Hari Raya Nyepi.
Hari Raya Nyepi dirayakan setiap tahun Baru Caka (pergantian tahun
Caka). Yaitu pada hari Tilem Kesanga (IX) yang merupakan hari pesucian
Dewa-Dewa yang berada di pusat samudera yang membawa inti sarining air
hidup (Tirtha Amertha Kamandalu). Untuk itu umat Hindu melakukan
pemujaan suci terhadap Dewa-Dewa tersebut. Tujuan utama Hari Raya Nyepi
adalah memohon kehadapan Tuhan Yang Mahaesa, untuk menyucikan Bhuwana
Alit (alam manusia) dan Bhuwana Agung (alam semesta). Rangkaian
perayaan Hari Raya Nyepi adalah sebagai berikut :
1.Tawur (Pecaruan), Pengrupukan, dan Melasti. Sehari sebelum Nyepi,
yaitu pada"panglong ping 14 sasih kesanga" umat Hindu melaksanakan
upacara Butha Yadnya di perempatan jalan dan lingkungan rumah
masing-masing, dengan mengambil salahg satu dari jenis-jenis "Caru"
menurut kemampuannya. Bhuta Yadnya itu masing-masing bernama; Panca Sata
(kecil), Panca Sanak (sedang), dan Tawur Agung (besar). Tawur atau
pecaruan sendiri merupakan penyucian/pemarisudha Bhuta Kala, dan segala
'leteh' (kotor), semoga sirna semuanya. Caru yang dilaksanakan di rumah
masing-masing terdiri dari; nasi manca warna (lima warna) berjumlah 9
tanding/paket, lauk pauknya ayam brumbun (berwarna-warni) disertai
tetabuhan arak/tuak. Bhuta Yadnya ini ditujukan kepada Sang Bhuta Raja,
Bhuta Kala dan Bhatara Kala, dengan memohon supaya mereka tidak
mengganggu umat. Setalah mecaru dilanjutkan dengan upacara
pengerupukan, yaitu : menyebar-nyebar nasi tawur, mengobori-obori rumah
dan seluruh pekarangan, menyemburi rumah dan pekarangan dengan mesui,
serta memukul benda-benda apa saja (biasanya kentongan) hingga bersuara
ramai/gaduh. Tahapan ini dilakukan untuk mengusir Bhuta Kala dari
lingkungan rumah, pekarangan, dan lingkungan sekitar.
Khusus di Bali, pada pengrupukan ini biasanya dimeriahkan dengan pawai
ogoh-ogoh yang merupakan perwujudan Bhuta Kala yang diarak keliling
lingkungan, dan kemudian dibakar. Tujuannya sama yaitu mengusir Bhuta
Kala dari lingkungan sekitar. Selanjutnya dilakukan Melasti yaitu
menghanyutkan segala leteh (kotor) ke laut, serta menyucikan "pretima".
DIlakukan di laut, karena laut (segara) dianggap sebagai sumber Tirtha
Amertha (Dewa Ruci, dan Pemuteran Mandaragiri). Selambat-lambatnya pada
Tilem sore, pelelastian sudah selesai.
2.Nyepi Keesoka harinya, yaitu pada "panglong ping 15" (Tilem Kesanga),
tibalah Hari Raya Nyepi. Pada hari ini dilakukan puasa/peberatan Nyepi
yang disebut Catur Beratha Penyepian dan terdiri dari; amati geni
(tiada berapi-api/tidak menggunakan dan atau menghidupkan api), amati
karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), dan amati
lelanguan (tidak mendengarkan hiburan). Beratha ini dilakukan sejak
sebelum matahari terbit. Menurut umat Hindu, segala hal yang bersifat
peralihan, selalu didahului dengan perlambang gelap. Misalnya seorang
bayi yang akan beralih menjadi anak-anak (1 oton/6 bulan), lambang ini
diwujudkan dengan 'matekep guwungan' (ditutup sangkat ayam). Wanita yang
beralih dari masa kanak-kanak ke dewasa (Ngeraja Sewala), upacaranya
didahului dengan ngekep (dipingit). Demikianlah untuk masa baru,
ditempuh secara baru lahir, yaitu benar-benar dimulai dengan suatu
halaman baru yang putih bersih. Untuk memulai hidup dalam caka/tahun
barupun, dasar ini dipergunakan, sehingga ada masa amati geni. Yang
lebih penting dari dari pada perlambang-perlambang lahir itu (amati
geni), sesuai dengan Lontar Sundari Gama adalah memutihbersihkan hati
sanubari, dan itu merupakan keharusan bagi umat Hindu. Tiap orang
berilmu (sang wruhing tatwa dnjana) melaksanakan; Bharata (pengekangan
hawa nafsu), yoga ( menghubungkan jiwa dengan paramatma (Tuhan), tapa
(latihan ketahanan menderita), dan samadhi (menunggal kepada Tuhan/Ida
Sang Hyang Widhi), yang bertujuan kesucian lahir bathin). Semua itu
menjadi keharusan bagi umat Hindu, sehingga akan mempunyai kesiapan
bathin untuk menghadapi setiap tantangan kehidupan di tahun yang baru.
Kebiasaan merayakan Hari Raya dengan berfoya-foya, berjudi,
mabuk-mabukan adalah sesuatu kebiasaan yang keliru dan mesti dirubah.
3.Ngembak Geni (Ngembak Api)
Terakhir dari perayaan Hari Raya Nyepi adalah hari Ngembak Geni yang
jatuh pada tangal ping pisan (1) sasih kedasa (X). Pada hari Inilah
tahun baru Caka tersebut dimulai. Umat Hindu bersilahturahmi dengan
keluarga besar dan tetangga, saling maaf memaafkan (ksama), satu sama
lain. Dengan suasana baru, kehidupan baru akan dimulai dengan hati putih
bersih. Jadi kalau tahun masehi berakhir tiap tanggal 31 Desember dan
tahun barunya dimulai 1 Januari, maka tahun Caka berakhir pada panglong
ping limolas (15) sasih kedasa (X), dan tahun barunya dimulai tanggal 1
sasih kedasa (X).
Tradisi Ciuman Masal Di Bali(Omed-omedan)
Puluhan muda-mudi saling mencium dalam acara omed-omedan sebagai bagian
tradisi perayaan Nyepi menyambut Tahun Baru Saka 1932 di Bali.
Tradisi unik ini dikemas dalam acara bertajuk Sesetan Heritage
Omed-omedan Festival 2010 yang digelar di Banjar Kaja Sesetan Kecamatan
Denpasar Selatan, sore ini.
Menurut Ketua Panitia I Putu Wiranata Jaya, kegiatan ini dimaksudkan
untuk melestarikan nilai seni dan budaya juga untuk memupuk kebersamaan.
“Kegiatan ini memiliki nilai sakral karena terkait susuhunan di Pura
Banjar ujar dia,” Rabu (17/03/2010). Warga setempat secara turun temurun
menggelar tradisi ini yang jatuh sehari setelah nyepi atau ngambek
geni. Dalam acara ini para muda-mudi berbaris dan berputar putar. Mereka
diminta memilih siapa yang disukai. sesaat namun harus melepaskan
kembali. Tak jarang karena larut dalm acara tersebut mereka enggan
melepaskan pelukan dan ciumannya. Karenanya harus ditarik para pemuda
lainnnya sehingga terjadi tarik tarikan. Inilah puncak dan daya tarik
tradisi tersebut.
“Kami menolak tudingan negatif seolah olah omed omedan identik dengan
ciuman,” tandas Wiranata. Seorang peserta Putu Ayu Puspa (23) dan
adiknya Kadek Wandayani, mengaku dua kali ikut acara ini. “Saya awalnya
takut tapi orang tua mendorong tampil, lagian tidak mesti dapat cium
kok,” katanya tersipu. Acara diawali tarian janger dan penampilan barong
dari kesenian warga setempat. Kegiatan ini mendapat sambutan luas
ribuan warga Denpasar. Tampak Wali Kota Rai Mantra dan anggota DPD Kadek
Arimbawa hadir melihat acara tahunan tersebut.
Tradisi Sakral Upacara Ngaben di Bali
Berbagai upacara dan kegiatan dilakukan oleh warga dan keluarga
menjelang berlangsungnya prosesi puncak pelebon (ngaben) anggota
keluarga kerajaan Ubud, Tjokorda Gde Agung Suyasa, Tjokorda Gede Raka,
dan Desak Raka (Gung Niang Raka) pada Selasa (15/7).
Upacara Ngaben merupakan salah satu tradisi budaya Bali yang sangat
dikenal sampai ke manca negara karena keunikannya. Sering pula disebut
upacara pelebon kepada orang yang meninggal dunia, dianggap sangat
penting, ramai dan semarak, karena dengan pengabenan itu keluarga dapat
membebaskan arwah orang yang meninggal dari ikatan-ikatan duniawinya
menuju sorga, atau menjelma kembali ke dunia melalui reinkarnasi.
Status kelahiran kembali roh orang yang meninggal dunia berhubungan erat
dengan karma dan perbuatan serta tingkah laku selama hidup sebelumnya.
Secara umum, orang Bali merasakan bahwa roh yang lahir kembali ke
dunia hanya bisa di dalam lingkaran keluarga yang ada hubungan darah
dengannya. Lingkaran hidup mati bagi orang Bali adalah karena
hubungannya dengan leluhurnya. Setiap orang tahu bahwa di satu saat
nanti dia akan menjadi leluhur juga, yang di dalam perjalannya di dunia
lain harus dipercepat dan mendapatkan perhatian cukup bila
sewaktu-waktu nanti kembali menjelma ke Pulau yang dicintainya, yaitu
Pulau Bali.
Upacara ini biasanya ditandai dengan pembuatan bade/wadah (tempat mayat)
yang diusung bersama sebuah lembu (sapi) yang terbuat dari rangkaian
bambu, dimana lembu ini akan dibakar bersama dengan jasad orang yang
meninggal tersebut. Upacara Ngaben diawali dengan berbagai ritual
pembuka. Seperti, mebersih, ngringkes, ngajum kajang, mesudi bumi hingga
prosesi pembakaran dan nglarung abu ke laut selatan.
Seluruh prosesi ini dilakukan dengan kompak oleh masing-masing keluarga
yang mengikuti ngaben tersebut. Ngaben pertama kali ini dilakukan
secara simbolis atau ngaben kering. Artinya, umat tidak membongkar
setra masing-masing anggota keluarga yang diaben. Ini untuk menghormati
anggota keluarga lainnya yang memeluk agama lain.
Karena upacara ini memerlukan tenaga, biaya dan waktu yang panjang dan
besar, hal ini sering dilakukan begitu lama setelah kematian. Untuk
menanggung beban biaya, tenaga dan lain-lainnya, kini masyarakat sering
melakukan pengabenan secara massal / bersama. Jasad orang yang
meninggal sering dikebumikan terlebih dahulu sebelum biaya mencukupi,
namun bagi beberapa keluarga yang mampu upacara ngaben dapat dilakukan
secepatnya dengan menyimpan jasad orang yang telah meninggal di rumah,
sambil menunggu waktu yang baik. Selama masa penyimpanan di rumah itu,
roh orang yang meninggal menjadi tidak tenang dan selalu ingin
kebebasan.
Hari baik biasanya diberikan oleh para pendeta setelah melalui
konsultasi dan kalender yang ada. Persiapan biasanya diambil jauh-jauh
sebelum hari baik ditetapkan. Pada saat inilah keluarga mempersiapkan
"bade dan lembu" terbuat dari bambu, kayu, kertas yang beraneka
warna-warni sesuai dengan golongan atau kedudukan sosial ekonomi
keluarga bersangkutan.
Tradisi Subak
Subak (organisasi petani bali) merupakan salah satu organisasi
tradisional Bali yang memelihara dan mengatur system irigasi pertanian
yang sudah ada sejak dulu, seperti yang disebutkan dalam Museum Subak
Mandala Mathika di desa Sungulan Tabanan.
Didalam kompleks terdapat ruang pameran, ruang audio visual, ruang
belajar, fasilitas penginapan, perpustakaan, kantor dan miniatur sistem
irigasi. Museum ini diresmikan mantan Gubernur Bali, Prof Dr Ida Bagus
Mantra tanggal 13 Oktober 1981. Berdirinya museum ini digagasi oleh I
Gusti Ketut Kaler, pakar adat dan agama yang waktu itu menjabat Kanwil
Departemen Agama Propinsi Bali. Ia melihat perlu adanya lembaga adat
Subak yang berupaya melestarikan warisan luhur budaya bangsa sejak abad
XI ini. Upaya itu akhirnya terwujud. Pada mulanya disebut "Cagar Budaya
Museum Subak".Museum ini merupakan museum khusus tentang sistem
pertanian di Bali berciri khas kemandirian atas landasan kekal "Tri Hita
Krana", tiga penyebab kebahagiaan (Tuhan, manusia dan alam). Dengan
berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, dikhawatirkan akan
berpengaruh pula terhadap kehidupan Subak. Untuk itu upaya melestarikan
Subak beserta peralatan tradisional Bali termasuk di dalamnya bangunan
rumah petani tradisional yang mengikuti aturan pembangunan asta bumi
dan asta kosala-kosali, tata ruang, tata letak menurut tradisi
masyarakat di Bali perlu digalakkan. Disamping menyelamatkan, menggali,
mengamankan dan memelihara berbagai benda yang berkaitan dengan subak
dan menyuguhkan berbagai informasi, pendidikan dan dokumentasi tentang
Subak, Subak ini ternyata menjadi objek wisata yang menarik.
Museum Subak terdiri dari dua bagian. Ada museum induk dan museum
terbuka. Di museum induk ada bangunan atau kompleks suci dengan
Padmasana, Bedugul dan lain-lainnya.
Tata ruang dan tata letak bangunan disesuaikan dengan lingkungan
sekitarnya dengan tetap berpegang pada pembangunan tradisional : Tri
Mandala, Tri Angga dan Asta Kosala Kosali. Sedangkan museum terbuka
berwujud "Subak Mini" yang dipakai sebagai peragaan kegiatan subak, dari
sistem irigasi hingga proses kegiatan petani di sawah.
Tradisi perkawinan di Bali
Menurut adat Hindu Bali, pernikahan dilakukan di rumah calon pengantin
laki-laki pada hari yang dianggap baik oleh pendeta Hindu Bali. Biasanya
pengantin baru tinggal bersama keluarga laki-laki dalam satu
pekarangan rumah.
Ada dua macam pernikahan, yaitu ‘kawin lari’, dan ‘kawin ngidih’. Kawin
lari (cara kuno di Bali bagian Timur), di mana perempuan meninggalkan
rumahnya untuk menikah tanpa pengetahuan orangtuanya, sudah agak jarang
dilakukan. Cara pernikahan yang umum dilaksanakan dewasa ini adalah
kawin ngidih, di mana pihak laki-laki meminta kepada orangtua pihak
perempuan.
Kawin lari
Pada hari yang telah disetujui oleh pasangan calon pengantin, laki-laki
atau orang lain yang dimintai tolong, menjemput si perempuan dan
membawanya ke rumah salah satu kerabat atau temannya untuk disembunyikan
paling sedikit selama tiga hari atau sampai orang tua pihak perempuan
mengakui bahwa anak gadisnya telah menikah.
Selanjutnya, empat orang mewakili pihak laki-laki untuk menyampaikan
pesan kepada orangtua bahwa anak gadisnya telah pergi untuk menikah.
Kelian banjar dari pihak keluarga perempuan ikut untuk menyampaikan
pesan tersebut. Mereka membawa lampu sebagai simbul penerangan dan surat
pernyataan dari calon pasangan pengantin bahwa mereka menikah atas
dasar cinta dan tanpa paksaan pihak manapun.
Apabila orangtua si perempuan menerima bahwa anaknya telah dilarikan dan
akan menikah dengan laki-laki pilihannya, mereka menentukan kapan
wakil dari pihak laki-laki bisa datang kembali ke rumahnya untuk
menyelesaikan masalah pernikahan ini. Kawin ngidih
Pada hari yang telah disepakati bersama, keluarga dan kerabat dekat
pihak laki-laki datang ke rumah pihak perempuan untuk menyampaikan
keinginan mereka untuk menikahkan anak laki-lakinya dengan anak gadis
dari pihak perempuan. Kemudian mereka akan menetapkan satu hari untuk
mengumpulkan seluruh keluarga dari pihak perempuan dan meminta keluarga
laki-laki dan kerabat dekatnya untuk datang kembali untuk melamar dan
membicarakan tatalaksana upacara pernikahan. Setelah kesepakatan
tercapai, calon pengantin perempuan dibawa ke rumah calon pengantin
laki-laki. Pawiwahan (upacara) tiga hari
Setelah tiga hari berada di rumah pihak laki-laki atau persembunyian,
calon pengantin baru akan diupacarai dengan sesajen yang dituntun oleh
pemangku (pendeta dari keluarga Sudra) untuk mengesahkan perkawinan
tersebut secara agama Hindu Bali. Upacara ini hanya dihadiri oleh
keluarga dekat pasangan pengantin atau pihak laki-laki saja kalau
memakai cara kawin lari.
Pawiwahan di sanggah (pura keluarga)
Pada hari yang telah disepakati dan ditunjuk oleh pendeta Brahmana,
upacara yang lebih besar dilaksanakan di sanggah pihak laki-laki. Makna
upacara ini adalah untuk menyampaikan kepada para leluhur yang
bersemayam di sanggah itu, bahwa ada satu pendatang baru yang akan
menjadi anggota keluarga dan akan melanjutkan keturunannya.
Dalam kawin ngidih semua anggota banjar dari pihak laki-laki dan seluruh
keluarga besar dari pihak perempuan dan para undangan lainnya
menyaksikan upacara ini. Sedangkan dalam kawin lari, keluarga atau
kerabat dekat dari pihak perempuan tidak terlibat. Undangannya bisa
mencapai ratusan orang.
Upacara ini biasanya dilanjutkan dengan pelaksanaan upacara mepamit
(perpisahan) yang akan dilakukan di sanggah pihak keluarga pengantin
perempuan. Makna dari upacara ini adalah untuk minta pamit kepada para
leluhur karena sekarang telah menikah dan menjadi milik dan tanggung
jawab keluarga laki-laki.
Pada umumnya semua biaya upacara perkawinan ditanggung oleh keluarga
pihak laki-laki termasuk untuk upacara Mepamit yang dilakukan di rumah
orangtua perempuan. Anggota banjar menyediakan sebagian bahan makanan
untuk pesta atau bahan upacara, dan para tamu udangan membawa hadiah
untuk pengantin baru.
Musik Seperangkat gamelan Bali
Musik tradisional Bali memiliki kesamaan dengan musik tradisional di
banyak daerah lainnya di Indonesia, misalnya dalam penggunaan gamelan
dan berbagai alat musik tabuh lainnya. Meskipun demikian, terdapat
kekhasan dalam tehnik memainkan dan gubahannya, misalnya dalam bentuk
kecak, yaitu sebentuk nyanyian yang konon menirukan suara kera. Demikian
pula beragam gamelan yang dimainkan pun memiliki keunikan, misalnya
Gamelan Jegog, Gamelan Gong Gede, Gamelan Gambang, Gamelan Selunding,
dan Gamelan Semar Pegulingan. Adapula musik Angklung dimainkan untuk
upacara ngaben, serta musik Bebonangan dimainkan dalam berbagai upacara
lainnya.
Terdapat bentuk modern dari musik tradisional Bali, misalnya Gamelan
Gong Kebyar yang merupakan musik tarian yang dikembangkan pada masa
penjajahan Belanda, serta Joged Bumbung yang mulai populer di Bali sejak
era tahun 1950-an. Umumnya musik Bali merupakan kombinasi dari
berbagai alat musik perkusi metal (metalofon), gong, dan perkusi kayu
(xilofon). Karena hubungan sosial, politik dan budaya, musik
tradisional Bali atau permainan gamelan gaya Bali memberikan pengaruh
atau saling mempengaruhi daerah budaya di sekitarnya, misalnya pada
musik tradisional masyarakat Banyuwangi serta musik tradisional
masyarakat Lombok.
* Gamelan
* Jegog
* Genggong
* Silat Bali
Tari
Seni tari Bali pada umumnya dapat dikatagorikan menjadi tiga kelompok;
yaitu wali atau seni tari pertunjukan sakral, bebali atau seni tari
pertunjukan untuk upacara dan juga untuk pengunjung, dan balih-balihan
atau seni tari untuk hiburan pengunjung.
Pakar seni tari Bali I Made Bandem pada awal tahun 1980-an pernah
menggolongkan tari-tarian Bali tersebut; antara lain yang tergolong ke
dalam wali misalnya Berutuk, Sang Hyang Dedari, Rejang dan Baris Gede,
bebali antara lain ialah Gambuh, Topeng Pajegan, dan Wayang Wong,
sedangkan balih-balihan antara lain ialah Legong, Parwa, Arja, Prembon
dan Joged, serta berbagai koreografi tari modern lainnya.
Salah satu tarian yang sangat populer bagi para wisatawan ialah Tari
Kecak. Sekitar tahun 1930-an, Wayan Limbak bekerja sama dengan pelukis
Jerman Walter Spies menciptakan tari ini berdasarkan tradisi Sanghyang
dan bagian-bagian kisah Ramayana. Wayan Limbak mempopulerkan tari ini
saat berkeliling dunia bersama rombongan penari Bali-nya. Penari belia
sedang menarikan Tari Belibis, koreografi kontemporer karya Ni Luh
Suasthi Bandem
Dalam bahasa Bali, kaja berarti ke (arah) gunung dan kelod berarti ke
(arah) laut. Dengan demikian untuk orang Bali Utara, kaja berarti
selatan, sebaliknya untuk orang Bali Selatan, kaja berarti utara. Begitu
juga kelod bagi orang Bali Utara berarti utara dan untuk orang Bali
Selatan berarti selatan. Perbedaan ini tidak saja tampak dalam
penunjukan arah dalam bahasa Bali, tetapi juga dalam beberapa aspek
kesenian dan juga sedikit bahasa. Orang Bali menyebut daerah di bagian
utara itu sebagai Den Bukit (kabupaten Buleleng sekarang) dan
daerah-daerah di bagian selatan sebagai Bali Tengah (kabupaten Tabanan,
Badung, Gianyar, Klungkung). Adapun mengenai arah timur (kangin)
sifatnya disamakan dengan arah kaja dan barat (kauh) disamakan dengan
kelod. Arah-arah ini sama baik di Bali Utara maupun Selatan.
Dalam asta kosala-kosali disebutkan bahwa aturan-aturan pembuatan sebuah
rumah harus mengikuti aturan aturan anatomi tubuh sang empunya pemilik
rumah dengan dibantu sang undagi sebagai pedanda atau orang suci yang
mempunyai kewenangan membantu membangun rumah atau pura. Dan terdapat
ukuran-ukuran atau dimensi yang didasarkan pada ukuran atau dimensi yang
didasarkan pada ukuran jari-jari si pemilik rumah yang akan menempati
rumah tersebut. Seperti Musti, yaitu ukuran atau dimensi untuk ukuran
tangan mengepal dengan ibu jari yang menghadap ke atas. Hasta untuk
ukuran sejengkal jarak tangan manusia dewata dari pergelangan tengah
tangan sampai ujung jari tengah yang terbuka. Depa untuk ukuran yang
dipakai antara dua bentang tangan yang dilentangkan dari kiri ke kanan.
Rumah tinggal masyarakat Bali sangat unik karena rumah tinggal tidak
merupakan satu kesatuan dalam satu atap tetapi terbagi dalam beberapa
ruang-ruang yang berdiri sendiri dalam pola ruang yang diatur menurut
konsep arah angin dan sumbu gunung Agung. Hal ini terjadi karena hirarki
yang ada menuntut adanya perbedaan strata dalam pengaturan ruang-ruang
pada rumah tinggal tersebut. Seperti halnya tempat tidur orang tua dan
anak-anak harus terpisah, dan juga hubungan antara dapur dan tempat
pemujaan keluarga. Untuk memahami hirarki penataan ruang tempat tinggal
di Bali ini haruslah dipahami keberadaan sembilan mata angin yang
identik dengan arah utara, selatan, timur dan barat.
Bagi mereka arah timur dengan sumbu hadap ke gunung Agung adalah lokasi
utama dalam rumah tinggal, sehingga lokasi tersebut biasa dipakai untuk
meletakkan tempat pemujaan atau di Bali di sebut pamerajan. Untuk
mengetahui pola ruang rumah tradisional Bali maka sebaiknya kita
mengenali bagian-bagian ruang pada rumah tinggal tradisional Bali:
1. Angkul-angkul yaitu entrance yang berfungsi seperti candi bentar pada
pura yaitu sebagai gapura jalan masuk. Angkul-angkul biasanya teletak
di kauh kelod.
2. Aling-aling adalah bagian entrance yang berfungsi sebagai pengalih
jalan masuk sehingga jalan masuk tidak lurus kedalam tetapi menyamping.
Hal ini dimaksudkan agar pandangan dari luar tidak langsung lurus ke
dalam. Aling-aling terletak di kaluh kelod.
3. Latar atau halaman tengah sebagai ruang luar.
4. Pamerajan ini adalah tempat upacara yang dipakai untuk keluarga. Dan
pada perkampungan tradisional biasanya setiap keluarga mempunyai
pamerajan yang letaknya di kaja kangin pada sembilan petak pola ruang.
5. Umah Meten yaitu ruang yang biasanya dipakai tidur kapala keluarga sehingga posisinya harus cukup terhormat yaitu di kaja.
6. Bale tiang sanga biasanya digunakan sebagai ruang untuk menerima tamu yang diletakkan di lokasi kauh.
7. Bale Sakepat, bale ini biasanya digunakan untuk tempat tidur
anak-anak atau anggota keluarga lain yang masih junior. Bale sakepat
biasanya terletak di kelod.
8. Bale Dangin biasanya dipakai untuk duduk-duduk membuat benda-benda
seni atau merajut pakaian bagi anak dan suaminya. Bale Dangin terletak
di lokasi kangin.
9. Paon yaitu tempat memasak bagi keluarga, posisinya berada pada kangin kelod.
10. Lumbung sebagai tempat untuk menyimpan hasil panen, berupa padi dan hasil kebun lainnya.
Sistem konstruksi pada arsitektur tradisional Bali mempertimbangkan
konsep yang dinamakan tri angga, yaitu sebuah konsep hirarki dari mulai
nista, madya dan utama.
“Nista” menggambarkan suatu hirarki paling bawah suatu tingkatan, yang
biasanya diwujudkan dengan pondasi bangunan atau bagian bawah sebuah
bangunan sebagai penyangga bangunan diatasnya. Atau bila dalam tiang
kolom. Materialnya dapat terbuat dari batu bata atau batu gunung. Batu
bata tersebut tersusun dalam suatu bentuk yang cukup rapi sesuai dengan
dimensi ruang yang akan dibuat pada permukaan batu bata atau batu
gunung dibuat semacam penghalus sebagai elemen leveling yang rata. Atau
merupakan plesteran akhir nista juga digambarkan sebagai alam bawah
atau alam setan atau nafsu.
“Madya” adalah bagian tengah bangunan yang diwujudkan dalam bangunan
dinding, jendela dan pintu. Madya mengambarkan strata manusia atau alam
manusia.
“Utama” adalah simbol dari bangunan bagian atas yang diwujudkan dalam
bentuk atap yang diyakini juga sebagai tempat paling suci dalam rumah
sehingga juga digambarkan tempat tinggal dewa atau leluhur mereka yang
sudah meninggal. Pada bagian atap ini bahan yang digunakan pada
arsitektur tradisional adalah atap ijuk dan alang-alang.
Untuk menampilkan kesan tradisional yang kental, gerbang dibuat dari
batu candi yang bertekstur kasar, khas gapura di candi-candi
Hindu-Buddha Jawa. Sedangkan pintu gerbang di Bali lebih banyak memakai
bahan batu bata yang merupakan sisa-sisa peninggalan zaman Majapahit.
Keterbatasan bahan batu candi tidak menghalangi kreativitas membuat
gerbang berkesan sama dengan bahan tersebut. Bahan yang dipilih lebih
disesuaikan dengan bangunan gerbang, baik dari batu candi, batu kali,
atau perkerasan beton ekspos koral atau motif lainnya.
Persilangan garis horisontal sumbu bumi dengan garis vertikal religi,
menjadi pedoman pembagian tata ruang dalam arsitektur tradisional Bali.
Jika persilangan ini diikuti oleh persilangan tiap sudutnya, maka
terwujudlah kemudian apa yang disebut Sanga Mandala (sembilan ruang)
yang berpusat pada sumbu bumi.
Di sini kemudian terdapat apa yang disebut 1) Angkul-angkul (gapura), 2)
Natah (halaman tengah), 3) Sanggah (pura keluarga) letaknya di timur
laut) 4) Umah Meten (paviliun untuk kepala keluarga) letaknya di utara,
5) Bale Tiang Sanga (paviliun tamu) letaknya di barat, 6) Bale Sakepat
(paviliun untuk anak-anak) di Selatan, 7) Bale Sakenem (bangunan di
mana sering dilakukan ritual), 8) Paon (dapur) letaknya di barat daya,
dan 9) Jineng (lumbung padi) letak-nya di tenggara.
Hunian pada masyarakat Bali, ditata menurut konsep Tri Hita Karana.
Orientasi yang digunakan menggunakan pedoman-pedoman seperti tersebut
diatas. Sudut utara-timur adalah tempat yang suci, digunakan sebagai
tempat pemujaan, Pamerajan (sebagai pura keluarga). Sebaliknya sudut
barat-selatan merupakan sudut yang terendah dalam tata-nilai rumah,
merupakan arah masuk ke hunian.
Ditengah-tengah hunian terdapat natah (court garden) yang merupakan
pusat dari hunian. Umah Meten untuk ruang tidur kepala keluarga, atau
anak gadis. Umah meten merupakan bangunan mempunyai empat buah dinding,
sesuai dengan fungsinya yang memerlukan keamanan tinggi dibandingkan
ruang-ruang lain (tempat barang-barang penting & berharga). Pada
bagian ini terdapat bangunan Jineng (lumbung padi) dan paon (dapur).
Berturut-turut terdapat bangunan-bangunan bale tiang sangah, bale
sikepat/semanggen dan Umah meten. Tiga bangunan (bale tiang sanga, bale
sikepat, bale sekenam) merupakan bangunan terbuka.
Pada pintu masuk (angkul-angkul) terdapat tembok yang dinamakan
aling-aling, yang tidak saja berfungsi sebagai penghalang pandangan ke
arah dalam (untuk memberikan privasi), tetapi juga digunakan sebagai
penolak pengaruh-pengaruh jahat/jelek. Hadirnya aling-aling ini, menutup
bukaan yang disebabkan oleh adanya pintu masuk. Sehingga dilihat dari
dalam hunian, tidak ada perembesan dan penembusan ruang. Keberadaan
aling-aling ini memperkuat sifat ruang positip yang ditimbulkan oleh
adanya dinding keliling yang disebut oleh orang Bali sebagai penyengker.
Ruang di dalam penyengker, adalah ruang dimana penghuni beraktifitas.
Adanya aktifitas dan kegiatan manusia dalam suatu ruang disebut sebagai
ruang positip. Penyengker adalah batas antara ruang positip dan ruang
negatif.
Fungsi Manifes dan Fungsi Laten Pintu Tradisional Bali
Pintu gerbang dilengkapi dengan dua patung Dwarapala lengkap dengan
gadanya sebagai penjaga pintu gerbang untuk menambah kesan “angker” dan
mempertegas bukan sembarang orang dapat masuk ke dalam rumah. Tetapi,
bisa juga dipilih patung dewi yang terasa lebih manis, cantik, dan
eksotik, sekaligus menghilangkan kesan angker gerbang.
Pada bangunan tradisional, sebelum memasuki halaman rumah, kita biasanya
melewati pintu gerbang. Dalam pemahaman sederhana, filosofi pintu
gerbang dimasukkan sebagai ruang perantara (pembersih diri) sebelum
memasuki ruang suci, yakni rumah sebagai kediaman pribadi yang sakral.
Sakral, karena rumah hanya dapat dimasuki oleh orang-orang tertentu,
tidak sembarang orang dapat keluar masuk ke dalam rumah. Maka pintu
gerbang pun dibuat dalam skala manusia, hanya cukup untuk dilalui
manusia secara bergantian (budaya antre).
Anak tangga pintu gerbang cenderung dari lebar menyempit naik ke arah
pintu utama, kemudian turun melebar kembali. Ini merupakan agar kita
bisa lebih hati – hati menaiki tangga dan bisa bergantian dan antri,
apalagi yang diterapkan pada pintu masuk angkul – angkul bangunan suci
agar kita bias lebih tenang memasuki kawasan suci dan tidak saling
mendahului sehingga kita benar – benar bisa sembhayang dengan hening dan
khidmat.
Dalam rumah tangga untuk mencapai pintu gerbang pun menandakan sebuah
pencapaian hidup, rumah sebagai status sosial, harus melalui
tahapan-tahapan yang melelahkan dan membutuhkan kesabaran. Secara
filosofi, kesuksesan penghuni rumah tidak bisa diperoleh secara instan
(dadakan, jalan pintas, tiba-tiba) untuk mencapai kebahagiaan hidup.
Pada pintu masuk ruang kamar, hampir sama dengan pintu gerbang atau
angkul – angkul, kadang sengaja dibuat lebih pendek dan ada undakan
kecil pada bagian kaki, ini menandakan bahwa seseorang yang akan
memasuki wilayah privat agar berhati – hati dan “menunduk” yang artinya
“hormat” pada penghuni rumah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar