A. PENDAHULUAN
Organisasi
sebagai suatu sistem terdidi dari komponen-komponen (subsistem) yang
saling berkaitan atau saling tergantung satu sama lain dan dalam proses
kerjasama untuk mencapai tujuan tertentu. Subsistem yang saling
tergantung itu adalah tujuan dan nilai-nilai , teknikal (technical subsystem), manajerial (managerial subsystem), psikososial (psychosocial subsystem), dan subsistem struktur (structural subsystem).
Dalam proses interaksi antara suatu subsistem dengan subsistem lainnya
tidak ada jaminan akan selalu terjadi kesesuaian atau kecocokan antara
individu pelaksananya. Setiap saat ketegangan dapat saja muncul, baik
antar individu maupun antarkelompok dalam organisasi. Banyak faktor yang
melatarbelakangi munculnya ketidakcocokan atau ketegangan, antara lain
sifat-sifat pribadi yang beda, perbedaan kepentingan, komunikasi yang
buruk, perbedaan nilai, dsb. Perbedaan-perbrdaan inilah yang akhirnya
membawa organisasi ke dalam suasana konflik. Agar organisasi dapat
tampil efektif, maka individu dan kelompok yang saling tergantung itu
harus menciptakan hubungan kerja yang saling mendukung satu sama lain,
menuju pencapaian tujuan organisasi.
Konflik
berasal dari kata kerja Latin configere yang berarti saling memukul.
Secara sosiologis, konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara
dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) dimana salah satu pihak
berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau
membuatnya tidak berdaya. Dalam
interaksi dan interelasi sosial antar individu atau antar kelompok,
konflik sebenarnya merupakan hal alamiah. Dahulu konflik dianggap
sebagai gejala atau fenomena yang tidak wajar dan berakibat negatif,
tetapi sekarang konflik dianggap sebagai gejala yang wajar yang dapat
berakibat negatif maupun positif tergantung bagaimana cara mengelolanya.
Dari
pandangan baru dapat kita lihat bahwa pimpinan atau manajer tidak hanya
wajib menekan dan memecahkan konflik yang terjadi, tetapi juga wajib
untuk mengelola/memanaj konflik sehingga aspek-aspek yang membahayakan
dapat dihindari dan ditekan seminimal mungkin, dan aspek-aspek yang
menguntungkan dikembangkan semaksimal mungkin.
B. PEMBAHASAN
1. Pengertian Konflik
Anoraga
dan Suyati (1995 : 131) mendefinisikan konflik merupakan suatu bentuk
benturan, tabrakan, ketidaksesuaian, pertentangan, perkelahian, oposisi
dan interaksi yang antagonistis bertentangan.
Kata ‘Konflik’ berasal dari bahasa Latin ‘Confligo’, yang terdiri dari dua kata, yakni ‘con’, yang berarti bersama-sama dan ‘fligo’,
yang berarti pemogokan, penghancuran atau peremukan. Dalam Kamus Umum
Bahasa Indonesia, kata "konflik" berarti "pertentangan" atau
"percekcokan". Konflik atau pertentangan bisa terjadi pada diri
seseorang (konflik internal) ataupun di dalam kalangan yang lebih luas.
Dalam organisasi istilahnya menjadi "konflik organisasi" (organizational conflict).
Konflik
organisasi adalah ketidaksesuaian antara dua atau lebih anggota-anggota
atau kelompok-kelompok organisasi yang timbul karena adanya kenyataan
bahwa mereka harus membagi sumber daya-sumber daya yang terbatas atau
kegiatan-kegiatan kerja dan atau karena kenyataan bahwa mereka mempunyai
perbedaan status, tujuan, nilai, atau persepsi.
2. Jenis-jenis Konflik
a. Konflik Dilihat dari Fungsi
Berdasarkan fungsinya, Robbins (1996:430) membagi konflik menjadi dua macam, yaitu: konflik fungsional (Functional Conflict) dan konflik disfungsional (Dysfunctional Conflict).
Konflik fungsional adalah konflik yang mendukung pencapaian tujuan
kelompok, dan memperbaiki kinerja kelompok. Sedangkan konflik
disfungsional adalah konflik yang merintangi pencapaian tujuan kelompok.
b. Konflik Dilihat dari Pihak yang Terlibat di Dalamnya
1) Konflik dalam diri individu. Konflik ini terjadi jika seseorang harus memilih tujuan yang saling bertentangan, atau karena tuntutan tugas yang melebihi batas kemampuannya.
2) Konflik antar-individu. Terjadi karena perbedaan kepribadian (personality differences) antara individu yang satu dengan individu yang lain.
3) Konflik antara individu dan kelompok. Terjadi jika individu gagal menyesuaikan diri dengan norma - norma kelompok tempat ia bekerja.
4)
Konflik antar kelompok dalam organisasi yang sama. Konflik ini terjadi
karena masing - masing kelompok memiliki tujuan yang berbeda dan
masing-masing berupaya untuk mencapainya.
5)
Konflik antar organisasi. Konflik ini terjadi jika tindakan yang
dilakukan oleh organisasi menimbulkan dampak negatif bagi organisasi
lainnya. Misalnya, dalam perebutan sumberdaya yang sama.
c. Konflik Dilihat dari Posisi Seseorang dalam Struktur Organisasi
1) Konflik vertikal, yaitu konflik yang terjadi antara karyawan yang memiliki kedudukan yang tidak sama dalam organisasi. Misalnya, antara atasan dan bawahan.
2)
Konflik horizontal, yaitu konflik yang terjadi antara mereka yang
memiliki kedudukan yang sama atau setingkat dalam organisasi. Misalnya,
konflik antar karyawan, atau antar departemen yang setingkat.
3) Konflik
garis-staf, yaitu konflik yang terjadi antara karyawan lini yang
biasanya memegang posisi komando, dengan pejabat staf yang biasanya
berfungsi sebagai penasehat dalam organisasi.
4) Konflik peran, yaitu konflik yang terjadi karena seseorang mengemban lebih dari satu peran yang saling bertentangan.
3. Faktor Penyebab Konflik
a. Perbedaan individu, yang meliputi perbedaan pendirian dan perasaan.
Setiap
manusia adalah individu yang unik. Artinya, setiap orang memiliki
pendirian dan perasaan yang berbeda-beda satu dengan lainnya. Perbedaan
pendirian dan perasaan akan sesuatu hal atau lingkungan yang nyata ini
dapat menjadi faktor penyebab konflik sosial, sebab dalam menjalani
hubungan sosial, seseorang tidak selalu sejalan dengan kelompoknya.
Misalnya, ketika berlangsung pentas musik di lingkungan pemukiman, tentu
perasaan setiap warganya akan berbeda-beda. Ada yang merasa terganggu
karena berisik, tetapi ada pula yang merasa terhibur.
b. Perbedaan latar belakang kebudayaan sehingga membentuk pribadi-pribadi yang beda.
Seseorang
sedikit banyak akan terpengaruh dengan pola-pola pemikiran dan
pendirian kelompoknya. Pemikiran dan pendirian yang berbeda itu pada
akhirnya akan menghasilkan perbedaan individu yang dapat memicu konflik.
c. Perbedaan kepentingan antara individu atau kelompok.
Manusia
memiliki perasaan, pendirian maupun latar belakang kebudayaan yang
berbeda. Oleh sebab itu, dalam waktu yang bersamaan, masing-masing orang
atau kelompok memiliki kepentingan yang berbeda-beda. Kadang-kadang
orang dapat melakukan hal yang sama, tetapi untuk tujuan yang
berbeda-beda.
d. Perubahan-perubahan nilai yang cepat dan mendadak dalam masyarakat.
Perubahan
adalah sesuatu yang lazim dan wajar terjadi, tetapi jika perubahan itu
berlangsung cepat atau bahkan mendadak, perubahan tersebut dapat memicu
terjadinya konflik sosial.
e.
Kebutuhan untuk membagi sumber daya yang terbatas, yaitu kemampuan dari
masing-masing anggota dari sebuah organisasi yang terbatas.
f. Kemenduaan organisasi, yaitu adanya anggota dari sebuah organisasi yang tergabung pada organisasi lain.
g. Perbedaan nilai-nilai dan persepsi, yaitu adanya perbedaan pemikiran/tanggapan dari masing-masing anggota organisasi yang dapat menyebabkan pertentangan.
h.
Gaya-gaya individual, yaitu adanya sikap individualisme dari
masing-masing anggota organisasi,yang seharusnya mementingkan
kepentingan bersama.
i.
Saling ketergantungan kegiatan-kegiatan kerja, yaitu adanya keterpakuan
terhadap rancangan kegiatan,sehingga dalam berjalannya organisasi tidak
ditemui inisiatif kerja dari masing-masing anggota.
4. Akibat Konflik
a. Akibat Negatif
1) Menghambat komunikasi.
2) Mengganggu kohesi (keeratan hubungan).
3) Mengganggu kerjasama/Team Work.
4) Mengganggu proses produksi, bahkan dapat menurunkan produksi.
5) Menumbuhkan ketidakpuasan terhadap pekerjaan.
6)
Individu atau personil mengalami tekanan (stres), mengganggu
kosentrasi, menimbulkan kecemasan, mangkir, menarik diri, frustasi,
apatisme.
b. Akibat Positif
1) Membuat organisasi tetap hidup dan harmonis.
2)
Melakukan adaptasi, sehingga dapat terjadi perubahan dan perbaikan
dalam sistem serta prosedur, mekanisme, program, bahkan tujuan
organisasi.
3) menciptakan prestasi, konflik menjadi pelajaran sehingga dapat menyebabkan prestasi yang lebih baik daripada sebelumnya.
4) Memunculkan keputusan-keputusan yang bersifat inovatif.
5) Memunculkan persepsi yang lebih kritis terhadap perbedaan pendapat.
5. Cara Mengatasi Konflik
Mengatasi
dan menyelesaikan suatu konflik bukanlah suatu yang sederhana.
Cepat-tidaknya suatu konflik dapat diatasi tergantung pada kesediaan dan
keterbukaan pihak-pihak yang bersengketa untuk menyelesaikan konflik,
berat ringannya bobot atau tingkat konflik tersebut serta kemampuan
campur tangan (intervensi) pihak ketiga yang turut berusaha mengatasi
konflik yang muncul.
Berikut adalah cara atau taktik mengatasi konflik, yaitu
Berikut adalah cara atau taktik mengatasi konflik, yaitu
a. Rujuk
Merupakan suatu usaha pendekatan dan hasrat untuk kerja-sama dan menjalani hubungan yang lebih baik, demi kepentingan bersama.
b. Persuasi
Usaha
mengubah po-sisi pihak lain, dengan menunjukkan kerugian yang mungkin
timbul, dengan bukti faktual serta dengan menunjukkan bahwa usul kita
menguntungkan dan konsisten dengan norma dan standar keadilan yang
berlaku.
c. Tawar-Menawar
Suatu
penyelesaian yang dapat diterima kedua pihak, dengan saling
mempertukarkan konsesi yang dapat diterima. Dalam cara ini dapat
digunakan komunikasi tidak langsung, tanpa mengemukakan janji secara
eksplisit.
d. Pemecahan Masalah Terpadu
Usaha
menyelesaikan masalah dengan memadukan kebutuhan kedua pihak. Proses
pertukaran informasi, fakta, perasaan, dan kebutuhan berlangsung secara
terbuka dan jujur. Menimbulkan rasa saling percaya dengan merumuskan
alternatif pemecahan secara bersama de¬ngan keuntungan yang berimbang
bagi kedua pihak.
e. Penarikan Diri
Suatu
penyelesaian masalah, yaitu salah satu atau kedua pihak menarik diri
dari hubungan. Cara ini efektif apabila dalam tugas kedua pihak tidak
perlu berinteraksi dan tidak efektif apabila tugas saling bergantung
satu sama lain.
f. Pemaksaan dan Penekanan
Cara
ini memaksa dan menekan pihak lain agar menyerah, akan lebih efektif
bila salah satu pihak mempunyai wewenang formal atas pihak lain. Apabila
tidak terdapat perbedaan wewenang, dapat dipergunakan ancaman atau
bentuk-bentuk intimidasi lainnya. Cara ini sering kurang efektif karena
salah satu pihak hams mengalah dan menyerah secara terpaksa.
SIMPULAN
Konflik
adalah suatu hubungan yang melibatkan dua pihak atau lebih yang
memiliki atau merasa diri mereka memiliki kepentingan-kepentingan dan
tujuan-tujuan yang bertentangan. Konflik
selalu timbul di tempat kerja, dan itu tidak bisa dihindarkan. Namun
pemimpin harus mengelolanya secara luwes agar irama kerja sehari-hari
tidak terganggu.
Konflik
dalam suatu organisasi dapat timbul dari masalah-maslah, baik masalah
individu maupun masalah organisasi.dan dalam setiap pengambilan
keputusan dari konflik dalam organisasi harus mementingkan kepentingan
bersama,dan menyelesaikan segala konflik.
Dengan
pengembalian yang cukup senang, pimpinan dapat cepat mengenal,
mengidentifikasi dan mengukur besarnya konflik serta akibatnya dengan
sikap positif dan kemampuan kepemimpianannya, seorang pimpinan akan
dapat mengendalikan konflik yang akan selalu ada, dan bila mungkin
menggunakannya untuk keterbukaan organisasi dan anggota organisasi yang
dipimpinnya. Tentu manfaatnya pun dapat dirasakan oleh dirinya sendiri.
DAFTAR PUSTAKA
Anoraga, pandji dan Sri Suyati. 1995. Perilaku Keorganisasian. Jakarta: PT DUNIA PUSTAKA JAYA.
Handoko, T. Hani. 2003. MANAJEMEN. Yogyakarta: BPFE.
Reksohadiprodjo, sukanto dan T. Hani Handoko. 1999. Organisasi perusahaan (Teori, Struktur, dan Perilaku). Yogyakarta: BFPE.
Robbins, Stephen. P.2002. Prinsip-Prinsip Perilaku Organisasi. Jakarta: Erlangga.
Soerjono soekanto.2006.sosiologi suatu pengatar.jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar