WELCOME TO MY BLOG, DON'T FORGET TO LEAVE A COMMENT _ Selamat datang di blog saya, jangan lupa tinggalkan komentar... THANK YOU :)

Kamis, 21 November 2013

Pantura Jawa, Bromo dan Bali dalam Kajian IPS

Oleh Muhammad Abdul Aziz, dkk
Pendidikan IPS Universitas Negeri Yogyakarta


BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Secara formal praktek kuliah lapangan (KKL) dilaksanakan guna memenuhi kewajiban yang sesuai dengan kurikulum. Latar belakang dari pelaksanaan praktek kuliah lapangan  ini adalah berdasarkan objek material dan objek formal yang akan kita kaji bersama. Secara material pelaksanaan praktek kerja lapangan yang pertama ini digunakan untuk mempelajari beberapa fenomena-fenomena alam dan gejala-gejalanya dari beberapa faktor maupun beberapa disiplin ilmu seperti Geografi, Sejarah, Ekonomi, dan Sosiologi. Oleh sebab itu praktek kerja lapangan ini harus dilaksanakan, karena Pendidikan IPS merupakan ilmu yang multi interdislipiner dari berbagai disiplin ilmu, yang mana ilmu itu mengaitkan antara ilmu satu dengan ilmu yang lainnya yang sesuai dengan keadaan sebenarnya. Kita sebagai calon guru harus dapat mengetahui, bagaimana kehidupan manusia dalam bermasyarakat. Dengan demikian pengalaman kita dalam kuliah kerja lapangan dapat dijadikan sebagai pedoman dalam mengajar maupun hidup dalam bermasyarakat. Sebab semua individu-indivdu tidak dapat hidup dalam keterpencilan selama-lamanya. Manusia membutuhkan satu sama lain untuk bertahan hidup dan untuk hidup dalam bermasyarakat. Ketergantungan ini menghasilkan bentuk kerjasama tertentu yang bersifat tetap dan menghasilkan pola masyarakat tertentu. Oleh karena  itu setiap semester genap diselenggarakan KKL untuk prodi IPS, yang mana pada semester 2 telah dilaksanakan KKL 1 di Dieng  kemudian pada semester 4 ini dilaksanakan KKL 2 di Demak, Bromo, dan Bali pada tanggal 26-31 Maret2011. KKL juga untuk memenuhi aspek-spek yang telah dijelaskan.

B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana kondisi lokasi KKL di Pulau Jawa?
2.      Bagaimana kondisi KKL di Pulau Bali

C.    Tujuan
1.      Untuk mengetahui kondisi lokasi KKL di Pulau Jawa.
2.      Untuk mengetahui kondisi lokasi KKL di Pulau Bali.


BAB II
PEMBAHASAN

I.     PULAU JAWA
  1. RAWA PENING
Bukit Cinta atau Rawa Pening secara umum terketak di Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang. Secara geografis, Rawa Pening ini terletak di empat kecamatan di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Keempat kecamatan tersebut adalah Ambarawa, Bawen, Banyubiru, dan Tuntang. Dari semuanya, titik masuk pengamatan sekaligus sebagai pintu gerbang utama Rawa Pening berada di Banyubiru, Desa Bukit Cinta. Pening disini bermaksa bening, sebening air rawa ini. Rawa Pening ini sendiri adalah sebuah danau yang terletak di cekungan terendah lereng tiga gunung yakni Gunung Ungaran, Gunung Telomoyo, dan Gunung Merbabu. Rawa ini terletak padaketinggian 461 meter dari atas permukaan laut. Ini menjelaskan mengapa suhu udara di sekitar rawa tidak terlalu sejuk. Danau yang tidak terlalu dalam ini menyandang status rawa lantaran tingkat sedimentasinya yang sangat tinggi dan cepat. Tumbuhan eceng gondok hampir menutupi seluruh areal permukaan danau ini.
Tiket masuknya ekonomis dan murah. Dengan harga Rp. 3.000 untuk hari biasa dan Rp. 3.500 untuk hari libur. Sebelum masuk menuju tepi danau, kita akan disuguhkan oleh deretan warung penjual makanan (biasanya nasi goreng dan mie instan) di sebelah kiri. Selain itu,  Di sebelah kanan, terlihat ratusan (mungkin ribuan) eceng gondok yang telah dipotong dan dikeringkan serta dijemur untuk keperluan bahan baku industri kerajinan furnitur. Eceng gondok telah dikenal memiliki kualitas yang baik sebagai bahan baku furnitur. Walau keberadaannya cukup menganggu (terlebih dalam jumlah besar), ternyata tumbuhan ini memiliki nilai ekonomis yang lumayan.
Di pintu masuk menuju tepi danau, ada sebuah patung naga besar beserta badan dan ekor yang melingkar. Mulut sang naga terbuka lebar dan memperlihatkan sebuah ruang yang terletak di dalamnya. Naga ini adalah perlambang dari Baru Klinting, legenda yang berada di Danau Rawa Pening ini. Di dalam mulut naga yang menganga tersebut, terdapat sebuah ruang pamer ikan dan media informasi Rawa Pening, Kabupaten Semarang. Di dalam ruangan berpintu kaca tersebut terdapat sejumlah akuarium yang berisi ikan-ikan. Menuju bagian atas taman. Seusai menaiki beberapa anak tangga, ada sebuah taman. Dan disanalah, terpisah dengan taman, Rawa Pening berada.
Rawa Pening tertutup eceng gondok secara masif. Untungnya, luas tutupan eceng gondok tidak mencapai 100% karena di bagian tengah, masih terlihat wilayah air yang belum tertutup oleh tanaman tersebut. Tutupan eceng gondok yang cukup lebar dan luas berada di tepian Danau Rawa Pening. Danau ini, entah kenapa, memberikan kesan tenang dan lambat. Aktifitas yang paling banyak dilakukan di tempat ini adalah yang berhubungan dengan iklan, misalnya memancing dengan joran sederhana hingga membuat keramba di tengah-tengah danau. Terdapat pula perahu-perahu kayu biasa tanpa mesin. Untuk keperluan mereka sendiri, biasanya mereka mendayung perahu sendiri untuk bepergian ke tengah danau atau sudut lain danau. Untuk keperluan wisatawan, mereka menyediakan perahu motor yang bisa dilepas pasang. Papan tarif tersedia, tertempel di dermaga yang menjorok ke tengah danau. Untuk sewa perahu sekitar 30 menit perjalanan tur danau, biaya yang harus dikeluarkan adalah Rp. 30.000/perahu dengan maksimal 8 orang dalam satu perahu. Selain tur danau, pengunjung juga bisa melakukan labur bunga atau larungan yang masing-masing dihargai Rp. 30.000 dan Rp. 50.000. Kalau tidak berminat melakukan tur danau, anda juga bisa sekedar santai-santai saja di tepian danau. Tidak ada yang akan memaksa anda untuk sewa perahu. Pemandangan Rawa Pening dari pinggir cukup cantik. Cantiknya justru disebabkan oleh hijaunya tanaman eceng gondok yang menutupi sebagian besar areal danau. Di kejauhan, gunung dan pegunungan memberikan siluet berwarna kelabu mengelilingi danau ini.
Banyak orang bilang, saat terbaik untuk berkunjung ke Rawa Pening adalah pagi hari atau sore hari, saat matahari masih di timur atau sudah hampir terbenam. Rawa Pening menjadi habitat banyak jenis burung air, ternyata. Pada pagi maupun sore hari, sejumlah fotografer maupun pengamat burung nampak sibuk di tepi danau, mengamati aneka burung yang berterbangan di penjuru danau. Pada siang hari, keberadaan burung-burung tersebut menurun. Itu sebabnya juga tidak banyak para pengamat burung maupun fotografer yang berkeliaran di tempat ini. Pada siang menjelang sore, pengunjung terbanyak Rawa Pening justru sepasang muda-mudi yang sedang kasmaran. Mereka datang berdua dengan sepeda motor dan duduk berdua-dua di bangku-bangku taman yang banyak tersebar. Untungnya, taman tersebut dirimbunkan oleh pohon pinus dan cemara. Alhasil, taman Bukit Cinta cukup rindang dan nyaman walaupun siang hari sekalipun.
Sebuah makam tanpa identitas berada di tepian taman Bukit Cinta. Makam tersebut terlihat cukup purba karena nisannya berbentuk lingga, khas candi-candi yang ada di Tanah Jawa. Warna hijaunya kontras sekali dengan birunya langit. Dipadu dengan beberapa perahu kayu sederhana, Rawa Pening adalah tempat yang sangat pas untuk mengambil foto.
Menurut cerita  Rawa Pening itu sebuah Legenda. Begini ceritanya : Rawa Pening ada sekitar 1000-2000 tahun yang lalu. Kedekatan masyarakat Rawa Pening dengan rawa memunculkan mitos, bahwa terdapat ular besar yang menempati rawa bernama Baru Klinting. Konon, hiduplah seorang bocah yang karena kesaktiannya di kutuk seorang penyihir jahat. Akibatnya, bocah itu memiliki luka di sekujur tubuh dengan bau yang sangat tajam dan amis. Luka itu tak pernah kering. Jika mulai kering, selalu saja muncul luka-luka baru, disebabkan memar. Baru Klinting berubah menjadi seorang anak kecil yang mempunyai luka disekujur tubuhnya, dan lukanya menimbulkan bau amis. Baru Klinting berjalan-jalan di desa tersebut, dan melihat anak-anak didesa itu sedang bermain. Muncullah keinginan dihatinya untuk bergabung, namun anak-anak tersebut menolak kehadiran Baru Klinting dan memaki-makinya dengan ejekan. Baru Klinting pun pergi. Ditengah jalan, perutnya mulai lapar, dan Baru Klinting mendatangi salah satu rumah dan meminta makan. Saat itu Baru Klinting pun kembali di tolak bahkan di maki-maki. Desa tersebut adalah desa yang makmur, namun penduduk di Desa itu sangatlah angkuh. Sampai suatu hari ada seorang Janda tua (Nyai) yang baik dan mau menampung dan memberi makan Baru Klinting. Setelah selesai makan, Baru Klinting berterimakasih kepada Nyai, sambil berkata, "Nyai, kalau Nyai mendengar suara kentongan, Nyai harus langsung naik ke perahu atau lisung ya?", kemudian Nyai tersebut menjawab "Iya". Ketika Baru Klinting sedang di perjalanan meninggalkan komunitas tersebut, Baru Klinting bertemu dengan anak-anak yang sering menghinanya dan langsung mengusir Baru Klinting dengan kata-kata kasar. Tak terima dengan perlakuan itu, ia pun langsung menancapkan sebatang lidi yang kebetulan ada di sana. Lalu dengan wajah berang ia pun bersumpah, bahwa tak ada seorang pun yang sanggup mengangkat lidi ini, kecuali dirinya. Satu persatu mulai berusaha mencabut lidi yang di tancapkan Baru Klinting, namun anak-anak tidak ada yang bisa mencabutnya. Sampai akhirnya orang-orang dewasa yang berusaha mencabut lidi tersebut. Namun hasilnya tetap tidak bisa! Akhirnya Baru Klinting sendiri yang menarik lidi tersebut, karena hanya dia yang bisa mencabutnya . Saat itupun keluarlah air dari tanah bekas lidi itu menancap, airnya sangat deras keluar dari tanah, dan terjadilah banjir bandang di Desa Rawa Pening dan menewaskan seluruh masyarakat di desa itu, kecuali Nyai. Setelah lidi tersebut lepas, Baru Klinting langsung membunyikan kentongan untuk memperingati Nyai. Akhirnya Nyai yang sedang menumbuk padi segera masuk ke lisung, dan selamatlah dia. Nyai menceritakan kejadian ini kepada penduduk2 desa tetangganya dan Baru Klinting kembali menjadi ular dan menjaga desa yang telah menjadi rawa tersebut.

B.     DEMAK
1.    Fisiografis
Pada abad 13, kawasan Demak, Kudus, Pati, Rembang adalah merupakan kawasan pantai atau pelabuhan yang didukung oleh kawasan pedalaman ( hinterland ) sebagai lahan pertanian dan hutan. Pada abad 16, kapal laut masih dapat melewati antara Pulau Jawa dan Gunung Muria yang waktu itu berupa pulau gunung api (gunung di tengah laut jawa).
Pantai yang sekarang abad 20, sudah bergeser kearah utara sejauh 12,5 km. Penambahan daratan ini berdampak kepada :
a.       Landainya kawasan Demak dan sekitarnya sehingga air tanah dangkal, mudah terkena polutan ( bahan polusi )
b.      Drainase buruk, sehingga air selokan sulit mengalir ke laut dan tempat yang baik untuk habitat nyamuk dan sebagainya sehingga berpotensi untuk berkembangnya sakit malaria.
c.       Air tanah yang buruk untuk diminum maupun pertanian karena dibagian bawah banyak mineral-mineral garam yang diendapkan sewaktu masih merupakan lautan.
d.      Tanahnya berupa endapan-endapan lumpur. Sehingga saat terjadi banjir tanahnya susah untuk padat, ini berdampak pada jalan raya yang selalu mudah rusak karena tidak mampu mendukung kendaraan yang lewat.
e.       Keadaan tanah dan udara yang lembab dan panas, sehingga kurang baik untuk kesehatan.
f.       Kondisi yang landai, mempermudah interaksi sosial antar penduduk.
g.      Merupakan kawasan keagamaan, spiritual dan wisata agama. Hal ini membantu terciptanya lapangan kerja bagi penduduk setempat dalam segala sektor terutama jasa angkutan dan perdagangan serta industri rumah tangga.


Bertambah luasnya daratan dikawasan ini disebabkan oleh 3 hal yaitu :
a.       Sediment Yield
Sistem sungai “JRATUNSELUNA” ( S.Jrakah, S.Tuntang, S.Serang, S.Lusi dan S.Juwana). Sungai-sungai ini berasal/berhulu dari pedalaman ( lereng utara Pegunungan Kendeng ) semakin rusaknya hutan di pedalaman maka semakin banyak lumpur yang dibawa oleh sungai-sungai tadi dan diendapkan di kawasan pantai, maka jadilah kota-kota tersebut diatas.
b.      Pasang Surut
Pada saat pasang air laut naik, sementara di daratan terjadi hujan. Maka air sungai menggenang di kawasan pantai, Kecepatan aliran menurun dan kemampuan membawa lumpur menurun maka terbentuklah daratan yang dipercepat.
c.       Biota Laut
Mangrove terutama Rizopora, akan tumbuh dengan baik pada daerah berlumpur maka secara alami setiap penambahan kawasan berlumpur diikuti oleh berkembangnya hutan mangrove yang berguna untuk menahan erosi laut/gelombang laut ( abrasi ). Hal ini mempercepat penambahan sekaligus merupakan penambahan areal pemukiman dan tambak ( fishpound ).
Kawasan-kawasan seperti diatas merupakan dataran alluvial pantai ( Coastal Alluvial Plain ) yang sekarang diduduki oleh kota-kota Demak, Kudus, Pati, Rembang, Lamongan, Gresik, Pasuruan, Sidoarjo, dan Probolinggo. Secara kronologis proses terbentuknya sama.
Kawasan pantai landai sepanjang pantai utara Pulau Jawa inilah tempat-tempat pendatang singgah dan menanamkan hegemoninya ( menanamkan pengaruh baik dengan jalan damai maupun perang ).
2.    Ekonomi
Dalam potensi daerah setidaknya ada empat sector  yang merupakan potensi daerah Demak yaitu pertanian, perikanan dan kelautan, pariwisata, serta usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Pertanian menjadi sektor yang mesti diprioritaskan mengingat sebagian besar masyarakat masih mengandalkan sumber nafkahnya dari sektor ini. Apalagi Demak menjadi lumbung padi terbesar ketiga di Ja-teng (setelah Cilacap dan Grobogan), serta salah satu sentra penghasil kacang hijau terbesar di Indonesia.

Selain itu, di era sekarang orang mengenal Demak dengan jambunya. Dalam perspektif religi, orang mengenal Demak sebagai Kota Wali, dan dalam perspektif pertanian, daerah ini mempunyai produk khas yang berbeda dari daerah lain, yakni belimbing, jambu delima, dan jambu citra.
Demak juga mempunyai potensi untuk dikembangkan menjadi daerah wisata religi, dengan Masjid Agung Demak dan Makam Kadilangu sebagai simbolnya. Jika banyak pengunjung datang ke Demak, maka akan ada perputaran uang dan pertumbuhan ekonomi, yang berimbas pada kesejahteraan masyarakat.
Tujuan pembangunan suatu daerah pada dasarnya untuk meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan rakyat melalui pembangunan yang serasi antar sektor Sektor pariwisata diyakini merupakan salah satu sektor yang mampu berperan untuk mewujudkan tujuan tersebut. Kabupaten Demak yang mempunyai dua aset sektor pariwisata budaya (religi) yaitu Masjid Agung Demak dan Makan Sunan Kalijaga Kadilangu Demak menjadikan sektor tersebut sebagai salah satu sektor unggulan untuk meningkatkan dan mengembangkan perekonomian daerahnya.
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran pariwisata khususnya wisata budaya dalam mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat lokal di Kabupaten Demak serta faktor-faktor yang mempengaruhinya. Adapun sasaran penelitian ini adalah teridentifikasinya peran sektor pariwisata dalam mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat lokal, teridentifikasinya faktor-faktor yang mempengaruhi peran pariwisata dalam mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat lokal dan terumuskannya arahan pengembangan pariwisata untuk dapat mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat lokal.
Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan melakukan pengumpulan data primer dan sekunder yang meliputi wisatawan, pemilik usaha pelayanan, masyarakat di sekitar lokasi dan instansi pemerintah terkait, sedangkan metode analisa yang dipakai adalah metode analisis tabulasi data dan analisis kualitatif. Kriteria peran yang dikaji meliputi : (1) Kemampuan pariwisata dalam menciptakan efek multiplier dan (2) Kemampuan Jenis Usaha pelayanan. Adapun faktor-faktor yang dikaji adalah : (1) Profil wisatawan dan tingkat pemenuhan kebutuhannya, (2) Kualitas dan sikap masyarakat lokal dan (3) Ketersediaan sarana prasarana pendukung.
Hasil pengkajian terhadap peran pariwisata menunjukkan bahwa bahwa pariwisata mempunyai peranan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat lokal di Kabupaten Demak kalau dari kepemilikan usaha pariwisata dan penyerapan tenaga kerja. Namun secara keseluruhan peran pariwisata tersebut belum cukup berarti kalau dilihat dari besarya pasokan barang non lokal serta tingkat pendapatan pemilik usaha pelayanan yang relatif kecil. Faktor pengaruh yang dominan adalah segmen pasar wisatawan. Dalam upaya mengembangkan potensi wisata selayaknya juga memperhatikan keberadaan pelaku dan pemilik usaha pelayanan khususnya dari masyarakat lokal sehingga usahanya bisa lebih berkembang, selain itu juga tetap menjaga kelangsungan acara-acara budaya yang dapat dijadikan momen oleh masyarakat untuk menangkap peluang usaha.
Masjid Agung Demak itu aset daerah sekaligus peninggalan bersejarah yang dapat dikelola menjadi sumber pendapatan untuk mensejahterakan masyarakat. Karenanya pemerintah daerah harus mengalokasikan anggaran khusus untuk pemeliharaannya. Termasuk di dalamnya untuk penataan Alun-alun Demak, karena menyatu langsung dengan lingkungan masjid sekaligus jantung kota Demak
3.    Sosiologis
Dalam menyebarkan agama Islam di Demak, para wali umumnya menggunakan sarana budaya dan tradisi yang ada, baik dengan wayang, gamelan, maupun seni suara suluk sebagai sarana dakwah. Mereka mampu membawa warisan budaya lokal yang dapat bertahan hingga sekarang, seperti tradisi Garebeg Besar, Kupatan, dan Apitan. Demak juga kaya dengan karya sastra. Potensi budaya ini jika dikembangkan akan menjadi ikon. Proses akulturasi budaya sangat terlihat pada tempat yang saat KKL 2 kemarin telah kami kunjungi, yaitu pada arsitektur masjid Agung Demak.
Konon menurut legenda sebelum membangun Masjid Demak, Sunan Kalijaga berdiri di tengah-tengah lahan tempat masjid akan didirikan sambil merentangkan tangan kemudian tangan kirinya tertuju kearah bumi dan tangan kanannya tertuju ke arah kiblat. Sikap ini dilakukannya dengan maksud bahwa dalam berarsitektur orang harus memperhatikan kaidah–kaidah atau nilai–nilai yang sudah ada di masyarakat dan memikirkan kaidah-kaidah baru yang akan dimasukkan. Kaidah–kaidah inilah harus dipadukan dengan baik dalam karya arsitektur Islam sehingga tidak terjadi benturan budaya.
Pertimbangan memadukan unsur-unsur Budaya lama dengan budaya baru dalam arsitektur Islam, sudah menunjukkan adanya akulturasi dalam proses perwujudan arsitektur Islam, khususnya di Jawa. Apalagi pada awal perkembangan agama Islam di Jawa, dilakukan dengan proses, selektif tanpa kekerasan, sehingga sebagian nilai-nilai lama masih tetap diterima untuk dikembangkan.
Kaidah Islam dalam membuat masjid adalah arah kiblat, tempat Imam (Maihrab), tempat Jemaah, tempat berwudhu adanya pemisahan ruang antara pria dan wanita. Sedangkan adanya bentuk meru, pendopo (Mandapa), dan gerbang merupakan kaidah-kaidah dalam Hindu. Kemudian kesan mengayomi, adanya serambi dan kentongan merupakan kaidah–kaidah asli dari bumi Nusantara. Kaidah–kaidah itu semua mempunyai jiwa dan kesan tersendiri dan tidak bisa diubah.
Tetapi dengan mengubah beberapa unsur berdasarkan kaidah–kaidah Islam dan memadukannya dengan kaidah-kaidah yang sudah ada dan memiliki kesamaan makna, akhirnya dapat dihasilkan suatu karya yang merangkum kaidah–kaidah tersebut . Hal ini yang menyebabkan terwujudnya bentuk baru tanpa menentang kaidah–kaidah yang sudah ada sebelumnya, sehingga rangkuman kaidah–kaidah tersebut dapat berfungsi lebih baik bagi masyarakat yang menganut agama Islam.
Dengan menggunakan pendekatan budaya masyarakat pedesaan dan pesirir menerima Islam dengan mudah. Perkembangan selanjutnya adalah munculnya kebudayaan intelektual pesantren yang menjadi saingan kebudayaan intelektual di lingkungan istana Majapahit. Tradisi pesantren berkembang menjelma menjadi pemerintahan kecil dalam wilayah-wilayah tertentu. Bahkan di antaranya menjelma menjadi kesultanan, yakni kasultanan Demak. Puncaknya adalah kasultanan Demak tumbuh dan menumbangkan kekuasaan Majapahit.
Sampai hari ini masih kita tememukan jejak-jejak kerajaan Demak. Wujud kebudayaan fisik yang masih dapat kita saksikan hingga hari ini adalah Masjid Agung Demak dan makam Kanjeng Sunan Kalijaga di Kadilangu. Demak sebagai salah satu pusat penyebaran agama Islam masih tampak dengan keberadaan pesantren yang tersebar di seluruh penjuru wilayah kabupaten Demak. Jama’ah-jama’ah pengajian juga hampir ada di setiap kampung. Kesenian bernuansa Islam masih sangat kental di wilayah kabupaten Demak, seperti rebana, kentrung, zipin, kaligrafi, seni baca Al-Qur’an dan lain-lain.
Tapi Demak sekarang adalah Demak yang bingung memilih kebudayaannya. Antara budaya pesantren dengan budaya hedonis yang sedang mengejala. Generasinya adalah generasi yang resah antara kukuh dengan peninggalan masa lalu, berdiam diri bersedeku dalam pondok, atau ikut berjirak bersama alunan musik rock di lapangan Tembiring.
Peci-peci itu telah dilepas, digantikan potongan rambut punk, baju koko dan sarung dilepas digantikan celana dan baju junkis. Jilbab pada kaum perempuannya juga mengalami nasib yang tak jauh berbeda. Generasi Demak saat ini adalah generasi yang resah dan gamang. Dulu, tempat ini menjadi salah satu pusat intelektualitas pesantren yang mengancam intelektualitas kejawen dan priyayi Majapahit. Sekarang Intelektualitas pesantren mendapat ancaman.
Hedonisme, dan gaya hidup ‘gaul’ merebut sedikit demi sedikit namun pasti perhatian sebagian warga Demak. Pemindahan panitia penyelengara grebeg besar terakhir ini dari Pemkab menjadi swasta dengan tujuan pemenuhan target pendapatan agar lebih tingg membuktikan hal itui. Bintang tamu yang dihadirkan seperti dangdutan, Dara AFI, Didi Kempot tampak jelas bahwa unsur hiburan dan untung belaka yang ingin dicapai.
Mengapa kesenian Demak asli, seperti kentrung, rebana, zipin, seni baca Al Qur’an, dan lomba kaligrafi tidak di munculkan?Jika masyarakat Demak sudah menganggap kebudayaan asli lebih rendah nilainya di banding budaya baru maka ini adalah awal hancurnya kebudayaan lama. Kalau masyarakat Demak menganggap rebana lebih rendah mutunya dibanding group band, maka tidak lama lagi rebana akan hilang. Jika orang Demak menganggap tari zipin lebih rendah dari tari-tari modern, maka tidak lama lagi zipin juga akan punah. Jadi solusi yang harus ditempuh untuk menaggulangi kepunahan zipin, rebana, koko, peci dan yang lainnya adalah memperbaiki anggapan masyarakatnya.

C.    KUDUS
1.    Menara Kudus
Sebagai salah satu tempat awal penyebaran Islam di Pulau Jawa, Kota Kudus banyak menyimpan peninggalan sejarah Islam. Salah satu yang terpenting adalah Masjid Menara Kudus yang terletak di Desa Kauman, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, Provinsi Jawa Tengah. Masjid tersebut telah menjadi salah satu tempat bersejarah yang penting bagi umat Islam di Jawa.
Masjid yang didirikan pada tahun 956 Hijriah atau 1549 Masehi ini memiliki nama asli Masjid Al-Aqsa. Konon, Ja’far Sodiq atau yang kemudian dikenal sebagai Sunan Kudus pernah membawa kenangan berupa sebuah batu dari Baitul Maqdis di Palestina untuk batu pertama pendirian masjid yang diberi nama masjid Al-Aqsa. Masjid tersebut kemudian lebih populer dengan sebutan masjid Menara Kudus, merujuk pada menara candi di sisi timur bangunan utama. Yang paling monumental dari bangunan masjid ini adalah menara berbentuk candi bercorak Hindu Majapahit, bukan pada ukurannya yang besar saja, tetapi juga keunikan bentuknya yang tak mudah terlupakan. Bentuk ini tidak akan kita temui kemiripannya dengan berbagai menara masjid di seluruh dunia.
Keberadaannya yang tanpa-padanan karena bentuk arsitekturalnya yang sangat khas untuk sebuah menara masjid itulah yang menjadikannya begitu mempesona. Dengan demikian biasdisebut menara masjid ini mendekati kualitas genius locy
2.      Bercorak Candi
Menara Masjid Kudus merupakan bangunan menara masjid paling unik di Kota Kudus karena bercorak Candi Hindu Majapahit. (Fotografer: Indra Yudha). Bangunan menara berketinggian 18 meter dan berukuran sekitar 100 m persegi pada bagian dasar ini secara kuat memperlihatkan sistem, bentuk, dan elemen bangunan Jawa-Hindu. Hal ini bisa dilihat dari kaki dan badan menara yang dibangun dan diukir dengan tradisi Jawa-Hindu, termasuk motifnya. Ciri lainnya bisa dilihat pada penggunaan material batu bata yang dipasang tanpa perekat semen, namun konon dengan digosok-gosok hingga lengket serta secara khusus adanya selasar yang biasa disebut pradaksinapatta pada kaki menara yang sering ditemukan pada bangunan candi.
Teknik konstruksi tradisional Jawa juga dapat dilihat pada bagian kepala menara yang berbentuk suatu bangunan berkonstruksi kayu jati dengan empat soko guru yang menopang dua tumpuk atap tajuk. Sedangkan di bagian puncak atap tajuk terdapat semacam mustoko (kepala) seperti pada puncak atap tumpang bangunan utama masjid-masjid tradisional di Jawa yang jelas merujuk pada elemen arsitektur Jawa-Hindu.
GH Pijper dalam The Minaret in Java (India Antiqua, Leiden, 1947) mengaitkan struktur bangunan Hindu Jawa pada menara tersebut, sebagaimana pernah diungkap sarjana JFG Brumund pada tahun 1868. Dikemukakan pula bahwa menara itu mengingatkan pada menara kul-kul di Bali. Adanya kesamaan dengan menara kul-kul Bali ini kembali ditegaskan AJ Bernet Kempers dalam bukunya Ancient Indonesia Art (1953).
Hampir semua pakar dan peneliti dari dalam negeri juga sepakat menara ini jelas bercorak bangunan candi atau menara kul-kul Bali. Ada yang menghubungkan bentuk menara itu dengan Candi Jago, terutama jika dilihat dari arsitektur dan kesamaan ragam hias tumpalnya seperti yang dilakukan Sutjipto Wijosuparto (1961). Ada pula yang menyamakannya dengan candi di Jawa Timur oleh Soekmono (1973), Candi Singosari oleh Syafwandi (1985), atau kul-kul Bali oleh Parmono Atmadi (1987). Namun, Pijper mengungkapkan menara Masjid Kudus awalnya bukanlah asli milik masjid, melainkan bentuk bangunan candi dari zaman Jawa-Hindu yang digunakan dan disesuaikan kegunaannya sebagai tempat azan.
Lain halnya dengan ahli purbakala NJ Krom yang menyebutkan menara Masjid Kudus bukanlah bangunan Candi Jawa-Hindu. Menurut dia, bangunan itu memang memiliki corak candi, tetapi ia dibangun pada masa Islam dan sengaja diperuntukkan sebagai menara azan. Mungkin saja menara dibangun para tukang dan ahli bangunan Hindu sehingga bentuk bangunannya dipengaruhi secara kuat corak arsitektur Hindu.
Pendapat Krom ini boleh jadi ada benarnya jika diamati detail ornamen bangunan menara yang hampir tidak ditemukan ragam hias berupa makhluk hidup. Artinya boleh jadi bangunan itu sudah disesuaikan dengan agama Islam yang cenderung menghindari adanya penggambaran makhluk hidup. Jika menara itu dibangun jauh sebelum masa Islam/sebelum masjid dibangun, tentu lebih logis jika ragam hias makhluk hidup bisa dengan mudah ditemukan seperti pada gapura Masjid Sendang Duwur di Jawa Timur.
3.      Detail Menara
Permukaan bidang menara yang tampak menjadi seni tersendiri dari penataan susunan material bata ekspos. Usia menara juga merupakan keunikan tersendiri, seperti diungkapkan Pijper bahwa Menara Kudus merupakan menara masjid tertua di Jawa. Meskipun demikian, hingga saat ini belum ada yang dapat memberi keterangan kapan waktu dibangunnya secara jelas. Jika didasarkan inskripsi berbentuk Candrasengkala dalam tulisan Jawa di sebuah balok bagian atap menara yang berbunyi "Gapura rusak ewahing jagad", arkeolog Soetjipto Wirjosuparto membacanya sebagai tahun Jawa 1 (jagad), 6 (ewah), 0 (rusak), 9 (gapura), maka berbunyi 1609 tahun Jawa atau 1685 Masehi.
Wirjosuparto memperkirakan, menara masjid dibangun sebelum tahun 1685 karena keterangan ini menunjukkan rusaknya atap menara yang kemudian diperbaiki dan diperingati dengan inskripsi tersebut. Sementara AJ Bernet Kempers memperkirakan bangunan menara dibangun sekitar awal abad ke-16 tetapi diletakkan dalam tanda kurung yang dibubuhi tanda tanya. Karena tahun itu hanya merupakan perkiraan yang didasarkan atas petunjuk sejarah politik.
Selain menara, masih banyak elemen unik lainnya yang bisa ditemukan pada kompleks masjid dan makam ini. Jika ditelusuri, terdapat banyak elemen bangunan yang berulang di berbagai tempat. Itulah gerbang yang bentuknya juga menunjukkan kaitan sangat kuat dengan seni bangunan zaman pra-Islam. Gerbang-gerbang itu menandai dan memberi batas makna ruang profan dan sakral. Komposisi tata letaknya sungguh memberikan urutan sangat menarik.
Ada dua jenis gapura di kompleks ini, yakni Kori Agung dan Bentar yang keduanya mirip seperti gapura di Bali. Gapura jenis Kori Agung membentuk suatu gunungan pada bagian atasnya, sementara bentar membentuk laiknya gunungan terbelah. Kedua jenis seperti ini juga terdapat di kompleks Masjid Mantingan atau Masjid Ratu Kalinyamat di pesisir utara Jawa Tengah.
Yang luar biasa dari gerbang ini adalah adanya sepasang gerbang purba berbentuk Kori Agung yang justru terdapat di dalam ruang shalat masjid. Konon, itulah sisa gerbang Masjid Kudus yang asli yang disebut "Lawang Kembar".
4.      Gerbang Kori Agung
Bentuk gerbang jelas mengingatkan gerbang-gerbang bangunan Hindu. Perhatikan sekuensialnya yang berkelok karena terdapat aling-aling yang juga biasa terdapat pada kompleks bangunan Hindu. Keunikan lain adalah beduk dan kentongan pada pendopo di bagian kepala menara. Peletakan benda-benda seperti itu merupakan tata letak yang tidak lazim di masjid-masjid Jawa tradisional. Karena alat-alat yang biasa ditabuh sebelum dikumandangkan azan itu hampir selalu diletakkan di pendopo masjid sebelah timur. Wajar jika hal ini memperkuat kaitan dengan menara kul-kul Bali karena pada menara kul-kul Bali biasanya tergantung kentongan di bagian kepala menara tepat di bawah atap.
Satu lagi yang tak kalah menarik adalah tempat wudu kuno dari susunan bata merah, dengan lubang pancuran berbentuk kepala arca berjumlah delapan buah. Jumlah ini konon dikaitkan dengan falsafah Buddha, yaitu Asta Sanghika Marga (delapan jalan utama) yang terdiri dari pengetahuan, keputusan, perbuatan, cara hidup, daya, usaha, meditasi, dan komplementasi yang benar.
5.      Pancuran Wudlu Kuno
Lubang pancuran kuno yang berbentuk kepala arca seperti ini terdapat pada tempat wudlu. Bentuk arcanya seringkali dikaitkan dengan kepala sapi yang diberi nama Kerbau Gumarang, karena binatang sapi dulunya diagungkan oleh orang-orang Hindu di Kudus.Sedangkan bentuk arca seringkali dikaitkan dengan kepala sapi bernama Kerbau Gumarang karena binatang sapi dulunya diagungkan orang Hindu di Kudus. Bahkan hingga sekarang meski mereka telah menjadi Muslim, masih memiliki tradisi menolak penyembelihan sapi yang konon warisan dari sunan kharismatik pencipta gending Mijil dan Maskumambang itu
6.      Keistimewaan
Menara Kudus merupakan simbol akulturasi antara kebudayaan Hindu-Jawa dengan Islam, hal ini dapat dijumpai dari gaya arsitekturnya yang menyerupai candi-candi di Jawa Timur pada era Majapahit (misalnya Candi Jago) dan juga menyerupai Menara Kukul di Bali. Menara ini memiliki ketinggian 17 meter dan luas sekitar 100 meter persegi. Ciri lain yang mudah diidentifikasi pengunjung adalah penggunaan material batu bata yang dipasang tanpa perekat semen sebagai bahan utama bangunan. Konon, dengan dibantu para cantriknya, Sunan Kudus membangun menara ini hanya dengan menggosok-gosokkan batu bata yang satu dengan batu-bata lainnya hingga lengket.  Pada bagian ujung menara yang beratap dua lapis dengan konstruksi kayu jati yang ditopang empat saka guru terdapat semacam mustaka (kubah) mirip atap tumpang pada masjid-masjid tradisional Jawa. Fungsi dari menara itu adalah untuk tempat mengumandangkan azan.Keunikan lain yang bisa dijumpai oleh peziarah adalah pada ruang wudlu yang juga disusun dari bata merah. Pancurannya berbentuk kepala arca berjumlah delapan buah. Hal ini dekat dengan falsafah Buddha, Asta Sanghika Marga (delapan jalan utama) yang merujuk pada: pengetahuan, keputusan, perbuatan, cara hidup, daya, usaha, meditasi, dan keutuhan.Objek wisata ini selalu ramai dikunjungi peziarah dari berbagai daerah di Indonesia, terutama pada momen “Buka Luwur” (penggantian kain kelambu pada makam Sunan Kudus) yang dilaksanakan setiap tanggal 10 Muharam/Asyura. Momen menarik dalam upacara Buka Luwur ini adalah ketika menyaksikan para peziarah berebut nasi bungkus dan kain luwur bekas penutup makam Sunan Kudus yang dipercaya dapat memberikan keberuntungan bagi mereka yang memperolehnya. Selain “Buka Luwur”, kawasan Menara Kudus juga menjadi pusat keramaian pada saat “Dandhangan”, yaitu tradisi menyambut kedatangan bulan Ramadhan, yang mencapai puncaknya pada satu hari sebelum datangnya bulan Ramadhan. 
7.      Sosial Ekonomi dan Budaya Masyarakat
Pada awalnya ketika Sunan Kudus mulai membuka kota, mata pencaharian penduduk yang tidak lain adalah pengikutnya adalah adalah berdagang. Perdagangan diantara masyarakat telah berkembang mengingat jarak yang tidak terlalu jauh dari Demak maupun Jepara sebagai Bandar perdagangan yang cukup ramai pada saat itu (Wikantari, 1995). Pada masa kekuasaan Mataram, Daerah sekitar Kudus berkembang menjadi daerah pemasok beras utama bagi Mataram. Pada massa ini perdagangan palawija meningkat pesat yang memberikan banyak keuntungan bagi para pedagang Kudus, khususnya di Kudus Kulon. Selama masa penjajahan Belanda pada masyarakat Kota Kudus timbul pengelompokan masyarakat dari strata sosialnya, yakni: masyarakat golongan priyayi yang merupakan pegawai negeri yang bekerja untuk pemerintah belanda serta para intelektual, mereka banyak bertempat tinggal di daerah kota baru; golongan pedagang santri yang mengambil sikap berseberangan dengan pemerintah belanda, mereka tetap menghuni kota lama serta wong cilik, yakni petani, buruh, pelayan. Mereka tinggal di daerah-daerah pertanian seputar kota. Menjelang akhir abad 19 kemakmuran masyarakat kembali meningkat karena melimpahnya hasil pertanian. Hasil panen ini menjadi mata dagangan penting bagi pedagang-pedagang Kudus. Daerah jelajah pedagang-pedagang Kudus juga semakin luas walaupun masih terbatas di dalam pulau Jawa (Castles, 1982). Pada paruh pertama abad 20 Kudus menjadi terkenal karena pabrik rokoknya. Industri yang semula merupakan kerajinan rumah tangga berkembang menjadi industry besar. Perkembangan ini menarik kalangan masyarakat Cina untuk turut terjun dalam industry rokok. Persaingan ini memicu pertentangan antar etnis yang puncaknya terjadi pada tahun 1918 dengan pecahnya geger pecinan. Setelah peristiwa tersebut perkembangan rokok kretek milik pribumi mengalami kemunduran dan banyak yang kemudian bangkrut atau tutup, industri rokok ini kemudian bayak dipegang oleh etnis cina yang mengembangkannya menjadi industri raksasa. Sampai saat ini industri serta perdagangan masyarakat Kudus Kulon tidak pernah lagi dapat mengulangi masa kejayaan tersebut. Kota Kudus Identik dengan kota santri atau kota Islam, sejak berdirinya yang merupakan bagian dari rangkaian penyebaran agama Islam di Jawa, Kudus berkembang menjadi pusat pengetahuan dan pengembangan agama Islam yang termashur di Jawa, bahkan nusantara. Pada kenyatannya predikat tersebut hanya berlaku pada daerah kota lama atau Kudus Kulon, sementara pada daerahdaerah lain lebih merupakan daerah sekuler (Bonnef, 1983). Masyarakat Kudus kulon dikenal sebagai masyarakat muslim yang fanatik. Mereka berusaha menjalankan semua perintah agamanya dan menjauhi larangan-larangan agama. Dalam melaksanakan agamanya masyarakat banyak meneladani ajaran Sunan Kudus. Agak berbeda dengan ajaran Sunan Kali Jaga yang berkembang di Demak serta daerah pedalaman yang banyak mengakomodir ajaran Hindu maupun kepercayaan animisme dan dinamisme, ajaran Sunan Kudus relative lebih puritan dengan mengharamkan kegiatan-kegiatan yang berbau mistik dan sirik. Di kalangan masyarakat Kudus Kulon tidak pernah sama sekali menyelenggarakan kegiatan pagelaran wayang kulit yang dianggap banyak memasukkan unsur Hindu serta kepercayaan. Sementara wayang kulit merupakan alat ampuh bagi Sunan Kalijaga untuk menyebarkan ajaran Islam. Sampai saat ini dalam hal keagamaan masyarakat Kudus kulon merasa sebagai penganut Islam fanatik sementara penganut Islam yang lain disebut sebagai Islam abangan.
Salah satu orientasi masyarakat Kudus adalah menunaikan ibadah haji dan kalau mampu menjadi pemuka agama (kiai) serta mendirikan pesantren sekembalinya dari tanah suci. Gelar haji adalah gelar terhormat yang menjadi idaman setiap muslim di Kudus lebih lagi kiai haji. Haji menjadi puncak perwujudan pelaksanaan rukun Islam sedangkan Kiai melambangkan tingginya imu yang dimiliki manusia untuk diamalkan pada sesamanya. Dalam masyarakat Kudus terdapat ungkapan Jigang yang merupakan kependekan dari ngaji (mengaji) dan dagang (berdagang). Ngaji adalah membaca, mempelajari dan menelaah kitab suci Al Quran, merupakan amal yang mengarah pada kemuliaan hidup di Akhirat (Ukhrowi). Ngaji juga menyiratkan keutamaan seorang Muslim dalam mempelajari ilmu pengetahuan. Dagang merupakan amalan yang mengarah pada kemuliaan hidup di dunia, berkaitan dengan hubungan antara manusia dengan sesamanya. Bagi umat Islam harus ada keseimbangan antara tujuan akhirat dan tujuan di dunia. Pengalaman sejarah memberikan anggapan pada masyarakat Kudus bahwa perilaku, kekayaan dan keyakinannya yang kuat pada agama Islam membedakan mereka dari masyarakat luar. Sikap ini telah menjadikan mereka militan, tertutup dan kurang menyukai menjadi pegawai pemerintah. Mereka menjadi pedagang yang merdeka, hidup dengan hemat, cerdik dan cekatan menjadikan mereka berpeluang besar untuk menjadi orang-orang kaya. Ketertutupan mereka terhadap masyarakat luar juga didasari pada kecurigaan mereka bahwa orang luar akan mengincar harta benda mereka. Diantara masyarakat ada kebiasaan untuk mengawinkan anak mereka dengan orang-orang dilingkungan mereka sendiri, antara lain supaya harta mereka tidak mengalir keluar.

D.    MASYARAKAT TENGGER (BROMO)
1.    Fisiografis
Luas daerah Tengger kurang lebih 40km dan utara ke selatan; 20-30 km dan timur ke barat, di atas ketinggian antara 1000m - 3675 m. Daerah Tengger teletak pada bagian dari empat kabupaten, yaitu : Probolinggo, Pasuruan, Malang dan Lumajang. Tipe permukaan tanahnya bergunung-gunung dengan tebing-tebing yang curam. Kaldera Tengger adalah lautan pasir yang terluas, terletak pada ketinggian 2300 m, dengan panjang 5-10 km. Kawah Gunung Bromo, dengan ketinggian 2392 m, masih aktif mengeluarkan asap yang menggelembung ke angkasa. Di sebelah selatan menjulang puncak Gunung Semeru dengan ketinggian 3676 m.
Secara geografis bromo dibagi kedalam tiga wilayah kabupaten yaitu Malang, Probolinggo dan Lumajang. Bromo sendiri adalah satu dari tiga gunung yang terbentuk dari kaldera Tengger Kuno, dua buah gunung lainnya dalah Gunung Batok di utara dan Gunung Kursi di sisi Selatan. Selain kedua gunung tersebut Bromo pun bersanding mesra dengan Gunung Semeru yang legendaris dan merupakan gunung tertinggi di Pulau Jawa. Semua panorama indah ini menjadikan bromo laksana sepetak tanah surga yang diturunkan ke bumi. Maka tak usah heran jika gunung yang memikiki ketinggian 2.392 meter diatas permukaan laut ini menjadi salah satu tujuan utama turis lokal maupun internasional.


2.      Ekonomi
Potensi masyarakat tengger di bidang ekonomi memiliki beberapa sector salah satunya ada dari sector pariwisatanya, yang meliputi : Cemorolawang. Salah satu pintu masuk menuju taman nasional yang banyak dikunjungi untuk melihat dari kejauhan hamparan laut pasir dan kawah Bromo, dan berkemah. Laut Pasir Tengger dan Gunung Bromo. Berkuda dan mendaki gunung Bromo melalui tangga dan melihat matahari terbit. Pananjakan. Berkuda inilah yang juga menjadi sumber penghasilan masyarakat tengger dan system penyewaannya pun juga sudah diatur agar tidak saling berebut. Begitu pula penyewaan mobil jeep. Melihat panorama alam gunung Bromo, gunung Batok dan gunung Semeru. Ranu Pani, Ranu Regulo, Ranu Kumbolo dan Puncak Gunung Semeru. Danau-danau yang sangat dingin dan selalu berkabut (± 2.200 m. dpl) sering digunakan sebagai tempat transit pendaki Gunung Semeru (3.676 m. dpl). Ranu Darungan. Berkemah, pengamatan satwa/ tumbuhan dan panorama alam yang menawan. Penduduk masyarakat Tengger yang pada umumnya bertempat tinggal berkelompok di bukit-bukit mendekati lahan pertanian. Mereka hidup dari bercocok tanam di ladang, dengan pengairan tadah hujan. Pada mulanya mereka menanam jagung sebagai makanan pokok, akan tetapi saat ini sudah berubah. Pada musim hujan mereka menanam sayuran seperti kentang, kubis, bawang, dan wortel sebagai tanaman perdagangan. Pada penghujung akhir musim hujan mereka menanam jagung sebagai cadangan makanan pokok dan dari hasil pertanian itulah yang menjadi salah satu hasil ekonomi di bromo atau masyarakat tengger.
3. Sosiologi
a. Unsur-Unsur Kebudayaan Bromo
1) Bahasa
Bahasa yang berkembang di masyarakat suku Tengger adalah bahasa Jawa Tengger yaitu bahasa Jawi kuno yang diyakini sebagai dialek asli orang-orang Majapahit. Bahasa yang digunakan dalam kitab-kitab mantra pun menggunakan tulisan Jawa Kawi. Suku Tengger merupakan salah satu sub kelompok orang Jawa yang mengembangkan variasai budaya yang khas. Kekhasan ini bisa dilihat dari bahasanya, dimana mereka menggunakan bahasa Jawa dialek tengger, tanpa tingkatan bahasa sebagaimana yang ada pada tingkatan bahasa dalam bahasa Jawa pada umumnya.

2) Pengetahuan
Pendidikan pada masyarakat Tengger sudah mulai terlihat dan maju dengan dibangunnya sekolah-sekolah, baik tingkat dasar maupun menengah disekitar kawasan Tengger. Sumber pengetahuan lain adalah mengenai penggunaan mantra-mantra tertentu oleh masyarakat Tengger.
3) Teknologi
Dalam kehidupan suku Tengger, sudah mengalami teknologi komunikasi yang dibawa oleh wisatawan-wisatawan domestik maupun mancanegara sehingga cenderung menimbulkan perubahan kebudayaan. Suku Tengger tidak seperti suku-suku lain karena masyarakat Tengger tidak memiliki istana, pustaka, maupun kekayaan seni budaya tradisional. Tetapi suku Tengger sendiri juga memiliki beberapa obyek penting yaitu lonceng perungggu dan sebuah padasan di lereng bagian utara Tengger yang telah menjadi puing.
4) Religi
Mayoritas masyarakat Tengger memeluk agama Hindu, namun agama Hindu yang dianut berbeda dengan agama Hindu di Bali, yaitu Hindu Dharma. Hindu yang berkembang di masyarakat Tengger adalah Hindu Mahayana. Selain agama Hindu, agama laiin yang dipeluk adalah agama Islam, Protestan, Kristen, dll. Berdasarkan ajaran agama Hindu yang dianut, setiap tahun mereka melakukan upacara Kasono. Selain Kasodo, upacara lain yaitu upacara Karo, Kapat, Kapitu, Kawulo, Kasanga. Sesaji dan mantra amat kental pengaruhnya dalam masyarakat suku Tengger. Masyarakat Tengger percaya bahwa mantra-mantra yang mereka pergunakan adalah mantra-mantra putih bukan mantra hitam yang sifatnya merugikan.
5) Organisasi Sosial dan Perkawinan
Sebelum ada Undang-Undang perkawinan banyak anak-anak suku Tengger yang kawin dalam usia belia, misalnya pada usia 10-14 tahun. Namun, pada masa sekarang hal tersebut sudah banyak berkurang dan pola perkawinannya endogami. Adat perkawinan yang diterapkan oleh siuku Tengger tidak berbeda jauh dengan adat perkawinan orang Jawa hanya saja yang bertindak sebagai penghulu dan wali keluarga adalah dukun Pandita. Adat menetap setelah menikah adalah neolokal, yaitu pasangan suami-istri bertempat tinggal di lingkungan yang baru. Untuk sementara pasangan pengantin berdiam terlebih dahulu dilingkungan kerabat istri.
Umumnya pemuda Tengger mencari jodoh atau istri sendiri. Hari perkawinan tidak lepas dari perhitungan weton (hari kelahiran) calon mempelai. Jumlah neptu kelahiran mempelai bila dibagi tiga tidak boleh habis dan yang terbaik bila sisa dua. Dalam lamaran tidak ada barang peningset seperti masyarakat Jawa, sebab hal itu merupakan pinjaman atau hutang. Biasanya  keluarga laki-laki hanya membawa beras dan bahan-bahan mentah lainnya ke rumah calon besan sebelum hari perkawinan.
6) Sistem Kekerabatan
Seperti orang Jawa lainnya, orang Tengger menarik garis keturunan berdasarkan prinsip bilateral yaitu garis keturunan pihak ayah dan ibu. Kelompok kekerabatan yang terkecil adalah keluarga inti yang terdiri dari suami, istri, dan anak-anak.
7) Sistem Kemasyarakatan
Masyarakat suku Tengger terdiri atas kelompok-kelompok desa yang masing-masing kelompok tersebut dipimpin oleh tetua. Dan seluruh perkampungan ini dipimpin oleh seorang kepala adat. Masyarakat suku Tengger amat percaya dan menghormati dukun di wilayah mereka dibandingkan pejabat administratif karena dukun sangat berpengaruh dalam kehidupan masyarakat Tengger. Masyarakat Tengger mengangkat masyarakat lain dari luar masyarakat Tengger sebagai warga kehormatan dan tidak semuanya bisa menjadi warga kehormatan di masyarakat Tengger. Masyarakat muslim Tengger biasanya tinggal di desa-desa yang agak bawah sedangkan Hindu Tengger tinggal didesa-desa yang ada di atasnya.
8) Mata Pencaharian
Pada masa kini masyarakat Tengger umumnya hidup sebagai petani di ladang. Prinsip mereka adalah tidak mau menjual tanah (ladang) mereka pada orang lain. Macam hasil pertaniannya adalah kentang, kubis, wortel, tembakau, dan jagung. Jagung adalah makanan pokok suku Tengger. Selain bertani, adas sebagian masyarakat Tengger yang berprofesi menjadi pemandu wisatawan di Bromo. Salah satu cara yang digunakan adalah dengan menawarkan kuda yang mereka miliki untuk disewakan kepada wisatawan.


9) Kesenian
Tarian khas suku Tengger adalah tari sodoran yang ditampilkan pada perayaan Karo dan Kasodo. Dari segi kebudayaan, masyarakat Tengger banyak terpengaruh dengan budaya pertanian dan pegunungan yang kental meskipun sebagian besar budaya mereka serupa dengan masyarakat Jawa umumnya, namun ada pantangan untuk memainkan wayang kulit.
b.      Nilai-Nilai Budaya
Orang Tengger sangat dihormati oleh masyarakat Tengger karena mereka selalu hidup rukun, sederahana, dan jujur serta cinta damai. Orang Tenggr suka bekerja keras, ramah, dan takut berbuat jahat seperti mencuri karena mereka dibayangi adanya hukum karma apabila mencuri barang orang lain maka akan datang balasan yaitu hartanya akan hilang lebih banyak lagi. Orang Tengger dangat menghormati Dukun dan Tetua adat mereka.
c.       Aspek Pembangunan Suku Tengger
Aspek pembangunan yang terlihat adalah pada sektor pariwisata misalnya dengan pembangunan-pembanguna akses-akses menuju gunung Bromo agar lebih mudah dijangkau oleh wisatawan baik local maupun wisatawan luar negeri. Desa Tosari merupakan salah satu pintu gerbang daerah Tengger, desa ini memanjang dari utara sampai selatan. Di tengah desa itu terdapat pasar dan tempat-tempat ibadah seperti masjid bagi umat Islam dan pura bagi umat Hindu. Selain itu terdapat pula kantor kelurahan, kantor kecamatan, dan koramil, kantor PKK, sekolah dasar, madrasah, taman-kanak-kanak, pos kesehatan, dan taman gizi serta puskesmas. Jadi desa-desa yang ada di wilayah Tengger sudah cukup maju karena sudah banyak terjadi pembangunan di desa-desanya.
d.      Tingkat Kriminalitas
Penduduk  Tengger mempunyai prinsip hidup yang berupa norma-norma sosial yaitu Malima Walima. Walaupun pada perkembangannya akhir-akhir ini kedua prinsip tersebut agak luntur. Dalam menjalankan hidup dan untuk mencapai kesempurnaan hidupnya, bagi penduduk desa tengger harus dan wajib menjahui apa yang dinamakan Malima itu Malima? Malima adalah sebuah ungkapan dari kata-kata yang disingkat yaitu:
1)   Ma yang pertama mempunyai makna  Maling  (mencuri), pendududuk pantang untuk melakukan hal mencuri, mengambil sesuatu yang bukan menjadi hak miliknya. Hal ini dapat dilihat  dari data tingkat kriminalitas di wilayah Tengger,angka kriminalitas pencurian sangatlah rendah sekali.
2)   Ma yang kedua adalah Main ( Judi ), bukan berarti penduduk desa suku tengger   tidak mengenal permainan judi, baik dengan kartu remi maupun kartu domino ataupun jenis permainan judi yang lain, yang menggunakan alat seperti cap jie kie, dadu. Akan tetapi kalaupun ada mereka  hanya melakukannya untuk  sekedar hiburan apabila ada kegiatan siskamling di pos-pos ronda atau untuk hiburan pada saat ada kegiatan hajatan.
3)   Ma yang ketiga mempunyai arti Madat ( minum Candu ) atau yang sekarang di kenal dengan Narkoba, yang biasanya menyerang kalangan generasi muda.sampai hari ini  Bumi Tengger masih steril dari hal-hal yang berbau Narkoba.
4)   Ma keempat adalah Mabuk ( minum-minuman beralkohol ). Jarang ditemui juga di dalam wilayah tengger penduduk sudah sangat patuh terhadap adat yang berlaku.
5)   Ma kelima  Madon ( bermain perempuan / selingkuh ). Ini juga tidak ditemui mereka tahu apa akibatnya melanggar norma-norma yang berlaku ditengger sehingga tidak ada seorang laki-laki berselingkuh di daerah tengger tersebut.

Malima ini wajib dan harga mati bagi penduduk suku Tengger  untuk menjauhi dan sebagai penyeimbangnya wajib juga memperjuangkan Walima.Yaitu:
1)      Wa yang pertama mempunyai makna  Waras  (sehat jasmani).Dengan menghindari atau menjauhi Malima maka masyarakat akan mempunyai jiwa dan jasmani yang sehat sehingga mampu bekerja sebagai rasa tanggung jawab terhadap keluarga dan lingkungan sosialnya.
2)      Wa yang kedua mempunyai makna  Wareg  (cukup pangan). Dengan mempunyai jiwa dan badan yang sehat dan rajin  bekerja keras maka hidupnya akan serba kecukupan tidak kurang satu apapun.
3)      Wa yang ketiga mempunyai makna  Wastra  (cukup sandang).dengan hidup yang serba kecukupan maka Wong Tengger  juga mampu melengkapi kebutuhan hidupnya yang berupa sandang.
4)      Wa  yang  keempat  mempunyai  makna  Wasis(cukup ilmu / pengetahuan). walaupun hidup di daerah pegunungan dan jauh dari pusat perkotaan, Wong Tengger tetap membuka diri kepada siapa saja, termasuk juga dengan dunia informasi.
5)      Wa yang kelima mempunyai makna  Wisma  (cukup papan / rumah). Setiap orang tua masing-masing akan berjuang sekuat tenaga untuk mempersiapkan rumah bagi anak-anaknya yang telah menikah / berumah tangga. Di Tengger setiap anak yang telah berumah tangga  harus berpisah dan harus mandiri membangun keluarganya.biasanya mereka telah diberi bagian tanah ladang sebagai bekalnya.

Kedua prinsip tersebut, merupakan pedoman bagi suku tengger dalam kapasitasnya sebagai pribadi-pribadi untuk menjalankan hidup di bumi Tengger. Dan penduduk suku tengger dalam kapasitasnya sebagai makluk sosial  juga diikat oleh norma-norma sosial yang lain,yaitu yang disebut Panca Setia.
Panca Setya adalah Lima (panca) petunjuk kesetiaan.yang terdiri dari:
1)      Setya Budaya : penduduk  suku Tengger harus taat dan wajib menghormati Adat, Tradis dan Budaya Tengger, dalam bahasa Tengger disebut Ajeg Tengger.
2)      Setya Wacana : penduduk suku tengger harus berkata / berucap sesuai dengan perbuatannya.
3)      Setya Semaya : penduduk suku tengger harus dan wajib menepati janji
4)      Setya Laksana : Apabila menjalankan tugas,penduduk suku Tengger harus berani bertanggung jawab.
5)      Setya Mitra  : penduduk suku Tengger harus selalu Tepa Slira ( toleransi) dengan sesama dan selalu membangun kesetiakawanan serta peka terhadap social kemasyarakan.

E. LAPINDO
1.    Sejarah
Tragedi ‘Lumpur Lapindo’ dimulai pada tanggal 27 Mei 2006.Banjir Lumpur Panas Sidoarjo atau Lumpur Lapindo atau Lumpur Sidoarjo (Lusi) , adalah peristiwa menyemburnya lumpur panas di lokasi pengeboran Lapindo Brantas Inc di Dusun Balongnongo DesaRenokenongo, Kecamatan PorongKabupaten SidoarjoJawa Timur, sejak tanggal 29 Mei 2006. Semburan lumpur panas selama beberapa bulan ini menyebabkan tergenangnya kawasan permukiman, pertanian, dan perindustrian di tiga kecamatan di sekitarnya. Hal ini wajar mengingat volume lumpur diperkirakan sekitar 5.000 hingga 50 ribu meter kubik perhari (setara dengan muatan penuh 690 truk peti kemas berukuran besar). Akibatnya, semburan lumpur ini membawa dampak yang luar biasa bagi masyarakat sekitar maupun bagi aktivitas perekonomian di Jawa Timur.

2.      Fisiografis
Lokasi semburan lumpur ini berada di Porong, yakni kecamatan di bagian selatan Kabupaten Sidoarjo, sekitar 12 km sebelah selatan kota Sidoarjo. Kecamatan ini berbatasan denganKecamatan Gempol (Kabupaten Pasuruan) di sebelah selatan. Lokasi pusat semburan hanya berjarak 150 meter dari sumur Banjar Panji-1 (BJP-1), yang merupakan sumur eksplorasi gas milik Lapindo Brantas Inc sebagai operator blok Brantas. Oleh karena itu, hingga saat ini, semburan lumpur panas tersebut diduga diakibatkan aktivitas pengeboran yang dilakukan Lapindo Brantas di sumur tersebut. Pihak Lapindo Brantas sendiri punya dua teori soal asal semburan. Pertama, semburan lumpur berhubungan dengan kesalahan prosedur dalam kegiatan pengeboran. Kedua, semburan lumpur kebetulan terjadi bersamaan dengan pengeboran akibat sesuatu yang belum diketahui. Namun bahan tulisan lebih banyak yang condong kejadian itu adalah akibat pemboran. Lokasi semburan lumpur tersebut merupakan kawasan pemukiman dan di sekitarnya merupakan salah satu kawasan industri utama di Jawa Timur. Tak jauh dari lokasi semburan terdapatjalan tol Surabaya-Gempol, jalan raya Surabaya-Malang dan Surabaya-Pasuruan-Banyuwangi (jalur pantura timur), serta jalur kereta api lintas timur Surabaya-Malang dan Surabaya-Banyuwangi,Indonesia
3.      Penyebab
Setidaknya ada 3 aspek yang menyebabkan terjadinya semburan lumpur panas tersebut:
Pertama, adalah aspek teknis. Pada awal tragedi, Lapindo bersembunyi di balik gempa tektonik Yogyakarta yang terjadi pada hari yang sama. Hal ini didukung pendapat yang menyatakan bahwa pemicu semburan lumpur (liquefaction) adalah gempa (sudden cyclic shock) Yogya yang mengakibatkan kerusakan sedimen. Namun, hal itu dibantah oleh para ahli, bahwa gempa di Yogyakarta yang terjadi karena pergeseran Sesar Opak tidak berhubungan dengan Surabaya. Argumen liquefaction lemah karena biasanya terjadi pada lapisan dangkal, yakni pada sedimen yang ada pasir-lempung, bukan pada kedalaman 2.000-6.000 kaki. Lagipula, dengan merujuk gempa di California (1989) yang berkekuatan 6.9 Mw, dengan radius terjauh likuifaksi terjadi pada jarak 110 km dari episenter gempa, maka karena gempa Yogya lebih kecil yaitu 6.3 Mw seharusnya radius terjauh likuifaksi kurang dari 110 Km. Akhirnya, kesalahan prosedural yang mengemuka, seperti dugaan lubang galian belum sempat disumbat dengan cairan beton sebagai sampul. Hal itu diakui bahwa semburan gas Lapindo disebabkan pecahnya formasi sumur pengeboran. Sesuai dengan desain awalnya, Lapindo harus sudah memasang casing 30 inchi pada kedalaman 150 kaki, casing 20 inchi pada 1195 kaki, casing (liner) 16 inchi pada 2385 kaki dan casing 13-3/8 inchi pada 3580 kaki. Ketika Lapindo mengebor lapisan bumi dari kedalaman 3580 kaki sampai ke 9297 kaki, mereka belum memasang casing 9-5/8 inci. Akhirnya, sumur menembus satu zona bertekanan tinggi yang menyebabkan kick, yaitu masuknya fluida formasi tersebut ke dalam sumur. Sesuai dengan prosedur standar, operasi pemboran dihentikan, perangkap Blow Out Preventer (BOP) di rig segera ditutup & segera dipompakan lumpur pemboran berdensitas berat ke dalam sumur dengan tujuan mematikan kick. Namun, dari informasi di lapangan, BOP telah pecah sebelum terjadi semburan lumpur. Jika hal itu benar maka telah terjadi kesalahan teknis dalam pengeboran yang berarti pula telah terjadi kesalahan pada prosedur operasional standar.
Kedua, aspek ekonomis. Lapindo Brantas Inc. adalah salah satu perusahaan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) yang ditunjuk BP-MIGAS untuk melakukan proses pengeboran minyak dan gas bumi. Saat ini Lapindo memiliki 50% participating interest di wilayah Blok Brantas, Jawa Timur. Dalam kasus semburan lumpur panas ini, Lapindo diduga “sengaja menghemat” biaya operasional dengan tidak memasang casing. Jika dilihat dari perspektif ekonomi, keputusan pemasangan casing berdampak pada besarnya biaya yang dikeluarkan Lapindo. Medco, sebagai salah satu pemegang saham wilayah Blok Brantas, dalam surat bernomor MGT-088/JKT/06, telah memperingatkan Lapindo untuk memasang casing (selubung bor) sesuai dengan standar operasional pengeboran minyak dan gas. Namun, entah mengapa Lapindo sengaja tidak memasang casing, sehingga pada saat terjadi underground blow out, lumpur yang ada di perut bumi menyembur keluar tanpa kendali.
Ketiga, aspek politis. Sebagai legalitas usaha (eksplorasi atau eksploitasi), Lapindo telah mengantongi izin usaha kontrak bagi hasil/production sharing contract (PSC) dari Pemerintah sebagai otoritas penguasa kedaulatan atas sumberdaya alam.
4.      Dampak
Semburan lumpur ini membawa dampak yang luar biasa bagi masyarakat sekitar maupun bagi aktivitas perekonomian di Jawa Timur. Sampai Mei 2009, PT Lapindo, melalui PT Minarak Lapindo Jaya telah mengeluarkan uang baik untuk mengganti tanah masyarakat maupun membuat tanggul sebesar Rp. 6 Triliun. Dampak yang luar biasa bagi masyarakat sekitar maupun bagi aktivitas perekonomian di Jawa Timur: genangan hingga setinggi 6 meter pada pemukiman; total warga yang dievakuasi lebih dari 8.200 jiwa; rumah/tempat tinggal yang rusak sebanyak 1.683 unit; areal pertanian dan perkebunan rusak hingga lebih dari 200 ha; lebih dari 15 pabrik yang tergenang menghentikan aktivitas produksi dan merumahkan lebih dari 1.873 orang; tidak berfungsinya sarana pendidikan; kerusakan lingkungan wilayah yang tergenangi; rusaknya sarana dan prasarana infrastruktur (jaringan listrik dan telepon); terhambatnya ruas jalan tol Malang-Surabaya, ditutupnya ruas jalan tol Surabaya-Gempol hingga waktu yang tidak ditentukan, dan mengakibatkan kemacetan di jalur-jalur alternatif, yaitu melalui Sidoarjo-Mojosari-Porong dan jalur Waru-tol-Porong. Penutupan ruas jalan tol ini juga menyebabkan terganggunya jalur transportasi Surabaya-Malang dan Surabaya-Banyuwangi serta kota-kota lain di bagian timur pulau Jawa. Ini berakibat pula terhadap aktivitas produksi di kawasan Ngoro (Mojokerto) dan Pasuruan yang selama ini merupakan salah satu kawasan industri utama di Jawa Timur.
Lumpur juga berbahaya bagi kesehatan masyarakat. Kandungan logam berat (Hg), misalnya, mencapai 2,565 mg/liter Hg, padahal baku mutunya hanya 0,002 mg/liter Hg. Hal ini menyebabkan infeksi saluran pernapasan, iritasi kulit dan kanker. Kandungan fenol bisa menyebabkan sel darah merah pecah (hemolisis), jantung berdebar (cardiac aritmia), dan gangguan ginjal. Selain perusakan lingkungan dan gangguan kesehatan, dampak sosial banjir lumpur tidak bisa dipandang remeh. Setelah lebih dari 100 hari tidak menunjukkan perbaikan kondisi, baik menyangkut kepedulian pemerintah, terganggunya pendidikan dan sumber penghasilan, ketidakpastian penyelesaian, dan tekanan psikis yang bertubi-tubi, krisis sosial mulai mengemuka. Perpecahan warga mulai muncul menyangkut biaya ganti rugi, teori konspirasi penyuapan oleh Lapindo, rebutan truk pembawa tanah urugan hingga penolakan menyangkut lokasi pembuangan lumpur setelah skenario penanganan teknis kebocoran 1 (menggunakan snubbing unit) dan 2 (pembuatan relief well) mengalami kegagalan. Akhirnya, yang muncul adalah konflik horisontal.
5.      Penanggulangan
Sejumlah upaya telah dilakukan untuk menanggulangi luapan lumpur, diantaranya dengan membuat tanggul untuk membendung area genangan lumpur. Namun demikian, lumpur terus menyembur setiap harinya, sehingga sewaktu-waktu tanggul dapat jebol, yang mengancam tergenanginya lumpur pada permukiman di dekat tanggul. Jika dalam tiga bulan bencana tidak tertangani, adalah membuat waduk dengan beton pada lahan seluas 342 hektar, dengan mengungsikan 12.000 warga. Kementerian Lingkungan Hidup mengatakan, untuk menampung lumpur sampai Desember 2006, mereka menyiapkan 150 hektare waduk baru. Juga ada cadangan 342 hektare lagi yang sanggup memenuhi kebutuhan hingga Juni 2007. Akhir Oktober, diperkirakan volume lumpur sudah mencapai 7 juta m3.Namun rencana itu batal tanpa sebab yang jelas.
Pada 9 September 2006, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menandatangani surat keputusan pembentukan Tim Nasional Penanggulangan Semburan Lumpur di Sidoarjo, yaitu Keppres Nomor 13 Tahun 2006. Dalam Keppres itu disebutkan, tim dibentuk untuk menyelamatkan penduduk di sekitar lokasi bencana, menjaga infrastruktur dasar, dan menyelesaikan masalah semburan lumpur dengan risiko lingkungan paling kecil. Rapat Kabinet pada 27 September 2006 akhirnya memutuskan untuk membuang lumpur panas Sidoardjo langsung ke Kali Porong. Keputusan itu dilakukan karena terjadinya peningkatan volume semburan lumpur dari 50,000 meter kubik per hari menjadi 126,000 meter kubik per hari, untuk memberikan tambahan waktu untuk mengupayakan penghentian semburan lumpur tersebut dan sekaligus mempersiapkan alternatif penanganan yang lain, seperti pembentukan lahan basah (rawa) baru di kawasan pantai Kabupaten Sidoardjo.
Badan Meteorologi dan Geofisika meramal musim hujan bakal datang dua bulanan lagi. Jika perkira-an itu tepat, waduk terancam kelebihan daya tampung. Lumpur pun meluap ke segala arah, mengotori sekitarnya. Institut Teknologi 10 Nopember Surabaya (ITS) memperkirakan, musim hujan bisa membuat tanggul jebol, waduk-waduk lumpur meluber, jalan tol terendam, dan lumpur diperkirakan mulai melibas rel kereta. Ini adalah bahaya yang bakal terjadi dalam hitungan jangka pendek. Sudah ada tiga tim ahli yang dibentuk untuk memadamkan lumpur berikut menanggulangi dampaknya. Mereka bekerja secara paralel. Tiap tim terdiri dari perwakilan Lapindo, pemerintah, dan sejumlah ahli dari beberapa universitas terkemuka. Di antaranya, para pakar dari ITS, Institut Teknologi Bandung, danUniversitas Gadjah Mada. Tim Satu, yang menangani penanggulangan lumpur, berkutat dengan skenario pemadaman. Tujuan jangka pendeknya adalah memadamkan lumpur dan mencari penyelesaian cepat untuk jutaan kubik lumpur yang telah terhampar di atas tanah.
           
F. JEMBATAN SURAMADU
1. Sejarah
Proyek jembatan Suramadu ini digagas pertama tahun 1960an oleh Ir. Sedyatmo (alm) yang tadinya direncanakan untuk membangun jembatan yang menghubungkan Pulau Jawa dan Pulau Sumatera. Gasasan ini mendapat respon yang positif oleh Presiden Suharto (alm), dimana pada awal juni tahun 1986 Presiden Soeharto menunjuk Menteri Negara Riset dan Teknologi/ Kepala Badan Penerapan dan Pengkajian Teknologi (BPPT) BJ Habibie. Kajian awal kemungkinan hubungan langsung antarpulau Sumatera-Jawa-Bali pun dilakukan dan proyek kajian ini diberi nama Tri Nusa Bima Sakti yang bekerja sama dengan Swasta Jepang. Untuk mempromosikan dan mensosilisasikan Proyek Tri Nusa Bimasakti, maka BPPT dan JIF menyelengarakan Seminar di Jakarta tanggal 21-24 September 1986 dengan mengambil thema seminar “"Japan-Indonesia Seminar on Large Scale Bridges and Under Sea Tunnel". Seminar tersebut kemudian dilanjutkan dengan serangkaian studi pendahuluan hingga tahun 1989. Karena studi tersebut mencakup hubungan tiga pulau atau lebih, nama proyek disempurnakan menjadi "Proyek Tri Nusa Bima Sakti dan Penyeberangan Utama". Dari kajian-kajian yang dilakukan, yang dianggap layak untuk segera diimplementasikan adalah hubungan langsung Jawa-Madura/ Bali. Jembatan Suramadu dimulai pembangunannya pada tanggal 20 Agustus 2003, secara resmi dicanangkan pembangunannya oleh Presiden RI saat itu yaitu : Megawati Soekarnoputri.  Menurut rencana pada bulan Juni 2009 Jembatan ini akan diresmikan.

2. Fisiografis
Jembatan Nasional Suramadu adalah jembatan yang melintasiSelat Madura, menghubungkan Pulau Jawa (di Surabaya) dan Pulau Madura (di Bangkalan, tepatnya timur Kamal), Indonesia. Dengan panjang 5.438 m, jembatan ini merupakan jembatan terpanjang di Indonesia saat ini. Jembatan terpanjang di Asia Tenggara ialah Bang Na Expressway di Thailand (54 km). Jembatan Suramadu terdiri dari tiga bagian yaitu jalan layang (causeway), jembatan penghubung (approach bridge), dan jembatan utama (main bridge). Dari total panjang jembatan sejauh 5.438 m terdiri dari Causeway sisi Surabaya 1.458 m, Causeway sisi Madura 1.818 m. Bentang tengah panjang keseluruhan mencapai 2.162 m terdiri dari dua Approach Bridgemasing-masing 672 m dan Main Bridge sepanjang 818 m. Panjang jalan pendekat di sisi Surabaya mencapai 4,35 km dan di sisi Madura 11,50 km. Jembatan Suramadu  nantinya akan  menyediakan akses khusus sepeda motor. Letaknya di sisi kanan dan kiri jembatan.
Jembatan ini diresmikan awal pembangunannya oleh PresidenMegawati Soekarnoputri pada 20 Agustus 2003 dan diresmikan pembukaannya oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 10 Juni 2009. Pembangunan jembatan ini ditujukan untuk mempercepat pembangunan di Pulau Madura, meliputi bidang infrastruktur dan ekonomi di Madura, yang relatif tertinggal dibandingkan kawasan lain di Jawa Timur. Perkiraan biaya pembangunan jembatan ini adalah 4,5triliun rupiah. Pembuatan jembatan ini dilakukan dari tiga sisi, baik sisi Bangkalan (Madura) maupun sisi Surabaya. Sementara itu, secara bersamaan juga dilakukan pembangunan bentang tengah yang terdiri dari main bridge dan approach bridge.
3.      Manfaat
Dalam review studi kelayakan Jembatan Surabaya-Madura tahun 2002, disebutkan ada beberapa pertimbangan mengenai dampak dan manfaat dari keberadaan Jembatan Suramadu. Di antaranya adalah:

a.    Manfaat Langsung (Primary Benefit)

Manfaat langsung dari Jembatan Suramadu adalah meningkatnya kelancaran arus lalu lintas atau angkutan barang dan orang. Dengan semakin lancarnya arus lalu lintas berarti menghemat waktu dan biaya. Manfaat selanjutnya adalah merangsang tumbuhnya aktivitas perekonomian. Manfaat langsung lainnya yang dapat diperhitungkan adalah nilai penerimaan dari tarif tol yang diberlakukan. Transportasi barang dan orang yang semakin meningkat, akan meningkatkan penerimaan dari tarif tol.

b.      Manfaat Tidak Langsung (Secondary Benefit)

Manfaat tidak langsung atau manfaat sekunder adalah multiplier effect dari Jembatan Suramadu. Ini merupakan dinamika yang timbul dan merupakan pengaruh sekunder (secondary effect), antara lain:

1)        Meningkatnya jumlah penduduk akan merangsang naiknya permintaan barang dan jasa. Selanjutnya akan merangsang meningkatnya kegiatan perekonomian, berkembangnya usaha di sektor pertanian, industri, perdagangan, jasa dan meningkatnya arus barang masuk ke Pulau Madura.
2)        Meningkatnya kebutuhan untuk kawasan pemukiman dan infrastruktur
3)        Meningkatkan PDRB dan kesejahteraan masyarakat.
Di Madura, umumnya kegiatan ekonomi masih bertumpu pada sektor pertanian primer (tanaman pangan, peternakan, perikanan, perkebunan dan kehutanan). Artinya pertanian atau sektor tradisional menjadi sektor andalan yang nampak dari perolehan PDRB terbesar dibandingkan sektor lain. Sektor lainnya adalah pertambangan dan penggalian, industri pengolahan, listrik, gas, air bersih, bangunan, perdagangan, hotel, restoran, angkutan, pos, komunikasi, keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan.








4.      Dampak
Dampak dari jembatan Suramadu (tahun 2006-2035) dapat dijelaskan sebagai berikut:

a.       Jembatan Suramadu dan Pertumbuhan PDRB

Pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto yang terjadi pada 4 (empat) kabupaten di wilayah Madura dapat dijelaskan: Dari data-data pada tabel Dampak Jembatan Suramadu terhadap Pertumbuhan PDRB di 4 Kabupaten di Madura, dapat dijelaskan bahwa Kabupaten Bangkalan nilai pertumbuhan PDRB-nya paling besar di antara kabupatenkabupaten di Madura. Hal tersebut terjadi karena Bangkalan merupakan daerah yang paling menikmati keberadaan jembatan Suramadu. Apabila dilihat dari pertumbuhan PDRB dapat disimpulkan bahwa makin dekat dititik/ letak jembatan Suramadu akan semakin menunjukkan perubahan yang cepat akibat meningkatnya aktivitas ekonomi. Peningkatan PDRB Kabupaten Bangkalan yang besar menunjukkan bahwa dampak jembatan Suramadu akan dapat mengembangkan system perekonomian yang ada, baik yang sudah berkembang maupun yang potensial untuk dikembangkan.

b.      Jembatan Suramadu dan Pertumbuhan Penduduk
Semakin lancarnya transportasi akan menimbulkan dampak pergerakan orang maupun barang. Sebelum dibangunnya Jembatan Suramadu, secara berturut-turut kabupaten yang terbanyak penduduknya adalah Sumenep, Bangkalan, Sampang, dan Pamekasan. Ternyata Kabupaten Bangkalan merupakan kabupaten yang menerima kelimpahan penduduk paling tinggi dibanding 3 kabupaten lainnya. Pada tahun 2035 atau setelah 30 tahun dibangunnya Jembatan Suramadu, maka jumlah penduduk di Kabupaten Bangkalan berjumlah 2,79 juta jiwa atau hampir dua kali lipat (98,98%) dibanding pertumbuhannya tanpa jembatan (1,40 juta jiwa). Dalam keadaan tersebut, tingkat pertumbuhan rata-rata per tahun berkisar antara 2,02% - 3,16%.
Di Kabupaten Pamekasan, Sumenep, dan Sampang, tingkat pertumbuhan rata-rata per tahun secara berturut-turut masing-masing berkisar antara 0,71%-0,51% atau dengan pertumbuhan yang cenderung menurun, 0,66%-1,45% dan 0,44%-0,50%. Jika jumlah penduduk dibandingkan dengan dan tanpa Jembatan Suramadu maka jumlah penduduk rata-rata per tahun di Bangkalan akan bertambah sebanyak 59,30%, Pamekasan (23,42%), Sumenep (18,65%), dan Sampang (12,62%).

c.       Jembatan Suramadu dan Pertumbuhan Income per Kapita

Semakin lancarnya transportasi ternyata akan meningkatkan kegiatan ekonomi yang selanjutnya akan meningkatkan pertumbuhan. Income per kapita merupakan salah satu indikator untuk mengukur tingkat kesejahteraan masyarakat. Sebelum dibangunnya Jembatan Suramadu, secara berturut-turut kabupaten yang tertinggi income per kapitanya adalah Kabupaten Bangkalan, Sumenep, Sampang, dan Pamekasan Jika income per kapita dibandingkan dalam keadaan dengan dan tanpa Jembatan Suramadu, maka income per kapita rata-rata per tahun di Bangkalan adalah akan bertambah sebanyak 93,63%, Pamekasan (48.68%). Sampang (42,57%) dan Sumenep (20,03%). Sesudah dibangunnya Jembatan Suramadu, secara berturut-turut kabupaten yang tertinggi income per kapitanya adalah Kabupaten Bangkalan, Sumenep, Pamekasan, dan Sampang. Tampaknya respon ekonomi Bangkalan tetap lebih kuat dibanding tiga kabupaten lainnya.

d.      Jembatan Suramadu dan Pertumbuhan Kawasan Permukimam

Semakin lancarnya transportasi juga menimbulkan dampak pada pertumbuhan kawasan pemukiman. Sebelum dibangunnya income per kapita. Jembatan Suramadu, secara berturut-turut kabupaten yang terluas kawasan pemukimannya adalah Kabupaten Sumenep, Bangkalan, Sampang, dan Pamekasan. Setelah dibangunnya Jembatan Suramadu ternyata Kabupaten Sumenep merupakan kabupaten yang memiliki kawasan pemukiman terluas dibanding 3 kabupaten lainnya. Akan tetapi kalau melihat perbandingannya terhadap luas areal lahan yang tersedia, Kabupaten Bangkalan yang mengalami pertumbuhan kawasan pemukiman lebih pesat dibandingkan dengan 3 kabupaten lainnya.








II.      PULAU BALI
1.    Fisiografis Bali
Pada tahun 1981 Kemerling dan tahun 1928 Stelinmendeskripsikan bahwa di bagian utara pulau Bali diduduki oleh caldera komplek Vulkan Batur atau Molengraf. Seperti halnya Lombok, wilayah Bali dibagi menjadi 2 yaitu: Bali Utara dan Selatan.
a.    Pulau Bali Bagian Selatan
Berupa semenanjung yang terhubung dengan daratan oleh sebuah alluvial isthmus di Pulau Nusa Penida di bagian timurnya yang terdiri dari batuan Limestone ( Gamping ) berumur Neogen atau mungkin Neogen tua seperti yang dijumpai di Blambangan. Batuan di bagian selatan P. Bali mencerminkan kesamaan dengan yang terdapat di pegunungan selatan Jawa.
b. Pulau Bali Bagian Utara
1) Bagian barat
Pada bagian ini diduduki oleh vulkan muda dan merupakan bagian tertua yang tersingkap pada arah timur-barat rangkaian pegunungan yaitu pada ketinggian 1000-1400 m dpal.
2) Bagian tengah
Pada bagian ini terdapat sejumlah komplek kerucut vulkan muda dengan arah sumbu SW-NE yang dibedakan sebagai berikut:
a)      Puncak Tabanan di ujung selatan ( 2.276 m ) dan
b)      Berikutnya adalah puncak Sengajang 2.023 m, puncak Pohen 2.069 m dan Lesong 1860 m.
c)      Terakhir yang menutupi bagian ini adalah sebuah caldera besar yaitu caldera Bratan yang berbentuk oval dan kurang lebih sema besarnya dengan caldera Batur. Di sini dijumpai sebuah calderaEscarpment escarpment dengan ketinggian kecil di dalamnya yaitu D. Tamblingan, D. Bulan dan D. Bratan dengan ketinggian 1.231 m dpal.
3)   Bagian timur
Pada bagian ini terutama diduduki oleh komplek G. Batur yang terdiri dari G. Abang 2152 m dan G. Agung ( merupakan puncak tertinggi di P. Bali, 3142m dpal ). Titik-titik erupsinya mengarah NW-SE . Kemudian di P. Bali dapat dilihat ada duadiagonal fissures volcanic berbeda yaitu:
a)    Fisserue Vulcanic dengan arah SW-NE di bagian tengah dan
b)   Fisserue Vulcanic dengan NW-SE di bagian timur
2.    Kemampuan Ekonomi
Struktur perekonomian Bali sangat spesifik dan mempunyai karateristik tersendiri dibandingkan dengan propinsi lainnya di Indonesia. Spesifik perekonomian Bali itu dibangun dengan mengandalkan industri pariwisata sebagai leading sector, telah mampu mendorong terjadinya suatu perubahan struktur. Bila dilihat dari segi pendapatan, maka peran sektor tersier dan sekunder dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan, seperti pada tahun 2000 sektor tersier 69,71% dan sekunder 10,31. Begitu juga pada awal 2007, sektor tersier menjadi 63,03% dan sekunder sebesar 14,81%. Perubahan struktur ekonomi Bali tidak saja dilihat dari segi pendapatan saja, namun juga dari kesempatan kerja. Presentase pekerja di Bali turun setiap tahunnya sebesar 43,12% di sektor pertanian,yang mengalami fluktuasi pertumbuhan penyerapan tenaga kerja dari 2,6% menjadi 1,3%.
Membaiknya pertumbuhan ekonomi Bali menjadi salah satu indikator semakin meningkatkan kesejahteraan masyarakat Pulau Dewata. Struktur ekonomi Bali masih didominasi sektor tersier sebesar 65,58 persen, menyusul sektor primer 18,86 persen dan sektor sekunder 15,56 persen. Sektor pertanian memberikan andil sebesar 18,21 persen, pertambangan dan penggalian 0,65 persen, sektor industri pengolahan 9,16 persen, serta listrik, gas dan air bersih dua persen. Sektor bangunan menyumbang sekitar 4,4 persen, perdagangan, hotel dan restoran 30 persen, angkutan dan komunikasi 13,76 persen, sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan 7,11 persen dan sektor jasa-jasa lainnya 14,72 persen.
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Bali atas dasar harga berlaku mencapai Rp57,579 miliar selama 2009, meningkat dari tahun sebelumnya yang hanya Rp49,922 triliun. PDRB perkapita mengalami peningkatan dari Rp14,2 juta pada tahun 2008 menjadi Rp16,21 juta pada akhir 2009.
3.      Potensi Sosial Budaya
Provinsi Bali memiliki keunikan dan kekhasan tersendiri. Dalam tata pemerintahannya terkenal dengan pemerintahan dinas dan adat. Keberadaan lembaga adat diatur dengan Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2003 tentang Desa Pakraman. Jumlah desa Pakraman pada 2005 sebanyak 1.432 buah, terdiri dari 3.945 buah Banjar Adat. Disamping itu terdapat pula 276 situs bersejarah yang masih terpelihara dengan baik. Jumlah kelompok (sekaha) seni tari di Bali mencapai 3.738 buah, seni musik/kerawitan 7.944 buah dan kelompok pesantian 1.765 buah.
Kehidupan sosial budaya masyarakat Bali dilandasi filsafah Tri Hita karana, artinya Tiga Penyebab Kesejahteraan yang perlu diseimbangkan dan diharmosniskan yaitu hubungan manusia dengan Tuhan (Parhyangan), hubungan manusia dengan manusia (Pawongan) dan manusia dengan lingkungan (Palemahan). Perilaku kehidupan masyarakatnya dilandasi oleh falsafah Karmaphala, yaitu keyakinan akan adanya hukum sebab sebab-akibat antara perbuatan dengan hasil perbuatan. Sebagian besar kehidupan masyarakatnya diwarnai dengan berbagai upacara agama/adat, sehingga kehidupan spiritual mereka tidak dapat dilepaskan dari berbagai upacara ritual. Karena itu setiap saat di beberapa tempat di Bali terlihat sajian-sajian upacara. Upacara tersebut ada yang berkala, insidentil dan setiap hari, dan dikelompokan menjadi lima jenis yang disebut Panca Yadnya, meliputi Dewa Yadnya yaitu upacara yang berhubungan dengan pemujaan kepada Tuhan Yang Maha Esa/Ida Sang Hyang Widi Wasa, Rsi Yadnya yaitu upacara yang berkaitan dengan para pemuka agama (Pendeta, Pemangku dan lain-lainnya), Pitra Yadnya yaitu upacara yang berkaitan dengan roh leluhur (Upacara Ngaben, Memukur), Manusa Yadnya yaitu upacara yang berkaitan dengan manusia (Upacara Penyambutan Kelahiran, Tiga Bulanan, Otonan, Potong Gigi dan Perkawinan) dan Buta Yadnya yaitu upacara yang berkaitan dengan upaya menjaga keseimbangan alam (Upacara Mecaru, Mulang Pekelem).
Salah satu kearifan lokal yang lain adalah keberadaan Lembaga Subak sebagai lembaga yang mengatur tentang sistem pengairan tradisional Bali yang bersifat sosio-religius. Lembaga ini terdiri dari Subak yang mengelola pertanian lahan basah (sawah) dan Subak Abian yang mengelola pertanian lahan kering (tegalan). Pada tahun ini terdapat 1.312 subak.
Hasil Budaya Masyarakat Bali
a.    Musik
Musik tradisional Bali memiliki kesamaan dengan musik tradisional di banyak daerah lainnya di Indonesia, misalnya dalam penggunaan gamelan dan berbagai alat musik tabuh lainnya. Meskipun demikian, terdapat kekhasan dalam teknik memainkan dan gubahannya, misalnya dalam bentuk kecak, yaitu sebentuk nyanyian yang konon menirukan suara kera. Demikian pula beragam gamelan yang dimainkan pun memiliki keunikan, misalnya gamelan jegog, gamelan gong gede, gamelan gambang, gamelan selunding dan gamelan Semar Pegulingan. Ada pula musik Angklung dimainkan untuk upacara ngaben serta musik Bebonangan dimainkan dalam berbagai upacara lainnya.
Terdapat bentuk modern dari musik tradisional Bali, misalnya Gamelan Gong Kebyar yang merupakan musik tarian yang dikembangkan pada masa penjajahan Belanda serta Joged Bumbung yang mulai populer di Bali sejak era tahun 1950-an. Umumnya musik Bali merupakan kombinasi dari berbagai alat musik perkusi metal (metalofon), gong dan perkusi kayu (xilofon). Karena hubungan sosial, politik dan budaya, musik tradisional Bali atau permainan gamelan gaya Bali memberikan pengaruh atau saling mempengaruhi daerah budaya di sekitarnya, misalnya pada musik tradisional masyarakat Banyuwangi serta musik tradisional masyarakat Lombok.
b.    Tari
Seni tari Bali pada umumnya dapat dikatagorikan menjadi tiga kelompok, yaitu wali atau seni tari pertunjukan sakral, bebali atau seni tari pertunjukan untuk upacara dan juga untuk pengunjung dan balih-balihan atau seni tari untuk hiburan pengunjung.
Pakar seni tari Bali I Made Bandem pada awal tahun 1980-an pernah menggolongkan tari-tarian Bali tersebut; antara lain yang tergolong ke dalam wali misalnya Berutuk, Sang Hyang Dedari, Rejang dan Baris Gede, bebali antara lain ialah Gambuh, Topeng Pajegan dan Wayang Wong, sedangkan balih-balihan antara lain ialah Legong, Parwa, Arja, Prembon dan Joged serta berbagai koreografi tari modern lainnya.
Salah satu tarian yang sangat populer bagi para wisatawan ialah Tari Kecak. Sekitar tahun 1930-an, Wayan Limbak bekerja sama dengan pelukis Jerman Walter Spies menciptakan tari ini berdasarkan tradisi Sanghyang dan bagian-bagian kisah Ramayana. Wayan Limbak memopulerkan tari ini saat berkeliling dunia bersama rombongan penari Bali-nya.
Contoh tarian lainnya yaitu:  Tarian wali, Sang Hyang Dedari, Sang Hyang Jaran, Tari Rejang, Tari Baris, Tari Janger, Tarian bebali, Tari Topeng, Gambuh, Tarian balih-balihan, Tari Legong, Arja, Joged Bumbung, Drama Gong, Barong, Tari Pendet, Tari Kecak, Calon Arang
c.    Pakaian daerah
Pakaian daerah Bali sesungguhnya sangat bervariasi, meskipun secara selintas kelihatannya sama. Masing-masing daerah di Bali mempunyai ciri khas simbolik dan ornamen, berdasarkan kegiatan/upacara, jenis kelamin dan umur penggunanya. Status sosial dan ekonomi seseorang dapat diketahui berdasarkan corak busana dan ornamen perhiasan yang dipakainya.
1)   Pria
Busana tradisional pria umumnya terdiri dari: Udeng (ikat kepala), Kain kampuh, Umpa, (selendang pengikat), Kain wastra (kemben), Sabuk, Keris, Beragam ornamen perhiasan, Sering pula dikenakan baju kemeja, jas dan alas kaki sebagai pelengkap.
2)      Wanita
Busana tradisional wanita umumnya terdiri dari:Gelung (sanggul), Sesenteng (kemben songket), Kain wastra, Sabuk prada (stagen), membelit pinggul dan dada, Selendang songket bahu ke bawah, Kain tapih atau sinjang, di sebelah dalam, Beragam ornamen perhiasan. Sering pula dikenakan kebaya, kain penutup dada, dan alas kaki sebagai pelengkap.
d.      Makanan
Makanan utamaAyam betutu, Babi guling, Bandot, Be Kokak Mekuah, Be Pasih mesambel matah, Bebek betutu, Berengkes, Grangasem Jejeruk, Jukut Urab, Komoh, Lawar, Nasi Bubuh, Nasi Tepeng, Penyon, Sate Kablet    Sate Lilit, Sate pentul, Sate penyu, Sate Tusuk, Timbungan, Tum, Urutan Tabanan, dll.
e.    Rumah Adat
Rumah Bali yang sesuai dengan aturan Asta Kosala Kosali (bagian Weda yang mengatur tata letak ruangan dan bangunan, layaknya Feng Shui dalam Budaya China). Menurut filosofi masyarakat Bali, kedinamisan dalam hidup akan tercapai apabila terwujudnya hubungan yang harmonis antara aspek pawongan, palemahan dan parahyangan. Untuk itu pembangunan sebuah rumah harus meliputi aspek-aspek tersebut atau yang biasa disebut Tri Hita Karana. Pawongan merupakan para penghuni rumah. Palemahan berarti harus ada hubungan yang baik antara penghuni rumah dan lingkungannya.
Pada umumnya bangunan atau arsitektur tradisional daerah Bali selalu dipenuhi hiasan, berupa ukiran, peralatan serta pemberian warna. Ragam hias tersebut mengandung arti tertentu sebagai ungkapan keindahan simbol-simbol dan penyampaian komunikasi. Bentuk-bentuk ragam hias dari jenis fauna juga berfungsi sebagai simbol-simbol ritual yang ditampilkan dalam patung.

4.      Potensi Keamanan
Sistem Keamanan Bali yang berstandar Internasional adalah Kebutuhan yang mengedepankan sinergi dari seluruh kekuatan dan potensi keamanan dan pengamanan yang ada yakni sinergi antara Aparatur Pemerintah Daerah, POLDA, KODAM, Kejaksaan, Desa Pakraman/Pecalang, Perusahaan Security , Sekolah , Perguruan Tinggi ikut terlibat di dalamnya. dan lain-lain.
Aksi riil dari Sistem Keamanan Bali yang berstandar Internasional dirancang meliputi 3 (tiga) aksi pokok yakni :
a.       Aspek Preemtive atau penangkalan yg memiliki tujuan untuk menghilangkan niat seseorang atau sekelompok orang melakukan kejahatan dengan meningkatkan daya tangkal masyarakat umum maupun aparat keamanan dengan aksi “sense of security”.
b.      Aspek Preventive atau pencegahan memiliki tujuan untuk menghilangkan kesempatan seseorang atau sekelompok orang melakukan pelanggaran dan kejahatan dengan meningkatkan kewaspadaan, kesiapsiagaan dan pemberdayaan potensi keamanan masyarakat sejak awal.
c.       Aspek Represive and Law Enforcement atau penindakan dan penegakan hukum memiliki tujuan untuk menghentikan dan mencegah meluasnya tindak kejahatan.
Aksi ini diharapkan juga bisa mengungkap kasus yang terjadi melalui kecepatan tanggap daruratnya (quick response on emergency), lalu pencarian dan penyelamatan korban (search and rescue), serta tindakan penyelidikan dan penyidikan secara ilmiah (scientific crime investigation). Berbagai kegiatan menonjol dalam aspek ini adalah dalam rangka penindakan dan penegakan hukum. Masyarakat diharapkan dapat maksimal berbuat dengan sikap dan tindakan yang cepat melapor kepada Polri yang terdekat setelah mengetahui terjadinya tindakan yang mengganggu keamanan.
Masyarakat juga bisa memberi pertolongan dini pada korban yang luka ringan, memberikan informasi efektif pada Polri tentang terjadinya ancaman dan gangguan, atau peristiwa tindak pidana di tempat kejadian perkara, serta bersedia sebagai saksi tentang apa yang dia ketahui, didengar, dilihat dan dialami. Masyarakat pun harus bisa menjaga keutuhan tempat kejadian perkara ataupun bila dalam hal tersangka tertangkap tangan, tidak main hakim sendiri, namun diserahkan kepada Polri atau tidak mempersulit jalannya penyidikan dan penyelidikan terhadap suatu kasus perkara yang sedang ditangani aparat Polri.
5.      Potensi Demokrasi
Penduduk Bali kira-kira sejumlah 4 juta jiwa, dengan mayoritas 92,3% menganut agama Hindu. Agama lainnya adalah Buddha, Islam, Protestan dan Katolik.
Selain dari sektor pariwisata, penduduk Bali juga hidup dari pertanian dan perikanan. Sebagian juga memilih menjadi seniman. Bahasa yang digunakan di Bali adalah Bahasa Indonesia, Bali dan Inggris khususnya bagi yang bekerja di sektor pariwisata.
Bahasa Bali dan Bahasa Indonesia adalah bahasa yang paling luas pemakaiannya di Bali dan sebagaimana penduduk Indonesia lainnya, sebagian besar masyarakat Bali adalah bilingual atau bahkan trilingual. Meskipun terdapat beberapa dialek dalam bahasa Bali, umumnya masyarakat Bali menggunakan sebentuk bahasa Bali pergaulan sebagai pilihan dalam berkomunikasi. Secara tradisi, penggunaan berbagai dialek bahasa Bali ditentukan berdasarkan sistem catur warna dalam agama Hindu Dharma dan keanggotan klan (istilah Bali: soroh, gotra); meskipun pelaksanaan tradisi tersebut cenderung berkurang.
Bahasa Inggris adalah bahasa ketiga (dan bahasa asing utama) bagi banyak masyarakat Bali yang dipengaruhi oleh kebutuhan yang besar dari industri pariwisata. Para karyawan yang bekerja pada pusat-pusat informasi wisatawan di Bali, sering kali juga memahami beberapa bahasa asing dengan kompetensi yang cukup memadai.
6.      Potensi Politik
Secara umum masyarakat yang memiliki bidang prioritas peralihan dari subjek ke partisipan akan cenderung mendukung pelaksanaan pilkada dan memberikan dukungan terhadap sistem yang demokratis. Dalam budaya subjek partisipan tersebut sebagian warga negara telah memiliki orientasi-orientasi masukan yang bersifat khusus dari serangkaian orientasi pribadi sebagai seorang partisipan. Sementara itu sebagian warga negara yang lain terus diarahkan dan diorientasikan kearah suatu struktur pemerintahan otoritarian dan secara relatif memiliki rangkaian orientasi pribadi yang pasif. Dengan demikian, terjadi perbedaan orientasi pada masyarakat, sebagian yang cenderung mendorong proses partisipasi aktif warga negara, sebagian lain justru sebaliknya bersifat pasif. Masyarakat dengan pola budaya itu, orientasi budaya partisipan dapat mengubah karakter sebagai bagian dari budaya subjek. Hal itu karena terjadi dalam kondisi yang saling berebut pengaruh antara orientasi demokrasi dan otoritarian. Persoalannya masyarakat harus mampu mengembangkan sebuah bentuk infrastruktur politik mereka sendiri yang berbeda. Meskipun dalam beberapa hal tidak dapat menstransformasikan sub-kultur subjek kearah demokratis, mereka dapat mendorong terciptanya bentuk-bentuk perubahan.
Di samping itu dalam budaya politik campuran seperti itu berpotensi berkembang apa yang oleh Gandhi disebut sebagai salah satu dosa sosial yaitu kehidupan politik tanpa dilandasi oleh prinsip dasar (politics without principles). Kehidupan politik lebih mengedepankan permainan uang, kata dan perebutan kekuasaan sebagai gejala infantilisme yang jauh dari dunia pikir, refleksi dan kontemplasi.
Ada beberapa prinsip yang mesti dipegang oleh pihak-pihak yang berkompetisi dalam pilkada untuk bisa membangun budaya politik di tingkat lokal.
a.       Menghargai hak-hak individu dengan tetap berpegang pada ajaran Tat Twam Asi (toleransi tanpa menonjolkan perbedaan). Hal ini merupakan prasyarat mendasar yang perlu dijadikan acuan bersama dalam merumuskan politik demokratis yang berbasiskan pada nilai-nilai kearifan lokal. Praktik ini akan menjadikan setiap krama Bali memiliki semangat penghargaan terhadap heterogenitas, dialog kultural, trans-kultural,  inklusivisme, pertukaran mutual, toleransi dan keterbukaan yang kritis. Memandang sesama krama, apapun perbedaannya sebagai saudara bukan sebagai musuh yang harus dihancurkan.
b.      Setiap kandidat bupati/ walikota berkomitmen untuk mewujudkan kebaikan bersama serta rela berkorban untuk kepentingan rakyat. Dalam Kakawin Nitisastra (Sargah XIII:9 Wirama Sardulawikridita) dinyatakan bahwa pangkal kesulitan yang terbesar bagi manusia tersembunyi dalam dirinya sendiri. Nafsu ingin berkuasa menyebabkan orang tak dapat mencapai kebaikan yang dicita-citakan. Itu pula yang menyebabkan semua pengetahuan yang dikumpulkan sejak lama hilang. Kemudian tidak dapat dicari akhirnya habis tanpa meninggalkan bekas. Oleh karena itu dalam kitab Arthasastra ditegaskan bahwa pemimpin berkewajiban mewujudkan kebaikan bagi rakyatnya. Menurut Kautilya, penulis buku ini, pemimpin harus berprinsip lebih banyak menyediakan waktu untuk rakyat. Ia harus bisa membagi waktu: 4 jam untuk istirahat, 3 jam untuk makan dan hiburan, serta selebihnya diabdikan kepada rakyat. Seorang pemimpin harus rela mengorbankan sebagian besar waktunya untuk melayani kepentingan rakyat.
c.       Hak dipilih dan memilih dilandasi dengan kearifan lokal seperti “de ngaden awak bisa” dan “de ngulurin indria” bisa dipergunakan sebagai nilai kontrol dan kualitas moral untuk mengendalikan ambisi untuk berkuasa (Zuhro, 2009). Disamping itu dengan “paras paros”  akan bisa saling memberi dan menerima pendapat orang lain, “tatas”, “tetes” atau kehati-hatian dalam bertindak, “salunglung sabayantaka” atau bersatu teguh bercerai runtuh serta “merakpak danyuh” yang dimaknai perbedaan pendapat tidak harus menghilangkan persahabatan (Suastika, 2005). Nilai-nilai kearifan lokal ini tidak hanya diketahui tetapi juga dimaknai dan dilaksanakan dalam konstelasi politik nanti.
d.      Pelibatan lembaga-lembaga masyarakat sipil yang menjadi wadah bagi masyarakat di luar lembaga adat. Lembaga-lembaga tersebut antara lain Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Bali, Majelis Desa Pakraman (MUDP, MMDP), Wanita Hindu Dharma Indonesia (WHDI),  Para tokoh terutama di kedua lembaga yang pertama ini menjadi strategis ketika masih berlaku tradisi pemisahan politik dan adat. Kedua lembaga ini semestinya bisa memberikan rambu-rambu pada aktivitas politik di lapisan masyarakat bawah (grass roots). Kelima, tetap menjaga tradisi kebebasan berserikat dan berkumpul yang disalurkan melalui forum musyawarah, seperti “paruman” yang dilaksanakan secara berkala di balai desa. Dalam “paruman” krama dilatih berdemokrasi dengan tetap menghormati pendapat krama lainnya serta pengambilan keputusan secara musyawarah mufakat. Tradisi ini bisa tetap dikembangkan dalam hajatan pilkada nanti.
Beberapa prinsip itu setidaknya akan membantu untuk melembagakan partisipasi politik secara substansial yang lebih berorientasi pada nilai, kesadaran dan sikap kesukarelaan individu untuk terlibat dan peduli pada problem sosial politik, ekologis dan ketertiban lingkungan. Peluang munculnya distorsi partisipasi akibat pergulatan berbagai kepentingan yang bernuansa ekonomi-politik akan bisa diminimalkan. Contohnya, penghindaran pada politik uang yang merajalela dan mengacaukan proses partisipasi politik sehingga yang terjadi adalah mobilisasi kelompok yang dimotori oleh semangat ‘jalan pintas’ untuk meraih kekuasaan.. Ketika politik uang merebak guna meraih kekuasaan dengan  menghalalkan segala cara, maka hal ini mengindikasikan de-moralisme politik dan de-institusionalisasi partisipasi warga yang mengingkari tujuan reformasi menuju tata kelola pemerintahan yang baik dan demokratis.
7.      Kemungkinan Potensi yang Dikembangkan BisaDibandingkan, Bersifat Komparatif Wilayah Tersebut
Bali memiliki banyak keunggulan dibanding provinsi lainnya di Indonesia. Seperti diutarakan di awal sebelumnya,Bali dikenal dengan keindahan alam dan keunikan budayanya. Bali mengunggulkan produk pariwisatanya yang indah untuk memancing turis-turis local maupun mancanegara untuk datang ke Bali. Seperti contohnya, tempat-tempat pariwisata di Bali ialah Pantai Kuta, Tanah Lot, Pantai Sanur, Jimbranan, dan Nusa Dua sangat ramai di kunjungi orang tiap harinya. Hotel-hotel yang bernuansa pantai dan pedesaan banyak dibangun disana dari yang harga murah meriah seperti losmen-losmen hingga hotel berbintang lima dengan harga yang sangat menguras kocek. Selain itu, Bali dikenal juga dengan budayanya yang unik dan mengundang decak kagum bagi orang yang melihatnya seperti tari Kecak dan tari Pendet yang sangat fenomenal hingga ke dunia internasional. Di Bali juga banyak terdapat pusat-pusat kesenian daerahnya, salah satu tempatnya ialah di daerah Ubud.
Tidak hanya menawarkan pesona alamnya dan keunikan budayanya, Bali juga mengunggulkan sector kerajinan tangan yang sangat kreatif. Banyak handmade buatan Bali yang diekspor ke luar negeri. Kuliner di Bali sangat beranekaragam dan enak di lidah, seperti Ayam Betutu, Garang Asem dan Sate Lilit yang menjadi menu andalan khas Bali yang sering dicari oleh turis-turis yang berkunjung.
Sebuah provinsi dapat dikatakan berhasil bila didukung oleh semua lapisan masyarakat yang menjalankan kegiatan perekonomian daerah tersebut. Tidak selalu harus mengandalkan pemerintah pusat untuk membangun daerahnya, karena sebenarnya daerah pun bisa maju bila ada keinginan kuat dari masyarakatnya untuk menjadikan daerahnya lebih baik lagi. Bali telah dinilai berhasil membangun sector perekonomiannya menjadi lebih unggul hingga ke dunia internasional. PDB Bali tiap tahunnya terus merangkak naik yang menandakan bahwa Bali berhasil menjalankan program otonomi daerahnya, dari berbagai sector, seperti sector pariwisata dan pajak kendaraan yang keduanya menyumbang nilai besar untuk PDB Bali.
Walaupun begitu, masih banyak tantangan yang harus dihadapi Bali. Bom Kuta beberapa tahun yang lalu sempat memporakporandakan perekonomian Bali. Saat itu Bali enggan disinggahi oleh turis-turis local, terlebih lagi turis asing yang negaranya menetapkan peraturan travel warning ke Bali. Masyarakat Bali jatuh terpuruk mengingat sebagian besar masyarakat Bali hidup dari sector pariwisata.
Belajar dari pengalaman buruk tersebut, Bali harus membuat kepercayaan kepada dunia internasional bahwa Bali adalah tempat yang tidak menakutkan untuk didatangi, Bali adalah pulau yang indah, yang menawarkan sejuta pesona keindahan alam dan kegembiraan serta keramahan dari penduduknya, yang akan tidak pernah mereka lupakan sepanjang hidup mereka.

A.       TANAH LOT
1.    Sejarah
Pura agung Tanah Lot merupakan pura yang paling terkenal bagi wiraswastawan, banyak pengunjung datang ke pura ini untuk melihat keindahan alam yang ada di sana. Sebuah pura yang didirikan di atas sebuah batu karang yang berada terpisah dari pulau utama, meski jaraknya hanya berkisar 50 m saja, namun saat ombak pasang dan air laut naik, keindahan pura ini baru terlihat, seperti sebuah perahu yang mengapung diatas  ombak laut.
Sejarah pulau ini tak lepas dari pendirinya yakni Danghyang Nirarta, seorang baghawan dan resi sakti yang berasal dari kerajaan Majapahit. Beliau dikenal karena menyebarkan ajaran agama Hindu ke Bali atau dikenal sebagai “Dharma Yatra”. Pertama kali beliau datang ke Bali sampai di Rambut Siwi, dan saat berada sana, tiba – tiba ia melihat cahaya sinar suci yang muncul dari arah tenggara, sehingga ia pun mencari cahaya tersebut. Dan ternyata cahaya tersebut berasal dari sebuah mata air. Dan ia juga menemukan sebuah tempat yang sangat indah yang ia beri nama “Gili Beo” yang artinya batu karang. Dan mulailah ia bersemedi di tempat itu dan memulai penyebaran agama Hindu di kalangan penduduk yang saat itu masih monotheisme.
Daerah yang ia tempati bernama desa Beraban., dan dikuasai oleh seorang  pemimpin yang sakti bernama Bendesa Beraban Sakti. Dan karena Resi Danghyang Nirarta mengajak penduduk desa itu untuk memeluk agama Hindu sang pemimpin akhirnya marah dan berusaha mengusir baghawan ini. Sang resi yang tidak mau terjadi pertumpahan darah akhirnya melindungi diri dengan memindahkan tanah berkarang ke tengah lautan dan ia membuat perlindungan dengan menciptakan banyak sekali ular dari selendangnya.
Melihat kesaktian dari sang baghawan , Bendesa Beraban Sakti akhirnya mengalah dan menjadi pengikut setia Danghyang Nirarta. Dan bahkan ikut menyebarkan agama hindu ke desa – desa lain juga. Dan sebelum meninggalkan desa tersebut ia meninggalkan warisan yang berupa keris yang deberi nama “ Jaramenara/ Ki Baru Gajah” dan pulau karang  tempat ia melindungi diri tersebut ia beri nama “Tengah Lot’ yang berarti tanah di tengah laut.para penduduk yang menghormati beliau akhirnya membangun sebuah pura yang sekarang dikenal sebagai Pura Agung Tanah Lot.
Dan kalau anda datang ke tempat ini anda akan menemukan sebuah fenomena alam yang menarik dimana di bawah kaki pura yang dikelilingi samudra luas dengan airnnya yang asin, terdapat sumber mata air yang berasa tawar, dan tidak pernah kering meskipun musim kemarau. Mata air keramat yang ditemukan sang Resi Danghyang Nirarta inilah yang dikeramatkan oleh pemeluk agama hindu dan setiap pengunjung bisa juga meminta airnya dengan cara mencuci muka di Tanah Lot atau meminum airnya yang menyegarkan.
Dan ular – ular yang pernah melindungi sang resi masih tetap berada di sana sampai sekarang dan dipercaya melindungi Tanah lot. Anda bisa juga menyentuh tubuh ular sakti penjaga Tanah Lot yang dijaga di lubangnya oleh pemangku adat setempat.
2.      Geografis
Tanah Lot adalah sebuah objek wisata di Bali, Indonesia. Di sini ada dua pura yang terletak di di atas batu besar. Satu terletak di atas bongkahan batu dan satunya terletak di atas tebing mirip dengan Pura Uluwatu. Pura Tanah Lot ini merupakan bagian dari pura Sad Kahyangan, yaitu pura-pura yang merupakan sendi-sendi pulau Bali. Pura Tanah Lot merupakan pura laut tempat pemujaan dewa-dewa penjaga laut. Yang menarik di obyek wisata tanah lot ini adalah sebuah batu besar yang berada di bibir pantai yang diatasnya ada pura. Dan pura ini ditujukan untuk memuja roh-roh penghuni laut. Pantai tanah lot ini tidak berupa pasir tetapi berupa batu-batu karang yang banyak lumut dan rumput lautnya.
Obyek wisata tanah lot terletak di Desa Beraban Kecamatan Kediri Kabupaten Tabanan, sekitar 13 km barat Tabanan. Disebelah utara Pura Tanah Lot terdapat sebuah pura yang terletak di atas tebing yang menjorok ke laut. Tebing ini menghubungkan pura dengan daratan dan berbentuk seperti jembatan (melengkung). Tanah Lot terkenal sebagai tempat yang indah untuk melihat matahari terbenam (sunset), turis-turis biasanya ramai pada sore hari untuk melihat keindahan sunset di sini.
Tanah Lot terkenal dengan pemandangannya yang indah, bila cuaca baik, kita dapat melihat matahari tenggelam (sunset) yang sangat indah, ketika sang Surya tenggelam di kaki cakrawala, sungguh pemandangan yang dapat membuat mata berhenti berkedip. Dijalan menuju pantai Tanah Lot banyak dijumpai penunjang pariwisata seperti hotel, restaurant, art shop, dan lainnya. Waktu yang baik untuk berkunjung kesana adalah pukul 16:00, jadi kita dapat melihat-lihat pemandangan dengan tebing yang curam, pura Tanah Lot yang mengagumkan, dan pemandangan pantai sambil menunggu sunset. Pada bulan-bulan ini, sunset biasanya terjadi sekitar pukul 18:30.
Menurut legenda, pura di Tanah Lot dibangun oleh seorang brahmana yang mengembara dari Jawa. Beliau adalah Danghyang Nirartha yang berhasil menguatkan kepercayaan penduduk Bali akan ajaran Hindu dan membangun Sad Kahyangan tersebut pada abad ke-16. Pada saat itu penguasa Tanah Lot, Bendesa Beraben, iri terhadap beliau karena para pengikutnya mulai meninggalkannya dan mengikuti Danghyang Nirartha. Bendesa Beraben menyuruh Danghyang Nirartha untuk meninggalkan Tanah Lot. Beliau menyanggupi dan sebelum meninggalkan Tanah Lot beliau dengan kekuatannya memindahkan Bongkahan Batu ke tengah pantai (bukan ke tengah laut) dan membangun pura disana. Beliau juga mengubah selendangnya menjadi ular penjaga pura. Ular ini masih ada sampai sekarang dan secara ilmiah ular ini termasuk jenis ular laut yang mempunyai ciri-ciri berekor pipih seperti ikan, warna hitam berbelang kuning dan mempunyai racun 3 kali lebih kuat dari ular cobra. Akhir dari legenda menyebutkan bahwa Bendesa Beraben 'akhirnya' menjadi pengikut Danghyang Nirartha. Seperti pura lainnya, pura Tanah Lot juga memiliki odalan (hari raya) yang dirayakan setiap 210 hari sekali, yaitu setiap “Buda Cemeng Langkir”, berdekatan dengan hari raya Galungan dan Kuningan. Pada saat odalan, seluruh umat Hindu dari segala penjuru Bali akan datang untuk bersembahyang, begitu juga wisatawan akan banyak yang datang untuk menyaksikan upacara dan keindahan Tanah Lot, akan tetapi wisatawan tidak diijinkan untuk memasuki bagian utama (”Utama Mandala”) pura Tanah Lot, kecuali yang masuk untuk bersembahyang. Hal ini dilakukan untuk tetap menjaga kesucian pura Tanah Lot.
Di sekitar Tanah Lot banyak dijumpai art shop, warung dan sekedar para penjual minuman. dengan adanya wisata tanah lot para penduduk bali memanfaatkanya sebagai tempat penjualan pernak-pernik khas bali aneka makanan dan minuman.

B.       SUBAK BADUNG UTARA
Bali kaya akan tradisi Hindu yang penuh dengan ajaran kebajikan dan harmonisasi dengan alam. Dalam tradisi agraris mereka dikenal sistem pengairan atau irigasi subak. Subak adalah sistem pengelolaan distribusi aliran irigasi pertanian khas masyarakat Bali. Sistem ini sudah dikenal sejak ratusan tahun yang lalu dan terbukti mampu meningkatkan produktifitas pertanian di Bali.
Melalui sistem Subak, para petani memperoleh jatah air sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh musyawarah warga. Secara filosofis, keberadaan Subak merupakan manifestasi dari konsep Tri Hita Karana, yaitu relasi harmonis antara manusia dan Tuhan, manusia dan alam, serta relasi antar sesama manusia. Oleh sebab itu, kegiatan dalam perkumpulan Subak tak hanya meliputi masalah pertanian semata, melainkan juga meliputi masalah ritual dan peribadatan untuk memohon rejeki yang belimpah.Air, sawah, tanaman padi mempunyai tempat penting dalam sistem subak bahkan dikaitkan dengan aspek religius. Ketiganya berhubungan dengan kuasa Dewi Sri. Oleh karena itu subak tak semata mengatur soal teknis pengaturan air semata, tetapi juga aspek sosial, religius.
Subak ini biasanya memiliki pura yang dinamakan Pura Uluncarik, atau Pura Bedugul, yang khusus dibangun oleh para petani dan diperuntukkan bagi dewi kemakmuran dan kesuburan dewi Sri. Sistem pengairan ini diatur oleh seorang pemuka adat yang juga adalah seorang petani di Bali.Bertugas mengawasi dan mengelola subak namanya kelian. Kelian ini sifatnya sosial, tidak mendapatkan gaji atau imbalan. Merekalah cagar terdepan dalam pelestarian subak. Apalagi keberadaan subak kian terancam dengan makin banyaknya alih fungsi lahan di Bali.
Pengaturan air ala subak telah diatur dalam semacam undang-undang yang disebut awig-awig. Dalam awig-awig inilah dimuat pokok-pokok aturan subak. Pembagian air disesuaikan dengan keanggotaan petani di subak, ada anggota aktif dan pasif, keduanya mendapat pembagian jatah air yang berbeda. Inilah prinsip keadilan dimana pembagian disesuaikan dengan kontribusi.
Subak di daerah badung Utara  yang dekenal dengan Balai Subak Lip-Lip, Merupakan salah satu desa yang juga menggunakan sistem pengairan Subak ini. Nama Lip-lip memiliki cerita yang dikenal masyarakat sekitar, konon dulu terdapat dua desa yaitu desa Menwi dan Desa Badung yang saling berselisih, sehingga peperangan pun tidak dapat terhindarkan sehingga terjadi kebakaran, dari kejauhan desa tersebut kelihatan berkelip-kelip sehingga akhirnya dinamakan Lip-lip. Didesa ini terdapat 150 Anggota. Setiap anggota nantinya saat panen tiba mengumpulkan padi sesuai dengan luas lahan yang diairi, nantinya padi ini digunakan untuk pemeliharaan pengairan.
Sumber pengairan yang digunakan berasal dari danau Batur, Kintamani.  Sehingga sebelum masyarakat melaksanakan penanaman padi, biasanya melaksanakan upacara setiap tahun sekali pada saat bulan purnama ke danau Batur. Masyarakat menggunakan alat pengukur air yang disebut Temungku. Rata-rata masyarakat memiliki 2000 m2 pemilikan tanah.
Masyarakat melaksanakan tiga kali masa tanam yaitu bulan keempat  sampai bulan kedelapan untuk penanaman padi, bulan kedelapan sampai ke sebelas untuk menanam kedelai dan bulan kesebelas sampai ke tiga untuk menanam padi begitu seterusnya. Dalam satu tahun Balai Subak Lip-lip dalam keadaan buruk mampu menghasilkan 4 ton gabah kering per hektar per satu kali tanam dan dalam keseringadaan baik mampu menghasilkan 7 ton gabah kering per hektar per satu kali tanam. Terkadang sering terjadi hambatan dalam penanaman seperti ketersediaan air, musim yang buruk dan berbagai  hama tanaman selain itu adanya pembangunan modern guna bisnis yang mempersempit lahan. Dulu petani benar-benar memiliki kebingungan yang sangat atas peristiwa ini, dengan harga padi dan tanaman pertanian yang tidak stabil dan terkadang tidak seimbang dengan kebutuhan mereka atau memilih menjual lahannya  dengan harga yang tinggi. Namun kemudian adanya kebijakan yangdikeluarkan oleh bupati dengan tidak dikenankannnya perubahan status tanah basah menjadi tanah kering dan tanah basah tidak diperkenankan di sewakan.


C.     MASYARAKAT TENGANAN
1.    Sejarah Masyarakat Desa Tenganan
Tenganan adalah desa yang mempunyai keunikan sendiri di pulau Bali, desa yang cukup terpencil dan desa ini terletak di Kabupaten Karangasem. Untuk mencapai desa ini melalui jalan darat dan sekitar 60km dari pusat kota Denpasar, Bali. Desa ini sangatlah tradisional karena berjarak dapat bertahan dari arus perubahan jaman yang sangat cepat dari teknologi.
Walaupun sarana dan prasarana seperti listrik dll masuk ke Desa Tenganan ini, tetapi rumah dan adat tetap dipertahankan seperti aslinya yang tetap eksotik. Ini dikarenakan Masyarakat Tenganan mempunyai peraturan adat desa yang sangat kuat, yang mereka sebut dengan awig-awig yang sudah mereka tulis sejak abad 11 dan sudah diperbaharui pada Tahun 1842.
Tenganan merupakan salah satu dari beberapa desa kuno di Bali, yang biasanya disebut “Bali Aga”. Ada beberapa versi tentang sejarah tentang desa Tenganan. Ada yang mengatakan kata tenganan berasal dari kata “tengah” atau “ngatengahang” yang berarti “bergerak ke daerah yang lebih dalam”. Penurunan kata ini berhubngan dengan pergerakan orang-orang desa dari daerah pinggir pantai ke daerah pemukiman, dimana posisi daerah ini adalah di tengah-tengah permukiman, yakni Bukit Barat (Bukit Kauh) dan Bukit Timur (Bukit Kangin).
Versi lain mengatakan bahwa orang-orang Tenganan berasal dari Desa Peneges, Gianyar, tepatnya Bedahulu. Berdasatrkan cerita rakyat, dulu Raja Bedahulu kehilangan salah satu kudanya. Orang-orang mencarinya ke Timur dan sang kuda ditemukan dalam keadaan tewas oleh Ki Patih Tunjung Biru, tangan kanan sang Raja. Atas loyalitasnya, sang Raja memberikan wewenang kepada Ki Patih Tunjung  Biru untuk mengatur daerah itu selama aroma dari I carrion pada tercium. Ki Patih seorang yang pintar, dia memotong carrion menjadi potongan-potongan dan menyebarkannya sejauh yang dia bisa lakukan. Dengan demikian dia mendapatkan daerah yang cukup luas.
Tenganan atau disebut juga dengan desa Penggrisingan yang artinya adalah suatu pengrajin kain geringsing atau suatu proteksi diri. Kata penggrisingan diambil dari kata “geringsing”. Geringsing adalah produk kain tenun tradisional yang hanya dapat ditemukan di Tenganan. Geringsing dianggap sakral yakni menjauhkan kekuatan magis jahat black magic. Geringsing di turunkan dari kata “gering yang berarti sakit dan “sing”yang artinya tidak.
2.      Hukum Warisan Adat Masyarakat Adat Tenganan
Masyaraklat adat Tenganan menganut aliran Hindu yang berbeda dengan masyaakat Bali lainnya. Aliran Hindu yang dianut masyarakat adat Tenganan ialah aliran Dharma Indra. Dimana aliran ini tidak mengenal adanya kasta. Tidak seperti masyarakat adat Bali pada umumnya.
Di dalam masyarakat adat Tenganan dikenal suatu aturan adat yang desebut “awig-awig”. Awig-awig terdiri dari 61 pasal dan terdiri dari 3 hubungan yaitu: Hubungan manusia dengan Tuhan, Manusia dengan Manusia, dan Manusia dengan lingkungan. Di dalam awig-awig mengetur tata kehidupan masyarakat adt Tenganan, dan peraturan tersebut ditaati oleh seluruh masyarakat Tenganan tanpa terkecuali.
Terkait dengan hukum waris, awig-awig telah mengatur di dalam pasal 346 mengenai perkawinan. Masyarakat adat Tenganan mengenal adanya 3 macam perkawinan, yaitu nomadik (Kawin Pinang), suka saling suka (Ngader), dan kawin paksa. Perkawinan nomadik dapat dijelaskan bahwa pasangan yang menikah masih memiliki hubungan persaudaraan diantaranya. Misalnya masih saudara sepupu.
Pernikahan suka saling suka dapat dijelaskan bahwa pasangan yang menikah adalah pasangan yang saling menyukai. Bedanya dengan perkawinan monodik ialah tidak adanya hubungan persaudaraan diantara keduanya, dan yang pasti masih ikut menjadi bagian dari masyarakat adat Tenganan. Dan yang terakhir yaitu kawin paksa atau lebih dikenal dengan perjodohan. Perkawinan ini hampir sama dengan kawin paksa yang ada di masyarakat lainnya, yaitu perkawinan yang terjadi karena paksaan dari orang tua.
Di dalam sebuah pernikahan tentunya setiap keluarga mendambakan adanya anak atau pewaris keturunan. Ketika adanya kematian orang tua, anak akan memperoleh harta dari orang tuanya atau warisan. Di dalam masyarakat adat Tenganan perihal warisan sudah diatur dalam awig-awig dan semua masyarakat adat Tenganan mengacu pada awig-awig baik itu ketika timbul perselisihan maupun tidak. Dalam hal ini desa adat Tenganan bertanggung jawab terhadap lingkungannya.
Pembagian waris yang dianut oleh masyarakat adat Tenganan adalah setengah bagian untuk anak laki-laki dan setengah bagian lagi untuk anak perempuan dari harta kedua orang tuanya. Hal ini berdasarkan keadilan menurut masyarakat adat Tenganan. Di dalam masyarakat adat Tenganan tidak ada yang namanya perceraian dan poligami. Karena kepercayaan masyarakat adat yang menikah dengan seorang pasangan hidupnya sampai maut memisahkan mereka. Selama perkembangan masyarakat adat Tenganan dijumpai beberapa kasus dalam hal pernikahan. Misalnya, seorang wanita dari desa Tenganan yang menikah dengan pria yang bukan asli warga masyarakat Tenganan.
Dengan kata lain wanita tersebut telah menikah keluar desa. Akibat yang ditimbulkan dari perbuatan tersebut ialah si wanita akan meninggalkan atau melepaskan hak-haknya sebagai bagian dari masyarakat Tenganan, dan yang pastinya tidak boleh membawa hak warisnya keluar desa. Contoh kasus yang lain adalah sebuah keluarga yang tidak tidak mempunyai anak tidak diperbolehkan untuk mengangkat anak atau adopsi. Selanjutnya bagaimana dengan warisan yang mereka miliki? Kepada siapa akan diberikan harta tersebut.
Awig-awig mengatur bahwa hak waris akan dikembalikan keasalnya (suami-istri). Langkah awal yang dilakukan oleh desa adat Tenganan ialah mengambilnya untuk kemudian dilakukan verivikasi awal mula waris itu berasal. Apakah berasal dari istri atau suami. Kemudian Hak Gunakaya (harta bersama) yang dimiliki oleh pasangan suami istri yang tidak memiliki anak tersebut akan dibagi sama rata. Setengan bagian untuk suami dan setengah bagiannya lagi untuk istri.
Warisan yang diterima oleh penerima waris (anak) berupa harta dsb. Pada anak tidak pernah dalam pembagian tanah akan tetapi hasil dari pengolahan tanah tersebut. Dalam hal kepemilikan tanah pada masyarakat adat Tenganan dapat digolongkan menjadi 3 macam, yaitu tanah desa adat (hak ulayat), kolektif, dan kepemilikan pribadi. Ketida hal tersebut diatur guna kepentingan bersama. Setelah terjadinya pernikahan, pasangan suami istri akan tinggal selama 3 bulan dengan orang tuanya, setelah itu mereka harus pisah rumah dengan orang tua.
Dan untuk pasangan suami isteri yang baru menikah akan diberi tanah oleh desa adat. Namun hanya hak guna pakai yang diberikan. Kemudian dari hal ini muncul mengenai hak waris rumah. Hak ini didapat untuk anak yang paling kecil. Dimana pekarangan rumah milik desa adat dan tidak boleh dijual. Dalam hukum waris dikenal dengan namanya surat wasiat karena keadilan rumah tangga sudah diatur oleh adat. Dan desa adat itu selalu berada pada posisi yang netral.
Hilangnya hak waris bagi masyarakat adat Tenganan dapat terjadi apabila telah melakukan suatu pelanggaran dan mendapatkan sanksi. Didalam masyarakat adat Tenganan jika seseorang ternyata melakukan pelanggaran tentunya akan diberi peringatan oleh desa adat. Ada 4 tahap peringatan, dengan sanksi yang berbeda ditiap tahapnya. Ketika sudah mendapat peringatan terakhir, orang tersebut akan dikeluarkan dari masyarakat adat Tenganan.
Namun tidak dengan mudahnya memberikan peringatan kepada warga yang melakukan kesalahan. Masyarakat akan melihat perubahan-perubahan yang dilakukan oleh orang tersebut. Apakah dengan peringatan pertama akan berubah atau tidak tentu desa adat Tenganan akan memperhitungkannya. Hal ini terakhir pernah terjadi pada tahun 1942.
3.      Perekonomian di Desa Adat Tenganan
Penghasilan penduduk Desa Tenganan juga tidak jelas berapa pendapatannya, karena disana masih menggunakan sistem barter diantara warganya. Disana banyak tanaman, sawah, kerbau yang bebas berkeliaran dipekarangan mereka.
Untuk mendongkrak potensi wisata mereka, Penduduk Desa Tenganan banyak yang menjual hasil kerajinan tangannya ke turis. Artshop juga dapat kita lihat begitu kaki kita melangkah kepintu masuk, mereka menjual banyak kerajinan. Seperti Anyaman bambu, ukir-ukiran, lukisan mini yang diukir diatas daun lontar yang sudah dibakar, dan yang paling terkenal adalah kain geringsing. Kain ini sangatlah unik karena dengan sekilas memandang kita dapat langsung mengetahui kalau kain tersebut memang buatan tangan.
Kain ini termasuk mahal, dan hanya diproduksi di desa tenganan saja. Waktu pengerjaannya pun memerlukan waktu yang cukup lama, karena warna-warna yang terdapat dikain gringsing ini berasal dari tumbuh-tumbuhan dan memerlukan perlakuan khusus. Walaupun banyak wisatawan yang semakin lama semakin banyak untuk datang didesa ini, namun sayang belanja suvenir mereka masih kurang. Ungkap I Made pelukis lukisan mini diatas daun lontar.
Berada di desa ini kita merasakan suasana yang aman dan damai, para penduduk desanya yang sangat ramah dan bersahabat. Kita dapat berkeliling areal desa tersebut dan menyaksikan aktivitas mereka sehari hari. Saat yang paling tepat kita berada disana pada saat sore hari, karena pada sore hari biasanya mereka penduduk desa Tenganan sudah melakukan aktivitasnya. Dan berkumpul didepan rumahnya masing-masing, dan tak ayal mereka keluar dan berkumpul bersama para penduduk yang lain. Dan pada saat ini kita dapat menyaksikan dan melihat tingkah laku dan adat budaya tradisional mereka yang amat kental. Maka pantaslah jika mereka disebut dengan sebutan BaliAga / Asli.

D.     DESA PENGLIPURAN
Desa adat Penglipuran terletak di kabupaten Bangli yang berjarak 45 km dari kota Denpasar,Desa Penglipuran adalah sebuah desa tradisional yang mempunyai ciri tersendiri dan didukung oleh udaranya yang sejuk karena ketinggiannya sekitar 700 m di atas permukaan laut, memberi kenyamanan bagi penduduk setempat dan bagi mereka yang berkunjung ke desa tersebut.
Desa ini merupakan salah satu kawasan pedesaan di Bali yang memiliki tatanan yang teratur dari struktur desa tradisional, perpaduan tatanan tradisional dengan banyak ruang terbuka pertamanan yang asri membuat desa ini membuat kita merasakan nuansa Bali pada dahulu kala. Penataan fisik dan struktur desa tersebut tidak lepas dari budaya yang dipegang teguh oleh masyarakat Adat Penglipuran dan budaya masyarakatnya juga sudah berlaku turun temurun.
Keunggulan dari desa adat penglipuran ini dibandingkan dengan desa-desa lainnya di Bali adalah, bagian depan rumah serupa dan seragam dari ujung utama desa sampai bagian hilir desa. Desa tersusun sedemikian rapinya dengan daerah utamanya terletak lebih tinggi dan semakin menurun sampai kedaerah hilir. Selain bentuk depan yang sama, bahan untuk membuat rumah tersebut juga sama. Seperti bahan tanah untuk tembok dan untuk bagian atap terbuat dari penyengker dan bambu untuk bangunan diseluruh desa.
Desa Penglipuran merupakan satu kawasan pedesaan yang memiliki tatanan spesifikasi dari struktur desa tradisional, sehingga menampilkan wajah pedesaan yang asri. Penataan fisik dari struktur desa tersebut tidak terlepas dari budaya masyarakatnya yang sudah berlaku turun-temurun. Keunggulan dari desa adat Penglipuran ini terletak pada struktur fisik desa yang serupa seragam dari ujung utama desa sampai ke bagian hilir desa. Keunggulan dari desa adat penglipuran ini dibandingkan dengan desa-desa lainnya di Bali adalah, bagian depan rumah serupa dan seragam dari ujung utama desa sampai bagian hilir desa.
Desa tersusun sedemikian rapinya dengan daerah utamanya terletak lebih tinggi dan semakin menurun sampai kedaerah hilir. Selain bentuk depan yang sama, bahan untuk membuat rumah tersebut juga sama. Seperti bahan tanah untuk tembok dan untuk bagian atap terbuat dari penyengker dan bambu untuk bangunan diseluruh desa. Keseragaman dari wajah desa tersebut di samping karena adanya keseragaman bentuk, juga dari keseragam bahan yaitu bahan tanah untuk tembok pagar (penyengker) dan gerbang rumah (angkul-angkul) dan atap dari bambu yang dibelah untuk seluruh bangunan desa.
Topografi desa tersusun sedemikian rupa di mana pada daerah utama desa ini menyebabkan pemerintah Propinsi Bali menetapkan desa Penglipuran sebagai daerah tujuan wisata pada tahun 1992. Selain keseragaman bentuk bangunan, desa yang terletak pada ketinggian 700 meter dari permukaan laut ini juga memiliki sejumlah aturan adat dan tradisi unik lainnya. Salah satunya, pantangan bagi kaum lelakinya untuk beristri lebih dari satu atau berpoligami. Lelaki Penglipuran diharuskan menerapkan hidup monogami yakni hanya memiliki seorang istri. Pantangan berpoligami ini diatur dalam peraturan (awig-awig) desa adat.
Dalam bab perkawinan (pawos pawiwahan) awig-awig disebutkan, krama Desa Adat Penglipuran tan kadadosang madue istri langkung ring asiki. Artinya, krama Desa Adat Penglipuran tidak diperbolehkan memiliki istri lebih dari satu. Jika ada lelaki Penglipuran yang telah menikah naksir wanita lain lagi, maka cintanya harus dikubur sedalam-dalamnya. Sebab kalau melanggar aturan ini, akibatnya bisa disisihkan dari desa pakraman.
Gawatnya adalah jika lelaki Penglipuran beristri yang coba-coba merasa bisa berlaku adil dan menikahi wanita lain, maka lelaki tersebut akan dikucilkan di sebuah tempat yang diberi nama ‘Karang Memadu. Karang artinya tempat dan memadu artinya berpoligami. Jadi, Karang Memadu merupakan sebutan untuk tempat bagi orang yang berpoligami. Karang Memadu merupakan sebidang lahan kosong di ujung selatan desa.
Penduduk desa akan membuatkan si pelanggar itu sebuah gubuk sebagai tempat tinggal bersama istrinya. Dia hanya boleh melintasi jalan-jalan tertentu di wilayah desa. Artinya, suami istri ini ruang geraknya di desa akan terbatas. Tak Cuma itu, pernikahan orang yang berpoligami itu juga tidak akan dilegitimasi desa, upacara pernikahannya tidak dipimpin oleh Jero Kubaya yang merupakan pemimpin tertinggi di desa dalam pelaksanaan upacara adat dan agama. Implikasinya karena pernikahan itu dianggap tidak sah, maka orang tersebut juga dilarang bersembahyang di pura-pura yang menjadi emongan (tanggung jawab) desa adat. Mereka hanya diperbolehkan sembahyang di tempat mereka sendiri.
Melihat hukuman yang menakutkan yang akan diterima oleh lelaki yang bermaksud berpoligami ini, sampai sekarang tidak ada lelaki Penglipuran yang berani bersujud di kaki istrinya agar diijinkan menikah lagi. Karang Memadu yang disiapkan oleh desa tetap tidak berpenghuni dan bahkan oleh penduduk desa dianggap sebagai karang leteh (tempat yang kotor). Mungkin lelaki Penglipuran lebih memilih hidup nyaman dengan satu istri daripada digilir dua istri dan dicuekin orang se-desa.
Desa Adat Penglipuran ini termasuk desa yang banyak melakukan acara ritual, sehingga banyak sekali acara yang diadakan didesa ini seperti pemasangan dan penurunan odalan, Galungan dll. Memang Saat yang sangat tepat untuk datang kedesa ini adalah pada acara tersebut berlangsung, sehingga kita dapat melihat langsung keunikan dan kekhasan dari desa penglipuran ini. Walaupun anda tidak sempat datang pada saat acara tersebut diatas, anda dapat menikmati suasana desa pada sore hari. Karena pada saat sore umumnya penduduk desa keluar rumah setelah selesai melakukan aktifitas rutin mereka dipagi dan siang hari, merek keluar untuk berkumpul bersama sama penduduk desa yang lain dan para pria pada saat sore hari mengeluarkan ayam jago kesayangan mereka dan tidak jarang mereka melakukan tajen/adu ayam tetapi tanpa pisau dikakinya.
Menurut penuturan para pemuka adat, bahwa Penglipuran mengandung makna "Pangeling Pura". Penglipuran yang mengandung makna "Pangeling Pura" memberikan petunjuk bahwa terjadi hubungan yang sangat erat antara tugas dan tanggung jawab masyarakat dalam menjalankan dharma agama. Desa adat Penglipuran ini yang memiliki spesifik dan jati diri, perlu diteliti lebih mendalam akan berbagai ragam yang melatar belakangi keunikan desa tersebut.
Obyek ini mempunyai struktur sedemikian rupa sehingga terlihat jelas antara utama mandala, madya mandala, dan nista mandala, struktur yang bergradasi seperti itu memberi petunjuk yang sangat jelas dan akurat, bahwa desa adat Penglipuran diciptakan melalui penataan yang benar. Sehingga dengan demikian maka fungsi obyek sebagai desa yang mewadahi kehidupan masyarakatnya tercermin dari konsep keseimbangan Buana Agung dan Buana Alit.
Filsafat hubungan yang selaras antara alam dan manusia dan kearifan manusia mendayagunakan alam sehingga terbentuk ruang kehidupan terlihat jelas dalam area kawasan obyek. Sehingga dengan demikian azas Tri Hita Karana dapat dijabarkan dalam berbagai ragam bentuk, yang kesemuanya terpapar pada kawasan. Nilai estetika yang ditimbulkan dari hubungan yang selaras dan serasi sudah menyatu dalam totalitas proses alami yang terjadi dari waktu ke waktu. Oleh karena itu visualisasi estetik pada kawasan ini bukan merupakan barang langka yang sulit dicari, melainkan sudah menyatu dalam tata lingkungannya. Tata nilai estetika yang berkaitan erat dengan kehidupan sosial ekonomi budaya manusianya, yang berarti manusia harus berkemampuan mengimajinasi dan menciptakannya dalam kreasi-kreasi cipta lingkungan desanya.
Desa Penglipuran telah tampil secara utuh, yang sekaligus merupakan suatu kesinambungan proses antara sosial budaya religius manusianya dengan gradasi topografi struktur kawasan. Hal ini beralasan, karena leluhur masyarakat Penglipuran berasal dari desa Bayung Gede, Kecamatan Kintamani. Karena desa Bayung Gede letaknya jauh dari desa Penglipuran, maka masyarakat Penglipuran membangun tempat-tempat persembahyangan (pura) yang sama seperti di desa Bayung Gede
Dalam ajaran Hindu telah memiliki konsep pelestarian menggunakan konsep desa kalapatra. Kala artinya waktu, sementara patra berarti keadaan. Jadi kalapatra adalah keadaan akan berubah di mana tempatnya dan kapan waktunya. Tak heran banyak wisatawan yang tertarik untuk datang ke desa tradisional yang sejak tahun 1993 mulai dipromosikan pemerintah daerah sebagai salah satu tujuan wisata.
Sayangnya, desa ini tidak menyediakan tempat penginapan atau home stayuntuk menampung para wisatawan untuk bertinggal lebih lama di desa yang sejuk dan sehat ini. Keunikan lainnya,Anda tidak akan menemukan tempat sampah di jalan utama Desa Adat Penglipuran ini. Hal ini karena adanya aturan (awig-awig) kepada setiap warga untuk menyapu dua kali dalam sehari setiap pagi dan sore hari. Kewajiban lain yang harus dipatuhi warga adalah memotong rumput yang ada di taman jalan dua kali sebulan. Kalau hal itu tak dipatuhi, denda Rp10.000 akan diberlakukan.
Meskipun dendanya terbilang tidak terlalu besar, sejauh ini belum ada warga yang melanggar dan lebih taat pada aturan tersebut. Hal ini dikarenakan masyarakat ditanamkan budaya malu jika tidak menaati aturan tersebut dan pantas untuk dijadikan sebagai percontohan daerah tujuan pariwisata sehat.
Bagi wisatawan yang datang, pemerintah daerah setempat memungut tiket masuk dengan harga yang sangat murah dan terjangkau. Untuk dewasa cukup membayar Rp2.500, sementara untuk anakanak Rp1.500.Sebagian besar yang datang adalah wisatawan asing yang penasaran dengan kesejukan dan teraturnya kehidupan masyarakat Desa Adat Penglipuran.
Pada bagian hilir dari desa adat Penglipuran ini, terletak Taman Makam Kapten Mudita yang keberadaannya ditata dengan baik, sehingga dapat tampil juga sebagai obyek wisata sejarah. Disamping itu pada ujung hutan bambu di sebelah utara desa Penglipuran akan dikembangkan kawasan dan arena berkuda. Sehingga dengan demikian dalam satu paket kunjungan ke desa Penglipuran ini akan banyak hal yang bisa dijumpai dan prosesi berkunjung diharapkan mulai dari hutan bambu bagian utara, terus berjalan kaki disepanjang kurang lebih 1000 meter, dan pada bagian akhir kehilir desa, terus memasuki Taman Makam Pahlawan.
Meskipun dalam sejarah fungsi tertua seni pertunjukan adalah untuk upacara, kemudian di susul yang berfungsi sebagai hiburan pribadi, dan terakhir sebagai tontonan, namun pada zaman modern yang penuh perubahan ini fungsi seni pertunjukan yang paling tua masih ada yang lestari, ada yang fungsinya bergeser meskipun bentuknya tidak begitu berubah, dan ada yang fungsinya bergeser serta bentuknya berubah atau tumpang tindih. Di samping itu, sudah barang tentu terdapat pula bentuk-bentuk baru akibat kebutuhan dan kreativitas manusia.
Perubahan ini salah satunya disebabkan oleh pesatnya pariwisata di Bali. Di antara dampak negative dari pariwisata adalah terjadinya komersialisasi yang merendahkan harga diri budaya tradisi, menjauhkan dan menghilangkan identitas budaya, merusak tradisi lokal dan pandangan hidup. Penyalahgunaan tradisi, meningkatkan perebutan keuntungan, perselisihan atas hak tanah, hilangnya keaslian nilai-nilai sejarah.
Selain itu, pariwisata juga mengakibatkan di satu sisi mendorong kesemarakan, di sisi lain menghadap-kan tantangan pada umat Hindu di Bali dalam mempertahankan kesakralan budaya dan agama Hindu. Ada yang terlalu tenggelam dalam keuntungan yang diberikan oleh pariwisata, larut dalam pikiran yang beorientasi pada PAD sehingga kadang-kadang lupa bahwa untuk mempertahankan gaya ta-rik kepariwisataan Bali wajib menjaga kesakralan Bali itu sendiri.
Modernisasi dan pembangunan di dalam dua dekade terakhir ini telah membawa masyarakat kontemporer ke dalam berbagai sisi realitas-realitas baru kehidupan, seperti kenyamanan, kesenangan, keterpesonaan, kesempurnaan penampilan, kebebasan hasrat. Akan tetapi, modernisasi dan pembangunan itu sebaliknya telah menyebabkan kehilangan realitas-realitas masa lalu beserta kearifan-kearifan masa lampau yang ada di baliknya, yang justru lebih berharga bagi pembangunan diri sebagai manusia, seperti rasa kedalaman, rasa kebersamaan, rasa keindahan, semangat spiritualitas, semangat moralitas, dan semangat komunitas.
Jika apa yang ditegaskan itu benar, maka konsekuensinya adalah akan terjadi perubahan tatanan masyarakat, dari konsep lokal, nasional, dan global. Perubahan tersebut tidak saja akan muncul di permukaan sebagai cirri dari budaya kapitalistik, namun juga akan merasuk pada perilaku (ideologi). Tampakanya perubahan sebagai ekses dari globalisasi sungguh sulit dihindari, namun perubahan tersebut hendaknya betul-betul disadari sebagai konsekuensi logis dari sistem budaya global dan perubahan yang dikehendaki bukanlah perubahan yang menjungkir-balikan nilai-nilai, normanorma yang telah mantap dan berakar di dalam masyarakat yang berbudaya, melainkan cakupannya terbatas yang termodifikasi dengan beradaptasi secara bertahap.
Di sinilah dunia spiritual (agama) erat kaitanya dengan kebudayaan yang terus mengalami perubahan. Dengan demikian, maka 14 hubungan antara agama dan kebudayaan sangatlah erat. Agama sebagai perhatian pokok merupakan substansi budaya yang memberikan makna dan budaya merupakan totalitas bentuk-bentuk di mana perhatian dasar agama mengungkapkan dirinya. Pendeknya agama adalah substansi budaya, budaya adalah bentuk agama.
Berdasarkan konsep perubahan kebudayaan seperti itu, tampak seni keagamaan sesungguhnya mengalami tantangan yang cukup berat. Tantangan itu adalah di satu sisi proses regenerasi berada pada generasi yang modern, kemudian pendidikannya memerlukan pemahaman sebuah tradisi yang tunduk pada sebuah kekuatan yang di atas (Tuhan). Namun demikian, dengan berpegang teguh pada kekuatan keagamaan (Hindu), maka tradisi seni keagamaan akan tetap eksis.
Seni dan agama Hindu umumnya dan di Bali khususnya sangat erat dan saling mengisi. Agama Hindu adalah sebagai sumber segala karya seni di Bali dan sebagai pendorong inspirasi dari segala karya kreatif dalam masyarakat Bali. Hanya baru sekaranglah baru tampak pengaruh dari karya seni yang bersumber kepada penghidupan rakyat sehari-hari. Hal ini dipertegas lagi oleh I Gusti Bagus Sugriwa bahwa kesenian Bali atau seni budaya suku Bali- Hindu yang hidup bergolak sampai sekarang, pada hakikatnya adalah anak atau cabang ranting dari agama Hindu Bali.
Kesenian dengan agama ini mempunyai hubungan yang amat erat pada umumnya tidak dapat dipisahkan satu sama lainya. Tegasnya jika agama Hindu Bali itu musnah dari nusa Bali ini, tak dapat tiada lambat-bangatnya kesenian Bali-Hindu yang meliputi seni sastra, seni nyanyi, seni tari, seni ukir, seni rupa dan lukis dan bunyi-bunyian pun akan turut parama satia membunuh dirinya. Sebaliknya bila kesenian Bali-Hindu itu hilang, mungkin pula agama Hindu-Bali itupun gaib juga.

E.      BEDUGUL
Bedugul Bali, merupakan salah satu objek wisata pilihan di Bali juga. Objek wisata ini terletak di kabupaten Tabanan dan terkenal akan danau dan restorannya. Suhu udara di Bedugul jauh lebih dingin dibandingkan tempat wisata lainnya di Bali dengan suhu kurang lebih 18 drajat celcius, tentu memberikan suasana tersendiri selama liburan di Bali. Tempat wisata Bali ini mirip dengan yang ditawarkan di Kintamani. Tempat ini juga menawarkan suasana perbukitan dengan suhu sekitar 18 derajatcelcius plus danau yang begitu indah. Bedugul terkenal akan keindahan danau Tamblingan dan andapun bias menikmati keindahannya dengan menyewa speedboat atau perahu untuk berkeliling danau. Objek wisata ini juga merupakan persinggahan untuk mengunjungi objek wisata lainnya seperti Tanah Lot, Sangeh, Taman Ayun dan tempat wisata lainnya.
Bedugul adalah  sebuah  obyek  wisata  di  bali  yang  terletak  di  daerah pegunungan yang memiliki suasana sejuk dan nyaman, bisa menikmati keindahan danau beratan dan pura ulun danu, terletak di desa candi kuning, kecamatan baturiti, tebanan. Jaraknya kurang lebih 70 km dari wilayah wisata kuta/bandarangurah rai. bangunan yang terdapat di areal wisata beduguini merupakanbangunan tempo dulu dan terbilang kuno, tapi semua keadan fisiknya masih bersihdan tertata dengan rapi. Terletak di dataran tinggi, menyebabkan tempat ini sangata sejuk dan kadang-kadang diselimuti kabut, keindahan alam pegunungan dan danauberatan yang bersih, di tengahnya ada sebuah pura ulun danu yang merupakan tempat pemujaan kepada sang Hyang Dewi Danusebagai pemberi kesuburan, akan sangat sayang sekali kalau di lewatkan.kabupaten  tabanan  memiliki  wilayah  geografis  yang  sempurna,  yaitumemiliki pegunungan dan pantai. Tanahnya pun rata-rata subur sehingga semua wilayahnya bisa dimanfaatkan sebagai lahan pertanian. Tak heran jika kabupatenini disebut sebagai lumbung pangan. Hal itu diperoleh tidak hanya karena memilikiareal sawah terluas di seluruh bali, tetapi juga berkat adanya komoditas sayurandan buah untuk memenuhi kebutuhan hotel, restoran, dan supermarket di bali. Primadona wisata wilayah ini bagai mangkok raksasa yang dilatari gunung catur disebelah utara, sementara di tengahnya terdapat danau bratan yang menjadi primadona kawasan wisata ini. Selain indah, ada keunikan dari danau ini. Di tepinya terdapat masjid AHidayah, sementara di sisi lainya terdapat pura ulun danu. Puraini merupakan persembahan kepada dewi danu, lambang sumber kesuburan tanah di sekitarnya. Menurut babad bali, pura yang terdiri dari empat meru (bangunanutama) ini dibangun oleh raja mengwi pada 1633. Bangunannya menjorok ke danau sehingga terlihat seperti menyembul dari dalam air. Sementara itu di seberang danau terdapat tiga buah gua jepang. Masing-masing memiliki kedalaman 25 meter yang digali oleh tenaga romusha dari wargasekitar semasa pendudukan jepang. Jika sudah sampai di tempat ini rasanya kebunraya eka karya yang memiliki luas 129,2 hektare tak boleh dilewatkan. Kebun rayaini terletak di antara danau beratan, danau tamblingan, danau buyan dan kawasanhutan lindung di sebelah baratnya. Kebun raya bedugul terletak di sebelah barat0byek wisata danau bratan kabupaten tabanan, merupakan sebuah komplekhutan suaka alam. Hutan tersebut ditata sedemikian rupa sehingga terwujud suatupemandangan indah, sejuk dan nyaman. Di sela-sela pepohonan yang rindang terhampar  rerumputan  yang  menghijau  dan  ditanami  bunga-bungaan  yang beranekaragam di sepanjang jalan setapak di sekeliling hutan yang menambahkesejukan udara dan keheningan suasana. Di samping pemandangan yang indah dan menghijau terdapat pula suatu bangunan rumah kaca yang dipergunakan untuk percobaan dan pengembangan tumbuh-tumbuhan terutama anggrek. Juga terdapatribuan jenis tanaman yang dipelihara dengan baik secara professional
Daerah pegunungan di bedugul memiliki udara sejuk dan nyaman untuk menikmati keindahan danau beratan dan pura ulun danu. Anda bisa menikmati waktu santai dengan berjalan kaki atau menyewa perahu. Di bedugul ada satu-satunya kebun raya di bali yaitu Kebun Raya Eka Karya, berbagai jenis buahan-buahan dan sayur mayur tumbuh dengan subur di daerah ini. Penduduk setempat menjual hasil kebunnya di pasar setempat dan juga di jual ke daerah lain di bali.dimulai dari desa bedugul sendiri, kebun raya eka karya, lalu danau beratan yangmerupakan danau terbesar kedua di bali, kemudian pura ulun danu, hingga pasar tradisional candi kuning, danau buyan, dan danau tamblingan.danau beratan menyediakan kapal boat atau sampan yang dapat  disewa untuk lebih menikmati keindahan danau beratan. Di areal wisata terdapat kios-kios kecil dengan beragam buah tangan cantik untuk oleh-oleh yang dapat anda beli. Selain pura ulun danu yang merupakan tempat suci bagi agama hindu, di lokasi inipun terdapat wihara dan masjid seolah menunjukan nilai toleransi tinggi di tempatini.  Luangkanlah  waktu  anda  lebih  banyak  untuk  berbaur  dalam  kehidupan masyarakat  lokal  bedugul.  Galilah  kearifan  lokal  mereka  yang  mungkin menginspirasi anda menemukan nilai hidup dalam harmoni dan toleransi. Kawasan hutan bedugul-pancasari terletak di  kabupaten tabanan, Propinsi Bali. Wilayah hutan ini terdiri  dari beberapa kawasan hutan, cagar alam, dan tamanwisata alam. Tipe hutan di sebagaian besar hutan ini  adalah hutan hujan tropis pegunungan (dataran tinggi) yang dicirikan dengan curah hujan yang tinggi,kondisi kawasan  yang selalu basah dengan keragaman jenis tumbuhan yang  relatif tinggi. Jenis tumbuhan yang banyak dijumpai adalah  ficus indica l, engelhardiaspicata bl, dan  litsea velutina boerl. Kondisi hutan di wilayah bedugul-pancasari, menjadi sangat penting untuk dijaga kelestariannya karena memiliki dampak secara nasional maupun regional yang menjadi buffer bagi kegiatan pariwisata. Pemanfaatan hutan oleh masyarakat sekitarnya menjadi halyang sangat penting karena potensi keanekaragaman hayati dan dampaknya bagi ekosistem lain, termasuk ekosistem dananu yang menjadi salah satu asalah satu andalan pariwisata  di  daerah  bedugul. Faktor-faktor  yang  mempengaruhi  masyarakatsekitar hutan dalam mengeksploitasi hutan menjadi hal yang penting untuk diketahui sebagai upaya menjaga kelestarian hutan dan meningkatkan efektifitaspenerapan kebijakan pengelolaan kelestarian hutan bagi masyarakat sasaran.kawasan konservasi hutan alami bedugul-pancasari termasuk kawasan hutan yang dekat dengan rumah penduduk, yang sangat rawan dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar secara berlebihan yang pada akhirnya mengakibatkankerusakan secara perlahan-lahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pengambilan sumberdaya hayati olehmasyarakatsekitar hutan dan mengetahui karakteristik responden. Selain itu penelitian inidilakukan sebagai langkah awal dalam pengelolaan sumberdaya hutan, khususnyadi daerah sekitar kawasan hutan bedugul-pancasari.
1.    Sejarah Bedugul
Bedugul berasal dari kata Bedogol. Bedugul ini adalah danau beratan yang paling dangkal, di daerah danau Bedugul ini banyak terdapat hasil pertanian. Hasil pertanian disini yang paling banyak dijumpai adalah buah buahan dan sayuran. Banyak jenis buah-buahan disini diantaranya adalah buah markisa, buah anggur, dan buah manila.Bedugul itu sebenernya nama sebuah desa. Namun orang sering salah kaprah dengan kata Bedugul. Ada yang bilang Bedugul itu nama danau, nama pura sampe nama pasar. Anggapan itu muncul mungkin karena selain sebagai sebuah desa, Bedugul juga adalah sebuah kompleks. Dalam sebuah area yang kurang lebih berdiameter 5 km, ada beberapa macam tempat yang asik buat dikunjungi. Dimulai dari Desa Bedugul sendiri, Kebon Raya, lalu Danau Beratan (danau terbesar kedua di bali), Pura Ulun Danu, sampe Pasar Tradisional Candi Kuning. Kebon Raya yang ada disini lumayan luas. Di sini terdapat beratus-ratus spesiestumbuhan, mulai dari yang indah-indah kaya bunga rose sampe yang’horo’ and berduri-duri juga ada. Danau Beratan juga asik. Selain airnya seger, kita bias sewa kendaraan air yang bias dibawa sendiri ato sekalian dibooking ama sopirnya. Kendaraan airnya sendiri beragam. Ada perahu dayung, perahu mesin sampe motor boat.
2.    Kondisi Fisik Bangunan Bedugul
Secara global bangunan yang terdapa pada danau Bedugul ini adalah bersifat kuno atau bersifat khas zaman dahuu. Danau tersebut tempatnya juga bersih dan tidakotor.
3.    Pembagian-pembagian ruang Bedugul
Bangunan-bangunan yang terdapat di Bedugul yaitu kios-kios tempat penjualan oleh-oleh diantaranya adalah kios buah-buahan, supermarket, tempat bangunan untuk menikmati danau Bedugul.
4.    Pengunjung, Pembeli di Bedugul
Banyak pengunjung yang datang ke danau Bedugul. Turis-turispun banyak yang datang kesana. Disana juga banyak orang yang membeli baju, buah-buahan atau hiasan-hiasan dinding yang tersedia disana. Pengunjung banyak berkunjung kesana kira-kira pada saat hari libur dan study tour sekolah.

5.    Sarana Prasarana
Isi dalam danau Bedugul ini salah satunya kapal-kapal laut yang disewakan kepada pengunjung, adapun supermarket dan kios-kios kecil sebagai tempat pengunjung membeli oleh-oleh bagi keluarga.
6.    Pedagang
Didaerah danau Bedugul banyak penjual yang menjual berbagai buah-buahan hasilpertanian disana dan berbagai baju, ukir-ukiran khas Bali, penjual disanapun sangatramah dan tlaten melayani pembeli. Barang-barang yang dijual disana amat mahaltetapi kalau kita bisa menawar mungkin harganya jauh lebih murah dari pada hargasemula.
7.    Kelebihan
Kelebihan obyek wisata di Danau Bedugul ini adalah kondisi fisik bangunannya yang bersih dan teratur.





















BAB III
PENUTUP

A.    SIMPULAN
Lokasi KKL di Pulau Jawa meliputi Rawa Pening, Demak, Kudus, Suramadu, Lapindo, dan Masyarakat Tengger Bromo.
Rawa Pening secara umum terketak di Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang. Secara geografis, Rawa Pening ini terletak di empat kecamatan di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Keempat kecamatan tersebut adalah Ambarawa, Bawen, Banyubiru, dan Tuntang.
Kawasan Demak, Kudus, Pati, Rembang adalah merupakan kawasan pantai atau pelabuhan yang didukung oleh kawasan pedalaman ( hinterland ) sebagai lahan pertanian dan hutan. Pada abad 16, kapal laut masih dapat melewati antara Pulau Jawa dan Gunung Muria yang waktu itu berupa pulau gunung api (gunung di tengah laut jawa). Kawasan pantai landai sepanjang pantai utara Pulau Jawa inilah tempat-tempat pendatang singgah dan menanamkan hegemoninya ( menanamkan pengaruh baik dengan jalan damai maupun perang ). 
Secara geografis bromo dibagi kedalam tiga wilayah kabupaten yaitu Malang, Probolinggo dan Lumajang. Bromo sendiri adalah satu dari tiga gunung yang terbentuk dari kaldera Tengger Kuno, dua buah gunung lainnya dalah Gunung Batok di utara dan Gunung Kursi di sisi Selatan. Selain kedua gunung tersebut Bromo pun bersanding mesra dengan Gunung Semeru yang legendaris dan merupakan gunung tertinggi di Pulau Jawa.
Tragedi ‘Lumpur Lapindo’ dimulai pada tanggal 27 Mei 2006. Banjir Lumpur Panas Sidoarjo atau Lumpur Lapindo atau Lumpur Sidoarjo (Lusi) , adalah peristiwa menyemburnya lumpur panas di lokasi pengeboran Lapindo Brantas Inc di Dusun Balongnongo Desa Renokenongo, Kecamatan Porong,Kabupaten SidoarjoJawa Timur, sejak tanggal 29 Mei 2006. Semburan lumpur panas selama beberapa bulan ini menyebabkan tergenangnya kawasan permukiman, pertanian, dan perindustrian di tiga kecamatan di sekitarnya.
Jembatan Nasional Suramadu adalah jembatan yang melintasiSelat Madura, menghubungkan Pulau Jawa (di Surabaya) dan Pulau Madura(di Bangkalan, tepatnya timur Kamal), Indonesia. Dengan panjang 5.438 m, jembatan ini merupakan jembatan terpanjang di Indonesia saat ini.
Lokasi KKL yang kedua adalah di pulau Bali. Bali dibagi menjadi 2 yaitu: Bali Utara dan Selatan. Pulau Bali Bagian Selatan Berupa semenanjung yang terhubung dengan daratan oleh sebuah alluvial isthmus di Pulau Nusa Penida di bagian timurnya yang terdiri dari batuan Limestone ( Gamping ) berumur Neogen atau mungkin Neogen tua seperti yang dijumpai di Blambangan. Pulau Bali Bagian UtaraBagian barat diduduki oleh vulkan muda dan merupakan bagian tertua yang tersingkap pada arah timur-barat rangkaian pegunungan yaitu pada ketinggian 1000-1400 m dpalBagian tengah terdapat sejumlah komplek kerucut vulkan muda dengan arah sumbu SW-NEBagian timur diduduki oleh komplek G. Batur yang terdiri dari G. Abang 2152 m dan G. Agung (merupakan puncak tertinggi di P. Bali, 3142m dpal).
Tanah Lot adalah sebuah objek wisata di Bali, Indonesia. Di sini ada dua pura yang terletak di di atas batu besar. Satu terletak di atas bongkahan batu dan satunya terletak di atas tebing mirip dengan Pura Uluwatu.
Dalam tradisi agraris Bali dikenal sistem pengairan atau irigasi subak. Subak adalah sistem pengelolaan distribusi aliran irigasi pertanian khas masyarakat Bali. Sistem ini sudah dikenal sejak ratusan tahun yang lalu dan terbukti mampu meningkatkan produktifitas pertanian di Bali.
Tenganan adalah desa yang mempunyai keunikan sendiri di pulau Bali, desa yang cukup terpencil dan desa ini terletak di Kabupaten Karangasem. Untuk mencapai desa ini melalui jalan darat dan sekitar 60km dari pusat kota Denpasar, Bali. Desa ini sangatlah tradisional karena berjarak dapat bertahan dari arus perubahan jaman yang sangat cepat dari teknologi.
Desa adat Penglipuran terletak di kabupaten Bangli yang berjarak 45 km dari kota Denpasar,Desa Penglipuran adalah sebuah desa tradisional yang mempunyai ciri tersendiri dan didukung oleh udaranya yang sejuk karena ketinggiannya sekitar 700 m di atas permukaan laut, memberi kenyamanan bagi penduduk setempat dan bagi mereka yang berkunjung ke desa tersebut. Desa ini merupakan salah satu kawasan pedesaan di Bali yang memiliki tatanan yang teratur dari struktur desa tradisional, perpaduan tatanan tradisional dengan banyak ruang terbuka pertamanan yang asri membuat desa ini membuat kita merasakan nuansa Bali pada dahulu kala. Penataan fisik dan struktur desa tersebut tidak lepas dari budaya yang dipegang teguh oleh masyarakat Adat Penglipuran dan budaya masyarakatnya juga sudah berlaku turun temurun.
Bedugul adalah  sebuah  obyek  wisata  di  bali  yang  terletak  di  daerah pegunungan yang memiliki suasana sejuk dan nyaman, bisa menikmati keindahan danau beratan dan pura ulun danu, terletak di desa candi kuning, kecamatan baturiti, tebanan. Jaraknya kurang lebih 70 km dari wilayah wisata kuta/bandara ngurah rai.

B.     Saran
1.    Pemberian pembekalan dalam  kuliah kerja lapang (KKL) pada mahasiswa harus  lebih intensif karena agar pas mahasiswa sudah berada di lapangan tidak bingung akan keadaan lokasi KKL.
2.    Pemilihan lokasi dari tujuan Kuliah Kerja lapangan harusnya disesuikan dengan alokasi waktu yang ada atau yang telah disediakan, hal ini dimaksudkan tujuan dari KKL dapat tercapai.
3.    Memperbaikai koordinasi antar dosen dengan dosen, dosen deengan mahasiswa, maupun mahasiswa dengan mahasiswa, sebab hal ini akan menunjang kelancaran dalam pelaksanaan KKL.
4.    Dalam pembagian kelompok untuk kegiatan KKL dan dalam penyusunan laporan KKL seharusnya jangan menimbulkan konflik.

DAFTAR PUSTAKA

GEGER TENGGER. 1999. PERUBAHAN SOSIAL DAN PERKELAHIAN POLITIK.YOGYAKARTA: LKIS YOGYAKARTA.

Hadori, Udia Haris. 2011.Hand Out Kuliah Kerja lapangan II Pendidikan IPS

------------------------2011. Kronologi Pembentukan Pulau Bali. Hand Out Kuliah Kerja Lapangan II Pendidikan IPS.
-----------------------. 2011. PANTURA-TENGGER-BALI Hand Out Kuliah Kerja Lapangan II Pendidikan IPS.

Pemerintah Desa Ngadisari. Ngadisari Dalam Angka 2007. Probolinggo : 2008.

Sukari, dkk. 2004. Kearifan Lokal Di Lingkungan Masyarakat TenggerKabupaten Pasuruan, Propinsi Jawa TimurKementerian Kebudayaan dan Pariwisata.

Supardi. 2011. Perkembangan Islam Sampai Abad 17. Hand Out Kuliah Kerja Lapangan II Pendidikan IPS.


http://www.surgabali.biz/tenganan.php diakses pada 29 Mei 2011.







Tidak ada komentar:

Posting Komentar