WELCOME TO MY BLOG, DON'T FORGET TO LEAVE A COMMENT _ Selamat datang di blog saya, jangan lupa tinggalkan komentar... THANK YOU :)

Senin, 25 November 2013

Sistem nilai dan mentalitas budaya

APAKAH SISTEM NILAI-BUDAYA?
Setiap nilali-budaya, merupakan tingkat yang paling abstrak dari adat. Suatu sistem nilai-budaya terdiri dari konsepsi-konsepsi, yang hidup dalam alam pikiran sebagian besar warga masyarakat, mengenai hal-hal yang harus mereka anggap amat bernilai dalam hidup. Karena itu, suatu sistem nilai-budaya biasanya berfungsi sebagai pedoman tertinggi bagi kelakuan manusia.
Sebagai bagian dari adat istiadat dan wujud ideal dari kebudayaan, sistem nilai budaya seolah-olah berada di luar dan di atas diri para individu yang menjadi warga masyarakat yang bersangkutan. Para individu itu sejak kecil telah diresapi dengan nilai-nilai budaya yang hidup dalam masyarakatnya sehingga konsepsi-konsepsi itu sejak lama telah berakar dalam alam jiwa mereka. Itulah sebabnya nilai-nilai-budaya tadi sukar diganti dengan nilai-nilai-budaya lain dalam waktu singkat.
Konsep sistem nilai-budaya banyak dipakaki dalam ilmu-ilmu sosial, yang terutama memfokus kepada kebudayaan dan masyarakat, dan baru secara sekunder kepada manusia sebagai individu dalam masyarakat. Sebaliknya konsep sikap mental, banyak dipakai dalam ilmu psikologi, yang terutama memfokus kepada individu dan baru secara sekunder kepada kebudayaan dan masyarakat yang merupakan lingkungan dari individu. Suatu sikap adalah suatu disposisi atau keadaan mental di dalam jiwa dan diri seorang individu untuk bereaksi terhadap lingkungannya (baik lingkungan manusia atau masyarakatnya, baik llingkungan alamiahnya, maupun lingkungan fisiknya).
Mentalitas merupakan keseluruhan dari isi serta kemampuan alam pikiran dan alam jiwa manusia dalam hal menanggapi lingkungannya. Karena merupakan bagian dari adat, suatu sistem nilai  budaya biasanya dianut oleh suatu persentase besar dari warga suatu masyarakat. Sebaliknya, karena berada dalam jiwa individu, suatu sikap sering hanya ada pada individu-individu tertentu dalam masyarakat. Menurut kerangka Kluckhohn, semua sistem nilai budaya dalam semua kebudayaan di dunia itu, sebenarnya mengenai lima masalah pokok dalam kehidupan manusia. Kelima masalah pokok itu adalah:
1.      Masalah mengenai hakekat dari hidup manusia (MH)
2.      Masalah mengenai hakekat dari karya manusia(MK)
3.      Masalah mengenai hakekat dari kedudukan manusia dalam ruang waktu (MW)
4.      Masalah mengenai hakekat dari hubungan manusia dengan alam sekitarnya (MA)
5.      Masalah mengenai hakekat dari hubungan manusia dengan sesamanya (MM)

APAKAH MENTALITAS PEMBANGUNAN?
            Untuk dapat mencapai suatu keadaan yang agak lebih makmur daripada sekarang saja, sudah tentu perlu suatu intensitas usaha di segala lapangan, yang jauh lebih besar daripada apa yang biasa digerakkan sampai saat ini. Suatu nilai budaya yang perlu dimiliki oleh lebih banyak manusia Indonesia dari semua lapisan masyarakat adalah nilai-budaya yang berorientasi ke masa depan. Suatu nilai-budaya semacam itu akan mendorong manusia untuk melihat dan merencanakan masa depannya lebih seksama dan teliti, dan oleh karena itu akan memaksa manusia untuk hidup berhati-hati dan untuk berhemat.
            Suatu nilai-budaya yang lain juga perlu adalah nilai-budaya yang berhasrat untuk mengexplorasi lingkungan alam dan kekuatan-kekuatan alam. Pembangunan yang memerlukan usaha mengintensifkan produksi tentu tak bisa tidak harus memanfaatkan teknologi yang makin lama makin disempurnakan. Mungkin ada yang beranggapan bahwa kita tak perlu mengembangkan suatu mentalitas yang menilai tinggi inovasi, karena kita tak perlu lagi mengembangkan teknologi. Usaha mengadaptadikan teknologi juga memerlukan suatu mentalitas yang menilai tinggi hasrat berexplorasi, tetapi juga mutu dan ketelitian.
            Suatu mentalitas yang menilai tinggi mutu dan ketelitian itu sebenarnya memerlukan suatu orientasi nilai-budaya yang menilai tinggi hasil karya manusia. Tujuan orientasi dari karya demi hasil karyanya dan kepuasan dari karya itu sendiri adalah achievement orientation. Ada satu nilai-budaya lagi yang perlu dikembangkan oleh tiap bangsa yang ingin memperbesar tekanan intensitas berusahanya guna mempertinggi produksinya dan menjadi agak lebih makmur sedikit. Hal itu adalah terutama nilai-budaya yang menilai tinggi usaha orang yang dapat mencapai hasil, sedapat mungkin atas hasil usahanya sendiri. Yang jika diextremkan tentu ada bahayanya akan menuju ke arah individualisme, dan kalau berkembang ke arah yang lebih extrem lagi, akam menjadi isolisme. Nilai yang terlampau berorientasi vertikal ke arah atasan akan mematikan jiwa yang ingin berdiri sendiri dan berusaha sendiri, dan akan menyebabkan timbulnya sikap tak percaya, kepada diri sendiri, serta menghambat tumbuhnya rasa disiplin pribadi yang murni, karena orang hanya taat kalau ada pengawasan dari atas.
            Suatu bangsa yang hendak mengintensifkan usaha untuk pembangunan harus berusaha agar banyak dari warganya lebih menilai tinggi orientasi ke masa depan, dan demikian bersifat hemat untuk bisa teliti memperhitungkan hidupnya di masa depan, lebih tinggi menilai hasrat explorasi untuk mempertinggi kapasitas berinovasi, lebih menilai tinggi orientasi ke arah achievement dari karya, dan akhirnya menilai tinggi mentalitas berusaha atas kemampuan sendiri, percaya kepada diri sendiri, berdisiplin murni dan berani bertanggung jawab sendiri.

APAKAH KELEMAHAN MENTALITAS KITA UNTUK PEMBANGUNAN?
            Orang desa biasanya bekerja dalam sektor pertanian, dan memtalitas mereka adalah suatu mentalitas yang khas, yang kita sebut saja mentalitas petani. Kehidupan kota dikuasai oleh kelas pegawai yang amat bergengsi, dan mentalitas penduduk kota didominasi oleh mentalitas pegawai (di kota-kota di Jawa Tengah dan Timur oleh mentalitaas priyayi). Dalam hal membicarakan kelemahan-kelemahan dalam mentalitas kita untuk pembangunan, perlu dibedakan antara dua hal, ialah (1) konsepsi-konsepsi, pandangan-pandangan dan sikap mental  terhadap lingkungan kita, yang sudah lama mmengendap dalam alam pikiran kita, karena terpengaruh atau bersumber kepada sistem nilai-budaya kita sejak beberapa generasi yang lalu, dan (2) Konsepsi-konsepsi, pandangan-pandangan dan sikap mental terhadap lingkungan kita, yang baru timbul sejak revolusi, dan yang sebenarnya tidak bersumber pada sistem nilai-budaya kita.
NILAI BUDAYA MENGENAI HAKEKAT DARI HIDUP DAN KARYA MANUSIA (MH-MK)
            Mentalitas petani tidak biasa berspekulasi tentang hakekat dari hidup, dari karya, dan hasil karya menusia, pandangan bekerja keras untuk dapat makan. Mentalitas priyayi Jawa menghubungkan hakekat karya dengan konsep amal. Konsep amal dibayangkan sebagai hasil karya yang mewujudkan kebahagiaan dalam hidup ini, kebahagiaan-kebahagiaan itu adalah kedudukan, kekuasaan, dan lambang-lambang lahiriah dari kemakmuran.
NILAI BUDAYA MENGENAI PERSEPSI MANUSIA MENGENAI WAKTU (MW)
            Mentalitas petani mempunyai persepsi waktu yang terbatas. Sebagian besar dari keputusan-keputusan penting dan arah orientasi hidup petani ditentukan oleh keadaan masa kini. Sebaliknya, mentalitas peiyayi Jawa mempunyai persepsi waktu yang banyak ditentukan oleh masa lampau. Hal itu semuanya tentu bukan hal yang melamahkan mentalitas mereka, hanya saja suatu orientasi yang terlampau banyak yang terarah ke zaman yang lampau akan melemahkan kemampuan seseorang untuk melihat ke masa depan. Hal ini sebaliknya melemahkan motivasi untuk menabung dan hidup hemat. Unsur mentalitas tersebut terakhir inilah yang kurang cocok dengan keperluan pembangunan.
MASALAH HAKEKAT HUBUNGAN MANUSIA DENGAN ALAM (MA)
            Konsep mengenai pengaruh nasib yang amat kuat dalam mentallitas petani Indonesia pada umumnya, bersumber kepada suatu nilai budaya yang tidak aktif terhadap alam sekelilingnya. Petani Indonesia biasanya tidak merasa tunduk kepada alam, mereka juga tidak merasa mampu untuk menguasainya. Konsepsi bahwa orang itu harus hidup selaras dengan alam adalah suatu konsepsi yang lazim dalam mentalitas petani di Indonesia. Adapun priyayi di kota-kota di Jawa Tengah dan Timur yang hidupnya dalam kantor, tentu tidak banyak sangkkut pautnya dengan alam dalam kenyataan hidupnya. Dalam mentalitaas priyayi dari pandangan hidup itu, telah berkembang suatu mentalitas yang terlampau banyak menggantungkan diri dengan nasib. Suatu mentalitas seperti itu tidak begitu cocok dengan jiwa pembangunan.
NILAI BUDAYA MENGENAI HUBUNGAN MANUSIA DENGAN SESAMANYA (MM)
Mentalitas petani Indonesia menilai tinggi konsep sama-rata-sama-rasa. Konsep ini memberi beberapa kewajiban kepadanya, yaitu kewajiban untuk terus menerus berusaha memelihara hubungan baik dengan sesamanya, terus menerus memperhatikan keperluan-keperluan sesamanya, dan sedapat mungkin selalu membagi rata keuntungan-keuntungan dengan sesamanya. Segi negatifnya adalah bahwa konsep itu juga mewajibkan suatu sikap konformisme yang besar (artinya, orang sebaiknya menjaga agar jangan dengan sengaja berusaha untuk menonjol di atas yang lain). Sikap ini bertentangan dengan jiwa pembangunan yang justru memerlukan usaha jerih payah dengan sengaja dari pihak individu untuk maju dan menonjol di atas yang lain. Segi negatif dari suatu orientaasi nilai-budaya yang terlampau terarah kepada orang-orang yang berpangkat tinggi, yang senior, dan orang-orang yang tua itu adalah bahwa hasrat untuk berdir dan berusaha sendiri akan dimatikan, begitu pula dengan rasa disiplin pribadi yang murni (karena orang hanya akan taat apabila ada pengawasan dari atas), dan rasa tanggung jawab sendiri. Mentalitas menunggu restu dari atas jelas tidak cocok dengan jiwa pembangunan.

APAKAH KELEMAHAN MENTALITAS KITA YANG TIMBUL SESUDAH REVOLUSI?
AKIBAT REVOLUSI
Revolusi kita membawa akibat-akibat post-revolusi berupa kerusakan-kerusakan fisik dan mental, dalam masyarakat bangsa kita. Suatu revolusi pertama-tama mematahkan kontinuitas kehidupan masyarakat, dengan konsekuensi timbulnya improvisasi dari pola-pola kehidupan baru yang tidak mantap, dan yang menimbulkan keragu-raguan dalam suatu kehidupan tanpa pedoman. Suatu konsekuensi lain adalah terabaikannya prasarana-prasarana ekonomi dan kehidupan ekonomi yang menjadi kacau. Hal yang amat serius adalah bahwa di belakang kemunduran-kemunduran dalam kehidupan ekonomi dan sosial budaya nampak lahir itu, pada zaman post-revolusi tumbuh juga beberapa sifat kelemahan dalam mentalitas banyak orang Indonesia, yang lebih menjauhkan kita lagi dari jiwa pembangunan itu. Sifat-sifat kelemahan tersebut, yang bersumber pada kehidupan tanpa pedoman dan tanpa orientasi yang tegas itu, adalah:
1.      Sifat mentalitas yang meremahkan mutu
Kebutuhan akan kualitas dari hasil karya kita, dan rasa peka kita terhadap mutu, sudah hampir hilang. Kurangnya jiwa bersaing itu juga merupakan suatu sifat dalam suatu sistem nilai-budaya orang Indonesia yang tidak cocok dengan jiwa pembangunan. Permasalahan mentalitas yang meremahkan mutu, perlu disebutkan bahwa mentalitas itu dalam masyarakat kita juga jelas disebabkan karena proses penyebaran, pengluasan, pemerataan, dan extensifikasi dari sistem pendidikan kita yang tak disertai dengan perlengkapan sewajarnya dari prasarana-prasarana pendidikan.
2.      Mentallitas yang suka menerabas
Mentalitas yang bernafsu untuk mencapai tujuannya secepat-cepatnya tanpa banyak kerelaan berusaha dari permulaan secara langkah demi selangkah, yang untuk mudahnya disebut “mentalitas menerabas”, merupakan akibat dari mentalitas yang meremahkan mutu tersebut di atas. Mentalitas menerabas itu pada hakekatnya suatu sikap yang boleh dikata universal, dan ada pada hampir semua manusia dalam segala bentuk dan lingkungan kebudayaan di dunia.
3.      Sifat tak percaya pada diri sendiri
4.      Sifat tak berdisiplin murni
5.      Sifat mentalitas yang suka mengabaikan tanggung jawab yang kokoh

APAKAH ORIENTASI VERTIKAL ITU COCOK DENGAN PEMBANGUNAN
SIFAT TAK PERCAYA KEPADA DIRI SENDIRI
            Sikap tak percaya pada diri sendiri yang memburuk itu rupa-rupanya adalah suatu konsekuensi dari serangkaian kegagalan, terutama dalam bidang usaha pembangunan, yang dialami oleh bangsa Indonesia dalam zaman post-revolusi, sejak saat tercapainya kemerdekaan samapi sekarang.
SIFAT TAK BERDISIPLIN MURNI
Sifat tak berdisiplin secara murni juga merupakan suatu sifat yang justru dalam zaman setelah revolusi tampak makin memburuk dan yang merupakan salah satu pangkal daripada banyak masalah sosial budaya yang sekarang ini kita hadapi. Banyak orang Indonesia, terutama di kota-kota, hanya berdisiplin karena takut akan pengawasan dari atas.
SIFAT TAK BERTANGGUNNG JAWAB
            Sikap tak bertanggung jawab dalam pekerjaan mata pencaharian hidup sehari-hari mudah dapat kita mengerti sebab-sebabnya. Kesukaran hidup, kemiskinan, dan kekurangan tenaga banyak memaksa orang Indonesia untuk membagi perhatiannya kepada lebih dari satu pekerjaan dan kewajiban. Demikian sikap tak bertanggung jawab ini sebenarnya merupakan suatu keadaan tak mampu dari orang yang hidup dalam suatu keadaan serba kurang yang tak ada taranya. Dengan demikian tanggung jawab dalam mentalitas manusia ditanamkan dengan sangsi-sangsi, yang sebaliknya tergantung kepada norma-norma tertentu. Sifat tak adanya rasa tanggung jawab sekarang ini sebenarnya dapat pula dikembalikan kepada nilai budaya tradisional yang terlampau banyak berorientasi vertikal, sehingga tanggung jawab terhadap kewajiban itu hanya kuat apabila ada pengawasan yang keras dari atas. Dengan analisa serupa itu, maka menurunnya rasa tanggung jawab itu dapat disamakan dengan menurunnnya rasa disiplin yang akhir-akhir ini juga tampak sebagai suatu gejala yang meluas dalam masyarakat Indonesia.
            Dalam keadaan berhadapan muka, orang sungkan untuk menimbulkan rasa kecewa pada orang yang dihadapinya. Orang hanya bersikap bertanggung jawab terhadap kewajiban memelihara peralatan modern, kalau ada pengawasan dari atas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar