Mengapa gejala jiwa berkontribusi pada proses pembelajaran di kelas?
Faktor gejala jiwa bisa mempengaruhi kualitas kemampuan belajar seseorang. Misalnya:
Pengindraan. Penginderaan adalah proses masuknya stimulus ke dalam alat
indra manusia. Setelah stimulus masuk ke alat indra manusia, maka otak
akan menerjemahkan stimulus tersebut. Kemampuan otak untuk menerjemahkan
stimulus seseorang satu sama lain berbeda-beda, tidak semua stimulus
dapat diindra. Begitu pula pelajaran yang disampaikan pengajar tidak
semua bisa ditangkap oleh seseorang, persepsi pun akan berlainan.
Pengindraan sangat berkontribusi dalam proses pembelajaran untuk
menangkap sepenuhnya stimulus yang diberikan oleh pengajar dan
sebaliknya. Maka dari itu, diperlukan ukuran stimulus yang cukup untuk
di indra, alat indra yang sehat, dan adanya perhatian penuh dalam proses
belajar mengajar agar materi apa yang disampaikan oleh pengajar dapat
diindra/ditangkap sepenuhnya oleh seorang mahasiswa. Posisi mahasiswa
yang baik dalam belajar serta suasana kondusif juga mendukung lebih
mudahnya materi terserap.
Persepsi. Persepsi berkontribusi dalam proses pembelajaran, karena dalam
proses ini terjadi proses aktif seseorang dalam memilah,
mengelompokkan, serta memberi makna pada informasi yang di terimanya.
Jika persepsi seorang mahasiswa tentang suatu stimulus/materi dari
pengajar sesuai dengan apa yang dimaksudkan, tentunya hal ini akan
memudahkan proses belajar seseorang kedepannya.
Dalam teori Gestalt ada yang disebut prinsip “Figure and Ground”.
Prinsip ini menggambarkan bahwa manusia, secara sengaja maupun tidak,
memilih dari serangkaian stimulus, mana yang menjadi fokus atau bentuk
utama (figure) dan mana yang menjadi latar (ground).
Memori. Memori sangat penting untuk menyimpan dan mengingat kembali
materi-materi dalam proses pembelajaran. Memori yang semakin baik dan
kinerja optimalnya akan mempermudah proses belajar seseorang. Jika
seseorang kesulitan dalam menyimpan suatu materi yang ia dapatkan dan
kesulitan untuk memunculkan kembali materi dalam ingatanya, tentunya hal
ini akan beresiko terhadap kemampuan belajar dan prestasinya.
Memori adalah kemampuan untuk memasukkan, menyimpan, dan memunculkan
kembali informasi yang kita terima sehingga dapat digunakan dimasa yang
akan datang. Apabila informasi yang telah disimpan tidak dapat dipanggil
kembali atau perlu waktu untuk mengingatnya kembali, berarti terjadi
apa yang dinamakan dengan lupa. Hal inilah yang sering menjadi hambatan
dalam proses belajar
Berpikir. Berpikir adalah gejala jiwa yang sangat penting dalam proses
pembelajaran, karena dalam berpikir terjadi berbagai bentuk gejala jiwa
yang lain seperti penginderaan, persepsi dan memori untuk memecahkan
suatu masalah. Masalah di sini bisa kita analogikan dengan pelajaran
yang disampaikan oleh pendidik. Kemampuan berpikir siswa dengan
mengandalkan kemampuan dalam mengindra, memberikan persepsi pada
stimulus, dan memaksimalkan memori inilah yang juga mempengaruhi
kemampuan belajar. Semakin baik kualitas berpikir seseorang tentunya
juga menghasilkan kualitas penyelesaian masalah yang semakin baik pula.
Untuk memaksimalkan kemampuan belajar hendaknya kita juga mengoptimalkan
proses berfikir. 5. Intelegensi. Setelah kita membahas tentang
berpikir, maka kaitan dengan masalah berpikir adalah inteligensi. Ada
beberapa pendapat tentang pengertian inteligensi, secara umum
inteligensi adalah kesanggupan untuk berpikir. Inteligensi sangat
berhubungan dengan kesanggupan (kemampuan) berpikir seseorang, seseorang
berbuat inteligen kalau dalam situasi yang tertentu dapat berbuat
dengan tepat. Artinya, dalam memecahkan kesulitan-kesulitan dan
soal-soal yang terdapat dalam situasi itu, ia dapat menyesuaikan diri
kepada situasi yang baru.
Kemampuan intelegensi seorang mahasiswa juga berkontribusi dalam proses
pembelajaran, karena dengan kecerdasan intelegen yang baik seorang
mahasiswa tentunya dapat menempatkan dirinya untuk sepenuhnya berpikir
ketika ia ada di dalam kelas beserta pengajar dan tentunya ia akan lebih
siap untuk menerima materi apa yang disampaikan oleh pengajar tersebut.
Emosi dan Motivasi. Emosi adalah tergugahnya perasaan yang disertai
dengan perubahan-perubahan dalam tubuh, emosi yang positif dapat
membantu belajar, tetapi emosi yang buruk dapat menghambat. Contohnya
ketika seseorang merasa senang dengan mata pelajaran tertentu, ia akan
lebih mudah mengingat materi apa yang disampaikan pengajarnya, hal ini
tentunya akan berbeda dengan daya ingat seseorang akan pelajaran yang ia
terima dengan emosi yang berbeda.
Motivasi belajar yang tinggi tercermin dari ketekunan yang tidak mudah
patah untuk mencapai sukses. Begitu pula sukses belajar. Motivasi ini
diperlukan agar menggiatkan aktivitas belajar seseorang. Jadi, emosi dan
motivasi mempengaruhi kemampuan belajar.
Kesimpulan:
Belajar merupakan suatu proses perubahan tingkah laku sebagai hasil
interaksi individu dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan
hidupnya. Setiap orang mempunyai sisi psikologis dimana sisi ini
berdampak pada hal-hal tindakannya. Atau bisa disebut gejala jiwa.
Dalam proses belajar pun gejala jiwa manusia yang mendasar banyak
muncul. Gejala jiwa tersebut akan mempengaruhi berbagai perilaku
manusia, baik perilaku pendidik maupun perilaku peserta didik atau
siswa. Gejala jiwa yang ada pada diri manusia sangat mempengaruhi
perilakunya. Tidak terlepas dalam dunia pendidikan yaitu pada pendidik
maupun peserta didik (dalam tulisan ini hanya membahas peserta didik).
Gejala jiwa misalnya: sensasi, persepsi, memori, berpikir, intelegensi,
emosi dan motivasi mempengaruhi pola perilaku belajar siswa. Hal
tersebut nantinya bisa mempengaruhi kualitas hasil akhir dalam belajar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar