Setiap
nilali-budaya, merupakan tingkat yang paling abstrak dari adat. Suatu sistem
nilai-budaya terdiri dari konsepsi-konsepsi, yang hidup dalam alam pikiran
sebagian besar warga masyarakat, mengenai hal-hal yang harus mereka anggap amat
bernilai dalam hidup. Karena itu, suatu sistem nilai-budaya biasanya berfungsi
sebagai pedoman tertinggi bagi kelakuan manusia.
Sebagai
bagian dari adat istiadat dan wujud ideal dari kebudayaan, sistem nilai budaya
seolah-olah berada di luar dan di atas diri para individu yang menjadi warga
masyarakat yang bersangkutan. Para individu itu sejak kecil telah diresapi
dengan nilai-nilai budaya yang hidup dalam masyarakatnya sehingga
konsepsi-konsepsi itu sejak lama telah berakar dalam alam jiwa mereka. Itulah
sebabnya nilai-nilai-budaya tadi sukar diganti dengan nilai-nilai-budaya lain
dalam waktu singkat.
Konsep
sistem nilai-budaya banyak dipakaki dalam ilmu-ilmu sosial, yang terutama
memfokus kepada kebudayaan dan masyarakat, dan baru secara sekunder kepada
manusia sebagai individu dalam masyarakat. Sebaliknya konsep sikap mental,
banyak dipakai dalam ilmu psikologi, yang terutama memfokus kepada individu dan
baru secara sekunder kepada kebudayaan dan masyarakat yang merupakan lingkungan
dari individu. Suatu sikap adalah suatu disposisi atau keadaan mental di dalam
jiwa dan diri seorang individu untuk bereaksi terhadap lingkungannya (baik
lingkungan manusia atau masyarakatnya, baik llingkungan alamiahnya, maupun
lingkungan fisiknya).
Mentalitas
merupakan keseluruhan dari isi serta kemampuan alam pikiran dan alam jiwa
manusia dalam hal menanggapi lingkungannya. Karena merupakan bagian dari adat,
suatu sistem nilai budaya biasanya dianut
oleh suatu persentase besar dari warga suatu masyarakat. Sebaliknya, karena
berada dalam jiwa individu, suatu sikap sering hanya ada pada individu-individu
tertentu dalam masyarakat. Menurut kerangka Kluckhohn, semua sistem nilai
budaya dalam semua kebudayaan di dunia itu, sebenarnya mengenai lima masalah
pokok dalam kehidupan manusia. Kelima masalah pokok itu adalah:
1. Masalah
mengenai hakekat dari hidup manusia (MH)
2. Masalah
mengenai hakekat dari karya manusia(MK)
3. Masalah
mengenai hakekat dari kedudukan manusia dalam ruang waktu (MW)
4. Masalah
mengenai hakekat dari hubungan manusia dengan alam sekitarnya (MA)
5. Masalah
mengenai hakekat dari hubungan manusia dengan sesamanya (MM)
APAKAH
MENTALITAS PEMBANGUNAN?
Untuk dapat
mencapai suatu keadaan yang agak lebih makmur daripada sekarang saja, sudah
tentu perlu suatu intensitas usaha di segala lapangan, yang jauh lebih besar
daripada apa yang biasa digerakkan sampai saat ini. Suatu nilai budaya yang
perlu dimiliki oleh lebih banyak manusia Indonesia dari semua lapisan
masyarakat adalah nilai-budaya yang berorientasi ke masa depan. Suatu
nilai-budaya semacam itu akan mendorong manusia untuk melihat dan merencanakan
masa depannya lebih seksama dan teliti, dan oleh karena itu akan memaksa
manusia untuk hidup berhati-hati dan untuk berhemat.
Suatu nilai-budaya yang lain juga
perlu adalah nilai-budaya yang berhasrat untuk mengexplorasi lingkungan alam
dan kekuatan-kekuatan alam. Pembangunan yang memerlukan usaha mengintensifkan
produksi tentu tak bisa tidak harus memanfaatkan teknologi yang makin lama
makin disempurnakan. Mungkin ada yang beranggapan bahwa kita tak perlu
mengembangkan suatu mentalitas yang menilai tinggi inovasi, karena kita tak
perlu lagi mengembangkan teknologi. Usaha mengadaptadikan teknologi juga memerlukan
suatu mentalitas yang menilai tinggi hasrat berexplorasi, tetapi juga mutu dan
ketelitian.
Suatu mentalitas yang menilai tinggi
mutu dan ketelitian itu sebenarnya memerlukan suatu orientasi nilai-budaya yang
menilai tinggi hasil karya manusia. Tujuan orientasi dari karya demi hasil
karyanya dan kepuasan dari karya itu sendiri adalah achievement orientation. Ada satu nilai-budaya lagi yang perlu
dikembangkan oleh tiap bangsa yang ingin memperbesar tekanan intensitas
berusahanya guna mempertinggi produksinya dan menjadi agak lebih makmur
sedikit. Hal itu adalah terutama nilai-budaya yang menilai tinggi usaha orang
yang dapat mencapai hasil, sedapat mungkin atas hasil usahanya sendiri. Yang
jika diextremkan tentu ada bahayanya akan menuju ke arah individualisme, dan
kalau berkembang ke arah yang lebih extrem lagi, akam menjadi isolisme. Nilai
yang terlampau berorientasi vertikal ke arah atasan akan mematikan jiwa yang
ingin berdiri sendiri dan berusaha sendiri, dan akan menyebabkan timbulnya
sikap tak percaya, kepada diri sendiri, serta menghambat tumbuhnya rasa
disiplin pribadi yang murni, karena orang hanya taat kalau ada pengawasan dari
atas.
Suatu bangsa yang hendak
mengintensifkan usaha untuk pembangunan harus berusaha agar banyak dari
warganya lebih menilai tinggi orientasi ke masa depan, dan demikian bersifat
hemat untuk bisa teliti memperhitungkan hidupnya di masa depan, lebih tinggi
menilai hasrat explorasi untuk mempertinggi kapasitas berinovasi, lebih menilai
tinggi orientasi ke arah achievement
dari karya, dan akhirnya menilai tinggi mentalitas berusaha atas kemampuan
sendiri, percaya kepada diri sendiri, berdisiplin murni dan berani bertanggung
jawab sendiri.
APAKAH
KELEMAHAN MENTALITAS KITA UNTUK PEMBANGUNAN?
Orang desa biasanya bekerja dalam
sektor pertanian, dan memtalitas mereka adalah suatu mentalitas yang khas, yang
kita sebut saja mentalitas petani. Kehidupan kota dikuasai oleh kelas pegawai
yang amat bergengsi, dan mentalitas penduduk kota didominasi oleh mentalitas
pegawai (di kota-kota di Jawa Tengah dan Timur oleh mentalitaas priyayi). Dalam
hal membicarakan kelemahan-kelemahan dalam mentalitas kita untuk pembangunan,
perlu dibedakan antara dua hal, ialah (1) konsepsi-konsepsi,
pandangan-pandangan dan sikap mental
terhadap lingkungan kita, yang sudah lama mmengendap dalam alam pikiran
kita, karena terpengaruh atau bersumber kepada sistem nilai-budaya kita sejak
beberapa generasi yang lalu, dan (2) Konsepsi-konsepsi, pandangan-pandangan dan
sikap mental terhadap lingkungan kita, yang baru timbul sejak revolusi, dan
yang sebenarnya tidak bersumber pada sistem nilai-budaya kita.
NILAI BUDAYA
MENGENAI HAKEKAT DARI HIDUP DAN KARYA MANUSIA (MH-MK)
Mentalitas petani tidak biasa
berspekulasi tentang hakekat dari hidup, dari karya, dan hasil karya menusia,
pandangan bekerja keras untuk dapat makan. Mentalitas priyayi Jawa
menghubungkan hakekat karya dengan konsep amal. Konsep amal dibayangkan sebagai
hasil karya yang mewujudkan kebahagiaan dalam hidup ini,
kebahagiaan-kebahagiaan itu adalah kedudukan, kekuasaan, dan lambang-lambang
lahiriah dari kemakmuran.
NILAI BUDAYA
MENGENAI PERSEPSI MANUSIA MENGENAI WAKTU (MW)
Mentalitas petani mempunyai persepsi
waktu yang terbatas. Sebagian besar dari keputusan-keputusan penting dan arah
orientasi hidup petani ditentukan oleh keadaan masa kini. Sebaliknya,
mentalitas peiyayi Jawa mempunyai persepsi waktu yang banyak ditentukan oleh
masa lampau. Hal itu semuanya tentu bukan hal yang melamahkan mentalitas
mereka, hanya saja suatu orientasi yang terlampau banyak yang terarah ke zaman
yang lampau akan melemahkan kemampuan seseorang untuk melihat ke masa depan.
Hal ini sebaliknya melemahkan motivasi untuk menabung dan hidup hemat. Unsur
mentalitas tersebut terakhir inilah yang kurang cocok dengan keperluan
pembangunan.
MASALAH HAKEKAT
HUBUNGAN MANUSIA DENGAN ALAM (MA)
Konsep mengenai pengaruh nasib yang
amat kuat dalam mentallitas petani Indonesia pada umumnya, bersumber kepada
suatu nilai budaya yang tidak aktif terhadap alam sekelilingnya. Petani Indonesia
biasanya tidak merasa tunduk kepada alam, mereka juga tidak merasa mampu untuk
menguasainya. Konsepsi bahwa orang itu harus hidup selaras dengan alam adalah
suatu konsepsi yang lazim dalam mentalitas petani di Indonesia. Adapun priyayi
di kota-kota di Jawa Tengah dan Timur yang hidupnya dalam kantor, tentu tidak
banyak sangkkut pautnya dengan alam dalam kenyataan hidupnya. Dalam mentalitaas
priyayi dari pandangan hidup itu, telah berkembang suatu mentalitas yang
terlampau banyak menggantungkan diri dengan nasib. Suatu mentalitas seperti itu
tidak begitu cocok dengan jiwa pembangunan.
NILAI BUDAYA
MENGENAI HUBUNGAN MANUSIA DENGAN SESAMANYA (MM)
Mentalitas
petani Indonesia menilai tinggi konsep sama-rata-sama-rasa. Konsep ini memberi
beberapa kewajiban kepadanya, yaitu kewajiban untuk terus menerus berusaha
memelihara hubungan baik dengan sesamanya, terus menerus memperhatikan
keperluan-keperluan sesamanya, dan sedapat mungkin selalu membagi rata
keuntungan-keuntungan dengan sesamanya. Segi negatifnya adalah bahwa konsep itu
juga mewajibkan suatu sikap konformisme yang besar (artinya, orang sebaiknya
menjaga agar jangan dengan sengaja berusaha untuk menonjol di atas yang lain).
Sikap ini bertentangan dengan jiwa pembangunan yang justru memerlukan usaha
jerih payah dengan sengaja dari pihak individu untuk maju dan menonjol di atas
yang lain. Segi negatif dari suatu orientaasi nilai-budaya yang terlampau
terarah kepada orang-orang yang berpangkat tinggi, yang senior, dan orang-orang
yang tua itu adalah bahwa hasrat untuk berdir dan berusaha sendiri akan
dimatikan, begitu pula dengan rasa disiplin pribadi yang murni (karena orang
hanya akan taat apabila ada pengawasan dari atas), dan rasa tanggung jawab
sendiri. Mentalitas menunggu restu dari atas jelas tidak cocok dengan jiwa
pembangunan.
APAKAH
KELEMAHAN MENTALITAS KITA YANG TIMBUL SESUDAH REVOLUSI?
AKIBAT REVOLUSI
Revolusi
kita membawa akibat-akibat post-revolusi berupa kerusakan-kerusakan fisik dan
mental, dalam masyarakat bangsa kita. Suatu revolusi pertama-tama mematahkan
kontinuitas kehidupan masyarakat, dengan konsekuensi timbulnya improvisasi dari
pola-pola kehidupan baru yang tidak mantap, dan yang menimbulkan keragu-raguan
dalam suatu kehidupan tanpa pedoman. Suatu konsekuensi lain adalah
terabaikannya prasarana-prasarana ekonomi dan kehidupan ekonomi yang menjadi
kacau. Hal yang amat serius adalah bahwa di belakang kemunduran-kemunduran
dalam kehidupan ekonomi dan sosial budaya nampak lahir itu, pada zaman
post-revolusi tumbuh juga beberapa sifat kelemahan dalam mentalitas banyak
orang Indonesia, yang lebih menjauhkan kita lagi dari jiwa pembangunan itu.
Sifat-sifat kelemahan tersebut, yang bersumber pada kehidupan tanpa pedoman dan
tanpa orientasi yang tegas itu, adalah:
1. Sifat
mentalitas yang meremahkan mutu
Kebutuhan akan kualitas dari hasil
karya kita, dan rasa peka kita terhadap mutu, sudah hampir hilang. Kurangnya
jiwa bersaing itu juga merupakan suatu sifat dalam suatu sistem nilai-budaya
orang Indonesia yang tidak cocok dengan jiwa pembangunan. Permasalahan
mentalitas yang meremahkan mutu, perlu disebutkan bahwa mentalitas itu dalam
masyarakat kita juga jelas disebabkan karena proses penyebaran, pengluasan,
pemerataan, dan extensifikasi dari sistem pendidikan kita yang tak disertai
dengan perlengkapan sewajarnya dari prasarana-prasarana pendidikan.
2. Mentallitas
yang suka menerabas
Mentalitas yang bernafsu untuk
mencapai tujuannya secepat-cepatnya tanpa banyak kerelaan berusaha dari
permulaan secara langkah demi selangkah, yang untuk mudahnya disebut “mentalitas
menerabas”, merupakan akibat dari mentalitas yang meremahkan mutu tersebut di
atas. Mentalitas menerabas itu pada hakekatnya suatu sikap yang boleh dikata
universal, dan ada pada hampir semua manusia dalam segala bentuk dan lingkungan
kebudayaan di dunia.
3. Sifat
tak percaya pada diri sendiri
4. Sifat
tak berdisiplin murni
5. Sifat
mentalitas yang suka mengabaikan tanggung jawab yang kokoh
APAKAH
ORIENTASI VERTIKAL ITU COCOK DENGAN PEMBANGUNAN
SIFAT TAK
PERCAYA KEPADA DIRI SENDIRI
Sikap tak percaya pada diri sendiri
yang memburuk itu rupa-rupanya adalah suatu konsekuensi dari serangkaian
kegagalan, terutama dalam bidang usaha pembangunan, yang dialami oleh bangsa
Indonesia dalam zaman post-revolusi, sejak saat tercapainya kemerdekaan samapi
sekarang.
SIFAT TAK
BERDISIPLIN MURNI
Sifat
tak berdisiplin secara murni juga merupakan suatu sifat yang justru dalam zaman
setelah revolusi tampak makin memburuk dan yang merupakan salah satu pangkal
daripada banyak masalah sosial budaya yang sekarang ini kita hadapi. Banyak
orang Indonesia, terutama di kota-kota, hanya berdisiplin karena takut akan
pengawasan dari atas.
SIFAT TAK
BERTANGGUNNG JAWAB
Sikap tak bertanggung jawab dalam
pekerjaan mata pencaharian hidup sehari-hari mudah dapat kita mengerti
sebab-sebabnya. Kesukaran hidup, kemiskinan, dan kekurangan tenaga banyak
memaksa orang Indonesia untuk membagi perhatiannya kepada lebih dari satu
pekerjaan dan kewajiban. Demikian sikap tak bertanggung jawab ini sebenarnya
merupakan suatu keadaan tak mampu dari orang yang hidup dalam suatu keadaan
serba kurang yang tak ada taranya. Dengan demikian tanggung jawab dalam
mentalitas manusia ditanamkan dengan sangsi-sangsi, yang sebaliknya tergantung
kepada norma-norma tertentu. Sifat tak adanya rasa tanggung jawab sekarang ini
sebenarnya dapat pula dikembalikan kepada nilai budaya tradisional yang
terlampau banyak berorientasi vertikal, sehingga tanggung jawab terhadap
kewajiban itu hanya kuat apabila ada pengawasan yang keras dari atas. Dengan
analisa serupa itu, maka menurunnya rasa tanggung jawab itu dapat disamakan
dengan menurunnnya rasa disiplin yang akhir-akhir ini juga tampak sebagai suatu
gejala yang meluas dalam masyarakat Indonesia.
Dalam keadaan berhadapan muka, orang
sungkan untuk menimbulkan rasa kecewa pada orang yang dihadapinya. Orang hanya
bersikap bertanggung jawab terhadap kewajiban memelihara peralatan modern,
kalau ada pengawasan dari atas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar