetahuannya, atau memperoleh informasi baru. Dalam pengajaran menggunakan modul, siswa dapat belajar menurut cara dan kecepatannya masing-masing. Dalam sistem kontrak biasanya berhubungan dengan tugas yang harus diselesaikan siswa sesuai dengan waktu yang sudah disepakati antara siswa dan guru. Sistem keller biasanya digunakan di perguruan tinggi yang member kesempatan kepada mahasiswa untuk maju menurut kecepatan masing-masing dan diharuskan menguasai pelajaran sebelum diperkenankan untuk mempelajari pelajaran berikutnya.
BAB III
PENUTUP
a. Simpulan
Dalam kehidupan sehari-hari kita sering menemui perbedaan-perbedaan, mulai dari perbedaan fisik seseorang, kepribadian seseorang, sampai cara seseorang itu dalam menyelesaikan suatu persoalan. Dalam proses belajar di suatu kelas kita sering menemui masalah-masalah pembelajaran yang dialami oleh siswa. Semua itu karena perbedaan kemampuan siswa dalam mencerna suatu pelajaran. Biasanya guru tidak terlalu menyadari akan hal tersebut, seharusnya sebagai seorang guru kita harus mendidik siswa tersebut sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Bagi siswa yang mengalami kekurangan dalam memahami suatu materi pelajaran sebaiknya kita adakan bimbingan khusus seperti adanya pengulangan pembelajaran (remedial), dengan adanya pendalaman materi pelajaran secara lebih meluas melalui pengayaan. Dengan adanya program tersebut diharapkan siswa dapat mendapatkan hasil yang maksimal dalam proses pembelajaran. Selain itu juga guru harus dapat menentukan program pembelajaran individu yang tepat untuk memenuhi kebutuhan individu yang berbeda-beda agar terjadi proses belajar mengajar yang baik.
b. Saran
Sebagai seorang guru yang mengajarkan materi kepada siswa sebaiknya para guru harus memahami perbedaan yang ada pada siswanya serta memahami kemampuan siswanya masing-masing agar proses belajar mengajar dapat berjalan sebagaimana yang diinginkan.
DAFTAR PUSTAKA
Sugihartono., dkk. 2007. PSIKOLOGI PENDIDIKAN. Yogyakarta: UNY Press
Tidak ada komentar:
Posting Komentar